Il Haneun Jung [일하는중]

By Aita Hwang

Main cast: Jeon Jungkook x Kim Taehyung

Other cast: Park Jimin, Jung Hoseok, Jeon Seokjin

Rated: T

Warn! Yaoi! Plot-Rush! Typo(s)! Seme!Jungkook Uke!Taehyung

A.N: keliatannya ini plotnya udah kebaca gitu yah? -_- whatever dah… btw, i'm so sorry for the late update T^T writer's block hit me really hard ToT

Happy reading^^


Chap 4: Begin


"Ahh, jadi Jungkook adikmu itu. Aku lupa kalau margamu juga Jeon, hyung. Kk." Taehyung mengangguk lamat sembari tertawa kecil dan tidak memperhatikan bahwa Jin dan Jungkook saling melemparkan tatapan jengahnya. Hanya Jungkook sebenarnya yang memberikan tatapan jengah dan juga tajamnya. Ya, hanya Jungkook. Dan sebenarnya, Taehyung mengenal Seokjin lebih awal daripada Jungkook.

Tangan Jungkook perlahan melingkar sempurna di pinggang Taehyung. Dan tiba tiba, ia menarik Taehyung menjauh dari Jin. Bisa dibilang, dia sedikit cemburu. Entahlah, hanya sedikit atau lebih. Uhuk.

Jin hanya memutar bola matanya malas dan melepaskan rangkulannya dari Taehyung. Sebagai hyung, dia sangat tahu sifat Jungkook. Jika ia berurusan dengannya, yang ada mungkin dirinya sudah tidak ada di muka bumi ini–dia berlebihan. Taehyung kelihatannya sudah biasa dengan semua hal yang dilakukan oleh Jungkook. Dia hanya menggerutu pelan dan mencubit pelan lengan Jungkook. Ya, selalu seperti itu.

Taehyung kembali beralih kepada Jin dan kembali mengobrol dengan asyik tanpa memperhatikan bahwa Jungkook masih ada di sampingnya. Jangan tanya keadaan Jungkook. Dia terlihat seperti orang yang paling sengsara di dunia ini saat itu juga.

"Hyung, ayo kita pulang." Jungkook berdiri dan menarik tangan Taehyung dengan cukup keras hingga menyebabkan Taehyung bangkit dari bangku yang ia duduki sedari tadi. Sebenarnya tidak terlalu keras, hanya tubuh Taehyung saja yang terlalu ringan

"Tapi aku baru saja–"

"Sekarang atau kau naik bis." Taehyung langsung bungkam. Karena dia sendiri tahu betapa jauhnya tempat tinggal Jungkook dari taman bermain favoritnya ini. Apalagi uangnya kurang. Dan dia sendiri juga tahu, bahwa Jungkook tidak akan pernah memberitahu tempat tinggalnya kepada Jin, karena pada dasarnya, Jungkook selalu bermusuhan dengan Jin. Hubungan adik kakak seperti ini normal bukan?

"Baiklah." Taehyung mengerucutkan bibirnya sesaat dan tersenyum lebar kepada Jin. Dia membungkuk dan mengucapkan salam dengan sopan sebelum Jungkook menariknya pergi dari sana. Jungkook hanya tidak suka melihat hyungnya. Dia merepotkan menurut Jungkook dengan memberikannya beban untuk menjadi pewaris perusahaan ayahnya.

"Jeon Jungkook kau berhutang cerita kepadaku."

"Ya ya ya terserah kau saja hyung." Jungkook masih setia menggenggam tangan Taehyung dan menariknya ke arah tempat dimana ia memarkirkan mobilnya. Di sisi lain Taehyung mengedumel pelan dan mengatakan seluruh kalimat kutukan kepada Jungkook dengan lirih. Mungkin, itu efek dia terlalu sering bergaul dengan Yoongi.

Dan hari itu, hari yang menyenangkan sekaligus hari yang paling kacau bagi seorang Jeon Jungkook.


Begin


Esok harinya, Jungkook mendapati panggilan dari ibunya tersayang dan menanyakannya tentang dia yang bertemu dengan Jin kemarin. Ya, sifat Jin adalah selalu menumpahkan apa yang terjadi hari ini kepada ibunya. Jadi jika kau menanyakan apakah seorang Jeon Seokjin memiliki buku harian, the answer is absolutely Yes. Jungkook sendiri juga sedikit geli dengan kebiasaan hyungnya, namun ia malas untuk mengatakan kegeliannya. Tiada gunanya menurut Jungkook.

"Kookie, apa kau sedang sakit hingga ingin bertemu hyungmu?" Jungkook memutar jengah bola matanya dan mendesah kesal. Sakit? Ingin bertemu? Dalam kamus Jungkook, bertemu dengan hyungnya memiliki sinonim sial. Bukankah sudah kubilang? Jungkook menyebalkan.

"Ibu, demi apa aku bertemu hyungku? Itu kebetulan. Sungguh!" Jungkook mengatakannya dengan nada malasnya. Dia sama sekali tidak suka jika bahasannya adalah hyungnya. Jeon. Seok. Jin.

"apa kau masih membenci hyungmu hmm?" Jungkook terdiam. Bibirnya bungkam dan menerawang langit langit kamarnya. Sebenarnya dia sudah tidak terlalu membenci hyungnya separah dulu. Salahkan ego dan gengsinya yang terlalu tinggi. Dia melirik jam digital yang ada di meja nakasnya. Sudah jam 7 pagi. Dia terdiam sesaat dan masih setia menatap langit langit kamarnya yang berwarna putih tersebut.

"Uhm, ibu, aku ingin sarapan." Jungkook mematikan sambungannya dan menghela nafasnya. Dia baru sadar bahwa dia memiliki hubungan yang rumit dengan kakak lelakinya sendiri. Dan yang menyiptakan kondisi ini adalah, dirinya sendiri. Jangan pernah berharap Jungkook akan mengakui kesalahannya yang satu ini.

Kaki jangkung Jungkook keluar dari ranjangnya dan melangkah keluar. Seperti biasanya, ia mendapati Taehyung yang sedang memasak untuk mereka berdua, dengan baju tidurnya. Ya, Taehyung memang selalu memakai pakaian tidurnya sebelum ia mandi, dia terlalu malas untuk mengganti pakaiannya. Sekali lagi, ini efek sering bergaul dengan seorang Min Yoongi.

Skenario seperti ini, bukankah mereka berdua lebih terlihat seperti sepasang suami istri?

"Kau membuat apa hyung?" Jungkook menyandarkan dagunya tepat di bahu kanan Taehyung dan memeluk pinggang rampingnya. Taehyung sedikit berjingkat terkejut dan menyibir pelan. Tangannya masih memegang spatula kayunya dan dia lebih memilih menerima pelukan Jungkook ketimbang egg roll nya hancur. Dia masih mencintai lambungnya.

"Jungkook, apa hobi barumu memeluk diriku hah?" Taehyung mencubit pelan hidung Jungkook dan meletakkan telur gulungnya di piring lalu melepas paksa lengan Jungkook dari pinggangnya. Jungkook hanya terkekeh kecil dan mengekor Taehyung di belakangnya. Taehyung mengambil dua pasang sumpit lalu memberikan sepasang kepada Jungkook. Jungkook tersenyum lebar untuk mengucapkan terima kasihnya.

"Jadi, bagaimana kau bisa akrab dengan Jin hyung?" Jungkook mengambil sepotong telur gulungnya dan menguyahnya dengan tenang. Taehyung terdiam sebentar dan mengingat kembali masa lalunya.

"Ahh, itu. Aku pernah menyukai Jin hyung dulu." Taehyung mengangkat bahunya pelan dan terkekeh kecil lalu ikut memakan telur gulung buatannya bersama dengan nasi yang ia ambil. Jungkook yang tadinya ingin menelan nasinya mendadak tersedak dan membulatkan matanya. Taehyung sedikit terkejut saat Jungkook tersedak dan reflek memberikan Jungkook segelas air putih miliknya.

Hah? Menyukai katanya?

"Jeon Jungkook makan pelan pelan." Taehyung menggelengkan pelan kepalanya dan beranjak dari kursi makan untuk mengasingkan piringnya. Jungkook masih berpikir keras karena morning shocknya. Dia benar benar tidak bisa berpikir jernih sekarang. Menyukainya? Taehyung gila?

Di tengah tengah Jungkook masih sibuk bergelut dengan pemikirannya, Taehyung sudah menenteng ransel kecilnya dan sudah bersiap untuk berangkat ke kampusnya. Ahh, Jungkook lupa. Mereka berdua ke kampus kecuali Jumat dan Minggu. Jungkook hanya mengambil ranselnya tanpa merapikan bekas sarapan paginya. Pagi ini, pagi yang terkacau yang pernah ada menurut seorang Jeon Jungkook.


Begin


"Kenapa musim gugur sangat dingin? Menyebalkan." Taehyung menggerutu pelan dan mengeratkan coat berwarna hitam miliknya. Taehyung memang suka dingin, tapi jika suhunya terlalu dingin, lupakan rasa sukanya. Jungkook tertawa kecil melihat tingkah Taehyung yang hampir seperti anak kecil. Taehyung menggosok kedua tangannya dan menyelipkan tangannya dalam saku coatnya. Sebelum Taehyung memasukkan tangannya, tangan Jungkook sudah terlebih dahulu menarik tangannya dan menggenggamnya erat.

"Ya Jeon Jungkook." Taehyung berkata lirih sembari menatap Jungkook. Jungkook hanya melempar tatapan ada-masalah? kepada Taehyung. Taehyung hanya menghela nafas pasrah dan membiarkan tangannya digenggam oleh Jungkook. Lagipula, ini cukup menguntungkan bagi Taehyung karena ia bisa mengurangi rasa dingin yang menyergab tangannya.

Mereka berjalan di sekitar koridor dengan percakapan yang tidak berarti. Bahkan mereka mengabaikan tatapan beberapa mahasiswa lain yang ada di sana –sebenarnya hanya Jungkook yang mengabaikannya–. Beberapa dari mereka terlihat terperangah dan sisanya hanya sekedar memandang lalu acuh tak acuh. Dan Taehyung merasa risih karena hal itu. Ia melepaskan tautan tangannya secara kasar dengan Jungkook dan segera memasukkan tangannya ke dalam saku coat miliknya.

"Bisa kau tidak selalu menyentuhku?" Taehyung berujar pelan dengan wajah datar kemudian berbelok menuju ruang kelasnya tanpa mengucapkan apapun selain doktrin yang ia lontarkan barusan. Jungkook tertegun dan memikirkan kalimat yang barusan dikatakan Taehyung. Sepengetahuannya, hyungnya tidak pernah menolak saat ia menggenggam tangannya, merangkulnya, atau bahkan memeluknya.

Jungkook lagi lagi berpikir keras dan membiarkan kakinya melangkah seperti biasanya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa hari ini akan serumit ini.


Begin


"Hah, Taehyung menyukai Jin hyungmu? Jadi orang berkharisma yang diceritakan Taehyung dulu Seokjinmu? Wow." Jimin membulatkan matanya dan sedikit terperangah. Ia menekan kata 'mu' di kalimat tanyanya dan hal itu membuat Jungkook sedikit jijik. Dia baru tahu bahwa orang yang disukai saudara tersayangnya tersebut adalah Seokjin hyung.

Yang dia tau, Taehyung menyukai kakak kelas 2 angkatan diatasnya dan Taehyung selalu berkata bahwa Jin itu tampan, berkarisma, genius, keren, dan semua frasa yang mengandung pujian yang lain. Seakan akan menurut Taehyung, seorang Jeon Seokjin adalah manusia yang paling sempurna. Tapi Jimin tidak pernah mengira bahwa orang yang dimaksud Taehyung adalah Jin.

"Kau kira siapa lagi manusia di dunia ini bernama Jeon Seokjin, Ya Tuhan." Jungkook mengacak rambutnya frustasi dan menatap Jimin dengan tatapan malasnya. Dia juga sedikit geli dengan kata kata berkharisma yang mengacu kepada hyungnya. Kharisma? Jungkook bahkan tidak yakin hal itu ada pada Jin.

"Jimin–ah. Jika ada dua orang masih berteman, dan mereka sering melakukan skinship, menurutmu itu normal?" Jungkook menatap Jimin dengan lamat. Jimin sedikit bingung dengan pertanyaan Jungkook, kemudian ia sedikit berpikir untuk menemukan jawabannya.

"Kau tau? Jika aku jadi perempuan dan berteman dengan laki laki, aku akan membencinya bila dia menyentuhku sesukanya. Apalagi jika dilihat banyak orang, menjijikkan. Memang kenapa?" Jimin terkekeh pelan dan menyiapkan beberapa buku refrensi dan laptop miliknya untuk melanjutkan makalah yang hampir separuhnya terselesaikan.

Jungkook hanya menggeleng pelan dan tersenyum kecil. Kemudian Jungkook terdiam.

Sesaat kemudian dia sadar. Dia akhirnya tahu kenapa Taehyung seperti tadi pagi. Dengan cepat dia mengambil layar persegi panjang miliknya dari saku celananya dan mengetik sesuatu dengan cepat.

To: Taetae hyung
Title:–

Hyung, aku minta maaf.

Saat ujung ibu jarinya akan menekan tombol send di ujung layarnya, jarinya seakan akan terhenti. Dia menjadi bingung sekarang. Akhirnya, ia mengirimkan pesan singkat itu selang beberapa menit ia berargumen dengan batinnya sendiri. Dia berharap hyungnya akan membalas pesannya. Dan, dia pun menunggu.

15 menit.

Tidak ada notifikasi dari Taehyung. 'Mungkin dia sibuk.' gumam Jungkook.

45 menit.

Hanya ada beberapa pesan spam yang masuk.

1 jam.

Baiklah. Jungkook menyerah. Ia mengaku bahwa ia sangat keterlaluan.


Begin


Jam yang bertengger manis di dinding menunjukkan jarum pendeknya ke arah empat dan Taehyung masih setia berkutat dengan seluruh buku buku tebal di sampingnya dan netbooknya karena dosennya tercinta. Andai saja dirinya tidak mendapat tugas membuat kesimpulan tentang hal yang bahkan sama sekali tak ingin diketahui oleh Taehyung.

Dan mungkin ia akan menenteng beberapa buku tebal untuk refrensinya pulang dengan kedua lengannya. Bahkan ranselnya hanya muat beberapa buku notes kecil dan seperangkat netbooknya, termasuk headset dan chargernya. Dan yang ia ingat, handphone miliknya kehabisan daya baterai sejak siang tadi. Betapa menderitanya seorang Kim Taehyung.

"Heol, sudah hampir jam lima, aku bisa gila." Taehyung segera memasukkan netbooknya ke dalam ranselnya tanpa mematikannya –kebiasaannya adalah memakai mode sleep bukan shutdown– dan memakainya lalu membawa beberapa buku tebalnya dan 3 novel picisan yang juga cukup berguna untuk menghiburnya. Dia terlihat cukup kesusahan saat membawa buku yang ia pinjam membuat bukunya hampir menutupi dagunya. Dia membenci buku tebal yang isinya sama sekali tidak menyenangkan.

"Butuh bantuan?" Buku referensi Taehyung tiba tiba berkurang dan ia merasa bebannya terkurangi. Dia sepertinya mengenal suara itu. Saat ia menoleh, dia tersenyum bangga karena perkiraannya benar. Taehyung mengucapkan terima kasih dan berjalan di samping Jungkook. Alasan kenapa Jungkook juga baru saja pulang ada dua.

Pertama, dia sibuk latihan menari dengan Hoseok dan Jimin.

Kedua, dia menunggu Taehyung. Uhm.

"Ngomong ngomong, apa tadi siang pesanku masuk?" ujar Jungkook dengan menatap Taehyung. Taehyung hanya memiringkan kepalanya dan menunjukkan wajah polosnya.

"Hah? Pesan? Tadi siang?" Taehyung memberikan tatapan kebingungannya dan membuat Jungkook sedikit tertegun. Jadi permintaan maafnya tidak terkirim? Dia harus meminta maaf langsung? Bisa mati dia.

Lalu Taehyung baru teringat bahwa ponselnya mati dan ia terkekeh kecil. "Ohh, aku baru ingat. Tadi daya bateraiku melemah dan ponselku mati. Aku lupa tidak membawa kabel data untuk mengisinya, kk."

"Eeh, itu... Sebenarnya," Jungkook membenarkan posisi buku buku tebal Taehyung di lengan kanannya dan menggaruk tengkuknya dengan canggung. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali meminta maaf secara serius. Ya, karena kadang Jungkook terlalu mendahulukan egonya dan tak mau mengakui kesalahannya.

"Hh, Aku minta maaf hyung." Jungkook menatap Taehyung dengan senyuman canggungnya yang terpatri di bibirnya. Taehyung semakin bingung sekarang.

"Minta maaf? Untuk?" Taehyung baru sadar bahwa kakinya menuntunnya untuk mengikuti Jungkook ke parkir khusus mobil. Lagipula, ia juga malas berjalan ke busway sekarang. Jungkook speechless melihat tatapan Taehyung yang bingung dan seakan akan melupakan apa yang ia lakukan tadi pagi. Ya, hal sekecil itu cukup berdampak ke Jungkook.

"Tadi pagi, aku... memegang tanganmu. S-sepertinya kau tidak suka." Oh baiklah, sekarang Jungkook mendadak gugup. Ia langsung memasuki mobilnya setelah membuka kuncinya. Taehyung terkekeh pelan dan ikut memasuki mobil Jungkook lalu meletakkan bukunya di kursi belakang seperti yang Jungkook lakukan. Dan tiba tiba, tanpa Jungkook rencanakan, Taehyung memeluknya erat dari samping dan menyenderkan kepalanya tepat di bahu Jungkook. Jungkook yang tadinya ingin menyalakan mesin terdiam dan mematung.

"Hyung? Kenapa?" Jungkook melihat Taehyung dari ekor matanya dan menarik kedua sudut bibirnya saat Taehyung menggelengkan kepalanya yang masih menempel di bahunya.

"Kau tidak perlu meminta maaf untuk yang tadi bodoh. Aku hanya tidak suka cara mereka semua saat menatap kita." Taehyung masih belum melepaskan pelukannya saat mobil Jungkook keluar dari gerbang universitas mereka. Dan Jungkook semakin gemas dengan hyungnya. Kita? Artinya Jungkook dan Taehyung bukan? Memikirkan arti kata 'kita' membuat Jungkook tanpa sadar terkekeh kecil.

"Hyung?" saat Jungkook melihat Taehyung dari kaca spionnya, ia melihat hyungnya sedang terlelap tanpa melepaskan pelukannya yang sekarang sedikit merenggang. Jungkook memberhentikan mobilnya secara pelan saat lampu merah menyala di hadapannya. Dia hanya memegang setir dengan satu tangan karena ia takut jika kepala Taehyung akan terjatuh dan menyebabkan ia terbangun dari tidurnya.

Entah kenapa, Jungkook suka mendengar deru nafas teratur yang dikeluarkan oleh Taehyung. Dan saat lampu hijau telah dinyalakan, ia melaju dengan kecepatan yang cenderung pelan dan masih menahan kepala Taehyung di pundaknya. Tangannya perlahan mengusap surai brunnete Taehyung dan kembali mengulas senyumnya.

Sekarang ia tidak tahu, Taehyung yang terlalu lelah atau dia berkendara terlalu pelan.


Begin


"Hyung. Hyung. Kita sudah sampai hyung." Jungkook menggoyangkan tubuh Taehyung dengan pelan. Bahkan jika biasanya ia bisa sampai tempat tinggalnya dalam waktu paling lama 15 menit, sekarang ia memecahkan rekornya. 30 menit perjalanan karena Taehyung yang tertidur –meskipun jika Jungkook melaju secepat apapun, Taehyung akan tetap tertidur–.

Taehyung mengerang pelan dan membuka kelopak matanya dengan perlahan. Ya, setidaknya basement adalah tempat tidak terlalu silau jadi Taehyung tidak perlu waktu yang lama untuk menyesuaikan intensitas cahaya untuk pupilnya. Perlahan ia melepaskan pelukannya dan bersandar di kursinya dengan benar untuk mengumpulkan nyawanya.

Dan beberapa saat kemudian, tangannya sudah menjalar ke kursi belakang untuk mengambil semua bukunya dan keluar dari mobil, tanpa memperhatikan Jungkook di belakangnya. Jungkook hanya menggelengkan kepalanya pelan dan ikut menyusul Taehyung setelah mengunci mobilnya.

Saat Taehyung menekan password apartement Jungkook, dia kesusahan setengah mati karena buku buku sialannya menyebabkan tawa Jungkook lepas. Taehyung hanya mengerucutkan bibirnya dan tetap berusaha. Sayangnya dia tetap gagal, dan Jungkook menjadi kasihan sekaligus gemas.

"Menyingkirlah sebentar hyung." Jungkook sedikir menunduk dan menekan passwordnya tanpa ada kesusahan seperti Taehyung. Ketika pintunya sudah bisa terbuka, ia langsung membukanya dan menghempaskan semua buku tebalnya di sofa yang ada di dekatnya. Dan suara jatuhnya sampai terdengar Jungkook yang baru saja di ambang pintu.

"Hyung, jangan menjatuhkannya seperti itu. Kk." Jungkook mengacak surai brunnete Taehyung dengan gemas lalu merapikan buku buku yang berkececeran akibat ulah Taehyung tersebut.

"Hyung." Jungkook meletakkan bukunya di meja ruang tamu dan menoleh ke arah Taehyung yang duduk di sofa dengan mata yang setengahnya tertutup. Dia mengantuk. Sangat. Maka dari itu, Taehyung hanya menjawabnya dengan gumaman 'hmm' tanpa melirik Jungkook sama sekali.

"Apa kau masih menyukai Jin hyung?" Jungkook berujar lirih dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Taehyung reflek membuka matanya lebar lebar dan menoleh ke Jungkook dengan tatapan sedikit heran.

"Huh? Jin hyung? Aku bahkan menyukainya saat aku masih 1 SMA Kook, sekarang tidak lagi." Tehyung terkekeh kecil dan kembali menutup matanya. Bahkan sekarang masih jam 7 malam dan Taehyung sudah diserang kantuk yang sangat parah. Jungkook menghela nafas lega. Ya, Jimin benar. Masih ada peluang.

"Hyung, mau menungguku?" gumam Jungkook lirih sembari menatap intens Taehyung yang tertidur di sampingnya. Jungkook pikir, menjalankan ide Jimin tidak ada salahnya juga.

.

.

.

To Be Continued.

.

.

.

A.N: Aduh, Ai minta maaf loh, ini late banget :" /sobs/ kalian yang review review, nge fav follow, itu bikin terharu loh T^T bahagia duh :" ini maaf pendek banget :" intinya minimal 2000 words lah :v K, c ya next chap!

Bales Review-an yoohooo

TaeKai: ayoo apaan? xD hahah, iya mereka saling kenal^^ kebaca gitu ya kalo bakal rebutan /nahlu/

Ansleon: heheh, maaf kalo ini update-nya lama T^T

1: ketebak gitu? yailah plz -" Liat aja nanti jadian apa nikah /noooo/ gak, Taetae ama ai cukup -_-

really? ;;-;; thanks dear... udah lanjut nih^^

95: iya, fs gitu ke shippernyah /nyayy ;;-;;/ terserah sang penulis dong /g :v udah lanjut nih^^

JustUkeVaddict: ini Ai nulis juga mimisan, laptop warna pink jadi merah darah ini bahaya loh ;;-;; udah biasa :v /bantu tabok/

Iyalah B| otp nomer 2 ga boleh gagal harmonis... /g/ hampir kek rival sih.. tapi beda :v

Jangan protes masalah pendek, lelah hati dd /g T^T maklumin, Ai maksimal nulis ga bakalan sampe 3000 words :"v situ pernah liat titidnya jeongguk?! foto dong! /gaaaa/ udah lanjutt ^^ thanks for support dear :)

Taetae: cuma kayak xD kan belom pacaran /pfft/ Jk modus itu sarannya Jimin sebenernya xD kebaca banget alurnya -_- Hehe, maafin banget kurang panjang loh u.u Aww, thanks udah suka^^ Udah lanjut nih, maaf lama sampe kamu jadi tempe /no x( Ofc dear! ^^ btw, permintaan kau buat VMin bakal diurus, kalo inget :v

Lee Shikuni: hanying, semerdeka kamu ajah -_- ngga adaaa xD udah dijelasin tuh :D already

94shidae: ketauan deh '^') nanti nanti aja :v Ai juga suka :"v

YuRhachan: ofc dong ^^

Hyesang-nim: pfft, yang nulis juga gemes xD udah kok^^
Guest: maaf loh lama :" Entahlah... /g

Ameliariska330: already^^

Alestie: Kak, kakak nge riview nih? /kucek mata/ KYAAA /fangirling/ kak plis deh, kakak nemunya tahun depan aja dedek ikhlas kak ikhlas .ndawoy. kalo cubitin entar bayar :v

Jin mah gitu orangnya :v ohok ohok /batuk elit/ Makasih juga udah ngeriview kak... hampir ga percaya loh kakak nge riview /lebay :"v