A/N : Ehmm, bentar-bentar ini tanggal berapa ya? Ini tahun berapa ya? Ini dimana? Siapa aku? Siapa kamu? Siapa EXO? Aaaa[r; apa2an sih thor! Cepetan mana ceritanya!]

Uhuk! Okeh2! Saya gak bakal banyak bacot kali ini, tapi nanti/? Sebelumnya saya /istriSahKimJongIn/ XD pengen sungkeman dulu sama readers atu2 karena terlalu lama ff ini gak diupdate. Kalo ada yang mikir, 'huh, pasti nih author sengaja kan gak diupdate2 padahal udah kelar' HELL NO! Kalian salah besar, chap ini aja baru kemaren malem dengan otak+tenaga yg masih tersisa /eaa/ bukan hanya itu aja—

Okeh saya cut dulu, langsung baca aja yah...

.

.

!

.

.

Eh eh bentar dulu! [r; argh apalagi sih !] biar feelnya lebih dapet, diSARANin banget buat dengerin lagunya "JIN – GONE". Saya aja waktu nulis dengerin lagu ini terus.


WARN!

THRERE'S BL INSIDE

NO PLAGIARISM! NO COPYCAT!

THIS IS JUST FANFICTION, JADI MOHON JANGAN DIANGGAP SERIUS! APALAGI MEMBAWANYA PADA DUNIA NYATA.

Out Of Character, Miss typo(s), tidak sesuai EYD, sediakan ember jika terjadi Gejala Muntaber(?)

DON'T LIKE. DON'T READ! JUST CLOSE YOUR TAB WITHOUT ANY COMENT!

SIDERS? *Hello? 2014 gitu? /apa hubungannya(?)/*

.

.

Warn! Dichap ini ada satu part yang banyak menggunakan kata-kata KASAR dan sejenisnya. Jadi yang masih 'polos' sebaiknya dipikir2 dan diantisipasi terlebih dahulu.

Sudah ada peringatan dan Saya tidak bertanggung jawab kalau otak kalian jadi tercemar setelah membaca ff ini.

/apadeh-_-/

.

.

Summary :

"Kesalahan terbesar Luhan adalah membiarkan jiwa saudaranya hancur".


DOKK DOKK DOKKK!

TUAN BANGUN! GAWAT, TUAN!

TUAN MUDA—"

Mendadak Luhan bisa merasakan jika indra pendengarannya terasa tuli, dia tak bisa menangkap suara apa-apa lagi kecuali satu kata,

.

.

...Baekhyun.

Secepat kilat Luhan langsung berhambur kekamar Baekhyun yang berada tepat didepan kamarnya. Dia tercekat begitu mengetahui keadaan kamar Baekhyun, buku-buku dan barang-barang lainnya berserakan dilantai. Pecahan vas bunga juga turut menghiasi Lantai bersama beberapa bunga yang tercecer.

Dia mendapati adiknya tengah meringkuk diseberang tempat tidurnya. Punggungnya tersender dipinggirang tempat tidur, kedua lututnya ditekuk dengan kedua tangan yang melingkar menenggelamkan wajahnya.

Luhan mencoba mendekati Baekhyun dan meraih pundaknya, bermaksud menenangkan adiknya yang tengah terisak dengan tubuh bergetar.

Baekhyun yang merasa pundaknya ada yang menyentuh, langsung tersentak kaget dan berteriak-teriak mencoba mengusir siapa saja yang sedang mengganggunya.

"AAAAaaa... TIDAKK! PERGII! JANGAN MENDEKAT! JANGAN SENTUH AKU!"

Melihat reaksi adiknya yang seperti itu, sontak langsung membuat Luhan mundur beberapa langkah menjauhi Baekhyun, tapi beberapa saat kemudian Luhan kembali mencoba mendekati Baekhyun.

"Tenanglah Baekhyun, ini aku Hyungmu...". Kristal-kristal bening langsung lolos begitu saja membentuk anak sungai yang mengalir di pipi pucat Luhan. Matanya kian memanas tak kuasa melihat pemandangan memilukan didepannya. Tangannya mencengkram erat rambut pirangnya, berusaha menahan rasa sesak yang kian menggerogoti paru-parunya.

Tak berapa lama Baekhyun mulai tenang dan tak berteriak-teriak lagi. Luhan mulai ikut berjongkok dan dengan perlahan menggapai pundak adik kesayangannya –yang sempat dia abaikan—. Matanya menatap lurus pada kedua kelereng coklat yang dipenuhi dengan tatapan ketakutan seolah Ia bisa ikut mendengar jeritan memilukan dibalik mata indahnya itu, "Ini aku Baek, hyungmu... tenanglah... Kau aman bersamaku." dengan perlahan Ia meraih tubuh mungil Baekhyun dan mendekapnya dalam tubuhnya yang tak berbeda jauh dengan ukuran tubuh adiknya. Menyadari tak ada jawaban dari mulut Baekhyun, Ia mulai mengelus dengan perlahan surai coklat gelap milik adiknya yang sangat halus layaknya rambut bayi.

Ia bisa merasakan getaran-getaran samar yang masih tercipta dari tubuh adiknya itu. Hatinya terasa makin linu ketika mengingat semuannya. Semua yang telah terjadi. Haruskan Tuhan menyiksanya seperti ini?

Setelah kepergian kedua orang tuanya, Luhan memang pernah sempat berpikir untuk apa lagi dia hidup didunia ini. Tapi setiap kali Luhan melihat adiknya, dia tahu satu hal. Dia masih punya Baekhyun yang harus dia jaga dan lindungi.

Tapi kali ini Luhan merasa gagal menjadi seorang kakak.

"hiks... Lu-han hyu-ng..." yang suara memilukan itu semakin membuatnya merasa seperti orang yang paling bersalah di muka bumi ini.

"Tidurlah, hyung akan menemanimu." Luhan kembali mengusap surai milik Baekhyun dan membiarkan adiknya meredam segala ketakutannya dalam pelukan Luhan.

Tak lama berselang, sudah terdengar dengkuran halus yang keluar dari bibir mungil Baekhyun. Baekhyun sudah tertidur rupannya.

Luhan kembali mengangkat wajahnya menatap langit-langit kamar Baekhyun. Mata sembabnya kembali berkaca-kaca. Luhan berusaha keras menahan cairan bening itu keluar dari pelupuk matanya.

...

"Hallo? Eomma?"

"Luhannie?"

"Iya, ini aku Luhan. Kapan eomma dan appa akan pulang? Kalian lama sekali disana. Eom bilang hanya dua hari, tapi sampai sekarang kalian belum juga kembali."

"Mianhae Luhannie, appamu mendadak sakit. Jadi Eomma harus merawatnya sebentar,"

"Apa!? Appa sakit apa, eomma?"

"Hanya demam biasa, tapi sekarang sudah baikan. Besok kami akan segera pulang."

"Janji?"

"Eomma janji, ahh mana adikmu Baekhyunnie? Eomma ingin mendengar suaranya..."

"Baekhyun, sudah tidur sejak jam 7 tadi. Hampir seharian dia terus-terusan bermain, pasti dia sangat lelah."

"Hah dasar anak itu, ya sudah kau cepat tidur, ini sudah jam 9 malam. Besok kau juga harus bersekolah..."

"Baiklah... sampai bertemu besok, eomma..."

"Bye sayang..."

"Bye eomma,"

"Jaga Baekhyunnie baik-baik."

.

.

babybyunsoo©

.

Present

.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

.

Luhan berkali-kali menguap saat seorang Dosen sedang menjelaskan materi pelajaran. Matanya terlihat sayu, lingkar hitam dibawah matanya juga turut menghiasi wajah Luhan pagi ini.

Sebenarnya pagi ini Luhan berniat tidak berangkat ke kampus, mengingat kedaan Baekhyun yang masih belum stabil. Tapi mau tidak mau dia harus berangkat, hari ini dia harus mempresentasikan tugas 'sialan' yang sebelumnya –kemarin- dia tidak ikut hadir.

Luhan sudah meminta waktu lagi untuk dilaksanakan lain hari, tapi Dosen killer itu benar-benar tidak mau mentolelir atau Ujian Luhan kali ini tidak akan lulus.

Pagi tadi dia hanya sempat memejamkan matanya tak lebih dari dua jam, dia terus-terusan terjaga untuk menemani Baekhyun. Dia tak ingin hal buruk yang tak diinginkan terjadi pada adik semata wayangnya.

"sepertinya dia sedang mengalami suatu trauma..." Pikiran Luhan kembali melayang pada pernyataan Dokter yang tadi pagi dia undang untuk memeriksa keadaan adiknya itu.

"Pastikan dia selalu berada bersama dengan orang-orang yang dia sayangi, maka perlahan dia akan sembuh. Dia hanya membutuhkan rasa aman."

Luhan menghela napas lega saat Dosen yang sudah berumur lebih dari 50tahun itu selesai dengan urusannya. Begitu dosen itu keluar, Luhan kembali memijat pelipisnya yang masih terasa sangat pening.

Sepertinya dia harus minum banyak vitamin hari ini.

...

Sudah lebih dari 10menit, Kai mengamati pintu sebuah ruangan dengan perasaan gelisah. Sekitar 15menit yang lalu, dia memang baru saja selesai dengan kelas sastranya. Dan sekarang dia sedang menunggu Luhan yang masih harus menyelesaikan presentasinya, tapi malah berakhir dengan jam tambahan dari sang dosen.

Sebenarnya tadi pagi dia berniat mampir dulu kerumah Luhan, tentu saja untuk melihat keadaan Baekhyun. Tapi entah dengan alasan apa yang dia sendiri tak tahu, Luhan melarangnya dan bilang untuk datang kerumahnya setelah jam kuliah berakhir hari ini.

Jujur, hampir semalaman Kai tidak bisa memejamkan kedua matanya karena terus-terusan memikirkan keadaan Baekhyun. Terakhir kali dia melihatnya hanya saat mereka berada didepan Rumah Sakit saja.

Saat itu Kai memang berniat ikut mengantar kakak beradik itu pulang kerumah, tapi tiba-tiba Ibunya menelpon dan memintanya untuk segera pulang. Dia memang tak pernah bisa menolak jika Nyonya besar sudah memberinya perintah.

Lamunannya terhenti saat gendang telinganya menangkap suara derit pintu yang terbuka. Kai mengangakat wajahnya dan melihat pintu ruangan yang sedari tadi dia rutuki, kini terbuka dan muncul seorang dosen yang semakin hari uban di rambutnya tumbuh semakin banyak.

Setelah dosen itu keluar, tak lama kemudian beberapa mahasiswa mulai menyusul dibelakangnya. Beberapa menit berlalu, tapi sosok yang dari tadi ditunggunya tak juga menampakkan diri. Hingga Kai berinisiatif sendiri untuk segera menghampiri Luhan didalam kelas.

Baru saja kakinya menginjak lantai kelas itu, iris matanya langsung menangkap sosok namja yang sudah menjadi sahabat sekaligus Hyung kesayangannya selama lebih dari 6tahun tengah berdiri dihadapannya.

Sepasang mata rusa itu terlihat sangat sayu dan lingkaran hitam dibawah matanya itu juga kontras dengan wajahnya yang terlihat sangat pucat. Kai bisa melihat dengan jelas jika saat ini, sahabatnya itu tidak dalam keadaan baik.

"Hyung, kau baik-baik saja?" tanya Kai hati-hati. Kentara sekali jika pertanyaan yang baru saja dia sampaikan terselip kekhawatiran yang sudah tak bisa lagi dia sembunyikan.

Bukannya menjawab, Luhan malah semakin memajukan langkahnya kearah Kai hingga kini dia berdiri tepat dihadapan namja yang beberapa centi lebih tinggi darinya.

Detik berikutnya Kai bisa merasakan tubuhnya sedikit limbung kebelakang karena beban berat baru saja menghantam dadanya.

"Apa yang harus aku lakukan?" bisik Luhan hampir tak terdengar. Ujung kepalanya tersender pada dada bidang Kai dan jemarinya mencengkram erat ujung jaket yang Kai pakai.

Dia benar-benar butuh tempat bersandar saat ini, Luhan juga manusia biasa. Dia tak sekuat itu untuk menanggung beban berat ini sendirian. Dan Kai adalah satu-satunya sosok yang bisa dia andalkan.

"Apa terjadi sesuatu..." Kai menjeda kalimatnya dan menatap surai pirang milik Luhan sejenak, "—pada Baekhyun?"

Luhan kembali mengangkat wajahnya dan menatap sepasang manik hitam milik sahabatnya itu sejenak. Dia menghela napas berat dan masih tak menjawab.

"Hyung, wajahmu terlihat sangat pucat. Apa kau sama sekali tidak beristirahat? Apa semalam kau tidak tidur?" merasa sedikit frustasi karena Luhan masih bungkam, Kai mengangkat kedua tangannya dan meraih bahu milik Luhan.

Matanya menatap lurus pada sepasang mata rusa milik Luhan dan berusaha mencari sesuatu didalamnya. Tapi yang dia dapat hanya mata penuh dengan rasa lelah. "Hyung, ceritalah. Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Baekhyun, semalama dia..." Akhirnya Luhan menceritakan semuanya pada Kai, tidak ada gunanya juga dia menyembunyikan hal itu.

Sedangkan Kai yang mendengar kejadian yang sebenarnya terjadi itu berusaha keras meredam amarahnya. Siapa yang tak marah, jika mengetahui keadaan orang yang sangat penting dalam hidup kita tengah menderita, dan semua itu akibat dari perbuatan dari si brengsek Park Chanyeol, siapa lagi?

Kai jadi ingat sesuatu, dia sama sekali belum melihat batang hidung Chanyeol seharian ini. Apa dia takut jika Kai menonjoknya? 'Dasar pengecut!' batin Kai.

"Sebaiknya kita segera pulang, hyung. Bukankah urusanmu disini sudah selesai?" tanya Kai halus dan hanya ditanggapi Luhan dengan anggukan ringan.

"Kajja!" Kai menarik sebelah tangan Luhan berniat menggandengnya keluar dari sana.

Tepat saat mereka saling berbalik menghadap ke arah pintu keluar, langkah keduanya terhenti begitu mendapati seseorang tengah berdiri diambang pintu masuk dengan tatapan mata yang sulit diartikan.

Kai mengepalkan sebelah tangannya yang tak digunakan untuk menggandeng tangan Luhan, saat dia tahu namja tinggi menjulang yang sedang berdiri di depannya adalah sosok yang sejak tadi dicarinya. Lebih tepatnya sosok yang sangat dibencinya sekarang. Park Chanyeol.

"Mau apa lagi kau kesini?" ucap Kai datar namun terkesan penuh penekanan ditiap katanya.

Chanyeol berjalan mendekati Luhan tanpa menghiraukan pertanyaan Kai barusan. Dan tentu saja hal itu semakin membuat Kai geram, dia langsung mencengkram kerah kemeja Chanyeol begitu namja yang lebih tinggi beberapa centi darinya itu berhenti tepat dihadapan mereka.

"Untuk apa lagi, kau menampakkan dirimu dihadapan kami, brengsek! Kau ingin aku membunuhmu sekarang juga!?" umpat Kai.

"Aku ingin bicara dengan Luhan." Ucap Chanyeol tenang, bahkah ekspresinya dari tadi sama sekali tidak berubah. Matanya terus tertuju kearah Luhan yang sedari tadi masih tetap diam, tanpa memperdulikan cengkraman tangan Kai yang semakin lama semakin mengerat dilehernya.

"Tidak puas kau menyiksa adiknya dan sekarang kau ingin bicara pada Luhan. Hah, kau benar-benar tidak punya malu Park Chanyeol! Pergi sekarang juga atau aku benar-benar akan membunuh—"

"Kai." Kalimat Kai terpotong karena baru saja Luhan memanggilnya.

Merasa dipanggil, Kai langsung menoleh kesamping dan mendapati Luhan tengah menatapnya.

"Lepaskan." Kai membulatkan kedua matanya karena baru saja Luhan menyuruhnya melepaskan namja brengsek ini. "Tap—"

"Aku bilang lepaskan." Kai berniat ingin protes lagi, tapi melihat ekspresi wajah Luhan yang seperti itu membuatnya dengan pasrah –terpaksa— melepaskan cengkramannya dikerah Chanyeol dengan sedikit hentakan. Dia menatap tajam Chanyeol sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kembali pada Luhan.

"Pulanglah lebih dulu dan segera temui Baekhyun. Kabari aku jika kau sudah sampai."

"Lalu, Kau?" Kai benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya saat ini, apa Luhan benar-benar akan meladeni namja sialan itu. Lalu bagaimana jika Chanyeol bertindak sesuatu yang bisa membahayakan nyawa Luhan nanti?

Lamunannya terpotong saat suara Luhan kembali menginterupsinya. "Aku akan disini."

"Maksudmu meladeni namja sialan ini? hyung... Bagaimana jika—"

"Aku akan baik-baik saja, Kai. Justru yang harus kau khawatirkan sekarang adalah Baekhyun," penyataan Luhan barusan langsung membuat Kai terdiam. Sebenarnya Kai juga sangat mengkhawatirkan keadaan Baekhyun sekarang, tapi disisi lain dia juga tidak bisa meninggalkan Luhan sendirian disini, lebih tepatnya bersama Chanyeol.

"Bilang pada Baekhyun, aku akan segera pulang."

Kai menatap Luhan sejenak dan akhirnya mengiyakan perintahnya, "Jaga dirimu baik-baik, hyung." Dia kembali mengalihkan pandangannya kearah Chanyeol dan menatapnya tajam. "Awas jika kau berani macam-macam padanya. Aku tak segan-segan untuk mematahkan lehermu, ingat itu Tuan Park!"

Dan selanjutnya, Kai melangkahkah kedua kakinya –yang masih terasa berat— menjauh pergi meninggalkan Luhan sendirian dengan namja yang sudah menghancurkan hidup Kakak beradik itu.

Walau masih merasa belum rela, tapi Kai tahu sifat Luhan. Dia selalu bisa menjaga dirinya sendiri. Kai menghela napas berat dan mulai berjalan menuju parkiran. Dia harus tahu keadaan Baekhyun sekarang.

.

babybyunsoo©

.

Setelah Kai pergi, suasana kembali canggung. Lebih tepatnya sangat sunyi, bahkan suara detik jam bisa terdengar jelas didalam ruang kelas itu. Keduanya masih saling berdiri berhadapan, tak ada satupun dari mereka yang ingin memulai membuka suara ataupun sekedar mempersilahkan satu sama lain untuk duduk.

Merasa tak tahan lagi, Luhan menghela napas berat dan akhirnya memulai percakapannya. "Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak punya banyak waktu hanya untuk menunggumu diam berdiri. "

Masih belum menjawab.

Luhan masih berusaha bersabar menunggu Chanyeol membuka suara, tapi sampai semenit berlalu namja yang dulu pernah mengisi hatinya itu masih bungkam.

Luhan menatap Chanyeol sejenak dan berbicara lagi. "Baiklah, Aku pergi." Luhan mulai melangkah pergi. Saat mencapai langkah ketiga, sebuah suara langsung menginterupsi aksinya.

"Maaf."

Mendengar itu langsung membuat Luhan tersenyum pahit. Tentu sikapnya itu tak bisa dilihat oleh Chanyeol, melihat posisi mereka kini yang saling membelakangi.

"Terlambat."

Chanyeol berbalik, hingga kini dia bisa melihat punggung namja yang beberapa hari lalu resmi menjadi 'mantan' kekasihnya. "Aku minta maaf." Pintanya lagi. Entah tulus atau tidak, yang jelas dia berbicara dengan nada yang sangat serius.

"Seperti itukah caramu meinta maaf?" Luhan tertawa hambar, sebelum akhirnya melanjutkan kembali kalimatnya. "Bahkah jika kau bersujud sekalipun, tidak ada satupun orang didunia ini yang mau memaafkan orang yang sudah melakukan tindakan bejat sepertimu."

Merasa linu mulai menyerang hatinya, Luhan meremas gagang tasnya dan masih terselempang dipundaknya. Lama-kelamaan perasaan sesak mulai –kembali— menggerogoti paru-parunya. Luhan memejamkan kedua matanya sejenak dan kembali menghela napas.

Keduanya kembali terdiam.

"Aku pikir kau akan berubah, tapi ternyata perkiraanku salah besar. Kau tetaplah Kau, dan Kau tetaplah seorang Park Chanyeol, namja tempramental yang selalu bersikap kasar.—" Luhan menghela napas kasar dan kembali melanjutkan kalimatnya, "—bahkan Kau lebih buruk dari pada itu."

Luhan bersiap pergi, tapi cekalan tangan di lengannya menghentikan aksinya. "Jangan pernah menyentuhku lagi." Ucapnya datar namun penuh penekan disetiap katanya. Beberapa detik Luhan masih menunggu cengkraman ditangannya itu segera terlepas, tapi detik-detik berikutnya berlalu Chanyeol masih saja mencengkram lengannya.

"Jangan pernah menyentuhku lagi! Apa Kau tuli!?" Umpat Luhan cukup keras dan langsung menghentakkan kasar cengkraman tangan Chanyeol disebelah lengannya.

Bukankah menuruti perintahnya, Chanyeol justru membalikkan kasar badan Luhan hingga kini dia bisa melihat raut kemarahan menyelimuti wajahnya. Dan detik berikutnya, dia langsung memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Sangat erat. Seakan tak rela jika sosok dalam rengkuhannya itu akan pergi meninggalkannya lagi.

"Park Chanyeol! Apa yang kau lakukan!? Lepaskan Aku!" Luhan mulai memberontak berusaha melepaskan pelukan itu, tapi sepertinya usahanya itu akan sangat sia-sia.

Perasaan sesak kembali menyerang dadanya, tapi kali ini bukan karena apa yang sudah dilakukan sosok yang masih memelukknya itu. Melainkan sosok itu sendiri, Park Chanyeol.

Luhan segera menggelengkan kepalanya berkali-kali, berusaha menyadarkan pikirannya sendiri agar tak semakin tenggelam lebih dalam. Dengan kekuatan penuh, Luhan langsung mendorong tubuh jangkung itu dengan paksa.

"SUDAH AKU BILANG JANGAN PERNAH MENYENTUHKU LAGI! JANGAN PERNAH MUNCUL DIHADAPANKU LAGI!—"

"KAU TIDAK SADAR APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN!?"

"KAU MENYIKSAKU! DAN SEKARANG KAU JUGA SUDAH MENGHANCURKAN HIDUP BAEKHYUN! HIDUP ADIKKU!"

"Dan Kau tahu apa artinya?" Luhan menatap Chanyeol tajam, napasnya semakin memburu dan wajahnya sudah sangat merah karena mati-matian mengontrol amarahnya. Tapi hasilnya tetap nihil. Dia lepas kontrol.

"KAU TAK LEBIH TERKUTUK DARI PADA IBLIS, PARK CHANYEOL!"

"Dan satu hal lagi yang harus kau tahu," Luhan memejamkan kedua matanya sejenak dan menghirup napas dalam.

"AKU MEMBENCIMU! SANGAT SANGAT MEMBENCIMU!" dia menatap Chanyeol –yang masih tercengang—sejenak sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi, tanpa menunggu sepatah katapun keluar dari mulut Chanyeol.

.

"Tapi aku mencintaimu."

.

Langkah Luhan terhenti diambang pintu saat satu kalimat itu meluncur dari bibir Chanyeol. Tapi detik berikutnya dia kembali melanjutkan langkahnya seakan menganggap apa yang baru saja dia dengar itu hanya angin lalu.

.

.

'Aku juga mencintaimu,—'

.

.

'Tapi kebencianku lebih besar dari pada rasa cintaku.—'

.

.

'—Aku...—

.

—...membencimu.'

.

.

Dan jika Chanyeol bisa melihatnya, dia akan tahu jika saat ini setitik cairan bening sudah menghiasi sudut mata rusa milik Luhan.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Kai untuk sampai di kediaman Byun. Saat ini Kai baru saja sampai didepan gerbang rumah Byun bersaudara, dan dia tengah menunggu dua orang penjaga yang sedang membukakan pintu gerbang setelah sebelumnya Kai memintanya.

Dengan cekatan Kai memarkirkan mobilnya di tepi halaman, dan langsung bergegas melangkah masuk kedalam rumah yang sudah sangat dia hafal seluk-beluknya.

Begitu mencapai ruang tamu, dia langsung disambut oleh Bibi Oh yang sudah sangat dia kenal bahkan sebelum dia bekerja pada keluarga Byun, tentu saja karena Bibi Oh adalah saudaranya. Lebih tepatnya dia kakak dari Ayah Kai.

"Jong In!" Panggil Bibi Oh, dan jangan heran jika dia memanggil Kai dengan sebutan Jong In. Kim Jong In memang nama aslinya, tapi dia tak mengijinkan siapapun memanggilnya Jong In selain keluarganya sendiri.

"Bibi Oh, Apa Baekhyun ada dikamarnya?" tanya Kai dan langsung diangguki oleh Bibi Oh.

"Boleh aku menjenguknya?"

"Tentu saja boleh, tapi mana Tuan Muda Luhan?"

"Dia sedang ada urusan sebentar, tapi dia akan segera pulang."

Bibi Oh mengangguk paham, "Bawa ini sekalian." Kai mengernyit bingung karena disodori nampan dengan makan dan minuman diatasnya. Bahkah dia baru sadar ternyata dari tadi bibi Oh membawa nampan itu.

"Untuk apa ini?"

"Dari tadi pagi Baekhyun terus-terusan tidak mau makan, dia hanya ingin makan jika Luhan yang menyuapinya. Dia juga sama sekali belum meminum obatnya, Bibi takut kalau keadaanya semakin memburuk. Hah... pasti Tuan Muda Luhan akan marah jika tahu hal ini," Bibi Oh mengakhiri kalimatnya dengan ekspresi sedih, kentara sekali kalau dia sangat mengkhawatirkan keadaan majikannya itu.

"Mungkin jika kau yang membujuknya, dia akan mau." Bibi Oh menatap Kai penuh harap dan ditanggapi senyuman oleh Kai. "Kau bisa mengandalkanku, Bibi Oh." Ucap Kai penuh keyakinan.

Dan selanjutnya, Kai langsung pamit pada Bibi Oh dan melangkah pergi menaiki anak tangga menuju kamar Baekhyun yang memang berada dilantai 2. Dia benar-benar sudah tak sabar bertemu Baekhyun, tapi disisi lain Kai juga sedikit merasa khawatir dengan bagaimana keadaan 'pujaan hati'nya sekarang.

Sampai sekarang Kai memang tak pernah mengungkapkan isi hatinya pada Baekhyun. Bukannya dia memilih untuk menjadi seorang pengecut, tapi dia hanya terlalu takut jika Baekhyun malah membencinya setelah dia tahu jika Kai mencintainya.

Dan yang jadi masalah terbesar Kai disini adalah, apa Baekhyun juga mencintai seorang namja sepertinya. Sampai sekarangpun Kai tak pernah tahu, yang dia tahu hanya si mata bulat dan si wajah kotak, Jongdae dan Kyungsoo. Dua sahabat Baekhyun yang kerap dia temui saat berkunjung kerumah ini. Dan selebihnya Baekhyun tak pernah bermain dengan siapapun, terlebih dengan seorang yeoja.

Mungkin tetangganya yang bernama Amber pernah, tapi Kai bahkan mempertanyakan ke-yeoja-annya. Bagaimana tidak? Jika seorang yeoja selalu memakai celana boxer pendek, berambut sangat pendek, dengan seribu tindikan ditelinga kanan dan kirinya. Wajahnya bahkan bisa dikategorikan lumayan tampan jika dia disandingkan dengan para namja.

Kai beberapa kali juga pernah mendengar suaranya, dan benar-benar terdengar berat seperti namja pada umumnya. Jangan-jangan si Amber itu memang berniat bertransformasi menjadi seorang namja.

Terlalu lama tenggelam dalam lamunannya, Kai sampai tidak sadar jika sekarang dia sudah sampai didepan pintu kamar dengan cat abu-abu yang sudah sangat dia hafal, Kamar Baekhyun.

Baru saja tangan kanannya menyentuh kenop pintu, dia bisa merasakan sebuah benda bergetar didalam saku celananya. Dengan tangan kiri yang masih memegang nampan, tangan kanannya yang kosong dia gunakan untuk meraih ponsel –yang masih bergetar— yang dia taruh disaku celana bagian depan.

Luhan, adalah name kontak yang muncul dilayar ponsel Kai. Dan disaat bersamaan Kai jadi teringat perkataan Luhan sebelum dia pamit pergi. Seharusnya dia menghubungi Luhan saat sudah sampai, tapi sepertinya Kai terlalu bersemangat untuk segera bertemu Baekhyun dan melupakan ucapan Luhan.

"Yeobboseo, Hyung?"

"Kai, apa kau sudah sampai dirumahku?" tanya Luhan diseberang sana.

"Sekitar 5menit yang lalu—"

"Apa kau sudah bertemu Baekhyun?"

"Aku baru saja ingin masuk kekamarnya, tapi kau—"

.

.

CTARR!

BUGG!

.

Kai membulatkan kedua matanya dan tak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi. Baru saja dia mendengar suara seperti benda keramik atau sejenis gelas terjatuh dan bukan hanya itu yang semakin membuat tenggorokannya tiba-tiba mengering. Tapi suara lain yang mengikutinya, seperti benda berat terjatuh atau lebih tepatnya seperti tubuh seseorang yang jatuh mengenai lantai.

.

Dan semua suara itu berasal dari kamar Baekhyun.

.

"Kai! Suara apa itu!?" tanpa menghiraukan seruan Luhan diseberang sana, Kai langsung menyerbu masuk kedalam kamar Baekhyun.

"Baekhyun!" Kai tercekat saat menemukan tubuh Baekhyun sudah tergeletak diatas lantai dekat tempat tidurnya, dan beberapa pecahan gelas kaca berserakan di dekatnya. Seperti sudah terprogram sebelumnya, secara otomatis kedua kaki Kai langsung berlari menghampiri tubuh mungil didepannya itu.

Kai meletakkan nampan –yang dari tadi masih dia bawa— asal-asalan dan langsung mengangkat tubuh ringkih itu kembali keatas tempat tidur dan membaringkannya secara perlahan.

"Baekhyun, Kau baik-baik saja?" tanya Kai cemas. Jelas-jelas Kai tahu jika saat ini Baekhyun tidak sedang baik-baik saja, dia bisa melihat dengan jelas raut wajah Baekhyun yang tengah meringis seperti menahan rasa sakit, tapi otaknya terlalu buntu untuk menyuruh mulutnya mengatakan hal yang lebih jelas.

"Kepalaku... pusing sekali...—"

"—sakit, Kai..." desis Baekhyun dengan sebelah tangannya yang digunakan untuk mencengkram bagian kepalanya yang terasa sangat berat.

Panik.

Siapa saja yang berada diposisi Kai saat ini pasti akan mengalami hal yang sama, otaknya berpikir keras. Kedua bola matanya bergerak-gerak seperti tengah mencari sesuatu, dan perhatiannya terhenti tepat diatas nakas.

Obat.

Kai ingat saat Baekhyun masih dirawat dirumah sakit, dokter juga memberinya obat penghilang rasa sakit kalau tiba-tiba pasien mengalami serangan seperti ini. Dan kejadian ini benar-benar terjadi.

Tanpa membuang waktu lagi, Kai langsung menghampiri nakas yang persis terletak disamping tempat tidur Baekhyun. Dia melihat beberapa obat tablet berjejer diatas sana, dan sebuah botol plastik transparan berukuran mini berisi pil berwarna kuning pucat didalamnya. Tidak salah lagi, Kai yakin itu memang obatnya.

Secepat kilat Kai langsung menyambar botol itu dan segelas air putih yang ternyata sudah tersedia diatas nakas, lalu berbalik menghampiri Baekhyun yang masih bergerak gelisah diatas tempat tidurnya.

"Minumlah ini, obat ini bisa mengurangi rasa sakit dikepalamu." Kai berniat membantu Baekhyun untuk duduk, tapi karena sedikit kualahan dengan gelas yang dia bawa, dia berbalik sebentar untuk meletakkan gelas itu dan berbalik lagi untuk mengangkat punggung Baekhyun agar dia bisa duduk.

Sembari duduk ditepi ranjang, dengan cekatan Kai mulai mengeluarkan sebutir pil berbentuk lingkaran dari botol itu dan meletakkannya ditelapak tangan Baekhyun. Dia sedikit berjengit saat permukaan kulitnya tak sengaja menyentuh telapak tangan Baekhyun, benar-benar terasa sangat dingin seperti es.

Dengan perlahan dan gerakan tangan yang sedikit bergetar, Baekhyun mulai mengarahkan pil itu kemulutnya. Melihat hal itu membuat Kai merasa iba dan sedikit tak sabar, jadi dia berinisiatif sendiri untuk mengambil alih pil itu dan menyuapinya.

Setelah selesai dengan obatnya dan memberinya minuman, Kai kembali membantu Baekhyun untuk tiduran. Kai menghela napas berat. Dia belum sepenuhnya lega walaupun Baekhyun kini sudah mulai tenang, tapi tetap saja siapapun yang melihat kondisi Baekhyun saat ini akan merasa sangat miris.

Keringat dingin mulai bercucuran dikening dan sela-sela rambut Baekhyun. Rasanya baru semalaman dia tak melihat Baekhyun, tapi dia sudah melihat perubahan di wajah yang selalu terlihat ceria itu. Kedua pipinya sudah terlihat tirus, sepasang mata yang selalu berbinar setiap kali Kai membawakannya sekantung buah strawberry sekarang terlihat cekung dan bibir plum yang selalu terangkat keatas untuk menghasilnya sebuah senyuman kini terlihat kering dan sangat pucat.

Semua itu mebuat hati Kai berkali-kali lipat terasa sangat linu.

Lamunannya terhenti saat sebuah suara menyadarkannya. "Jong In, apa yang terjadi pada Tuan Muda?" tanya Bibi Oh cemas sambil bergantian menatap sisa pecahan gelas yang masih berserakan diatas lantai dan menatap majikan yang sudah dia anggap anak sendiri itu dengan raut kekhawatiran.

Kai menatap Baekhyun –yang sudah memejamkan matanya— sejenak dan mulai bangkit berdiri menghampiri Bibi Oh, "Bibi tidak usah khawatir, Baekhyun sudah mulai tenang. Dia hanya merasa sangat pusing, tapi aku sudah memberinya obat pereda.—"

"—Sebaiknya Bibi suruh pelayan untuk membersihkan ini sebelum Luhan hyung— Astaga! Luhan Hyung!" Kai kelabakan mencari ponsel disakunya tapi nihil, dia tidak menemukan apapun.

Kedua bola matanya bergerak kekanan dan kekiri mencoba mencari benda persegi panjang berwarna silver yang baru beberapa menit lalu dia pegang.

"Kau mencari ini?" Kai melihat Bibi Oh memegang ponsel dengan warna silver persis seperti miliknya. "Ponselku!"

Tepat saat tangan jemari Kai hampir menyentuh benda persegi panjang tersebut, ponsel itu kembali bergetar dan menampilkan contact name 'Luhan'. Tanpa babibu Kai langsung menyambar ponselnya dan mengangkat panggilannya.

"Yeob—" belum sempat Kai menyelesaikan kalimatnya, serbuan pertanyaan langsung menyerang gendang telinganya.

"Kai! Katakan padaku apa yang terjadi!? Kenapa kau menelantarkan panggilanku begitu saja, huh!? Baekhyun baik-baik saja, bukan? Kai, kenapa kau diam saja? Kai! Jawab aku!"

Kai menghela napas berat dan menatap Baekhyun sejenak. Sepertinya dia tak perlu menceritakan kejadian tadi, bukannya berniat ingin membohongi Luhan. Tapi Kai hanya merasa khawatir jika itu malah semakin membebani pikiran Luhan, sahabatnya itu sepertinya sudah terlalu menderita.

"Baekhyun baik-baik saja hyung... sebaiknya kau cepat pulang. Apa kau masih bersama namja brengsek itu?" hati Kai kembali memanas sesaat dia mengingat namja yang sudah membuat Baekhyun menderita seperti ini.

"Kau sedang tidak membohongiku, kan?" tanya Luhan menyelidik.

"Kau tidak percaya padaku, hyung?"

"Aku mempercayaimu, Kai. Tapi suara tadi?"

"Oh itu, aku tak sengaja menjatuhkan gelas. Aku terlalu panik dan meninggalkan ponselku begitu saja."

"... "

"Hyung, Kau masih disana?"

"I-Iya, aku sudah ada dijalan. Sebentar lagi aku akan sampai." Kai mengerutkan keningnya karena merasa sedikit aneh dengan jawaban Luhan barusan. Tak ingin ikut campur, Kai mengurungkan niatnya bertanya lebih lanjut.

"Baiklah, hati-hati dijalan..."

Panggilan sudah terlebih dulu terputus tanpa ada balasan lagi dari Luhan. Sekali lagi itu membuat Kai sedikit heran, tidak biasanya sahabatnya itu memutus panggilan dengan cara seperti itu.

Kai kembali memperhatikan seorang maid yang sudah mulai selesai membersihkan pecahan gelas dilantai. Selama obrolannya dengan Luhan, Bibi Oh memang terlebih dulu keluar dan tak berselang lama seorang maid wanita datang dan mulai melaksanakan tugasnya.

"Hyung..." sebuah panggilan mulai menyadarkan Kai dari lamunannya. Dia berbalik dan mendapati Baekhyun kembali bergerak gelisah diatas tempat tidur. Sepertinya dia tengah mengigau, kedua matanya masih terpejam tapi Baekhyun lagi-lagi memanggil 'hyung'.

Kai tahu 'Hyung' yang dipanggil Baekhyun adalah Luhan Hyung, selama ini Baekhyun tak pernah memanggilnya dengan sebutan 'Hyung'. Padahal sudah jelas-jelas Kai lebih tua dari pada Baekhyun. Luhan bahkan pernah memarahi Baekhyun karena tak pernah mau memanggil Kai dengan sebutan hyung.

Saat ditanya kenapa, Baekhyun hanya menggeleng dan bilang 'Aku lebih suka memanggilnya Kai, itu terlihat lebih keren! Bukan begitu, Kai?'

Kai tersenyum samar saat dia kembali mengingat kejadian itu, tapi hal itu tak berlangsung lama karena kenyataan kini kembali menyadarkannya.

Sepasang kakinya bergerak mendekati tempat tidur dimana diatasnya terbaring seseorang yang paling dia sayangi, bukan lagi sayang tapi sangat dia cintai. Kai masih ingat saat pertama kali dia bertemu dengan Baekhyun.

.

.

Flashback...

Waktu itu Kai masih kelas 3 menengah pertama, dia memang sudah bersahabat dengan Luhan sejak kelas 2 waktu mereka kebetulan sekelas dan menjadi teman sebangku. Tapi itu adalah kali pertamanya Kai datang kerumah Luhan saat tugas sekolah menuntut mereka untuk bekerja sama.

Dan saat itulah pertemuan pertama Kai dengan Baekhyun kecil yang masih berumur 10tahun. Sangat mungil, bermata sipit, dan sangat manis. Waktu itu Kai bahkan mengira adik Luhan itu seorang yeoja.

Luhan memang pernah bilang dia mempunyai seorang adik, tapi dia tak pernah menceritakan apapun mengenai adiknya. Bahkan adiknya seorang namja atau yeoja sendiri Kai tak pernah tau. Hingga akhirnya Kai tahu adik Luhan itu bernama Baekhyun dan 100% dia adalah seorang namja.

"Baekkie, kenalkan. ini teman hyung. Namanya Kai."

"Haiii Kai...!"

"Aish, kau harus memanggilnya Hyung, dia lebih tua darimu."

"Shireo! Aku lebih suka memanggilnya Kai. Kai, tidak marah kan kalau Baekkie memanggilmu, Kai..."

"Untuk adik manis sepertimu, panggilan apapun hyung tidak akan marah."

"Yeayy... Kai memang memang sangat baik! Baekkie sayang Kai!"

"Kai juga sayang Baekkie..."

"Huh dasarr!"

Setelah pertemuan awal mereka, Kai jadi lebih sering berkunjung kerumah Luhan. Apalagi setelah Kai tahu Bibi Oh yang notabennya kakak dari ayahnya itu bekerja disana, dia jadi merasa mempunyai keluarga kedua setelah orang tuanya.

Beberapa minggu dia berkunjung dirumah Luhan, akhirnya Kai menemukan sedikit kejanggalan. Dimana kedua orang tua Luhan dan Baekhyun? Setahun lebih mereka bersahabat, Luhan memang tak bercerita banyak mengenai keluarganya. Malah cenderung sangat tertutup, tapi itu pengecualian. Selebihnya Luhan terbuka dengan banyak orang dan melakukan aktifitas anak-anak pada umumnya, seperti bermain dengan teman-temannya.

Hingga suatu hari, saat mereka sedang makan siang bersama ditaman belakang sekolah, Kai memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut pada sosok namja yang hampir setahun lebih tua darinya itu.

"Hyung, emm... boleh aku... menanyakan sesuatu padamu?"

"Tanyakan saja,"

"Emm... boleh aku tahu, emm anu... itu aduhh..."

"anu itu apa, Kai? Bertanyalah yang lebih jelas."

"Baiklah, tapi kau berjanji tidak akan marah dan mau jujur padaku."

"Baiklah... baiklah... Apa itu?"

"emm... Boleh aku tahu dimana... kedua orang tuamu? Aku hanya penasaran karena selama ini aku tak pernah melihat... mereka."

"... "

"Hyung?"

"... "

"Hyung... Mianhae aku terlalu lancang karena berani menanyakan hal semacam ini. Kumohon hyung... jangan marah padaku."

"... "

"Hyung... kumohon jangan seperti ini... Bicaralah sesuatu. Aku—"

"Mereka sudah meninggal."

"A-apa?"

"Mereka sudah meninggal 5tahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat terbang."

Setelah itu Luhan menangis sejadi-jadinya, dan yang bisa dilakukan Kai saat itu hanya memeluknya dan berusaha memberi kenyamanan pada sosok yang ternyata sangat rapuh dari kelihatannya.

Setelah kejadian itu, hubungan mereka berdua menjadi sangat erat, mulai masuk ke sekolah menengah atas bersama hingga kini mereka sama-sama belajar di Universitas yang sama. Tak ada lagi hal yang mereka sembunyikan dari keduanya, Kai bahkan pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi sosok pelindung bagi kedua kakak beradik itu.

Dan selama itu pula Kai baru menyadari sesuatu, bahwa rasa sayangnya selama ini pada Baekhyun bukan sekedar rasa sayang biasa.

.

Kai mencitai Baekhyun, dan itu yang terjadi.

.

...Flasback End

.

babybyunsoo©

.

Baekhyun bisa merasakan sebuah tangan kekar menggenggam jemarinya, sangat hangat dan nyaman. Matanya masih terasa sangat berat, tapi dia bisa mengintip lewat sudut matanya jika seseorang yang saat ini sedang duduk disampingnya dan menggenggam jemarinya itu adalah Kai.

Sosok namja yang dikenal Baekhyun sebagai sahabat dari Luhan Hyung.

Matanya sayunya kini sudah terbuka sempurna, kedua bola matanya bergerak kesana-kemari mencoba menemukan sosok yang paling dia cari saat ini.

"Kai, mana Luhan Hyung?" tanya Baekhyun dengan suara pelannya dan terkesan sangat lemah.

Sekilas Baekhyun bisa melihat seulas senyum terpatri dikedua sudut bibir Kai, sebelum namja berkulit tan itu menjawab pertanyaannya. "Dia sudah berada dalam perjalanan pulang, sebentar lagi pasti akan sampai."

Baekhyun kembali mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar tidurnya dan menghela napas pelan. Dia sedikit merasa bersalah karena sudah membuat Hyungnya itu kerepotan dengan kondisinya sekarang.

Baekhyun sendiri tak tahu kenapa dia menjadi seperti ini. Dia hanya merasa takut. Setiap kali dia memejamkan matanya otaknya terus-terusan memutar kejadian itu seperti sebuah film yang sudah lama rusak.

Baekhyun benci hal itu, dan dia lebih benci lagi kenapa orang itu harus namjachingu Hyungnya sendiri. Apa hyungnya itu juga pernah mengalami hal yang sama dengannya. Apa orang itu juga sering memperlakukan hyungnya dengan kasar.

Baekhyun bisa merasakan kepala bagian belakangnya kembali berdenyut, rasanya sangat sakit seperti dihantam balok kayu. Kenapa penyakit sialan ini terus mengganggunya, dan kenapa penderitaanya ini tak kunjung berakhir.

Baekhyun mencoba menahannya dengan memejamkan kedua matanya dengan erat, dia sudah tak tahan lagi. Ini benar-benar menyakitkan.

Tanpa sadar setitik cairan bening sudah merembes dibalik sudut mata Baekhyun. Mungkin orang lain akan menganggap Baekhyun adalah namja yang cengeng karena mudah mengeluarkan airmata. Tapi itu salah, dia hanya tak sanggup lagi menahan rasa sakit dikepalanya itu.

Melihat Baekhyun tiba-tiba menangis, tentu saja membuat Kai kembali panik. "Baekhyun, gwaencanha? Apa kepalamu sakit lagi?".

Baekhyun masih bisa mendengar suara Kai yang penuh dengan nada kekhawatiran. Dia ingin menanggapi, tapi otaknya terlalu lumpuh bahkan untuk memproses apa yang baru saja Kai tanyakan.

Tak ada tenaga untuk sekedar berteriak kesakitan. Yang bisa Baekhyun lakukan saat ini hanya mencengkram erat tangan Kai yang masih menggenggam jemarinya. Seolah itulah teriakan yang tak bisa lolos dari tenggorokannya.

Tak lama kemudian, dia bisa mendengar suara yang paling dia hafal menggema digendang telinganya.

"Baekhyun!"

"Ya Tuhan! Baekhyun gwaencanha!? Kai! Apa yang terjadi pada Baekhyun."

Itu suara hyungnya. Baekhyun ingin sekali bangun dan memeluk hyungnya, dia hanya ingin melampiaskan rasa sakitnya saat ini. Tapi sekali lagi, otaknya terlalu lumpuh bahkan sekedar untuk merespon saraf dari kedua matanya yang memaksa untuk terbuka.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

"Hyung, apa tidak sebaiknya kita bawa saja Baekhyun ke Rumah Sakit?" Kai mencoba memberi saran pada Luhan disela-sela kekhawatirannya. Dia sudah tak tega lagi melihat kondisi Baekhyun yang tiba-tiba memburuk seperti ini. Kai merasa tak sanggup lagi menghirup udara jika Baekhyun masih seperti ini.

Luhan tak merespon dan masih sibuk menyeka keringat dingin di kening adik satu-satunya itu.

"Bagaimana dengan obatnya?" akhirnya Luhan menjawab setelah beberapa detik terlewat. Dia mengalihkan pandangannya kearah Kai, "Dokter bilang kita harus—"

"Percuma saja hyung, Baekhyun sudah meminumnya tadi—"

"Kau—"

"Kita tak punya banyak waktu lagi, hyung. Yang kita butuhkan sekarang hanya Dokter. Dokter akan langsung menanganinya sebelum hal-hal yang lebih buruk lagi terjadi."

Luhan terdiam sejenak mendengar pernyataan sahabatnya barusan, benar. Kai benar, Luhan tak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Baekhyun lagi. Dia kembali menatap adiknya, dan sudah tak sanggup melihat adiknya itu menderita seperti ini.

"Kita pergi sekarang."

Secepat kilat Luhan langsung membantu mengangkat tubuh Baekhyun agar Kai bisa menggendongnya. Luhan hanya bisa menatap sendu saat tubuh ringkih itu tersender lemas dibalik punggung lebar milik Kai dan bergerak semakin menjauh.

.

Seolah ingin menghilang.

.

Luhan masih mematung dan menelah Ludahnya kasar saat merasakan nyeri yang tiba-tiba menyerang ulu hatinya.

.

.

'Eomma... Appa...'

.

.

.

T to the B to the C

.

.

TBC


otl 5.431 w XD

A/N ; errr... apa itu? Gak banget ya saya pasang TBCnya. Abis mau gimana lagi, tenaganya Cuma bisa sampai disitu aja. FF ini kemaren sempet kena writer block, jadi otak saya mampet banget buat ngelanjutin ini. mana waktu luang saya gak sebanyak dulu, buat nyari waktu free sehari aja susah banget/fiuhh/ Tapi Alhamdulillah/sujudsyukur/ saya masih sanggup ngelanjutin./yeayy/

Soal 'ChanLu' gimana udah greget belum? /and I'm so sorry for making Yeol like a hell, but really... yeol lebih kerenan gitu dari pada karakternya selama ini yg selalu jadi 'gigantic idiot'/ itu sih menurut saya XD

Dan mengenai Baek yang kepalanya uring2ang, sebenernya itu terinspirasi dari saya sendiri(?). yahh semacam punya riwayat sakit kepala akut(?),awal desember lalu saya jg sempet sakit2an dan serangan beton(?) di kepala itu yang bikin saya mpe uring-uringan. Kalo cuma pusing biasa mngkin masih bisa nahan, tapi itu sakitnya kaya /huh, I can't explain what it feel/O.o pokoknya yang gak tahan sakit bisa langsung nangis/sobs/kek saya XD/ dan— Apa-apaan ini!? kenapa saya malah jadi curhat panjangxlebar disini?


Balasan Review

[ayumKim : haha, baek gak gila koq. Cuma kena guncangan(?) batin aja. Mungkin.] [Fujoshi2013 : iya nih dasar si yeol! eh, plis jangan nodongin pistol dulu. Ini udah dikasih ChanLu , apa masih kurang greget?] [shinta lang : ops mianhae, updatenya lama nih hhe. Tapi udah panjang kan?] [luluna99 : itu diatas sudah ada ChanLu, tapi kalo gak sesuai perkiraan. Ya saya gak nanggung XD] [dian agless : tapi udah terlanjur, baeknya udah sekarat tuh /dilempargrobakmie(?)/] [Azura Eve : asdfghjkl gak tahu musti bales apa XD moga gak ngebosenin kalo udah baca chap ini] [reny boice : tuh KaiBaek-nya udah nongol, iya kan?]

[ Guest(1) Guest(2) welcome to babybyunsoo, moment kaibaek? Yg atas termasuk gak sih?] [Tinker Tinker4 : err... jangan ganas2 dong, eon jadi takut. Lah kan, dari awal dulu udah pernah saya bilang kalo FF ini lebih ngedepanin Brothershipnya LuBaek, soal pair2 sebenarnya Cuma selingan.] [lottenoir : Raib? Emangnya baek emas sekilo bisa raib, XD] [chans : nah loh? Ini udah...] [GreifannyGS : hiks, say jadi gak tega nih ngebuat baek jadi menderita kek gini, tp mo gimana lagi? Soal Lulu yang kesannya ngabaiin sibaek, diatas udah jelas kan?]

[ryanryu : nah udah ketahuan kan kalo Chan masih lope ma Lulu, jadi yahhh] [baekggu : Aku juga suka Lulu disini/cipokLulu/ ChenSoo gitu...] [Okta1810 : moment momentnya saya juga bingung buatnya, iyalah ChanLu kan udah putus. KaiBaek, belum nyambung/? Yang penting LuBaek masih bersatu(?)] [SHINeexo : okehh stay tune yahh] [guest(3): baekkie kenapa?/amnesiamendadak/] [Lu-ttleDeer : nih udah..] [rachel suliss : hhe ini gak jadi end kan, baek makin menderita malah. Nah ini beberapa patah kata dari kai buat baek. ChenSoo? Hmm] [ss : nih udah dilanjut]


Yasuholah, kita akhiri aja sampai disini, Makasih banget yang udah setia review atau yang baru review juga 'welcome, dear'. Saya seneng baca review dari kalian, tapi lebih seneng lagi kalo reviewnya lebih berwarna 'mejiku(?)' kaya pelangi gitu.

.

.

HAPPY NEW 'LATE' YEAR 2014!/tereakpakeTao/

Dan Mari kita lebih menghargai hasil karya orang lain. No Plagiarism!

.

.

Ayo-ayo pada review! Masa udah tahun 2014 masih banyak jelangkungnya sih.../liriksiders/


2014 babybyunsoo© BIGGEST MISTAKE