Cast :

- Baekhyun

- Luhan

- Chanyeol

- Kai

Lenght : 3.509 words


.Balasan ripiuw :

: emm gak tau, kita lihat aja nanti. Aww, makasih^^

shantyy9411: penasaran ya? Hha, nah loh saya mlah blum lihat video yg ntuh. Ini udah dilanjut, salam kenal juga^^

chika love : haha, saya sendiri juga bingung naruh nama castnya gimana. Kalo dtulis BaekhyunxLuhan ntr dkira ff baekhan dng. Iya nih crack pair, tp sya gak janji ksih banyak moment buat mrka^;^)v . let's pray...

: Nah sya gak yakin ntuh pair bisa kewujud apa gk, aminn..

Tinker tinker4 : semoga ya, hehe. Ini udah^^

mynamedhiendha : I wish...

: yaaa nih udah koq. Moga gak ngebosenin yhh...

GreifannyGS : makasih udah dibilang bagus –prolognya-, moga ceritanya juga. Hha iya setuju2, hidup BaekLu!

Ritaanjani4 : nih udah...

Oh SeHan : Semoga^^

Asdfghjkl thanks for coment, guys... lupe yhuu/tebarkissbaek

And...

Happy reading, guys^^

WARN!

THRERE'S BL INSIDE

NO PLAGIARISM! NO COPYCAT!

THIS IS JUST FANFICTION, JADI MOHON JANGAN DIANGGAP SERIUS! APALAGI MEMBAWANYA PADA DUNIA NYATA.

Out Of Character, Miss typo(s), tidak sesuai EYD, sediakan ember jika terjadi Gejala Muntaber(?)

DON'T LIKE. DON'T READ! JUST CLOSE YOUR TAB WITHOUT ANY COMENT!

SIDERS? I'm still okay with you...

.

.

Summary :

"Kesalahan terbesar Luhan adalah membiarkan jiwa saudaranya hancur"


[No one POV]

"Kenapa hyung tiba-tiba ingin kita berakhir? Apa aku berbuat salah padamu? Apa aku kurang sempurna untukmu? Kenapa hyung? Kenapa!?" dIa mencengkram bahu namja cantik didepannya dengan kuat dan berteriak keras didepan wajahnya. Ia tak habis pikir dengan pernyataan kekasihnya barusan.

"Lepaskan aku! kau benar-benar menyakitiku!" namja berkulit pucat itu berusaha melepaskan cengkraman kekasihnya yang semakin lama semakin terasa perih , tapi sepertinya tenaganya tak cukup kuat bila dibandingkan dengan namja berpostur tubuh tinggi didepannya.

"Tidak! Kau harus menjelaskannya dulu padaku!"

"kau ingin penjelasan!?" namja berpostur tubuh tinggi didepannya tak menjawab dan masih menatap tajam pada namja cantik itu dengan kilatan marah dimatanya.

Namja cantik itu mendengus sesaat dan balik menatap tajam mata kekasihnya itu, "Ini! Ini yang aku benci! Kau tempramental dan selalu bersikap kasar. Kau bahkan tak segan-segan memukulku, kekasihmu sendiri, hanya untuk melampIaskan rasa cemburumu yang berlebihan!"

Ia sedikit tersentak saat cengkeraman kuat dibahunya terasa melonggar, Ia mengalihkan pandangannya pada tangan kekar kekasihnya yang sudah merosot disamping tubuhnya.

Hening...

Beberapa saat tak ada satupun suara yang keluar. Seolah mereka masih bergelut dengan pemikirannya masih-masing.

"Renungkan semua kesalahan yang sudah kau perbuat, Park Chanyeol..." namja cantik itu membalikkan badan dan mulai melangkah pergi meninggalkan kekasihnya yang masih berdiri mematung.

"Kau salah Byun Luhan, kau yang membuatku seperti ini. Baiklah jika itu maumu, kau akan menyesalinya nanti..." suara bass terdengar lirih namun cukup jelas dan penuh penekanan. Tentu saja Luhan tak mendengarnya mengingat dia sudah menghilang dari pandangannya. Dan seringai mengerikan tercetak diwajahnya yang tampan. Membuat siapa saja yang melihatnya bisa bergidik ngeri.

.

.

babybyunsoo©

.

Present

.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

.

Tepat pukul tiga sore waktu korea selatan, terdengar bunyi bel yang nyaring dan menggema diseluruh penjuru sekolahan. Tak lama kemudIan, para murid Inha High School ini mulai bergerombolan melangkahkan kakinya keluar dari bangunan yang beberapa siswa menyebutnya sebagai penjara-nya anak-anak. Ada yang berjalan kaki, menaiki mobil atau motor dan tak sedikit juga yang berlarIan seolah mereka merasa terbebas dari bilik jeruji besi.

Byun Baekhyun, salah satu siswa Inha High School ini juga tengah berjalan dihalaman menuju gerbang dengan dua orang sahabat karibnya ini. Sebut saja mereka Kyungsoo dan Jongdae, mereka sudah hampir 5tahun bersahabat terhitung sejak awal Sekolah menengah pertama sampai saat ini, mereka menginjak kelas 2 tingkat akhir. Sesekali guyonan keluar dari namja berwajah kotak, yang kita ketahui bernama jongdae walaupun Ia selalu meminta dua sahabatnya untuk memanggilnya Chen, tapi Baekhyun dan Kyungsoo sendiri tak peduli dengan permintaan Jongdae tersebut. Mereka selalu menganggapnya sebuah guyonan, dan Jongdae akan selalu membuat tampang kesal. Tapi lagi-lagi mereka berdua akan semakin menertawakannya.

"baiklah Kim Jongdae, eh maaf maksudku Chen... aku akan-" perkataan Baekhyun terhenti kala getaran ringan disaku celana menginterupsinya. Kyungsoo dan Jongdae refleks langsung memandang Baekhyun yang tiba-tiba menghentikan ucapannya. Dengan segera tangan Baekhyun merogoh saku celana bagIan depan, setelah tahu siapa yang tiba-tiba mengganggu kegiatannya mengerjai Jongdae Ia langsung tersenyum dan jari lentiknya mulai menekan tombol hijau untuk menerima panggilan dari Hyung kesayangannya. Siapa lagi kalo bukan Luhan.

"Ada apa hyung menelponku?"

"... "

"Baiklah... aku akan menunggumu disana."

"..."

"..ne, hyung. Anyyeong" sambungan terputus dan Kyungsoo langsung menyerukan pertanyaan "Dari siapa, Baek?"

"oh, ini... Luhan hyung" senyum simpul langsung tercetak di bibir mungilnya. Sedangkan Kyungsoo dan Chen hanya mengangguk paham.

"Tidak biasanya Luhan hyung menjemputku..." gumam Baekhyun.

"eh.?. tadi kau bilang apa?" tanya Jongdae penasaran dIa bisa melihat jelas raut wajah Baekhyun yang tampak berpikir.

"Bukan apa-apa, oh iya... KalIan pulang duluan saja, Luhan hyung bilang dia akan menjemputku".

"Benarkah? Kebetulan sekali aku juga tidak bisa pulang bersama kalIan. Aku harus mampir ke Caffee dulu, Suho hyung bilang salah satu pegawainya tidak berangkat dan dia sangat kerepotan" Jongdae menghela napas sekilas, " Kalian tahu sendiri kan, pegawai disana hanya dua.."

Baik Kyungsoo maupun Baekhyun hanya tersenyum mendengar penuturan sahabatnya itu, mereka tahu keluarga Jongdae tidaklah kaya, orang tua mereka bekerja diluar kota ntah bekerja apa Suho atau yang bernama asli Kim Joon Myeon dan adiknya –Kim Jongdae- sendiri tak pernah diberitahu orang tuanya. Mereka benar-benar sama sekali tak berniat menceritakan pekerjaan mereka, dan itu sempat membuat Kim bersaudara itu menaruh rasa curiga.

Terkadang mereka pulang dengan membawa banyak uang dan barang-barang mahal, mereka juga suka membawakan oleh-oleh untuk anak-anaknya. Tapi itu tak berlangsung lama, 1 bulan setelah pekerjaan –yang ntah apa itu- mereka jalani, mereka –orang tua kim bersaudara- tak pernah pulang, bahkan untuk sekedar menelpon menanyakan keadaan anak-anak mereka. Dan itu berlangsung hingga 4 bulan, Suho yang masih kuliyah terpaksa mengambil cuti demi bekerja membiayai sekolah Jongdae. Melihat kakaknya yang bekerja keras, Jongdae tak tega dan memilih ikut bekerja paruh waktu di sebuah caffee sederhana menjadi seorang pelayan. Walaupun gajinya memang tak seberapa, tapi setidaknya dIa bisa makan dari pagi hingga malam dengan uang hasil keringatnya sendiri.

Setelah hampir satu tahun mereka ditinggal –lebih tepatnya dicampakkan- orang tuannya. Suho sudah berhasil membangun caffee sendiri, walaupun tak besar tapi cukup untuk menampung 20 orang dengan 2 pegawai dengan uang tabungannya sendiri dan uang hasil bantuan kekasihnya.

Dan sekarang caffee hasil jerih payah Suho sudah beroprasi hampir 2tahun. Dan itu sudah cukup untuk menghidupi dirinya dan Jongdae, termasuk biaya sekolah dan kuliyah.

"Baiklah kalau begitu, aku juga harus mampir ke swalayan dulu. Ck, eomma selalu saja menyuruh anak lelakinya berbelanja. Menyebalkan" Kyungsoo berdecak dan menggerutu seperti anak kecil.

Sedangkan Baekhyun dan Jongdae? Jangan tanya, mereka sudah tertawa terbahak-bahak terlebih dahulu. Melihat temannya menertawakan dirinya diatas penderitaannya membuat Kyungsoo makin menekuk wajahnya persis seperti anak kecil yang gagal mendapatkan hadiah.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

Baekhyun kini tengah duduk manis di bangku halte sambil sesekali bersenandung menggumamkan lirik lagu yang tengah didengarkannya melalui Headset. Sudah 10 menit dia menunggu tapi Hyung kesayangannya ini tak menampakkan diri juga. Entah hanya perasaannya saja atau apa, dia sedikit merasa aneh.

Tidak biasanya Luhan hyung menjemputnya seperti ini, bahkan Ia terkesan memaksa. Mungkin hyungnya ini sedang merindukannya? Ntahlah, selama ini Baekhyun selalu pulang bersama Kyungsoo dan Jongdae mengingat jarak rumak mereka yang tak terlalu jauh. Rumah Jongdae terletak satu blok dari rumah Baekhyun, sedangkan Rumah Kyungsoo hanya terpisah 3 rumah dari rumah Baekhyun.

Baekhyun dan Luhan hanya tinggal berdua bersama beberapa maid. Orang tua mereka sudah lama pergi meninggalkan mereka pada sebuah kecelakaan pesawat terbang. Dan itu sempat membuat Luhan menangis tak henti-henti dan selalu berterik-teriak memanggil orang tuanya. Sedangkan Baekhyun yang notabennya masih berumur 7tahun hanya bisa diam. Walau sebenarnya dia tahu apa maksud ditinggal orang tuanya itu kesurga, tapi dia tak tahu harus mengekspresikannya seperti apa.

Luhan tak pernah bercerita apapun tentang kehidupannya di Kampus, yang Baekhyun tahu Luhan sudah punya namja chingu yang pernah dilihat beberapa kali saat mengantar hyungnya pulang. Tunggu, apa tadi Baekhyun bilang namja chingu? Haha benar, hyungnya seorang gay, sebenarnya Baekhyun tak terlalu mempermasalahkan hal itu. Asal hyungnya bahagia, dia juga akan merasa senang. Tapi sekarang Ia tak pernah melihat namja –yang Baekhyun anggap- raksasa itu lagi akhir-akhir ini. Sepengetahuan Baekhyun, hyungnya akhir-akhir ini juga terlihat murung dan berantakan. Melihat itu Baekhyun semakin khawatir dengan kondisi hyungnya itu.

Lamunannya terganggu kala dia mendengar suara deru mobil yang direm tepat didepannya. Mata sipitnya mulai mengamati mobil itu, mobil itu berwarna hitam dan sudah pasti itu bukan mobil Luhan. Mobil hyungnya itu berwarnal silver. Dan keyakinan itu semakin menguat tatkala seorang namja berpostur tubuh tinggi menjulang, berambut sedikit panjang berwarna coklat dan sedikit berantakan keluar dari dalam mobil tersebut. Tunggu. Dia merasa tak asing dengan wajah itu. Bukankah itu kekasih hyungnya? Kenapa dia bisa ada disini? Dan berjalan kearahnya? Baekhyun semakin tak mengerti dengan apa yang ada didepannya.

"ehmm..." namja tinggi itu tiba-tiba berdeham. Sontak Baekhyun yang tadi masih tenggelam dalam lamunannya kaget dan langsung mendongak ke atas, ke arah kekasih hyungnya itu. Sejak kapan pemuda ini sudah ada dihadapannya, dan oh jangan lupakan senyum yang kelewat lebar terpasang manis di bibirnya. "Bukankah, kau Baekhyun?"

"..ne?"

"Kau Byun Baekhyun adik dari Byun Luhan kan?" tanya namja itu lagi.

"eh, i-iya" jawab Baekhyun terbata-bata merasa agak canggung dengan namja didepannya.

"aku Chanyeol, Park Chanyeol. Kau tahu siapa aku, bukan?

"emm, kau kekasih Luhan hyung..?" jawab Baekhyun dengan nada meyerupai kalimat tanya.

"yupp! Benar. Kau pintar sekali!" Baekhyun tersentak saat Chanyeol tiba-tiba mengacak-ngacak rambutnya. Bukan takut penampilannya kan hancur, tapi dia merasa kurang nyaman.

"Baiklah Baekhyun, mari ikut denganku." Ucap Chanyeol enteng, sedangkan Baekhyun lagi-lagi tersentak saat tangan kekar Chanyeol meraih pergelangan tangan Baekhyun dengan tiba-tiba hingga membuatnya berdiri dari posisi duduk sebelumnya.

"Tu-tunggu!"

"ya?" lagi-lagi Chanyeol memamerkan gigi-giginya sambil tersenyum lebar.

"Luhan hyung sebentar lagi akan menjemputku, " jawab Baekhyun apa adanya.

"Astaga!... maaf aku lupa memberitahumu, Luhan bilang Dia mendadak sakit perut dan dia bilang padaku untuk mengantarmu pulang." Jelas Chanyeol, dan itu membuat Baekhyun sedikit kaget. "Luhan hyung sedang sakit? Apa dia sudah ke dokter"

Bukannya menjawab pertanyaan Baekhyun, Chanyeol malah tertawa berlebihan dan semakin membuat Baekhyun mengerutkan kedua alisnya. "Maaf-maaf... aku tak bermaksud menertawakanmu" akhirnya tawa Chanyeol mereda, "Luhan baik-baik saja , dia hanya memakan sambal berlebihan tadi saat makan siang. Jadi yah.. dia harus bolak-balik ke kamar mandi tadi"

Melihat Baekhyun yang masih nampak berpikir, Chanyeol pun segera membuyarkannya "Apa kau tak ingin segera masuk? Aku akan dimarahi Luhan jika kau tak segera pulang". Dia ingin meraih pergelangan Baekhyun lagi tapi pergerakannya terhenti saat Baekhyun tiba-tiba berbicara, "Tunggu!, sebaiknya aku menelpon Luhan hyung dulu..."

Chanyeol terlihat gelagapan dan dengan secepat kilat menyambar ponsel yang hampir dihidupkan Baekhyun. "Hey! Kembalikan ponselku!" teriak Baekhyun berusaha meraih ponselnya yang sekarang sedang di angkat tinggi-tinggi oleh Chanyeol. Dan dia semakin frustasi ketika tak juga berhasil mengambilponsel miliknya lagi, mengingat tinggi Chanyeol yang berlebihan atau malah tinggi Baekhyun yang kurang normal?

"Tenanglah Baek, Luhan bilang kau tidak usah mengkhawatirkannya. Dia juga bilang padaku tidak usah menghubunginya dulu" Chanyeol berusaha sebisa mungkin menjelaskan apapun agar Baekhyun tak bisa menghubungi Luhan.

"Masuklah... Kau akan segera kuantar pulang."

Akhirnya Baekhyun menunduk pasrah dan memasuki mobil hitam yang sebelumnya sudah dibukakan oleh Chanyeol. Entah sadar atau tidak, Baekhyun melupakan sesuatu. Ponsel.

Setelah Baekhyun masuk, seringaian mengerikan itu muncul lagi. "Mudah sekali menangkap kelinci kecil ini" batin Chanyeol sambil menggengam erat ponsel milik Baekhyun yang ntah sejak kapan sudah mati.

Tanpa mereka sadari seorang yeoja bermata sipit, memperhatikan mereka dari jauh. Matanya terus menatap lurus mobil yang membawa Baekhyun dan Chanyeol hingga menghilang dari pandangannya.

.

©babybyunsoo

.

Setelah tadi Luhan menelpon Baekhyun untuk menunggunya, dia mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Perasaan gelisahnya tak kunjung menghilang dari jam pertama hingga dosen yang terakhir mengajar pergi. Bahkan Kai, sahabatnya yang berada tepat disamping tempat duduknya menyadari tingkah aneh Luhan. Selalu tidak konsen, dan terlihat linglung saat berjalan. Kai sempat menanyakan keadaannya, tapi Luhan hanya tersenyum dan bilang dia baik-baik saja.

Dia semakin mengerang frustasi saat tiba-tiba tanpa sengaja dia hampir menabrak pejalan kaki yang sedang menyeberang di depannya. Beruntung korban yang ternyata seorang ahjuma tadi tidak terluka, tapi barang-barang yang ahjuma itu bawa jatuh berserakan. Ada sekantong telur ayam dan beberapa sayuran yang pecah dan hancur.

Tanpa babibu Ahjuma tadi langsung berjalan mendekati mobil Luhan dan memakinya habis-habisan. Luhan meminta maaf berkali-kali, dan akhirnya sebelum mereka menjadi bahan tontonan orang-orang, Luhan menyudahi perdebatan mereka dengan mengganti semua kerugian dan meminta maaf sekali lagi atas kecerobohannya.

Luhan akhirnya kembali melajukan mobilnya lagi menembus jalan raya, dia melirik arlojinya sebentar dan semakin merutuki dirinya sendiri karena dia telat hingga 20 menit.

"Dimana dia..?" tanyanya pada dirinya sendiri. Kini Luhan sudah sampai di halte dekat sekolah Baekhyun, tapi disana sama sekali tidak ada satupun orang, kecuali seorang petugas kebersihan yang sedang menyapu jalanan.

"Apa dia sudah pulang dulu karena menungguku terlalu lama?" batin Luhan. Seketika pemikiran itu hilang mengingat tipe Baekhyun yang tak mungkin mengingkari janjinya. Dengan segera dia mengeluarkan ponselnya dan langsung men-dial nomor Baekhyun.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Mohon tinggalkan pes—" belum sampai sang operator menyelesaikan dialognya, Luhan langsung memutus panggilannya. "Dimana sebenarnya Baekhyun? Apa dia mencoba mengerjaiku?" batin Luhan lagi.

"Permisi..." Luhan seketika langsung memutar tubuhnya saat mendengar suara seorang yeoja, dan benar saja. Seorang yeoja berkulit putih, bermata sipit dan terlihat sangat mungil ini sudah berdiri didepannya dengan senyum yang sudah terpasang dibibirnya itu. Dan tak ketinggalan seragam sekolah yang sama dengan yang dipakai Baekhyun terpasang rapi ditubuhnya.

"..n-ne?" Luhan yang masih kalut dalam pemikirannya menatap bingung yeoja didepannya itu.

"Apa sunbae , hyungnya Baekhyun?" tanya gadis itu ragu.

"ne.." jawab Luhan sambil mengangguk samar.

"Apa sunbae sedang mencari Baekhyun?" saat pertanyaan itu terlontar tiba-tiba otak Luhan langsung berfungsi normal.

"Kau tahu Baekhyun? Kau tahu dimana dia sekarang?" tanya Luhan tak sabar, dia benar-benar sudah sangat frustasi sekarang.

"emm... Aku tidak tahu dimana dia.." seketika Luhan langsung menunduk lesu.

"tapi..." Luhan yang sempat putus asa merasa ada harapan hanya dengan satu kata itu, dia menatap yeoja itu dengan pandangan serius bercampur rasa penasaran.

"Tadi aku sempat melihatnya masuk kedalam mobil hitam yang menjemputnya,-" Mobil hitam? Seingatnya, dia sama sekali tidak punya mobil warna hitam dirumahnya. Baiklah, Luhan memang punya dua mobil tapi mereka berwarna putih dan silver, mobil yang dikendarainya saat ini. Jadi siapa yang menjemput Baekhyun?

"—dan aku juga sempat melihatnya membicara dengan orang itu"

"maksudmu orang yang menjemput Baekhyun?" yeoja itu mengangguk.

"Namja atau Yeoja? Dan seperti apa orangnya?"

"Dia namja—" seketika perasaan Luhan menjadi tidak enak.

" –tinggi," tinggi?

"—berambut cokelat," berambut coklat?

"—berkulit putih," berkulit putih?

"—bermata bulat," bermata bulat?

"—dan.. " yeoja itu menghentikan kalimatnya.

"dan?"

"senyumnya yang kelewat lebar..." Tidak salah lagi, dia... Park Chanyeol.

Entah apa yang membuatnya yakin orang itu adalah chanyeol, tapi perasaanya mengatakan begitu. Tapi apa yang dilakukan Chanyeol pada Baekhyun? Mereka bahkan tak saling kenal, baiklah mungkin pernah saling melihat. Tapi bukankah Baekhyun tidak semudah itu percaya pada orang asing?

Yeoja yang ada didepan Luhan, sedari tadi hanya menatapnya khawatir. "sunbae-nim, apa kau baik-baik saja?"

Luhan yang sedang bergelut dengan opini-opininya sedikit kaget saat menyadari yeoja tadi ternyata masih berdiri dihadapannya. "ah, iya. Aku baik – baik saja." yeoja itu hanya tersenyum melihat raut wajah Luhan yang sedikit tenang.

"Dan terima kasih banyak, kau sudah memberitahuku informasi yang sangat penting tadi..." Luhan membungkuk sambil mengucapkan rentetan kata terima kasih.

"Sama-sama sunbae-nim, aku juga senang bisa membantumu"

"emm... boleh aku tahu siapa namamu?" Luhan kembali bertanya dan sebisa mungkin menata ekspresi wajahnya agar tak terlihat aneh.

"Taeyeon, Kim Taeyeon..." yeoja itu kembali tersenyum ramah.

"Baiklah Taeyeon-sshi, jangan panggil aku sunbae-nim. Panggil aku Luhan saja. Dan aku berhutang budi padamu"

Setelah berpamitan dengan Taeyeon, Luhan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak jarang kalimat-kalimat umpatan keluar dari bibir tipisnya untuk siapa lagi kalau bukan untuk, Park Chanyeol.

Teringat sesuatu, Luhan langsung merogoh saku celana bagian depannya dan mngeluarkan benda tipis berbentuk persegi. Dengan lincah jemarinya menelusuri contact name, berusaha mencari nama yang dia ingat diotaknya sekarang. Begitu nama yang dia cari ketemu, tanpa basa-basi jari Luhan langsung men-dial nomor tersebut. Dia begitu bersyukur karena pada sambungan pertama orang diseberang sana sudah mengangkat panggilannya.

"Kai..., tolong aku" tutur Luhan terdengar jelas dan penuh harapan.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

Baekhyun berkali-kali meremas tangannya, merasa gugup? Bukan, tapi dia benar-benar merasa hatinya tidak tenang. Ini pertama kalinya dia pergi dengan orang asing, oke mungkin tidak terlalu asing lagi, tapi tetap saja mereka baru pertama kalinya tadi mengobrol.

Tiba-tiba Baekhyun teringat sesuatu, bagaimana kalau dia mengirim pesan pada hyungnya saja. ahh benar, hyungnya tak akan keberatan jika hanya sebuah pesan. Baekhyun mulai merogoh saku celananya dan kosong? Dimana ponselnya? Terakhir dia menggunakan ponselnya itu saat...

"ehm.." terdengar dehaman seseorang sontak Baekhyun langsung menoleh ke arah samping kirinya, "apa kau sedang mencari sesuatu?"

"ahh, itu- emm apa tadi kau mengambil ponselku?" tanya Baekhyun ragu sambil menelan ludahnya kasar. Seingat Baekhyun memang Chanyeol sempat mengambil ponselnya saat dia akan menelpon hyungnya, tapi betapa bodohnya Baekhyun sampai-sampai dia lupa untuk memintanya kembali.

Bukannya menjawab, Chanyeol malah tertawa dan itu semakin membuat Baekhyun mengerutkan keningnya. Tapi tak berapa lama, sebuah benda persegi –yang Baekhyun cari-cari sejak tadi – ada dihadapannya, tentu saja sebuah tangan kekar itu yang menggenggamnya.

"Ini, mian tadi aku lupa mengembalikannya karena terlalu terburu-buru" jelas Chanyeol masih tetap memfokuskan pandangannya ke jalan raya.

Dengan ragu Baekhyun-pun mengambilnya dan tak lupa megucapkan terima kasih karena ponselnya masih ada dan kembali dengan selam- oh tidak! Ponselnya mati. Seinggat Baekhyun, tadi pagi dia sudah mengeces baterainya dengan penuh. Hah~~ sial!

CKITT!

Baekhyun membulatkan kedua matanya lebar-lebar, karena tinggal 1cm lagi kening mulusnya akan berciuman mulus dengan dashboard. Dia sangat bersyukur, dan berterimakasih dengan sabuk pengaman yang menahan tubuhnya ini.

"Kau tidak apa-apa? Mian aku mengeremnya mendadak, sepertinya ban mobilnya bocor." Tanya Chanyeol sedikit cemas?

Setelah Baekhyun kembali mengontrol keterkejutannya, dia tersenyum manis dan bilang tak apa.

"Em baek, boleh aku minta tolong sebentar?"

"Apa?"

"Bisa kau keluar sebentar untuk mengecek ban mobilnya?"

"Baiklah" tanpa basa-basi Baekhyun-pun keluar dan mulai mengecek satu persatu ban mobilnya, tidak ada yang bocor, semuanya masih terisi penuh dengan angin.

"Sepertinya ban mobilmu tidak kenapa-kenahmmpf—" kedua mata Baekhyun membulat setelah dia merasakan sebuah tangan kekar membungkam mulutnya, dan oh jangan lupakan sapu tangan dengan aroma menusuk pernafasan Baekhyun ini membuat kepalanya pening seketika.

Dia berusaha berteriak, tapi yang terdengar hanya dengungan samar karena berteriak kecencang apapun tak akan ada yang mendengar jika sapu tangan sialan ini masih membungkam mulutnya.

Dia juga berusaha memberontak tapi tenaganya tak cukup kuat untuk menyingkirkan tubuh orang asing ini. Punggungnya bisa merasakan badan seseorang yang tengah membekapnya itu, bisa dipastikan dia namja. Dia juga tinggi, jika dilihat dari bayangannya diaspal.

Pandangan Baekhyun semakin memburam, dan hal terakhir yang dilihatnya adalah seringai mengerikan yang terpahat dibibir seorang, Park Chanyeol.

.

©babybyunsoo

.

Kai berjalan terburu-buru melewati koridor kampusnya. Pikirannya mulai kacau beberapa menit yang lalu tepatnya saat Luhan menelponnya.

Kai seharian ini memang menghawatirkan keadaan sahabat karibnya itu, tapi yang membuat pikirannya kacau adalah kabar buruk –atau mungkin bahkan sebuah bencana?- yang Luhan sampaikan, Chanyeol menculik Baekhyun. Dan itu artinya nyawa Baekhyun sedang dalam bahaya.

Kai memang tidak terlalu akrab dengan Chanyeol, tapi dia tahu semua hal yang menyangkut dengan namja tiang itu dari siapa lagi kalau bukan dari sahabatnya, Luhan. Luhan sering menceritakan apapun yang sedang mengganggu perasaannya pada Kai, tentang sikap Chanyeol, kebiasaan buruk Chanyeol dan apapun yang membuatnya merasa tertekan. Hal itu membuatnya secara tidak langsung tahu seperti apa Chanyeol sebenarnya.

Tapi bukan hal itu yang harus dipermasalahkannya saat ini, yang terpenting saat ini adalah segera menemui Luhan dan dengan begitu mereka bisa segera mencari Baekhyun atau lebih tepatnya menyelamatkan Baekhyun. Seseorang yang sudah mengisi hati Kai selama ini.

"Kai!" teriak Luhan langsung saat Kai sudah sampai di tempat yang sudah di dijanjikan Luhan sebelumnya. Dia langsung merasakan badannya sedikit limbung kebelakang begitu Luhan memeluknya dengan tiba-tiba.

"Baekhyun... hiks, Chanyeol membawanya"

"Kai... eotteokhae? hiks" Kai bisa merasakan kemejanya sedikit basah akibat air mata Luhan yang tak berhenti mengalir tepat dipundaknya. Dengan perlahan dia melepas pelukan Luhan dan mendorong bahunya pelan agar dia bisa menatap langsung mata rusa itu.

Merah, basah dan penuh kekhawatiran. Penampilannya juga terlihat sangat kacau.

"Tenanglah.., kita akan segera menemukannya" Kai tersenyum simpul sambil menghapus sisa-sisa air mata yang masih mengalir dipipi pucat Luhan.

"Bagaimana kau bisa menyuruhku untuk tenang Kai! Kau tahu Chanyeol membawa Baekhyun! Kau tahu Chanyeol seperti apa!? DIA ITU GILA! DIA ITU SEORANG PSYCO! Dan sekarang Baekhyun bersamanya, dia terlalu lemah untuk membela dirinya sendiri... di-dia" Luhan tak bisa meneruskan kalimatnya lagi begitu tangan kekar Kai kembali melingkar di badannya. Airmatanya kembali mengalir begitu saja. Dia takut, dia hanya takut jika sesuatu yang tak dia inginkan terjadi pada satu-satunya keluarga yang dia punya saat ini.

" Apa kau sudah mencoba menghubungi Baekhyun?" Kai memulai percakapannya setelah beberapa menit yang lalu Luhan sudah tenang dan tak menangis lagi. Mereka kini duduk di sebuah bangku berpernis coklat yang berada di tepi taman.

"Sudah berkali-kali, tapi ponselnya tetap tidak aktif"

"Bagaimana dengan Chanyeol?" Luhan hanya menggeleng tanda dia juga tidak bisa menghubunginya.

"Apa kau tahu tempat-tempat yang sering dikunjungi Chanyeol?"

"hmm.. tapi aku tidak yakin dia ada disana"

"Bagaimana kalau kita meminta bantuan polisi saja?—"

"JANGAN!" Kai tersentak kaget saat Luhan berteriak tiba-tiba. Dia hanya menatapnya dengan tatapan –kenapa?-.

"Kau tahu Chanyeol seperti apa, kan?" Kai hanya mengangguk samar. "Itu akan semakin mengancam nyawa baekhyun jika dia tahu kita mengirim polisi"

"Tapi kita bisa melakukannya dengan diam-diam"

"Chanyeol tidak sebodoh itu, Kai. Dia bahkan bisa tahu keberadaan polisi dari jarak 50m sekalipun..."

"Kita harus mencarinya sendiri." Sambung Luhan.

"Baiklah, sebaikny—" kalimat Kai terputus saat tiba-tiba ponsel yang masih digenggam Luhan bergetar, tanda sebuah pesan masuk.

Kai mengernyitkan kedua alisnya saat menatap raut wajah Luhan yang mendadak kaku dan kedua mata rusanya yang membulat sempurna. "Kai..." bisik Luhan kelewat lirih dan hampir tak terdengar, tapi telinga Kai masih cukup tajam untuk mendengar namanya sendiri.

Penasaran, Kai langsung mendekat ke tubuh Luhan. Dia menatap lekat layar ponsel Luhan yang menampilkan sebuah gambar.

Sebuah Pisau

Bukan, bukan gambar itu yang semakin membuat persendiannya kaku tiba-tiba tapi sebuah kalimat dibawahnya...

.

.

"Benda ini cantik sekali, bukan? Hmm... Bagaimana jika pisau ini menyentuh kulit mulus adikmu. Pasti 10kali lipat lebih dan jauh lebih cantik."


Author Note : Aa-yoo! WASSUP! Author freydae is Baek!/goyangbebek/

KYAAA chap 1 udah selesai...jadi gimana? Ngebosenin yah [R; ngngguk/ A; jedokin kepala]. Sebenernya saya awalnya sempet bingung soal namanya Kai. Nama cast d prolog dulu kan sya nulisnya Kim Jong In kan? Tapi dsni Kai. Hhe. Awalnya saya nulis namanya itu Jong In, tapi lama-lama koq yang kelamaan ya kalo ngetik/plak. Jadi yah, langsung saya replace semua nama Jong In jadi Kai.

Jangan heran kalo saya ngasih setting keadaan disini itu lebih nyata, maksudnya soal keberadaan gay. Klo gay di ff yaoi pasti kan udah lumrah ya kan? Nah berhubung disisni saya fokusnya sama kehidupan kakak kembar saya/plak , /nunjukBaekHan/ jadi yah gitu— [R; nih author ngomong apaan sih] yah pokoknya gituh lah. Frey bingung jelasinnya...

And last... thank you so much for review/foll/fav,.. Saya seneng banget respon kalian baguss TT^TT ,padahal saya gak yakin nih ff menarik. Wkwk...

Dan buat SIDERS, yahhikhlasin aja lah... mungkin mereka gak tahu musti ngomong apa?

.

.

And don't forget to RnR /puppyeyeswithbaeklu/

.

.

SEE YOU NEXT CHAP!