Wolves VS Growl / Chap.4

A/N : Annyeong~ Lama gak ketemu. #bow Tadi mau bilang apa yah? Oh ya, maaf ff ini lebih pendek dan kurang memuaskan. Denra sekarang nulisnya mood-mood-an hehe…Genre ff ini denra ganti jadi Drama & Romance. Soalnya denra gak yakin bisa ngelawak atau gak. Belum les private sama Dodit Oppa/? sih #KorbanStandUpComedy _"_ Dan kalau disini orang tua Jongin sama Tae itu normal, denra udah mikirin gimana caranya supaya ff ini berakhir dengan semua pairing YAOI. Kan denra pernah bilang ini terdiri dari 3 konsep. Konsep pertama udah, nah konsep kedua dan ketiga mau denra gabungin.

Please DLDR, Review bagi yang berkenan, No Bash, dan dimohon jangan mendecih sembarangan. Ya, cuman itu pesen denra. Yang ga mau matanya sakit karena ni ff boleh cari ff lain kok. Males nanggepin orang kek dia ah.. Capek mulut

!*::::*! Happy Reading !*::::*!

"Hyung? Menunggu lama?" tanya Taehyung dengan tampilan kaos v neck lengan panjang berwarna merah, jeans biru muda, sepatu kets abu-abu.

Suho menghela nafas pelan. "Setidaknya tak selama hyung-mu dulu."

"Jongin hyung…mana?"

"Ehmm… Dia tidak ikut. Sehun tidak memperbolehkannya." jawab Suho jujur.

Suho sempat menjemput Jongin, tapi Sehun bilang Jongin sibuk dan tak bisa ikut. Bahkan sebelum Suho bertatap muka dengan sepupu tan-nya itu. Padahal Jongin sudah mengirim pesan padanya bahwa ia ingin ikut. So, sangat jelas apa faktor ketidak hadiran Jongin menjemput Mr. Kim dan Mrs. Kim.

"Aigoo… makhluk itu lagi. Ugh, aku benci dia!" cerocos Taehyung.

"Aku juga!"

Kita bisa lihat api berkibaran diantara dua namja manis ini.

"Hei!"

Suara dari dalam mobil menghentikan mereka sebelum membakar kota Seoul. Mereka menolehkan kepala secara bersamaan.

"Kris hyung?" cicit Taehyung.

"Ya, aku menggantikan Jongin. By the way, Selamat pagi calon adik ipar."

Taehyung cengo seketika. "Hah?"

"Ya! Apa maksudmu?!"

Kris menggedikkan bahunya. "Hanya menyapa. Tak salah kan?"

Suho mendengus mendengar itu.

.

.

.

"Lama tak menghirup udara Seoul ne, yeobo?" celetuk Mr. Kim.

Saat ini mereka –Mr. Kim, Mrs. Kim, Taehyung, Suho,dan Kris- tengah menikmati waktu santai di salah satu café terkenal Seoul.

Mrs. Kim mengangguk. "Geuroem, Myungie."

Kembali pada kegiatan masing-masing. Ada yang sibuk menikmati coffe seperti Mr. Kim. Memakan kentang goreng, layaknya Taehyung. Saling membalas tatapan absurd. Bagaimana tak absurd jika salah satunya menyeringai dan yang lain mengulas deathglare? Itulah yang dilakukan Kris dan Suho. Ah~ couple kita yang satu ini… serius, ini sangat romantis #PLAKK #DenraError

Ada juga yang sibuk memandang aktifitas kota Seoul yang padat di siang hari. Itu aktifitas Mrs. Kim. Ia hanya heran. Selama ini dua anaknya sangat akrab dan termasuk golongan orang baik-baik. Tapi disaat dirinya rindu Jongin dan Taehyung, Jongin tak menemuinya. Apa anaknya berubah hanya karena sebuah pergaulan remaja? Tapi Suho tak berubah, itu membuktikan bahwa Jongin sudah pasti tak berubah.

"Kenapa Jongin tak ikut?" tanya Mrs. Kim.

Taehyung masih terlena dengan makanan bernama 'kentang goreng', sampai tak bisa menjaga mulutnya dan menjawab. "Sehun melarangnya pergi, umma."

Kris dan Suho saling pandang. Kemudian beralih memandang shock Taehyung yang tak menyadari tatapan mereka karena terlalu terpaku dengan 'kentang goreng' tadi. Suho mohon, penyakit pikun Taehyung tak kumat.

"Sehun? Nugu, Tae?" kali ini Mr. Kim bertanya.

Taehyung masih asyik memakan kentang goreng miliknya.

"Itu rivalnya Jongin hyung di sekolah."

Makan.

"Nah Jongin hyung punya kekasih."

Makan.

"Tapi Sehun membuatnya hamil."

Makan.

"Dia membayar namja jalang menghamili kekasih Jongin hyung."

Makan.

"Lalu kekasih Jongin hyung depresi."

Makan.

"Yeoja itu bunuh diri di sekolah."

Makan.

"Jongin hyung marah dan berkelahi dengan genk si Sehun."

Makan.

"Tapi genk Jongin hyung kalah, appa."

Makan.

"Makanya Jonginnie hyung menjadi milik Sehun."

Makan.

"Aku sebenarnya tak mengerti maksudnya 'memiliki'. Jongin hyung kan punya kita."

Makan.

Kentang Taehyung habis sudah dan dia baru sadar mulutnya membongkar segala rahasia yang harusnya masih menjadi rahasia sekarang. Taehyung cepat menutup mulutnya.

"Ups."

KRIKK

KRIKK

"MWO?!"

.

.

.

Shin ahjumma, kepala maid keluarga Oh, sibuk bergelut di dapur. Padahal tak ada pesta dan hari masih pagi sekali.

"Eunhwa, kentangnya angkat."

"Ya! Jesoo itu rotinya akan hangus."

"Bagaimana dengan buah segarnya, Haesa?"

"Hyosup, jangan terlalu banyak garam di sup itu."

Kita lihat, dapur ini hampir menyamai kapal pecah. Ini semua karena Donghae yang cerewet meminta ini itu. Dan coba kita cari tahu lebih detail penyebabnya. Tak lain seorang namja manis bernama Kim Jongin.

"Shin ahjumma, mana sup asparagus Jongie-ku?!"

Nah itu suara Donghae dari ruang makan. Hingga dua namja berstatus seme di ruangan itu menghela nafas gusar. Jongin hanya menunduk. Ini memalukan, menurutnya.

"Hae umma, ini berlebihan. Aku tak mungkin memakan semuanya." lirih Jongin, kepalanya masih menunduk dalam. Mendengar itu, Donghae yang berada di sebelahnya menoleh.

"Dulu, ketika aku hamil Sehun, aku harus makan banyak dan sehat. Jadi kau juga harus begitu."

"UHK! UHK!"

Kibum segera memberikan sang anak minum. Donghae tersenyum meremehkan pada Sehun. Sehun tersedak pasti ada sebabnya. Sementara Jongin masih menunduk dalam. Ia baru tahu, ternyata Donghae salah paham mengenai ceritanya tadi malam. Cerita?

FLASHBACK ON

"Jongie, apa badanmu rasanya sakit?" tanya Donghae seraya mengelus-elus rambut orang yang berada dalam pelukannya.

Jongin mengangguk kecil. Matanya terpejam menikmati kenyamanan tangan halus Donghae yang membelai rambutnya. "Hmm."

"Apa dia sangat kasar melakukannya?"

Kini mata Jongin terbuka sempurna. Ini kah waktunya mengadu? Sepertinya iya.

Jongin mengangguk semangat.

"Iya umma. Sebenarnya dulu aku dan dia musuh besar. Mana mungkin aku mau tidur dengannya bukan? Tapi namja dingin itu membuat perjanjian dan memaksaku menanda tanganinya. Jika tidak sahabatku dan adikku yang kena imbas. Aku kan tidak mau, umma. Yasudah, aku tanda tangani. Kupikir hanya menjadi budak, ternyata maksudnya 'itu'. Rasanya sakit sekali umma~."

'Rasakan itu Oh Sehun, balas dendam sangat manis tentunya.' batin Jongin tertawa sadis. Ia sangat yakin Donghae akan memarahi Sehun habis-habisan.

Donghae terkekeh melihat Jongin bercerita dengan full ekspresi. Anak ini polos sekali. Tak paham kah yang ia ceritakan tergolong hal intim.

"Jadi… Si Sehun itu memperkosamu? Dan ini baru pertama kalinya untukmu?"

"Ehmm… Bisa dibilang begitu. Tapi aku yakin aku masih straight." Jongin memberi tau dengan tampang penuh keyakinan. Kim Jongin harus selalu straight!

"Umma tak yakin, Jongie. Sehun sudah menyentuhmu, kau sudah tak normal lagi."

Jongin lemas seketika. Ini mimpi buruk. Kenapa hidup Jongin dipenuhi mimpi buruk akhir-akhir ini?

"Apalagi Sehun melakukannya dengan kasar dan… berapa kali kalian melakukannya?"

"Molla, umma."

Donghae menarik senyuman miring. Sehun memaksa seseorang tidur dengannya itu hal unik. Kecuali Sehun sudah sangat terobsessi pada namja bermarga Kim ini.

"Sudahlah Jongie, kita tidur. Jalljayo, Jonginnie~"

"Jalljayo, Hae umma~"

FLASHBACK END

Jongin mengacak rambutnya kasar. Niat awal ingin memepermalukan Sehun tapi kenapa sekarang berputar balik kepada Jongin. Gagal sudah membalas dendam pada Sehun. Hufftt…

Sehun mengernyit melihat Jongin frustasi sendiri. Taukah apa yang Tuan Muda Oh ini pikirkan?

'Jonginnie sangat sensitive hari ini. Apa karena faktor hamil?'

Sweatdrop +,+

Untung ini hanya pikiran. Seandainya ia berkata seperti itu, mungkin Jongin sudah melempar Sehun jauh-jauh ke Atlantik.

Tapi juga sepertinya akan.

"Bby… kau hamil?"

Jongin menyipitkan matanya pada Sehun yang duduk di depannya. Semoga saja deathglare-nya bisa membunuh Sehun SAAT INI JUGA.

"AKU NAMJA, BODOH!"

Ketiga orang di meja makan tertegun melihat Jongin yang pergi dengan mulut yang terus mengomel tak jelas. Tak berapa lama Kibum dan Donghae kembali menikmati sarapan mereka.

"Dia sedang sensitive, biasa gejala hamil. Kau tenang saja, Hun."

"Sweet name-mu 'BODOH' ya? Lucu juga. Kalian sangat romantis."

Sehun bisa memaklumi celetukan Donghae yang sangat amat teramat tak connect itu.

Tapi dengan sang ayah, tak mungkin. Apanya yang lucu? Itu sindiran! Tuli kah sang appa? Atau terlalu lama di China, Kibum tak bisa memahami bahasa Korea lagi?

.

.

.

"W-Whoa! Itu Sehun dan Jongin?"

"Gila, sekarang sudah berdamai yah?"

"Siapkan diri kalian."

"Untuk?"

"Aku yakin kiamat akan datang beberapa menit lagi."

"Aku setuju, hal mustahil begini bisa terjadi jika hendak kiamat saja."

Sehun tak terlalu memikirkan grasak-grusuk penghuni Aves yang melihatnya berjalan sembari merangkul Jongin. Iya! Ini Jongin! Rival-nya! Lalu kenapa memangnya? -..- #ala-alaDoditOppa/? *Innalillah! Denra beneran kesengsem ama wong ndeso a.k.a Dodit Oppa keknya… Arrghh!*

Jongin menepis tangan Sehun kasar. Membuat Sehun menoleh tak suka. "Pergi dariku."

Dengan kata itu, Jongin melanjutkan lagi langkahnya tanpa Sehun. Sebenarnya Sehun tak terima dan berniat mengejar Jongin, namun hal itu ia urungkan setelah melihat Jongin yang terpaku dalam diam.

"JONGIN!"

Taehyung, Suho, Minseok, Lay, Kyungsoo, dan Baekhyun melambai ria ke arah Jongin. Jongin tak bergeming, ia tak merespon sedikitpun. Bukan karena ia tak rindu sahabatnya. Bukan. Ia bahkan sangat rindu dan ingin berlari memeluk mereka semua. Tapi sosok lain di belakang mereka seolah membekukannya. Mematikan setiap persendian di tubuh Jongin.

"Appa, Umma." desis Jongin hampir tak bersuara.

Sehun melangkah menampati sisi lain di sebelah Jongin. Oh ternyata telinga Sehun cukup tajam untuk mendengar desisan Jongin. "Mereka appa dan umma-mu?"

"…"

"Jonginnie~ Umma merindukanmu."

Jongin masih terdiam dalam pelukan sang umma. Gantian Mr. Kim yang memeluk Jongin. Suzy –Mrs. Kim- tersenyum kecil mendapati kedekatan sang putra sulung dengan suaminya. Tapi ekspresi itu dengan cepat berubah kala melihat keganjalan pada diri Jongin.

"Son, itu lehermu kenapa?" pekik Suzy kaget. Myungsoo –appa Jongin- spontan melepas pelukannya.

Myungsoo memutar badan Jongin, meneliti setiap bercak keunguan di leher tan anaknya. "Siapa yang melakukan ini eoh?"

Jongin memejamkan mata sejenak. Ia takut kedua orang tua-nya akan meledak sebentar lagi. Sementara Sehun? Dia terlihat biasa saja. Pikirannya simple. Jika orang tua Jongin tau masalah ini, Sehun akan menikahi Jongin. Malah itu sebagian dari rencananya, jujur saja.

Tangan 'GROWL' juga Taehyung menunjuk lurus pada Sehun. Menjadi pusat perhatian Myungsoo juga Suzy. "DIA!"

"Dia Sehun, appa." Taehyung menambahkan. "Sehun sunbae, kau pasti sudah memukuli hyung-ku hingga lehernya memar-memar begitu kan?"

"Hah?"

Sehun menganga lebar. Mana yang memar? Itu bukan memar, bocah! Ingin rasanya Sehun meneriakan protesnya di telinga Taehyung. Hanya saja Taehyung itu adik Jongin. Sehun akan menderita jika Jongin marah padanya. Dan lagi disana ada orang tua Jongin, dalam arti kata juga calon mertua Sehun. Tak mungkin Sehun meninggalkan kesan buruk sebagai menantu.

Suzy menarik Jongin merapat padanya. Memeluknya possesif seolah Sehun akan mengambil anaknya dengan cara tak kasat mata.

"Kau Sehun?" tanya Myungsoo. Mata elangnya menatap tajam Sehun.

Sehun menunduk ramah. Dengan tingkat percaya diri yang berlebih, ia mengenalkan diri. "Jeoneun Oh Sehun imnida. Senang bertemu denganmu, appa."

"Appa? Siapa yang kau panggil appa eoh?" ketus Taehyung.

Sehun melirik balik Taehyung. Tersirat kata aku-akan-membunuhmu-saeng pada hazel Sehun. Hal itu sukses membuat Taehyung merapatkan mulut, tak ingin lagi ikut campur. Nyawanya masih berharga untuk dibunuh Sehun.

"Jangan dekati Jongin lagi." ucap Myungsoo dingin. Sehun tak percaya, wajah flat Myungsoo bahkan bisa mengalahkan tampang pokerface miliknya.

Namja bermata elang itu berbalik menghadap anak sulung serta istrinya. "Jongin-ah, kau tak usah sekolah hari ini. Appa akan mencarikan sekolah yang lebih waras untukmu dan Taehyung."

"Kami juga." koor 'GROWL' serempak.

Sehun semakin gelagapan sekarang. Yang benar saja, Jongin harus pindah dari Aves. Sehun mungkin masih bisa menemuinya. Tapi jika sahabat Jongin juga turut pindah, bagaimana Sehun bisa mencari tau Jongin pindah kemana tanpa informasi dari mereka? Pasti sahabatnya juga akan mengamuk padanya. Karena dia, pasangan mereka pindah sekolah. Oh, BIG NO! Rencananya tak boleh gagal.

"T-Tapi, appa-"

"Jika kau masih ingin menemui Jongin lagi, silahkan bawa orang tua-mu ke rumah kami."

Apa ini? Ayah Jongin menawarkan kesempatan melamar Jongin pada Sehun? Senyum lebar terlukis jelas di wajahnya. Tak sulit membujuk Kibum dan Donghae menemui orang tua Jongin. Ditambah lagi Donghae sangat menginginkan Jongin menjadi menantunya.

"YEAY!" sorak Sehun senang saat Jongin dan orang tua-nya meninggalkan Aves. Membentuk persimpangan imejiner di dahi sahabat Jongin dan Taehyung. Diancam, kenapa Sehun bahagia?

"Namja ini gila. Kajja, kita pergi."

"Kajja, hyung. Nanti kita tertular virusnya." Taehyung bergidik ngeri sebelum menjauhi Sehun bersama yang lainnya.

Sehun? Ia masih terbang saking bahagianya.

.

.

.

Seseorang dengan setelan seragam Aves berwarna merah darah mengamati detik-detik Jongin datang dengan Sehun dari kejauhan. Dari seragamnya, nampak jelas orang itu merupakan penghuni salah satu kelas 2 di Aves. Keringat dingin menyusuri pelipisnya. Dia gelisah dan bingung. Disana, orang dengan kulit tan yang dianggapnya sunbae terbaik, tengah berada dengan sasarannya. Sunbae tan itu, Kim Jongin. Jongin yang selalu membantunya. Jongin yang selalu menyelamatkannya. Jongin yang bersikap tulus padanya, mengesampingkan image pemimpin GROWL yang disegani.

Tak terhitung berapa kali aksi heroik Jongin di matanya. Terlalu banyak rasa hormat untuk Jongin. Tapi sekarang, Jongin sunbae-nya berada dekat dengan sang sasaran. Belum lagi kilatan hazel Sehun yang menyatakan, Jongin sangat berharga bagi Sehun.

Tugasnya membuat Sehun sengsara. Menurut pelajaran klan mendiang Appa-nya, mulailah dengan yang berharga dari orang itu. Lalu, apa ia harus mengalihkan bidikkan dari Sehun menjadi Jongin? Dia harus membunuh Jongin begitu?

Tak mungkin. Sosok itu menggelengkan kepalanya dari balik pohon maple. Mana mungkin ia harus membunuh sunbae yang ia puji-puji. Semisalkan mungkin, dirinya tak akan mau. Tapi terlintas bayangan adiknya di kursi roda. Satu-satunya keluarga yang ia miliki selain perkumpulan dunia hitam Appa-nya. Bayangan adiknya saat menerima kenyataan tak bisa berjalan selamanya dengan air mata berderai dari mata unik itu. Bayangan Umma-nya yang tertembak saat melindungi sang adik. Ditutup dengan bayangan sang Appa yang mencetusnya sebagai pembalas dendam di akhir hayat beliau.

"AKU BERSUMPAH! SAAT ANAKKU SIAP, DIA AKAN MEMUSNAHKAN KALIAN SEMUA, KEPARAT!"

Namja itu memejamkan matanya tatkala kejadian tersebut berputar dengan sempurna. Saat itu tahun lalu. Pada awalnya ia bersama orang tuanya sibuk bercengkrama di ruang tengah. Sedangkan adiknya yang berbeda satu tahun darinya sedang mengikuti eskul dance di sekolah dan belum kembali. Hingga suara ketukkan kasar terdengar.

"Siapa?" Appa-nya melihat dari lobang kaca yang tersedia di pintu itu. Dengan raut wajah yang panik, beliau mengatakkan. "Mereka datang! Kau," Sang Appa menunjuk padanya. "Bersembunyilah di dalam lemari itu. Cepat!"

"Kenapa aku harus sembunyi, Appa? Aku bisa membantu melawan mereka."

"Turuti perintah, Appa-mu. Kau belum siap! Cepatlah!" desak sang ibu.

Meski dengan setengah hati, ia tetap berjalan menuju lemari yang dimaksud.

BRAKK!

Seseorang mendobrak pintu rumah sederhana mereka, tepat saat dirinya bersembunyi di dalam lemari. Melihat melalui celah kayu, Appa dan Umma-nya sekarat.

"Aku pulang!"

Suara khas sang adik mampu membuat jantungnya berdegup kencang. Kenapa adiknya harus pulang di saat yang tak tepat? Semuanya berjalan lambat. Mulai Umma-nya yang melindungi sang adik dari todongan pistol. Appa-nya yang mati dengan dicekik. Suara jeritan sang namdongsaeng kala salah satu dari orang itu mematahkan kakinya. Dahulu ia terlalu takut untuk keluar dari persembunyian. Tapi sekarang ia siap. Disiapkan dengan matang oleh kelompok Appa-nya. Dan sekarang semua itu harus dimulai.

.

.

.

Ping!

Ping!

Ping!

Ping!

Ping!

"EKHEM!" Yoon seongsaenim berdehem keras.

Tak masuk akal ponsel lima murid di kelasnya berbunyi bersamaan. Jelas tak masuk akal karena yang berbunyi juga hanya dalam satu barisan. Dan parahnya mereka berlima bersahabat. Aneh kan?

Lima orang itu meminta maaf bersamaan, lalu saling pandang sejenak. Terkecuali Minseok. Ia tahu isi pesan itu dan dari siapa sebenarnya. Jadi Minseok hanya cuek dan kembali menyalin 'Hukum Snellius' di buku catatannya. Sisanya membaca pesan dari 'unknow' dengan rasa penasaran.

'Honey, nanti kita ke kantin bersama saat istirahat. Aku akan menjemputmu di kelas.'

'Aku ingin makan siang bersama di kantin nanti. Tunggu aku di kelas, Baekkie.'

'Kau tak keberatan ku jemput saat istirahat nanti di kelas kan, Dyo? Aku ingin kau menemaniku makan siang di kantin~'

'Lay, nanti kujemput di kelas. Kita makan siang bersama di kantin.'

Yang terakhir sepertinya sangat dingin ya? Zitao payah -,-

Untuk Minseok? Kalian penasaran? Ini dia.

'Baozi, Kita makan siang bersama ne? Dan… Jangan menolak. Akan kujemput nanti di kelas. Tunggu aku ne? Jika tidak kau yang akan 'kumakan' kkk~'

Berlebihan Luhan /.\

.

.

.

Tao terdiam melihat semua sahabatnya yang tersenyum dengan kadar idiot yang tinggi kala mengirim pesan untuk pasangan mereka masing-masing. Tao rasa hanya ia dan Sehun yang waras. Oh tidak! Sehun juga tidak waras. Sehun tersenyum layaknya yang lain. Astaga! Apa Tao dikelilingi orang-orang tak waras di ruangan WOLVES?

"Tao.." panggil Kris.

"Eumm…"

"Kau tidak mengirimi Lay pesan?"

"Untuk?"

"Kau harus mengajaknya makan siang bersama."

"Baiklah." Tao memutar bola matanya malas sembari meraih ponselnya.

'Lay, nanti kujemput di kelas. Kita makan siang bersama di kantin.'

"Aigoo!" Semua orang mengalihkan perhatiannya pada Jongdae. "Aku rasa aku mulai tertarik dengan Dyo."

"Aku juga." tambah Chanyeol dengan cengiran lebar. "Kemarin kami masak bersama, kau tau. Dan senyum Baekhyun….sungguh, aku menyukainya."

Luhan tersenyum meremehkan. "Aku sudah resmi menjadi namjachingu Minseok. Hahaha~ Kalian masih belum berarti. Bahkan aku berkesempatan berkencan dan mencium pipinya kemarin."

"Hanya menjadi namjachingu?" Luhan menoleh pada Kris yang mengulas senyum, atau mungkin smirk? "Aku dan Suho memang belum seperti kau dan Minseok, tapi aku juga menciumnya kemarin. Tepat di bibir."

Luhan memasang wajah 'Sial! Aku kalah telak' miliknya. Sementara Chanyeol dan Jongdae masih mempertahankan tampang shock yang sangat derp. Tao memutar bola matanya malas, mendengar perdebatan tak jelas 'kaum tak waras'. Sehun menampilkan senyuman aneh tanpa mereka tau apa artinya.

"Sebentar lagi aku akan menjadi suami Jongin." Sehun terlihat antusias. "Kami bahkan sudah menjalani malam bersama."

"KAMI TAU! JADI KAU DIAM SAJA!" –Luhan, Kris, Chanyeol, Jongdae _"_

"Bilang saja kalian kalah." cibir Sehun.

Tao memutar ingatannya kembali. Dimana kemarin malam, ia dan Lay hanya membicarakan tentang takdir. Harus Tao akui tatapan Lay itu terlalu menenangkan. Hingga rasanya Tao hanyut ke dalam iris hitam itu. Tapi mengingat tentang takdir….hal itu yang selalu menyadarkan Tao agar tak tertarik dengan Lay.

"Apa untungnya kita menjadi seperti ini?"

"Apa?" tanya mereka semua dengan tatapan heran untuk Tao.

Tao memandang semua sahabatnya. "Menjalani peran seperti orang tua kita."

Mereka semua terdiam sejenak memikirkan jawaban yang cocok untuk Tao. Orang tua mereka, juga berperan layaknya orang tua Sehun. Mempunyai dunia gelap. Mengelabui beribu mata dengan mengatakan mereka seorang pengusaha. Jujur, WOLVES sedikit lelah memainkan peran mereka saat membantu orang tua masing-masing.

"Bukankah itu membahayakan orang yang kalian cinta? Jongin, Suho, Minseok, Kyungsoo, Baekhyun dan Lay, mereka bisa saja dalam keadan tak aman. Kenapa kita tak berhenti saja?"

"Tapi….Itu suatu tuntutan, Tao." jawab Jongdae dingin.

Decihan terdengar jelas dari mulut Tao. "Kalau begitu aku ingin orang tua-ku tak menganggapku ada. Lalu aku bisa bebas dari dunia hitam ini. Dan-"

"Kau mencintai Lay?"

Tao mendelik kesal saat perkataanya terpotong oleh Luhan. "…"

"Jika kau mencintainya, lindungilah Lay dengan peranmu."

"Kami juga mengalami hal yang sama." tambah Kris dengan senyum simpul. "Kita harus saling bersama untuk melindungi mereka. Bukankah begitu?"

Chenyeol dan Jongdae mengangguk dengan semangat. Sementara Tao dan Sehun hanya terdiam memikirkan hal tadi.

.

.

.

Bel istirahat berbunyi. Taehyung keluar dari kelas 1-3 dengan bibir mengerucut. Harusnya kan dia makan siang, tapi Park seongsaenim seakan menghalangi jalannya. Dengan tak berperikeTAEHYUNGan, guru itu menyuruh Taehyung mencari sebanyak-banyaknya informasi mengenai sejarah presiden Korea dari beberapa buku di perpustakaan. Dan tugas itu harus dikumpulkan minggu depan.

Sebenarnya Park saenim tidak menyuruhnya secara langsung. Melainkan melalui kelompok yang terdiri dari 7 orang. Itu tugas kelompok yang harus dikerjakannya sendiri. Sial bagi Taehyung karena dirinya mendapat kelompok yang diisi anak nakal. Sehingga kelompoknya memaksa Taehyung yang mengerjakannya.

"Buruk sekali nasibmu, Kim Taehyung." Taehyung iba pada dirinya sendiri.

Setelah dari perpustakaan dengan meminjam 5 buku sejarah yang tebalnya luar biasa itu, Taehyung berjalan menuju kelasnya masih dengan bibir yang mengerucut. Pandangannya tertutup buku. Sehingga tanpa sengaja menabrak seseorang di depannya.

BRUKK!

Buku Taehyung jatuh berceceran. Taehyung spontan memungutinya, dibantu oleh orang yang ia tabrak. Setelah buku itu kembali tersusun rapi di tangan Taehyung, adik Jongin itu berdiri. Membungkuk maaf pada orang itu. Sepertinya Taehyung baru saja menabrak sunbae kelas 2. "Mianhae, Sunbae."

Sunbae itu ikut membungkuk. "Mian, aku juga salah."

Taehyung tak ingin memperpanjang masalah, jadi ia hanya mengangguk dan kembali menuju kelasnya. Dan lagi, bukankah Jongin melarangnya untuk menjauhi masalah?

Sunbae dengan wajah oval itu menatap punggung Taehyung yang menjauh. Kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya ke kantin.

'Kim Taehyung… Jongin sunbae… Mianhae untuk yang akan datang…'

.

.

.

"KALIAN PINDAH?!"

Itu teriakan Luhan, Jongdae, dan Chanyeol. Ugh, Jongdae berteriak? Segera periksakan telinga kalian bagi yang mendengarnya. Kris tersedak seketika. Tao masih melahap makan siangnya dengan tenang. Sehun malah mengaduk-ngaduk sup dengan cengiran tak jelas. Tak berniat memakannya sesuap pun. Lihat saja, wortelnya sudah tak berbentuk. Entah apa yang dipikirkan anak ini =w=

Itu semua berbagai macam respon mereka saat mendengar 'GROWL' akan pindah dari Aves. Suho tertawa geli melihat Kris yang tersedak. Berusaha menggapai-gapai jus alpukat miliknya yang sengaja di jauh-jauhkan oleh Suho. Tawa itu berhenti seiring Suho yang menyodorkan air putih untuk Kris.

"Ini lebih baik."

Benar juga, jika tersedak lalu meminum air putih akan lebih baik daripada jus alpukat. Jus alpukat bersifat kental dan akan menyulitkan Kris meneguk makanannya.

Kris meminum pemberian Suho dan tersenyum lembut setelahnya. "Gomawo, honey."

CHUP!

Rona merah menjalar di kedua pipi putih Suho. Ia sudah biasa mendengar Kris memanggilnya dengan sebutan 'honey', tapi ini? Baru kali ini Kris mengecup pipi salju Suho di tempat umum. Catat! DI TEMPAT UMUM!

Kris terkekeh melihat namja mungil di sebelahnya blushing. Sungguh imut, serius. Kembali Kris melemparkan kecupan-kecupan di pipi Suho, menimbulkan blushing yang sangat kentara.

Suho mendorong Kris dan bergeser lebih jauh. "Menjijikan, Kris."

Kris semakin berniat menggoda sepupu Jongin ini. Tangannya menumpu pada meja dengan sudut 45°. Memperhatikan gelagat Suho yang risih. Ya, Suho risih. Tapi Suho berusaha menutupi itu semua dengan meminum jus alpukat di depannya.

"Pfftt-"

Kris hampir tertawa terpingkal-pingkal karena Suho. Jus itu kan punya Kris. So, indirect kiss eoh?

"Honey, kita berciuman lagi." celetuk Kris sambil menunjuk-nunjuk sedotan jus itu. Langsung saja Suho menatap jus itu horror. Kris sudah melepas tawanya sedari tadi. Kenapa Kris selalu sukses membuat Suho kesal?

"KAU! Berhenti tertawa! Aku membencimu, Kris Wu!" teriak Suho kesal sebelum meninggalkan kantin. Kris langsung berlari mengejar Suho.

"Ya~! Honey, jangan marah padaku…"

"Tak peduli! Pergi kau sana!"

"Aku bercanda, honey…"

Kita tinggalkan couple awkward ini. Coba lihat ChanBaek couple.

"Baekkie kau tak pergi kan? Iyakan?"

Chanyeol memasang puppy eyes-nya lebar-lebar. Tapi apa tanggapan Baekhyun? Baekhyun hanya terus memakan bacon kesukaannya. "Kau tuli, yeol? Aku akan pindah."

Chanyeol pasrah, kepalanya ia sembunyikan diantara kedua tangan yang menelungkup di meja. "Kau bercanda kan, Baekkie?"

"Sayangnya aku serius." Baekhyun sepertinya sangat menyukai bacon. Tangisan yang dibuat-buat Chanyeol saja tak dipedulikan Baekhyun.

Let see, ChenD.O couple.

"Dyo, jangan pergi ne?" melas Jongdae.

"Aku akan tetap pergi, Jongdae."

"Nanti siapa yang akan menemaniku di apartemen?"

"Sebelum aku ada, kau kan sendiri."

"Itu kan dulu. Sekarang aku terbiasa ditemani kau."

"Akan kuberi kau boneka untuk menjadi teman."

"Tak mau. Aku ingin kau."

"Nanti kupilihkan boneka pororo yang besar."

"Kenapa pororo?"

"Matanya kan sama sepertiku, Jongdae. Bulat."

"Tetap ingin kau, Dyo. Siapa yang akan memasakkan aku nanti? Yang membersihkan apartemenku juga siapa?"

"Aku akan mencarikan pembantu untukmu."

"Tapi hanya kau yang tau resep makanan kesukaanku."

"Akan ku ajarkan pembantumu sebelum itu."

"Aish, lalu siapa yang akan mandi bersama denganku?"

"Itu… Tunggu, kurasa kita tak pernah melakukan hal yang satu ini." o.o?

Skip percakapan yang semakin menjurus ini. Skip juga bagian TaoLay couple. Singkat menjelaskannya. Tao yang tak merespon dan Lay yang tak ambil pusing apapun respon Tao nantinya. Tidak juga. Tao merespon tanpa mengalihkan perhatiannya dari makanan.

"Aku tak setuju, kau dengar."

Lay terdiam sejenak. Satu kalimat Tao mampu memenjarakan Lay. Satu kalimat yang mengandung pernyataan, ancaman, obsesi, possesif, over-protective, dan sedikit keegoisan. Lay sadar itu. Tapi, apa pedulinya ia akan tetap pindah dan Tao tak berhak melarangnya.

Kita check saja LuMin couple.

"Kau yakin akan pindah, Baozi?" tanya Luhan ragu.

"Ah-heum." Minseok masih setia dengan sandwich miliknya.

"Kemana?"

"Tempat yang pasti jauh darimu?"

"Kenapa kau pindah?"

"HIDUP BERSAMA, TERUS BERSAMA, SELAMANYA BERSAMA. Jongin pindah, kami juga akan pindah, Lu."

"Kalau begitu itu juga berlaku untukku. Kau pindah kemana, aku juga akan pindah kesitu."

Minseok sedikit terhenyak mendengar penuturan Luhan. Mata rubahnya menatap mata rusa Luhan intens. Berusaha mencari keseriusan disana. And, gotcha. Hal itu terpampang jelas di mata Luhan.

"Terserah kau sajalah."

Bagaimana dengan Sehun?

Namja pucat itu sedang membayangkan suasana gereja yang di penuhi orang terdekatnya dan Jongin sedang menyaksikan janji suci mereka berdua. Oh, bahkan Sehun bisa mendengar lonceng pernikahan di kejauhan. Absurd sekali khayalannya -_-…

.

.

.

Jongin mengangkat tangannya ke arah pintu. Memantapkan niat mengetuknya. Namun apa yang di lakukan Jongin? Tangannya hanya menggantung di antara angin. Hati kecil Jongin masih ragu. Mungkin saja orang di dalam akan meledak mendengar penjelasannya nanti. Tapi ini harus. Jika tidak kesalah pahaman pasti berlanjut.

TOKK

TOKK

TOKK

Setelah mengetuk pintu ruang kerja sang ayah, Jongin dapat mendengar persetujuan Mr. Kim dari dalam. Baik, Jongin sudah yakin. Meski dirinya tak menghiraukan gugup jantungnya sekalipun.

CKLEK

Myungsoo mendongak, mencari tau siapa yang telah mengetuk pintunya tadi. Ah, si sulung Jongin rupanya. Di sisi lain, Jongin tak hentinya menunduk. Mengalihkan perhatiannya pada ujung sepatu.

Myungsoo tersenyum simpul. Pasti ada yang ingin anaknya katakan. Sesuatu yang sangat serius, entah hal apa itu.

"Duduklah, Jongin-ah." perintah Myungsoo.

"…"

Jongin diam. Mengangkat kepalanya pun tidak. Kenapa hatinya kembali menciut di saat sudah tak bisa mundur lagi?

"Son-?"

"Appa." Jongin buru-buru menyela Myungsoo.

"Hm?"

"Appa, mianhae. Aku tak berce-"

"Taehyung yang menceritakannya."

Jongin tertegun beberapa saat dengan kepala yang masih menunduk.

"Appa yakin, bukan hanya itu yang mengganggu pikiranmu."

SKAKMAT!

Myungsoo benar tentang ini. Inti dari segala keberanian Jongin bukan hal ini.

"Kenapa… Appa mengundang Sehun, Kibum Appa, dan Hae Umma?" ucap Jongin hampir bergumam.

"Eh? Kau sudah akrab dengan orang tua Sehun nampaknya?"

Jongin mengangguk kecil. "Eheum."

"Itu bukan undangan. Hanya sebuah tantangan." Myungsoo kembali membaca berkas yang teronggok tadi karena Jongin.

Dengan keberanian penuh, Jongin mendongak memandang lurus ayahnya. Baginya itu bukan tantangan. Itu jelas undangan dalam bentuk kasar. "Dan apa maksud Appa?"

"Ajang pembuktian?" Myungsoo kembali mengacuhkan berkasnya. Saling pandang dengan Jongin yang tampak heran. "Jika Oh Sehun berani mengajak orang tua-nya kemari, Appa mungkin akan mempertimbangkan masa depanmu dengan Sehun."

"Huh? Yang benar saja, Appa ingin memaksaku menikah dengannya?" Nada Jongin mulai meninggi sekarang. Dia masih tak terima kenormalannya hilang. Jongin ingin sekali semua orang melupakan kejadian semalam dengan Sehun dan kembali menganggap Jongin normal.

"Bukan. Cobalah kau pikir, Jongin. Sehun berani membawa orang tua-nya kemari, pasti memerlukan keberanian. Itu sudah menunjukkan dia serius denganmu. Seandainya ia hanya main-main, mungkin dia akan acuh. Tak mau lagi peduli tentangmu. Kau tak lihat gelagat Sehun setelah Appa memperingatinya? Dia panik bukan? Itulah tanda cinta, Jonginnie."

"Tapi Appa, aku masih normal. Aku akan menikah nanti dan itu bukan dengan Oh Sehun. Pastinya dengan yeoja seperti takdirku, Appa."

"Ya, kau normal. Hingga Sehun mengubah ke-NORMAL-anmu melalui caranya sendiri. Jika takdirmu memang begini terimalah. Bukankah Appa selalu mengatakan setiap manusia harus mempercayai takdir? Apa kau lupa?" bentak Myungsoo

Jongin kembali menunduk. Entah sejak kapan bulir liquid bening keluar dari mata kelamnya dan berakhir menetes mengenai ujung sepatunya. Ia tau benar dirinya sudah tak normal. Dia gay sekarang. Mungkin ini aib. Tak salah jika seorang Kim Myungsoo direktur KimJT Corp yang terkenal lembut pada kedua putranya berani membentak Jongin, salah satu putranya.

"T-tapi Appa… Aku tak ingin menjadi gay." lirih Jongin tertahan kerena isakan.

Myungsoo tersenyum lembut. Langkahnya membawa Myungsoo menghampiri Jongin dan memeluk anaknya hangat. Tak ada hal yang paling membahagiakan Myungsoo selain melihat keluarganya bahagia. Dan sebaliknya ia akan turut menderita jika salah satu dari tiga orang berharga dalam hidupnya menangis. Seperti itulah yang Myungsoo lakukan saat ini. Menyalurkan kehangatan pada Jongin yang menangis dalam pelukannya.

"Appa tau kau mulai tertarik padanya."

Jongin mendongak menatap bingung sang ayah. Lebih tepatnya ucapan Myungsoo.

"Sebenarnya tadi pagi kau bisa saja memaki serta menyalahkan Sehun seperti yang Taehyung dan sahabatmu lakukan. Tapi faktanya? Kau tak melakukan itu kan? Appa mengartikan itu sebagai bentuk perlindunganmu pada Sehun." ucap Myungsoo setelah melepas pelukan mereka.

"Tidak!" sanggah Jongin cepat. Tangannya tergerak mengusak hidungnya yang mulai memerah, mata onyx miliknya masih berkaca airmata, dan jangan lupakan bibir yang mengerucut. Bisakah kalian membayangkan keimutannya? "Aku tidak melindungi namja itu. Aku hanya takut Appa dan Umma marah besar."

"Dan satu-satunya alasan kau takut karena kau tau pihak yang patut di salahkan dalam masalah ini hanya Sehun. Kau tak ingin Sehun dimarahi kan?" Myungsoo sedikit menggoda Jongin seraya menyentil hidung merah anaknya.

Bibir Jongin melengkung tajam ke selatan. Menyesal ia membicarakan hal ini, jika ujung-ujungnya dirinya malah dipojokkan.

"Appa menyebalkan!" teriak Jongin sebelum berbalik melangkah keluar dari ruang kerja Myungsoo. Menarik sebuah tawa geli dari sang ayah. Myungsoo lupa, Suzy dulu mengidam apa hingga anaknya bertingkah manja dan lucu begini.

Myungsoo menghentikan tawanya saat melihat Jongin berhenti di depan pintu.

Tanpa membalikkan badan menghadap Myungsoo, Jongin berucap pelan. "Appa dan Umma Sehun juga gay."

"Lalu?"

Jongin mendengus kesal mendengar tanggapan Myungsoo. Demi apa, tak adakah kata lain selain itu. Terkadang Jongin berpikir ayahnya ini terlalu cuek menjalani kehidupan. Sangat terang ini bukan masalah sepele dan mengejutkan. Tapi semua itu hanya ditanggapi dengan empat huruf?

"Tak apa! Hanya sekedar informasi!" jawab Jongin ketus sebelum kembali melangkah, ah salah, menghentakkan kakinya kesal. Ayahnya menyebalkan sekali hari ini. Tapi baru selangkah, Myungsoo sudah mengatakan hal yang…. serius, Jongin shock mendengarnya.

"Perlahan kau pasti akan mencintainya, Jonginnie~"

WHAT D'HELL, DAD?!

Jongin menghentakkan kakinya lagi keluar dari ruang kerja Myungsoo. Kali ini lebih keras. Setelah keluar dari ruang –menyebalkan- kerja sang Appa dan pintu tertutup dengan otomatis, Jongin berteriak dari luar.

"OMONG KOSONG MACAM APA ITU!"

Myungsoo tertawa terpingkal-pingkal ketika teriakan Jongin masuk dalam indra pendengarannya. Hari ini sukses. Ia berhasil menggoda putra sulungnya dan membuatnya meledak-ledak seperti biasa. Seperti biasa? Memang begitulah kegiatan antara Appa dan anak ini setiap hari.

.

.

.

Sehun memasuki rumah tanpa mengucapkan salam. Melompat begitu saja ke sofa dan hampir membuat Donghae dan Kibum yang sedang duduk jantungan. Sehun mengeluarkan tatapan berbinarnya seperti anjing yang akan diberi tulang besar.

"UmmaAppaHariiniakubertemuorangtuaJongindanmerekamengancamkutapijugamemberikesempatanmelamarJongindanakuinginhariiniCEPATUMMAAPPAGANTIBAJUKALIANAKUINGINMELAMARJONGIN!"

Kibum dan Donghae melongo mendengar penuturan sang putra.

PLETAK

"Aw!" rintih Sehun yang mendapat jitakan telak dari Donghae.

"Tak bisakah kau berbicara pelan?!" sungut Donghae. "Tck, sudah ingin lulus SMA masih saja tak bisa bicara. Kembali ke TK saja kau."

Sehun menekuk wajahnya mendengar sindiran sang umma. Tapi ketika teringat tujuannya, Sehun tersenyum sumringah. Mulutnya terbuka dan hampir saja kembali nge-Rapp. Tapi kemudian Sehun berdehem sedikit, berusaha menetralkan suaranya yang menggebu-gebu.

"Umma, Appa, tadi aku sekolah."

"Kami tau." jawab Kibum dan Donghae serempak. Sehun menampilkan wajah pokerface mendengarnya.

"Apa kalian bisa diam dan menyimak ceritaku?" tanya Sehun dingin. "Tck, sudah punya anak tapi tak bisa menyimak. Kembali ke SD saja kalian."

PLETAK

PLETAK

"Hehe, Mian." Sehun cengengesan mendapat dua jitakan dan deathglare dari kedua orang tua-nya. "Tadi di sekolah, aku dan Jongin-"

"Ah ya! Jongin mana?" tanya Donghae celingukan.

Sehun menghela nafasnya dalam. Kesabarannya sungguh diuji. "Makanya dengarkan aku dulu, Umma." ucap Sehun gemas.

"Oh, Oke."

"Jadi aku dan Jongin bertemu orang tua Jongin. Lalu mereka mengancamku dan menyuruhku menjauhi Jongin." Sehun berhenti sejenak memperhatikan ekspresi Donghae dan Kibum yang mengernyit tak suka. "Tapi Appa Jongin bilang, jika aku ingin bersama Jongin, aku harus membawa kalian ke kediaman mereka. Apa Umma dan Appa merasa itu layaknya kesempatan melamar? Dan aku ingin melamar Jongin hari ini."

Kibum dan Donghae mengangguk. "Boleh saja." izin Kibum acuh.

Sehun tersenyum gembira. Namun hal itu tak berjalan lama. Senyum itu memudar tanpa bekas kala melihat Kibum dan Donghae masih asyik menonton TV. Sehun merebut remote dari tangan Donghae dan mematikan TV itu. Ia berdiri di depan kedua orang tua-nya. Tangannya bergerak menarik tangan Kibum dan Donghae untuk berdiri. "Ayo, Umma, Appa~ Kita ke rumah calon menantu kalian. Aku ingin melamar Jongin sekarang."

"Iya, Iya." Kibum dan Donghae tersenyum kecil melihat sifat Sehun di masa kecil kembali. Di masa sebelum putra Oh itu mengetahui pekerjaan kedua orang tua-nya. Dan terima kasih untuk Jongin yang sudah mengembalikkannya.

!*::::*! TBC !*::::*!

Chap ini aneh kan? Emang _"_

FF ini memang jauh dari kata sempurna +.+ Otak denra sering gak jalan sekarang.

Apa makin penasaran sama si 'hyung'? Nah, kalian tebak deh siapa itu 'hyung' dan 'saeng' yang katanya lumpuh.. Denra mau tau tebakan kalian…. Beserta alasannya ne…

Denra mau bales review yang intinya sama ne?

Kenapa NC-nya gak BDSM?

Jadi, FF ini memang gak jadi BDSM karena seseorang nanya ke denra. "Kenapa kamu gak mulai dari tahap ke tahap aja? Kenapa harus langsung ke BDSM?" Dan disitu denra mutusin buat bikin HardSex aja, tapi gak juga sih -_-

Sehun ama Kai bakal nikah?

Sehun sama Kai akan married. Yup, itu konsep kedua-nya. Married Life.

Ini M-Preg?

Meski married tapi Kai gak bakal M-Preg kok. Cuman Donghae aja.

Req NC buat Couple lain, boleh?

Target denra di ff ini tinggal NC LuMin dan KrisHo. Sorry, but yeah, hanya mengurangi dosa/? ._.

Karakter WOLVES disini janus yah…

Sebenernya bukan hanya karakter janus yang mempengaruhi sikap cast disini. Tapi yah, ditambah denra gak konsisten sama penokohannya. So, dapat disimpulkan ff ini maksanya kurang ajar.

HunKai moment-nya kurang banyak!

Denra juga merasa HunKai moment terlalu sedikit, coba denra tambahin ne?

Ada KiHae-nya? Buatin moment KiHae ne…

Kebetulan KiHae itu otp SJ denra selain KyuHae. Berdoa semoga KiHae mendapat moment yang sweet mengingat otak denra agak lelet sekarang.

Siapa ortu Kai?

Dari chapter ini kita tau kalau ortu Kai itu MyungZy. Coz temen denra, Memeldutt a.k.a Melda itu MyungZy shipper. Meskipun denra MyungJong shipper, denra suka-suka ajah tuh sama MyungZy asalkan jangan MyungEun -..- Grrr… Mati aja lo Naeun.

Kok kebetulan banget ortu Kai pulang? Jangan-jangan mereka dijodohin…

HunKai gak dijodohin kok. :3

Siapa sih 'hyung' sama 'saeng' itu?

Untuk si 'Hyung' dan 'Saeng' masih menjadi misteri kkk~ Nah denra minta kalian tebak ya dan masukin tebakan kalian di review beserta alasan kenapa kalian bisa nebak cast 'hyung' dan 'saeng' itu. Setuju? Denra tunggu kalau gitu ne…

Tao punya masa lalu yang gelap yah?

Tao kan emang gelap/? ._. #dilemparTao. Sejujurnya Tao bukan punya masa lalu yang gelap hehe~ Sampai sekarangpun dia masih nganggap takdirnya gak bagus. Dan mengingat MAMA era kekuatan Lay adalah Healing. So, denra bakal bikin Lay ngobatin kesepiannya Tao *loh kok gak nyambung*.

Rencananya mau bikin berapa chap?

Eumm~ Berapa chap? /mikir keras/ Belum tau tuh~ /nyengir/.

Denra, boleh minta uname twitter? Punya FB? Manggilnya apa nih?

Boleh kok, Twitter denra : denra_

Tapi klo FB denra gak punya hehe~. Biasanya paling suka di panggil denra sih. Love this nickname too much~!

Ortunya Sehun 4D juga yah, kek anaknya…

Ortunya Sehun emang khusus nurunin sifat 4D waktu Sehun masih di dalem perut/?

Denra ini EXOPink shipper ya? Kok cast ceweknya A Pink semua?

Hahaha… Kebanyakan readers ngira denra EXOPink Shipper itu wajar. Cast cewenya member A Pink semua, kenapa? Pertama Naeun. Dia berakhir bunuh diri kan? Dan Chorong dengan peran ketiganya. Tck, dia pengganggu. Denra gak suka kalau itu harus nimpa ke member Girlband lain. Sekalipun itu Crayon Pop. Malah jujur aja, denra lebih milih Crayon Pop dibanding A Pink. Jadi khusus Naeun, nasibnya harus buruk. Denra masih kesel gegara dia WGM sama bias denra. #PelukTaemOppa #JonginOppaIkutanMeluk #Denra+TaemDiTerbanginKeSaturnusSamaSehun

Kenapa waktu baca ff ini jadi inget sama FF Hyun Unnie yang judulnya Fate & Love?

Denra baru aja baca ff punya Hyun Unnie yang itu. Maklum denra itu awalnya terlalu stuck sama MyungJong. Baru suka HunKai juga setelah suka LuMin. Tapi entah kenapa denra yakin klo gak bakal pernah bosen dengan pair ini. Kebetulan banget bias denra di EXO itu Kai. Kan unyu kalau bias jadi uke (kecuali Taemin). Jadi denra belum sempet ngubrak-abrik google cari ff HunKai hehe~ Jujur, selama sebulan ini denra baca ff-ff karya Hyun Unnie dan itu hebat-hebat loh. Keknya denra bakal jadi fans Hyun Unnie hehe~ Mungkin secara garis besar sama. Tapi ini gak ada bloody scan dan semuanya berakhir happy ending. Ff ini terinspirasi dari ff 'We Got Married' – MyungJong, ff BTS VS EXO /denra gak inget judulnya/, dan beberapa scene drama. Terutama 'School 2013'. Paling suka WooSuk/?

Guys, yang bikin denra shock, denra mulai ngelirik TaoLay /gigit jari Jongin umma/ /digetok elpiji sama Jongin/.

Okeh~ Balasannya berakhir. Dan terimakasih bagi yg sudah nunggu nih ff. Terima kasih dan salam kenal para reviewers baru. Semoga kalian rajin nge-review ff denra ne. Para siders juga makasih sudah berkenan baca ff yang yah…bukan golongan sempurna sebenarnya. Denra terus merhatiin peningkatan maupun penurunan kalian kok. Love you all 'n' Fighting~!

Review please ;-;

denra

-317-