Cast :

- Baekhyun

- Luhan

- Chanyeol

- Kai

Lenght : Ber-shotshot(?)3.462 words


WARN!

THRERE'S BL INSIDE

NO PLAGIARISM! NO COPYCAT!

THIS IS JUST FANFICTION, JADI MOHON JANGAN DIANGGAP SERIUS! APALAGI MEMBAWANYA PADA DUNIA NYATA.

Out Of Character, Miss typo(s), tidak sesuai EYD, sediakan ember jika terjadi Gejala Muntaber(?)

DON'T LIKE. DON'T READ! JUST CLOSE YOUR TAB WITHOUT ANY COMENT!

SIDERS? I'm still okay with you

.

.

Summary :

"Kesalahan terbesar Luhan adalah membiarkan jiwa saudaranya hancur".


.

.

GET...

.

.

..set...

.

.

Ready?

.

.

GO!

.

.


"eomma, kenapa eomma dan appa tidak pernah pulang?"

"eomma tidak akan pernah pulang, chagi. Eomma dan appamu sudah bahagia tinggal disini"

"Tapi kenapa? Apa disana banyak makanan enak dan rumah yang lebih besar?"

"Bukan begitu Baekhyunnie, tapi disini eomma bisa bertemu kakek dan nenekmu. Dan eomma juga bisa bertemu kembali dengan adik eomma yang dulu pergi. Apa kau mau ikut bersama kami, hyunnie?"

"Aku... tidak bisa"

"Kenapa?"

"Aku...

Luhan hyung akan sendirian"


.

.

babybyunsoo©

.

Present

.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

.

Chanyeol tertawa puas setelah mengirim gambar pisau dengan sebuah pesan pada Luhan. Dia bahkan bisa membayangkan reaksi Luhan seperti apa. Dengan segera Chanyeol menonaktifkan ponselnya kembai, takutnya Luhan langsung menelponnya.

"Hei, yeol..." tawa Chanyeol seketika terhenti saat sebuah suara berat menginterupsi kegiatannya.

"hmm..."

"Sepertinya aku mulai jatuh cinta pada kelinci kecil ini" ujar namja itu lagi, yang tak lain adalah Kris. Namja yang membekap Baekhyun tadi. Matanya masih tetap melekat pada wajah damai Baekhyun yang belum sadar sejak pingsan tadi.

Bukannya menjawab pertanyaan Kris, Chanyeol malah kembali tertawa. "Aku tahu, dia begitu manis, Kris—" ucapnya disela-sela tawanya, "...tapi sejak kapan kau berubah menjadi seorang gay? Bukankah kau sudah punya Jessica yang lebih cantik dan sexy."

"entahlah, mungkin sejak aku melihat namja manis ini" jawab Kris enteng, tangannya terangkat untuk mengelus pipi lembut Baekhyun dan itu membuat sang empunya sedikit mengeluh dan menggeliat sedikit.

"Jangan mencoba untuk menyentuhnya , Kris. Dia miikku." Ucap Chanyeol tegas dan penuh penekanan di setiap kata. Chanyeol kini bangkit dari sofa yang didudukinya sejak tadi dan berjalan menghampiri Kris yang masih menatap Baekhyun.

Mereka membawa Baekhyun kesebuah rumah tua tak terpakai, bahkan hampir menyerupai sebuah gudang saking tak terurusnya rumah tersebut. Rumah tersebut mempunyai dua lantai, dan Chanyeol memakai lanai atas untuk menyekap Baekhyun.

Baekhyun kini duduk di kursi kayu, tangannya diikat kebelakang dengan tali. Kedua kakinya juga diikat menempel pada kaki kursi. Dan mulutnya dibungkam dengan selembar kain yang saling mengait di belakang kepalanya. Saat langkah terakhir Chanyeol terhenti, Baekhyun mulai menggeliat lagi , matanya mulai terbuka perlahan dan mengerjap-ngerjap lucu seperti bayi.

Chanyeol dan Kris masih terdiam menunggu reaksi Baekhyun.

Saat sudah sadar sepenuhnya, mata Baekhyun langsung membulat dan menatap Chanyeol dan Kris bergantian. Badannya bergerak-gerak mencoba melepaskan diri, teriakan-teriakan –yang tentu saja tak terdengar jelas— karena mulutnya masih dibungkam masih terus terdengar,hingga Chanyeol berinisiatif melepaskan ikatan itu.

"LEPASKAN AKU! SIAPA KALIAN SEBENARNYA!? APA YANG KALIAN INGINKAN!? DIMANA LUHAN HYUNG!? DIMANA AKU!?—"

"—LEPAS!LEPAS! AAHHH SIAPAPUN TOLONG AKhmmpft—"

"Hei, manis. Diamlah! Kau berisik sekali!" gertak Chanyeol setelah sebelumnya membungkan mulut Baekhyun lagi dengan kain yang tadi dipakainya untuk menutup mulut Baekhyun.

Baekhyun masih terus memberontak dikursi hingga kursi tersebut hampir limbung kebelakang jika saja Chanyeol tak segera memegangnya.

"BERHENTILAH BERGERAK! ATAU KAU BENAR-BENAR AKAN JATUH! DAN MEMBOCORKAN KEPALAMU SENDIRI!" Bentak Chanyeol dengan suara bass tak kalah tinggi dari teriakan Baekhyun tadi, dan seketika membuat Baekhyun yang sibuk dengan usahanya melepaskan diri diam seketika.

Kepalanya tertunduk lesu. Tanpa Chanyeol dan Kris sadari, mata Baekhyun mulai memanas. Dia menahan tangis, dia menggigit bibir bawahnya dengan keras berusaha mengontrol perasaanya sendiri.

Baiklah mungkin kalian menganggap Baekhyun cengeng, tapi dia benar-benar ketakutan. Dia tak pernah terjebak dalam situasi seperti ini. Pikirannya mulai sibuk mengingat kejadian demi kejadian, dan dia merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh dengan percaya begitu saja pada orang asing.

Melihat tak ada pergerakan dan teriakan dari Baekhyun lagi, membuat Chanyeol mengerutkan keningnya sekilas. Dia menoleh kearah Kris seolah bertanya dengan tatapan–ada-apa-dengannya?- dan hanya di tanggapi Kris dengan gedikan bahu seolah menjawab –aku-tidak-tahu-.

Disaat Chanyeol baru akan membuka suaranya, tiba-tiba ponsel Kris berbunyi tanda panggilan masuk. Kris yang ditatap langsung mengerti dan segera merogoh ponsel disaku jeans-nya. Decakan samar keluar dari mulut Kris sebelum dia benar-benar mengangkat panggilan tersebut, bisa dibilang Kris tak berniat sama sekali menanggapi penelpon itu.

"Aku harus segera pergi sekarang...," Merupakan kalimat pertama yang Kris ucapkan setelah mengakhiri panggilannya.

Yang diajak bicara hanya menatapnaya seolah bertanya –kenapa?-"

",..Sica memintaku menjemputnya sekarang juga, ck, padahal aku masih ingin bermain-main dengan kelinci manismu ini" Kris menoel(?) sekilas dagu Baekhyun, sedangkan sang empunya yang punya langsung menjauhkan wajahnya tanpa mendongak sedikitpun.

"Baiklah manis, sepertinya aku harus pergi dulu. Aku harap kau masih bisa melihat dunia ini, besok"

DEG!

Kalimat terakhir yang diucapkan Kris mampu membuat jantung Baekhyun berhenti berdetak. Matanya membulat sempurna, giginya tak bisa di kendalikan untuk tak menggigit bibir bawahnya lagi, sedikit lebih keras. Bahkan kini dia bisa merasakan rasa amis yang merembes dipermukaan bibir tipisnya, sedikit perih memang. Tapi Baekhyun lebih memikirkan nyawanya dari pada darah dibibirnya saat ini.

"Tuhan... Kumohon, selamatkan nyawaku" Baekhyun mulai berdoa dalam hati, sungguh dia tak menyangka, Secepat inikah kehidupannya akan berakhir? Apa itu berarti dia akan segera menyusul kedua orang tuanya?

"Tidak, tidak! Bicara apa kau Byun Baek? Kau masih punya Luhan Hyung, benar... Luhan hyung pasti sedang kebingungan mencarinya saat ini. Arghhh... sebenarnya apa mau namja raksasa ini? Apa salahku? Kenapa dia ingin membunuhku? Tapi mana mungkin dia tega membunuh adik kekasihnya sendiri. Hah benar, namja tadi pasti hanya menakut-nakutiku. Sial! Tapi asdfghjkl—" racau Baekhyun dalam hati.

Sementara Baekhyun masih tenggelam dengan pemikirannya sendiri, dia sampai tidak sadar saat ini Chanyeol sudah berada di belakangnya, dia mulai melepas ikatan kain yang menutupi mulut adik –mantan— kekasihnya itu.

Entahlah, Chanyeol sendiri tak memiliki tujuan pasti untuk apa dia menculik adik 'mantan' kekasihnya ini. Pemikiran itu tiba-tiba datang begitu saja setelah dia mendengar Luhan menelpon seseorang saat jam pelajaran berakhir, dia memang mendengar semua percakapan Luhan tapi bukan itu yang menarik perhatiannya tapi sebuah nama yang tak asing yang dia dengar dengan jelas sesaat sebelum Luhan memutus panggilannya, 'Baekhyun'. Bersamaan dengan itu sebuah ide muncul di otak jahatnya.

Dan apa kalian juga bertanya-tanya kenapa Chanyeol lebih cepat sampai dari pada Luhan? Semua itu memang sudah ada dalam rencana dadakannya. Chanyeol menyuruh seseorang untuk menghadang perjalanan Luhan, ntah apapun itu caranya. Dan berhasil. Semua sesuai rencananya. Awalnya dia tak ingin melibatkan Kris, tapi apa boleh buat. Sepertinya dia akan sedikit kualahan jika hanya sendiri.

Setelah ikatan terlepas, Chanyeol tak segera beranjak kedepan. Dia malah menatap surai coklat gelap milik Baekhyun yang sedari tadi masih tertunduk. Terlihat begitu halus dan alami seperti rambut bayi. Tangannya terangkat ke atas surai coklat gelap itu, 1cm lagi jemarinya akan menyentuh helaian rambut bayi itu tapi ntah kenapa tangannya tiba-tiba kaku dan tak bisa digerakkan seolah-olah semua persendiannya berhenti bekerja.

Akhirnya setelah beberapa detik berlalu, Chanyeol menarik tangannya kembali dan berjalan kedepan, dihadapan Adik 'mantan' kekasihnya.

"Angkat wajahmu" perintah Chanyeol datar. Melihat tak ada reaksi, Chanyeol mengulangi ucapannya sekali lagi. Tapi lagi-lagi tak ada pergerakan sama sekali dari namja bersurai coklat tua itu. Mulai geram, Chanyeol pun mengangkat dengan paksa dagu namja mungil itu hingga pandangannya secara tak sengaja bertatap langsung dengan sepasang kelereng coklat tua milik Baekhyun.

Sesaat Chanyeol tertegun.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

"Bagaimana jika pisau ini menyentuh kulit mulus adikmu—"

.

"Bagaimana jika pisau ini menyentuh kulit mulus adikmu—"

.

Kalimat itu seolah langsung menguasai isi otak Luhan dan Kai sekarang. Tapi detik berikutnya Kai langsung tersadar dan perlahan melihat raut wajah sahabatnya itu.

Pucat. Bahkan kulit putih pucatnya, terlihat makin pucat seperti mayat hidup. Luhan terlihat seperti menahan nafas dan itu membuat Kai semakin panik.

"H-hyung...?" tak ada respons dari Luhan.

Saat Kai ingin membuka suara lagi, Luhan langsung menyelanya. "Baekhyun..."

Kai tahu betul bagaimana perasaan Luhan sekarang, dia pasti menghawatirkan keadaan Baekhyun. Bukan, tapi lebih tepatnya mengkhawatirnya nyawa Baekhyun. Kai berusaha memutar otaknya sekarang, dia harus bisa menemukan keberadaan Chanyeol secepatnya. Atau kalau tidak, nyawa Baekhyun yang jadi taruhannya.

Sambil menunggu Luhan menenangkan pikirannya, Kai mulai berkutat dengan ponselnya. Dia berusaha mencari nama seseorang di kontaknya. Dan satu nama langsung menarik perhatiannya. Tanpa basa-basi dia langsung men-dial nomor tersebut.

Tak menunggu lama, karena pada sambungan kedua seseorang diseberang sana sudah mengangkat panggilannya.

"yeob—"

"Tao, kau tahu dimana Chanyeol sekarang?" Luhan menoleh.

"eh?—"

"Aku tanya, apa kau tahu dimana Chanyeol sekarang? Terakhir kali aku melihatnya sedang bersamamu, bukan?"

Beberapa detik tak ada jawaban, hanya terdengar samar suara gaduh seperti buku terjatuh. "Hey! Apa sedang kau lakukang sekarang!? " teriak Kai tak sabar.

"Ah maaf-maaf, haha.. aku sedang berada di perpustakaan sekarang dan yah kau tahu sendiri seperti biasa— Kwon seongsangnim menghukumku. Dan ah! Kau bilang apa tadi, dimana Chanyeol sekarang?" tanya Tao yang tak lain adalah teman Kai, mereka kerap berada di kelas yang sama dibeberapa mata pelajaran. Tak heran jika mereka memang sudah akrab. Tapi bukan hal itu yang membuat Kai berinisiatif menelpon Tao.

Selain karena Kai melihat mereka sempat berbincang saat jam kuliyah berakhir, tapi juga karena Tao merupakan salah satu teman yang sering terlihat bersama-sama, ntah itu dikantin, saat hang out dan lainnya.

"ya, ya... Kau tahu dimana dia sekarang? Terakhir kali aku melihatnya bersamamu" tanya Kai lagi.

"emm... Aku tidak tahu" jawab Tao enteng. Dan itu membuat Kai semakin menggeram frustasi.

"yak! Jangan bercanda! Ini darurat! Cepat katakan dimana Chanyeol sekarang!?" bentak Kai, sedangkan Tao yang masih mendengarkan panggilannya disebrang sana refleks menjauhkan ponselnya dari telinganya, dan mengusap-usap kasar telinganya yang terasa berdengung.

"Bisakah kau memelankan suaramu! Gendang telingaku hampir pecah, kau tahu?" Kai hanya berdecak kesal, tapi masih bisa didengar jelas oleh Tao.

"Memangnya ada apa kau mencarinya? Kenapa kau tidak tanyakan saja pada kekasihnya? Bukankah kau sahabat Luhan..."

"ck, Luhan sedang bersamaku sekarang" jawab Kai datar, dan Luhan yang ada disampingnya masih menyerutkan keningnya sambil membaca ekspresi wajah Kai.

Luhan memang tak bisa mendengar suara seseorang di seberang telepon Kai, tapi yang jelas. Dia tahu Kai masih berusaha mencari keberadaan Chanyeol.

"Ooowh, jadi kau mau bilang kalian sedang berselingkuh dibelakang Chanyeol begitu?" kalimat itu langsung membuat Kai sedikit tersentak. Argh for God's Shake! Kai benar-benar ingin menonjok wajah anak itu sekarang. Tapi dia tidak akan melakukan itu sekarang, demi Luhan dan demi Baekhyun. Kai akan berusaha keras menahan amarahnya sekarang.

Dia tahu akan seperti ini jika dia berbicara dengan Tao, tidak pernah bisa bersikap serius. Bahkan jika itu hal yang sangat penting sekalipun. Tapi entah dorongan dari mana, Kai seolah yakin Tao tahu dimana atau kemana Chanyeol sekarang.

Walau Tao bergaul dengan Chanyeol yang notabennya anak berandalan, pemalas, suka membolos dan kurang ajar pada dosennya sendiri, tapi sebenarnya dia anak baik-baik. Dan yang paling Kai ingat, dia bisa diandalkan. Yah walaupun harus berusaha keras dulu seperti ini.

"Aku sedang ser—"

"Aku tahu!" sela Tao. "hahh... Asal kau tahu, aku benar-benar tidak berbohong dengan ucapanku tadi. Aku tidak tahu keberadaan Chanyeol sekarang! Tapi—" Tao tiba-tiba menghentikan ucapannya dan nampak sedang berfikir.

"tapi?"

"emm... sebentar, aku sedang berfikir" lagi-lagi Kai hanya berdecak kesal, tadi Tao terlihat sangat serius dan sekarang, sepertinya sifat Tao tak akan pernah berubah. "Sabar Kai, sabar" gumam Kai dalam hati.

"Ahh! AKU TAHU!" Kai hampir sersedak ludahnya sendiri saat tiba-tiba Tao berteriak diseberang sana. Tapi detik berikutnya dia langsung bersyukur, setidaknya usahanya bersabar tak sia-sia.

"Apa!? Cepat katakan, Tao!"

"ck, kau tidak sabaran sekali. Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku untuk apa kau mencari Chanyeol. Tapi hahh yasudahlah, itu juga bukan urusanku—"

"Astaga Tao, Kau benar-benar membuat kesabaranku habis!"

"Baiklah-baiklah— tadi aku memang sempat bersamanya, tapi tidak setelah Kris menghampiri kami—"

"Kris?" tanya Kai sekali lagi, siapa tahu dia salah dengar.

"Hmm... Kris. Dan, hanya itu saja. Aku tidak tahu lagi. Dan sepertinya Kwon seongsangnim mulai curiga denganku, aku harus menutup telponnya. Annyeong—"

"—Tao! Arghh..." sambungan langsung terputus cepat bahkan sebelum Kai bertanya lebih lanjut.

Kris? Kai masih mencoba berfikir. "ASTAGA! KRIS WU!" teriak Kai.

.

©babybyunsoo

.

Chanyeol tertegun setelah melihat mata sabit milik Baekhyun. Mata itu...

Entahlah Chanyeol sendiri tak bisa mengartikannya, tatapan tajam tapi juga terlihat begitu sayu. Sebelum benar-benar tenggelam dalam kelereng coklat itu, Chanyeol segera menggelengkan kepalanya sekilas. Tapi lagi-lagi mata bulatnya terkunci pada cairan warna merah pada bibir Baekhyun.

Darah...

"ck! Bodoh sekali kau, sampai-sampai melukai dirimu sendiri" belum sempat Baekhyun merespon. Jempol Chanyeol sudah tertempel dibibir mungil Baekhyun dan dengan perlahan menghapus cairan merah tersebut. Baekhyun sedikit meringis karena rasa perih yang ditimbulkan akibat pergesekan jempol Chanyeol dibibirnya itu.

Baekhyun masih terdiam sambil menatap Chanyeol yang sedang membersihkan darah dari jempolnya dengan selembar tissu yang ntah dari mana dia mendapatkannya dan membuangnya asal.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" kalimat yang keluar dari bibir mungil Baekhyun sontak langsung membuat Chanyeol menolehkan kepalanya. Sedikit terkejut karena akhirnya kelinci kecilnya itu membuka suara, tapi detik berikutnya seringaian itu muncul disudut bibir Chanyeol

"Yang ku inginkan darimu?" Chanyeol kembali mengulang pertanyaan Baekhyun, dia berjongkok mencoba mensejajarkan wajahnya dengan wajah manis Baekhyun yang masih terduduk di kursi dengan semua ikatan yang ada.

Tangannya sejenak merogoh saku jaket yang dikenakannya, dan detik berikutnya sebuah benda mengkilat keluar dari sana. Chanyeol masih memperhatikan benda itu sambil sesekali memainkannya. Jemarinya menelusuri setiap inchi benda itu hingga berhenti pada sebuah tonjolan, seperti tombol tapi bukan. Dan detik saat jempol Chanyeol menggeser permukaan menonjol itu, sebuah benda dengan ujung yang runcing langsung teracung.

Baekhyun langsung membelalakkan matanya, jantungnya dua kali lipat berdetak cepat. Tenggorokannya mendadak kering, dia tahu benda apa itu...

Pisau.

"—Aku harap kau masih bisa melihat dunia ini, besok" kalimat Kris yang sempat dianggapnya sebuah lelucon tiba-tiba kembali terngiang dipikirannya lagi. Apa berarti benar? Baekhyun akan segera bertemu kedua orang tuanya disurga, besok? Jika iya, benarkah secepat ini? haruskah dengan cara seperti ini?

"Aku ingin melihat Luhan tersiksa"

"A-apa!?" Baekhyun yang tadi masih bergelut dengan pemikirannya sendiri tersentak kaget saat Chanyeol menyebut nama Luhan.

"Kau harus tahu satu hal, yang membuatku seperti ini semua karena Hyungmu. Dia memutuskan sepihak hubungan kami." Chanyeol sedikit menjeda kalimatnya. "...Aku marah, aku benci keputusan itu, aku benci saat dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama namja brengsek yang Luhan anggap sahabatnya itu, tapi anehnya aku masih tetap mencintainya" Chanyeol terkekeh pahit diakhir kalimatnya itu.

"tapi aku tak sebodoh itu untuk meminta cintanya kembali, yang aku inginkan saat ini hanya ingin melihatnya tersiksa..." Chanyeol menjatuhkan pandangannya pada Baekhyun yang masih tertegun sedari tadi, "—dengan cara menyiksamu terlebih dahulu".

Chanyeol memajukan sedikit kepalanya mendekati Baekhyun. Tangan kanannya terangkat sambil mengacungkan pisau lipatnya itu. Dia menjalankan pisau lipat itu dengan tangannya menelusuri pipi putih yang sudah berpeluh sampai dileher mulus milik Baekhyun. Chanyeol bahkan bisa melihat tenggorokan itu baru saja menenguk ludahnya.

Dia terkekeh penuh kemenangan karena mampu membuat kelinci kecilnya itu ketakutan.

...

Baekhyun berani bersumpah dia benar-benar ingin lepas dari situasi ini sekarang juga. Keringatnya bercucuran tak henti-henti. Dia meneguk ludahnya kasar saat ujung runcing pisau lipat itu sampai di bawah lehernya.

Dia memejamkan matanya erat, berusaha membuang semua ketakutannya. Tapi detik berikutnya matanya membualat sempurna setelah satu kalimat yang dibisikkan Chanyeol tepat disamping telinganya yang mampu menembus indra pendengarannya.

.

.

"...tapi sebelumnya aku ingin mencicipimu terlebih dahulu" Baekhyun bisa melihat dari ekor matanya sebelah bibir Chanyeol yang terangkat sempurna. Seringai mengerikan itu lagi.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

Kai dan Luhan sekarang sedang menunggu Kris di sebuah cafe, setelah sebelumnya Kai menelpon kris untuk menemuinya. Kris awalnya sempat menolak, tapi Kai terus mendesaknya dengan alasan ini menyangkut nyawa seseorang, benar nyawa seseorang.

Disisi lain, Luhan semakin merasa gelisah. Dia sudah tak sanggup berpikir lagi. Yang ada diotakya saat ini hanya Baekhyun, dan bagaimana keadaannya sekarang. Luhan benar-benar takut jika hal buruk terjadi pada Baekhyun, dia hanya anak polos yang tak tahu apa-apa. Tapi karena Luhan, adiknya yang tak bersalah ini harus ikut terjebak dalam situasi seperti ini.

Tapi disisi lain, Luhan benar-benar merasa beruntung karena ada Kai yang mau membantunya. Dia tak bisa membayangkan jika harus berjuang sendirian mencari Baekhyun.

Lamunannya tersadar saat mendengar denting bel khas cafe ketika pintunya terbuka, dan selanjutnya muncullah sosok namja yang menjulang tinggi, berambut pirang terang, berkulit putih pucat serta ekspresi wajahnya yang selalu terlihat dingin.

Tanpa aba-aba Kai langsung bangkit menghampiri sosok itu dan mencengkeram kerah kemejanya. "Katakan padaku dimana Chanyeol sekarang!" emosi Kai yang sedari tadi tertahan meluap sudah. Bahkan beberapa pengunjung cafe mulai terganggu dengan kebisingan yang disebabkan oleh Kai.

Luhan yang sadar situai segera menghampiri mereka, menyuruh mereka segera duduk untuk membicarakan masalah ini. Kai paham dan segera mengikuti perintah luhan, begitu juga dengan Kris.

"Jadi, kau menyuruhku datang kesini hanya untuk bertanya dimana Chanyeol berada?" tanya Kris dengan nada terkesan mengejek.

"Jangan bersikap seolah kau tak tahu apa-apa Kris, aku tahu kau dan Chanyeol yang menculik Baekhyun. Dan sekarang kalian menyembunyikannya disuatu tempat." Tutur kai mencoba mengintimidasi Kris, tapi sepertinya Kris sama sekali tak merasa terganggu malah tertawa mengejek.

"hmm.. benarkah begitu? Aku sama sekali tak tahu menahu tentang masalah ini. Jadi, bisakah kau tak menuduh orang sembarangan!?" Kris mulai meninggikan nada suaranya di akhir kalimat seolah tak terima dengan tuduhan Kai.

"Jangan menyia-nyiakan waktu, KRIS! Aku tahu Chanyeol bersekongkol denganmu! Cepat katakan atau kau akan kulaporkan pada polisi!" ancam Kai.

Bukannya takut, kris malah tertawa mengejek, "melaporkanku pada polisi? Hah! Bagaimana polisi akan percaya jika kau sama sekali tidak punya bukti!"

"Luhan, tunjukkan padanya" perintah Kai. Luhan mengerti dan langsung merogoh sesuatu disakunya, sebuah ponsel. Kris mengerutkan keningnya tak mengerti dengan apa yang akan ditunjukkan Kai padanya.

Setelah beberapa saat Luhan mengutak-atik ponselnya, akhirnya dia menyodorkan ponsel itu dihadapan Kris. Dan dengan kasar Kris segera merampas ponsel itu dari tangan Luhan.

Kris kembali mengerutkan keningnya lagi tak mengerti untuk apa Luhan memperlihatkan sebuah gambar pisau padanya, tapi setelah dia membaca pesan yang terselip dibawahnya. Mata Kris langsung naik untuk membaca siapa kontak name yang mengirimi pesan gambar ini. dan detik berikutnya dia langsung berdecak kesal.

"Bagaimana Kris? Apa kau masih akan mengelak lagi? Aku bisa saja melaporkan Chanyeol pada polisi, dan otomatis kau juga akan terseret karena Chanyeol tak akan membiarkan dirinya sendiri yang tertangkap. Kau hanya punya waktu 3 detik sebelum aku benar-benar menelpon polisi, Kris."

"Satu,

...dua—

Tig—"

Kris menggenggam tangannya erat berusaha menahan rasa kesalnya. Dia merutuki kebodohannya sendiri karena mau saja diajak Chanyeol menculik Baekhyun. "ck, Baiklah." Satu kalimat dari Kris mampu mempu membuat Luhan bernapas lega, karena itu berarti Baekhyun bisa segera mereka selamatkan. Sedangkan disisi lain, Kai tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Kris terpojok dengan ancamannya.

.

©babybyunsoo

.

Setelah berhasil mendapatkan alamatnya, Luhan dan Kai langsung meluncur ke tempat dimana Kris memberitahunya. Sebuah rumah tua berlantai dua tak terpakai yang ternyata letaknya tak jauh dari apartemen Chanyeol. Rumah itu terlihat menyeramkan dari luar karena semak belukar yang sudah meninggi ditambah dua pohon oak yang berdiri disisi kanan dan kiri pekarangan rumah tersebut.

Kai sengaja memarkirkan mobilnya dipinggir jalan dengan menepikannya sedikit akan tak menghalangi jalanan. "Apa kau yakin ini benar alamatnya, kai?" tanya Luhan begitu mereka keluar dari dalam mobil. "Aku yakin hyung, alamatnya sama dengan yang di ucapkan Kris, Ah! Lihat! Bukankah itu mobil Chanyeol?" tunjuk Kai pada sebuah mobil sport hitam yang terparkir di halaman samping.

Tanpa basa-basi Luhan dan Kai langsung berlari menuju pintu besar yang menghubungkannya dengan ruang tamu. Pintu sedikit berderit saat Kai yang berada didepan membukanya. Kosong adalah hal pertama yang mereka temukan didalam sana. Tak ada sofa maupun meja, yang ada hanya beberapa lukisan yang terpajang didinding yang beberapa diantaranya sudah hancur dan miring.

Mata Luhan menelusuri setiap celah yang ada disana, tapi sepertinya tak ada satupun suara yang terdengar kecuali derap langkah mereka sendiri. "Kai, aku akan mencarinya dilantai atas"

"Baiklah hyung, aku akan mencarinya disekitar sini dulu." Setelah mendapatkan persetujuan dari Kai, Luhan langsung berlari menaiki tangga yang terletak di samping ruang tamu. Dengan nafas memburu Luhan terus menaiki anak tangga hingga akhirnya dia menggapai ujung tangga tersebut.

Dengan perlahan dia melangkahkan kaki mungilnya menyusuri lantai marmer berwarna sand terang. Bola matanya bergerak kekanan dan kekiri mencari keberadaan adik yang 4tahun lebih muda darinya itu.

Langkahnya terhenti begitu mendengar suara hamtaman keras mengenai lantai disusul suara pekikan yang tertahan. Luhan tak tahu apa yang baru saja menghantam lantai, yang pasti itu adalah sesuatu yang besar. Tapi bukan itu yang semakin membuat persendian Luhan kaku tiba-tiba, suara itu... jelas dia sudah hafal betul.

Setelah bersusah payah mengontrol jantungnya yang berdetak menggila tak karuan hanya dengan membayangkan kemungkinan-kemungkinan apa yang terjadi, Luhan langsung mengambil langkah seribu untuk mencari sumber suara yang sudah tak didengarnya lagi.

Langkahnya kembali terhenti begitu ekor matanya menangkap siluet seseorang bertubuh besar yang sedang berlutut sedikit membungkuk kedepan. Dengan hati-hati Luhan mulai menggerakkan kepalanya kearah ekor mata yang menangkap sosok tadi.

Sosok namja yang tak asing lagi 1tahun belakangan ini bagi Luhan, walaupun sosok itu membelakanginya tapi Luhan tak perlu bersusah payah menebak-nebak siapa sosok itu. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah siapa sosok yang sedang terbaring dibalik tubuh itu.

Tunggu, celana kelabu khas anak sekolah. Sepatu kets merah dengan garis putih. "ASTAGA, PARK CHANYEOL! APA YANG KAU—" begitu sosok yang tak lain adalah Park Chanyeol menoleh kearah Luhan, dia semakin membelalakkan matanya begitu melihat cairan pekat berwarna merah berlumuran ditelapak tangan Chanyeol. Sebelum detik selanjutnya benar-benar bergerak mata Luhan sudah bisa menangkap sosok yang begitu dikhawatirkannya beberapa jam yang lalu.

"YA TUHAN, BAEKHYUN!"

.

.

END

.

/dibomatomreaders/

Kagak-kagak be'canda koq. XD

.

.

TBC


Baek : Channie, ntu darah apaan sih!? Jorok banget! euww

Chan : err.. ini kan darah elo baek!

Baek : O.O

Baek : hweee... aku kenapa? itu darah apa? HWEE *larimelukchan*

Kai : ehemm hyung, disini pairnya kaibaek, KAIBAEK HYUNG! BUKAN CHANBAEK!"

Chanbaek ; *nyengir*


Author Note : Sebelumnya saya mau meminta maaf atas kesalah saya, beberapa readers yang unamenya tidaK muncul dibalasan review kemarin. Mohon dimaklumi 'ketidaktahuan' saya, kalo ternyata tanda titik yang diapit(?) dua kata bisa ngilang kalau udah di upload. Hehe/nyengir/

Dan tolong benar-benar dimaklumi kalo tiba2 saya lupa kasih sesuatu, misal tanda TBC de el el. Saya masih anget(?) banget di ffn jadi pasti lupa ini itu. Dan yahhh maklumin aja ya. Dan apa itu soal tombol pisau lipat itu saya sama sekali gk tahu apa namanya, saya aj waktu jabarin satu paragrap soal pisau lipat itu mikirnya mpe berjam-jam XD

Mohon dimaafkan juga kalau mungkin kalian nemu kata-kata sumbang atau rancu, itu berarti otak author udah gak bisa digali lagi alias mentok dikalimat itu doang.


Balasan ripiew :

ritaanjani4 : haha, kalo tbcnya gak nongol jadinya oneshot dong XD. Ya udah jgan dibayangin, diresapi aja /plak

Fujoshi203 ; makasi buat ripiewnya :) eh, pair utama ChanLu? Hehe saya masih belum bisa janjiin apa-apa. Soal psycopat mungkin saya belum ahlinya buat, wkwk tp kalo disuruh baca seru juga XD

meyminimin : haha sabar yak, itu baeknya udah ketemu kan?

Clowny newbie : aduhh plis saya gak bisa tanggung jwab sama nyawanya si baek. Tapi akhirnya Lulu dateng, kn? Berdo'a aja ya moga kgak kenapa2

Tinker tinker4 : makasih buat ngasih tahu kalo ada typo, tp typo juga seni *loh*. Ahaha kepo ya, saya nih namja or yeoja?. Ya udah nih sebagai orang yang suka ngaku2 jadi adik dari kakak kembar bersaudara/nunjukBaekLu/plak, perkenalkan saya adik kandungnya(?) Kim Taeyeon. Kim Freydae, marga Kim buat nama keluarga kim Taeyeon XD dan kim buat istri sahnya Kim Jong In /dibakarreaders/ haha be'canda tp yg paling akhir itu bener o.O tapi udah jelas kan saya nih namja or yeoja..

Putribaek , Bapao123, Kaibaekshipper & Kkamjong : nih udah, udah puas kan? Atau malah nambah penasaran?

GreifannyGS : Aaaa makasih^^ komen kmu juga author suka XD. Hiks maaf baekkinya saya gak bisa tanggung jawab buat next chap.../ngacir/

Shantyy9411 & chuapEXO31: ets kesian dong kalo ditimpuk masa, apa lagi dibakar. Mending digantung aja /apabedanya/

Azura Eve : aduh eon malah ngrasa kurang PD ma nih ff karena genrenya family. Biasanya kan pda suka yg lovey dovey gituh XD nah kan udah dijelasin kalo luhan itu jengah krn sikap yeollo yang keras+kasar /ditimpukbaek/ nah soal sad ato nggknya tunggu next chap aja...

Inggit : emang BaekHan kalo dilihat sekilas itu hampir sama XD

Chans : nah kalo pnjang2 keburu end dong. Iy nih udah

Ryanryu : mari berdo'a buat baek

Shinta lang : hha emang saya demennya nistain yeollo XD

Guest and guest : tuh udah diselametin kan? Tapi soal nyawa saya gak tanggung jawab /plak/XD

Lulu nana99 : iya maksih udh mo review, yah moga aja yah bahagia. Kerena saya gak pasang genre 'angst', jd 'Mungin' masih ada harapan buat Happy Ending. buat masa depan(?) ChanLumsaya belum bisa janjiin apa2.


Last Note : [R; elah banyak amat baconannya][A :'(] SEKALI LAGI, thanks buat semua readers yang udah mau baca, memahami dan menelaah /PLAK/XD cerita ala kadarnya ini buat yang follow sma favorite juga. Saya makin semangat kalau riview kalian banyak, karena letak Jiwa sang author itu ada pada riview dari kalian.

Oh iya CONGRATS! Buat oppadeul2 kita aka EXO yang kemaren udah bisa memborong 3 tropy SEKALIGUS. Buat abang2 saya –nunjuk SHINee- akhirnya setelah penantian 6th bisa membawa pulang tropy daesang[best artist oty] /goyangBarBarBar barengKaiBaek/

/dan VCR nya EXO kmren di Melon kemaren asdfghjkl keren banget! /

.

.

And Last, Repiew puhleasshh/gwiyomibarengbaek/


BIGGEST MISTAKE ©babybyunsoo