Let's Play a Game
.
.
.
©xselumate©
Sehun membaringkan tubuh Luhan ke ranjangnya. Tapi jangan harap jika lelaki berambut blonde itu sedang tertidur dengan manisnya, ia bahkan menolak untuk tidur dan terus bergerak, membuat Sehun kewalahan untuk menangani Luhan yang sedang mabuk.
"Oh? Eung... Ini siapa?" Luhan meraba-raba wajah Sehun seperti anak kecil yang baru bertemu dengan ayahnya. Mata Luhan yang setengah terbuka sekarang bertemu dengan mata hazel milik Sehun. "Oh Sehun? Sehunnie-ku? Hunnieeee~!" Luhan memeluk tubuh Sehun yang membuat lelaki yang lebih tinggi darinya itu terkejut.
Luhan semakin membenamkan kepalanya ke dada Sehun, "Aku merindukanmu~"
Entah apa yang membuat tangan Sehun bergerak untuk mengelus rambut blonde Luhan yang halus seperti kapas. Lelaki berambut hitam itu tersenyum kecil lalu menyandarkan kepalanya ke kepala milik Luhan.
"Aku sangaaaat merindukanmu!"
Aku juga.
"Aku merindukan senyummu,"
Aku juga.
"Aku merindukan aroma tubuhmu,"
Aku juga.
"Aku merindukan kehangatanmu,"
Aku juga.
"Aku merindukan tawamu,"
Aku juga.
"Dan intinya, aku merindukanmu lebih dari kau merindukanku."
Aku lebih merindukanmu Lu.
"Maafkan aku..."
Aku yang bersalah Lu, berhentilah meminta maaf.
"Sehunnie?" Luhan beranjak dari ranjang Sehun dan berdiri dihadapan Sehun walaupun lelaki itu masih dalam keadaan mabuk total. Berdirinya masih belum tegap, bahkan Sehun harus menahan tubuh kecil Luhan agar lelaki itu bisa berdiri.
Kemudian Luhan berjinjit agar bisa menyamai tingginya dengan Sehun. Pandangan mereka bertemu lagi. Sebuah senyuman terukir pada wajah Luhan. Lalu, Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Sehun, menghapus jarak mereka yang sebelumnya dihalangi oleh sebuah dinding raksasa yang transparan. Bibir mereka bersentuhan setelah 4 tahun lamanya sejak ciuman perpisahan mereka. Ciuman itu sangat manis, seperti ciuman pertama anak sekolah menengah yang lembut seperti permen kapas, tanpa paksaan.
Ciuman itu tidak berlangsung lama saat ia mendengar dengkuran Luhan yang lembut. Sehun terkekeh pelan, lalu membaringkan tubuh Luhan yang terlihat rapuh ke ranjangnya. Sehun menatap lelaki itu dalam-dalam, seolah-olah ia sangat ingin untuk melindungi lelaki berambut blonde itu.
Tangan Sehun bergerak ke rambut Luhan yang halus kemudian mengelusnya pelan sebelum tersenyum lagi.
"Maafkan aku Lu."
Sinar matahari mulai menerobos jendela kamar dua orang laki-laki yang sedang terbaring diranjang. Salah satu dari mereka yang memiliki rambut berwarna light brown mengerjapkan matanya perlahan. Lalu ia melihat ke sekelilingnya dan menemukan sesosok manusia yang memiliki rambut berwarna silver sedang tertidur disampingnya tanpa sehelai kain yang menutupi dadanya.
Tanpa sehelai kain yang menutupi dadanya.
Sontak Baekhyun melirik ke arah tubuhnya yang hanya memakai celana boxer tanpa t-shirt yang menutupi dadanya. Lalu, ia berteriak keras-keras sambil merapatkan selimut berwarna putih ke tubuhnya.
Lelaki berambut silver yang tadinya tertidur tiba-tiba terbangun karena terkejut dengan suara teriakan Baekhyun. Dengan matanya yang setengah tertutup, lelaki itu dengan santainya berkata, "Apa?"
"S-siapa kau?! K-kau..orang mesum ya?! Kau apakan tubuhku ini?!" Baekhyun histeris saat melihat dada lelaki itu terekspos. Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Ia masih polos dan masih belum tersentuh oleh siapapun. Ia bahkan tidak pernah menjalin sebuah hubungan atau melakukan hubungan seks! Tapi sekarang? Lelaki aneh dengan telinganya yang mirip seperti telinga Yoda tiba-tiba tertidur disebelahnya tanpa menggunakan apapun kecuali boxer sama sepertinya.
"Baekhyun? Ya! Jangan salah paham! Ini tidak seperti yang kau bayangkan!" Lelaki itu membuka matanya dan menatap Baekhyun yang sedang menatapnya dengan ketakutan, seolah-olah dirinya telah melakukan hal-hal senonoh kepada lelaki bertubuh mungil didepannya ini.
"B-bagaimana bisa kau tahu namaku?" Tubuh Baekhyun masih bergetar karena terkejut. Lalu mata Baekhyun membesar sambil mengajukan pertanyaan, "Jangan-jangan kau stalkerku ya?!"
"Ya! Byun Baekhyun! Apa kau sudah melupakanku eoh?"
Baekhyun mengernyitkan dahinya sebelum akhirnya ia membuka mulutnya lebar sambil memasang wajah terkejut, "Tunggu, tidak mungkin..."
"Park Chanho?"
Luhan memasang ekspresi horrornya kepada bayangan dirinya di cermin kamar mandi. Tadi ia terbangun dan langsung berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya karena alkohol semalam. Namun tiba-tiba saja ingatannya semalam terlintas dipikirannya dan membuat tubuhnya seketika membatu.
Saat ia memeluk Sehun, saat ia menyandarkan kepalanya ke dada Sehun sambil mengucapkan kata-kata yang benar-benar menghancurkan harga dirinya, dan parahnya saat ia berjinjit dan menempelkan bibirnya ke bibir Sehun.
Luhan seperti ingin menangis dan membiarkan dunia menelannya agar ia tidak akan berhadapan dengan mantan pacarnya itu. Tapi itu tidak mungkin terjadi.
Menghindari Sehun saat ini pun akan sangat sulit karena pertama, Luhan sekarang berada di apartemen Sehun. Kedua, ia bertetangga dengan Sehun. Ketiga, Sehun adalah pemilik agensi dimana ia bernaung. Sehingga kesempatan Luhan untuk menghindari Sehun adalah 0.99%. Yap, angka yang sangat memungkinkan untuk menghindari Oh Sehun atau dalam kata lain ia tidak akan bisa menghindari Sehun.
Luhan berjalan keluar dari kamar mandi seperti mayat hidup. Ia yakin 99,9% jika Sehun akan menggodanya tentang kejadian semalam ketika ia bertemu dengannya nanti sambil melayangkan senyuman jahilnya kepada Luhan yang tiba-tiba saja membuat bulu kuduk Luhan merinding. Ia mengacak-acak rambut blondenya frustasi sambil menhentak-hentakkan kakinya ke lantai.
"Berhentilah bersikap seolah-olah kau telah mengetahui jika kau telah mengandung anakku."
Mengandung anaknya? Mulai hari ini kata-kata itu menjadi kata-kata yang mengerikan dalam seumur hidupnya.
Sehun, lelaki itu sekarang sedang memasang ekspresi datarnya sambil menyandarkan tubuhnya yang kurus itu di dinding kamarnya. Luhan hanya bisa meringis pelan sambil merutuki nasib buruknya di pagi hari.
"Berhenti mengucapkan hal-hal aneh!" Luhan berjalan melewati dan hampir saja keluar dari kamar Sehun jika saja lelaki berambut hitam itu tidak menahan pergelangan tangannya.
Sontak, Luhan menghadap ke arah Sehun dan menatapnya bingung. "Apa kau sudah mengingat kejadian tadi malam?" Luhan dapat melihat senyuman jahil terpasang di wajah Sehun.
Luhan kembali meringis kemudian menyentak tangan Sehun kasar dan meninggalkan lelaki itu dikamar. Namun ternyata, Sehun mengikuti Luhan seperti anak anjing yang mengikuti ibunya sampai ke dapur.
"Luhan, buatkan aku makan."
Luhan menatap Sehun tidak percaya.
"Buat saja sendiri! Memangnya kau siapa berani-beraninya menyuruhku untuk membuatkanmu makan?!" Luhan meniup poninya kasar.
"Aku bosmu."
Tak lama kemudian Luhan berdecak kesal sebelum membuka lemari es Sehun untuk mengambil bahan-bahan untuk memasak.
Sedangkan Sehun? Lelaki itu tersenyum manis tanpa sepengetahuan Luhan.
Setelah makan pagi yang diisi oleh suara Luhan dan Sehun yang berdebat tentang perpanjangan kontrak Luhan, mereka bergantian memakai kamar mandi. Luhan yang bajunya ia gunakan dari kemarin dengan sangat terpaksa ia harus meminjam t-shirt milik Sehun yang terlihat kebesaran jika dipakai oleh Luhan. Sekarang, mereka hanya duduk didepan tv sambil membahas perpanjangan kontrak Luhan.
"Jadi bagaimana? Kau mau menanda tangani perpanjangan kontrak dengan aku, atau dengan perusahaan lain?"
Luhan tampak menimang-nimang, sebenarnya banyak agensi yang menawarinya kontrak baru, namun Luhan sudah lama bernaung di agensi milik Sehun. Tapi masalahnya Sehun itu adalah pemilik OSH Entertaiment! Harusnya dengan kesempatan inilah Luhan akhirnya bisa terbebas dari Sehun lalu kemudian ia bisa pindah dari apartemennya sekarang. Dengan begitu, Luhan tidak perlu mati-matian menghindari Sehun.
"Bagaimana ya? Sepertinya aku akan menanda tangani kontrak dengan agensi lain." Sehun mengangguk pelan tanda jika ia setuju. Luhan benar-benar tidak percaya, CEO mana yang membiarkan artisnya menanda tangani kontraknya dengan agensi lain?
"Hanya itu? Kau hanya mengangguk-angguk pasrah sedangkan artismu akan menanda tangani kontrak dengan agensi lain?"
Sehun memiringkan kepalanya sambil memasang wajah datarnya.
"Lalu aku harus apa? Memohon-mohon padamu sampai bersujud-sujud agar kau menanda tangani kontrak agensiku? Heol, tentu saja tidak. Aku masih mempunyai Playboys, Bubblegum, Shelyn Kim, dan masih banyak grup band serta penyanyi solo di agensiku." Sehun menjawab dengan tenangnya.
Luhan memasang ekspresi tidak percaya. "Baiklah! Lihat saja, aku tidak akan pernah menanda tangani kontrak dengan agensimu!" Lelaki berambut blonde itu hampir saja berdiri jika Sehun tidak memegang pergelangan tangannya dan membuat Luhan kembali duduk di sofa.
"Apa?!"
Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan, membuat lelaki blonde itu salah tingkah. Apa Sehun akan menciumnya? Tiba-tiba saja ia teringat insiden semalam saat ia mencium Sehun.
"Besok kembalikan bajuku dengan keadaan bersih tanpa sedikitpun noda dikainnya. Oke?"
Luhan bersumpah jika suatu saat ia pasti aku mendorong Sehun dari atap gedung apartemen ini. Awas saja, baju ini tidak akan Luhan kembalikan, ia akan membuang baju ini ke tempat sampah! Atau ia akan membakarnya, sekalian saja membakar Sehun hidup-hidup!
Luhan berdiri sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. Ia menyumpah serapahi Sehun saat berjalan menuju pintu depan apartemen Sehun. Sedangkan Sehun, lelaki itu masih berada di sofanya sambil menghidupkan tvnya.
Tiba-tiba saja suara pintu dibuka lalu ditutup dengan kasar terdengar, lalu Luhan berlari ke tempat dimana Sehun sedang menonton tv. Sehun menatap Luhan aneh, kupikir dia sudah keluar, sedang apa dia disini?
"D-diluar, banyak wartawan!" Luhan memasang wajah horrornya. Napasnya tidak teratur karena para wartawan hampir saja menyerangnya dengan ribuan pertanyaan jika saja ia tidak dengan segera menutup pintu apartemen Sehun dan berlari ke ruang tamu.
"Apa? Wartawan?"
"Iya!" Luhan kemudian memainkan ujung t-shirt yang ia gunakan. "Dan mereka sudah melihatku keluar dari apartemenmu..."
Hari ini akan menjadi hari yang panjang untuk Luhan dan Sehun.
"Park Chanho kan kakakku!"
Baekhyun sekarang berada di meja makan dengan Chanyeol yang sedang merajuk seperti anak kecil karena ia dipanggil dengan nama kakaknya. Baekhyun hanya menyendokkan serealnya ke dalam mulutnya, membiarkan Chanyeol berkata semaunya.
"Ya! Byun Baekhyun! Dengarkan aku!" Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan astaga-sampai-kapan-ia-terus-merajuk-seperti-anak-kecil? Tubuh Chanyeol sangat tinggi menjulang seperti pemain basket, namun sikapnya seperti anak baru lulus sekolah dasar.
"Wajahmu dan wajah kakakmu sedikit sama. Jadi aku bingung," Chanyeol meniup poninya kesal. Lelaki mungil didepannya ini adalah teman sekelasnya. Tetapi ia justru mengira jika Chanyeol adalah Chanho, kakaknya.
Kemudian Chanyeol menyendokkan sereal kemulutnya sambil terus menggerutu seperti anak kecil, membuat Baekhyun yakin bahwa Chanyeol itu sebenarnya anak berumur 10 tahun yang terperangkap di tubuh raksasa seorang lelaki.
"Berhentilah menggerutu dan cepat habiskan makananmu!"
"Hanya ada kakakku kan di ingatanmu,"
Baekhyun berhenti sejenak. Ia meletakkan sendoknya perlahan sambil matanya menatap lelaki berambut silver yang berada didepannya itu lekat-lekat. Tak terasa matanya memanas, kemudian Baekhyun hanya menundukkan kepalanya dan menatap serealnya yang belum habis. Ia berusaha menahan airmatanya sejak pertama kali melihat Chanyeol. Tetapi sekarang pertahanannya hancur.
"Baekhyun? Kau menangis?" Chanyeol mendekati Baekhyun. Lalu tangannya yang besar itu bergerak untuk menggapai dagu Baekhyun dan mengangkatnya agar ia bisa melihat wajahnya. Bulir-bulir kristal kembali jatuh dari kedua mata milik Baekhyun ketika mata Chanyeol bertemu dengan mata Baekhyun.
"Hey, hey! Aku akan menghiburmu oke? Kau suka kartun? Emm... Bagaimana dengan Pororo? Kau mau menonton Pororo?" Chanyeol berlari ke ruang tamunya untuk menyalakan tvnya. Saat itu Baekhyun hampir saja melempari Chanyeol dengan pisau dapur -karena Baekhyun bukan anak kecil, ia sudah berumur 24 tahun dan Chanyeol memperlakukannya seperti anak sekolah dasar- jika saja Chanyeol tidak berbicara dengan suara bassnya itu.
"Aktor papan atas 'L' dan pemilik agensi 'O' diduga memiliki hubungan spesial?"
Baekhyun sontak berlari marathon ke depan tv dan berdiri disebelah Chanyeol. Matanya hampir saja melompat keluar saat melihat berita gosip dilayar tv yang memperlihatkan foto yang ia yakini adalah Luhan (karena Baekhyun masih ingat dengan baju yang Luhan kenakan semalam) bersama seorang lelaki jangkung yang membawanya ke mobil.
Kedua mata milik Chanyeol dan Baekhyun sama-sama meneliti siapa lelaki yang sedang bersama Luhan di foto. Setelah beberapa saat kemudian, kedua pasang mata mereka sama-sama membulat, wajah mereka saling berhadapan dengan ekspresi penuh teror.
Kemudian mereka berseru secara bersamaan, "Oh Sehun?!"
Sekarang wajah Luhan seperti orang yang tak bernyawa. Seolah-olah jiwanya terbang melayang keluar dari tubuhnya saat melihat fotonya dan Sehun yang semalam diabadikan oleh Dispersion, media berita tentang skandal para artis terkenal nomor satu di Korea Selatan. Bahkan Luhan tidak sanggup untuk melihat fotonya di tv walaupun wajah mereka berdua terlihat tidak jelas. Walaupun namanya dan nama Sehun hanya diberi huruf inisial, tetap saja Luhan menjadi sasaran empuk para netizen.
Aktor papan atas 'L'. Sangat jelas kan?
Berbeda dengan reaksi berlebihan seorang Luhan, Sehun justru lebih santai sambil kembali menyesap kopinya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Luhan menatap lelaki itu kesal. Ia yakin jika diluar ada serangan dari alien, pasti Sehun hanya mengintip sebentar lalu kembali menyesap kopinya seperti bangsawan.
Luhan hampir membuka mulutnya untuk mengomeli Sehun jika saja ponsel miliknya tidak berdering dengan nyaring.
"Halo?"
"Halo?! Setelah berita skandalmu dengan Oh Sehun yang menyebar dimana-mana kau hanya bilang halo?!"
"Ya! Byun Baekhyun! Kenapa jadi kau yang marah?!"
Harusnya Luhan yang marah dan kesal, tapi kenapa jadi Baekhyun yang memarahinya?
"Berita skandalmu dengan Sehun menjadi trending topic di Korea Selatan! Bahkan beritamu juga menjadi pencarian nomor satu dimana-mana!"
Tubuh Luhan membeku. Apa? Pencarian nomor satu? Trending topic?
"T-trending topic? Kau serius?!"
"Buka saja di internet bodoh! Aku akan menuju ke apartemenmu."
Luhan hampir saja mengakhiri panggilannya dengan Baekhyun jika saja ia tidak teringat akan begitu banyaknya wartawan yang sedang berada didepan apartemennya.
"Baekhyun-ah, didepan apartemenku sudah dikelilingi oleh wartawan..."
Luhan bisa mendengae decakan Baekhyun dari seberang telpon.
"Berapa banyak?"
"Aku tidak tahu! Pokoknya lebih dari 5 mungkin?"
Baekhyun menghela napas panjang.
"You're so dead Luhan."
Pip.
Panggilan dari Baekhyun berakhir. Sekarang Luhan hanya bisa terbaring dengan lemas di sofa milik Sehun (bahkan Luhan sudah lupa jika sekarang ia berada di apartemen mantan kekasihnya). Luhan sekarang ingin saja menghilang. Karena apartemen baru yang ia tempati, ia mendapat banyak kesialan seperti; bertemu dengan Oh Sehun, berhadapan dengan Daeun, dan yang terakhir berita skandal yang mungkin akan membuat karirnya hancur seketika.
Luhan membuka browser di ponselnya dan mengetikkan namanya dikolom pencarian. Hal pertama yang muncul adalahp artikel tentang skandalnya. Luhan memberanikan diri untuk membuka dan membaca isinya.
Hubungan Spesial Antara Aktor Luhan dan CEO Agensinya.
Rabu kemarin, seorang wartawan dari Dispersion telah menangkap seorang aktor terkenal dan CEO perusahaan agensi terkenal di parkiran sebuah restoran terkenal. Aktor yang dimaksud antara lain adalah Luhan. Lelaki yang menempuh perjalanannya sebagai aktor dari umurnya yang masih belia ini baru pertama kalinya terlibat skandal besar-besaran.
Lee Jungho, wartawan Dispersion tersebut hanya melewati parkiran restoran xx. Lalu ia melihat Luhan yang saat itu tidak sadarkan diri berada dipelukan seorang pria yang nampaknya lebih tua darinya. Dengan cekatan, Lee Jungho langsung mengambil kameranya untuk mengabadikan momen tersebut. Tanpa disangka, pria itu sempat menoleh ke arah kamera sebelum akhirnya berlari memasuki mobil dan cepat-cepat meninggalkan area parkir.
Hari ini banyak wartawan yang berbondong-bondong ke tempat tinggal milik Luhan yang berada di daerah Gangnam. Setelah menunggu dari jam 6 pagi, ternyata tidak ada balasan dari dalam tempat tinggal milik Luhan. Akhirnya beberapa saat kemudian Luhan menampakkan diri. Namun ia tidak keluar dari tempat tinggalnya, melainkan tempat tinggal tetangganya yang kami yakini adalah milik CEO agensinya. Tidak hanya itu, Luhan keluar hanya memakai t-shirt putih kebesaran yang terlihat sama sekali bukan miliknya.
Luhan hampir menjatuhkan ponselnya saat melihat fotonya yang baru saja keluar dari apartemen Sehun dengan t-shirt putih -yang sekarang masih Luhan gunakan- milik Sehun. Sekarang Luhan hanya bisa mengagumi betapa cepatnya artikel ini keluar. Padahal ia baru saja keluar dari apartemen Sehun sekitar 45 menit yang lalu.
"Bagaimana ini?" Luhan menatap Sehun lekat-lekat. Lelaki bersurai hitam itu hanya mengendikkan bahunya tidak peduli.
"Masalahnya, kau itu terkait oleh skandal ini Oh Sehun!"
"Lalu? Kau mau apa?"
Luhan mengacak-acak rambutnya kesal.
"Kau bisa kan membantahnya! Kau kan CEO agensiku!"
"Kau bahkan belum menanda tangani perpanjangan kontrak denganku."
Luhan bersumpah bahwa suatu hari ia akan menguliti Sehun hidup-hidup.
Baekhyun menatap ponselnya dengan tatapan bahagia, yang membuat Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan aneh. Sudah 2 jam sejak Baekhyun meminta untuk tinggal di apartemennya sedikit lama lagi dan memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan memainkan ponselnya di sofa tanpa menghiraukan Chanyeol.
Lagi-lagi Baekhyun tertawa sambil matanya yang tak lepas dari layar ponselnya. Chanyeol menggerutu pelan sebelum akhirnya duduk disebelah Baekhyun.
"Apa yang kau lihat? Pasti sangat seru sampai-sampai kau mengabaikanku," Chanyeol mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil. Entah kemana perginya aura 'bad boy' milik Chanyeol saat ini.
"Aku sedang membaca komentar dari pada netizen yang sangat mendukung hubungan Luhan dan Sehun setelah nama Sehun disebutkan di artikel. Komentar mereka sangat positif! Bahkan ada yang meminta Luhan dan Sehun untuk segera menikah! Kau mau lihat?"
Baekhyun memberikan ponselnya kepada Chanyeol yang diterima oleh lelaki itu dengan senang hati. Saat ia membaca komentar para netizen, hampir semuanya menyetujui hubungan Luhan dan Sehun.
- Jadi CEO itu adalah Oh Sehun? Ya ampun Luhan sangatlah beruntung mendapatkan lelaki setampan dan sekaya Sehun!
- Hah? Oh Sehun? Dia adalah teman kuliahku! Walaupun aku tidak dekat dengannya, tetapi kudengar dia sangat dingin seperti es kutub! Luhan pasti orang yang sangat hangat sehingga ia bisa menghangatkan hati seorang Oh Sehun kekeke~
- Aku tidak mengenal siapa itu Oh Sehun. Tapi yang jelas ia sangatlah tampan di foto! Ah, Luhan sangat beruntung bisa mendapatkan lelaki itu! Sudah kaya, seksi juga!
- Hey! Apa ada yang mau membuat fanclub untuk HunHan (Sehun-Luhan)?
- Mereka sangat cocok bersama! Sehun adalah majikan ibuku dan dulu kita pernah bermain bersama. Dia sangat dingin dulu, namun lihat sekarang, ia bahkan menggendong Luhan ke mobilnya dan membawanya ke apartemen miliknya! Apalagi ia meminjamkan bajunya kepada Luhan! Aww~
- Cepatlah menikah dan memiliki banyak anak! Pasti anak mereka sangat imut _
- Jika mereka hanya berteman, aku akan membalik mejaku sekarang juga.
Dan masih banyak lagi. Melihat komentar dari para netizen yang sangat mendukung Luhan dan Sehun 24/7, Chanyeol ingin saja memberi tahu mereka semua jika mereka sudah putus dulu. Bahkan sekarang mereka saling membenci.
Sedangkan Baekhyun menyeringai kecil. Sebagai manajer yang baik hati, tentu saja ia telah merencanakan sesuatu.
Karena terlalu sibuk dengan susunan rencananya sambil menyeringai, Baekhyun mendapat tatapan aneh sekali lagi dari Chanyeol. Sangat sulit untuk membaca apa yang ada di pikiran Baekhyun sampai-sampai senyumnya sangat mengerikan seperti itu; seolah-olah Baekhyun sedang merencanakan rencana untuk mengambil alih Korea Selatan.
"Kau tidak apa-apa?"
Baekhyun hanya mengangguk.
"Kau yakin otakmu tidak terguncang oleh sesuatu?"
Baekhyun hanya mengangguk sekali lagi.
"Apa kau tidak penasaran tentang apa yang terjadi semalam?"
Baekhyun mengangguk sebelum akhirnya menatap intens Chanyeol.
"S-semalam terjadi apa?"
Chanyeol menyeringai, "Sesuatu yang menjurus."
"Seperti apa?"
Tanpa mereka sadari tubuh mereka sangat dekat. Bahkan Chanyeol bisa merasakan napas Baekhyun menyentuh permukaan wajahnya.
"Bagaimana aku bisa cerita jika kau berada di jarak sedekat itu denganku!"
Baekhyun mundur ke tempat sebelumnya dan menatap Chanyeol dengan tatapan cepat-ceritakan-jika-tidak-mau-kubunuh!
Chanyeol menghela napas pelan, "Semalam, saat aku meletakkanmu di ranjangku, kau berkata 'Ugh.. Kenapa disini sangat panas?' dengan nada suara yang sangat eksotis," Chanyeol berbicara sambil menirukan apa yang Baekhyun ucapkan tadi malam, lengkap dengan desahannya.
"Lalu kau membuka t-shirtmu, bahkan kau hampir membuka celanamu! Untung saja aku menahanmu untuk melakukan hal senonoh. Setelah itu aku berencana untuk tidak di sofa. Eh, tiba-tiba saja kau berkata kepadaku, 'Tidur denganku saja~ aku tidak berani sendiriaaan~' dengan nada merengek seperti anak kecil." Chanyeol menirukan suara Baekhyun sekali lagi bersama dengan ekspresi wajah yang Baekhyun buat semalam.
Chanyeol mengambil napas lagi sebelum bersuara, "Dan itulah cerita bagaimana bisa kita tidur satu ranjang."
"Aku dan kau. Bukan kita!" Baekhyun berdiri lalu melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Wajahnya sudah memerah. Dalam hatinya ia merutuki dirinya sendiri. Kebiasaan buruknya saat mabuk adalah berubah menjadi penggoda yang seksi. Bahkan ia hampir mencium Luhan saat ia mabuk! Sampai-sampai Luhan memanggilnya Byuntae atau 'pervert' setiap kali Baekhyun sadar dari mabuknya. Karena setiap mabuk, pasti Baekhyun akan melakukan hal senonoh.
Tapi kali ini, kenapa bukan Luhan saja yang menjadi korbannya? Kenapa Chanyeol? Adik dari Park Chanho, lelaki yang dulu Baekhyun pernah cintai.
Jam sudah menunjukkan angka 7 di pagi hari, membuat Luhan, yang sedang tertidur di sofa berwarna putih gading, terbangun. Rambut blondenya berantakan, matanya juga masih setengah tertutup, namun Luhan tidak peduli dan berjalan lurus ke dapur. Lalu berapa lama kemudian Luhan baru menyadari jika ia tidak berada di apartemennya. Sontak ia membuka mata hazelnya lebar-lebar dan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan dimana dia sekarang.
Apartemen Sehun.
Luhan menghela napas panjang. Ia merindukan kamarnya, sudah dua malam ia berada di apartemen Sehun karena para wartawan masih berada didepan pintu apartemen keduanya. Bahkan mereka membawa sleeping bag serta makanan dan minuman! Memang tidak ada yang bisa mengalahkan kegilaan para wartawan berita skandal di Korea Selatan.
Luhan juga berpikir, apa yang menarik dari berita skandal antara seorang artis dan pemilik perusahaan? Well, itu kan hanya seorang Luhan, seorang aktor kebanggan Korea Selatan yang sudah memainkan film Hollywood, dan Sehun, pemilik perusahaan agensi terkaya di Korea Selatan yang menaungi artis dan penyanyi terkenal.
Tangannya meraih gelas kaca dan menuangkan air didalamnya. Luhan meneguk airnya sampai habis tak tersisa, seperti orang yang tersesat di padang pasir lalu menemukan sebuah Oasis. Kemudian ia melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan yang merupakan ruang fitness dan melihat Sehun yang -dengan seksinya- sedang berlari diatas treadmill dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
Seharusnya ini menjijikkan, but hell, Oh Sehun benar-benar terlihat sangat seksi ketika sedang memasang wajah fokusnya dengan keringat yang membuat t-shirt putihnya menjadi transparan sehingga memperlihatkan punggungnya yang kekar.
Merasakan sebuah kehadiran diruangan itu, Sehun langsung berhenti berlari dan menghadap ke arah Luhan yang tadi berdiri dibelakangnya (sambil mengagumi punggung Sehun yang indah). Lelaki blonde itu nampak salah tingkah ketika Sehun berhadapan dengannya. Bagaimana tidak? T-shirt bagian depannya juga basah sehingga ia dapat melihat abs Sehun yang terbentuk dengan indahnya.
Luhan hampir saja mimisan dan pingsan ditempat itu jika saja Sehun tidak membuka mulutnya dan mulai mengeluarkan suaranya yang sangat menjengkelkan.
"Apa yang kau lihat?"
"Tidak! Aku tadinya hanya asal masuk ke ruangan ini!"
Sehun mengambil handuk berwarna putih dari sebuah rak dan mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Oh ya, satu lagi, dengan cara yang sangat seksi. Luhan tidak tahu bagaimana bisa Sehun melakukan semua kegiatan dengan sangat seksi dan manly. Karena lelaki bermata rusa itu diam-diam juga ingin menjadi seksi dan manly seperti Sehun, bukan menjadi sangat polos dan imut sehingga setiap ia melakukan sesuatu, penggemarnya akan menyerukan kata 'Awwww~' atau 'Ah kenapa dia sangat menggemaskan?'. Hell, Luhan adalah seorang lelaki yang sangat manly.
"Oh Sehun," panggilnya dengan suara pelannya.
"Hm?"
"Tolong ajari aku cara menjadi manly." Mantan kekasih atau tidak, Luhan tidak peduli! Intinya ia ingin menjadi seksi dan manly seperti Sehun. Ia terpaksa membuang jauh-jauh kehormatannya karena Luhan tidak ingin dipanggil imut ataupun cantik.
Tiba-tiba saja langkah Sehun berhenti, sebuah jeda berlangsung selama beberapa detik sebelum akhirnya sebuah tawa lolos dari bibir milik Sehun. Lelaki bersurai hitam itu tidak bisa menahan tawanya akibat pernyataan super polos dari bibir Luhan. Entah kenapa mantan kekasihnya semakin hari semakin menggemaskan.
"Kau? Manly? Haha, stop dreaming princess. Tetaplah membaca novel percintaanmu sambil memakai gaun dan tiara dikepalamu, princess Lulu." Sehun terkekeh sambil melangkah menjauhi Luhan yang masih berdiri dan menatapi punggung Sehun seolah-olah ia akan menusuk punggungnya itu dengan pisau dapur.
"Aku ini manly! Kau saja yang tidak tahu!"
Luhan mengikuti langkah Sehun menuju dapur. Kemudian, Sehun berbalik dan menyandarkan punggungnya ke lemari es dengan tangannya yang terlipat di dadanya.
"Apa 'mereka' masih diluar?" Luhan mengendikkan bahunya. "Kalau mereka sudah tidak ada, cepat pergi dari sini. Aku tidak mau kau menumpang makan disini." Sehun membuka lemari esnya dan mengambil sebotol jus jeruk yang masih tersegel dengan rapat.
"Kau kira aku senang berada disini? Tidak bodoh! Lagipula aku tidak peduli apa mereka masih menunggu diluar atau tidak!"
Luhan berjalan ke ruang tamu, lalu menyambar ponselnya. Lelaki blonde itu menatap ponselnya sejenak, ia baru ingat jika ponselnya dulu dipecahkan oleh Sehun sehingga ia harus memakai ponsel lamanya. Bahkan ia belum bertanggung jawab atas kerusakan ponselnya!
Saat Luhan berjalan ke pintu depan apartemen Sehun, ponselnya berdering dengan nyaring. Ia melihat 'Mom' tertulis di layar ponselnya sebelum menekan tanda hijau dilayarnya.
"Ha-"
"KAU SUDAH MEMPUNYAI KEKASIH KENAPA TIDAK BILANG KE IBU?"
Luhan menjauhkan ponselnya dari telinganya sebelum berbicara lagi, "Mom, I can explain-"
"No, no, no. Mommy akan memesan tiket ke Korea besok. Okay honey? Kau harus mengenalkanku pada Oh Sehun."
"Mom, kau tidak perlu repot-repot terbang dari Washington kesini,"
"Tapi mommy harus bertemu dengan calon menantuku, okay? Bye honey. Love you."
Pip.
Luhan mendesah pelan. Ibunya bahkan mempercayai berita rumor seperti itu! Bahkan ibunya akan pergi ke Korea demi dirinya!
Ponselnya berdering sekali lagi, namun kali ini adalah Baekhyun.
"Apa?!"
"Jika kau mau selamat, kau jangan keluar hari ini."
Luhan berdecak, "Kau tahu Baek? Aku sudah muak berada ditempat ini! Apa kau gila memaksaku untuk tinggal dirumah orang lain, apalagi itu adalah rumah mantan kekasihku!"
"Diluar sana, para wartawan bertambah semakin banyak karena kau tidak keluar dari tempat Oh Sehun kemarin! Bahkan mereka memakai stetoskop untuk mendengar pembicaraan atau mungkin desahan kalian!"
Seriously, para wartawan itu benar-benar mencari mati!
Karena kesal, Luhan mematikan sambungan telponnya dengan Baekhyun secara sepihak. Sekarang apa yang harus Luhan lakukan untuk berhasil keluar dari apartemen Sehun tanpa mati ditangan para wartawan?
"Kenapa kau tidak segera keluar?"
Sehun sekarang berada dibelakang Luhan dengan tatapan matanya yang kebosanan.
"Mereka semakin banyak..."
Sehun menyeringai. "Hey, kau mau bermain 'game' dengan mereka?" Dahi Luhan berkerut. "Maksudmu?"
Sehun berjalan mendekati tubuh Luhan. Seringaian yang berada di wajah Sehun belum hilang, justru semakin jelas. "Maksudku, ayo kita bermain dengan mereka."
Luhan bahkan masih tidak paham dengan perkataan Sehun. Tahu-tahu saja tangan Sehun sudah berada dibahu Luhan dan kepalanya sudah bersandar dibahu lebar Sehun. Hal selanjutnya, pintu apartemen Sehun terbuka dan menampakkan para wartawan yang sekarang sudah berlomba-lomba untuk memotret Luhan dan Sehun yang sedang berdiri didepan pintu dengan mesranya.
Mesra?!
Luhan membulatkan matanya setelah mengetahui maksud 'game' yang tadi dikatakan oleh Sehun. Lelaki blonde itu berusaha melepaskan tangan Sehun dari bahunya, namun tenaga Sehun lebih besar darinya sehingga ia tidak bisa apa-apa, selain mengikuti permainan Sehun.
"Ah, jadi kalian masih disini? Kalian sepertinya sangat penasaran dengan hubungan yang kami miliki,"
Kilatan-kilatan dari kamera berhenti sejenak. Mereka semua sedang menatap Sehun secara intens; seolah-olah mereka benar-benar ingin mengetahui jawaban yang keluar dari mulut Sehun.
"Apa kalian akan pergi dari sini jika aku memberi tahu kebenaran dari hubungan kami?"
Dengan serempak, mereka menggukkan kepalanya. Lihatlah mereka, bertingkah seperti anjing yang diperintah oleh majikannya.
"Sebenarnya kami hanyalah-"
Mata mereka benar-benar menandakan jika mereka sangat penasaran. Sehun sengaja menggantungkan kata-katanya agar terlihat sedikit dramatis. Luhan tahu jika CEOnya ini akan membantunya-
"Sepasang kekasih,"
Tunggu, apa?! Sepasang kekasih?! Mereka sudah putus sejak 4 tahun yang lalu!
Luhan menatap Sehun tidak percaya. Astaga, Luhan berjanji jika suatu hari ia akan memenggal kepala Sehun dan memajangnya di museum sejarah Korea Selatan!
Kemudian Sehun (masih dengan seringaiannya) mendekati telinganya dan membisikkan kata-kata ditelinganya,
"Permainan, dimulai."
Yo! Waddup!
Sorry for the long update~ aku sibuk banget nonton drama/plak. Lagian juga aku lagi mudik jadi ga sempet nulis.
Yup, permainan ala Oh Sehun dimulai! Ahahaha, mantan kurang ajar si Sehun lol. Buat yang minta Sehun POV itu udah segitu doang ya, maaf ^^
Okay, see you in the next chapter! Jangan lupa tinggalkan review kalian ya! Ily3
