Wolves VS Growl / Chap. 2
Annyeong… Yuhu~ Delivery 'Wolves VS Growl' chapter 2, datang~ Masih banyak JongEun momentnya. Mian ne~ Tapi Denra janji chapter depan bisa dipastikan HunKai full NC BDSM. Oh ya makasih udah nge-reviews. Denra pikir bakal sedikit yang suka, ternyatanya yang comment 30+. Meski sidersnya sampai 1k+, gapapalah. Yang penting readers suka ini ff. Denra mau bales review nih :
Yunjou : Ya, ini udah denra lanjutin. Pairnya seme!WOLVES x GROWL!uke. Sering yah? Tapi project denra yang ini entar bakal ngegabungin 3 pokok cerita yang kontras gituh. Ini masih yg pertama. Jadi mungkin bakal jadi banyak chapter. Semoga Yunjou suka ne? Thanks ^^
laxyovrds : Yang kece denra atau ceritanya? Kkk~ Pencinta HunKai bdsm ne? salam kenal, kak. Iya, ini udah lanjut. Semoga puas ne? Thanks ^^
urikaihun : Wks, katauan ya? Pair utamanya HunKai. Ini udah dilanjut. Semoga suka ne? Thanks ^^
askasufa : Iya, ini HunKai :D Agak membingungkan pasti sama pair. Maklum, denra baru belajar post dan malunya denra lupa ngasih tau pairingnya. Luhan x Xiumin, Kris x Suho, Chanyeol x Baekhyun, Chen x D.O, Tao x Lay. Naeun mau diapakan yahh? /pura-pura mikir/ emm jawabannya ada di chapter ini. Awal baca review aska, sempet bingung taetae itu siapa. Baru inget itu Taehyung. Taetae-nya aska aman kok di ff ini. Entar juga ada pair buat Taehyung loh. Thanks ^^
LemonTea07 : Hallo. Iya, denra uke!Kai shipper. Tea suka? Bagus deh kalau banyak yang suka. Tapi itu ada beberapa typo yang memalukan /.\ Makasih sarannya, ne. Denra suka sama review Tea. Itu membangun banget. Sering-sering aja nge-review yang kek gini ke denra. Jadi denra tau dimana salahnya. Maklum, denra masih newbie. Ini udah di update. Thanks ^^
Viviandra Phanthom : Denra ngakak waktu liat review Vii wks XD Iya, lanjutannya udah di updated nih. Semoga Vii puas sama chapter ini. Ganbatte!
YunKai : Sudah dilanjut nih. Seneng kalau YunKai suka sama ff denra. Iya, Kai disini polos sebenernya. Tapi kalau di sekolah Kai kek punya topeng manly gituh. Maaf agak lama lanjutnya. Soalnya kemaren ada beberapa ulangan harian, jadi ga sempet update hehehe… Mianhae and Thanks ^^
byuntae92 : Seru?! Gomawo /bow/ Ini denra lanjut. Mudahan aja byuntae suka chapter ini. Thanks ^^
byun : Kkkk~ masa sih ff denra keren? Gak ah, byun. Iya, entar ada beberapa couple baru yang bermunculan. Udah lanjut nih. Semangat bacanya yah, byun!
afranabilah19 : Hehe… iya nih, ada Naeun. Berhubung cast Naeun disini bernasib buruk dan denra kurang suka sama Naeun, jadi ya denra pake cast Naeun deh. Jangan broken heart dong, afra. Jodoh Jongin umma disini udah pasti sama Thehun appa. Wkak, keknya afra HunKai hard shipper ne? Kita sama dong~ Ini udah update. Mianhae, agak lama. Semoga afra seneng yah sama ff ini. #TampungKissAfra
miszshanty05 : Iya, ini udah di lanjut. Gomawo ne~
littleXbetweenEO : Udah dilanjut, chingu. Ne, DENRA LOVE HUNKAI TOO! HIDUP 9488 couple! ^^
Jongin48 : Udah lanjut nih. Iya, ini HunKai. Diancem yah? Eumm… Mungkin lebih parah dari itu. Thanks review-nya ne ^^
jonginwu : Denra update nih. Penasaran kah? Sama, denra juga gak rela Naeun ama Jongin. Secara denra paling gak suka sama Naeun. Tapi yah emang harus begitu. Mungkin jonginwu bakal paham maksud keterlibatan Naeun di chapter ini. Kurang panjang yah? Duh, denra coba bikin lebih panjang ne. Urwell and Thanks ^^
PikaaChuu : Kok aduh sih? Pikaa, ini denra lanjutin ff-nya. Sabar ne, KrisHo udah pasti ada kok. Kkk~ tendang aja tbc-nya/? Makasih udah suka ff denra ^^
Guest : Udah di update, Guest. Ketebak ne? Wks. Gak bagus ah, masih kalah sama author yang lainnya. Tapi denra coba bikin ff ini menarik dengan 3 pokok cerita yang kontras. Semoga aja denra berhasil. Selamat membaca, Guest. Thanks ^^
KaiHunHannie : Makasih pujiannya. Menurut denra ini masih banyak kekurangannya malah. Iya, ini udah dilanjut. Gak kok, gak terlalu sadis. Juga gak pake sex toys. Denra masih sayang Jongin umma hehe…
FokaTanZeKa : -..- Tania bagus banget review-nya. TANIA! Ini belum rated M. Dih, Tania nyebelin, ngejek denra terus dari di sekolah. Untung denra sabar, kalo gak denra terjunin dari atap sekolah juga kamu, tan. Huft…
kim jaerin : Kalau aves artinya emang burung sih. Tapi sebenarnya ini diambil dari denraves hehehe… Aneh ya? BDSM-nya entar gak terlalu keras. Maksudnya tanpa sex toys. Sabar ne. Entar ada saatnya Kai umma di-rape Sehun appa. Sehun gak bakal nge-rape orang lain kok. Kata Sehun appa, semua akan indah pada saatnya/? Ngaco ah denra. Selamat membaca ne ^^
: Makasih udah suka sama ff ini. Jadi Kai itu semacam anggota paling polos di GROWL. Apalagi orang tuanya paling kaya diantara GROWL. Jadi waktu tau penindasan itu, Kai yang punya ide nge-bentuk genk penyelamat. Nah dia yang mohon-mohon buat jadi ketuanya. Supaya image-nya manly gituh. Wks XD Kok jadi ngakak sih +.+ Tapi gak sepenuhnya polos juga buat nyebut 'Hell, Bitch, Sialan, Brengsek, dll.' Kan itu berguna buat sifat manly-nya. Bisa jadi Sehun. Masalah hotel, coba deh cari tau di chapter ini.
waoo-mouri : Iya, mouri. Kenapa?
baozibaobei : Iya, ini denra update. Makasih atas pujiannya. Kerasa banget yah school life-nya? Denra janji bakal bikin ff ini lebih bagus lagi. Happy Reading ^^
Kim In Soo : Iya, disini ada Taehyung. Entar juga dia dapet couple. Moodnya naikin lagi dong, InSoo. Naeun cuman numpang lewat doang kok. Denra juga gak suka Naeun. Karena nasib Naeun buruk disini, makanya denra milih Naeun buat jadi cast. Iya ini udah dilanjut. Salam kenal, InSoo. Seneng HunKai hard shipper banyak gini ^^
TaeKai : Sipp! Denra udah lanjutin ^^
Hunnieakai : Udah lanjut~ Baguslah kalau banyak yang suka. Kurang panjang? Ini denra bikin lebih panjang. Maaf lama lanjutnya, soalnya kemaren denra ada beberapa ulangan harian. Mianhae~ Selamat membaca~
ytrisdia : Makasih tris atas pujiannya. Tapi tris gak kecewa kan kalau disini Jongin kek punya 2 kepribadian? Maksudnya image-nya aja manly tapi dalemnya polos. Soal karakter itu sebenarnya cuman pikiran absurd hehehe apalagi dibagian Xiumin. 1000% denra ngarang sama tokoh Xiumin disini -" . Iya, tris ini udah lanjut. Semangat bacanya ya ^^
putrifibrianti96 : Ketauan banget kan?
JeonYeona : Iya, ini udah lanjut. Makasih pujiannya ne~
: Kkk~ udah dilanjut, aldi. Seneng aldi suka ff denra ^^
frozenxius : Keren?! Ah, Gomapta~ /bow/ Maaf, agak lamban lanjutnya. Soalnya kemaren ada beberapa ulangan harian gitu. Permintaan frozen masalah LuMin momentnya, udah denra catat. Selamat menikmati ya~
LulluBee : Ehmm….. bisa jadi 'ya', atau 'tidak'. Ngapain ke hotel yah? Itu….. baca ff ini dulu, pasti nemu jawabannya. Ayo dibaca~
BakpaoIsiRusa : Udah lanjut, kak. 'Lets Make Love' itu yang….. ekhem-ekhem yah? Sipp (y) Sebenarnya denra gak kepikiran buat bikin LuMin LML(?) itu, TAPI buat 'cuyung', denra bikinin yang special. Setuju gak kalau LML-nya lembut? Maksudnya, gak BDSM gituh? Hahaha~ Ini denra coba bikin lebih panjang. Selamat membaca~
onlyxiuhan : disini ceritanya Yaoi. Makasih udah suka sama penggambaran tokoh disini. Meskipun gak bisa dibilang terlalu manly juga sih, hehe… Cukuplah buat anak remaja yang biasa aja, menurut denra. Paling suka karakter Minseok sama Junmyeon ne? Waa~ gomapta! Mereka emang keliat dewasa banget disini. Udah lanjut, chingu. Happy Reading ^^
Dilarang keras plagiat. Tapi kalau ff Denra menginspirasi someone, tolong dibikin jangan terlalu mirip ne chingu. Terus cantumin nama Denra kalau bisa kkkkk~ #DenraNgayal
!*::::*! Happy Reading !*::::*!
XXX Hotel
"Eungh~" Naeun merasa kesadarannya pulih. Tunggu, ini dimana? Ia sama sekali tak mengenali tempat ini.
"Hai." sapa seorang namja yang terus menghadap ke arah jendela dan membelakangi Naeun. Otomatis Naeun tak bisa mengetahui jelas sosok itu. Namja itu berbalik perlahan. Saat itu juga, mata Naeun membulat sempurna.
DEG!
"Masih pusing Son Naeun?"
"Kau?!"
!*::::*! Chapter 2 !*::::*!
"Ya, aku. Kenapa?" Namja itu dengan baju santai juga wajah kelewat dingin.
"Kenapa kau disini, Oh Sehun?"
"Bukankah pertanyaan yang tepat, kenapa kau ada disini?"
Oh GOD, Naeun lupa , dia dimana? Kenapa ada disini? Jalan terakhirnya agar semua pertanyaan itu terjawab, menanyakan pada Sehun. Lebih baik bertanya jika kau tak tahu, bukan?
"Kau benar. Lalu kenapa aku ada disini?"
Sehun tertawa keras, yang malah terdengar menyeramkan di telinga Naeun. "Karena. Kau. Mengganggu. Hidupku."
Apa maksudnya? Naeun tak pernah ingin mendekati Sehun. Sumpah, itu mimpi buruk.
"Aku tak pernah mengganggumu. Mungkin kau salah orang. Jadi lepaskan aku sekarang." Perintah Naeun seraya menuruni tempat tidur Queen Size itu. WHAT? Tangan Naeun terikat, kakinya juga. Kenapa ia baru sadar? Naeun memandang Sehun tajam.
"Ha-Ha! Benarkah? Lalu siapa di Aves yang bernama Son Naeun, eoh?"
"Sehun, lepaskan."
"Tak akan."
"Sehun! Aku serius!"
"Aku juga."
"Kau gila! Lepaskan kataku!"
"Mungkin iya. Tapi melepaskanmu, tidak."
Itulah kata-kata terakhir Sehun sebelum keluar dari kamar hotel. Diluar pintu sudah ada beberapa namja hidung belang, yang khusus dibayar Sehun.
"Urus yeoja itu."
Gila, jika mereka menolak. Tentu saja, mereka segera memasuki kamar tersebut. Dan tak lama kemudian terdengar suara laknat seperti… kalian tau pasti aktifitas di dalam kamar tersebut bukan? So, tak harus dijelaskan secara detail.
Sehun tersenyum menang melihat rencananya sukses. 'Yeoja bodoh. Mengganggu hidup orang saja', pikirnya.
Senyuman itu semakin lebar saat ponsel pink milik Naeun bergetar dan menyebutkan nama 'Kim Jongin' di layar ponsel. Dengan sangat yakin Sehun mengangkat telpon Jongin.
"Yeoboseyo, Chagi? Kau dimana? Kau baik-baik saja kan?" Pertanyaan Jongin beruntun dan sangat terdengar getar kekhawatiran pada nadanya.
"…"
"Naeun chagi?"
"Sayang sekali, aku bukan Naeun chagi-mu itu, Kim Jongin."
"Ya! Ini siapa? Mana Naeun?"
"Kau tak kenal suaraku, Jongin-ah? Aku sedih. Setiap hari kita selalu bertemu, seharusnya kau mengingat suara ini, bby~"
"…"
"…"
"Ini…"
"Ya, bby. Waeyo? Kau ingat aku?"
"Aku tak yakin sebenarnya. Kau…"
"Oh Sehun, that's right."
Pip!
Sehun menyeringai lebar setelah memutuskan sambungan telpon Jongin. Mematikan ponsel Naeun, karena Sehun tau Jongin akan terus menelpon tanpa putus asa.
"Sekarang kau terjebak permainanku, KIM JONGIN~"
.
.
.
Kim House
Ketujuh namja itu sedang asyik menikmati makan malam. GROWL terkecuali Jongin, sepakat menginap di rumah KIM. Kata mereka agar lebih mudah menjaga Jongin. Alasan yang konyol bagi Jongin.
Kita lihat, di sisi kanan Jongin, Taehyung, dan Baekhyun lah yang menempati. Minseok, Kyungsoo dan Lay menempati sisi kiri. Sedangkan Suho sendiri menempati kursi kepala keluarga yang biasa di duduki Mr. Kim, sang paman. Sebagian ada yang bercakap ria, saling menjahili, dan juga berteriak marah. Awkward sekali kan? Itu Baekhyun dan Jongin sedang menjahili Taehyung, dengan mengambil ayam goreng jatah Taehyung. Lay dan Kyungsoo yang sibuk merundingkan resep sup asparagus buatan Shin ahjumma yang sangat enak. Taehyung yang memberengut sebal karena terus diganggu dua alien. Di tambah Suho yang berteriak-teriak tak jelas, meminta mereka diam saat makan. Sendirinya yang membuat atmosfir semakin kacau sebenarnya.
Kita kurang satu orang sepertinya. A'ha, Kim Minseok! Minseok nampak aneh sedari tadi. Makan dengan tenang, pandangan kosong pada makanan, dan pikiran yang melayang entah kemana. Sejujurnya ia merasa firasat buruk semenjak meninggalkan sekolah. Firasat macam apa, Minseok tak tahu. Yang jelas ini tak jauh dari hidup Jongin.
Sekilas menatap Jongin yang masih menjahili Taehyung. Firasat itu semakin kuat dirasanya. Minseok berdiri dari duduknya. Spontan hal itu menjadi perhatian keenam namja lainnya, memandangnya penuh pertanyaan.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing." jawabnya acuh dan beranjak meninggalkan ruang makan, menuju kamar tamu dimana ia sering tidur ketika menginap di rumah megah ini.
Tak lama setelahnya Jongin ikut beranjak dan pergi ke kamarnya di lantai dua. "Aku sudah kenyang."
Kini mereka berdua merebahkan diri di kamar masing-masing. Sama- sama menatap langit kamar. Dan sama-sama merasakan feeling tak mengenakkan pula.
Minseok berpikir, ini hampir berganti hari. Tak pernah sekalipun firasatnya bertahan lebih dari satu hari. Tapi kenapa tanda-tanda membahayakan tak terlihat? Ia patut bersyukur Jongin baik-baik saja sekarang. Hanya saja di sisi hatinya yang lain merasa heran 'penglihatannya' tak berfungsi akurat. Indra keenamnya juga tak memberikan informasi berlebih. Sepertinya ia harus berusaha sendiri.
Mulailah Minseok menebak-nebak. Jika firasat buruk ini di alamatkan pada Jongin, itu berarti tak jauh dari hidup Jongin. Jongin? Jongin ada di rumah yang sama dengannya. Banyak butler juga maid disini. Satpam menjaga ketat di luar. Belum lagi sahabat serta adiknya. Adik? Taehyung. Itu juga tak mungkin. Taehyung aman di rumah ini. Sahabatnya? Apa yang kau pikirkan, Kim Minseok? Kau dan sahabat Jongin lainnya juga berada disini. Orang tua Jongin? Mereka bekerja jauh di Paris dan sudah pasti bodyguard menjamin keselamatan mereka. Lalu siapa? Siapa di sekitar Jongin? Tak ada kan. Mungkin feelingnya kali ini meleset.
"NAEUN!"
Hanya nama itu yang terlintas di otaknya. Bergegas Minseok keluar dari kamarnya.
BRAKK!
Semua orang di ruang tengah terkejut mendengar bantingan pintu yang begitu keras dan menoleh ke sumber keributan. Minseok menatap satu-persatu orang itu. Mengabsen setiap namja disana. Lay, Suho, Kyungsoo, Baekhyun, Taehyung.
"Dimana Jongin?" tanyanya panik.
Kyungsoo membuka suara."Di kamarnya. Waeyo, hyung?"
Menulikan pendengarannya atas pertanyaan Kyungsoo, Minseok berlari cepat menaikki tangga. Tujuannya saat ini kamar Jongin. Ya, Jongin harus tau. Bodohnya ia baru saja menyadari ini. Semoga saja belum terlambat.
Sementara yang lain saling menatap sejenak, kemudian ikut berlari mengekor di belakang Minseok.
TOKK!
TOKK!
TOKK!
"Tunggu sebentar." respon Jongin yang merasa pintunya di ketuk kasar dari luar. Pasti bukan maid atau butler, mereka sangat sopan pada Jongin. Paling Taehyung atau salah satu sahabatnya. Dengan langkah gontai ia membuka pintu itu.
CKLEK
"NAEUN! JONGIN, HUBUNGI NAEUN SEKARANG!" teriak Minseok tepat di depan Jongin. Jongin yang bingung kenapa dengan Minseok, memandang orang-orang di belakang Minseok. Tapi apa yang ia dapat? Hanya tatapan yang menyatakan kami-tak-tahu.
"ARGHT!" Minseok menggeram keras. "NAEUN DALAM BAHAYA, KIM JONGIN!"
"MWO?!" Mata Jongin membelalak kaget. Diambilnya ponsel putih miliknya, langsung saja mencari kontak Naeun dan menekan tombol 'dial'.
"Yeoboseyo, Chagi? Kau dimana? Kau baik-baik saja kan?" Jongin melemparkan segala pertanyaan setelah orang di seberang mengangkatnya.
"…"
"Naeun chagi?" tanya Jongin ragu. Oh, firasatnya bertambah buruk.
"Sayang sekali, aku bukan Naeun chagi-mu itu, Kim Jongin."
JDARR!
Ini jelas suara namja. Berat juga dalam.
"Ya! Ini siapa? Mana Naeun?"
"Kau tak kenal suaraku, Jongin-ah? Aku sedih. Setiap hari kita selalu bertemu, seharusnya kau mengingat suara ini, bby~"
"…"
Jongin berpikir keras. Siapa yang setiap hari bertemu dengannya. Sahabatnya disini. Guru? Mustahil. WOLVES ?
"…"
"Ini…"
"Ya, bby. Waeyo? Kau ingat aku?"
Jongin menegak salivanya kasar, melirik setiap mata yang memandangnya penasaran juga cemas.
"Aku tak yakin sebenarnya. Kau…"
"Oh Sehun, that's right."
Pip!
Bagai tersambar petir dua kali, Jongin jelas sangat shock. Fakta pertama, ponsel Naeun ada pada Sehun. Itu berarti Sehun sedang bersama Naeun. Perasaan cemburu tentu menghinggapi Jongin. Tapi fakta kedua lebih menakutkannya. Sehun rival Jongin. Dan bukan hal baik jika sang kekasih bersama musuhnya sekarang.
Jongin kembali berusaha menghubungi Naeun, tapi selalu saja tak aktif. Saking kesalnya, ponsel putih itu terlempar sangat keras menghantam dinding kamar Jongin.
BRAKK!
"OH SEHUN, BRENGSEK!"
Sahabat dan adik Jongin masih memandang bingung Jongin. Apa hubungannya dengan Sehun? Pertanyaan khusus dari Taehyung, Siapa Sehun? Ingat, ia baru satu hari menjadi murid Aves.
"Sehun sedang bersama Naeun sekarang. Dan kurasa Sehun menculik Naeun." jelas Minseok.
Mereka yang mendengar terkejut juga iba, pengecualian untuk Taehyung. Jongin beralih menatap Minseok lekat.
Menyadari tatapan itu, Minseok hanya mampu menghembuskan nafas pasrah. "Hyung tak bisa membantumu, Jongin. Hyung hanya mampu sampai sini, tak bisa mendeteksi keberadaan orang."
Jongin mengacak rambut kasar, pikirannya buntu. Penampilan kacau melambangkan betapa frustasinya ia sekarang. Jongin hanya ingin Naeun baik-baik saja dan melihatnya esok hari. Satu harapan lagi, Jongin ingin hari cepat berganti agar dapat melihat Naeun.
.
.
.
Zenvoyang hitam, Agera Koenigsegsa putih, juga Aston Martin One-77 berwarna metallic, memasuki halaman Aves secara bergilir. Mengundang begitu banyak perhatian dari siswa. Bukan karena mobil mewahnya. Mereka sudah terbiasa melihat benda mewah semacam mobil. Tapi sangat jarang mereka, atau dikenal GROWL datang secara bersamaan.
Masih dengan gaya coolnya, Jongin berjalan menyusuri koridor. Diiringi Suho, Baekhyun, Kyungsoo, Lay, dan Minseok. Hari ini ia sengaja tak membawa Taehyung. Terlalu berbahaya baginya. Bukan kelas private GROWL tujuan utamanya, tapi kelas Naeun. Selalu begitu selama sebulan ini. Ya, sebulan ini Naeun tak pernah bisa di hubungi, selalu absen, tidak ada di rumah dan berbagai faktor yang membuat Jongin tak dapat menemuinya.
"Apa ada Naeun?" tanya Jongin pada salah seorang teman sekelas Naeun yang ia ketahui bernama Bomi itu.
"Aku belum melihatnya pagi ini."
"Aku melihatnya." celetuk yeoja dengan rambut pendek sebahu. Name tag terpasang rapi di seragamnya dengan tulisan 'Kim Namjoo. "Tadi aku lihat dia di taman belakang sendirian."
Jongin berbalik setelah mengucapkan terima kasih. Ia benar-benar khawatir tentang Naeun. Baru ingin melangkahkan kakinya menuju taman belakang, tangan Minseok mencegahnya.
"Jongin, ke balkon lah. Aku merasa kau harus kesana."
Jongin mengerutkan keningnya bingung. Kenapa lagi sekarang?
"Hey! Coba lihat itu! Itu Naeun kan?!"
"OMO! Mau apa dia?!"
"Jangan! Dia tak mungkin bunuh diri kan?!"
"Tolonglah, seseorang cepat selamatkan dia!"
Dan teriakan panik seluruh siswa menyadarkan Jongin. Matanya mencari letak balkon yang di maksud. Astaga! Itu Naeun yang berdiri disana, membentangkan tangan dan jika maju selangkah saja… ia akan jatuh dari lantai 5. GOD, Jongin berlari cepat menaikki tangga menuju balkon. Tak dipedulikannya teriakan Suho juga kakinya yang sakit.
HUP!
Jongin tak terlambat menangkap tubuh Naeun. Tubuh Naeun limbung dan berakhir di pelukan sang kekasih. Jongin langsung saja memeluknya possesif. Hampir saja kehilangan orang yang ia cintai. Orang yang berada dalam dekapannya. Dirasakannya tubuh Naeun bergetar, basah air mulai menembus baju seragam Jongin.
"Naeun, kau kenapa?" tanya Jongin lirih. Hanya isakkan keras yang Naeun mampu jawab.
"Kumohon, kau ada masalah apa hingga seperti ini?" suara Jongin semakin lirih. Ingin ia menangis mendengar isakkan pilu dari bibir itu.
"Opp- Oppa, a-aku…"
"Ya, kau kenapa chagi?"
"A-ku…hamil."
Reflek Jongin melepaskan pelukannya. Bagaimana bisa? Ia saja baru berpacaran dengan Naeun sebulan lalu. Mustahil Naeun hamil anaknya, menyentuhnya saja Jongin tak pernah.
"Jangan bergurau." ucap Jongin tak percaya. Naeun membalasnya dengan pandangan terluka menyayat hati. Lalu tersenyum miris setelahnya.
"Aku tau respon oppa akan begini. Maka dari itu lebih baik aku mati kan?" Naeun berjalan kembali mendekati tepi balkon. Berniat melanjutkan rancana awalnya tadi.
"Andwae." Jongin menghalangi jalan Naeun. "B-baiklah, aku akan bertanggung jawab meski dia bukan anakku."
Kata itu seperti mencakar dinding tenggorokkan Jongin. Sangat sulit melakukannya. Ini menyangkut masa depan Jongin. Bagaimana jadinya sang orang tua mengetahui anaknya mempunyai kekasih yang tengah hamil. Jangan salahkan mereka bila menganggap itu adalah anak Jongin. Tapi nyatanya Jongin tak tau itu anak siapa. Di lain sisi, ia juga mencintai Naeun. Terlalu sakit jikalau Naeun menghilang dari kehidupan Kim Jongin.
Naeun tersenyum bahagia. Namun tak bisa dipungkiri rasa bersalah lebih mendominasi.
.
.
.
Jongin duduk menghadap pemandangan luas dari taman belakang sekolah. Jam pertama dia sudah bolos. Tak tertarik mendengar penjelasan Jung seongsaenim dengan berbagai rumus kuadratnya. Sebenarnya bisa saja ia bolos dan berdiam diri di ruang private GROWL. Tapi Jongin butuh udara segar. Rasanya sesak nafas beberapa jam lalu saat mengatakan keputusannya pada Naeun.
TAP
TAP
TAP
Itu pasti Naeun, batin Jongin. Jongin memang menyuruh Naeun kesini. Pikirkan saja, Jongin yang tak mengalaminya saja depresi, bagaimana dengan Naeun. Mungkin Naeun akan benar-benar bunuh diri jika Jongin tak mengatakan hal yang ia sebut 'bertanggung jawab'. Naeun perlu merefresh otaknya pasti.
PROK!
PROK!
PROK!
Terdengar bunyi sebuah tepuk tangan. Jongin mengubah ekspresinya menjadi bingung. Kenapa Naeun harus tepuk tangan. Namun pandangannya masih setia pada hamparan kota yang terlihat jelas dari sini.
Kini Jongin merasa ada yang menyentuh bahunya. Spontan saja ia menoleh dan mendapati Sehun tersenyum manis padanya. Dan Jongin jijik akan itu.
"Hai, calon appa."
"Aku bukan appa-nya, kau tahu jelas itu." Jongin mendelik tajam ke arah berlawanan.
"Aku tahu itu, Kim Jongin." Sehun duduk tenang disamping Jongin. Dari ekor matanya melihat seseorang tengah memperhatikan percakapan dua rival ini.
"Dan kau-lah appa dari anak itu kan. Sialan, kau Oh Sehun."
Hening mengelilingi keduanya.
"Bukan. Aku hanya menyuruh beberapa namja club, temanku me-rape Naeun." bantah Sehun enteng.
Jongin berbalik menatap Sehun penuh keterkejutan. "Kau gila, Oh!"
"Terima kasih."
Jika saja Jongin polisi, pasti Sehun sudah ia tembak mati. Berbicara dengan rival sama saja membuat darah tinggi dan berakhir di rumah sakit. Tidak, Jongin memilih pergi dari tempat itu. Beberapa langkah berjalan, Jongin melihat Bomi tergesa-gesa memanggilnya.
"Jongin, Naeun… Dia…" Bomi menunduk dalam di depan Jongin. "D-dia bunuh diri di toilet."
"MWO?!"
Jongin terkejut bukan main. Sementara makhluk pucat yang masih setia duduk itu mengeluarkan seringai tipis. Tentu saja Bomi dan Jongin tak dapat melihat. Pasalnya Sehun membelakangi mereka bukan? Misi pertama, kedua dan ketiga berhasil. Sepertinya rencana gila Sehun akan berjalan mulus.
Jongin bergegas ke toilet perempuan yang sudah dipenuhi banyak orang. Sekuat tenaga mencoba melewati kerumunan demi melihat kebenaran itu. Demi apapun Jongin masih berharap ini hanya sebuah gurauan yang dibuat Naeun dan sahabatnya.
Tapi khayalan itu nampaknya harus dibuang jauh-jauh. Naeun, sang kekasih. Son Naeun sudah tergeletak dengan darah yang masih mengucur di pergelangan tangannya.
"Ch-chagi?"
Dokter yang memeriksa Naeun mendengar lirihan pelan Jongin. "Kau Kim Jongin?"
"Ne? A-ku sendiri. Wae uisa?"
"Ini surat untukmu. Sepertinya Naeun menulis ini sebelum bunuh diri." sang dokter berkata. Sakit rasanya mendengar kata bunuh diri itu. Terlebih ini Naeun, dan ia meninggalkan surat wasiat?
.
.
.
'To : Jongin Oppa.
Oppa, aku tau kau terpaksa mengakuinya. Tak sengaja aku mencuri dengar percakapanmu dengan Sehun di taman. Aku cukup merasa bersalah. Kumohon jangan benci aku, oppa. Senang bisa ada dalam hidupmu.'
Jongin menitikkan air mata penyesalan yang ia tahan sedari tadi. Membaca surat Naeun tadi sungguh menyesakkan.
"Hyung, bersabarlah." Taehyung menenangkan sang kakak. Yang lain hanya bisa menatap Jongin iba.
Ini sangat keterlaluan. Seandainya nyawa itu seorang namja, Jongin akan mencoba acuh meski sebenarnya tak bisa. Itu dosa Sehun. Tapi ini yeoja dengan nyawa lain di perutnya juga orang yang ia cintai. Mengingat nama yang kembali disangkut pautkan dalam surat Naeun, Jongin berniat akan mengadakan perhitungan pada WOLVES.
"Aku setuju. Kita buat perhitungan dengan WOLVES. Aku lelah melihat dosa mereka." celetuk Minseok. Para GROWL paham jika Minseok sedang menanggapi pikiran Jongin.
Lay mengeluarkan kertas merah yang bertuliskan,
'Berkumpul di taman belakang sesudah pulang sekolah dengan anggota lengkap. –GROWL-'
Lalu pergi bersama Baekhyun guna menyampaikannya pada WOLVES.
.
.
.
"Ada perlu apa?" tanya Sehun yang melihat GROWL berjalan mendekat.
BUGH!
Satu pukulan mengenai tulang rahang Sehun. Itu ucapan sambutan dari Jongin.
"Ya! Apa yang kau lakukan?" protes Jongdae.
"Itu balasan bagi orang brengsek seperti ketua-mu." Jongin menatap nyalang Sehun, kemudian berbalik ingin pergi. Melihat kesempatan yang hampir hilang, Sehun mencengkram lengan Jongin. Membuat Jongin berbalik kembali menghadapnya. "Apa lagi?! Aku ingin pulang!"
"Kau…perlu kekerasan juga, bby~" Nada Sehun mengalun manja, namun itu sangat mematikan menurut Jongin.
"Jangan bertindak berlebihan Oh Sehun!" larang Suho keras.
"Tak akan berlebihan jika namja pendek ini tak memulai." sahut Kris.
"Ya! Dia tidak pendek." Kyungsoo ikut membela.
"Owh, ada yang lebih pendek rupanya. Pantas saja membela."
"Kau cerewet sekali, Kim Jongdae. Kau bahkan lebih pendek dari Jongin."
"Kau juga tak kalah cerewet, Byun. Pendek, cerewet, sangat menyebalkan."
"Tapi setidaknya ia lebih pintar darimu, Park Chanyeol Bodoh."
"Lebih baik bodoh daripada culun sepertimu. Zhang Yixing si kutu buku. Dasar idiot."
"Tao, kau tak pantas mengatakan Lay idiot. Tak sadarkah kau itu tak punya kelebihan yang membanggakan."
"Kau ingin merasakan wushu Tao? Lihatlah dirimupun tak ada yang bisa dibanggakan dengan badan gempalmu itu, Minseok." balas Luhan.
Dan perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Dari pukulan tangan, tendangan sampai mulut yang terus mencerca lawannya.
.
.
.
Senja sore mulai menjemput hari. Masih ada saja siswa Aves yang belum berniat pulang. Setidaknya beda masalah dengan GROWL juga WOLVES.
"Ha-Ha! Nikmati kekalahan kalian!" cemooh Luhan pada GROWL yang terlihat tak berdaya dengan banyak luka di wajah maupun seluruh badannya.
Hari ini, WOLVES menang di atas GROWL. Bodohnya Minseok tak memperhitungkan semua ini. Minseok terlalu dibakar kemarahan tadi.
"Fiuh~ Aku lelah. Ayo pulang." ajak Tao. Dimulai dari Chen, Kris, Chanyeol, baru Luhan yang berbalik sebelum…
"Tunggu." Suara Sehun menghentikan langkah mereka. Matanya menatap dalam iris onyx Jongin. Hazel Sehun menangkap tanda kebencian tertulis jelas dari mata kelam Jongin untuknya. "Bawa mereka."
"KYAA!"
Suara apa itu? Oh, itu suara Jongin yang dibopong Sehun seorang diri lalu berjalan menuju Maybach Exelero miliknya. Terdengar teriakan Jongin yang perlahan menyamar.
"Seperti yeoja." celetuk Chanyeol sweatdrope. Yang lain juga begitu. Suho, Kyungsoo, Baekhyun, Minseok, dan Lay mengamini hal itu. Teriakan Jongin tadi memang mirip yeoja, itu kan sisi lain Kim Jongin. Sisi polosnya.
Luhan menoleh pada anak GROWL. "Kalian…juga ingin seperti Jongin?"
"TIDAK!"
.
.
.
"Shit, mereka serius menyekap kita!" dongkol Lay.
"Aku ingin membunuh mereka semua!" Ingatkan Suho pada janji itu saat bebas. Dipastikan Suho akan kembali membawa kapak besar, ya… cukuplah untuk menebas kepala WOLVES dengan 'hormat'.
CKLEK
Masuklah enam namja yang sedari tadi mereka sumpah serapahi.
SRAKK!
Sehun melempar map coklat di hadapan Jongin. "Baca itu, dan tanda tangani."
"Dalam khayalanmu, Tuan Oh. Kau pikir kami budakmu disekap seperti ini? Bebaskan kami." Jongin tak bergeming dengan pandangan tajam untuk Sehun.
"Bacalah dulu." suruh Sehun.
Dengan sangat amat tak ikhlas Jongin membaca serentetan tulisan di surat itu. Onyx Jongin membulat lucu, kemudian beralih menatap Sehun dengan ekspresi yang sama.
"Kau gila?! Aku tidak mau!" tolak Jongin telak. Yang benar saja, perjanjian macam apa ini?
Sehun mengeluarkan evil smirk andalannya. Berjalan mendekati Jongin yang kian mundur dan mundur. Was-was juga, Sehun tak gampang ditebak sikapnya, menurut Jongin. Sampai akhirnya punggung ramping itu tersudut kerasnya tembok.
"Bawa anak itu." perintah Sehun lantang. Kris dan Tao membawa masuk Taehyung ke dalam ruangan itu. Tangan Luhan menarik kuat surai kecoklatan Taehyung. Tunggu… MWO?! TAEHYUNG?! GROWL membulatkan matanya. Apalagi Jongin, matanya membulat sempurna sekarang.
"Luhan, lepaskan dia! Aku tak suka kau menyakitinya! Oh Sehun!" Jongin berteriak keras. Itu adiknya. Adik kesayangannya dan Jongin tak tega seseorang menyakiti Taehyung, bahkan untuk takdir dan Tuhan sekalipun.
"H-hyung, appoyo… hiks…"
Sehun merunduk, semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah manis Jongin.
"Maka dari itu, kau harus menanda tangani ini. Atau anak ini gantinya." bisik Sehun seduktif mungkin. Meniup pelan telinga Jongin, menimbulkan reflek geli dari sang empunya.
"B-Baiklah." Air! Dimana air! Mengatakan satu kata saja, rasanya tenggorokkan Jongin kering. "Tapi aku punya persyaratan."
Seringai Sehun terlukis jelas di wajah pucatnya. Melihat rival yang takluk padamu itu sangat-sangat-sangat menyenangkan. "Apapun itu, Jonginnie."
Jongin menatap sahabat juga adiknya bergantian. Jika ia tak mengalah, mereka semua tak akan bebas. Mereka semua yang berharga bagi Jongin. Tidak, Jongin tidak mau mereka terkena imbas hanya karenanya. Toh, Sehun hanya ingin Jongin.
Tak sengaja mata Jongin menangkap pandangan teduh Minseok. Tak elak disana juga tersirat kata 'takut' dan 'cemas'. Seakan mereka membuat suatu alur percakapan dengan isyarat mata. Salah satunya menggeleng pelan, tepatnya Minseok lah yang menggeleng. Hanya senyum yang dapat Jongin balas. Hanya sebuah senyum miris yang sangat samar.
"Bebaskan sahabat serta adikku. Jangan pernah mengganggu juga melibatkan mereka dalam masalah ini. Maka…
Kau bisa memilikiku."
"JONGIN!"
"HYUNG!"
Jongin meringis teredam mendengar pekikan 'gila' orang terdekatnya. Bagaimana lagi, mungkin ini takdirnya, ralat sudah menjadi takdirnya.
"AKH!" Ringisan Jongin tak lagi mampu diredam. Sehun mencengkram tangannya kasar, lalu menariknya juga dengan kasar.
"Sehun! Kau-"
BLAM!
Teriakan Suho terpotong dengan tak elit ketika dua sosok namja tadi menghilang dari ruangan ini. Ini diluar tindakan remaja berumur 18 tahun, Suho pikir. Menyekap orang, melakukan kekerasan, dan hal-hal tak rasional WOLVES, masih pantaskah dikatakan waras? Maksud Suho… Apa mereka tak takut dengan polisi atau apalah itu digolongan mereka? Jika Suho polisi, WOLVES pasti akan terkapar dengan peluru menembus salah satu organ mereka. Minimal koma.
Mata kecil Suho memandang nyalang semua anggota WOLVES. "Apa yang akan orang itu lakukan dengan sepupuku?" geram Suho penuh kemarahan.
"Memilikinya?" Kris menjawab asal. "Mungkin? Kau lebih tau tentunya."
Wajar Suho semakin naik pitam. "BASTARD!"
"Kalian! Kami tak pernah menyetujuinya. Jangan hanya mendengar pendapat Jongin. Kami tak pernah-"
"Jadi kalian ingin seperti Jongin. Menjadi budak kami?" sela Jongdae menanggapi Kyungsoo.
Kali ini hening membungkam mulut mereka. Tak ada lagi tanda-tanda bertentangan argument, mengejek, menyumpahi. Ini terlalu membingungkan. *Denra aja bingung ini cerita apaan +.+"*
"Baiklah." suara Baekhyun membawa kebisuan pergi terbawa kalimatnya. Sepertinya WOLVES punya mainan baru sekarang. Lihat saja mereka antusias menyambutnya dengan seringaian khas masing-masing.
"Kami menjadi budak kalian. Dan Jongin… jangan pernah Sehun menyentuhnya sesurai rambutpun."
Para GROWL mengangguk setuju. Prinsip Baekhyun benar adanya. Jongin disini, GROWL juga disini. Jongin pergi kemana pun, GROWL harus mengikuti.
"Taehyung, keluarlah." perintah Lay halus.
"Tidak, Lay hyung. Aku tak akan pergi tanpa-"
"Jongin?! Aku tau! Tapi Jongin akan lebih sedih jika kau ikut terlibat." Nada Lay melembut seiring berakhirnya kalimat tadi.
"Antar anak ini pulang." Giliran Luhan yang berbicara. Mata rusanya melirik Chanyeol juga Tao guna memberi kode merekalah yang disuruh.
"KENAPA AKU?!" teriak Chanyeol keras. Hal yang ia dapat adalah deathglare Luhan yang begitu menyeramkan. "Urmm… Baiklah, kajja Tao."
Chanyeol dan Tao menggiring Taehyung keluar ruangan. Namun langkah mereka terhenti di depan pintu. Chanyeol berbalik, "Aku yang itu yah." ucapnya sembari menunjuk Baekhyun.
WOLVES memutar bola matanya serentak. Anak ini…minta dibunuh rupanya. Mengesalkan.
"Iya, iya, yeol. Sana pergi." Jongdae berujar. Cengiran Chanyeol mengantar kepergian mereka bertiga. Tao? Ia hanya bergumam, "Aku sisanya saja."
PROKK!
Luhan menepuk tangannya satu kali. Mengambil perhatian semua orang di ruangan yang masih sama seperti sebelumnya. Ruangan di salah satu rumah bertema castle dengan sinar temaram tadi.
"Aku ingin dia." Tanpa rasa hormat Luhan menunjuk Minseok.
'Sudah kutebak kan?' cibir Minseok dalam hati. Demi apa ia sudah tau Luhan akan memilihnya sedari Baekhyun menyetujui tawaran Jongdae.
"Kau, sepupu Jongin." Sepatah kata dari Kris cukup menyadarkan Suho ialah yang di maksud. Meskipun dengan wajah yang tetap stoic, Suho paham maksudnya. Satu hal yang Suho lakukan, mendengus sebal.
"Namja ini imut. Aku pilih dia." Jongdae bersorak dengan menarik senyum kekanakannya. Ada yang punya balok? Kyungsoo butuh itu untuk menghantam tampang menyebalkan Jongdae.
"Kau, Yixing dengan Tao." Luhan mengintrupsi Lay.
"Aku?! Dengan si wajah flat itu?!"
"Ya… kau tau kan Baekhyun sudah milik Chanyeol. Sisa kau dan itu untuk Tao." Kata-kata Luhan terdengar ambigu sebenarnya.
"Lay, haruskah aku mengoreksimu. Majikanku lebih dingin." Suho mendongkol ria dengan mata yang memandang jijik Kris. Semakin dongkol kala Kris terkekeh dengan kemenangan di tangannya.
"Uhmm… Kurasa Jongin lebih menderita. Sehun kan lebih mirip es." celetuk Kyungsoo.
"Kenapa kalian menjelekkan kami -_- " Jongdae sweatdrop mendengar perdebatan yang lebih mirip sekumpulan ahjumma penggosip itu.
"Karena kalian jelek."
"Kau yang jelek."
"Tak punya kaca Kim Jongdae?"
"Aish, berhenti Jongdae, Kyungsoo!" pekik Luhan. "Ayo pulang. Chanyeol dan Tao mungkin akan segera datang. Yang lain ikut majikannya masing-masing."
"Suho…" Suho mendengar lirihan orang di sampingnya. Di sampingnya? Minseok. "Firasatku tak enak."
.
.
.
Kini tinggal Baekhyun dan Lay yang berada dalam ruangan senyap itu. Sahabat serta majikan mereka sudah pergi dan mungkin terlelap menikmati la la land mereka.
"Hyung…" Lay menoleh mendengar Baekhyun memanggilnya. Siapa lagi 'hyung' yang dimaksud Baekhyun, pasti dirinya. Mereka hanya berdua disini. Baekhyun tak kunjung melanjutkan kalimat berikutnya. Membuat Lay memandangnya aneh.
"Aku… berbuat kesalahan ya?"
Lay tersenyum lembut. Ia menyayangi semua sahabatnya seperti keluarga. Jadi ini alasan Baekhyun si cerewet diam dan tak meledak-ledak setelah menyetujui penawaran Jongdae. "Tidak."
Baekhyun menoleh pada Lay dengan heran. Harusnya Lay memarahinya bukan tersenyum lembut seperti yang ia lihat. "Tapi karena mulut nakal ku ini, kalian tersiksa."
"Bukankah ini janji kita? HIDUP BERSAMA. TERUS BERSAMA. SELAMANYA BERSAMA."
Bibir cherry Baekhyun melengkung indah. Ia kenal janji itu. Tak mungkin melupakannya. Karena dirinya sendiri yang menulis janji itu, memasukkannya dalam botol PERSAHABATAN, dan dia juga yang menguburnya bersama kelima sahabatnya di halaman belakang sekolah dasar mereka dulu. Terpujilah Lay yang masih mengingatnya.
"HIDUP BERSAMA, TERUS BERSAMA, SELAMANYA BERSAMA."
!*::::*! TBC !*::::*!
TBC dengan gaje-nya _._ Mianhae kalo kepanjangan dan readers jadi gak puas sama ff denra ini. Jan lupa tinggalin jejak ne. Soalnya yang denra tau, viewers-nya 1k+ tapi yang nge-comment cuman 30+. Semoga readers berkesan ninggalin comment buat jadi penyemangat denra ngelanjutin ff ini. Oh ya, Chapter depan NC HunKai ne. Yang ngerasa HunKai hard shipper atau uke!Kai hard shipper, boleh berteman gak? Via twitter? Follow aja denra_ . Denra autofollback kok. Soalnya denra gak punya temen uke!Kai shipper. Kesepian deh. Bubay readers, See You~ ^^
-317-
