65% Author's Note mungkin isinya gak terlalu penting –gak penting banget malah-, tapi "dianjurkan banget" buat baca setiap A/N yang author sisipin. – babybyunsoo^^


A/N : HOLA, como esta...? jarang2 nih ya saya naruh Author note di awal. Sekedar mau nyapa readers aja... hehh ke-PD-an banget ya saya, kayak ada yang mau disapa aja.

Makasih buat readers yang masih setia nungguin epep absurb ini. Saya mau minta maaf aja atas keterlambatan publish yang 'agak' lama, selain karena masalah 'JELANGKUNG' aka SIDERS yang bawaannya makan rempela(?) mulu, di chapter ini juga bener-bener bikin saya meres(?) otak mpe ke ampas-ampasnya [r;lebeh lu thor], padahal ini belum ending. apalagi ntar ending, mungkin saya perlu semedi dulu kali ya /plak/ . hahh maklumin saya lah, namanya juga newbie, jadi mesti 'alon-alon asal kelakon'. [r; ahh nih author kebanyakan bacon nihh...] [A; hhe bentar sayang, tinggal satu pengumuman terakhir]

Sebelumnya, saya mau sungkeman dulu sama OTP tercinta saya karena udah bikin mereka gila(?) di chap ini. /nunjukChanBaek/dilemparReaderskeSeoul/ kk~~


WARN!

THRERE'S BL INSIDE

NO PLAGIARISM! NO COPYCAT!

THIS IS JUST FANFICTION, JADI MOHON JANGAN DIANGGAP SERIUS! APALAGI MEMBAWANYA PADA DUNIA NYATA.

Out Of Character, Miss typo(s), tidak sesuai EYD, sediakan ember jika terjadi Gejala Muntaber(?)

DON'T LIKE. DON'T READ! JUST CLOSE YOUR TAB WITHOUT ANY COMENT!

SIDERS? *pasangBawangPutih*

.

.

Summary :

"Kesalahan terbesar Luhan adalah membiarkan jiwa saudaranya hancur".


.

.

GET...

.

.

..set...

.

.

Ready?

.

.

GO!

.

.


"Hyung, kenapa hyung menangis?"

"..."

"Kapan kita akan menjemput eomma dan appa?"

"..."

"Bukankah kita akan menjemput eomma dan appa? Tapi kenapa kita berhenti di rumah sakit?"

"Apa hyung sakit?"

"..."

"HWAAa... EOMMAAA APPAAA... KALIAN JAHATTT... KENAPA KALIAN MENINGGALKANKU SENDIRI..."

"hiks...H-hyung..."

"Hyung, ayo bermain..."

"Tidak bisa baekhyun, hyung sedang banyak tugas"

"Hyung, ada pembukaan toko eskrim baru di ujung blok sana, mereka akan memberikan eskrim gratis untuk pengunjung yang datang hari ini. Ayo kita kesana hyung..."

"maaf Baekhyunnie, hari ini hyung sudah ada janji dengan Kai. Hyung janji, besok hyung akan menemanimu kesana"

"Hyung, disekolah sedang ada bazar. Kebetulan aku, chen dan Kyungsoo juga membuat sesuatu untuk dijual. Hyung harus melihat hasil karya kami, pasti hyung suka"

"Hyung ingin sekali pergi kesana dan melihat hasil karyamu, tapi hyung sudah ada janji dengan Chanyeol. Mianhae, Baekhyunnie..."

"Hyung, aku menyayangimu..."

"Aku juga Baekhyunnie"

"Hyung berjanji tidak akan pernah meninggalkanku kan?"

"Kita akan terus bersama...

...selamanya"


.

.

babybyunsoo©

.

Present

.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

.

Chanyeol menatap kosong tangannya. Bukan, bukan karena tangannya yang besar tapi karena cairan pekat berwarna merah melumuri seluruh permukaan telapak tangannya.

Darah...

Benar, itu darah manusia lebih tepatnya itu darah Baekhyun. Ini benar-benar diluar kendali Chanyeol, dia tak menduga akan berakhir seperti ini. Ada suatu perasaan takut bercampur bingung. Takut dengan apa yang baru saja terjadi tadi, dan bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang.

Awalnya Chanyeol hanya ingin sedikit bermain-main dengan adik 'mantan' kekasihnya itu, berawal kecupan dibibir mungil itu hingga Chanyeol tak bisa mengendalikan diri dan berakhir dengan sedikit bekas merah di leher putih milik Baekhyun.

Setiap sikap yang Chanyeol ambil, Baekhyun selalu menolaknya habis-habisan, dia terus saja memberontak berusaha membebaskan diri walaupun usaha itu sia-sia tapi setidaknya Chanyeol bisa berhenti mencumbuinya.

Air mata yang terus mengalir deras bercampur peluh yang sedari tadi membasahi wajahnya, membuat Baekhyun terlihat sangat kacau. Hingga satu sentakan terakhir mampu membuat Baekhyun lepas dari namja yang hampir memperkosanya itu. Tapi sialnya, aksi yang Baekhyun lakukan justru mencelakai dirinya sendiri.

Kursi yang Baekhyun duduki justru oleng dan langsung jatuh kesamping bersama tubuhnya yang masih tertumpu disana. Tubuhnya membertur lantai cukup keras hingga menghasilkan suatu bunyi yang berarti disusul suara pekikan Baekhyun yang lumayan keras.

Sedangkan disisi lain Chanyeol yang masih belum mencerna kejadian yang baru saja terjadi beberapa detik yang lalu menatap Baekhyun dengan pandangan bingung bercampur shock. Setelah suara pekikan yang Baekhyun hasilkan, tubuhnya tak lagi bergerak. Kedua matanya tertutup tapi dia 'sedikit' bersyukur karena sepertinya Baekhyun masih bernafas, karena dadanya yang masih terlihat naik turun.

Chanyeol mencoba membangunkan Baekhyun dengan menepu-nepuk pipinya. Dia bahkan sempat berfikir kalau Baekhyun 'mungkin' hanya berpura-pura pingsan, tapi pikiran itu hilang seketika setelah kedua matanya terpaku pada cairan merah pekat dan merembes dibalik kepala Baekhyun. Salah satu tangannya terangkat mencoba membuktikan apa penglihatannya itu memang tidak salah, dan detik berikutnya kedua mata Chanyeol yang memang sudah lebar, semakin melebar ketika telapak tangannya benar-benar merasakan sesuatu yang lengket dibalik surai coklat tua milik Baekhyun.

Dengan segera Chanyeol menarik tangan kanan yang digunakan untuk mengecek cairan pekat itu, itu memang benar-benar darah. Baekhyun tidak berpura-pura pingsan.

"ASTAGA, PARK CHANYEOL! APA YANG KAU—" Chanyeol tersentak kaget dan langsung menoleh ketika sebuah suara yang sangat tak asing bagi Chanyeol terdengar. "Lu-Luhan.." lirihnya sama sekali tak terdengar.

"YA TUHAN, BAEKHYUN!"

Sosok yang baru saja memutuskan hubungannya itu langsung berlari menerobos tubuh Chanyeol yang masih berlutut sehingga membuatnya langsung limbung kebelakang.

.

babybyunsoo©

.

Kai sudah meneliti hampir semua ruangan yang ada dilantai bawah, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan. "Ah mungkin Chanyeol menyembunyikan Baekhyun di lantai atas, sebaiknya aku cepat menyusul Luhan hyung" batinnya sambil memutar badan berniat menuju ke tangga yang hanya berjarak 2 meter dari tempatnya berdiri.

Baru beberapa langkah bahkan ujung kakinya belum sampai menyentuh anak tangga tapi teriakan nyaring sudah terdengar cukup keras akibat pantulan suara yang menggema di lantai atas.

Dan kalimat terakhir yang terdengar jelas, sangat jelas malah mampu menembus gendang telinga Kai, bahkan sebelum detik selanjunya bergerak otak Kai sudah mampu mencerna apa yang saat ini terjadi.

Tanpa menunggu detik selanjutnya bergerak lagi, Kai sudah berlari menaiki anak tangga dengan meloncati tiap pasang balok seolah dia tak rela kehilangan satu detik saja hanya untuk satu buah balok sialan itu. Begitu Kai sampai diatas, dia benar-benar terperangah dengan apa yang dilihatnya sekarang.

Tubuh Baekhyun yang lemas terbaring tak berdaya dilantai, sebagian badannya disangga oleh Luhan yang kedua tangannya sudah berlumuran dengan darah. Kedua mata Kai melebar dengan mulut yang sedikit menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Begitu iris mata Kai menangkap seseorang yang terduduk tak jauh dari Luhan dan Baekhyun, sontak amarah Kai langsung membuncah.

"BRENGSEKK! KAU!"

BUGG

Satu pukulan telak langsung mendarat mulus dirahang Chanyeol hingga membuatnya langsung tersungkur dan mengerang penuh kesakitan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Kai. Seolah satu pukulan saja tak cukup, Kai kembali menghujani wajah Chanyeol dengan pukulan penuh amarah. Sama sekali tak ada perlawanan dari Chanyeol, seolah dia benar-benar pasrah atau justru dia merasa pantas mendapatkannya?

"Kai! Cukup! Kita harus segera membawa Baekhyun ke Rumah Sakit sekarang! Dia bisa kehilangan banyak darah!" ucapan Luhan langsung menghentikan aksi brutalnya seketika. Genggaman tangan Kai dikerah Chanyeol semakin mengerat sehingga membuat sang empunya terbatuk karena persediaan nafas yang semakin berkurang.

"Dengar! Breksek! Urusan kita belum selesai!"

BUGG

Dan satu pukulan terakhir yang dilayangkan Kai tepat dipipi Chanyeol yang sudah penuh dengan memar dan lebam, seolah menjadi hadiah terakhir Kai untuk Chanyeol sebelum mereka –Luhan dan Kai- membawa Baekhyun ke Rumah Sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

Sepasang mata rusa menatap kosong lantai keramik berwarna putih, wajahnya terlihat sangat kacau. Bekas sungai airmata yang sudah mengering tercetak jelas dipipi putih pucatnya. Udara senja yang dingin membuat bekas darah dikedua telapak tangannya mengering.

"Chanyeol hampir memperkosanya..."

Bukan tanpa alasan Luhan mengeluarkan pernyataan itu. Saat dalam perjalanan mereka ke tempat ini, iris mata Luhan menangkap sesuatu di leher Baekhyun. Dan Luhan tak sebodoh itu untuk tak mengetahui bekas apa itu.

Disisi lain, satu kalimat itu sukses menciptakan suara retakan samar di jemari Kai yang tergenggam, buku-buku jarinya semakin memutih seiring genggaman yang makin mengencang. Jika Kai tidak ingat kalau ini adalah Rumah Sakit, mungkin saat ini dia langsung berteriak kencang memaki dan menyumpah serapahi namja yang sudah membuat orang yang paling berharga bagi hidupnya sekarat seperti ini.

Sekali lagi Kai hanya mampu mengunci semua amarah itu dalam hati, karena yang terpenting sekarang adalah keadaan Baekhyun. Sudah lebih dari satu jam mereka menunggu tapi belum ada satupun orang yang keluar dari ruang gawat darurat itu.

Ini benar-benar membuat Kai maupun Luhan menunggu dengan perasaan yang campur aduk. Berbagai prasangka buruk menggelayuti pikiran mereka masing-masing. Suasana senja menjelang malam seakan ikut merasakan apa yang tengah mereka rasakan. Lorong rumah sakit sangat sepi, bahkan mereka bisa ikut mendengar suara detik jarum jam yang semakin lama terasa semakin melambat.

"Baekhyun... akan baik-baik saja..., kan?" sekali lagi suara parau milik namja bermata rusa itu memecah keheningan malam. "Dia... tidak akan... m—"

"Baekhyun akan baik-baik saja," potong Kai cepat.

"Ya, kau... benar, Baekhyun akan baik-baik saja" ucap Luhan seolah dia berusaha menyakinkan dirinya sendiri.

Krett...

Suara deritan pintu yang terbuka langsung mengalihkan dua pasang mata yang sudah was-was menunggu pernyataan apa yang akan dikeluarkan namja paruh baya dengan setelan jas putih khas seorang dokter itu, terlihat peluh yang mengalir di dahinya yang sudah mulai menampakkan kerut-kerutan menjelang usianya yang makin berkurang.

Baik Luhan maupun Kai sama sekali tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya dan hanya memandang sang dokter dengan tatapan penuh kekhawatiran.

"Siapa diantara kalian yang keluarga pasien disini?"

"A-aku..." Luhan maju beberapa langkah mendekati sang dokter, "Aku Hyungnya...—"

"—bagaimana keadaan Baekhyun? Dia... baik-baik saja kan?" terselip sedikit keraguan diakhir kalimatnya, membuat Luhan hanya mampu menggigit bibir bawahnya.

Terlihat helaan nafas singkat sebelum dokter itu membuka suaranya lagi, "Cedera dikepalanya cukup parah, pendarahan dikepalanya juga cukup membuat kami sedikit kewalahan...—"

Pernyataan dokter yang belum sepenuhnya selesai itu sudah mampu membuat Luhan menahan nafasnya, paru-parunya terasa sesak dan matanya mulai memanas belum siap membendung airmata yang sewaktu-waktu akan keluar. Disisi lain, Kai hanya mampu diam. Buku-buku jarinya kembali memutih seiring dengan cengkraman ditangannya yang semakin menguat berusaha meredam semua rasa sesak yang sudah sepenuhnya mengisi paru-parunya.

"—tapi dia beruntung, karena kalian tak sampai terlambat membawanya kerumah sakit. Jika sedikit saja terlambat, mungkin hal yang lebih buruk bisa saja terjadi."

Sedikit, hanya 'sedikit' perasaan lega yang mampu mengurangi rasa sesaknya karena belum sepenuhnya dia tahu keadaan Baekhyun yang sebenarnya.

Dokter itu tersenyum hangat seolah memberi harapan cerah bagi mereka berdua, "Sejauh ini keadaannya baik-baik saja. Dia sudah sadar, tapi sepertinya dia kembali tidur. Kita hanya perlu membiarkannya beristirahat—"

"A-apa kita tidak perlu melakukan tes CT-scan terlebih dahulu?" tanya Luhan hanya ingin memastikan kalau adiknya itu memang benar baik-baik saja. Bukan, bukan bermaksud dia mendo'akan kondisi Baekhyun lebih parah, tapi sekali lagi. Luhan hanya ingin 'memastikan' semuanya baik-baik saja. Dengan begitu dia bisa kembali bernafas lega.

"Pasien tidak menunjukkan gejala yang berarti, mungkin setelah ini dia akan sering merasakan pusing yang berlebih. Tapi itu akan menghilang seiring dia sembuh, tapi obat yang akan kami berikan padanya akan sedikit mengurangi rasa pusing dikepalanya." Penjelasan dokter itu langsung membuat Luhan dan Kai bernafas lega, setidaknya Baekhyun tidak mengalami luka yang serius.

"Apa kita boleh meihatnya sekarang?" Kai yang sedari tadi hanya diam akhirnya membuka suaranya.

Dokter itu kembali tersenyum hangat, "Tentu saja boleh, tapi pastikan istirahatnya cukup..."

"Ahh dan satu lagi, jangan biarkan dia berpikir hal-hal berat yang bisa membebani otaknya, itu akan sangat berpengaruh dengan kondisinya nanti", Luhan langsung menggigit bibir bawahnya mendengar pernyataan terakhir sang Dokter.

Beberapa detik keheningan menyapa mereka kembali, sebelum sang dokter memutuskan untuk pamit dan memberitahukan mereka kalau pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan.

.

babybyunsoo©

.

CTARR...

Sebuah cermin berukuran besar yang lebarnya kurang dari setengah meter kini remuk dan hancur membentuk sebuah bekas pukulan yang menjorok kedalam. Bercak darah juga turut ikut andil dalam kehancuran cermin tak bersalah itu.

SRESSHH...

Aliran air kran kini mengucur deras menghapus sisa-sisa aliran darah yang masih mengalir di tangan kekar milik namja bermata bulat itu. Wastafel yang tadinya bersih itu kini ternodai dengan cairan merah yang sudah tercampur dengan air.

Terdengar sedikit erangan kesakitan, namun mati-matian ditahan dengan mengatupkan rapat-rapat gigi-giginya yang sudah bergemertak itu.

Perih dihatinya tak seperih luka ditangannya.

Rasa sesak, rasa bersalah dan... penyesalan?

Benarkah dia merasa 'menyesal' melakukan semua itu?

Benarkah dia mulai merutuki semua kesalahan yang sudah dia perbuat?

.

.

Tidak, dia tidak akan pernah merutuki dirinya sendiri dengan semua kesalahan yang bukan dirinya sendiri penyebabnya. Dan sekali lagi, 'tidak pernah' ada kata 'menyesal' dalam kamus seorang, Park Chanyeol.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

Krett...

Suara yang ditimbulkan sebuah pintu yang terayun kedalam, menyita perhatian salah satu penghuninya untuk segera menoleh kebelakang. Dan senyum yang dipaksakan itu tersungging dibibir mungil namja bermata rusa pada seorang namja yang kini tengah berjalan kearahnya setelah sebelumnya kembali menutup pintu ruangan serba putih itu.

"Apa Baekhyun masih belum bangun?" Hanya gelengan lemas yang menjadi jawaban atas pertanyaan yang ditujukan Kai.

Kai hanya menghela nafas lemas sambil meletakkan beberapa makanan dan minuman yang sempat dibelinya di nakas untuk kebutuhannya dan Luhan. Jam di ruang rawat Baekhyun sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dan ini sudah lebih dari dua jam yang lalu saat Baekhyun akhirnya dipindahkan keruangan yang lebih luas ini.

"Makanlah dulu, hyung. Kau pasti sudah sangat lapar karena dari tadi sore kau terus duduk disitu dan menatap Baekhyun." bujuk Kai. Dia mulai khawatir jika Luhan ikut sakit karena terus-terusan menjaga Baekhyun. Kai tentu paham, sangat paham malah bagaimana perasaan Luhan saat ini. Tapi bukankah Baekhyun juga akan sedih jika dia bangun dan melihat hyungnya jatuh pingsan.

"Aku tidak lapar, Kai... Kau makanlah dulu" sahut Luhan masih menatap wajah damai adiknya yang masih tertidur. Kepala Baekhyun kini sudah dihiasi dengan balutan perban yang terdapat sedikit rembesan darah disisi kirinya. Luhan hanya menggenggam tangan Baekhyun yang terasa sedikit dingin dan berkeringat.

"Aku sudah makan tadi, hyung... hanya tinggal kau saja yang belum. Lihatlah wajahmu pucat, kau juga membutuhkan asupan makanan. Apa hyung mau melihat Baekhyun khawatir saat dia bangun dan melihat kau tiba-tiba pingsan?"

Perkataan Kai 'sedikit' membuat hati Luhan luruh. Benar apa kata Kai, dia tidak boleh membebani pikiran Baekhyun dengan melihat kondisinya nanti.

Nghh...

Tepat saat Luhan ingin beranjak, Baekhyun mulai bergerak resah di tempat tidurnya. Luhan dan Kai sontak langsung mendekat ke sisi ranjangnya, menunggu dengan cemas reaksi Baekhyun.

...

Perlahan mata sipit Baekhyun mulai terbuka, matanya berkerjap-kerjap beberapa kali mencoba beradaptasi dengan bias sinar lampu kamar rawatnya. Dan saat matanya terbuka sempurna, bola matanya mulai menangkap kehadiran seseorang di sekitarnya. Baekhyun menatap Kai dan Luhan bergantian tanpa berucap apapun dan kembali menatap lurus kearah langit-langit kamar rawatnya.

Baekhyun mencoba mengingat sesuatu tapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat berat dan pening, penasaran Baekhyun berinisiatif meraih kepalanya dengan salah satu tangannya yang tersambung jarum infus dipunggung tangannya.

Baekhyun merasakan ada sesuatu yang melilit dikepalanya, bertekstur sedikit kasar tapi masih terasa halus. Dia tahu itu pasti perban, tapi kenapa kepalanya dibalut perban. Apa dia habis terjatuh? Apa dia terkena lemparan bola basket?

Otak Baekhyun mencoba mengingat-ingat sesuatu yang terasa hilang,

.

.

"—Aku harap kau masih bisa melihat dunia ini, besok"

.

"Aku ingin melihat Luhan tersiksa"

.

"—dengan cara menyiksamu terlebih dahulu".

.

.

Kalimat-kalimat itu kembali berputar-putar diotaknya, dan wajah namja itu tiba-tiba melintas ingatan Baekhyun.

Dia sudah sepenuhnya sadar apa yang telah terjadi padanya, kepalanya kembali terasa berat seperti dihantam balok kayu. Baekhyun ingin sekali menjerit dan mengerang kesakitan, tapi yang keluar hanya butiran-butiran kristal bening dikedua sudut matanya. Dia menggigit kuat-kuat bibir bawahnya agar isakan tak langsung lolos dari mulutnya.

Sedangkan Luhan yang melihat itu tak sanggup mengatakan apapun, rasa lapar yang terus menggerogoti lambungnya hilang seketika tergantikan dengan rasa nyeri yang tiba-tiba menyerang ulu hatinya.

Sungguh dia tak sanggup melihat kondisi adiknya seperti ini, tatapannya kosong tapi air mata itu terus saja mengalir deras seakan tak ada habisnya. Tapi Baekhyun tetap diam dan sama sekali tak mengeluarkan isakan, tangisan dalam diam itu lebih menakutkan dari pada melihat adiknya menangis tersedu-sedu.

Luhan mengalihkan pandangannya pada Kai yang juga masih menatap Baekhyun dengan sirat penuh kekhawatiran diwajahnya. Keheningan terus melingkupi mereka, detik demi detik terus berjalan meninggalkan mereka yang bergelut dengan pikirannya masing-masing.

.

babybyunsoo©

.

"Kyung, dimana Baekhyun? dari tadi aku belum melihatnya? Apa dia telat? Kenapa dia tidak datang bersamamu?" rentetan pertanyaan yang dilontarkan seorang namja berwajah kotak langsung menyapa gendang telinga namja mungil bermata bulat yang baru saja melangkah masuk kedalam kelas 2.1.

Namja yang disambut dengan pertanyaan itu sontak langsung menghentikan langkahnya dan menatap manik mata namja yang kini tengah memasang raut wajah penasaran. "Kau... Belum tahu?" bukannya menjawab pertanyaan. Kyungsoo, namja yang tadi disambut dengan seribu satu pertanyaan malah balik bertanya pada Jongdae yang tadi memberondonginya dengan pertanyaan.

Jongdae menaiknya alisnya sebelah tak paham dengan maksud pertanyaan Kyungsoo barusan, "Maksudmu?"

Kyungsoo memutar bola matanya malas sembari melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena ulah Jongdae. Jongdae-pun mengekor Kyungsoo dibelakangnya. "Tentang Baekhyun..." jawab Kyungsoo lemas setelah sebelumnya menjatuhnya diri dikursi meja belajarnya.

Melihat raut wajah sahabatnya yang tiba-tiba berubah sedih, Jongdae mulai merasa ada sesuatu yang terjadi. "Ada apa dengannya? Apa dia mendadak sakit?"

"Entahlah, tadi malam aku sempat menelpon Baekhyun untuk menanyakannya perihal presentasi pagi ini. Tapi ternyata yang mengangkat ponselnya bukan Baekhyun, tapi Luhan hyung.—"

"Lalu?"

"—dia bilang Baekhyun sedang ada di Rumah Sakit."

"Baekhyun benar sakit?" tanya Jongdae penasaran, dan dijawab dengan anggukan oleh Kyungsoo.

"Kenapa kita tidak menjenguknya saja hari ini?"

"Itu dia masalahnya, Aku merasa ada yang aneh dengan Luhan hyung... ntahlah dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Saat aku bilang ingin menjenguk Baekhyun, dia langsung melarangku." Jawab Kyungsoo panjang lebar.

"Kenapa? bukankah Luhan hyung sudah mengenal kita dengan baik..." ujar Jongdae ikut merasa aneh dan penasaran, "Kau sudah tanya Baekhyun sakit apa?"

Kyungsoo mengangguk dan menjawab pertanyaan Jongdae dengan helaan nafas berat, "Luhan hyung hanya bilang kalau Baekhyun terpeleset di kamar mandi dan kepalanya terbentur. Dia juga bilang kalau Baekhyun baik-baik saja jadi tidak perlu mencemaskannya. Ahh... dan satu lagi,

...seingatku Luhan hyung juga bilang kalau sore ini Baekhyun sudah boleh pulang."

"Aku punya ide!" seruan Jongdae yang tiba-tiba langsung membuat Kyungsoo sedikit tersentak. Kyungsoo masih menatap Jongdae dengan mata bulatnya seakan bertanya –apa-maksudmu?-. dan detik berikutnya Jongdae memindah posisi duduknya -yang tadi berada didepan Kyungsoo- tepat disamping Kyungsoo, perlahan Jongdae mulai mendekatkan wajahnya ke telinga Kyungsoo.

Kyungsoo yang melihat aksi Jongdae sedikit gelagapan dan segera menjauhkan wajahnya dari wajah Jongdae yang kian mendekat, tapi secepat kilat seakaan tahu reaksi sahabatnya yang terkenal pemalu ini. Tanpa segan Jongdae langsung menarik leher Kyungsoo dengan tangannya agar kembali keposisi semula, dan membisikkan sesuatu yang membuat Kyungsoo langsung menampakkan senyum kelewat sumringah.

...

Dan disinilah mereka berakhir, di dapur rumah Keluarga Byun. Seperti yang sudah direncanakan Jongdae, mereka berdua akan memberi Baekhyun kejutan saat dia pulang nanti. Lalu bagaimana mereka bisa sampai di dapur rumah Baekhyun? Jangan panggil Jongdae jika dia tidak bisa merayu bibi Oh –salah satu maid keluarga Byun yang bertugas sebagai kepala chef- untuk menginjinkan mereka masuk dan membuat 'sedikit' kekacauan didapur.

Bibi Oh tentu sudah sangat mengenal sahabat-sahabat dari tuannya itu, dia sering kali membuatkan macam-macam cemilan dan cake jika mereka bertiga sedang mengerjakan tugas bersama atau saat mereka hanya menghabiskan waktu luang di rumah yang terbilang cukup besar ini.

Bibi Oh juga termasuk orang yang di beri wewenang Luhan untuk mengurus semua keadaan rumah, termasuk memberi ijin kepada siapa saja yang boleh menginjakkan kakinya disini.

Awalnya bibi Oh menolak karena takut Tuan muda Luhan akan memarahinya, karena mengijinkan sembarangan orang –walau mereka mungkin tidak termasuk— masuk ke rumahnya tanpa izin. Tapi karena sedikit tidak tega dan Jongdae yang selalu memohon dan bilang dia yang akan bertanggung apapun yang terjadi, termasuk jika Luhan marah.

Akhirnya dengan sedikit keraguan, bibi Oh mengijinkan mereka berdua masuk dan melakukan hal yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.

"Kyung bagaimana? Apa masih lama menghias tartnya?" Jongdae yang tadi sempat berbincang dengan bibi Oh untuk bertanya kapan Baekhyun pulang kini menghampiri Kyungsoo yang masih sibuk dengan krim kocoknya.

"Em sebentar lagi, hanya tinggal sisi atas yang belum aku hias."

"Apa sebentar lagi Baekhyun akan pulang?" tanya Kyungsoo yang masih fokus pada hiasan atas kue tart yang sempat mereka buat itu. Mereka sebelumnya juga sepakat untuk membuat kuenya sendiri –mungkin dengan 'sedikit' sentuhan Jongdae—, karena Baekhyun sendiri pernah bilang kalau dia lebih suka kue buatan Kyunsoo dari pada ditoko-toko.

Jongdae yang diberi pertanyaan sedikit mendongak untuk mengecek jam dinding yang terpasang di atas kulkas. Jarum pendek yang hampir mendekati angka 5 dengan jarum panjang yang masih terdiam diangka sepuluh, membuat Jongdae langsung membulatkan matanya.

"Ahh gawat 10 menit lagi, semuanya harus beres!" pekik Jongdae langsung membuat Kyungsoo kelabakan. Dengan cekatan tangan Kyungsoo meraih semangkuk buah strawbery kesukaan Baekhyun yang sebagiannya sudah terbelah dan langsung menatanya dengan rapi di atas tart.

Jongdae langsung berlari ke ruang tamu untuk memastikan semuanya beres, terompet dan beberapa konfeti juga sudah disiapkan untuk ditaburakan tepat saat pintu terbuka. Sempurna. Batin Jongdae. Mungki orang lain berpikir ini terlalu berlebihan, mengingat Baekhyun yang hanya dirawat dalam kurun waktu tak lebih dari 24jam. Tapi menurut Jongdae, ini akan menjadi kejutan yang sempurna.

Lamuannya terputus saat melihat salah seorang maid yeoja dengan balutan seragam khasnya berlari kearahnya. "Tuan, sepertinya sebentar lagi Tuan Muda Luhan dan Baekhyun akan segera sampai" lapornya dengan nafas sedikit terburu, sepertinya dia habis berlarian di halaman Baekhyun yang bisa dibilang sangat Luas itu.

"Baiklah, pastikan mereka tidak curiga karena kita akan menutup pintu depan" perintah Jongdae, setelah mendapat anggukan dari sang maid. Jongdae kembali berlari menuju dapur, dan mendapati Kyungsoo sudah membereskan beberapa peralatan dapur yang sempat terpakai.

"Mereka akan sampai, ayo kita kedepan." Ajak Jongdae dan langsung dijawab dengan anggukan antusias Kyungsoo, kentara sekali dia sudah tidak sabar melihat ekspresi Baekhyun nanti.

Kyungsoo mulai menebak-nebak, Baekhyun pasti akan memekik kencang dan langsung berhambur kearah mereka jika tahu ada kejutan yang menantinya.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

Baik Kyungsoo maupun Jongdae sudah menunggu dengan resah diruang tamu, mereka sudah menuggu selama 15 menit dari perkiraan awal mereka datang. Mungkin jalanan sedang padat, pikir Kyungsoo berusaha menghilangkan segala prasangka buruk yang mungkin saja terjadi dijalanan.

Suara deru mobil yang terdengar langsung membuat mereka berdua kelabakan, termasuk beberapa maid yang ikut serta dalam kejutan dadakan ini.

Semua langsung mengambil posisinya masing-masing setelah mendapat perintah dari Jongdae.

Disisi kanan dan kiri pintu, sudah ada masing-masing dua maid yang bertugas menabur confeti dan meniup terompet. Sedangkan Jongdae dan Kyungsoo sudah menempatkan diri mereka beberapa meter tepat didepan pintu masuk. Dengan sebuah kue tart yang dipegang oleh Kyungsoo, dan sebuah terompet ditangan Jongdae.

Derap langkah mulai terdengar mendekati pintu,

CKLEK

Dan tepat saat pintu terbuka suara nyaring terompet dan beberapa ledakan confeti langsung mengisi ruang tamu. Tak lupa teriakan 'KEJUTAN' yang melengking milik Jongdae dan Kyungsoo juga bergabung membentuk sebuah harmonisasi pesta kejutan yang sangat sempurna.

Tapi kata 'sempurna' itu mungkin tak menggambarkan keadaan mereka saat ini. Baik suara terompet maupun teriakan milik Jongdae langsung menghilang. Acara pesta kejutan yang mereka harapkan akan sangat menyenangkan ini langsung menghilang, tebakan Kyungsoo tentang Baekhyun yang memekik kegirangan langsung musnah.

Keadaan yang semula ramai langsung berubah menjadi kecanggungan yang luar biasa. Bahkan senyum yang dari tadi terpatri indah diwajah kedua sahabat itu langsung luntur begitu melihat kondisi sahabat yang seharian tadi tidak dilihatnya.

"Baek...hyun..."

...

"Apa yang sedang kalian lakukan disini?" adalah reaksi pertama Luhan setelah melihat kekacauan yang ada dirumahnya sore ini. Walau nada bicaranya halus tapi terdapat sedikit penekanan di setiap katanya. Mereka semua yang melihat itu bahkan tak bisa menebak, apakah Luhan sedang marah atau tidak. Ekspresi di wajah Luhan benar-benar tidak bisa mereka deskripsikan seperti apa.

"A-aku...—" belum sempat Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya. Suara Jongdae langsung menginterupsinya, "K-kami hanya ingin memberi Baekhyun—" iris matanya menatap Baekhyun sekilas, dia sungguh tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu. Pandangan Baekhyun lurus kedepan, tapi tatapan matanya itu benar-benar kosong. Jongdae bahkan sempat berpikir kalau jiwa Baekhyun sedang tidak ada dalam dirinya sekarang."... sedikit kejutan."

"haha iya, kejutan" Kyungsoo tertawa kikuk disusul Jongdae disampingnya. Mereka saling bertatapan sebentar seolah saling melempar pertanyaan –ada-yang-harus-kita-lakukan- dan –apa-yang-terjadi-pada-Baekhyun-?

Disisi lain, Luhan yang sedari tadi menggenggam tangan Baekhyun merasa genggamannya sedikit mengerat. Luhan yang menyadari itu langsung menoleh kesamping dan mendapati Baekhyun sedikit menunduk dengan sebelah tangannya yang sudah ada di atas kepala, jemarinya terlihat sedikit mencengkram rambut yang tak tertutup perban.

"Baek, kau baik-baik saja?"tanya Luhan kelewat cemas, wajahnya sedikit menunduk berusaha melihat raut wajah adiknya yang tampak sedikit kesakitan.

"sakit hyung..." desis Baekhyun hampir tak terdengar, tapi telinga Luhan masih mampu menangkap ucapan Baekhyun tadi.

"Bertahanlah, kita akan segera sampai di kamarmu. Dan kau bisa langsung istirahat..."

Luhan mulai memapah Baekhyun untuk berjalan, tangan kanannya melingkar dipundak adiknya sedikit menahan tubuh Baekhyun yang mulai lemas. Semua pasang mata yang ada diruang tamu, tak pernah lepas menatap sosok kakak beradik yang mulai berjalan menuju anak tangga.

Baru menaiki 3 anak tangga, tubuh Baekhyun kembali limbung kedepan. Tapi dengan sigap Luhan mampu menahan bobot Baekhyun walau terlihat sedikit kuwalahan. "Paman Kim, cepat bantu aku!" perintah Luhan pada salah seorang maid yang berusia hampir setengah abad.

Dengan cepat paman Kim yang sedari tadi berdiri disebelah bibi Oh langsung berlari menghampiri sosok yang sudah lebih dari 12tahun diabdinya. Paman Kim langsung membopong tubuh Baekhyun menaiki anak tangga diikuti Luhan dibelakangnya.

Dengan sigap Luhan langsung membukakan pintu kamar bercat abu-abu begitu mereka sampai didepan kamar milik Baekhyun. Baekhyun yang masih berada dalam gendongan paman Kim langsung dibawa masuk dan membaringkannya di ranjang dengan perlahan.

"Apa masih terasa sakit?" tanya Luhan lembut sembari menyelimuti tubuh Baekhyun dengan selimut tebal berwarna baby blue dengan motif polkadot di beberapa sisi. Dia menatap adiknya lekat, matanya terpejam tapi Luhan tahu kalau adiknya masih sadar dan masih mampu mendengar suaranya.

Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus surai coklat tua yang rasanya sudah sangat lama tidak dia sentuh. Sejak Baekhyun bangun, dia lebih banyak diam dan jarang sekali berbicara. Matanya terus-terusan mengeluarkan air mata, tapi tak pernah ada satupun isakan yang lolos dari bibir mungilnya.

Semua itu membuat hati Luhan semakin terasa nyeri, dia yang paling merasa bersalah atas musibah yang Baekhyun alami. Tanpa sadar setitik cairan bening mulai meleleh disudut mata Luhan.

Saat Luhan mulai tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba Baekhyun membuka matanya dan langsung menatap iris mata rusa milik hyungnya itu. Luhan yang ditatap sontak langsung menghapus kasar air mata 'sialan' itu, dan tersenyum lembut pada adiknya.

"Apa yang kau inginkan, hm? Apa kau haus? Hyung akan ambilkan minuman untukmu?" tak ada jawaban yang keluar dari mulut Baekhyun. Masih dengan tatapan yang sama, Luhan menatap dua kelereng coklat yang kosong itu.

Mata penuh binar yang sering Luhan lihat dulu ketika dia memberi kado boneka rilakuma pada ulang tahun Baekhyun yang ke-12 kini menghilang. Tatapan merajuk ketika Baekhyun ingin meminta sesuatu kini seolah musnah tergantikan tatapan kosong seperti tak ada kehidupan lagi disana. Perasaan sesak lagi-lagi menyerang paru-paru Luhan.

"Aku... ingin tidur, hyung..." Luhan tersenyum lembut dan kembali membelai surai coklat tua milik adiknya itu. "Tidurlah..." setelah beberapa saat memastikan Baekhyun sudah benar-benar terlelap. Luhan mengecup lembut kening Baekhyun yang tertutupi oleh poni yang terlihat sudah panjang. Tangannya mengelus pipi Baekhyun sekilas dan mulai beranjak dari sisi ranjang Baekhyun.

Belum sampai membalikkan badannya, sebuah suara yang terdengar sangat lemah menginterupsi kegiatannya. "Jangan pergi... hyung..." Luhan langsung memutar bola matanya dan menatap adiknya. Baekhyun terlihat mulai gelisah dalam tidurnya, merasa tak tega. Luhan kembali merangkak naik dan duduk disisi Baekhyun. "Hyung disini, hyung tak akan meninggalkanmu. Tidurlah... Baekhyunnie"

Tangan kanan Luhan kembali mengelus rambut Baekhyun, sedangkan tangan yang lainnya digunakan untuk menggenggam tangan adiknya yang terasa dingin dan berkeringat. Tak berapa lama, Baekhyun kembali tenang dan tak bergerak-gerak gelisah lagi. Dan senyum pahit terukir dibibir Luhan.

...

Luhan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, setelah menemani Baekhyun sampai dia benar-benar terlelap. Luhan akhirnya memutuskan untuk keluar karena kerongkongannya terasa sangat kering, bahkan untuk menelan salivanya sendiri dia tak bisa.

Dia menyeret paksa kedua kakinya menuju dapur yang berada dilantai bawah, mungkin segelas air dingin bisa melegakan tenggorokannya. Ketika hampir sampai, langkahnya langsung terhenti di ambang pintu ketika iris matanya menangkap dua sosok yang tak asing lagi bagi Luhan sedang tertunduk lesu di meja makan, tak ada pembicaraan yang mereka lakukan.

Luhan kembali melangkahkan kakinya menuju kulkas yang berasa disudut dapur, tanpa memperdulikan dua pasang mata yang mentapnya seolah menuntut penjelasan dengan apa yang baru saja terjadi. Tangannya meraih salah satu botol air minum, dan langsung menenggaknya hingga tersisa setengahnya.

Setelah merasa kerongkongannya tak lagi kering, Luhan tak langsung mengembalikan botol air itu melainkan membawanya menuju meja makan dan duduk bersama dua sahabat adiknya itu.

Luhan menghela napas panjang, sepertinya tidak ada gunanya lagi dia menyembunyikan semua ini dari kedua sahabat Baekhyun. Luhan kenal betul siapa Kyungsoo dan Jongdae, itulah yang akhirnya membuatnya yakin kalau mereka juga akan mengerti dan merahasiakan semua ini.

"Sebenarnya Baekhyun... –" suara Luhan langsung menyita perhatian dua pasang mata untuk menatapnya dengan sunguh-sungguh. Kentara sekali jika tatapan-tatapan itu dipenuhi dengan rasa penasaran, karena akhirnya ada seseorang yang mau menjelaskan pada mereka berdua tentang keanehan yang terjadi pada diri Baekhyun.

"—sama sekali tidak terpeleset di kamar mandi, tapi..."

Akhirnya Luhan menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi tanpa ada satupun yang terlewat termasuk saat... hah dia bahkan tak sanggup mengingat-ingat itu lagi. Air mata yang sedari tadi dia bendung didepan adiknya, kini lolos begitu saja tanpa henti. –lagi- dadanya kembali sesak, Luhan selalu merutuki dirinya sendiri tiap mengingat kondisi Baekhyun, semua yang terjadi merupakan kesalahannya.

"Baek...hyun" Kyungsoo mengeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tak menyangka sahabat yang terkenal periang dan selalu ceria tiap hari akan mengalami nasib buruk seperti ini.

Tak berbeda jauh dengan Kyungsoo, Jongdae yang berada disebelahnya juga merasa sangat kasihan dengan keadaan Baekhyun. Dia juga merasa sedikit prihatin dengan keadaan Luhan hyung saat ini, mengingat bagaimana Luhan menceritakan segalanya dan terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.

.

babybyunsoo©

.

TRANGG...

Suara nyaring yang ditimbulkan sebuah benda langsung mengusik tidur seorang namja berambut pirang. Beberapa kali dia mengubah posisi tidurnya dan menutup kedua telinganya dengan bantal berusaha meredam suara berisik yang benar-benar mengganggu tidurnya.

Terdengar samar-samar suara teriakan dan keributan kecil diluar sana, Luhan yang sudah mulai jengah langsung menatap malas jam digital di atas nakasnya. Tercetak angka 02:05 berwarna hijau terang disana, "arghh..." geram Luhan sambil mengusap-usap kasar wajahnya. Persetan dengan semua kekacauan disana, dia benar-benar baru tertidur sekitar 20menit yang lalu. Dan sekarang seseorang diluar sana berani mengganggu waktu istirahatnya.

Gendang telinga Luhan kembali mendengar derap langkah seseorang, seperti tengah berlari. Semakin lama semakin terdengar jelas dan berhenti tepat didepan pintu kamarnya.

DOKK DOKK DOKKK!

TUAN BANGUN! GAWAT, TUAN!

TUAN MUDA—"

Mendadak Luhan bisa merasakan jika indra pendengarannya terasa tuli, dia tak bisa menangkap suara apa-apa lagi kecuali satu kata,

.

.

...Baekhyun.

.

.

.

T to the B to the C

.

TBC


Fiuuhh/elapkringet/ almost 5k words.


[[[Behind_the_script]]]

Kai : argh... sebenernya ini ff kaibaek bukan sih? Kenapa sama sekali gak ada moment KaiBaeknya, thorr? Lu pecus gak sih bikin ffnya? /pundungmelukAce/

Kris : eh ehh.. apa-apaan itu anak gue main lo peluk aja! /rampasAce/

Author : ehehhee /nyengir/ tenang2, pasti ada koq! Kalo nanti emang gak ada kan masih ada moment kita berdua /kedip-kedip/

Kai : /muntah/ mending gue bikin moment bareng monggu aja, kalo gitu!

Chan : aishh kenapa moment chanbaeknya gak diterusin aja tadi? Nanggung tau gak sih!?

Baek : dasar channie pervert! Gak lihat apa? Kepala gue udah bocor gini!? /lemparAce/

Kris : ARGHH! KENAPA ACE HARUS JADI KORBAN AMUK MASA KALIAN?

Luhan : hahh... kayaknya dari semua cast gue yang paling waras deh.


Balasan Ripiew :

Fujoshi203 : Haha abis si Baeknya kelewat manis sih... jadi gitu kan ckck. Buat yang bertanya2 gimana perasaannya Luhan ke Yeol, mungkin chap depan kali ya semuanya jelas.

Kaibaekshipper : udah tahu kan si baek kenapa?

Luluna99 : kalo yang ini udah panjang kan? Atau masih kurang? Wahwah pendukungnya ChanLu lumayan yak!

Shinta lang : pls abis ini jangan bunuh saya ya, kalo si yeollo udah meng-apa-apa-kan si baek

clowny newby : nah loh jangan kulitin si yeollo dong, langsung bakar aja/PLAK. Hhe moga si baek gak bener-bener gila yah

ayumKim : ckck, tabakan kmu kayaknya bener nih... chanyeol emang gila. Dan semua itu krn saya /loh o.O

Azura Eve : suspense segini aja dah bikin eon meres otak, kalo suspense suruh banyakin. Mungkin ntar eon meres susu sapi dulu kali yak , ahh masa sih, kayaknya gaya eon dsini masih kaku banget deh

lottenoir : hampir semua readers nebaknya si yeollo mau ng-rape si baek. Wkwk, gak nyampe di-rape kan tadi, Cuma icip-icip aja/authormesum/

ryanryu : TT^TT iya tega banget sih si yeol/lemparkekamarauthor/

Guest : udah tahu kan baek knpa?

Tinker Tinker4 : nah ini, udah nemu suspense-nya belom? Saya yeoja tulen sayangg T^T, 'frey' itu bacanya 'fri', yang ini masih kurang panjang?

Hyorim16 : it's ohkai, thanks for review ^^

GreifannyGS : author emang jahat, tapi pls jangan bunuh dulu. Ntar gak ada yang nglanjutin nih epep...

CussonsBaekby : tuh kan, rata-rata reader mikirnya menjurus ke rate-M ckck, tp emng hampir sih /plak/

dian agles : si baek aja baru ketemu, masa mo selesai...

aliviarahma yanti : huft thnks bgt udah mau komen panjangxlebar. Hhe maaf, di awal kan udah saya kasih rate ; T-M ,jd jangan salahkan saya kalo akhirnya 'darah2' juga ambil alih.

Reny boice : eh? O.O

Inggit : ini bukan LuBaek, sayangg... pasti gak baca prolog+Author Note, ya?

stich : haha, makasih juga udah mau ripiew nih epep absurb^^. tetep dlnjut dng...

Sekali lagi makasih banyak yang udah mau komen+fav+fol atau cuma fav+fol aja gak nyertain komen, mungkin mulai sekarang kalian mau belajar menghargai Author.

Thanks thanks thanks for everythig^^/tebar Kiss Wu/

Oh iya, 'mungkin' Chap depan bakal jadi Chapter terakhir. Masih "MUNGKIN" loh ya, hhe

Dan yang req ChanLu dibanyakin/hapend, sekali lagi saya belum bisa janjiin lebih. Tunggu next chap aja ya, semuanya bakal lebih jelas.

Without any babibu *anymore*?

.

.

.

Silahkan tinggalkan Jejak^^


2013 babybyunsoo© BIGGEST MISTAKE