Wolves VS Growl / Chap. 3

Annyeong… Ini dia chapter 'Wolves VS Growl' yang Denra janji'in. Tapi ga yakin juga. Menurut Denra ini kurang hawt dan BDSM-nya kurang nge-feel. Maklum pengalaman pertama Denra ini. Dilarang keras plagiat. Tapi kalau ff Denra menginspirasi someone, tolong dibikin jangan terlalu mirip ne chingu. Terus cantumin nama Denra kalau bisa kkkkk~ #DenraNgayal

!*::::*! Happy Reading !*::::*!

"Ugh…" Jongin mengomel pelan setelah Sehun membawanya ke sebuah kamar. Tangannya merah. Dan ini semua karena Sehun bodoh itu.

Jongin mendongak menyisir pada design kamar yang mewah dan unik disaat bersamaan. Nuansa coklat sangat mencolok. Ranjang King Size, sofa beludru, jendela lebar yang tertutup tirai, sangat sederhana namun menarik.

"Ini kamarku?" tanya Jongin polos. Tangan kirinya masih mengelus tangan kanan yang memerah tadi. Merasa tak ada sahutan Jongin beralih menatap Sehun.

"Kamarku." jawab Sehun akhirnya saat Jongin melihatnya langsung. Duduk di sofa dengan posisi arrogant, menopang kaki kanan pada kaki kirinya, tangan diletakkan di dagu dengan siku yang menyangga pada tangan sofa, tatapan intens pada Jongin, Sehun tau Jongin menyadari itu.

"Lalu dimana kamarku?" Jongin mendelik, menghindari tatapan Sehun. Mungkin saja disini ada pintu yang menghubungkan kamarnya dengan sang majikan. Ah, seperti komik Conan yang ia baca? Buang khayalan itu, Kim Jongin u,u

"Disini." singkat tapi padat, itu ciri khas kalimat Sehun. Jongin berbalik menatap Sehun bingung. Tadi anak itu mengatakan ini kamarnya, itu berarti bukan kamar Jongin kan? Sekarang Sehun mengatakan ini adalah kamar Jongin. Otak Sehun bermasalah?

Jongin menghela nafas dalam. Ia paham sekarang. "Hahh~ Menjauhlah, aku akan tidur di sofa sekarang."

Sehun tak mengerti. Namun tetap tak tersirat dari wajah dinginnya. Jongin salah paham. Anak ini polos atau bodoh? Atau keduanya?

"Kau tak mengerti arti perjanjian itu?"

"Aku mengerti, tentu saja. Memangnya apa lagi? Aku ini milikmu. Jadi aku harus mengikuti apa kehendakmu kan? Layaknya pembantu. Dan aku paham kau menyuruhku tidur di sofa."

Oke, kesimpulannya Jongin itu BODOH. Tambahkan lagi, Jongin yang TAK PEKA. Bukan Sehun namanya jika tak punya rencana kedua. Sehun berdiri dari sofa, senyum licik terpatri jelas di wajahnya. Kemudian berjalan menuju tempat tidur, merebahkan tubuh jangkungnya. Lalu menatap Jongin yang sedari tadi memeperhatikan gerak-gerik Sehun. Bagaimana tak heran melihat Oh Sehun si dingin, tiduran dengan posisi menyamping juga kepala yang bertumpu pada satu tangan bak model di majalah wanita.

"Permintaan pertamaku, kau harus tidur disini."

Jongin terbelalak kaget saat kalimat Sehun berakhir. "Tidak, kau pikir aku apa. Aku straight oke? Aku masih mencintai Naeun-"

"Orang yang telah lenyap." Sehun menambahkan. "Oh, ayolah Kim Jonginnie. Kau tak ingin istirahat, bby?"

Jongin mendengus kasar seraya berjalan kearah Sehun. Merebahkan tubuhnya yang lumayan pendek dibanding Sehun. Awalnya wajar, hanya sebatas berbaring menghadap langit kamar berdua. Tapi ketika Sehun menarik dan memeluknya possesif, kata wajar mungkin harus dihapus.

Jongin tak berontak maupun membalas. Tubuhnya menegang dalam dekapan Sehun. Berkali-kali Sehun menghirup aroma coklat rambut Jongin yang memabukkan. Itu membuat Jongin risih sendiri.

"Oh Sehun, lepaskan aku." Gumamnya teredam dalam kepossesifan Sehun.

"Kau tau, Jonginnie? Tak pantas membicarakan orang yang tak penting dari segi apapun, bby~"

Jongin mendorong dada Sehun kuat, sekiranya mampu melepaskan diri. "Dengar, Naeun penting bagiku. Semua karena kau. Aku tak mungkin disini jika bukan karena kau. Dan berhenti memanggilku seperti itu. Menjijikan, aku straight, bitch."

Panas! Sehun mungkin cemburu mendengarnya. Kali ini Sehun akan memakai rencana ketiga, yang tiba-tiba melintas di otak cerdas itu. Wait… Cemburu?

Sejenak saling menatap satu sama lain. Dengan kasar Sehun mendorong tengkuk Jongin mendekat. Jongin terlambat menghindarinya, hingga terciptalah ciuman sepihak nan kasar itu.

Ciuman mungkin hal tabu bagi Jongin, tapi tak pernah terpikirkan sekalipun namja lah yang menciumnya pertama kali. Sehun asyik melumat kasar bibir kissable Jongin. Oh, bibirnya manis, batin Sehun. Sehun ingin lebih, tapi Jongin tak pernah mengikuti alur itu. Jongin malah sibuk mendorong Sehun dengan tangannya juga menendang-nendang angin. Tak sadarkah kelakuannya semakin meningkatkan libido Oh Sehun? Kakinya terus bergerak dan tak sengaja menggesek junior Sehun. Bagi Jongin mungkin biasa saja, tapi bagi Sehun seperti ada kenikmatan yang mengalir.

Terus saja melumat, menggigit, menghisap keras bibir Jongin, Sehun berharap Jongin membalasnya. Sehun sadar Jongin tak suka dan sepertinya hanya dengan kekerasan Jongin akan takluk.

Tangan Sehun meremas kuat butt Jongin bersamaan dengan tangan lain yang menjambak surai hitam Jongin.

"Akh-mmmpphhhh"

Sehun berhasil meruntuhkan pertahanan Jongin. Kini lidahnya mengeksplorasi berbagai penghuni di goa hangat itu. Gigi, langit-langit, Sehun sudah mengabsennya satu persatu. Tangan Jongin kembali memukul-mukul badan Sehun. Cepat-cepat Sehun membalik tubuhnya menindih Jongin.

"Ouchh…"

Kenikmatan kembali menyengat Sehun kala junior mereka bergesekan. Sementara Jongin membelalakkan mata merasa sesuatu milik Sehun menusuk daerah selangkangannya. Pagutan itu terlepas, menyisakan benang saliva yang…..entahlah milik siapa. Sehun tak terlalu memikirkan itu.

Dilihat Jongin kebawah, milik Sehun sudah tegang sempurna. Apa ini? Orientasi Sehun menyimpang? Tak pernah Jongin mendapati mimpi buruk selain ini. Selama ini Jongin pikir Sehun hanya bercanda memanggilnya 'bby' dengan niat menggoda saja. Sementara miliknya masih tertidur lelap di dalam sana. Serius, ia tak mungkin tegang karena namja. Jongin straight, dan ia yakin 100% akan itu.

"Hahh… Hahh… Sehun, kau…-"

"Oh~ Urmm~ Jonginnie… Inih nikhmath… Ah~" racau Sehun yang dengan sengaja menggesekkan terus junior keduanya meski celana masih membungkus rapi. Jongin mulai merasa sarang lebah memenuhi perutnya. Tidak, orientasinya tak boleh seperti ini. Ia tak menginginkan ini. Sudah seharusnya Jongin menolak.

"Hentikan, b-bodoh." Jongin menendang-nendang kakinya. Percuma, itu semakin membuat Sehun menemukan kenikmatannya. Sehun beranjak menjamah leher jenjang Jongin. Menghisap, menggigit kuat hingga menimbulkan tanda kemerahan disana.

"S-sehun s-stop it… H-Hentikan… kumohon." pinta Jongin memelas. Air mata mulai menitik di kedua manik kelam Jongin. Tak seperti yang ia bayangkan, ini keterlaluan. Perlukah berteriak, ia NORMAL!

"AKH!"

Jongin meringis hebat ketika Sehun menyesap titik sensitif lehernya. Tangannya yang berada di bahu Sehun, semakin mendorongnya kuat. Merasa terganggu Sehun menarik tangan Jongin tanpa menghentikan aktifitas mari-menikmati-leher-Jongin itu. Jongin mengutuk dasi sekolah Sehun yang berada dekat dengan mereka. Tentu sebagai alat mengikat tangannya.

Bagaimana ceritanya Jongin sudah half naked? Mungkin Sehun merobek kemeja Jongin. Terlihat dari kemeja yang terlempar asal di lantai. Sehun masih setia menikmati pemandangan eksotik di depannya. Kulit coklat dengan peluh yang mengkilat, sungguh menggiurkan Sehun. Dilihatnya Jongin dengan wajah merah, entah karena apa. Nafas yang terengah karena terus memaki dirinya. Tak lupa bibir yang mulai membengkak. Kembali Sehun mencium bibir Jongin dengan kasar. Menggigitnya kuat hingga Jongin kembali membuka mulutnya. Merasa puas, bibir tipis Sehun turun. Dari dagu, leher, dada, memberi banyak kissmark di setiap senti kulit tan Jongin.

Mata evil Sehun menangkap dua buah tonjolan di dada Jongin. Sehun terkekeh dalam hati. Meskipun Jongin tak mengeluarkan desahannya sekalipun, nipple Jongin yang mengeras mampu membuktikan bahwa Jongin sebenarnya terangsang, hanya saja tak mau menerima segala perlakuan Sehun.

Lidah Sehun bermain di sekeliling nipple kanan Jongin, sementara nipple lainnya dimanjakan oleh tangan Sehun. Memilin, mengelus, dan menekan-nekannya. Apalagi saat mulut hangat Sehun menghisap-hisap nipple-nya seperti bayi. Rasanya Jongin gila. Ini nikmat. Tapi mengingat orang di atasnya si Oh –sialan- Sehun, perasaan benci semakin kentara untuk Sehun. Lidah Sehun kembali bergerak, menuju pusar Jongin dan bermain sebentar disana. Kini wajahnya berhadapan tepat dengan junior Jongin yang setengah tegang. Ap- Apa? Junior Jongin tegang? Jongin yang sadarpun menatap horror miliknya. Oh, Jongin mohon ini mimpi. Ia masih normal, HARUS masih normal!

Sehun menyeringai saat sepasang onyx Jongin bertemu dengan hazel-nya. Tangannya mulai bergerak membuka celana Jongin dengan gerakan slow motion, sangat menghayati. Menebak-nebak seindah apa junior Kim Jongin.

"O-Oh, jangan S-sehun. Sehun! Berhenti!"

Jongin meliuk-liukkan badannya di bawah Sehun. Terkesan erotis malah dimata Sehun.

Tak ada sehelai kain yang menutupi tubuh Jongin sekarang. Ia fullnaked. Sehun lah yang berbaik hati membebaskan junior Jongin dan hasilnya?

"WOW!" Sehun berdecak kagum. Sungguh di luar dugaan. Junior Jongin mungil, imut, lucu dengan pre-cum yang mulai keluar. Ini berkali-kali lebih mengesankan di banding pikirannya tentang junior Jongin. Berlebihan? Setidaknya itu menurut Sehun, right?

Tanpa menunggu lama Sehun memasukkan junior Jongin di mulutnya. Seluruhnya, milik Jongin memang mungil ternyata. Mata Sehun melirik raut wajah Jongin. Terlihat jelas Jongin memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya, menahan desahan.

Masih dengan mulut penuh junior Jongin, Sehun berkata. "Mendesahlah, tak usah di tahan."

Jongin menggeleng kuat. Malah semakin merapatkan bibirnya agar suara laknat –menurut Jongin- tak pernah keluar dari bibirnya. Jongin yakin jika ia menuruti perintah itu, Sehun akan semakin bertindak lebih. Dan ia takut.

Merasa kesal, Sehun menggigit junior Jongin gemas. Ia gemas mengapa Jongin tak pernah mendesah untuknya. Kurangkah service Sehun? Hal tadi membuat Jongin mengcengkram erat sprei Sehun. Entah bagaimana tangannya telah bebas dari dasi terkutuk Sehun.

"Kau mulai nakal ya, dasar pembangkang." Sehun terus saja menggigit kecil junior Jongin. Sesekali mengelus paha dalam Jongin. "Mendesah kubilang!"

Jongin semakin kuat menggeleng. Tak berapa lama tubuhnya melengkung. Menikmati bayangan putih orgasme pertamanya. Badannya kembali ambruk dengan mata terpejam. Lelah rasanya.

Tak sadar atas Sehun tengah menyeringai menikmati sperma Jongin yang manis. Bergegas Sehun membuka setiap helaian kain di tubuh putihnya, pada akhirnya Sehun pun ikut fullnaked. Sedangkan Jongin lelah, ia mengantuk. Ia ingin tidur. Dapat Jongin rasakan, kasur ini sedikit bergoyang. Hingga suatu benda, entah apa itu menyentuh permukaan bibir Jongin. Mata Jongin terbuka, dan mendapati junior Sehun di depan wajahnya.

"Buka mulutmu."

"Ap-apa?"

"Tck, buka saja!" bentak Sehun sembari menarik surai Jongin. Berbarengan dengan badannya yang agak menurun agar Jongin bisa mengulum juniornya.

Jongin nyaris tersedak saat junior Sehun masuk tiba-tiba di mulutnya. Rasanya aneh. Wajar, karena Jongin belum pernah merasakan hal semacam ini.

"Ugh~ Ermm~ Khulum terushh…" Sehun berulang kali menaik turunkan badannya. Tak sadar membuat juniornya hampir memasuki tenggorokkan Jongin.

Junior Sehun semakin mengeras. Jongin menyadarinya. Rapat-rapat Jongin menutup matanya saat junior Sehun berkedut hebat. Oh, tidak. Haruskah ia menelan sperma juga layaknya Sehun?

Tidak, tidak, tidak~ Jongin bersyukur Sehun dengan cepat mengeluarkannya sebelum terlambat. Jongin lega. Itu artinya penderitaannya sudah berakhir dan ia bisa tidur sekarang. Jujur saja, Jongin lelah sedari orgasme tadi.

Saat kakinya di buka lebar oleh Sehun, matanya kembali terbuka. Memandang aneh pada Sehun. Apa yang akan Sehun lakukan? Jongin bukan wanita yang bisa dimasukki junior namja kan?

"Sehun…? Apa yang kau lakukan, hey! Aku bukan yeo…ja…" Kata-kata Jongin melambat kala melihat Sehun menggesekkan junior Sehun dengan hole-nya. Uh-Oh Jongin tau yang dimaksud hole namja.

"Inti." desis Sehun. Matanya terpejam rapat, lidahnya membasahi bibir bawahnya. Sehun yakin Jongin masih virgin. Dirinya lah yang merubah orientasi Jongin malam ini. Suaranya serak, terdengar begitu seksi. Tapi tidak bagi Jongin, hal buruk pasti akan terjadi.

"T-tidak. S-sehun ini bukan h-hal baik." Jongin duduk dan mencoba menjauhkan diri dari Sehun. Yang mendapat tatapan 'kau-mau-mati' milik Sehun.

Sehun selalu kasar, itu fakta yang tepat di otak Jongin. Contohnya Sehun dengan sadisnya menarik tubuh Jongin mendekatinya dan-

JLEB!

"ARGGHHHTTT!"

Sehun memasukkan juniornya yang mengeras lengkap berkedut hebat dalam sekali hentakan. Sakit, perih, rasanya seperti badan Jongin terbagi dua.

"S-sehun, hentikan…jebal, i-ini sakit… hiks"

Sehun tuli, ia tak mendengar rintihan Jongin. Bunyi sodokkan Sehun juga selangkangannya yang menabrak butt Jongin, menggema di ruangan itu.

"Ssshhh~ Jonginnie~~ K-Kau sempit sekali, ya Tuhan…" racau Sehun diambang kenikmatan.

"Huks… umma… Huks…"

Jongin terus menangis merasa sakit di bagian bawah badannya. Tiba-tiba saja tangisan itu terhenti, wajahnya menegang, tangannya tak lagi meremas sprei. Titik kenikmatan itu, Sehun menemukannya.

"There? Sshh~ Got it." Sehun kembali meracau diselingi kekehan. "Ahh~ Terus… Isap, bby… Damn, I like it."

Merasa orgasme akan menjemputnya, Sehun membawa tubuh Jongin duduk dan memeluknya possesif. Berharap juniornya tertanam sangat jauh di dalam Jongin, mengeluarkan benih cintanya disana. Ternyata Jongin lebih dulu orgasme, Sehun sangat senang saat Jongin meneriakkan namanya atas kenikmatan ketika orgasme kali ini. Barulah Sehun orgasme dengan balik meneriakkan nama Jongin. Sehun mulai mengatur nafas setelah menikmati orgasme. Senyum kecil terulas saat mendengar dengkuran halus dari namja yang berada dalam dekapannya. Sehun tau Jongin lelah. Dikecupnya sayang kening Jongin, mata, kedua pipi, hidung, lalu bibir manis Jongin. Setelahnya berbisik pelan.

"Kau milikku seutuhnya sekarang dan selamanya, Kim Jongin. HANYA MILIKKU, camkan itu."

Kalimat yang sangat menonjolkan kepossesifan Oh Sehun. Faktanya memang begitu kan?

Saat hendak mengeluarkan juniornya dari hole Jongin, nampak spermanya mengalir dengan anggun di antara paha seksi Jongin. Jujur, bagai waktu berjalan lambat, Sehun melihatnya. Oh, tidak, Sehun tegang lagi. Tak enak jika bermasturbasi di malam hari, apalagi 'mangsa'-mu di depan mata. Terkulai lemas tak berdaya.

Sehun menghela nafas. "Hahh~ Mian, bby. Sepertinya aku harus kembali menerkammu."

Mulailah Sehun menyodokkan lagi junior yang masih berada di dalam Jongin. Spontan mata Jongin membelalak kaget.

"Oh Sehun! Apa lagi ini?!"

"Kajja, bermain beberapa ronde lagi. Aku belum puas, bby."

"B-berhenti memanggilku seperti itu. Akh!"

Lagi-lagi desahan dan hawa panas memenuhi kamar tuan muda Oh ini.

.

.

.

Suara cicitan burung seakan memekakkan telinga. Sinar pagi menembus salah satu kamar di rumah bertema castle tersebut. Menyebabkan pergerakan kecil dari salah satu namja diantaranya.

"Eungh~"

Jongin mengerjapkan matanya lucu. Meskipun sinar seakan mengoyak iris kelam itu, hanya refleksi dada bidang putihlah yang Jongin lihat sekarang. Oh, sial. Tadi malam bukan mimpi. Pikirannya kembali melayang sesaat beberapa jam lalu. Ya, beberapa jam lalu mereka baru berhenti 'bermain'. Entah berapa kali, yang jelas kamar ini kental akan bau sperma. Jongin menghela nafas berat. Berpikir positif saja, ini takdirnya. Tak ada gunanya mengomel tak jelas, bagaimanapun Sehun sudah mendapatkannya. Tubuhnya tak akan sesuci dulu lagi kan? Lebih baik dia, karena Jongin tak dapat membayangkan hal ini terjadi pada diri Taehyung.

"Lama sekali melamunnya."

Nada menyindir Sehun menyadarkan Jongin dari la la land buatannya. Ia yakin itu Sehun, siapa lagi?

Jongin kembali menghela nafas, lebih panjang dari sebelumnya. Tangannya bergerak melepas tangan Sehun dari pinggangnya. Baru saja menurunkan satu kaki dari ranjang itu…

"Agkh…"

Jongin meringis ketika rasa sakit mendera tubuh bagian selatannya. Melihat hal itu, spontan Sehun terbangun dan membantu Jongin kembali berbaring.

"Gwenchanna, bby?"

PLETAK!

Hore! Sehun mendapat jitakan telak dari Jongin. (/^o^)/

"Ini sakit, bodoh."

Sehun menggaruk rambutnya pelan. "hehehe…Mianhae, aku terlalu kasar ya?"

Jongin mengeluarkan deathglare terbaik untuk Sehun. Ia kesakitan dan Sehun menyengir karenanya? Itu lagi, kasar? Bahkan tergolong memaksa juga memperkosa bagi Jongin.

"Kau minta dibunuh?"

Tanggapan Jongin sangat dingin. Menarik dengusan kasar dari Sehun.

"Tentu tidak, kau tega membunuh kekasihmu sendiri?"

BRUKK!

"MENJAUH DARIKU!" teriak Jongin reflek. Dengan sengaja mendorong Sehun hingga terjatuh menghantam lantai saat tangan itu kembali ingin memeluknya. Jongin dengar ringisan Sehun. Dan ia tak mau peduli itu. Jongin justru lebih sakit dibanding Sehun.

"Iya, aku akan mandi, chagi." Sehun berjalan gontai menuju ruangan lain di kamarnya. Padahal niat awalnya ingin menikmati suasana pagi sambil memeluk Jongin, seperti drama yang ia tonton dengan Luhan. Grrr… mati saja kau Sehun, bawa khayalan tak bermutumu juga -.,-

Jongin bergidik ngeri saat Sehun sudah benar-benar memasukki kamar mandi. Namja es itu kenapa terlihat ekspresif dengannya? Kekasih? Sejak kapan Sehun menjadi kekasihnya? Jongin kembali bergidik saat mengingat panggilan Sehun tadi. Ini mimpi buruk. Atau…kiamat sebentar lagi?

Kembali, Jongin memandangi tubuh polosnya yang tertutup selimut putih tebal milik Sehun. Bercak merah nampak kontras dengan warna tubuhnya. Jongin menghela nafas dalam lagi, tak perlu dilihat, lehernya pasti lebih parah. Tubuhnya saja sampai tak luput dari kissmark Sehun, pasti lehernya…ahh~ sudahlah tak usah dibahas.

.

.

.

"Bby, kau tak usah sekolah ne?" tanya Sehun. Ia sibuk merapikan dasi sekolahnya.

"…"

Merasa tak direspon, badan Sehun berbalik menghadap tempat tidur. Mendapati Jongin yang terlelap lagi dengan wajah polos bak bayi. Bibir Sehun melengkung tipis. Namja ini memang polos, batinnya.

Sehun tertarik mendekati Jongin, sejenak memandanginya. Mengecup bibir merah Jongin lembut. Hanya kecupan penyalur rasa sayang. Mengusap rambut hitam legam Jongin sebentar kemudian merapikan rambut yang hampir menutupi mata indah malaikatnya. Mulut Sehun bergerak menggumamkan sesuatu.

"Mianhae atas semalam, Jonginnie. Aku…

Mencintaimu."

.

.

.

Pagi ini Sehun kembali menjalani hari dengan sosok dingin.

"Hai, Hun…" sapa orang di belakangnya. Ia kenal betul suara siapa ini.

"Hai, Lu…" jawab Sehun malas, membalikkan tubuhnya menghadap Luhan. Kenapa ini? Luhan berdiri di depannya dengan tangan yang bertengger indah di pinggang Minseok? Yang lain juga, Kris dengan Suho, Chanyeol dengan Baekhyun, Jongdae dengan Kyungsoo, juga Tao dengan Lay.

Wajah kelima sahabat Jongin itu nampak tak ikhlas. Hahaha! Sehun tau ini. Tapi ia hanya terkekeh dalam hati, tanpa mengganti tampang stoic miliknya.

"Mana Jongin?" tanya Suho cepat.

Sehun menyeringai. "My bby?"

"Huh?"

Suho dan sahabatnya yang lain mengerutkan kening tak mengerti.

"Kau menyentuhnya?!" geram Minseok.

"Terlalu kasar, jadi ia tak masuk hari ini." ucap Sehun, sejurus kemudian pergi dengan full smirk menghiasi wajahnya.

Baekhyun mendongak, menatap tajam Chanyeol yang lebih tinggi darinya. "Kalian membohongi kami."

"A-aku tidak tau, Baekkie."

Gantian Kyungsoo melakukan hal yang sama pada Jongdae.

"M-mana aku tahu, Dyo."

Giliran Suho yang mendongak, menyipitkan mata pada Kris.

"Itu ulah Sehun, kau tak harus marah padaku kan, honey?" respon Kris masih dengan tanpa ekspresi.

Lay juga seperti itu, tapi… Tao kelewat dingin untuk menanggapi Lay, atau ia tak sadar?

Sebelum Minseok melakukan itu, Luhan sudah angkat tangan lebih dulu dan menggeleng kuat. "Aku tidak tahu apa-apa, Baozi."

Minseok mendengus kesal. Aku tahu, batinnya berbicara. Tak menyia-nyiakan kesempatan saat Luhan melepas rangkulan itu, Minseok berjalan jauh dari 'WOLVES', berhadapan dengan mereka. Suho, Baekhyun, Kyungsoo, dan Lay mengekor di belakangnya. Telunjuk mereka terangkat lurus mengarah pada majikan masing-masing.

"Kalian!" pekik mereka berbarengan. "Jangan pernah memanggil kami dengan nama konyol seperti itu lagi!"

Lalu melangkahkan kaki menuju kelas mereka masing-masing. 'WOLVES', mereka tercengang mendengarnya. Meski beberapa tak menampakkan tampang cengo. Hanya Jongdae, Luhan dan Chanyeol yang menganga lebar. Terutama Chanyeol.

Semuanya membatin serempak,

'Mereka ngambek?"

.

.

.

Maybach Exelero biru Sehun terparkir indah di pekarangan rumah beraura hitam ini. Sambil bersiul ia berjalan santai memasuki rumah megahnya.

TAP

Langkah besar Sehun terhenti tak jauh dari mobilnya. Semua karena rasa heran melihat mobil sang ibu juga terparkir di perkarangan rumahnya. Ah mungkin orang tuanya sudah pulang dari China, pikirnya santai dan kembali melanjutkan langkahnya.

"Aku pulang!"

Teriak Sehun saat memasuki rumahnya. Hal pertama yang ia lihat, sang ibu sudah duduk santai di ruang tengah, serta majalah bisnis yang tergenggam erat di tangannya. Benarkan, orang tuanya pasti pulang.

"Sudah pulang?" tanya sang ibu singkat. Sehun berjalan menuju dapur guna mencari minuman, ia haus. Kemudian mendudukkan diri di samping namja manis itu.

"Hn"

Tak ada percakapan di antaranya. Sehun dan Donghae –sang umma- sebenarnya akrab, sangat akrab. Tapi entahlah, sepertinya pikiran sang umma sedang kacau. Dan Sehun tak mau membangkitkan sisi cerewet gila Donghae.

"Oh ya, Sehun!"

Sehun terlonjak kaget, hampir saja jus jeruk miliknya tumpah. Ingin rasanya mengutuk Donghae, tapi ia urungkan. Tak mungkin menyumpahi Donghae, sang ibu.

"Kau ketua osis kan? Apa kau punya data siswa di sekolahmu?"

Sehun mengangguk dengan dahi mengernyit. Kenapa umma-nya mengungkit hal tak penting seperti ini?

"Dimana? Apa ada di kamarmu?" tanya Donghae lagi berdiri dan berjalan ke kamar Sehun.

"Hn. Letaknya di nakas dekat tempat tidurku." jawab Sehun acuh sembari menutup matanya. Menikmati asam jeruk mengalir di tenggorokannya.

Sejurus kemudian, matanya melotot horror. Ia mengedarkan pandangan ke arah pintu kamar.

"UMMA! JANGAN!"

CKLEK

Terlambat, Sehun terlambat. Donghae sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya dan… Sehun 1000% yakin neraka menunggunya.

"OH SEHHUUUUUNNNNNN!"

.

.

.

"Jadi…apa yang sudah kalian lakukan, anak muda?"

Sehun dan Jongin duduk bersebelahan menghadapi introgasi Oh Kibum juga Oh Donghae selaku orang tua Sehun. Kibum yang sedang berada di 'kantor', bergegas pulang mendengar pengaduan sang istri.

Jongin semakin menunduk mendengar pertanyaan Kibum. Bagaimana rasanya menjadi Jongin sekarang? Malu? Tentu saja.

"Ah~ Appa jangan pertanyakan itu, nanti bby-ku malu." jawab Sehun dengan tampang yang dibuat-buat. Donghae semakin menyipitkan matanya pada si tunggal Oh ini. Kibum yang memutar kedua bola matanya malas. Jongin yang menatap Sehun heran. Kenapa Sehun jadi 4D begini di depan keluarganya?

"Siapa namanya?" tanya Donghae ketus. Sehun menoleh pada Jongin sejenak, tersenyum tipis. Hazel coklat bertemu Onyx hitam.

"Jongin. Kim Jongin." jawabnya kembali mengalihkan perhatian pada Donghae. Kini giliran Donghae yang memandang Jongin dengan ekspresi yang…sulitlah diartikan.

"Jongin."

Jongin tersadar ia sedang melamun menatapi Sehun. Cepat-cepat ia menanggapi panggilan Donghae dengan sangat canggung. "N-Ne?"

Donghae tersenyum kekanakkan sedetik kemudian. "Kau imut sekali. Panggil aku umma ne?"

"Huh?"

"Dia manis, yeobo. Panggil aku appa juga ne?"

Mulut Jongin terbuka lebar. Jadi… ini orang tua Sehun? Tapikan… Tapikan…

"Semuanya jelas? Ayo, bby, ke kamar." Sehun beranjak pergi, merangkul pinggang Jongin yang masih tak percaya. Sama sekali tak menyadari Sehun mengajaknya kembali ke kamar.

PLETAK!

"AWW!" ringis Sehun keras. Pasalnya sebuah majalah tebal mendarat dengan sempurna di kepalanya.

"Jongin tidur dengan umma. Kalian tak boleh sekamar sebelum menikah." Donghae berucap.

"MWO?! MENIKAH?!"

Eum… Kurasa kalian tau satu-satunya orang yang memekik kaget. Yep, Jongin~!

.

.

.

Riuhnya taman seakan menenggelamkan dua sosok namja yang dengan santainya berjalan. Salah satunya dengan surai berwarna coklat yang terus menjilati es krim miliknya. Wajahnya mengatakan 70% jengkel dan 30% bosan. Menurutmu apa itu tergolong mood baik? Tentu saja tidak. Lihatlah bibirnya yang maju beberapa senti akibat namja disampingnya. Ya, namja berambut peach yang menyebalkan di sampingnya.

"Luhan, jika kau ingin berkeliling taman saja, kumohon jangan aku yang kau ajak." ucap Minseok memelas. Mungkin ini sudah mencapai titik kejengahan Minseok.

Luhan menoleh pada namja imut di sampingnya, sementara lidah Luhan terus saja mencicipi es krim vanilla miliknya. "Kita tidak hanya berkeliling. Kita membeli es krim."

"Oh, Tuhan…" Minseok menarik nafasnya dalam-dalam. Memalukan jika harus meledak disini. Setidaknya Minseok pikir begitu. "Bukankah di dekat apartemen-mu ada mini market? Lalu kenapa kau tak membeli es krim disana saja, Luhan?"

Satu alis Luhan naik. Tak lupa jari telunjuk yang ia letakkan di dagu seolah-olah dirinya sedang berpikir serius. "Eumm….."

Minseok tercekat kala melihat kilatan binar di mata rusa Luhan. A-ah, tidak…. Minseok tau sekarang.

"Kurasa kita sedang ken-"

"Hentikan!"

Minseok memenggal kalimat Luhan begitu saja.

"Ne?" tanya Luhan bingung.

"M-mungkin kau salah paham, Luhan. Begini, bukankah aku ini budakmu?" Luhan mengangguk mantap guna merespon Minseok. "Nah, kau sendiri tau itu. Hanya sebatas budak dan majikan. So, kita tidak punya hubungan seperti yang kau maksud, right?"

"Memang." Luhan mengangguk samar menyetujui pendapat Minseok. Smirk menakutkan kini terpatri indah di wajahnya –menurut Minseok-. "Tapi mulai hari ini, aku akan merubahnya."

Minseok hanya mampu melotot horror ketika kalimat itu menyapa telinganya. Masuk begitu tajam tanpa permisi. Belum lagi ketika Luhan menyeretnya ke sebuah counter permainan di taman itu. Minseok yakin, dia lebih mirip Kyungsoo sekarang dengan mata bulatnya. Permainan dengan aturan jika kau menembak salah satu dari reflika tupai yang bergerak laju, maka kau akan mendapat boneka Teddy Bear lucu. Setau Minseok ini permainan saat seorang namja dan yeoja berkencan. Minseok pernah menontonnya di salah satu drama. Dalam benaknya Minseok juga ingin seperti ini. Tapi tidak dengan namja, terutama Luhan.

Luhan mulai membidik tupai incaran yang akan ia tembak dan….. tembakan Luhan tepat. Ahjussi penjaga counter mengucapkan selamat dan memberikan Teddy Bear biru yah… lumayan besar lah untuk dipeluk.

"Ige, untukmu." Luhan menyodorkan sang boneka pada Minseok dengan senyum teramat tulus.

Ragu-ragu Minseok mengambil pemberian Luhan. "Gomapta."

"Cheonma, nae namja~"

"Ya! Aku bukan namjachingumu!" desis Minseok.

"Tidak bisa. Kau namjachingu-ku sekarang."

"Kau waras?" sindir Minseok. "Ahh, Okey then I'm TOP."

"No No! Aku seme, kau uke."

"Tidak mau. Aku juga ingin-"

"Kau uke, titik. Atau kau ingin kuperkosa disini?"

"…."

Minseok mengantupkan mulutnya seketika. Luar biasa ancaman Luhan ternyata .-.

"Kau ingin kemana lagi?"

"Em?" Minseok menggedikan bahunya sekilas.

"Kesana saja, otte?" Luhan menunjuk ayunan di dekat pohon ek. Tangannya mengamit tangan Minseok lembut seraya membawanya ke tempat yang dimaksud. Bermain ayunan bersama dan sedikit banyak tertawa. Minseok sadar sekarang. Luhan punya sisi lain di hidupnya.

"Luhan-ssi?"

Luhan dan Minseok serempak menatap heran yeoja dengan proporsional tubuh yang bagus dan juga rambut panjang yang tergerai.

"Nuguseyo?" tanya Luhan akhirnya setelah lama terdiam.

"Aku. Oppa lupa?" Yeoja itu menunjuk dirinya sendiri. "Aku, Park Chorong."

Raut wajah Luhan memburuk dengan cepat. Park Chorong, yeoja yang termasuk daftar nama mantan selama ia hidup. Dan Minseok menangkap jelas perubahan sinar pada mata Luhan. Tak butuh waktu lama menyimpulkan keadaan ini. Dari kegugupan yang nampak kentara pada wajah Luhan, Minseok tau hubungan mereka.

Minseok mendecih pelan membuat namja China disampingnya menoleh. Tapi Minseok menghiraukan tatapan Luhan. Mata rubahnya hanya terfokus pada yeoja bermarga Park tadi. Dengan sangat yakin dirinya mengulurkan tangan untuk berkenalan. Yeoja itu membalas uluran tangannya dengan senyum manis setiap yeoja.

"Perkenalkan, Aku Kim Minseok." Minseok beralih menatap Luhan dengan remeh. "Teman Luhan."

"Aku Park Chorong. Masa lalu Luhan."

Setelah tautan tangan itu terlepas, Minseok berdiri. Berpura-pura menyibukkan diri dengan debu yang menempel di bajunya, mengibasnya pelan hingga hilang. "Sepertinya aku harus pergi. Sampai berjumpa lagi, Luhan."

Langkah kakinya mengantar jauh dari Luhan dan Chorong. Meninggalkan tatapan bersalah Luhan beserta boneka yang tergeletak tak jauh dari ayunan Minseok sebelumnya.

.

.

.

Minseok berjalan tak tentu arah. Menjauhi keramaian taman dan menendang semua kerikil di dekatnya. Bibir tipis yang terus saja mengomel tak jelas, ikut melengkapi kekesalannya. Minseok tak cemburu, pasti tidak. Minseok hanya kesal ia dibohongi.

Langkahnya terhenti kala seseorang dari belakang memeluknya dengan tiba-tiba. Juga mata yang spontan melotot. Sebenarnya bukan hanya orang itu. Tapi ia membawa boneka, sehingga orang itu terlihat memeluk dua benda sekaligus. Manusia dan boneka.

"Kenapa kau pergi eum?"

Minseok menghela nafas berat. "Lepas, Lu."

"Kau cemburu ne?"

"Tidak. SA-MA SE-KA-LI."

"Jujur saja."

"Tidak."

"Love ya~"

CHUP!

Luhan mengecup pipi Minseok kilat. Mengundang beberapa rona merah di sekitar pipi gempil Minseok. Matanya kembali membulat kaget. Bagai terhipnotis, tubuhnya sangat mudah untuk dibalikkan menghadap Luhan.

"….."

"Love you, nae baozi~"

Tangan Minseok mendorong bahu Luhan kuat, seakan menyuruhnya menjauh. "Jangan mendekat!"

Minseok berbalik meninggalkan Luhan dengan hentakan kaki yang saling beradu. Membuat Luhan terkikik geli melihat tingkah imut Minseok. Tak selang berapa lama, namja China itu berlari kecil mengejar sang malaikat.

"Ya~! Baozi-ah, chamkkaman."

,

.

.

Someone call the doctor nal butjapgo malhaejwo

Sarangeun gyeolguk jungdok overdose

Sigani jinalsurok tongjedo himdeureojyeo

Jeomjeom gipsugi ppajyeoganda

E~oh too much~ neoya~ your love~

Igeon overdose

Too much~ neoya~ your love~

Igeon overdose

"Suho! Matikan ponsel bodohmu itu!" perintah Kris. Ia mengacak rambutnya kasar. Kegiatannya 'membaca buku' terganggu hanya karena sebuah ponsel bodoh yang… Kris bahkan bisa membelinya beratus-ratus jika Suho memintanya.

"Dia tidak bodoh, oke? Kau yang bodoh, Laxy." ucap Suho ketus.

Kris berusaha acuh dan kembali menekuni kegiatan sebelumnya. Suho sedikit menjauhi Kris, takut-takut makhluk itu mendengar percakapannya dengan… siapa ini? Suho melihat nama penelpon itu. Ah ya, Taehyung. Suho tersenyum senang melihat Taehyung menghubunginya. Semenjak pindah, koreksi DIPINDAH PAKSA ke apartemen Kris, ia jarang sekali bertemu adik sepupunya itu. Ia rindu Taehyung, juga… Jongin.

"Yeoboseyo?"

"Nae, Taehyung-ah. Bogoshippo, Tae~"

Kris spontan melirik Suho dengan aura hitam menguar di sekililingnya. Sebenarnya Kris tau yang dimaksud 'Tae' oleh Suho itu Taehyung, adik Jongin. Dalam arti kata sepupu Suho. Tak mungkin Suho incest, gay saja tidak.

"Nado Hyung, jeongmal bogoshipta~"

"Kau menelponku, ada apa?"

"Hanya ingin bertanya, hyung. Jikalau appa dan umma kembali ke Korea, apa yang akan kita jelaskan tentang masalah Jonginnie hyung?"

Sementara di seberang Taehyung tengah mengigiti jarinya, gugup. Taehyung sadar lambat laun Suho akan menjerit terkejut, tapi berbasa-basi sebentar tak ada salahnya kan?

"Haha~ Kau khawatir Tae? Tenang saja, orang tua kalian masih sibuk di Paris bukan?"

"Aku tau, hyung. Aku kan hanya bertanya, JIKALAU itu benar bagaimana?"

"Ehmm… Mungkin mengatakan dia study tour? Aku belum memikirkannya, Tae."

Kali ini kalimat Suho terdengar tanpa keyakinan.

"Ah, Aku lapar, honey!"

Itu bukan suara Taehyung. Suara Taehyung tak seberat ini. Suho mendelik tajam pada Kris. Dasar pengganggu, cibirnya dalam hati.

"Hyung? Itu Kris hyung ya? Mian, aku menganggu kalian."

"Ah, tidak begitu, Tae. Hyung senang kau menghubungiku. Tapi Kris minta makan, rumput untuk makannya belum disiapkan."

Suho kesal, Kris juga kesal. Oh, NO! Pertarungan sebentar lagi terjadi. Setelah memutuskan sambungan dengan Taehyung, Suho mengajak Kris makan malam. Meski tak bisa disebut mengajak juga sih.

"Kau buta?"

"Hm?"

Suho bingung menanggapi tema pembicaraan yang Kris lontarkan. Tak adakah bahan lain? Yang sekiranya tak menyinggung dirinya? Dan untuk apa tersinggung, Suho tidak buta. Ugh, mungkin virus dua sepupunya menular pada otak Suho.

"Kau mengatakan aku makan rumput tadi. Kau lihatkan, sekarang aku sedang makan makanan manusia? Berarti kau buta mengatakan aku makan rumput." jelas Kris.

Tunggu… Otak Suho butuh waktu lama mencerna penjelasaan Kris. Baru kali ini Kris berbicara panjang lebar semenjak mereka bertemu, berkelahi, dan sekarang terjebak permainan 'budak-budakkan'. Jujur, sedikit takjub Suho menanggapi. Padahal di otaknya penuh dengan penjelasaan Kris yang seolah berputar-putar itu. Suho menyimpulkan, Kris itu berkata singkat namun jelas, sekalinya panjang malah tak jelas. Payah.

Saking asyiknya memikirkan hal yang sebenarnya tak penting, Suho tak menyadari pergerakkan Kris. Ia baru sadar saat benda kenyal milik Kris jatuh tepat di bibirnya.

"Hmmppht-"

Kris mulai melumat bibir Suho pelan. Menjilati bibir bawah Suho hingga sang empunya melenguh dan memberikan akses masuk untuk Kris. Segera Kris melesakkan potongan wortel yang entah bagaimana tersimpan di mulutnya. Memakannya bersama dalam pagutan yang tak kunjung lepas.

Kris berbisik lirih dengan suara baritone yang begitu mendalam setelah memutus ciuman itu. "Aku tak makan rumput kan, honey?"

Muka Suho memerah tanpa sebab, nafasnya terengah tak teratur. Suho heran dengan Kris. Ada apa dengannya? Asdfghjk! Suho sangat dongkol Kris hanya membalasnya dengan senyum simpul lalu kembali melahap makanannya sendiri.

"Kuharap kau mati sekarang, Kris."

"Pfftt-" Kris menahan tawanya agar tak tersedak saat makan. "Sebelum itu, aku akan 'memakanmu' dulu, honey. RAWR~"

Bayangkan muka shock Suho yang diatas kata 'derp' itu. Suho terdiam sejenak sebelum memijat pelipisnya pelan. Kris mendongak bingung saat Suho beranjak dari kursinya.

"Aku harus pulang."

Gumaman Suho terdengar di telinga Kris, namun ia terus mempertahankan kesan 'Coldy Wu' miliknya. "Rumahmu disini, honey."

"Tidak. Bahaya jika aku terus disini." Suho menggumam pelan, berusaha mensugesti dirinya dari Kris Wu. Dan sepertinya berhasil. Karena Suho melemparkan deathglare pada Kris sekarang. "Berhenti memanggilku seperti itu! Aku bukan MADU-MU, tiang!"

Suho hampir melangkahkan kakinya untuk mengemasi barang-barangnya lalu pergi dari sini. Rencana itu akan berhasil jika saja Kris tak menahan lengannya.

"Tenanglah, aku bercanda."

Suho kembali merasa tenang, kembali pula melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Hening, tak ada lagi pembicaraan. Sampai akhirnya ponsel Suho kembali berbunyi, melantunkan OVERDOSE lagi. Keduanya mendecak sebal karena terkejut.

Tapi sedetik kemudian dahi Suho mengernyit.

'Kim ahjussi? Untuk apa menghubungiku?'

"Kenapa tak di angkat?" interupsi Kris menyadarkan Suho.

"Ah, ne. Chamkkaman." Suho menekan tombol hijau di ponsel itu, kemudian mendekatkan ponselnya ke telinga.

"Yeoboseyo, Suho-ah?"

"Nae, ahjussi. Waeyo?"

"Aniyo, kami hanya ingin memberitahu bahwa besok kami akan kembali ke Korea."

DEG!

Kris dapat melihat gelagat panik Suho saat ini.

"J-jinjja?"

"Ne, maka dari itu, ahjussi dan ahjumma sangat ingin kau, beserta Jongin dan Taehyung menjemput kami di bandara besok. Apa kau keberatan?"

"Tidak sama sekali, ahjussi. Kami bertiga akan menjemput kalian. Kira-kira jam berapa ne?"

"Sekitar jam 2 siang."

"Nanti akan kami jemput ahjussi."

"Baiklah, ahjussi tutup ne."

"Ne."

Pip!

"Kenapa?" tanya Kris penasaran. Suho menoleh putus asa.

"Besok, appa dan umma Jongin datang, Kris. Ige waeyo?!"

"Hah?"

.

.

.

"Baekhyun, masakan makan malam. Aku ingin nasi goreng kimchi, jajangmyun, yangnyeom dan bosam. Palliwa!"

Baekhyun mendengus saat perintah Chanyeol menyapa telinganya. Bibir mungilnya terus saja mengumpat Chanyeol. "Nasi goreng kimchi, jajangmyun, yangnyeom and bla bla bla…. Dia pikir perutnya sebesar lapangan bola? Dasar, rakus."

Bayangkan saja, belum selesai dirinya mengerjakan PR Chanyeol, sekarang disuruh memasak makan malam. Astaga, jujur saja Baekhyun berpikir majikannya bukanlah seorang manusia. Kalaupun manusia, pasti Chanyeol lahir tanpa hati. Tega sekali menyuruh Baekhyun tanpa istirahat.

Chanyeol menghampiri Baekhyun yang masih terus mencoba serius dengan PR Chanyeol di ruang tengah dan bertanya dengan nada polos yang dibuat-buat. "Baek, kenapa kau masih disini? Bukannya aku menyuruhmu memasak ya?"

"Hwa~ Aku lelah, Yeol. PR-mu saja belum selesai." keluh Baekhyun seraya merebahkan kepalanya di sofa. Berusaha merilekskan lehernya yang pegal sehabis mengerjakan PR Kimia Chanyeol.

"Sudahlah. Kau memasak saja. Biar aku yang mengerjakannya."

Baekhyun menegakkan badan saking terkejutnya. "Benarkah?"

"Iya, aku bisa melakukannya sendiri."

Baekhyun memekik dalam hati. Setidaknya tugas Baekhyun berkurang. Sementara Chanyeol tersenyum melihat tingkah Baekhyun dan menggantikan tempat Baekhyun sebelumnya. Dengan riangnya, Baekhyun berjalan –setengah meloncat- menuju dapur. Tapi….. tunggu.

"Yeol, ada masalah lain."

Chanyeol menoleh mendengar perkataan Baekhyun. "Ada apa?"

"Aku tidak bisa memasak."

+A+"

Mungkin begitulah ekspresi Chanyeol sekarang. Chanyeol berdiri dari duduknya bersamaan dengan hembusan nafas kasar yang keluar dari bibir namja jangkung ini. Kakinya melangkah semakin dekat dengan Baekhyun. Setelahnya mendorong namja putih itu ke arah dapur. "Baiklah, kita masak bersama."

"Kau bisa memasak?" tanya Baekhyun setelah sampai di dapur apartemen Chanyeol.

"Tak terlalu pandai."

"Eumm… Kau ingin nasi goreng kimchi, jajangmyun, yangnyeom, dan bosam kan? Kita mulai dari bosam saja dulu, itu lebih mudah." ucap Baekhyun. Tangannya bergerak memainkan sebuah lobak. Chanyeol membeku seketika. Membuat Baekhyun bingung dengannya. "Wae?"

"Baek, aku hanya bisa memasak nasi goreng kimchi."

x_x?

Kali ini ekspresi Baekhyun. Baekhyun menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali. "Huh~ Yasudah."

Dimulailah sesi memasak bersama kedua Happy Virus Wolves dan Growl ini. Dengan tingkah kekonyolan Chanyeol juga mulut cerewet Baekhyun yang terus mengomentari masakan Chanyeol. Terlalu asin, tak ada rasanya, dan semacamnya. Atmosfir dapur sangat ceria kala itu. Baekhyun berpikir ulang. Mungkin ia harus menarik kembali kata-kata 'Chanyeol bukan manusia atau manusia tanpa hati'. Ternyata semua itu salah. Chanyeol orang yang hangat. Sampai akhirnya acara memasak mereka berakhir dan menghasilkan nasi goreng berwarna…. ugh, coklat.

"Yeol, sepertinya kau terlalu banyak memasukkan kecap tadi."

"Ah~ Yang penting bisa dimakan dan kita kenyang." Baekhyun mengangguk sebagai respon.

Peduli apa, mereka berdua tak lebih dari remaja yang miskin pengetahuan memasak.

.

.

.

"Jongdae!"

"Ne~" jawab Jongdae agak keras sembari menghampiri Kyungsoo di meja makan.

"Makanan sudah siap." Kyungsoo bergerak merapikan meja makan.

Senyum Jongdae mengembang saat melihat masakan buatan Kyungsoo. "Sesuai permintaan?"

"Begitulah. Kimbap tanpa cuka dan ikan tuna yang diganti dengan hanwoo."

Jongdae mengangguk pelan lalu menarik kursi dan mendudukkan dirinya disana. Tangannya dengan lihai memakai sumpit untuk mengambil Kimbap dan memasukkannya dalam mulut. "Eumm~ Masitta~"

Kyungsoo tersenyum lembut mendengar komentar Jongdae. Ia ikut bergabung memakan kimbap. Eumm~ Memang enak, pantas saja Jongdae suka. Tapi satu hal mengganggu pikiran Kyungsoo sedari memasak tadi. "Jongdae…" panggil Kyungsoo hati-hati.

"Eumm?" Jongdae berhenti dari kegiatannya memakan kimbap. Sekarang dirinya sedang asyik mengulum sumpit yang berlumuran mayonnaise.

Tanpa menatap Jongdae, Kyungsoo bertanya dengan cepat. "Kenapa kau cerewet sekali dengan kimbap?"

Jongdae mengangkat salah satu alisnya. "Maksudmu dengan hanwoo dan tanpa cuka?"

"Iya, kimbap dengan hanwoo kan terasa aneh. Apalagi tanpa cuka, itu seperti memakan bulgogi dengan sayur dan nasi." jawab Kyungsoo yang ikut-ikutan mengulum sumpit miliknya.

Jongdae tersenyum tipis. Kemudian kembali melanjutkan memakan kimbap. "Aku alergi seafood."

"Ooo~ Dan cuka?"

"Kau tau bukan, aku ini ikut club vocal dan cuka bukan hal yang baik untuk pita suara." Kyungsoo mengangguk mendengar penjelasan Jongdae. "Dyo, aku pernah melihatmu bernyanyi di club-ku."

"UHK! UHK!"

Jongdae refleks memberikan minum untuk Kyungsoo yang tersedak entah apa itu. Yang jelas, Kyungsoo terbatuk hingga matanya berair. "Kau baik?"

"Ya, tak masalah." jawab Kyungsoo setelah minum.

"Oh ya, sampai mana kita tadi. Ah~ iya, aku pernah melihatmu bernyanyi bersama Baekhyun, salah satu anggota club-ku."

"H-hah, saat itu aku akan pulang bersama Baekhyun hyung. Tapi Baek hyung bilang, masih ingin terus berlatih. Jadi aku hanya sedikit membantu."

"Tidak, suara-mu bagus, Dyo. Kenapa kau tak coba ikut club-ku dari dulu?"

"Tak tertarik. Dan lagi, suara-ku tak sebagus milikmu atau Baek hyung."

"Ani, coba saja dulu. Aku akan membantumu, khusus untukmu."

.

.

.

Helaian rambut lembut Lay berterbangan mengikuti aliran angin. Udara dingin musim semi menusuk kulit. Serbuk bunga mungkin saja membuat Lay berkali-kali bersin. Sekarang dirinya tengah terduduk memandang lurus bintang-bintang dari atap apartemen Tao. Ia tak memakai masker. Tak memakai syal, sarung tangan ataupun kaos kaki. Lay hanya memakai celana jeans panjang dengan sweater yang menyelimuti tubuh sensitifnya. Tubuh Lay memang sensitif terhadap musim dingin. Lay akan mudah sakit jika hawa dingin menyerangnya terlalu tajam. Dan ia tau itu, hanya saja mencoba mengesampingkan fakta penting tentang kesehatannya.

Seseorang menempati sisi kosong di sampingnya, menyilangkan kakinya mengikuti Lay. Lay tak mau menoleh, tanpa dilihat, Lay yakin siapa orang itu.

"Orang pintar pasti bisa bodoh. Layaknya kau." ucap orang itu sedingin angin malam. Sangat menusuk.

"Satu hal yang kau harus tau, 'Nobody Perfect' itu nyata." jawab Lay sembari menoleh pada Tao.

Hembusan nafas panjang keluar dari bibir Tao. Tangannya bergerak mengambil kedua tangan Lay dan menempelkan hotpacks di setiap tangan. "Kau tak takut sakit?"

"Iya, tidak juga."

Tao menatap Lay dengan pandangan teduh. "Terkadang kau harus memaklumi takdir. Jika kau terlahir dengan anti-body yang lemah, maka kau harus menjaganya. Arraseo?"

Lay mengangguk sekilas, lalu beralih menatap bintang lagi. Bersamaan dengan Tao yang juga memandang hamparan langit luas berhias bintang.

"Tak ada yang ingin…." Tao terdiam menunggu lanjutan kalimat Lay. "Aku juga tak ingin punya kesehatan yang mudah terganggu."

Tao tersenyum tipis menanggapi. "Memang. Aku juga tak ingin mendapat takdir seperti ini."

"Takdirmu bagus. Ahli wushu, sudah pasti daya tahan tubuhmu tinggi. Lalu apa yang kurang?" Lay memiringkan kepalanya saat bertanya.

Tao menatap Lay kembali. Melempar pandangan pada Lay. Lay bisa menilai dengan sangat jelas maksud pandangan itu. Kesepian. "Kau salah. Takdirku menyeramkan, dan aku membencinya."

.

.

.

Namja dengan wajah ovalnya memandangi foto yang ia pegang. Foto namja lain dengan tubuh jangkung yang tegap. Setelan jas nampak menambah kesan mewah sang namja di foto itu. Saat ini, orang itu sasarannya.

"Hyung~?"

Namja tadi terlonjak kaget mendapati seorang namja muda memakai kursi roda memasuki kamarnya. Namja muda dengan mata yang unik yang baru masuk, menjatuhkan pandangan pada foto yang dipegang sang 'hyung'.

"…."

"H-hyung, kau tak mungkin… Hyung! Sudah kubilang hentikan semua ini!"

"Andwae..!" sergah sang 'hyung'. Kepalanya menggeleng dengan senyum mengerikan. "Dia yang harus mengganti semua kerusakan ini!"

"Hyung! A-aku… aku baik, hyung. Tak usah melakukan bisikan setan di telingamu. Aku tak mau kau berbuat dosa karena aku." Si dongsaeng menghapus pelan air mata yang turun dengan lancar dari matanya dengan lengan baju. Dirinya menangisi apa yang akan dilakukan 'hyung'-nya dan setelahnya.

'Hyung' berjalan mendekati sang adik dan merengkuh tubuh rapuhnya. "Tak apa. Tapi dendam tetaplah dendam. Aku takkan berhenti sampai itu terbayar."

!*::::*! TBC !*::::*!

Gimana? tambah penasaran? Satu hal yang denra sadar, ending chapter ini sangat amat teramat gak jelas. Apaan coba itu? *nunjuk WVSG* Oh, ya… Mianhae… Jeongmal mianhae~ denra gak nepatin janji. Jum'at itu denra gak sempet update. Kebetulan sibuk sama UKK trus hari itu denra ada gladiresik dance buat perpisahan kakak kelas. Jadi ya… gitulah gak sempet ke warnet #ketauan gak modal. Mohon maaf ne. Juga denra gak bisa bales reviewnya satu-satu. Yang udah follow twitter denra, gomawo. sksd aja ama denra, gak papa kok. namanya juga nambah temen, boleh dong. apalagi selera kita sama. Gomawo juga buat yang udah nunggu ff denra dan ngikutin dari awal. oh ya, jan lupa review ne~ terutama siders, ayo tobat dong /.\ Review-nya gratis kok, lagian denra gak bakal gigit :3

denra

-317-