Wolves VS Growl / Chap. 1

A/N : Annyeong… Yang minta 'Wolves VS Growl' dilanjut, nih Denra bawain chapter 1. Tapi disini belum ada BDSM. Mungkin beberapa chapter lagi. Dilarang keras plagiat. Tapi kalau ff Denra menginspirasi someone, tolong dibikin jangan terlalu mirip ne chingu. Terus cantumin nama Denra kalau bisa kkkkk~ #DenraNgayal

Happy Reading

Emot absurd Denra mana? Kok ilang lagi? o.O?

#EmotAbsurdKabur

HUP! Emotnya Denra tangkep. Duduk yang manis ya 'emot'.

!*::::*! Happy Reading !*::::*!

Pagi yang cerah bagi kota Seoul. Burung-burung berterbangan, seakan berdansa ria di langit luas. Tak lupa menyenandungkan nyanyian pagi yang merdu. Menghirup semerbak aroma khas musim semi di setiap semilir angin. Bunga bermekaran indah memenuhi sekeliling kota.

"Hahh…" sebuah helaan nafas keluar dari bibir kissable seorang namja.

Siluet tadi dengan rambut 'Dark Brown' tengah berdiri di depan rumah bernuansa 'Light Blue'. Kim Taehyung, bungsu Kim yang mencoba sabar menunggu hyung kesayangannya. Lengkap mengenakan seragam resmi Aves. Juga sosok disampingnya ber-name tag 'Kim Suho', terlihat sudah terbiasa menunggu sang sepupu polosnya itu.

Kembali Taehyung menghela nafas untuk yang, entahlah berapa kali di pagi ini. Ia tak mau repot menghitung hal konyol semacam itu. Sementara Suho masih asyik memainkan ponsel canggihnya.

"HYUNG! PALLIWA!" Akhirnya sebuah teriakan keras mewakili kekesalan Taehyung. Bahkan Suho yang mendengarnya pun terlonjak kaget.

"Kenapa kau berteriak?!" protes Suho. Pasalnya hampir saja sang ponsel terjatuh jika refleknya tak bagus.

"Wae?!" balas Taehyung tak kalah sengit. "Bisa-bisa aku terlambat di acara penerimaan siswa baru, hyung. Yang benar saja."

Samar-samar mereka mendengar jawaban si sulung Kim dari dalam rumah. "Ne! Sabar, Tae!"

"Kau tahu? Kau baru saja mengundang bencana, Tae." desis Suho horror.

"Ap-"

BRUKK!

PRANG!

PYAR!

BUGH!

AWW!

Taehyung menautkan alisnya mendengar berbagai suara tak elit dari dalam rumah dan diakhiri teriakan sang kakak. Taehyung spontan menatap horror namja putih disampingnya.

"Kenapa bisa?" tanya Taehyung speechless.

Selama hidup dengan Jongin, itu artinya semenjak ia lahir ke dunia ini tak pernah mendapati 'hobi unik' sang kakak. Apa karena ia selalu berangkat sekolah lebih dulu dibanding Jongin? Tapi kan Jongin berangkat dengan Suho, dan dia dengan Han ahjussi. Wajar kan?

Suho mengendikkan bahunya acuh, sambil terus berkutat dengan ponselnya. "Mana aku tahu. Itu lah alasanku membiarkan kami terlambat. Daripada-"

"Ayo berangkat." ajak Jongin dengan tampang watados sesaat keluar dari rumah. Taehyung beralih menatap Jongin. Masih dengan aura horror yang kental. Sementara dibalas cengiran tak jelas Jongin.

"Hyung, kau… menghancurkan rumah?" tanya Taehyung pelan.

"Eh?" Jongin menggeleng kuat. "Tidak."

"Ya, kau melakukannya." sindir Suho.

"Aishh, kubilang tidak. Percayalah, Tae." sanggah Jongin cepat. Berdoa agar sang adik memepercayainya.

Namun pertanyaan Suho seolah memojokkannya. "Lalu?"

Fine, Jongin sangat terpojok sekarang. "Hanya…kerusakan kecil, Tae. Serius, sungguh kecil."

Taehyung lemas seketika. Benar-benar hyungnya ini, arght Taehyung bahkan lebih pintar dari Jongin.

"Hear that, Tae? HEAR THAT, KIM TAEHYUNG?!" Suho semakin memanas-manasi Taehyung. Mengajak kedua sepupunya 'berkelahi' di pagi hari hal yang baik menurut Suho.

Taehyung memutar bola matanya jengah. "Iya. Aku dengar, hyung pendek. Cepat antarkan kami, aku pusing."

JLEB!

Tepat menusuk di hati Suho. Seandainya ia tak menyayangi anak ini, mungkin sudah ia gantung di Namsan Tower. Belum lagi mendengar gumaman abstrak Taehyung sebelum memasuki Zenvoyang hitam miliknya. Seperti,

'Tuhan, cabut nyawaku.'

'Aku pasti mati muda.'

'Benar-benar Hyung tak berguna.'

Jongin terkikik geli melihat ekspresi shock Suho. Tak sadarkah ia turut disindir?

.

.

.

"Tae-ah." panggil Jongin saat mereka dalam perjalanan menuju Aves High School. Pandangannya lurus ke depan, menyiratkan keseriusan yang mendalam.

"Em…"

Senyum Jongin mengembang kala Taehyung di kursi belakang meresponnya, walau hanya sebuah gumaman tak jelas.

"Di sekolah nanti, berpura-puralah tak mengenalku."

Suho yang awalnya fokus pada jalanan, menoleh heran pada Jongin. Tak berbeda dengan Taehyung yang mengerutkan keningnya, namun masih setia memeperhatikan aktifitas pagi kota Seoul dari jendela mobil.

"Jangan pernah menghampiriku."

Oh, Suho tahu topik ini. Itu wajar jika seorang kakak melindungi adiknya dengan cara apapun. Dan Suho pikir, inilah cara Jongin. Sementara Taehyung? Berbagai pertanyaan mulai menari-nari di otaknya. Ada apa sebenarnya dengan Kim Jongin?

"Tak boleh terlihat dekat denganku, Suho hyung, Minseok hyung, Baekhyun hyung, Kyungsoo hyung, dan juga Lay hyung."

Oke, Taehyung penasaran sekarang. Kini ia menatap heran Jongin yang masih saja memandang lurus jalanan. Taehyung paham, hyung-nya sedang tak bergurau.

"Jangan pernah mencari masalah. Berdiam diri agar tak mencolok di sekolah. Seakan-akan kau terpencil dan menjauhi setiap masalah yang hadir di sekitarmu. Oke?" sambung Jongin. Kepalanya menghadap ke belakang, tepat dimana sang adik berada.

"…"

"…"

"Kau bicara apa, hyung? Kenapa semua itu dilarang?"

Belum sempat Jongin menjawab, Suho sudah mengatakan kalimat bijaksana –menurut Jongin-. "Ikuti apa kata hyung-mu saja, Tae. Kau tau intinya? Ia sangat sayang padamu."

"Aku masih belum paham." Taehyung memasang wajah cengo. Suho dan Jongin sweatdrop melihatnya. Terutama Suho. 'Kakak dan adik memang mirip ternyata', batin Suho.

"Sudahlah, turuti saja." paksa Suho. "Atau…kau ingin diusir dari rumah?"

"MWO?! Kau siapa? Itu kan rumahku." protes Taehyung lantang.

"Aku yang akan mengusirmu, bagaimana?"

Taehyung bergidik ngeri mendengar nada Jongin. Jarang sekali mendapat nada mematikan si kakak. "Baiklah."

.

.

.

"Lu, kau dapat informasi apalagi kali ini?" tanya Sehun, menyibukkan diri dengan PSP di tangannya.

Para 'WOLVES' tengah berkumpul di ruang private mereka. Sekolah ini memang menyediakan ruang private bagi 'WOLVES' dan 'GROWL'. Jangan salah, 'GROWL' juga tak kalah berkuasa di Aves.

"Tak ada yang penting sebenarnya. Tapi hun…" ucapan Luhan menggantung. Sehun resmi menghentikan game di PSP-nya, semua karena rasa penasaran yang begitu membuncah.

"Kenapa?"

"Tadi… Aku lihat mobil Su… Su… Su siapa namanya?"

Kris menepuk jidatnya pelan. "Suho, Lu."

"Iya, mobil Suho. Kupikir mungkin itu anak 'GROWL'. Tapi ternyata yang keluar seorang namja ehmm… tingginya tak lebih dariku, rambutnya warna coklat. Setelah itu Suho dan Jongin keluar dari mobil yang sama."

"Namja?" Sehun memastikan. Luhan mengangguk mantap.

"Aku juga lihat. Ini orangnya." Tao berujar sembari menyodorkan ponsel silver miliknya.

Sehun memperhatikan setiap lekuk wajah namja di ponsel Tao. Ini seperti…

"Mirip Jongin kan?" Yup, tebakan Tao tepat dengan pikiran Sehun. Sehun memandang Tao meminta penjelasan. Sehun lebih bingung dengan balasan Tao yang melempar dua berkas dengan sampul berbeda. Berkas siswa di setiap angkatan.

"Ini berkas murid angkatan baru dan juga angkatan kita."

Sehun paham maksud Tao. Baru pertama kali ini ia membaca data setiap siswa. Biasanya hanya Tao sang wakil ketua osis yang bertugas mengurusi semua ini. Menyentuh berkas ini saja Sehun belum pernah.

DEG!

Nama orang tua mereka sama?! Sehun sungguh shock dengan fakta ini. Meski wajahnya tak menunjukkan ekspresi berarti, tetap saja hatinya memekik kaget.

"So, Kim Taehyung adik Kim Jongin." simpul Tao.

"MWORAGO?!" koor semua anggota selain Sehun dan Tao.

Hening.

Ping!

Ponsel Chanyeol berbunyi menandakan notifikasi mention baru. Sebuah seriangaian tercetak jelas di wajah Chanyeol sehabis membacanya.

"Whoa! Whoa! Whoa! Sepertinya ada couple baru di Aves." Masih dengan sebuah smirk mengejek, Chanyeol melirik Sehun yang kurang peduli akan hal ini.

"Apa peduli kita? Biarkan saja mereka. Itu tak penting bagi kita." cibir Jongdae yang duduk di sebelah Chanyeol. Earphone masih bertengger di telinga Jongdae, lalu dia mendengarkan lagu atau tidak sih?

Chanyeol menambah intensitas seringaiannya. Kali ini menatap lurus pada Sehun yang terus meneliti berkas kedua orang tadi.

"Bagaimana jika Son Naeun dengan…" Seandainya tebakan Chanyeol benar, mungkin saja Sehun akan…

"Kim Jongin?"

SING!

Benarkan? Sehun pasti akan mengalihkan perhatiannya pada berita ini. Terlihat Chanyeol dan Sehun saling menatap seakan ada pertempuran di antaranya.

"Ada apa Tuan Oh? Kau punya masalah dengan berita ini?" tanya Chanyeol, berniat menggoda Sehun dengan full smirk miliknya.

Cepat-cepat Sehun mendelik kearah lain. Memutuskan kontak matanya dengan Chanyeol. "Tidak."

Tunggu, Sehun kembali menoleh dan menatap 'WOLVES' satu persatu. "Tapi aku punya rencana hebat untuk 'WOLVES'."

Semua member mendekat ke arahnya, menarik smirk evil Sehun tercetak jelas di wajah tampan itu.

.

.

.

Jongin berjalan santai menuju kelas dengan sisi cool ketua 'GROWL'. Tapi image itu membuyar seketika tatkala orang-orang melihatnya berjalan dengan wajah sumringah. Namun beberapa orang tau penyebab berubahnya aura Jongin.

Singkat saja ceritanya, tadi saat akan ke kelas bersama Suho, ia bertemu sang pujaan hati. Son Naeun namanya, si Princess school Aves. Suho yang sadar posisi, akhirnya mengundurkan diri dari kedua insan ini. Keduanya tampak malu-malu dengan situasi saat itu. Naeun yang malu tak sengaja bertemu dengan Jongin, seseorang yang ia kagumi. Dan Jongin yang risih dengan tatapan orang-orang di koridor. Tentu saja karena mendapat tontonan gratis. Inisiatif yang begitu hebat bagi Jongin, menarik lembut tangan Naeun ke taman belakang sekolah. Berbasa-basi sebentar lalu, DORR! Mereka berpacaran sekarang.

Baru saja Jongin melangkahkan kakinya di ruang private 'GROWL', bunyi pom-pom sudah mengganggu telinganya.

"Chukkae Jonginnie~!" itu Baekhyun dengan memegang dua buah pom-pom.

Disampingya, Kyungsoo memegang sebuah pom-pom juga dan tersenyum lebar. "Jongin-ah, chukkae. Kutunggu traktiranmu."

Jongin terkekeh pelan. "Aku akan meneraktir kalian semua, jika kau yang memasakkannya, hyung."

"Itu sama saja, Kim Jongin." Kyungsoo mem-pout lucu.

"Aku masih tak percaya. Tadi baru saja kalian tersipu malu dengan suasana canggung. Tapi sekarang..?" celetuk seseorang.

Jongin mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruangan. Kesal juga, kau sedang bahagia dan orang itu seenaknya menjatuhkan mood-mu. Onyx Jongin tertumbuk pada wajah bingung Suho. Ahh~ Sepupunya ini.

"Pabbo, kan baru saja kami jadian. Memang seperti kau, tak laku." balas Jongin tajam.

"Secara tak langsung, kau menyindir kami juga, Jongin." Lay mendengus sebal.

'Ah ya, benar juga.' Jongin mengeluarkan cengiran lebar. Mengundang tatapan jengah dari para 'GROWL'

Tidak. Ini tak semua. Jongin merasa seseorang tengah menatapnya dengan tatapan intimidasi yang luar biasa. Lagi, ia edarkan pandangan ke setiap hyungdeul-nya.

Minseok orangnya. Minseok yang menyender di sisi ruangan dengan tatapan menyeramkan. Kenapa hyung-nya seperti ini?

"M-minseok hyung, k-kau kenapa? Sungguh, aku minta maaf jika aku menyindirmu. Aku hanya ingin-"

"Ani, Jonginnie. Hyung hanya ingin kau berhati-hati." sela Minseok dengan senyum tipis yang melengkapi.

"Ne?" Jongin bingung? Tentu saja. Ia sama sekali tak mengerti ucapan Minseok. SEDIKITPUN.

"Hyung…ada apa?" tanya Suho cemas. Jika ini menyangkut Jongin dan itu berbahaya, dia harus campur tangan dalam masalah ini.

"Eobseo. Hanya sebuah firasat buruk tentang Jongin. Entah apa, aku tak yakin."

"Baik, hari ini kami akan melindungi Kim Jongin sepenuh hati!" sorak Baekhyun. Kenapa disaat semuanya dihinggapi perasaan cemas, hanya ia yang bersorak kegirangan? Anak aneh.

"Hyung, kau berlebihan. Aku ini jelas namja. Untuk apa melindungiku."

"Aku setuju." Jongin lega mendapat anggukan Kyungsoo. Mana mungkin ia bebas hidup hari ini dalam pengawasan kelima hyung-nya. "Aku setuju dengan Baekhyun."

Hell, Man! Jongin salah tangkap.

"Aku juga."

"Aku juga."

Dan sekarang Lay dan Suho mengikuti jejak Kyungsoo. Tak perlu menanyakan Minseok. Sudah pasti ia menyetujui semua ini. Bukankah Minseok yang mengusulkannya. Jongin harap ia tak pingsan sekarang. Kkk~ Welcome to 'Jail', Kim Jongin.

.

.

.

"Naeun, kau ingin pulang dengan oppa?"

Betapa terkejutnya Naeun melihat Jongin saat keluar dari kelas.

Dengan pipi yang merona, Naeun mengangguk. "Boleh sa-"

"JONGIN!"

Jongin meringis pelan mendengar teriakan Baekhyun, Suho, juga Kyungsoo. Perlahan Jongin menoleh pada sumber suara, dan benar saja. Disana ada lima orang yang sangat ia kenali sedang berlari ke arahnya. Padahal Jongin sudah susah payah melarikan diri dari 'penjara' yang dibuat hyungdeul-nya.

"Kau kemana saja, pabbo. Eh? Naeun? Selamat atas jadiannya kalian ne. Aku pinjam Jongin yah." Harusnya Suho tak mengatakan itu jika ia dan yang lainnya langsung menarik Jongin tanpa menunggu izin Naeun.

"Hyung~ Ya!" protes Jongin seakan tak digubris mereka.

"Diam! Kau ini! Kami pikir kau hilang." cerocos Lay.

"Kau pikir aku Jin, hyung." cibir Jongin. -_-

Dan masih banyak perdebatan tak penting dari beberapa makhluk imbisil itu. Naeun hanya tersenyum geli melihat sang kekasih dan sahabatnya dari jauh. Kemudian melangkah dengan jalur berbeda.

SRET!

Seperti ada yang menarik tangan Naeun dan membekap mulutnya dengan sapu tangan berbau alcohol. Bisa ditebak, Naeun kehilangan kesadarannya. Salah satu dari dua orang bermasker yang menarik Naeun, mengeluarkan ponsel merah dari saku celananya.

"Misi pertama, berhasil."

"…"

"Siap."

Orang tadi mematikan ponselnya. "Bawa anak ini, perintahnya."

Langsung saja mereka membopong yeoja bermarga Son itu ke sebuah mobil Ferrari 599xx.

.

.

.

XXX Hotel

"Eungh~" Naeun merasa kesadarannya pulih. Tunggu, ini dimana? Ia sama sekali tak mengenali tempat ini.

"Hai." sapa seorang namja yang terus menghadap ke arah jendela dan membelakangi Naeun. Otomatis Naeun tak bisa mengetahui jelas sosok itu. Namja itu berbalik perlahan. Mata Naeun membulat sempurna.

DEG!

"Masih pusing Son Naeun?"

"Kau?!"

!*::::*! TBC !*::::*!