Bad Day for Luhan

.

.

.


©xselumate©


"Apa kau yakin kau baik-baik saja?"

"Of course, 100% yakin."

Baekhyun menatap Luhan dengan tatapan iba. Bagaimana tidak? Luhan sekarang sedang duduk di sofa sambil memakan ayam goreng dengan berantakan dan film berjudul The Break-Up yang sekarang berputar di tvnya. Apalagi piyama onesie* bermotif kulit sapi itu yang membuat Luhan semakin menyedihkan.

Lalu Baekhyun memperhatikan wajah Luhan tampaknya sangat terbawa oleh film yang ia tonton, sangat miris. The Break-Up? Luhan putus dengan siapa? Pikir Baekhyun.

"Kau putus ya?" Tanya Baekhyun yang membuat Luhan mengernyitkan dahinya. Lalu beberapa detik kemudian ia mulai tertawa seperti orang yang benar-benar putus cinta.

"Kau tahu kan aku tidak mempunyai kekasih."

Baekhyun mengangguk pelan lalu ia menghempaskan dirinya ke sebelah Luhan dan mengambil satu ayam goreng dari piring yang berada di meja.

"Lalu kenapa kau tampak sangat melankolis dan mi- tunggu, apakah ini karna Sehun?" Tiba-tiba saja Luhan tersedak oleh ayam yang sedang ia makan. Dengan segera Baekhyun mengambil air mineral dari dapur lalu memberikannya kepada Luhan. Lelaki berambut light brown itu menepuk-nepuk pelan punggung Luhan.

'Aneh, kenapa reaksinya sangat berlebihan saat aku menyebut nama Sehun? Apa dia bertemu dengan Sehun lagi setelah 4 tahun lamanya?' Tanya Baekhyun dalam hati. Pandangannya teralih pada Luhan yang sekarang sedang meneguk air mineralnya habis-habis.

"Kau bertemu dengannya lagi?"

Luhan berhenti sejenak sebelum matanya mengeluarkan airmata lalu menangis seperti gadis remaja yang mengetahui jika kekasihnya diam-diam berselingkuh dengan kakaknya sendiri. Dramatis.

"L-Luhan, maafkan aku, a-aku tidak bermaksud! Luuu, berhentilah menangis," Baekhyun bermaksud menghentikan tangisan Luhan, namun sebaliknya, tangisan Luhan semakin keras.

Setelah sekitar 10 menit untuk menunggu tangisan Luhan mereda, akhirnya Baekhyun berani untuk membuka mulut.

"Kenapa? Kau bertemu dengannya lagi ya?" Luhan mengangguk pelan sambil berusaha menghapus airmatanya yang tidak mau berhenti keluar dari matanya.

Wajar saja jika Luhan menangis seperti ini, setelah 4 tahun mereka putus kemudian bertemu lagi. Apalagi Sehun memutuskan hubungannya dengan Luhan secara sepihak dan alasan yang sama sekali tidak logis bagi Luhan. Tentu saja kenangan itu masih terukir jelas di ingatannya.

-flashback-

Saat itu hari kelulusan Seoul of Performing Arts High School atau SOPA. Murid-murid sudah bertebaran di halaman sekolah untuk sekedar berfoto atau berbincang-bincang dengan teman mereka. Termasuk Luhan dan Baekhyun yang merupakan sahabat karib. Banyak orang yang mengambil fotonya saat kelulusan. Teman-teman sekolahnya juga berlomba-lomba untuk meminta foto dengan Luhan.

Setelah itu Luhan dan Baekhyun mengambil foto bersama sambil tertawa-tawa. Mereka duduk berdua disebuah bangku yang terdapat disekolah itu sebelum Luhan teringat pada seseorang yang sangat berarti baginya.

"Ah ya! Sehun!" Luhan menjentikkan jarinya lalu menoleh ke arah Baekhyun yang sedang menatapnya. "Aku belum mengambil foto dengannya." Luhan mengerucutkan bibir yang disambut oleh tangan yang sekarang sedang mencubit pipi Luhan dengan gemas.

"Kalau begitu, pergi temui dia! Aku juga akan pergi menemui seseorang."

"Seseorang? Ish, kau akan menyatakan cinta padanya kan? Fighting Baekhyunnie~" pipi Baekhyun bersemu sebelum memukul pelan kepala Luhan yang membuat lelaki didepannya ini meringis kesakitan.

"Aku akan adukan kepada Sehun!" Luhan mengelus kepalanya yang tadinya telah menjadi korban penyiksaan oleh Byun Baekhyun.

"Ya ya ya~ nanti kita bertemu di gerbang sekolah, oke?" Luhan mengangguk dan pergi meninggalkan Baekhyun yang nampaknya akan berancang-ancang untuk meninggalkan bangku tersebut.

Luhan mencari-cari Sehun diseluruh ujung sekolah, namun nihil. Lelaki itu tidak dapat ia temukan dimana-mana. Ia bahkan sudah berulang kali menghubungi ponsel Sehun, namun lelaki itu juga tidak kunjung mengangkatnya. Ia khawatir. Selama sehari ini Luhan belum bertemu Sehun sama sekali.

Namun saat Luhan melewati kelasnya, ia melihat Sehun sedang berdiri didepan jendela. Matanya jelas tampak menerawang ke luar jendela. Luhan tidak tahu apa yang menarik dari pemandangan diluar sana. Lalu ia diam-diam menghampiri Sehun dan memeluk tubuh lelaki yang kurus itu dari belakang.

Sehun mengangkat alis sebelah kanannya lalu membalikkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Luhan. Kepala Luhan sekarang sedang bersandar di dadanya yang bidang. Tangan Sehun bergerak untuk mengelus rambut Luhan yang halus bagaikan kapas.

"Kau kemana saja?" Mata Luhan menatap mata Sehun yang hangat. Pelukan Sehun adalah pelukan yang paling hangat setelah pelukan ibunya. Lalu Luhan kembali menyandarkan kepalanya ke dada Sehun lagi.

"Xiao Lu,"

"Mm?"

Sehun mengangkat dagu Luhan dan menatap Luhan dengan tatapan matanya yang sendu. Tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Lalu Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan, menghapus jarak diantara keduanya.

Bibir milik Sehun sekarang menempel sempurna dibibir miliknya. Itu hanya sebuah ciuman yang murni tanpa nafsu sebelum Sehun menggigit pelan bibir bawah Luhan untuk tanda agar Luhan membuka bibirnya. Ciuman itu menjadi sedikit panas, namun tiba-tiba saja Sehun menjauhkan wajahnya dari Luhan.

"Kita...berhenti sampai disini saja." Nada bicara Sehun sangat dingin sampai-sampai Luhan tidak bisa menemukan kehangat dari lelaki yang sangat ia cintai itu.

"Maksudnya?"

"Kita berhenti menjalankan hubungan ini."

Mata Luhan mulai berair. Hey, Sehun pasti hanya bercanda kan? Hubungan yang mereka jalani selama 3 tahun, yang mereka awali dengan blind date, lalu sekarang Sehun meminta putus dengannya? Setelah 3 tahun? Dihari kelulusan yang seharusnya diisi oleh kebahagiaan? Bagaimana tega Sehun merusak hari bahagia mereka?

Luhan hanya bisa terisak sambil memukul pelan dada Sehun. Ia terus membisikkan kata 'tidak kau bercanda'. Sedangkan Sehun tidak memasang ekspresi apapun, hanya datar dan dingin.

"K-kau bercanda k-kan? S-Sehun...O-Oh Sehun! K-kau tidak s-s-serius kan?" Luhan berbicara sambil terisak keras. Airmatanya tetap keluar dari matanya tanpa henti.

"Aku serius. Jadi mulai saat ini, kita tidak mempunyai hubungan apapun."

Sehun baru saja melangkahkan kakinya untuk keluar dari kelas, namun Luhan menahannya dan membalik tubuh Sehun untuk menatapnya.

"L-lihat aku! Kau masih mencintaiku kan? Kalau tidak, s-setidaknya berikan alasan k-kenapa kau ingin menghentikan hubungan kita!" Luhan mengguncang tubuh Sehun lalu kembali memeluknya dengan erat, seolah-olah ia tidak mau berpisah dengan lelaki didepannya ini.

"Aku lelah terus menyembunyikan hubungan kita karna kau ini adalah seorang aktor. Kita bahkan tidak pernah kencan dengan bebas, selalu ada penggemar yang mengelilingimu sehingga kau harus bersembunyi dibalik masker, topi, dan kacamata hitammu. Aku tidak bisa terus menjalani hubungan seperti ini Lu. Kau adalah publik figur, sedangkan aku hanya orang biasa. Kita berbeda seperti langit dan bumi. Aku harap kau mengerti."

Sehun melepas pelukan Luhan dengan kasar, membuat Luhan terduduk ditanah sambil terus menangis. Sehun melangkah keluar kelas, lalu berhenti sejenak dan berbicara tanpa menghadap ke arah Luhan.

"Lagipula rasa ketertarikanku padamu sudah hilang."

Sehun kembali melanjutkan langkahnya menjauh dari Luhan yang terduduk dilantai kelas yang dingin dan keras sambil terisak keras. Tidak, bukan ini yang Luhan harapkan. Ia berharap hari ini ia bisa menghabiskan waktunya dengan Sehun untuk berkencan seusai kelulusan. Ia berharap tahun depan ia bisa berlibur dengan Sehun ke Hongkong dan pergi ke Disneyland bersama. Ia berharap ditahun selanjutnya Sehun akan mengunjungi Luhan di lokasi syuting dengan senyumannya yang hangat. Namun Luhan menyadari bahwa harapannya ditahun selanjutnya sudah pupus. Ia tidak bisa berharap apa lagi.

Luhan sekarang hanya berharap Sehun akan menghampirinya dengan senyumnya yang paling manis dan berkata jika semua ini hanyalah candaan lalu Sehun akan mendekapnya dan mencium bibirnya dengan halus. Namun itu tidak pernah terjadi.

Luhan berjalan sambil terisak pelan. Lalu ia melihat Baekhyun yang tampaknya sedang menangis juga didepan gerbang sekolah. Luhan berlari untuk memeluk sahabatnya itu dan menangis bersama.

Hari ini mereka berdua hanya akan meminum bir sampai keduanya berhasil melupakan rasa sakit mereka masing-masing.

-flashback end-

Baekhyun merengkuh tubuh sahabat satu-satunya itu sambil membisikkan kata 'sudahlah, berhenti menangis'.

"Lu, sudahlah. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Itu hanyalah masa lalu. Sekarang kau harus lihat kedepan dan lupakan masa lalumu bersama Oh Sehun, oke?"

Luhan mengangguk. Malam itu mereka menghabiskan waktu mereka dengan bir dan ayam goreng seperti 4 tahun yang lalu. Berharap perasaan Luhan akan membaik keesokan harinya.


Luhan terbangun dan mendapati dirinya sedang terbaring diranjangnya. Ia melirik jam yang berada dinakasnya yang menunjukkan angka 10. Kepalanya berputar-putar seperti bianglala. Luhan terus memegang kepalanya sambil berjalan keluar kamar.

Ketika sampai diruang tamu, ia tidak menemukan bekas-bekas bungkus ayam atau kaleng-kaleng bir dari semalam. Bahkan kaset dvd dan tisu yang bertebaran disekitar ruang tamu sudah tidak ada. Luhan tersenyum penuh haru karena Baekhyun sangat baik untuk membersihkannya dulu sebelum pulang.

Namun Luhan langsung menyerukan nama Byun Baekhyun keras-keras saat menemukan notes yang menempel dilemari esnya yang bertuliskan;

'Thanks for the last night Lu!

Aku menyewa orang yang untuk membersihkan rumahmu tadi pagi jadi berterima kasihlah kepadaku!

Oh ya, aku membayarnya dari kartu hitam yang berada di dompetmu, tidak apa-apa kan? Kekeke~

Many-many hearteu, Byun Baekhyun:*'


Luhan keluar dari apartemennya dengan bajunya yang kasual. Ia hanya memakai t-shirt berwarna putih polos dan celana pendek bermotif tentara selutut dengan sepatu kets berwarna hitam-putih-merah. Tak lupa snapback merahnya yang bermotif mata dengan bertuliskan 'Kenzo' didepannya dan juga tas MCM yang bergantung pada kedua bahunya.

Saat sedang mengirim pesan pada Baekhyun untuk menjemputnya, tiba-tiba saja ia menabrak orang yang sontak membuat ponselnya terjatuh. Hampir saja Luhan akan menyumpah serapahi orang yang ia tabrak jika saja orang itu bukanlah,

Oh Sehun.

Mata Luhan membesar saat melihat kehadiran sesosok tampan yang sedang memakai jas kantor yang membuat Sehun semakin seksi. Namun matanya semakin membesar lagi atau mungkin bisa-bisa bola matanya keluar dari tempatnya saat melihat iPhone 6+ miliknya tergeletak ditanah dengan mengenasnya sampai-sampai Luhan tidak tega melihatnya.

Luhan mengambil ponselnya dan terkejut ketika melihat layarnya pecah. Luhan hampir saja menitikkan airmatanya secara dramatis jika saja mantan kekasihnya ini tidak berada didepannya yang hanya bisa menatapnya tidak berdosa. Siapa yang tidak ingin menangis ketika ponselmu, apalagi lagi itu adalah iPhone 6+ keluaran terbaru yang faktanya baru ia beli 1 minggu yang lalu, sekarang layarnya pecah. Luhan bahkan yakin bahwa ia bisa saja menangis sampai bola matanya melompat keluar.

"OH MY GOD. OH. MY. GOD." Luhan dengan dramatis memeluk ponselnya yang sekarang sedang sekarat. Dengan aksen Inggrisnya yang aneh (ditambah dengan adegan dramatis), sontak membuat Sehun terkekeh pelan sebelum ia menyadari ada sepasang mata yang menatapnya secara tajam.

"Lihat! Ponselku, iPhone 6+, yang baru kubeli seharga 980.000 won (sekitar 11 juta rupiah), sekarang pecah!" Ucap Luhan dengan dramatis.

"Oke?"

Luhan menatap Sehun tidak percaya, "Oke? Oke?! Heol, tanggung jawab! Belikan aku ponsel baru yang persis seperti ini! Mengerti?!" Luhan berdecak sambil memberikan ponselnya yang pecah ke Sehun.

"Besok kau harus menyerahkan ponsel yang sama kepadaku dalam keadaan masih terbungkus! Understand?" Luhan memakai kacamata hitamnya dan pergi meninggalkan Sehun yang hanya memasang wajah datar. Lalu ia memasukkan ponsel Luhan kedalam sakunya dan berjalan menuju lift sebelum pintu lift tertutup.

Didalam lift terdapat Luhan yang tampaknya terkejut melihat kehadiran Sehun. Entah kenapa Luhan baru menyadari bahwa lelaki yang tadi ia teriaki barusan adalah mantan kekasihnya yang semalam sukses membuatnya menangis karena mengingat masa lalu.

Luhan menatap Sehun kebingungan, mau apa dia kemari? Apa dia tidak bisa membelikanku ponsel baru? Memangnya dia sekarang kerja apa? Apa sekarang dia bekerja sebagai pekerja kantoran yang gajinya kecil? Ah, tidak mungkin, ia bahkan memiliki apartemen mewah. Tapi...atau jangan-jangan apartemen itu adalah milik bosnya?! Astaga, apakah aku terlalu kejam untuk meminta sebuah ponsel baru? Ah sudahlah. Anggap saja itu balasan untuk 4 tahun yang lalu! Ucap Luhan dalam hati.

Karena ia berpikir terlalu lama, tidak terasa lift telah mencapai lantai 1. Sehun melangkah untuk meninggalkan Luhan duluan. Luhan menatap punggung Sehun dari kejauhan, oh jadi ia tidak keberatan?

"Luhannie~" Baekhyun memeluk Luhan yang membuat lelaki itu terkejut karenanya. Luhan mendengus sebelum akhirnya memukul kepala Baekhyun pelan yang membuat sang empunya meringis kesakitan.

"Apa-apaan kau!"

"Kau itu yang apa-apaan! Dengan seenaknya memakai kartuku untuk cleaning service!"

"Hehe, sudahlah lupakan! Ayo kita ke kantor agensi, katanya CEO agensimu ingin bertemu denganmu."


Luhan dan Baekhyun sekarang memasuki bangunan kantor agensi OSH Entertaiment yang bernuansa modern. Banyak hoobae Luhan yang menyapanya, begitu juga dengan staff disana. Saat ia berada didalam lift, ia melihat 2 staff perempuan yang sedang bergosip ria dan Luhan pun alhasil ikut mendengar perbincangan mereka.

"Aku dengar CEO kita baru,"

"Benarkah? Jadi itu bukan rumor? Soalnya beberapa hari yang lalu aku dengar itu adalah anak dari tuan Oh Seo Hwan, pemilik agensi ini! Katanya, anak tuan Oh Seo Hwan sangat tampan dan seksi!"

Luhan meringis saat mendengar percakapan kedua perempuan tersebut. Memangnya anak dari pemilik agensi ini umur berapa? Jangan-jangan 40 tahun?

"Apalagi umurnya sekitar 24-25 tahunan. Kira-kira aku bisa tidak ya menggodanya?" Kemudian mereka tertawa-tawa sambil berjalan keluar dari lift.

Luhan kembali meringis. Menggoda? Astaga, menjijikkan. Luhan menjadi semakin penasaran seperti apa wajah dari CEO baru agensinya sampai-sampai staff disini berniat untuk menggodanya.

Ting!

Pintu lift terbuka pada lantai 15. Luhan dan Baekhyun berjalan keluar dari lift dan berjalan ke ruangan CEO yang berada diujung lantai 15. Baekhyun menyuruh Luhan untuk masuk sendirian dan dia berjanji untuk menunggu Luhan diluar.

Luhan menyentuh handle pintu dan menghela napas pelan. Entah kenapa tiba-tiba perasaan Luhan tidak enak. Namun Luhan berusaha menepis perasaan anehnya dan memasuki ruangan.

Hal yang pertama kali ia lihat adalah satu set sofa dan rak buku yang menutupi meja CEO. Lalu ia berjalan mendekati CEO barunya yang sekarang kursinya sedang menghadap keluar jendela.

"Permisi tu- OH MY GOD"

Sekarang wajah Luhan memucat. Ekspresinya tidak kalah menyeramkan dari ibunya yang ketika memergoki kakaknya yang diam-diam sedang menonton video porno dengan tangannya yang berada didalam celananya.

Matanya membulat sempurna. Mulutnya terbuka lebar. Kaki dan tangannya bergetar. Tapi tunggu, Luhan bahkan tidak sedang melihat hantu! Tapi dia sekarang sedang melihat sesosok Oh Sehun, mantan pacarnya yang tampak beribu-ribu kali lebih tampan dan seksi saat duduk di meja CEO dengan setelan jas super mewah yang benar-benar cocok ditubuhnya (karena seingat Luhan, Sehun tidak setampan dan seseksi ini saat tadi pagi ia bertemu).

Sehun menyeringai dengan tampannya, "Selamat datang, Luhan-ssi."

Tiba-tiba saja adegan dimana saat Luhan mengira jika Sehun adalah sasaeng fannya berputar dikepalanya. Ditambah adegan tadi pagi dimana Luhan meneriaki Sehun karena telah memecahkan ponselnya dan meminta Sehun untuk ganti rugi. Lalu ia juga teringat jika ia sempat berpikir jika Sehun adalah pegawai kantoran yang memiliki gaji yang kecil.

Sampai kapan cobaan ini berakhir?!

"O-Oh Sehun?"

"No, tuan Oh Sehun." Sehun membenarkan. Luhan hanya tersenyum kikuk sambil perlahan-lahan menghampiri Sehun yang terduduk manis dimejanya.

Luhan bahkan hanya bisa berdiri seperti patung. Ditambah wajahnya yang pucat pasi. Baguslah, siapa saja tolong pindahkan Luhan ke etalase butik.

"Silahkan duduk, Luhan-ssi."

Luhan sekarang duduk didepan Sehun. Oh -fucking- Sehun. Bagaimana ia bisa tenang?! Luhan hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan ini dan segera pergi dari ruangan terkutuk ini lalu ia bisa memeluk Baekhyun-nya yang sangat imut dan menggemaskan.

"Jadi begini, ayahku, Oh Seo Hwan, menyuruhku untuk mengawasi salah satu artis favoritnya. Yang ternyata itu adalah kau, Luhan-ssi." Sehun menghela napas pelan sebelum melanjutkan. "Karena ayahku masih menganggapku anak berandalan yang hanya bersenang-senang, ia tidak sepenuhnya mempercayaiku untuk memegang agensi ini. Jadi ayahku menyuruhku untuk memberikan perhatian kepadamu 24/7 selama entah beberapa bulan. Selama itu aku harus mengunjungimu ke lokasi syuting atau jika kau pergi keluar kota atau luar negeri atau bahkan keluar angkasa, aku harus mendampingimu kemudian melaporkan seluruh kegiatanmu. Menyusahkan bukan?"

Sehun berjalan menghampiri Luhan.

"Well, setidaknya aku tidak harus duduk manis diruangan ini sambil memberi tanda tangan dikertas-kertas membosankan itu. Benarkan?"

Sehun mendekatkan wajahnya ke telinga Luhan dan membisikkan kata-kata dengan sangat seduktif.

"Let's have some fun, okay Lu?"


"Damn it Baekhyun! Damn it!"

Sekarang Luhan berada didepan Baekhyundengan ekspresi wajah yang paling menyeramkan sehingga ia yakin bahwa penggemarnya akan berlari ketakutan jika melihat Luhan sekarang. Luhan meminum bubble teanya dengan penuh emosi. Membuat Baekhyun bingun apakah ia harus menenangkannya, atau membiarkannya.

"Kenapa lagi Lu?"

"Kau tidak akan percaya!"

"Kenapa?"

Luhan meminum bubble teanya lagi sebelum berbicara.

"Kau tahu siapa CEO baru kita?" Baekhyun menggelengkan kepalanya.

Luhan tersenyum miris. "Oh Sehun."

Mata Baekhyun membulat sempurna. Karena terlalu terkejut, Baekhyun sampai-sampai lupa bagaimana caranya berbicara.

"Dan kau tahu apa? Oh Sehun tinggal disebelah apartemenku. Dan aku sudah bertemu dengannya 2 kali di lift."

Baekhyun benar-benar kehabisan kata. Apa memang Sehun dan Luhan berjodoh? Atau Sehun dan Luhan memang sial?

"Maksudmu Oh Sehun mantan kekasihmu, yang juga temanku, yang tiba-tiba memutuskanmu dihari kelulusan itu?"

"Tentu saja! Memangnya siapa lagi yang bisa membuatku terkejut seperti orang melihat hantu!" Luhan kembali meminum bubble teanya dengan emosi yang membara.

"Eum... Luhan, sebaiknya kau meminum bubble teamu dengan perlahan jika tidak ingin tersedak oleh mutiara tapiokanya."

Terlambat. Karena Luhan sekarang sedang tersedak dan terbatuk-batuk seperti orang kesetanan.


Luhan sekarang berada dilokasi syuting. Hari ini adalah terakhir kalinya ia harus syuting bersama nenek sihir bernama Daeun. Luhan tidak tahu marganya, lagipula itu tidak penting.

Adegan hari ini adalah adegan dimana Luhan dan Daeun adalah keluarga bahagia yang mempunyai 2 anak perempuan dan rumah yang hangat. Membayangkannya saja membuat Luhan mual. Untung saja hari ini adalah terakhir kalinya jadi ia tidak harus melihat wajah Daeun yang menyeramkan.

Saat ia sedang duduk-duduk di kursinya, tiba-tiba saja ada orang yang ikut duduk disampingnya. Dan itu adalah,

Oh Sehun. Lagi.

Sampai kapan dia akan berada disekelilingku terus?!

"Jangan salah paham, aku hanya mengikuti tugas ayahku." Ucap Sehun tanpa menoleh ke arah Luhan.

Luhan meniup poninya kencang sambil meminum bubble teanya. Tiba-tiba saja saat dia sedang membaca skrip, bubble tea yang ada ditangannya menghilang dan beralih ke tangan Sehun. Kemudian Sehun meminum bubble tea rasa coklat kesayangannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Setelah memecahkan layar ponselnya, sekarang dia malah merebut minumanku. Dasar mantan tidak tahu diri! Pikir Luhan geram sambil menatap Sehun dengan tatapannya yang paling mengerikan.

Sehun yang dengan santainya meminum minuman 'hasil curian'nya tiba-tiba merasakan hawa-hawa tidak enak dari lelaki yang berada disebelahnya. Kemudian Sehun menghadap ke arah Luhan dan mendapati Luhan yang sepertinya berancang-ancang untuk menusuk Sehun dengan pensil yang entah darimana ia mendapatkannya.

"Kenapa?"

Luhan hanya bisa membuka mulutnya lebar sampai-sampai ia yakin dagunya bisa menyentuh tanah. Kenapa? Kenapa?! Ia bertanya kenapa?! Holy shit this fucking motherfucker! Sekali lagi Luhan hanya bisa menyumpah serapahi Oh Sehun dengan seluruh tenaga yang ia punya.

"Kenapa?! Setelah kau mencuri minumanku kau hanya bertanya kenapa?!"

Sehun hanya menganggukkan kepalanya lalu pandangannya kembali beralih pada staff yang sedang menata tempat setting film. Sekarang Luhan ingin sekali mendorong wajah tampan Sehun ke dinding dengan keras sampai wajahnya hancur dan tidak bisa dikenali. Sadis? Kejam? Hah, memangnya dia peduli?

Kemudian salah satu staff memanggil Luhan untuk memulai pengambilan gambar. Luhan tersenyum (palsu) manis lalu menghampiri staff tersebut. Namun sialnya, Sehun sekarang mengikuti Luhan dari belakang seperti anak anjing yang kehilangan ibunya.

Luhan menoleh ke arah Sehun dan berbicara, "Kenapa kau mengikuti lagi?!" Luhan menghentakkan kakinya kesal dan melipat tangannya di dada. "Aku akan mengawasi hari ini. Jadi sana cepat bekerja dan hasilkan banyak uang." Sehun mendorong tubuh Luhan pelan yang membuat lelaki bermata rusa itu menghentakkan kakinya ke tanah lagi karena kesal.

"Ok! Cut, action!"

Luhan dan wanita mengerikan, uhm, maksudnya Daeun, sekarang sedang berakting seolah-olah mereka adalah keluarga yang bahagia dengan 2 anak kecil yang sangat menggemaskan. Mereka menonton film bersama sambil tertawa-tawa (sok) bahagia. Kemudian kedua anak kecil tadi hilang entah kemana dan menyisakan Luhan dan Daeun.

Kali ini mereka harus berpelukan dan berciuman yang tentunya bagi Luhan sangat menjijikkan jika dilakukan bersama Daeun.

Luhan kemudian memeluk pinggang Daeun sambil berpura-pura membisikkan kata-kata manis ditelinga Daeun yang mungkin pada kenyataannya adalah kata-kata hinaan untuk Daeun. Lalu, Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Daeun dan berpura-pura berciuman karena ibu jari Luhan masih membatasi bibirnya dengan bibir Daeun.

"Cut!"

Luhan dengan cepat memisahkan dirinya dari tubuh Daeun. Kyuhyun lagi-lagi hanya mengacak rambutnya frustasi karena Luhan masih tidak mau mencium bibir Daeun.

"Luhan, kumohon, hanya menempel. Oke?"

"No thank you:)"

Kyuhyun mengerang frustasi. Lelaki berusia 30an itu hampir membuka mulutnya untuk mengomeli Luhan jika saja tidak ada suara berat seorang lelaki dibelakangnya.

"Jika Luhan tidak mau melakukan adegan berciuman dengan gadis itu ya bagaimana lagi? Mungkin saja Luhan tidak mau memberikan keperawanan dan kesucian bibirnya pada orang lain." Sehun berbicara sambil menyeringai ke arah Luhan.

'Keperawanan dan kesucian bibir? Hah, dia adalah orang yang mencuri itu! Kenapa Oh Sehun tidak menjadi aktor saja jika aktingnya sebagus itu!' Luhan memasang wajah suatu-hari-aku-akan-membunuhmu ke arah Sehun yang hanya dibalas dengan senyuman (sok) manisnya.

Lalu Sehun menatap wajah Daeun secara seksama, membuat Luhan bingung dibuatnya. Sedangkan Daeun juga memasang ekspresi yang sama dengan Luhan.

"Jung Daeun?"

Wait, what? Kenapa Sehun bisa mengetahui nama Daeun lengkap dengan marganya? Luhan yang bekerja dengannya selama beberapa bulan saja tidak mengetahui nama Daeun.

"Oh? Sehunnie?"

'Apa?! APA?! SEHUNNIE?! Apa-apaan wanita menyeramkan ini memanggil mantan kekasihnya dengan sebutan menjijikkan 'Sehunnie'?' Ucap Luhan dalam hati. Tidak, tidak. Luhan tidak cemburu. Hanya entah kenapa telinganya panas setelah mendengar suara menjijikkan Daeun menyebut nama 'Sehunnie'.

Tidak. Luhan tidak cemburu kan?


*Onesie : atau biasa disebut jumpsuit. Biasanya terbuat dari kain kapas rajut atau wol.


Yo~ chapter 2 is up!

Scene lift emang terinspirasi dari You Who Came From The Star. Karena emang ff ini terinspirasi sama drama itu. Dikomen juga ada yang nyebutin Monstar. Haha, aku bahkan belom liat drama itu T-T

Oke, siapa yang gasuka Daeun? Soalnya aku juga gasuka mwahahaha xD kenapa aku gasuka? Soalnya aku baru baca ff yang peran antagonisnya Daeun T-T jadi masih kebawa emosi lol.

Pls jangan lupa komen ;-; karna baca komen kalian bikin aku bahagia :'3 seenggaknya aku gak terlalu gagal jadi author lol.

Sampai bertemu di chapter selanjutnya, bye!xoxo3