Trapped
.
.
.
©xselumate©
"Chanyeol, tanggung jawab! Aku jadi susah berjalan!"
"Kenapa?"
"Kau tadi sangat kasar! Aku tidak mau tahu, kau harus menggendongku sampai pulang!"
Mereka sekarang berada di bilik toilet, sedang memasang baju ke tubuh mereka. Namun Baekhyun nampak kesusahan saat memakai celananya. Ya... Salahkan Chanyeol karena dia terlalu keras tadi, bahkan Baekhyun sampai bingung harus mendesah kenikmatan atau kesakitan. Chanyeol benar-benar buas ketika bermain.
"Sampai ke lobby? Tapi bagaimana dengan staff lain? Kau ingin kita menjadi bahan pembicaraan di perusahaan ini?"
"Lalu? Kau ada ide lain?"
Tiba-tiba sebuah senyum -atau seringaian- muncul di wajah tampan Chanyeol. "Ayo kita ke ruangan Sehun,"
"Park Chanyeol! Apa kau gila? Ini ruangan Oh Sehun! Apa kau mau dipecat?!"
Sekarang mereka berada didalam ruangan Sehun. Chanyeol meletakkan tubuh Baekhyun ke sofa lalu mengambil dua gelas kosong dan menuangkan jus jeruk kedalamnya.
"Diamlah dan minum saja minuman itu. Lagipula dia kan saudara sepupuku, dia tidak akan mungkin memecatku," Chanyeol memberikan gelas yang berisi jus jeruk dan mengambil tempat ke sebelah Baekhyun dan mulai meminum segelas jus jeruk yang berada ditangannya.
Setelah beberapa saat mereka hanya diam tak bergeming sambil meminum minuman mereka, akhirnya Baekhyun membuka mulutnya. "Jadi... Apa hubungan kita sekarang?"
Hening untuk kedua kalinya. Keduanya tampak sibuk menyelami pikiran mereka sendiri.
"Emm... Partner?"
"Partner seks?" Baekhyun menambahi.
Chanyeol mengendikkan bahunya sambil menyesap minumnya sekali lagi. "Yang pasti bukan pasangan kan?"
Baekhyun mengangguk tanda ia setuju. "Tentu, kita kan baru kenal. Lagipula kau juga tidak buruk."
"Baru kenal? Aku mengenalmu waktu kita di sekolah menengah keatas!"
"Ya ya ya, tentu saja Mr. Cassanova. Itu kan julukanmu?"
Baekhyun terkekeh dan menyandarkan punggungnya ke sofa sambil memainkan gelasnya yang sudah kosong.
"Hey, hey, tidak perlu membahas julukanku dulu kan? Lagipula aku bangga dengan julukan itu,"
Kemudian hening untuk ketiga kalinya. Keadaannya tidak canggung, namun tiba-tiba saja tubuh mereka terasa aneh. Seolah-olah tubuh mereka sedang terbakar. Keduanya saling berhadapan sambil memasang wajah penuh dengan tanda tanya.
"Park Chanyeol, kau tidak menaruh apa-apa kan di minuman ini? Seperti... Obat perangsang?"
Mata Chanyeol membulat sempurna, "Hah? Obat perangsang? Tida-"
Tiba-tiba Chanyeol teringat sesuatu, beberapa hari yang lalu ia berencana memberikan Sehun jus jeruk yang ia campur dengan obat perangsang karena ia kasihan dengan Sehun yang sudah lama tidak melakukan hubungan seksual sejak Sehun tiba di Korea. Ia juga sudah membawa perempuan juga ke kantornya, namun sayangnya Sehun masih terperangkap di apartemennya karena berita skandal bodohnya itu. Dan akhirnya jus jeruk itu berakhir di lemari es, parahnya ia sedang meminumnya sekarang.
Sekarang Chanyeol memasang wajah horrornya. "B-Baekhyun?" Chanyeol menatap Baekhyun yang hampir membuka t-shirtnya. "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Shit, disini sangat panas Chanyeol! Apa kau yakin kau sudah menghidupkan pendinginnya?" Chanyeol mengangguk.
"Baekhyun?"
"Apa?!"
"Aku baru ingat jika minuman yang kita minum tadi sudah kucampur dengan obat perangsang beberapa hari yang lalu..."
Baekhyun menatap Chanyeol tidak percaya. Itu artinya Chanyeol akan memompanya(?) sekali lagi tanpa ampun? Holy shit, jika keesokan harinya ia tidak berjalan, Chanyeol harus menggendongnya kemana-mana!
"Apa kau gila Park Chanyeol?!"
Chanyeol tersenyum jahil lalu mendekatkan wajahnya ke wajah -cantik- Baekhyun.
"Ronde kedua?"
Disinilah mereka sekarang, duduk didepan Sehun dan Luhan yang sedang menatap mereka berdua dengan tatapan yang susah diartikan. Luhan masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, sahabatnya sendiri bersama pria lain, sedang tidur bersama dengan keadaan telanjang. Astaga, rasanya Luhan ingin saja memandikan tubuh Baekhyun dengan bunga tujuh rupa!
"Jadi kalian mempunyai hubungan spesial?" Tanya Sehun dengan suara beratnya -walaupun tidak seberat suara Chanyeol-.
"Tentu saja tidak! Kita hanya partner seks! Tidak lebih!" Bantah Chanyeol yang mendapat pukulan dari Sehun dikepalanya.
"Tapi tidak usah melakukan 'itu' dikantorku juga kan!" Sehun menghela napas panjang. "Aku tidak peduli jika kalian sepasang kekasih atau apa, yang jadi masalah disini adalah, kenapa kau melakukan 'itu' disini? Ruanganku yang suci sekarang sudah ternodai:("
Luhan hanya bisa terdiam tanpa suara. Ia tidak kecewa dengan sahabatnya itu, karena Baekhyun juga sudah dewasa, tapi kenapa Baekhyun tega-teganya mendahuluinya?
"Baekhyunnie..."
"Luhannie..."
Kemudian Luhan mengambil majalah dan memukul kepala Baekhyun dengan majalah itu. Baekhyun hanya bisa meringis kesakitan sambil mengelus kepalanya yang malang.
"Kau bahkan mendahuluiku! Teman macam apa kau?!" Luhan mengerucutkan bibirnya kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Tapi tidak usah memukulku kan!" Baekhyun meniup poninya kesal. "Lagipula kenapa kau tidak melakukannya saja? Kau kan sudah beberapa kali tinggal di apartemen Sehun!"
Mata Luhan membulat sempurna. "Ya! Kau kira aku akan melakukannya dengan mantan kekasihku?! Hell no!"
Dan kemudian Luhan dan Baekhyun terus berdebat sambil mengumpat tanpa menyadari jika Sehun dan Chanyeol berada dalam ruangan itu juga, sedang menatap mereka dengan tatapan aneh.
"Astaga kalian tidak bisa diam? Ini sudah malam!" Sehun berdiri sambil meraih kerah baju milik Luhan dan menariknya agar Luhan ikut berdiri.
"Ya! Ya! Oh Sehun! Aku belum selesai berbicara!" Luhan berusaha melepas tangan Sehun dari kerah bajunya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Tiba-tiba saja Sehun mencengkram kedua lengan Luhan dan membalik tubuh Luhan untuk berhadapan dengannya. Pandangan mereka bertemu, Luhan yang tadi sibuk memberontak agar Sehun melepasnya sekarang justru melemas ketika pandangannya bertemu dengan Sehun.
"Berhenti memberontak dan ikuti aku." Luhan yang tubuhnya lebih kecil dari Sehun hanya bisa mengangguk pasrah dan membiarkan Sehun menarik tubuhnya keluar ruangan.
Saat mereka berada didalam lift, keduanya tidak ada yang bersuara. Luhan masih syok dengan pernyataan manajernya -yang merangkap menjadi sahabatnya- yang mengatakan jika dia dan Chanyeol hanyalah sebatas partner seks. Seingat Luhan, Baekhyun adalah sahabatnya yang polos dan inosen. Bahkan saat Baekhyun berumur 14 tahun, lelaki itu tidak berani mengatakan kata 'seks'. Dan sekarang Baekhyun justru memiliki partner seks? Semua ini salah Park Chanyeol!
Sedangkan Sehun sendiri masih tidak percaya saudara sepupunya itu melakukan hubungan intim dikantornya. Sehun bersumpah jika sesampainya dirumah nanti, ia akan menelpon pamannya yang sekarang berada di Washington untuk segera menjemput Chanyeol dan membawa Chanyeol kembali ke Washington.
Karena keduanya sibuk tenggelam dipikiran mereka masing-masing, mereka tidak sadar jika lift yang sedang mereka tumpangi berhenti berjalan.
Luhan yang pertama menyadarinya. Lelaki itu yakin jika ia sudah berdiri didalam lift selama 15 menit atau lebih, dan mereka belum juga sampai ke lantai dasar. Kemudian ia sadar jika lift yang mereka tumpangi berhenti. Sontak matanya membulat sempurna sambil tangannya yang sekarang sedang menggoyang tubuh kurus Sehun.
"Apa?" Tanyanya dengan nada kesal -seperti biasa-.
"Itu..." Luhan menunjuk ke arah tombol lift yang tadinya menyala sekarang mati. "Liftnya berhenti..."
Sekarang mata Sehun yang membesar. Ia berusaha menekan-nekan semua tombol yang berada disitu, namun nihil, tidak ada tanda-tanda jika lift ini menunjukkan kehidupan(?). Sehun mengacak rambutnya frustasi sebelum akhirnya ia menekan-nekan dengan kasar tombol 'Emergency' yang malang itu.
Sehun mengambil ponsel dari saku celananya lalu menghubungi seseorang. Luhan jujur ketakutan melihat Sehun seperti ini, lelaki jangkung itu terlihat sangat marah. Namun lebih jujur lagi, Luhan lebih takut lagi karena lift ini berhenti. Bahkan ia mulai kesulitan bernapas. Salah satu phobia Luhan terjadi, terjebak diruangan yang sempit.
"Bagaimana bisa liftnya berhenti?!" Luhan terkejut ketika mendengar Sehun membentak orang lain. Selama ia mengenal Sehun, ia tidak pernah marah atau membentak seseorang seperti ini. Sehun adalah tipe orang yang sangat tenang dalam semua keadaan. Bahkan saat Chanyeol merusak mobil kesayangannya, ia selalu tenang, menyembunyikan amarahnya.
Mata Luhan tiba-tiba berair. Dadanya tiba-tiba terasa sangat sesak. Bahkan ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Kakinya mulai melemah, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding lift sambil mengambil napas secara pelan-pelan.
"Jika kalian tidak segera membenarkan lift ini, aku akan memecat kalian!" Sehun menaikkan nada suaranya 1 oktaf. Luhan tidak tahu apa yang membuat Sehun sangat marah. Mungkin Sehun juga mempunyai phobia terhadap lift, pikir Luhan.
"Sehun, te...nanglah," Luhan bahkan kesusahan untuk berbicara. Ia berusaha mati-matian menahan tubuhnya agar tidak ambruk dilantai.
"Bagaimana aku bisa tenang jika phobiamu kambuh?!" Sentaknya. Luhan mengerjapkan matanya, berusaha menyerap perkataan Sehun.
"Tahu darimana?" Sekali lagi, Luhan mengambil napas berat.
"Apakah itu pertanyaan yang penting?!"
Saat itu juga, kaki Luhan tidak bisa menahan tubuhnya lagi. Luhan memejamkan matanya, tapi yang ia rasakan sekarang bukan lantai dingin dan keras, melainkan sesuatu yang sangat hangat dan familiar. Saat Luhan membukanya, ia melihat wajah Sehun yang sedang menatapnya dengan raut wajah khawatir.
"Lu? Lu?!"
Pandangan Luhan kembali tidak fokus dan memburam. Luhan benci saat phobianya kambuh. Lelaki bermata rusa itu memiliki banyak phobia; pada ketinggian, ruangan yang sempit, ruangan yang gelap, ruangan bawah tanah, dan darah. Jika Luhan berada di ruangan bawah tanah yang sempit dan gelap dengan darah berceceran dimana-mana, mungkin itu adalah kematian untuk Luhan.
Salahkan ayahnya yang membuat Luhan trauma dengan hal tersebut.
"Lu! Xiao Lu! Bangun!"
Luhan hampir tersenyum saat mendengar Sehun memanggilnya dengan 'Xiao Lu'. Seolah-olah Luhan kembali lagi ke masa lalunya, saat Sehun memeluknya sambil memanggil namanya dengan 'Xiao Lu'. Saat itu juga, ia melihat satu butir kristal airmata milik Sehun meluncur dari matanya sebelum akhirnya semua menjadi gelap.
Baekhyun adalah orang pertama yang ia lihat saat ia membuka matanya. Ia memandangnya dengan raut wajah khawatir. Namun anehnya, kenapa Baekhyun memiliki kumis dan kacamata baca? Setahu Luhan, Baekhyun hanya memakai lensa kontak. Apalagi rambutnya yang berwarna coklat tua, bukan coklat muda.
"Baek?"
"Astaga, akhirnya kau sadar juga. Aku sangat khawatir!" Baekhyun mengenggam tangan Luhan erat.
"Kenapa kau memiliki kumis dan kacamata yang menjijikkan? Lalu kenapa rambutmu berwarna hitam? Memangnya sudah berapa hari aku tidak sadar?"
Kemudian keadaan hening untuk sejenak sebelum Baekhyun membuka mulutnya.
"11 tahun..."
"Apa?!" Luhan menitikkan airmatanya. Jadi ia tertidur selama 11 tahun lamanya? Melewati semua kejadian selama 11 tahun dengan tertidur di ranjang dengan sia-sia?
Tiba-tiba tangisan Luhan semakin menjadi-jadi ketika teringat penggemarnya yang mungkin banyak yang meninggalkannya. Dan mungkin ia bukan lagi aktor kebanggaan Korea Selatan.
"Berhenti mendramatisir keadaan Baekhyun,"
Sehun memasuki ruangannya dengan setelan jasnya. Rambutnya yang ditata ke belakang membuatnya semakin tampan dan berkharisma. Namun yang dipertanyakan oleh Luhan adalah, kenapa Sehun tidak menua seperti Baekhyun? Atau jangan-jangan Sehun adalah vampir? Atau mungkin alien? Tidak mungkin kan? Seingat Luhan, fanfic ini bukan tentang vampir atau alien (abaikan yang terakhir:v).
"Lu, kau jangan percaya. Baekhyun hanya bercanda."
Luhan mengernyitkan dahinya. Apalagi setelah Sehun menarik rambut Baekhyun -yang ternyata palsu- dan kumis -palsu- Baekhyun.
"Kau hanya tertidur selama 3 hari, jadi santailah." Sehun menyandarkan tubuhnya dan melipat tangannya. Sedangkan Luhan sudah bersiap-siap akan mencekik leher Baekhyun.
"BYUN BAEKHYUN!"
"Sehun, sayang sekali kau melewatkan reaksi Luhan tadi! Astaga, ekspresinya benar-benar priceless!" Baekhyun tertawa lantang sambil memukul-mukul matras rumah sakit. Luhan hanya terdiam sambil memakan jjajangmyeon* dari Sehun dengan ekspresi wajahnya yang sudah siap membunuh orang.
Sehun terkekeh pelan, "Tidak usah kau jelaskan aku juga sudah paham."
Luhan semakin mempercepat makannya seperti orang kesetanan, membuat Baekhyun khawatir jika Luhan akan tersedak. Baru saja Baekhyun akan mengingatkan Luhan, ternyata Luhan sudah tersedak dulu sampai-sampai matanya mengeluarkan air.
"Dasar bodoh, kalau makan pelan-pelan saja." Sehun memukul kepala Luhan pelan sambil memberinya segelas air dan keluar dari ruangan dengan wajah datarnya.
Luhan mendengus pelan sambil meneguk air putihnya sampai habis. Tangannya meraih ponsel yang berada di nakas, lalu ia membuka halaman web berita yang ternyata penuh oleh namanya. Bahkan namanya menjadi pencarian nomor satu di Korea Selatan. Entah kenapa Luhan justru tertawa seperti orang kesetanan, bahkan Baekhyun -yang barusan memasuki kamar ruangan Luhan- menatapnya dengan tatapan aneh. Baekhyun yakin sekali jika Luhan baru saja tersadar dari komanya.
"Lu, kau tahu? Sehun hari ini sangat aneh! Bukan hari ini juga, kemarin dia juga aneh! Bahkan kemarin kemarinnya dia juga sangat aneh!" Baekhyun duduk disamping ranjang Luhan dengan wajah serius namun konyolnya.
Luhan memutar bola matanya kesal, "Berhenti berbelit-belit Baekhyun! Bicara yang jelas!"
"Duh, intinya, Sehun sangat aneh!"
"Aneh seperti apa?" Pandangan Luhan kembali pada layar ponselnya, seolah-olah ia tidak tertarik dengan bahasan Baekhyun sekarang.
"Saat kau tidak sadarkan diri, ekspresi Sehun benar-benar sangat ketakutan. Bahkan ia menyentak salah satu suster disini karena tidak cepat-cepat memanggilkan dokter," Pandangan Luhan teralih ke arah Baekhyun yang sedang memasang raut wajah seriusnya. "Sehun juga selalu berada disini saat kau koma. Bahkan ia merelakan perusahaannya dipegang sementara oleh Chanyeol. Ia pulang hanya untuk mengambil pakaian, selanjutnya, ia hanya berada di ruangan ini. Ia benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu, Lu. Sehun juga selalu tidur disini sambil diam-diam menggenggam tanganmu dengan erat."
Tubuh Luhan seperti membatu. Ia benar-benar tercegang dengan pernyataan Baekhyun. Maksudnya, ini adalah Oh Sehun, mantan kekasihnya yang dingin bagaikan lemari es dirumahnya.
"Jika itu bukan cinta, maka aku tidak akan tahu arti cinta sebenarnya."
Luhan hendak saja membuka mulutnya untuk protes, tiba-tiba saja Baekhyun mengecup pipinya sambil memberinya 'wink' seolah-olah Baekhyun adalah gadis perawan sekolah menengah keatas.
"Bye Lu~ ^^" Baekhyun membanting pintu ruangan Luhan, meninggalkan Luhan yang hampir menangis karena first -cheek- kissnya diambil oleh Byun Baekhun, sahabatnya yang super pervert.
"BYUN BAEKHYUN!"
Sorry for the super long and long update! ;-; Aku sibuk banget karna udah kelas 3, jadi banyak kegiatan sekolah sama bimbel u,u. Aku bakal usahain sering-sering update kok. Maaf banget ya molornya lama T-T maaf juga kalo chapter kali ini pendek banget.
Makasih banyak buat +300 reviewnya! ^^ baru 5 chapter udah dapet segitu kan lumayan~ u,u aku janji bakal sering-sering update lagi! xoxo *chuchuu~
