Scandal, Start!

.

.

.


©xselumate©


Luhan memejamkan matanya sambil berusaha mendengarkan lagu dari earphone yang menempel sempurna di telinganya. Namun entah kenapa perhatiannya selalu teralih pada Sehun dan Daeun yang sekarang sedang berbincang-bincang disampingnya. Tak jarang Daeun membuat adegan skinship* dengan Sehun yang membuat Luhan ingin mematahkan kedua tangan Daeun sehingga gadis itu tidak bisa menyentuh Sehun.

Tunggu, kenapa dia sangat emosi? Sehun hanya mantannya kan? Mantan. Tidak ada kurang, tidak ada lebih. Mungkin ini hanya efek kebencian membara Luhan kepada Daeun.

Luhan mencuri pandang ke arah Sehun dan Daeun sekali lagi. Lalu ia mendapati jika Daeun seperti berpura-pura terjatuh sehingga Sehun bisa menahannya ke dalam pelukannya.

Bitch.

'Berpura-pura jatuh agar ditahan oleh Sehun? Cih, murahan sekali dia. Semoga saja Daeun terjatuh dengan wajahnya dulu yang menyentuh tanah!' Luhan menambah volume lagu yang ia putar agar telinganya tidak dapat mendengar tawa mengerikan dari Daeun.

"Luhannie~"

Luhan membuka kelopak matanya dan menemukan Baekhyun sedang berdiri didepannya dengan senyumnya yang paling menggemaskan. Baekhyun sangat imut dengan rambutnya yang menutupi dahinya, serta hoodie yang kebesaran untuk Baekhyun semakin membuat Baekhyun seperti anak kecil. Luhan beruntung mempunyai sahabat yang menggemaskan seperti Baekhyun.

(Woy ini ff hunhan bukan ff baeklu!)

"What?"

"Ayo kita pulang~"

Entah kenapa tiba-tiba Luhan mempunyai semangat hidup lagi ketika Baekhyun berkata 'pulang'. Mungkin karena di apartemennya tidak ada Sehun dan Daeun yang mengobrol sambil saling menyentuh. Uh, menjijikkan.

Luhan menerima ajakan Baekhyun lalu bangkit dari kursi yang disediakan untuknya. Luhan dan Baekhyun berjalan meninggalkan CEO mereka yang masih terhanyut dalam pembicaraannya bersama Daeun.

"Tidak biasanya kau semangat jika kuajak pulang." Celetuk Baekhyun sambil mengunyah permen karetnya. Luhan meniup poninya sambil mengendikkan bahunya.

"Aku sedang tidak mood saja berada disana."

"Jangan-jangan karena Sehun dan Daeun ya?" Luhan hampir saja tersedak oleh ludahnya sendiri ketika Baekhyun menanyakan hal yang seharusnya salah namun benar.

"Tentu saja tidak. Memangnya kenapa aku harus cemburu karena mereka? Sehun kan hanya mantanku!"

Baekhyun tersenyum jahil sambil menatap Luhan dengan tatapan jahilnya. "Apakah tadi aku bertanya bahwa kau cemburu karena Sehun dan Daeun? Aku kan hanya bertanya apa kau tidak mood karena kehadiran mereka."

Skak mat.

Luhan menambahkan kecepatan langkahnya ke arah mobil van mereka tanpa menghiraukan Baekhyun yang sedang tertawa sambil menyerukan namanya.

Luhan tidak cemburu, ok? Karena itu mustahil.


"Luu~ kau masih marah ya?"

Luhan dan Baekhyun sekarang berada di sebuah restoran yang menjual daging panggang dan bir favorit mereka. Luhan selalu meneraktir Baekhyun untuk makan malam disini setiap Luhan berhasil menyelesaikan filmnya. Seperti hari ini, Luhan telah menyelesaikan filmnya yang berjudul Under The Rain, maka dari itu mereka akan menghabiskan waktu mereka dengan bersenang-senang disini.

Namun kali ini Luhan masih marah karena Baekhyun yang tidak berhenti menggodanya selama di mobil. Ia bisa saja tidak meneraktir Baekhyun dan menelantarkannya dipinggir jalan seperti anak anjing yang terbuang, tapi sayangnya itu sudah menjadi kontrak perjanjian diantara keduanya saat Baekhyun menjadi manajer Luhan.

"Luuuu~ maafkan akuu~" Baekhyun memasang wajah memelas sambil mencoba beberapa aegyo agar Luhan tidak marah padanya lagi. Setelah beberapa lama Baekhyun memasang wajah super imut dihadapannya, akhirnya Luhan menyerah dan tertawa sambil menangkup pipi Baekhyun lalu ia siksa pipi Baekhyun yang malang itu.

Tak lama lagi pelayan datang sambil membawa daging dan beberapa soju. Membuat mata Luhan dan Baekhyun menatap daging mentah yang sedang disajikan dengan tatapan ganas seolah-olah mereka tidak pernah makan selama 3 hari (karena bagi Luhan dan Baekhyun tidak makan selama 3 hari seperti tidak makan selama 365 hari).

"Lu, kau jangan sampai mabuk lagi! Kau kemarin sudah cukup mabuk sampai-sampai kau tidak sadarkan diri. Awas saja jika kau sampai mengulanginya lagi!"

"Tenang saja, aku hanya meminum 1 gelas saja. Oke?"


"Satu gelas apanya! 5 botol kau habiskan sendiri!-_-"

Baekhyun sekarang sedang membawa Luhan yang tidak sadarkan diri karena terlalu banyak meminum alkohol. Posisi tangan Luhan sekarang berada dibahu kecil Baekhyun yang ia gunakan sebegai penopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Walaupun matanya tertutup, Luhan tidak berhenti mengoceh tidak jelas seperti;

"Hyunnie, kau tahu? Dinosaurus memiliki 3 lapis otak, kkkk~"

"Hyunnieee~ kau tahu tidak jika ternyata Leonardo Da Vinci tidak melukis Monalisa? Karena yang melukis Monalisa adalah kakakku, Kriscasso!"

Dan yang lainnya. Ia benar-benar menjadi ahli sejarah ketika sedang mabuk. Walapun salah semua.

Sekarang Baekhyun berada dilantai 20, tapi tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Ketika ia mengangkat telponnya, wajah nampak terkejut lalu kemudian ia sepertinya sangat terburu-buru. Baekhyun hampir saja menggeletakkan Luhan ditengah koridor dan membiarkan petugas kebersihan memungutnya jika saja Sehun tidak ada disitu, sedang memasukkan kode sandi ke pintu apartemennya.

"Sehun-ssi! Tolong bawa Luhan ke kamarnya ya? Dia sangat mabuk dan aku mempunyai urusan penting. Kumohon? Oke?" Baekhyun menyerahkan tubuh Luhan ke arah Sehun yang sedang kebingungan dengan cuma-cuma. Alhasil Sehun mau tidak mau harus menahan tubuh Luhan dengan tangannya.

Baekhyun membungkuk 90 derajat kepada Sehun dan berlari menuju lift, meninggalkan Sehun yang memasang wajah kebingungannya.

"Tolong jaga dia ya! Thank you~"

Sehun menghela napas panjang lalu berjalan ke pintu apartemen Luhan. Namun sedetik kemudian ia baru ingat jika dia tidak mengetahui kode apartemen Luhan. Sehun mengerang kemudian menatap Luhan yang tampaknya sedang tertidur dibahunya.

"Luhan-ssi, kode apartemenmu berapa?"

Sehun sudah bertanya selama 10 kali sambil berusaha membangunkan lelaki bersurai emas yang masih tertidur dengan lelap ditangannya. Membangunkan Luhan sama seperti membangunkan tupai yang berhibernasi, pikir Sehun.

Akhirnya Sehun dengan terpaksa (namun sama sekali tidak keberatan) membawa Luhan ke apartemennya. Karena alasan kesatu, ia tidak bisa membuka pintu apartemen Luhan. Alasan kedua, ia tidak sekejam itu untuk membiarkan Luhan tertidur dikoridor, apalagi di lantai.

Sehun membaringkan tubuh Luhan ke sofanya yang berada diruang tamu. Ia menatap wajah Luhan sedikit lama dengan tatapan sendu seperti saat ia memutuskan hubungannya dengan Luhan 4 tahun yang lalu. Lalu ia bangkit dan pergi ke kamarnya.

Tak lama kemudian Sehun kembali dengan selimut ditangannya dan meletakkan selimut itu ke tubuh Luhan agar tubuhnya yang kecil itu tidak kedinginan.

Hanya dinding dan barang perabotannya yang menjadi saksi bisu jika Sehun memberi senyuman kecil kepada Luhan sebelum meninggalkan Luhan sendirian diruang tamunya.


Luhan terbangun dan mendapati dirinya sekarang berada disebuah sofa. Lalu ia terlonjak saat menyadari jika ini bukan apartemennya. Bangunannya tampak berbeda, begitu juga dengan sofa dimana ia tertidur. Ini bahkan bukan apartemen Baekhyun! Lalu ini dimana?

Jangan-jangan aku diculik?

Luhan berdiri dan mulai panik saat melihat bangunan asing yang tidak pernah liat sebelumnya. Lalu ia berjalan ke sebuah pintu dan membukanya. Itu adalah kamar. Kamarnya sangat luas, namun tampak membosankan karena warnanya hanya hitam dan putih.

Mata Luhan terus terfokus pada ruangan ini sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ada seorang lelaki berdiri dibelakangnya.

"Sedang apa kau disini?"

Luhan hampir saja terjatuh karena sangat terkejut dengan suara berat dibelakangnya. Sontak ia menoleh dan tiba-tiba membulatkan matanya.

"OH MY GOD"

Luhan yang sebelumnya terkejut sekarang lebih terkejut saat melihat Oh Sehun dibaliknya. Ditambah ia hanya memakai balutan handuk yang melilit pinggangnya. Memamerkan dadanya yang terbentuk dan seksi karena fitness. Luhan rasanya ingin meneteskan air suci ke matanya karena telah dinodai oleh Sehun. Tapi sebenarnya Luhan juga tidak keberatan:)

"Ya! Sedang apa kau disini?! T-telanjang lagi! Dasar pervert!"

"Pervert? Justru kau yang pervert disini bodoh. Ini kamarku dan aku habis mandi, jadi kau kenapa disini setelah aku mandi?"

Akhirnya Luhan mengalah dan memilih meninggalkan Sehun dikamarnya. Sekarang wajah Luhan sudah sama merahnya seperti kepiting rebus. Luhan sekarang tidak tahu apakah dia harus merutuki nasibnya karena tidak sengaja melihat dada Sehun, atau bersyukur karena bisa mendapatkan pemandangan indah gratis dari Oh Sehun mantan kekasihnya yang sangat tampan dan seksi.


Sekarang Sehun dan Luhan berada disofa ruang tamu sambil saling bertatap-tatapan secara intens seolah-olah mereka adalah pasangan menikah yang telah bercerai selama bertahun-tahun kemudian bertemu lagi.

Luhan yang pertama kali bersuara. "Jadi... Bagaimana bisa aku berakhir disini?"

"Kau mabuk dan Baekhyun membawamu kesini. Tapi tiba-tiba saja dia mempunyai urusan mendadak dan hampir saja membiarkanmu tidur di lantai koridor," Saat itu Luhan sudah berencana untuk melempar Baekhyun dari gedung berlantai 50 jika ia bertemu dengannya nanti. "Lalu dia melihatku dan menyuruhku untuk mengantarkanmu ke apartemenmu. Kemudian ia segera berlari tanpa memberiku kode apartemenmu. Akhirnya kau berakhir disini dengan keadaan selamat dan tidak mati kedinginan di lantai koridor."

Luhan menatap Sehun sebentar sebelum melontarkan pertanyaan, "Kenapa kau tidak meminta kunci cadangan ke resepsionis?"

"Menyusahkan."

"Terus kenapa kau tidak membiarkanku tertidur di koridor saja?"

"Memangnya aku setega itu?"

Luhan mengangguk-angguk sambil mengerucutkan bibirnya. Lalu ia mengambil kopi yang berada didepannya dan menyesapnya sebelum bertanya lagi kepada Sehun.

"Lalu, Daeun itu siapa?" Sehun menaikkan alis sebelah kanannya. Pertanyaan Luhan yang itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah ini kan?

"Itu tidak ada hubungannya kan?"

"Beritahu aku saja!" Luhan merengek seperti anak kecil yang otomatis membuat Sehun memutar bola matanya kesal. "Dia mantanku."

Oh, hanya manta- Tunggu, apa? Mantan?!

Luhan menatap Sehun tidak percaya. Sedangkan Sehun yang dipandangi dengan santainya menyesap kopinya sambil matanya menerawang keluar jendela.

Jadi mantannya bukan dia saja? Hah, tentu saja! Dia kan playboy! Liat saja cara dia tersenyum pada semua perempuan!

"Dia mantanku saat aku masih di sekolah menengah pertama." Tambahnya tanpa melihat ke arah Luhan yang nampaknya bersiap-siap untuk melempar bom ke Sehun. Luhan masih ingat ketika dulu ia masih bersama Sehun, lelaki itu berkata jika ia tidak pernah mempunyai hubungan dengan siapa-siapa. Tapi buktinya sekarang?

"Jadi berapa banyak mantanmu?"

Sehun menatap Luhan dengan tatapan kebingungan. Kenapa pertanyaannya sangat tiba-tiba sekali? Sehun menjadi merasa terserang sekarang.

"Entahlah." Luhan berdiri dan berjalan keluar dari apartemen Sehun, meninggalkan Sehun diruang tamu. Lelaki bersurai hitam itu menyesap kopinya sekali lagi sambil menerawang keluar jendela. Ia tersenyum kecil ketika melihat gelas milik Luhan sudah kosong.

Luhan masih menyukai kopi buatannya.


"Ya! Aku minta maaf Lu!"

Baekhyun dalam masalah besar. Sekarang Luhan sangat murka padanya sampai-sampai lelaki bersurai emas itu berniat untuk melempar Baekhyun dari gedung berlantai 50. Sekarang tangan Luhan sudah berada ditelinga Baekhyun, bersiap-siap untuk membabi buta telinganya yang malang itu tanpa ampun.

"Aku dengar sendiri dari Sehun jika kau akan membiarkanku tidur di koridor! Dasar! Manajer macam apa kau!" Luhan menarik telinga Baekhyun keras sampai-sampai lelaki itu hanya bisa meringis sambil menyerukan beberapa umpatan.

"Aku ada urusan mendadak yang sangat, sangat, sangaatt penting!"

Luhan berhenti menyiksa telinga Baekhyun sebentar lalu menatap lelaki itu, menunggu jawaban keluar dari bibir tipisnya.

"Kau tahu Do Kyungsoo kan? Penulis novel favoritku?"

Luhan menganggukkan kepalanya.

"Dia mengadakan acara fansign semalam dan aku dihubungi oleh temanku jika batas fansign adalah jam 9, jadi aku terpaksa meninggalkanmu."

Luhan menatap sahabatnya tidak percaya. Jadi Baekhyun, seseorang yang telah menjadi sahabatnya selama 16 tahun lamanya, berniat untuk membiarkan Luhan tertidur dilantai koridor karena sebuah acara fansign? Wow Baekhyun.

"Fansign? Hanya karena sebuah fansign?!" Luhan terlihat sudah siap untuk mencekiknya. "Y-ya, tapi ketika aku sudah sampai ditempatnya, ternyata acaranya sudah selesai..."

Kemudian Luhan hanya melanjutkan kegiatannya untuk menyiksa Baekhyun sampai lelaki itu menyesal karena meninggalkan sahabatnya bersama mantan kekasihnya yang sangat ia benci itu.


Seorang lelaki bertubuh jangkung keluar dari sebuah mobil bermerek Audi R8 berwarna putih. Lelaki itu memakai kacamata hitam dengan rambut berwarna silver yang ditutupi oleh snapback. Gaya berpakaian sangat kasual, ia hanya memakai celana jeans abu-abu dan kemeja yang 2 kancing atasnya terbuka.

Saat ia memasuki bangunan kantor agensi OSH Entertaiment, hampir semua staff perempuan mengalihkan perhatiannya kepada lelaki itu. Bagaimana tidak? Penampilannya yang sangat menonjol membuat para staff terkagum-kagum karenanya. Apalagi lelaki itu seringkali memberi sebuah wink dan senyuman manis kepada perempuan yang ia temui. Ya... Tipikal playboy.

Lelaki itu tadi memasuki ruangan CEO, alias ruangan milik Sehun. Dengan nada ceria dan tidak berdosa, lelaki yang lebih tinggi dari Sehun itu menyapanya.

"Yo~ brother!" Lelaki itu memutar-mutar kunci mobil ditangannya.

Sehun menghela napas panjang ketika melihat saudara sepupunya yang idiot namun bersikap sok keren itu. Sehun merebut paksa kunci mobil yang berada ditangan lelaki yang didepannya itu.

"Berhenti memakai mobilku, Park Chanyeol."

Chanyeol, lelaki jangkung itu tersenyum lebar sampai-sampai giginya yang rapi itu terlihat.

Park Chanyeol adalah saudara sepupu Sehun. Jangan tanya bagaimana sifatnya, lelaki berambut silver itu hanyalah berandalan yang kaya dan senang menghamburkan uangnya. Ia sudah melakukan hubungan seks dengan banyak perempuan maupun laki-laki. Sampai-sampai perempuan yang pernah menjadi korbannya pernah mendatangi rumahnya dan mengaku-ngaku jika dia sedang mengandung anak Park Chanyeol karena ia tahu jika Chanyeol adalah seorang chaebol**.

Karena Chanyeol terlalu nakal dan susah diatur, apalagi setelah dipindah ke Amerika, akhirnya ayah dari Chanyeol, alias paman Sehun, menghukum Chanyeol dengan menyuruhnya untuk menjadi sekretaris Sehun.

Sehun tidak bisa apa-apa selain menyetujui ide pamannya itu. Karena Chanyeol adalah satu-satunya pewaris anak perusahaan OSH Group, Park Group. Toh, Chanyeol juga sebenarnya pintar walaupun sikapnya seperti idiot.

"Kau tahu kan mobilku disita," Chanyeol mengambil tempat didepan meja Sehun dan mulai memainkan beberapa pensil dan bolpoin milik Sehun.

"Besok ruanganmu akan kusiapkan. Jadi sekarang kau hanya perlu duduk disini atau keluarlah untuk menggoda artis dan trainee disini." Sehun kembali fokus kepada tumpukan kertas yang hanya tuhan dan Sehun yang tahu. Kemudian Chanyeol memainkan ponselnya dan berkeliling diruangan Sehun yang sangat besar.

Lalu Chanyeol memasuki sebuah ruangan yang didalamnya terdapat sebuah televisi berukuran 42 inch, sebuah sofa yang bisa diubah menjadi kasur, serta lemari es yang didalamnya lengkap dengan makanan dan minuman.

Chanyeol keluar dari ruangan itu sambil membawa dua kaleng soda dan satu bungkus keripik kentang lalu ia kembali duduk didepan Sehun sambil memberi Sehun sebuah kaleng soda.

"Kenapa kau sangat senang sekali mengambil barang milik orang lain?"

"Tentu saja. Dan kau tahu? Aku tidak hanya mengambil barang, tetapi juga kesucian orang lain." Celetuknya sambil mengedipkan matanya yang sebelah kanan yang hampir membuat Sehun hampir melempar kaleng sodanya ke wajah Chanyeol agar lelaki itu berhenti berpikiran pervert.


Hari ini adalah hari libur untuk Luhan. Jadi Luhan hanya menghabiskan waktunya untuk menonton drama di tvnya sambil memakan pizza di ruang tamunya (atau ruangan dimana Luhan bisa menghabiskan waktunya untuk bersantai dan menonton tv).

Sekarang keadaan Luhan seperti gadis remaja yang tergila-gila oleh K-Drama dan memilih hari liburnya untuk drama daripada keluar bersama teman-temannya dihari yang cerah ini. Luhan hanya memakai t-shirt biru langit yang kebesaran untuknya dan celana pendek selututnya dengan pizza yang tidak utuh didepannya serta beberapa botol soda disampingnya.

Lelaki berambut blonde itu terlalu terlarut pada dramanya sampai-sampai ia tak menyadari ada seseorang yang memasuki apartemennya, yang tak lain adalah Byun Baekhyun.

"Astaga, kau itu aktor atau gadis berumur 17 tahun sih?" Luhan mengendikkan bahunya dan kembali terfokus ke tontonannya.

"Ini sudah jam 7 malam Luhan, apa kau lupa setelah ini kita ada acara?"

Luhan mengendikkan bahunya sekali lagi dan hanya terfokus pada dramanya. Kenapa Baekhyun selalu merusak moment bahagianya? Luhan menggerutu dalam hati.

"Tadi siang Kyuhyun menelponku dan berkata jika nanti jam 8 malam kita akan makan malam bersama-sama dengan para kru dan artis. Aku sudah mengirimkan pesan padamu tadi siang setelah aku kemari."

Luhan kembali mengendikkan bahunya karena ia benar-benar tidak peduli dengan acara makan besar-bersama-kru-dan-artis malam ini. Ia hanya peduli pada dramanya dan pizza sekarang.

"Luuu~ kumohon. Jangan menyusahkanku!" Baekhyun memasang wajah aegyo andalannya dihadapan wajah Luhan.

"Tapi drama-"

"Tidak, nanti kau bisa menontonnya lagi, ok? Acara ini penting karena jika ada media yang mengetahui kau tidak hadir ke acara ini, kau pasti akan diberitakan yang tidak-tidak Lu."

Luhan, dengan berdiri dari sofanya yang nyaman dan berjalan ke arah kamarnya secara terpaksa.


Luhan dan Baekhyun sekarang sudah duduk dimeja yang penuh dengan makanan. Disebelah mereka sudah terdapat para kru yang nampaknya sedang menikmati makanan dan minuman mereka. Tentu saja Luhan juga, lelaki bermata rusa itu melahap kimbabnya dengan rakus.

Tiba-tiba saja matanya menangkap Daeun sedang berjalan ke arahnya dengan langkahnya bak putri Korea Selatan itu. Astaga, melihat cara jalannya saja sudah membuat Luhan ketakutan.

"Psst, Baekhyun-ah, nenek sihir itu sudah datang! Ayo kita pulang saja!" Bisiknya tanpa menatap ke arah Baekhyun.

"Nenek sihir yang kau maksud adalah Daeun?"

Luhan meringis kecil, "Tentu sa-"

Tunggu, sejak kapan suara Baekhyun seberat ini?

Luhan menoleh dan mendapati Sehun sedang meminum soda disebelahnya. Mata Luhan seketika membesar. Karena terlalu terkejut dengan kehadiran Sehun, Luhan hampir saja terjatuh dari kursi jika saja tangan Sehun tidak menggenggam tangan Luhan terlebih dahulu. Tatapan mereka bertemu, rasanya waktu didunia ini berhenti sejenak, lalu rasanya bunga-bunga berjatuhan dengan dramatisnya, seperti ketika mereka pertama kali bertemu. Namun tiba-tiba saja kelopak bunga yang tadi berjatuhan tergantikan oleh suara bom nuklir yang meledak ketika suara Daeun yang mengerikan mulai terdengar oleh Luhan.

"Oh? Sehunnie! Kau disini?"

Luhan bersumpah akan memasukkan kepala Daeun ke dalam toilet karena telah merusak momentnya yang indah.

Indah? Bersama Oh Sehun? Tidak, itu terdengar seperti neraka. Seharusnya Luhan berterima kasih kepada Daeun, tapi dia tetap berencana akan memasukkan kepala Daeun ke dalam toilet.

"Sedang apa kau disini? Kau kan bukan artis? Kru juga bukan." Tanya Daeun pada Sehun sambil mengambil tempat didepan Sehun. Luhan ingin rasanya meninggalkan tempat ini, tapi sayangnya Luhan masih ingin memakan kimbab dan daging panggangnya disini.

"Ayahku menyuruhku untuk mengawasi Luhan. Jadi, aku harus kemari." Daeun menatap Luhan sebentar lalu kembali mengalihkan tatapannya ke Sehun. Wajahnya yang dibuat-buat sok manis itu membuat Luhan semakin ingin untuk memasukkan kepala Daeun ke toilet.

Lalu Luhan berdiri dan berjalan ke arah kamar kecil tanpa berpamitan ke Sehun maupun Daeun. Sehun menatap punggung Luhan yang mulai menjauh darinya lalu mengendikkan bahunya dan kembali meminum sodanya.

Di kamar kecil, Luhan hanya berusaha mencoba untuk menenangkan diri. Bagaimana tidak? Disebelahnya terdapat Oh Sehun, mantan kekasihnya yang sangat menyebalkan dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara keduanya di masa lalu. Didepannya terdapat Daeun, perempuan aneh yang menakutkan dan Luhan sangat membencinya karena ia tahu jika Daeun bisa mengeluarkan bom nuklir kapan saja dan dimana saja.

Dikelilingi oleh dua orang yang sangat ia benci benar-benar membuat Luhan susah bernapas dengan bebas.

Saat Luhan keluar dari kamar kecil, didepannya sudah terdapat Daeun yang sedang bersandar di dinding sambil memainkan ponselnya. Luhan berjalan meninggalkan perempuan itu jika saja tangannya tidak menahan bahu Luhan dan menariknya untuk berhadapan dengan Daeun.

"Apa yang kau mau?" Luhan bersandar ke dinding yang berada didepan Daeun.

Daeun menatap kuku jarinya dan berbicara tanpa menatap Luhan, "Aku tahu kau itu mantan kekasihnya Oh Sehun."

"Lalu?" Luhan berusaha sekeras mungkin untuk tidak terdengar terkejut. Jadi ini pembicaraan sesama mantan Oh Sehun?

"Aku hanya ingin menceritakan bagaimana aku dan Sehun putus,"

Luhan terkekeh kecil kemudian menatap Daeun dengan wajahnya yang datar. Sekarang keinginannya untuk memasukkan kepala Daeun ke toilet semakin besar, apalagi mereka dekat dengan kamar kecil.

"Wow! Bagaimana kau tahu jika aku sangat ingin mendengar ceritamu dan Oh Sehun itu?" Ucap Luhan dengan sarkastik. Kemudian Luhan melanjutkan kata-katanya dengan tajam, "Apa wajahku ada wajah orang yang sangat ingin mengetahui kisah menjijikanmu dengan Oh Sehun itu? Stop imagining thing, bitch."

Untung saja Daeun tidak mengetahui arti dari 'bitch' karena ia sangat bodoh dalam pelajaran Bahasa Inggris.

Walaupun Luhan tidak mau mendengarkan cerita Daeun, perempuan itu tetap menceritakannya. Dengan terpaksa Luhan kembali menyandarkan punggungnya ke dinding dan memilih untuk mendengar cerita masa lalu Daeun yang tidak penting.

"Dulu ada sepasang kekasih yang sangat bahagia. Walaupun umur mereka masih belum matang untuk menjalani hubungan, mereka tetap menjadi pasangan yang bahagia selama satu tahun lamanya. Pada waktu kelulusan, mereka harus berpisah karena mereka gagal memasuki sekolah yang sama. Tetapi lelaki itu sudah berjanji kepada kekasihnya jika hubungan mereka bisa tetap berjalan walaupun mereka terpisah," Luhan bisa menebak jika pasangan yang bahagia (bagi Daeun) itu dan Daeun dan Sehun.

"Akhirnya pada suatu malam, lelaki itu meminta ijin kepada kekasihnya untuk pergi ke kencan blind date yang sudah direncanakan oleh sahabatnya karena lelaki itu sudah kalah taruhan. Karena itu hanyalah blind date, maka perempuan itu mengijinkan lelaki itu. Tapi sayangnya, sejak malam itu, kekasihnya sudah jarang menghubunginya. Perempuan itu tetap berpikiran positif. Namun suatu hari, lelaki itu mengajak perempuan itu untuk bertemu di sebuah kafe," Luhan mendengarkan cerita Daeun dengan seksama (walaupun masih terpaksa).

"Perempuan itu sangat bahagia. Sesampainya di kafe, ia bisa melihat lelaki itu dari kejauhan. Rambutnya yang dulu berwarna coklat tua waktu itu berubah menjadi hitam pekat." Luhan masih mengingatnya, saat itu Luhan meminta Sehun untuk mengganti warna rambutnya menjadi hitam.

"Perempuan itu berharap mereka akan menghabiskan waktu bersama, tetapi lelaki itu justru memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Dan setelah beberapa bulan, perempuan itu tahu jika mantan kekasihnya sudah mempunyai penggantinya. Penggantinya yang baru itu adalah kau."

Luhan kembali mengatur wajahnya menjadi datar. Ia melipat tangannya di dada dan menatap Daeun dengan angkuh.

"Lalu? Apa yang kau inginkan sekarang? Kau ingin aku meminta maaf padamu sambil bersujud?"

Daeun tertawa kecil dan kembali memasang wajah manisnya yang palsu itu. "Aku hanya ingin kau meminta maaf dan kemudian aku akan membuat Oh Sehun jatuh cinta kepadaku lagi."

Tubuh Luhan membatu sejenak. Tetapi kemudian ia tersadar, ia tidak seharusnya sangat terkejut ketika mendengar pernyataan Daeun. Well, Luhan juga hanya mantan seorang Oh Sehun.

Luhan berjalan ke arah Daeun dan membisikkan kata-kata, "Akan lebih baik jika kau berhenti bermimpi dan kembali menjalani kehidupanmu sebagai artis yang tidak terkenal."

Luhan meninggalkan perempuan itu membatu. Luhan tidak percaya, seorang artis yang bahkan tidak terkenal, berani-beraninya meminta Luhan untuk meminta maaf kepada Daeun.

Luhan berharap Daeun akan tersedak oleh dagingnya nanti.


Sekarang para artis dan kru sudah berkumpul mengelilingi meja yang sangat panjang. Mereka sedang menikmati makanan dan minuman mereka. Disamping kanan Luhan terdapat Sehun, sedangkan disamping kiri Luhan terdapat Baekhyun yang sudah mabuk karena terlalu banyak meminum soju.

Luhan dan Baekhyun sedang bermain didunianya sendiri. Siapa saja yang paling banyak meminum soju akan menang, sedangkan yang kalah harus meneraktir sang pemenang selama satu minggu.

Dan sekarang mereka seri jika dilihat dari 6 botol soju yang sudah habis dihadapan mereka berdua. Luhan sangat mabuk, bahkan ia mulai berbicara yang aneh-aneh. Sedangkan Baekhyun sudah tidak sadarkan diri, kepalanya bersandar pada bahunya Luhan. Sehun yang melihat keadaan ini tentu saja harus melakukan sesuatu.

"Chanyeol, apartemenmu berada disekitar restoran Hanwoo kan?"

"Ngh, ya. Kenapa?" Dari nada bicaranya, Sehun sudah tahu jika lelaki diseberang telpon itu baru saja terbangun dari tidurnya.

"Datanglah ke restoran Hanwoo dan bawalah manajer Luhan ke rumahmu. Ia sekarang tidak sadarkan diri sedangkan Luhan sudah mabuk."

"Ini sudah malam,"

"Cepat."

"Geez, oke! Aku akan akan kesana secepat kilat!"

Sambungan diputuskan. Sehun memasukkan ponselnya kedalam saku dan berusaha menahan Luhan agar tidak terjatuh dari kursi. Kepala Baekhyun yang tadinya berada dibahu Luhan berpindah tempat ke meja.

10 menit kemudian, Chanyeol datang dan langsung mengangkat tubuh kecil Baekhyun, kemudian mereka berjalan ke arah mobil Chanyeol (yang sebenarnya milik Sehun).

Sehun mengangkat tubuh Luhan dengan perlahan lalu berpamitan kepada para kru untuk pulant terlebih dahulu. Daeun menatap Luhan dengan tatapan benci. Namun ia terpaksa memasang wajah manisnya didepan Sehun.

Sesampainya diparkiran, Luhan melihat mobil Chanyeol sudah berjalan menjauhinya. Sehun meletakkan Luhan dikursi disamping kemudi lalu memasang sabuk pengaman agar Luhan tidak terjatuh.

Saat Sehun akan memasuki mobilnya, ia mendengar suara blitz kamera yang membuatnya menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang wartawan dari media berita tentang skandal terbesar di Korea Selatan,

Dispersion.

Sehun dan Luhan benar-benar dalam masalah besar.


*Skinship : hubungan yang melibatkan sentuhan secara fisik.

**Chaebol : istilah bahasa Korea untuk konglomerat, yang telah menjadi kekuatan ekonomi utama dalam ekonomi Korea Selatan.


Chapter 3 here!

Makasih buat yang komen kemarin! Sekarang EBND udah punya 99 komen~ makasih T-T

Kemarin ada yang tanya kalo ff ini ratingnya bakal naik jadi M. Oke, mungkin ada adegan 'nganu' di chapter kedepannya lol. Karna ff tanpa bumbu-bumbu nc kan kayak kurang pas gitu/ga :3

Dispersion? Yap, plesetannya Dispatch lol XD

Di komen banyak yang gasuka sama Daeun ya? Ya ya ya, dia emang pho-nya HunHan T-T

Maaf kalo chapter kali ini membosankan T-T aku udah sekuat tenaga biar bikin ff ini gak begitu membosankan. Jangan lupa komen ya ^^ thank you3