WARN!
THRERE'S BL INSIDE
NO PLAGIARISM! NO COPYCAT!
THIS IS JUST FANFICTION, JADI MOHON JANGAN DIANGGAP SERIUS! APALAGI MEMBAWANYA PADA DUNIA NYATA.
Out Of Character, Miss typo(s), tidak sesuai EYD, sediakan ember jika terjadi Gejala Muntaber(?)
DON'T LIKE. DON'T READ! JUST CLOSE YOUR TAB WITHOUT ANY COMENT!
SIDERS? *Aku tak mengerti apa yang... kurasa/jderrr/*
.
.
.
.
Ada something special dibawah. So, don't miss it! /wink~_^/
.
.
.
.
Summary :
"Kesalahan terbesar Luhan adalah membiarkan jiwa saudaranya hancur."
.
.
.
babybyunsoo©
.
Present
.
.
-BIGGEST MISTAKE-
.
.
Park Chanyeol. Banyak orang tak tau dengan kehidupan pribadinya, dia memang masuk dalam jajaran anak-anak populer di universitas. Tapi aksinya yang terkesan brandalan dan kurang ajar, tentu tak luput dari sosok bertubuh tinggi dan bertelinga lebar itu.
Dia hanya tinggal sendiri dengan Ayahnya sejak menginjak awal sekolah menengah pertama. Ibunya masih hidup, tapi Chanyeol sudah menganggapnya 'mati'. Dia bahkan sangat segan untuk sekedar menyebut nama Ibunya atau bahkan menyimpan foto-fotonya.
Chanyeol bersikap seperti bukan tanpa alasan. Ibunya berani bermain api dibelakang Ayahnya, dia berselingkuh dan akhirnya pergi dengan suami barunya meninggalkan Chanyeol dan Ayahnya. Itulah alasan kenapa Chanyeol benci dengan wanita. Seorang wanita hanya menginginkan harta dan setelah mereka mendapatkannya, mereka akan pergi tanpa peduli dengan apa yang sudah mereka perbuat. Seperti itulah pemikiran Chanyeol, Ibunya pergi begitu saja tanpa peduli dengan dirinya, darah dagingnya sendiri.
Hidup sendiri dengan seorang Ayah tentu tak mudah, dia bahkan seperti tak punya keluarga karena Ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan tak pernah meluangkan waktu seharipun dengannya.
Disisi lain, kehidupan Chanyeol juga layaknya seorang pangeran. Detik ini dia minta sesuatu, maka saat itu juga keinginannya akan terkabul. Semuanya, kecuali satu. 'Kasih Sayang'.
Sembilan tahun lebih Chanyeol hidup tanpa mendapatkan secuil rasa kasih sayang. Jangankan memberi kasih sayang, untuk memperdulikan kehidupannya saja Chanyeol tidak yakin ada. Tapi semua itu berubah sejak dia bertemu dengan Luhan.
Byun Luhan, sosok namja cantik yang mampu membuat jantungnya berhenti berdetak. Sosok yang mampu membuatnya tersenyum diatas semua rasa dendam yang terkubur dalam palung hatinya. Chanyeol tak hanya merasa mendapatkan kasih sayang, tapi dia juga bisa merasakan sebuah perasaan tulus yang tak pernah dia dapatkan seumur hidupnya. Cinta.
Chanyeol mencintai Luhan, dan itu adalah kali pertamanya Chanyeol mencintai seseorang.
Chanyeol bertemu dengan Luhan saat pertama kali dia memasuki Universitas, cukup sehari dia sudah bisa akrab dengan sosok yang ternyata setahun lebih tua darinya itu. Dan seminggu untuk mendapatkan hatinya. Dia menyukai semua tentang Luhan, kecuali satu. Sahabatnya. Kai.
Dia sangat tidak menyukai atau lebih tepatnya sangat membenci sahabat kekasihnya itu. Chanyeol pikir kedekatan mereka sebagai seorang sahabat terlalu berlebihan. Bahkan jika di bisa dihitung, Luhan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Kai dari pada dirinya sendiri.
Itu kenapa Chanyeol jadi lebih sering memarahi Luhan, dan tak jarang tanpa dia sadari sikapnya kelewat kasar dan terlalu arogan pada kekasihnya sendiri. Salahkah jika dia bersikap seperti itu?
.
.
Pernah suatu malam, tiba-tiba Ayah Chanyeol datang menemuinya. Haruskah dia merasa senang jika akhirnya Ayahnya pulang dan bicara padanya? Jawabannya tentu tidak. Karena jika Ayah Chanyeol pulang, itu berarti ada berita buruk yang akan dia terima.
Seperti dugaannya berita buruk itu akhirnya berhasil masuk kegendang telinganya.
.
"Chanyeol, kenalkan ini Hye Jin. Dia yang akan menjadi Ibu barumu nanti."
.
Benar, Ibu baru adalah berita paling buruk yang pernah dia dengar. Lebih buruk lagi, ternyata wanita pilihan ayahnya itu tak lebih dari seorang perempuan jalang. Chanyeol berkata begitu bukan tanpa alasan.
Hari selanjutnya, dia menemukan wanita yang rencananya akan menjadi ibu barunya itu di sebuah bar sedang asyik bercumbu dengan lelaki hidung belang. Chanyeol ingin sekali mengabaikannya, tapi emosinya sudah terlalu menumpuk. Dengan sorot mata penuh kemarahan Chanyeol langsung mendatangi pasangan yang masih asyik bercumbu itu, menarik paksa wanita yang hampir menjadi Ibu tirinya dan menamparnya didepan puluhan pasang mata.
Aksinya tentu membuat pasangannya geram dan langsung menyerang Chanyeol. Keadaan bar menjadi kacau karena ulah dua orang lelaki dengan usia yang terpaut jauh saling adu kekuatan. Belum lagi beberapa rekan lelaki itu ikut beradu karena merasa tidak rela bos mereka tersungkur dengan muka penuh lebam dan darah.
Dan lihatlah siapa yang berhasil melumpuhkan sepulung orang sekaligus dengan ukuran tubuh yang bisa dibilang setara dengan bodyguard seorang presiden. Dia. Park Chanyeol.
.
.
"Chanyeol, aku rasa hubungan kita cukup sampai disini. Kita putus."
.
.
Sepertinya dunia ini memang sudah menyusun rencana untuk menghancurkan kehidupannya. Belum selesai urusannya dengan wanita jalang yang bahkan dia tak sudi untuk menyebutnya sebagai 'calon Ibu Tiri', keesokan harinya dia sudah disuguhi dengan skenario drama picisan yang paling dia benci.
Luhan memutuskannya. Kekasihnya berani memutuskan hubungan yang sudah lebih dari setahun mereka jalani. Well, apa semua orang berpikir kalau dunia ini adil? Tidak. Dunia ini sungguh tidak adil.
Malam harinya seperti biasa, dia berakhir dengan acara mabuk-mabukan disebuah bar. Beruntung Kris ada bersamanya, jika tidak maka Chanyeol akan berakhir di kantor polisi karena ulahnya memukul sang bartender yang tak mau memberi Chanyeol sebotol wine lagi, karena dia sudah menghabiskan dua botol wine. Jangan lupakan beberepa meja kaca hancur karena dengan seenaknya Chanyeol melemparinya dengan botol wine yang sudah kosong.
.
.
Berpisah dengan Luhan seperti akhir dari dunia. Benarkah seperti itu?
.
.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"
Menculik Adik kekasihnya, sebenarnya tak pernah terbesit dipikaran Chanyeol. Sejak mereka berpacaran, Chanyeol tak terlalu menaruh perhatian lebih pada namja bermata sipit dan bertubuh pendek yang bisa dibilang sangat mungil jika dibandingkan dengan ukuran tubuh normal anak laki-laki di Korea.
Dan sepertinya Chanyeol baru menyadari jika adik kekasihnya yang bernama Baekhyun ini lebih manis dari pada Hyungnya.
.
.
"Yang ku inginkan darimu?"
"...melihatnya tersiksa, dengan cara menyiksamu terlebih dahulu."
.
.
Tapi Chanyeol terlalu tergoda dengan bibir plump dan kulit putih susu yang terlihat begitu bersinar milik adik kekasihnya itu hingga melupakan niat awalnya.
Segalanya terjadi begitu cepat, hingga otaknya kembali normal saat Luhan datang dan kedua telapak tangannya sudah berlumuran darah.
.
.
"ASTAGA, PARK CHANYEOL! APA YANG KAU—"
"YA TUHAN, BAEKHYUN!"
.
.
Bukankah rencana awalnya sudah berhasil?
.
.
Setelah kejadian yang 'tidak' dia harapkan berakhir seperti itu membuatnya mengurung diri seharian didalam kamar. Pikirannya sudah kacau, dan semakin kacau karena dengan tiba-tiba Ayahnya memberitahunya jika pernikahan Ayahnya dengan wanita serigala itu akan berlangsung 1minggu lagi.
.
Sepertinya dunia ini tidak pernah sekalipun berada dipihaknya.
.
.
"Hyung, wajahmu terlihat sangat pucat. Apa kau sama sekali tidak beristirahat? Apa semalam kau tidak tidur?"
.
.
Niat awalnya memang ingin menemui Luhan, tapi dia tidak menyangka akan mendengar semua cerita ini dari mulut Luhan.
.
"Baekhyun, semalama dia terus-terusan berteriak seperti orang ketakutan. Kamarnya berantakan seperti kapal pecah, dia selalu bilang kepalanya sakit dan kerap mengerang kesakitan. Dokter bilang dia sedang mengalami trauma. Aku takut semakin lama, keadannya akan semakin memburuk...—"
"Semua ini pasti salahku..."
.
"Benar, semua tak akan seperti ini jika saja aku...—"
.
.
Bukankah semua ini yang dari awal Chanyeol harapkan?
.
.
"Maaf."
Chanyeol tak tahu apa yang akan dia katakan pada 'mantan' kekasihnya itu. Setelah bermenit-menit bertarung dengan pikirannya, hanya kata itu yang berhasil keluar dari mulutnya.
.
"Jangan pernah menyentuhku lagi! Apa Kau tuli!?"
Dia bisa merasakan tenggorokannya tiba-tiba mengering setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulut Luhan.
.
.
"SUDAH AKU BILANG JANGAN PERNAH MENYENTUHKU LAGI! JANGAN PERNAH MUNCUL DIHADAPANKU LAGI!—"
.
Tidak, dia tak akan pernah sanggup melakukan hal itu.
.
.
"KAU TIDAK SADAR APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN!?"
.
Sadar, tentu Chanyeol menyadari itu.
.
.
"KAU MENYIKSAKU! DAN SEKARANG KAU JUGA SUDAH MENGHANCURKAN HIDUP BAEKHYUN! HIDUP ADIKKU!"
.
Tidak, Luhan salah. Bukankah dia satu-satunya orang yang menghancurkan hati Chanyeol, memporak-porandaan pikirannya? Sadarkah Luhan jika...
.
.
"AKU MEMBENCIMU! SANGAT SANGAT MEMBENCIMU!"
.
.
Jika Chanyeol sangat mencintainya.
Setelah 20menit penuh dengan ketegangan, Chanyeol memutuskan untuk datang ke bar. Mungkin beberapa gelas wine akan melepas beban yang terus hinggap dipundaknya. Entahlah, sepertinya kebiasaan mabuk-mabukannya yang sudah lama menghilang kini muncul kembali.
Tapi niatnya terhenti setelah dia melihat Luhan berbicara dengan seseorang lewat ponsel yang menempel ditelinganya dengan langkah terburu bahkan hampi berlari, Luhan masuk kedalam mobil.
Entah dorongan dari mana, dia melupakan niat awalnya datang ke bar dan menginjak gas mobilnya dengan kecepatan penuh. Takut jika dia kehilangan jejaknya.
Ditengah perjalanan, mereka berhenti sebentar karena lampu merah menyala. Setelah lampu berganti warna menjadi kuning dan akhirnya hijau Chanyeol kembali menginjak gas mengikuti kemana Luhan pergi. Mungkin dengan jarak sepuluh meter sudah cukup membuatnya aman, tapi tidak.
Dibalik kaca mobilnya, dia bisa melihat mobil Luhan sedikit melambat dan jika penglihatannya masih cukup normal dan dia tidak salah lihat. Luhan menyadari keberadaanya melalui kaca spion.
Sesaat setelah itu mobil Luhan kembali melaju dengan kecepatan tinggi, tapi tak secepat saat dia melihatnya pertama kali.
Chanyeol tahu jalan ini, dia sudah sangat hafal dengan jalan yang dia lalui saat ini. Bahkan sudah lebih dari setahun dia terus, dan hampir setiap hari melewati jalan ini. Tidak salah lagi, ini jalan menuju kerumah seseorang yang baru saja bilang jika dia sangat membencinya. Luhan.
Seperti dugaannya, mobil Luhan langsung masuk kedalam gerbang dimana didalamnya terdapat rumah yang sudah lebih dari 3minggu tidak dia kunjungi.
Chanyeol menepikan mobilnya yang berjarak kurang lebih 7meter dari rumah Luhan, dan itu sudah cukup bagi penglihatannya melalui kaca spion untuk melihat mobil Luhan yang terparkir sembarangan dihalaman depan. Dan tunggu, jika dia tidak salah lihat lagi ada mobil lain terpakir dihalamannya.
Chanyeol yakin itu bukan mobil Luhan, melainkan. Kai.
"Apa lagi sekarang?" desis Chanyeol disela-sela giginya yang saling bergerigit. Kedua tangannya mencengkram erat setir mobil miliknya. Perasaanya campur aduk, hingga tanpa sadar. Dia sudah berdiam diri disana hampir 20menit.
Hingga sesuatu menyita perhatiannya. Dia bisa melihat dibalik kaca spionnya, seorang pemuda berkulit tan dengan rambut coklat gelapnya yang sedikit berantakan tengah berlari mendekati mobil yang dia tahu itu adalah mobil milik Kai. Tapi bukan hanya itu yang membuat kerutan didahinya semakin dalam, tapi sosok yang berada dibalik punggungnya.
Bertubuh mungil dan bersurai coklat gelap. Chanyeol cukup familiar dengan figur itu, dia Baekhyun.
Hatinya sedikit berkendut saat dia mengingat nama itu. Seperti ada suatu rasa penyesalan yang hadir menyelimuti hatinya.
.
.
Apa yang sebenarnya terjadi?
.
.
Dan sejak kapan Chanyeol peduli pada hidup seseorang yang memang sudah dia hancurkan sebelumnya?
.
.
Kedua bola matanya masih terpaku pada gerak-gerik mereka, Kai terlihat memasukkan tubuh lemah Baekhyun dijok belakang dan tak lama setelah itu muncul Luhan dibelakangnya.
Walaupun jarak dari tempat Chanyeol berada menuju halaman dimana kedua orang itu berdiri cukup jauh, tapi Chanyeol masih bisa menangkap raut penuh kekhawatiran terpampang diwajah Luhan.
Secepat kilat mobil yang tadi masih terparkir dihalaman kini sudah keluar dari balik gerbang dan melaju dengan kecepatan tinggi. Tentu Chanyeol sudah berada dibelakang mereka. Terlihat seperti penguntit, tapi dia hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
.
.
Lebih tepatnya apa yang sudah dia lakukan.
.
.
Tidakkah rencananya menyiksa dua jiwa sekaligus sudah berhasil dia lakukan dengan sempurna.
Sekitar 15menit perjalanan, akhirnya mobil Luhan berbelok kesebuah tempat. Bangunannya terbilang luas, mempunya gedung bertingkat, bercat putih seluruhnya dan halaman yang sangat luas. Terdapat sebuah tulisan yang tercetak tebal dan sangat besar di atas gedung. 'Seoul's National Hospital'.
Tak lama setelah itu pintu mobil depan terbuka dan muncul sosok Kai yang langsung berhampur ke pintu belakang mobil yang baru saja terbuka.
Sementara itu Chanyeol masih terdiam didalam mobil sembari menyaksikan sosok mungil bersurai coklat itu berada dalam gendongan Kai yang tengah berjalan terburu masuk kedalam bangunan diikuti sosok bersuari pirang dibelakangnya.
Lamunannya pecah saat sebuah getaran berdengung disaku jeansnya. Secepat kilat, tangan kanannya langsung terangkat untuk mengambil sebuah benda persegi yang masih sibuk bergetar disaku jeansnya.
Sebuah nama tertera dilayar ponsel milik Chanyeol, jemarinya mulai terangkat untuk menyentuh tombol berwarna hijau tapi detik berikutnya tombol berwarna merah berhasil menjadi titik landasan jempol milik Chanyeol.
Dia kembali memasukkan ponsel miliknya kedalam saku jeansnya dan berhambur keluar dari dalam mobil menuju pintu kaca bangunan Rumah Sakit.
Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang, yang jelas otaknya tak bisa menyuruh kedua kakinya untuk berhenti melangkah mengikuti jejak yang ditinggalkan tiga orang itu.
Saat sudah memasuki lobi Rumah Sakit, iris matanya berhasil menangkap sosok namja berambut pirang tengah terlibat pecakapan dengan salah seorang receptionist. Tak sampai satu menit, dia tiba-tiba berbalik dan reflesk Chanyeol langsung menggeser tubuhnya tepat saat beberapa perawat lewat dengan salah seorang pasien yang terduduk dikursi roda.
Chanyeol menangkap sekilas siluet Luhan menghilang diantara orang-orang yang berlalu-lalang dilorong rumah sakit. Tanpa membuang-buang waktu, dia langsung mengambil langkah cepat takut kehilangan jejaknya.
Sesampainya ditikungan lorong Rumah sakit, Chanyeol tak lagi bisa menemukan si pirang. Ada banyak ruangan disini. Terlihat juga beberapa orang duduk di kursi tunggu dan beberapa perawat yang lalu lalang sambil membawa perkakas mereka.
Chanyeol benar-benar merasa seperti orang bodoh disini, apa yang sebenarnya dia lakukan? Berdiri sendiri disini seperti orang hilang? 'Sial! Kemana mereka pergi!?' rutuknya dalam hati.
Mulai merasa risih karena beberapa pasang mata memperhatikan tingkah anehnya, dia mulai menelusuri lorong Rumah Sakit itu. Kemanapun asal tidak terlihat bodoh didepan orang-orang. Beberapa kali kepalanya ditolehkan kekanan dan kekiri setiap kali dia melewati ruangan yang mempunyai pintu kaca.
Tepat diruangan keempat, dia kembali memandang sekilas isi ruangan tersebut melalui kaca pintu kemudian menolehkan kepalanya lagi dan mulai berjalan kembali. Tapi detik berikutnya langkahnya tiba-tiba terhenti. Dia bisa merasakan kedua kakinya kaku dan jantungnya berdegup kelewat kencang. Keringat dingin mulai merembes dibalik sela-sela rambutnya.
.
.
Apa yang baru saja dia lihat?
.
.
Benarkah itu...
.
.
Chanyeol menghirup napas dalam dan mencoba menelan ludahnya sendiri, tapi tidak ada apapun didalamnya. Tenggorokannya mengering.
Baru saja dia ingin membalikkan badannya kebelakang, dia sudah merasakan seseorang berjas putih berjalan tergegas menuju kearahnya dan salah seorang lagi mengikuti dibelakangnya.
Dia harus segera pergi. Secepatnya.
Hanya itu hal terakhir yang terus berputar diotaknya sebelum berjalan tergesa melewati lorong Rumah Sakit yang semakin lama semakin membuat pernapasanya sesak.
.
-BIGGEST MISTAKE-
.
Seorang namja tengah duduk dikursi counter sambil bertopang dagu memangdang seseorang lagi didepannya dengan seksama. Sementara itu, seorang namja bermata bulat dan berpipi chubby tengah menyibukkan kedua tangannya dengan beberapa gelas dan cairan berwarna coklat. Merasa risih karena sepasang mata tak pernah lepas memperhatikan setiap pergerakannya, dia pun menoleh kedepan dan menatap namja yang masih bertopang dagu yang kini sudah mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Bisakah kau berhenti memperhatikannku?" tanya namja berpipi chubby itu sambil menaruh krim kocok diatas minuman yang sudah jadi dan yang diberi pertanyaan hanya menggeleng pelan.
Xiumin, namja yang dari tadi sibuk meracik kopi menghela napas panjang dan tak habis pikir dengan sosok didepannya ini. Tidak melakukan apapun dan hanya menatapnya sambil tersenyum seperti orang idiot, bahkah hampir tidak berkedip sejak 5menit lalu.
Beruntung cafe sekarang sedang sepi dan hanya ada 2 customer yang berkunjung disana. Jadi mereka tidak akan melihat ke'idiot'an dari salah satu waiters plus adik dari pemilik cafe ini.
"Hyung, kau memang seorang barista yang sangat profesional. Tidak salah Suho hyung memilihmu untuk mengelola semua menu disini. Dan tidak salah jika aku juga menyukaimu." Jongdae namja yang sedari tadi tak bosan memperhatikan Xiumin mengecilkan suaranya dikalimat terakhir. Hal itu langsung membuat sosok didepannya sedikit berjengit dan menatap Jongdae dengan sebelas alis yang terangkat.
"Kau bicara apa tadi?"
"Kau seorang Barista profesional."
"Bukan, bukan yang itu. Tapi yang terakhir." Tanya Xiumin lagi.
"Aku menyukaimu." Pergerakan tangan Xiumin langsung terhenti begitu mendengar pernyataan itu. Dia meletakkan krim kocok yang tadi sempat dipegangnya dan menghela napas panjang, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada sosok didepan dengan pandangan sedih.
"Bukankah kau sudah tahu jika aku—" ucapan Xiumin terhenti karena tiba-tiba Jongdae memotongnya dengan cepat. "Sudah bertunangan."
"Hye Sung sangat beruntung bisa mendapatkan namja baik sepertimu, hyung." Jongdae mengalihkan pandangannya kearah lain, apapun itu kecuali Xiumin. Dia benar-benar tak sanggup menerima kenyataan ini. Xiumin sudah bertunangan. Tapi bukan hal itu yang membuat hatinya semakin kecewa, melainkan Xiumin yang sangat mencintai tunangannya itu.
.
Dia tak punya harapan lagi untuk membuat Xiumin menjadi miliknya.
.
"Sudahlah jangan bersedih. Kau juga pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari pada aku, Chen." Ucap Xiumin sambil menaruh segelas minuman tadi dihadapan Jongdae dan menatap namja yang sudah dia kenal sekitar setahun yang lalu.
Walaupun Jongdae bersikap kekanankan dan terkadang –tapi sering— terlihat idiot, tapi Xiumin tahu. Jongdae adalah anak yang sangat baik, dan tak pernah sekalipun terlihat mengeluh. Xiumin merasa bersalah karena tak bisa membalas perasaan Jongdae.
"Bukankah kau juga sangat dekat dengan seseorang?" akhirnya Jongdae mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Xiumin dengan tatapan bertanya –Siapa—?.
"Namja bermata bulat itu." Jawab Xiumin tanpa menunggu Jongdae berbicara lebih lanjut. "Bukankah dia sangat manis." Dahi Jongdae semakin berkerut, dia mencoba mencerna siapa yang dimaksud Xiumin bermata bulat itu. Dan detik berikutnya dia baru menyadari jika yang dimaksud Xiumin adalah—
"Oh, apa kau lebih menyukai namja yang satunya lagi. Em kalau tidak salah namanya Baek—"
"Hyung! Kyungsoo dan Baekhyun adalah sahabatku. Mana mungkin aku jatuh cinta pada mereka. Aku bahkan sudah menganggap mereka sebagai saudaraku." Protes Jongdae merasa tidak masuk akal jika dia menyukai mereka, maksudnya salah satu diantara Kyungsoo dan Baekhyun.
"Owh, benarkah seperti itu?" Xiumin menatap Jongdae lekat-lekat seperti tengah menyelidik sesuatu dibalik ekspresi wajahnya. "Kau tahu, Chen. Sahabat bisa jadi cinta. Itu kata orang-orang."
"Maksudmu, secara tidak sadar aku menyukai salah satu diantara mereka? Haha" Jongdae tertawa dengan pernyataanya sendiri dan hal itu membuat 2orang customers yang ada disana langsung memperhatikan mereka berdua.
"Itu tidak mungkin, hyung." Mereka memang sangat dekat, tapi Jongdae berpikir kalau kedekatan dan kebersamaan mereka hanya sebagai seorang sahabat. Tidak lebih. Tentu saja.
"Asal kau tahu, hyung. Aku hanya mencintai satu orang didunia ini. Dan itu adalah kau."
Xiumin menatap Chen yang sudah menundukkan wajahnya, terlihat gurat kekecewaan di wajahnya. Xiumin mengerti, sosok didepannya ini masih menyimpan harapan padanya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia sangat mencintai Hye Sung. Dan dia sudah menganggap Jongdae sebagai seorang dongsaeng. Kesayangannya.
Xiumin menyayangi Jongdae, dan dia tidak bisa merubah perasaanya itu sebagai rasa 'cinta'.
.
babybyunsoo©
.
Seorang namja berambut pirang, berperawakan sangar dan beralis tebal tengah duduk disalah satu kursi yang berada didepan meja bartender. Sebelah tangannya masih sibuk dengan ponsel digenggamannya, dan satunya lagi tengah memegang segelas Vodka yang terletak diatas meja.
Kris, namja yang tadi masih sibuk memperhatikan layar ponselnya itu menggerutu pelan. 'ck, apa-apaan dia tidak mengangkat telponnya.' "Awas saja kalau dia sam—"
"Beri aku segelas wine." Lamunannya terhenti saat merasakan kehadiran seseorang di kursi sampingnya. Dia mengangkat wajahnya dan memperhatikan figur yang sudah tidak asing lagi bagi Kris.
"Chanyeol."
Yang dipanggil tidak menjawab, bola matanya bergerak kekanan kekiri seperti tengah gelisah. Kris menyadari sikap Chanyeol yang tidak biasa ini.
"Kau kenapa? Habis menculik anak orang lagi? Ck" Kris berdecak pelan, dia tak habis pikir dengan sahabatnya ini. semakin lama kelakuannya semakin terlihat brengsek.
Chanyeol masih mengabaikan pertanyaan dari Kris, dia menyambar segelas wine yang sudah diberikan sang bartender dan meminumnya dalam sekali tenguk. Setelah meneguk habis wine, dia meletakkan gelas kosong yang masih dipegangnya dengan kasar diatas meja hingga terdengar bunyi sentakan. Chanyeol menghembuskan napas kasar dan mengalihkan pandangannya hingga manik matanya bertemu dengan manik mata Kris.
"Bukan urusanmu, Kris." Ucapnya datar.
Kris berdecak lagi, "Kau tidak ingat siapa yang datang menyelamatkan nasib seseorang yang hampir berakhir dikantor polisi? Kalau itu bukan urusanku, aku pasti akan membiarkanmu membatu di balik jeruji besi. Sayangnya aku masih punya hati, dan tidak akan tega membiarkan sahabatnya sendiri dipenjara hanya karena memukuli sang bartender dan mengacaukan bar."
'Kau pintar sekali, Kris. Aku benar-benar berhutang budi padamu.' "Lalu apa maumu?" tanya Chanyeol akhirnya menyerah.
"Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu." Kris memutar bola matanya malas karena mendapat jawaban tidak berbobot dari Chanyeol.
"Baiklah, kali ini aku tidak akan ikut campur." "Beri aku segelas Vodka lagi." Pinta Kris pada sang bartender. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, dia langsung meminumnya. Sejenak pergerakan tangannya terhenti setelah suatu hal melintas dipikirannya.
"Hey, tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Bagimana kabar kelinci kecilku itu? Aku rasa aku mulai merindukannya." Kris tersenyum samar saat membayangkan wajah ketakutan dari namja manis yang beberapa hari lalu dia culik –atas perintah Chanyeol tentu saja —.
Sementara itu, Chanyeol yang mendengar perkataan Kris langsung membatu sejenak, tapi hanya beberapa detik dan dia kembali meneguk wine yang beberapa saat lalu sudah diisi lagi oleh sang bartender dan kembali mengabaikan celotehan Kris.
Kris yang sudah kembali dari lamunannya, langsung menyadari jika dirinya lagi-lagi diabaikan oleh Chanyeol. 'Ck'
"Tunggu, jangan bilang kau masih menyekapnya?" tanya Kris menyelidik.
Masih tidak ada jawaban.
Hal itu semakin membuat Kris geram, dia benci diabaikan. "Bisakah kau berhenti minum dan menjawab pertanyaanku!?" tanya Kris setengah berteriak karena musik di dalam bar terdengar semakin bising didalam gendang telinganya. "Persetan dengan urusanmu, Chanyeol. Aku sudah tidak ikut campur lagi, tapi bisakah kau menjawab pertanyaanku!?"
Melihat sahabatnya tiba-tiba naik pitam. Chanyeol memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan napas kasar. Kenapa tidak ada satu orangpun didunia ini yang memberinya ketenangan!?
"Aku tidak tahu.—"
Kris menaikkan sebelas alisnya mendengar jawaban Chanyeol barusan.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu tertarik padanya. Aku sudah melepaskannya. Mungkin kau bisa menemuinya di Rumah Sakit."
"Apa maksudm—"
"Sepertinya dia sedang sekarat, atau mungkin sebentar lagi akan mati."
Kedua mata Kris semakin melebar, karena tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya ini. Bagaimana dia bisa semudah itu membicarakan kematian seseorang apalagi orang itu Baekhyun. Tunggu, Baekhyun?
"A—"
"Aku pergi."
"Kau memang brengsek, Park Chanyeol."
Chanyeol menghentikan langkahnya dan menoleh sekilas kearah Kris. "Kau juga." Chanyeol kembali melanjutnya langkahnya dan mulai menghilang diantara kerumunan orang-orang yang sedang asik berdansa dibawah gemerlapnya lampu disko.
Selepas kepergian Chanyeol. Kris mendesah kesal lalu mengeluarkan beberapa lembar ribu Won dan menaruhnya diatas meja. Dia harus segera tahu bagaimana keadaan kelinci kecilnya itu.
Sepertinya dia melupakan fakta dia straight jika sudah membayangkan wajah manis milik adik Luhan. Se-brengsek-nya Kris, dia tetap merasa kasihan jika itu sudah menyangkut nyawa seseorang. Terlebih nyawa namja manis seperti Baekhyun.
Jujur setelah Kris pergi meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun berdua di tak tahu lagi apa yang Chanyeol rencanakan setelah itu. Tidak ada yang bisa menebak isi otak Chanyeol seperti apa.
Kris memang sudah bersahabat lama dengan Chanyeol, tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol yang Kris kenal. Keras kepala, brandalan, baiklah point itu mungkin tak jauh berbeda dengan Kris, dan terlalu banyak rahasia yang dia simpan. Dia juga sangat tertutup, terlebih dengan masa lalunya dan urusan keluarganya. Kris sama sekali tak pernah sekalipun berani mengunggik-ungkit atau ikut campur jika sudah berhadapan dengan hal tadi.
Kris menghela napas sekali lagi sebelum meninggalkan bar. Mungkin dia harus mencari tahu sendiri.
.
-BIGGEST MISTAKE-
.
Setelah percakapan mereka berhenti, suasana didalam cafe semakin sepi seiring 2 customer tadi sudah pergi meninggalkan meja mereka. Beberapa deru kendaraan bermotor juga terdengar dibalik dinding kaca cafe.
Baik Jongdae maupun Xiumin masih tenggelam dengan pikirannya masing-masing hingga suara getaran dari sebuah benda yang terletak diatas meja menyita perhatian mereka.
Ponsel Jongdae bergetar tanda seseorang tengah menelponnya, dia langsung mengangkat ponsel berwarna silver itu dari atas meja dan memperhatikan siapa gerangan yang tiba-tiba menelponnya.
.
Kyungsoo.
.
Jongdae menaikkan sebelah alisnya karena tumben sekali Kyungsoo tiba-tiba menelpon. "Siapa, Chen?" Jongdae mendongak dan menatap kearah Xiumin yang sedang memperhatikannya.
"Kyungsoo, hyung. Tumben sekali dia menelpon." Gumamnya.
"Cepat angkat, mungkin saja ada hal penting. Atau..." Xiumin menghentikan kalimatnya dan menyeringai jahil. Melihat hal itu, Jongdae langsung memutar bola matanya malas. Dia tahu apa yang saat ini ada didalam isi otak Xiumin.
Jongdae menghembuskan napas sekali lagi lalu segera menekan tombol hijau yang ada dilayar ponselnya. "Yeobboseo?"
"Jongdae?"
"Ya?" jawab Jongdae sambil menatap Xiumin yang masih setia memperhatikannya.
"Ada kabar buruk."
"Maksudmu?" tanya Jongdae lagi, entahlah kabar buruk apa yang Kyungsoo maksud yang jelas perasaannya mulai tidak enak. Dia juga bisa merasakan suara Kyungsoo diseberang telepon terdengar setengah bergetar dan sedikit serak.
.
Beberapa saat tidak ada jawaban dari sana, Jongdae membuka suara lagi. "Kyung?"
"Y-ya?"
"Kau baik-baik saja?"
"A-aku. Ahh aku baik-baik saja." Jongdae mengerutkan dahinya saat samar-samar mendengar suara seperti orang habis menangis.
"Jangan berbohong. Kau habis menangis?" Jongdae menggedikkan bahunya saat mendapatkan tatapan bertanya dari Xiumin.
"Jongdae..."
"Ya?"
.
.
"Baekhyun." perasaan Jongdae semakin tidak enak setelah Kyungsoo menyebut nama Baekhyun. terlebih setelah apa yang baru saja menimpa sahabatnya itu. Apa yang terjadi?
.
.
"A-ada apa dengannya?"
.
.
"Dia..—"
.
.
.
.
.
.
.
Jongdae menurunkan ponsel dari telinganya dan menatap Xiumin dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
.
.
.
T to the B to the C
.
.
.
TBC *wkwk/ ketawanista/*
A/N : Geez, I don't know how to end this chap. I swear, it'll make your day got worse. Dan saya yakin kalian siap angkat lemari buat dilemparin ke Author yang gak tau diri ini.
Oke-oke, saya juga gak tahu kenapa ceritanya jadi kek gini. Plis, saya gak ada niatan buat jadiin yeollo sadis disini. This is just fanfics, okay? Jadi semua karakter sesuai dengan skenario yang udah saya buat.
Honestly, sebulan ini saya jarang nengok ffn. Too busy with job and duties, dan Saya juga terlalu asik berselancar di AFF. Dan apa yang saya dapet. I'm totally mess, freaking crying and sobbing just becoz of this fics [Lifeless by : leecrannie ] pokoknya yang ngaku Chanbaek ship, kudu, musti dan pokoknya wajib baca ff ini. dijamin 1000% kalian gak bakal nyesel setelah baca ff itu. This fics so asdfghjkl&% perfect, full with tears, pain, cuts(?) and even Bloods.
Ceritanya berawal saat tahun ajaran baru, Chanyeol dkk(exo) bertemu Baekhyun lagi disekolah (setelah 2 tahun menghilang –tepat setelah Chan ngungkapin nperasaanya ke Baek— dengan keluarganya tanpa memberitahu siapapun), tapi mereka menyadari sesuatu yang berbeda. Baek sepenuhnya bukan Baekhyun dahulu yang mereka kenal. Tidak ada senyuman dan "lifeless"...
Dan tentu saja hal itu ngebuat Chanyeol dkk bertanya-tanya.
Seperti biasa, disini Baek idupnya mesti miriss banget. Tapi kali ini selain miris juga 100% bikin ngeri o.O. tapi disisi lain, I'm deep in lloveee sama karakter Yeol disini ugh pokoknya kalian musti baca!
Warn, ff itu ber-rate-M for selfharm /hampir disetiap chap/ and sex abuse /just in the end/. Jadi yang merasa gak nyaman lebih baik jangan deh, tapi karena saya yakin 80% readers disini sadistic semua /jdeerrrr/ dilemparkolorKai/ kalian gak punya alasan buat gak baca.
Yang gak gk tahu selfharm, itu semacam –you-kow-what— nyakitin diri sendiri demi kepuasannya batin.
.
Sebenernya saya masih pengen ngerekonmendasiin segudang ff Chanbaek, but well.. ntar ngabisin waktu…
.
Dan karena saya terlalu banyak ngoceh, jadi langsung aja kita ke something's special yang saya maksud diatas tadi. Dalam rangka menaikkan mood menulis saya plus mood readersku sekalian biar gak pada bosen. /dan jujur lagi, saya hampir kehilangan feel buat ff ini karena moment Chanbaek terlalu memborbardir jiwa ship saya -_-/
Kali ini saya bakalan buat event menarik dengan hadiah 2 drabble /or even oneshoot/* buat 2 orang readers yang beruntung. Caranya ugh gampang banget,
isi kotak riview sama ocehan kalian + tanggapan kalian mengenai ff ini /selama chap 1 mpe sekarang/ itu kaya apa sih, saya Cuma penasaran aja.
Dan saya bakal pilih 2 review paling menarik, ingat yah paling menarik itu gak musti panjang. Pokoknya menarik gitulah, yaelahhh ribet amat.
.
Syarat+ketentuan berlaku*
.
Syaratnya,pastikan2 orang beruntung nanti sudah mengisi kotak review dari chap 1-5 (tidak termasuk prolog+teaser)
Ketentuan, saya hanya menyediakan 2 cast pilihan untuk dijadiin main cast [Baekhyun dan Luhan] soal pair kalian boleh request semau kalian, Baekyeol, kailu, kaibaek, Baeklu, etc. Gimana ,Udah paham?
Kalo udah yuks capcus langsung meluncur ke kotak review...
.
Sebelum itu, saya mau ngucapin makasih sekali lagi buat semua readers yang udah setia baca ff ini dari awal mpe akhir. Dan mianhae kali ini saya gak bisa balas review kalian :'(, lagi dikejar deadline /elah/. Dan buat inggit, maaf say... setelah saya cek lagi dikotak review chap 3, emang gak ada namamu. Mungkin kmu lupa review, atau koneksinya gagal.
.
.
At least, seperti biasa RnR, okeh. Yang gak mau, ya udahlah terserah mereka.
.
.
.
sorry for typos dan lain-lain.
.
.
.
p.s : Pengumuman pemenang , silahkan ditunggu di chap selanjutnya.^^
p.s.s : yang berminat minta direkomendasiin FF Chanbaek bisa langsung PM saya. ^^
p.s.s.s : Saya turun prihatin dengan bumi tericnta kita yang lagi tertimpa banyak musibah, terlebih banjir. Semoga diberi banyak kekuatan bagi para korban.
2014 babybyunsoo© BIGGEST MISTAKE
