WARN!

THRERE'S BL INSIDE

NO PLAGIARISM! NO COPYCAT!

THIS IS JUST FANFICTION, JADI MOHON JANGAN DIANGGAP SERIUS! APALAGI MEMBAWANYA PADA DUNIA NYATA.

Out Of Character, Miss typo(s), tidak sesuai EYD, sediakan ember jika terjadi Gejala Muntaber(?)

DON'T LIKE. DON'T READ! JUST CLOSE YOUR TAB WITHOUT ANY COMENT!

SIDERS? *deep long sigh once again and again*

.

.

.

.

.

Summary :

"Kesalahan terbesar Luhan adalah membiarkan jiwa saudaranya hancur".


.

.

babybyunsoo©

.

Present

.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

.

Jika umumnya kamar Rumah Sakit terkesan hening dan sunyi, maka kali ini berbeda. Suara tawa beberapa orang menggema di setiap penjuru ruangan itu.

Jongdae menghela napas panjang, perutnya masih terasa sakit karena beberapa menit lalu dia terus-terusan tertawa.

Dia tersenyum lembut pada dua sosok didepannya, terutama sosok namja bermata sipit yang tiga hari lalu hampir membuatnya terkena serangan jantung.

Dia masih ingat betul bagaimana Kyungsoo menangis tersedu-sedu saat Baekhyun berada di ruang operasi, berjuang agar tetap hidup atau menyerah untuk mati. Dia tidak tahu pasti separah apa sakit yang Baekhyun alami hingga dokter harus memberi tindakan agar segera melakukan operasi.

Yang mengisi otaknya kala itu hanya berdoa dan berharap agar semua ini segera berlalu, operasi berhasil dan mereka bertiga bisa kembali bersama-sama. Jongdae juga berkali-kali mencoba menenangkan dan member rasa nyaman pada Kyungsoo saat mereka berdua ikut menunggu Baekhyun bersama Kai dan Luhan.

Mengingat betapa sayangnya Kyungsoo pada Baekhyun, tak heran jika Kyungsoo-lah yang paling terpukul diantara mereka berdua. Mengetahui sahabat tersayang mereka sedang berjuang antara hidup dan mati membuat Jongdae tak lagi bisa menahan air mata yang sudah membendung dipelupuk matanya. Dia menyerah dan ikut menangis bersama Kyungsoo dan lainnya.

Semua itu terlalu mengejutkan bagi Jongdae.

Dan sekarang dia sangat bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan karena sudah membuat sahabat mereka kembali, dengan selamat.

Dan yang terpenting dari semua itu adalah melihat Baekhyun tersenyum, dan kembali menjadi Baekhyun mereka seperti dulu.

.

.

"psstt… Chenchen! Hey!? Kau melamun?"

Sebuah lambaian tangan didepan wajahnya membuatnya kembali kedunia nyata. "ha? A-apa?"

"hah, benar kan aku bilang. Ternyata dari tadi kau melamun." Ucap Baekhyun sambil masih menatap sahabatnya ini dengan raut wajah kesal.

"Aku tidak melamun—"

"Kau tidak melamun, tapi terus-terusan memandangi Baekhyun tanpa berkedip." Baekhyun menaikkan sebelas alisnya setelah mendengar pernyataan Kyungsoo barusan. Beberapa detik dia nampak sedang berpikir lalu sebuah ide jahil muncul diotaknya.

Salah satu sudut bibir Baekhyun terangkat menampakkan sebuah seriangai, bukan seringai yang terkesan mengerikan dan membuat semua orang bergidik ngeri, melainkan sebuah seringai jahil bahkan terkesan sangat menggemaskan.

Baekhyun mencongdongkan wajahnya mendekat kearah Jongdae, tetap dengan seringai diwajahnya dan mengatakan suatu hal yang langsung membuat Jongdae melolot sempurna dan hampir saja dia tersedak ludannya sendiri.

.

.

"Kau... menyukaiku, Chen?"

.

.

"A-Apa!?"

"Katakan saja, aku tidak akan marah." Jongdae masih terlalu shock dengan ucapan 'aneh' sahabatnya barusan. Dia menyukai Baekhyun? haha. What's on earth is just happened with his brain!?

"Baiklah aku memang seorang gay. Tapi hanya untuk Xiumin Hyung! Aku tidak pernah menyukai namja lain termasuk kau Byun Baekhyun."

"Tapi kau tahu dia sudah bertunangan." Baekhyun menggigit bibir bawahnya saat menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Mungkin bagi orang lain itu terlihat seperti candaan, tapi Baekhyun sangat paham bagaimana kalimat tidak diinginkan itu bisa menjadi mata pisau yang sangat tajam yang yang pasti melukai perasaan sahabatnya.

Dia sudah tahu mengenai Xiumin hyung dan betapa sahabatnya ini sangat mencintai namja berpipi chubby itu. Tapi takdir memang terlalu kejam. Namja yang dia cintai tidak mencintainya, melainkan mencintai orang lain.

Dia menatap Kyungsoo dengan pandangan –apa-yang-harus-aku-lakukan-?— tapi Kyungsoo hanya menggedikkan bahu pertanda dia tak tahu. Baekhyun beralih menatap Jongdae lagi yang masih tampak tercengang, "Ma-maf Chen Aku—"

"Tak apa, aku mengerti. Bukankah kalian berdua juga sudah tau semuanya..." Jongdae mengulas senyum seakan dia berkata jika dia baik-baik saja, tapi dia tahu semua itu percuma. Dua sahabatnya ini terlalu pintar membaca raut wajahnya.

Beberapa saat suasana mendadak canggung, Baekhyun meremas pelan ujung selimutnya sembari menatap kedua sahabatnya secara bergantian. Jongdae masih sibuk dengan pikirannya, sedangkan Kyungsoo nampak mulai tidak nyaman dengan situasi seperti ini.

Ketiganya masih terdiam hingga mereka mendengar suara pintu yang terbuka. Ketiganya memutar kepalanya secara serempak dan mendapati seorang namja berambut pirang dengan senyum manis terukir dibibirnya.

"hey! Anak-anak! Lihat apa yang aku ba—" kalimat Luhan terputus begitu tiga pasang mata menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda. "Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Luhan hati-hati.

Seolah baru kembali dari dunia bawah sadar mereka langsung balas tersenyum pada Luhan dan menyapanya.

"Hyung... Kenapa kau baru datang?" Baekhyun merengek seperti anak kecil dan langsung memeluk hyungnya saat dia berada tepat diamping brankar tempatnya duduk. Luhan hanya tersenyum lembut sembari membalas pelukan adiknya. Sejak Baekhyun sembuh, Luhan merasa jika Baekhyun menjadi sangat manja jika sudah berada didekatnya. Dia tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali tersenyum dan memaklumi apa yang Baekhyun lakukan.

"Maafkan Hyung, tadi hyung mampir sebentar untuk membeli ini." Luhan menyodorkan kantung plastik putih pada Baekhyun.

"Bakpao?" ucap Baekhyun begitu melihat isi kantung plastik yang berada ditangannya.

Luhan meringis sambil mengusap tengguknya malu, "tadi hyung tidak sengaja melihat penjual Bakpao dipinggir jalan, dan... membelinya."

"Kau... tidak menyukainya?" Baekhyun masih setia menatapnya dan tidak memberi reaksi apapun, hal itu membuatnya semakin gugup.

Sesaat kemudian Baekhyun langsung berseri-seri dan memeluk hyungnya –lagi—, "Tentu saja aku menyukainya! Sangat. Haha" mendengar Baekhyun tertawa membuatnya tak bisa bereaksi apapun kecuali tersenyum. Betapa dia begitu merindukan tawa menggemaskan ini.

Beberapa saat kemudian Baekhyun akhirnya melepas pelukannya, dan mengalihkan perhatiannya lagi pada bakpao yang masih terasa hangat dikulit. Luhan bilang dia bisa membagi makanannya pada Kyungsoo dan Jongdae. Dengan senang hati Baekhyun melakukannya.

Dia tahu dua sahabatnya ini menyukai rasa coklat, maka dari itu Baekhyun memberi bakpao isi coklat pada mereka. Mereka berdua langsung menerimanya dan bergumam terimakasih. Tidak seperti Kyungsoo yang langsung memakannya, Jongdae menatap bakpao yang berada di genggamannya itu seksama. Permukaan yang halus, berwarna putih gading dan berbentuk chubby mengingatkannya pada wajah seseorang.

Menyadari sahabatnya ini tiba-tiba menjadi lebih pendiam, Baekhyun mencoba bertanya pada Jongdae. "Kau baik-baik saja, Chen? Kau tidak suka bakpaonya?"

Mendengar suara Baekhyun langsung membawa Jongdae kembali ke dunia nyata, "Iya, Aah maksudku tidak. Tentu saja aku suka bakpaonya." Dia berusaha mengulas senyum setulus mungkin, tidak seharusnya dia terus-terusan seperti ini. Xiumin hyung pantas menerima seseorang yang jauh lebih baik darinya, dan sudah selayaknya dia ikut bahagia. Benar. Dia harus bahagia melihat seseorang yang dicintainya hidup bahagia.

.

Walau dia akui itu terlalu menyakitkan.

.

Tak lama kemudian seorang perawat datang untuk mengecek rutin kondisi Baekhyun. Kyungsoo dan Jongdae memutuskan untuk pamit pulang karena hari sudah menjelang malam sedangkan mereka berdua sama sekali belum pulang kerumah karena sejak pulang sekolah mereka langsung mampir ke Rumah Sakit.

.

babybyunsoo©

.

"Baekhyun..."

"hmm..."

"Baekhyun..."

"hm— Yak! Yak!Aishh! Dasar Burung Bodoh! Bodoh! Bodoh—"

"Hey! Percuma kita keluar kalau kau terus-terusan menatap I-padmu dan memarahi seekor burung yang bahkan hanya sebuah permainan." Mendapat omelan seperti itu langsung membuat Baekhyun mempoutkan bibirnya sebal. Dia menunduk dan merasa sedikit bersalah dengan sosok namja tan disampingnya ini.

Melihat perubahan ekspresi Baekhyun, Kai langsung merasa panik. "Baekhyun, m-maaf aku tidak bermaksud memarahimu. Aku hanya—"

"Tidak, Kai. Kau benar. Aku yang meminta keluar tapi malah terus bermain flappy bird bodoh ini dan mengabaikanmu." Kedua sudut bibir Kai sedikit terangkat seiring kalimat itu keluar dari bibir Baekhyun. Dia merasa lega dan senang akhirnya bisa mengalihkan perhatian Baekhyun dari permainan bodoh itu.

"Tak apa, aku tahu. Kau pasti bosan terus-terusan berada di Rumah Sakit."

Baekhyun mematikan I-pad dan meletakkannya diatas pangkuannya. Dia mendongak untuk menatap langit malam kota Seoul. Mereka berdua kini sedang duduk dibangku di sebuah taman kecil yang ada disamping Rumah Sakit. Keadaan disana tak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang sedang bercengkrama di bangku lainnya.

Didepan mereka ada sebuah air mancur yang tak terlalu besar tapi kucuran dari air tersebut terdengar cukup keras ditempat dimana Baekhyun dan Kai berada. Didalamnya juga terdapat lampu, hingga membuat air mancur itu terkesan menyala dan berubah-ubah warna.

Baekhyun menggembungkan pipinya dan menghembuskan napas hingga sebuah asap putih keluar dari mulutnya. "Kau benar, aku bosan disini. Aku ingin pulang dan sudah tak sabar lagi untuk kembali bersekolah. Aku benar-benar merindukan semua teman-temanku."

"Bukankah Kyungsoo dan Jongdae sering datang menjengukmu?" Baekhyun menoleh kesamping dan mendapati Kai sudah terlebih dulu menatapnya. Mereka masih menatap satu sama lain hingga Baekhyun kembali berbicara. "Sebenarnya bukan hanya itu, aku... hanya takut kalau tiang listrik menyeramkan itu terus mendatangiku."

Kai berpikir sejenak dan berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan Baekhyun dengan 'tiang listrik menyeramkan' itu, dan detik berikutnya Kai langsung ingat. Sepertinya yang dimaksud Baekhyun adalah Kris. Sejak Baekhyun dirawat disini Kris kerap datang dan menemui Baekhyun. Entah dari mana si China itu tahu kalau Baekhyun sedang dirawat disini, yang jelas kehadirannya selalu membuat Baekhyun takut.

"Selama aku ada disampingmu, kau tak perlu takut. Aku akan selalu melindungimu, atau aku perlu menghajarnya agar dia kapok mendatangimu?" 'Bahkan aku tak akan membiarkan siapapun melukaimu sedikitpun'. Dia benar-benar merasa takut jika Baekhyun pergi. Kai ingat saat dia dan Luhan melarikan Baekhyun kerumah sakit. Kondisinya bertambah parah saat tiba-tiba Baekhyun muntah darah. Itu membuatnya takut. Bukan, bukan takut karena darah itu. Melainkan Kai takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Baekhyun.

Dia sangat takut jika Baekhyun akan pergi meninggalkannya.

Lamunannya terhenti saat mendengar suara tawa kecil dari Baekhyun. "Kau tak perlu melakukan semua itu, Kai. Itu terlalu berlebihan, kau tahu?" dan Baekhyun kembali mengalihkan pandangannya ke air mancur didepannya.

"Itu tidak berlebihan, aku selalu serius dengan ucapanku." Mendadak tubuh Baekhyun membatu sejenak, tak tahu kenapa tapi dia bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda didalam ucapan Kai barusan. Dia menoleh kesamping lagi, dan manik matanya langsung bertemu dengan manik mata kelabu milik Kai. Mereka saling menatap satu sama lain beberapa detik hingga suara milik Kai terdengar lagi.

"Baekhyun..."

"Y-ya...?" kali ini Baekhyun menjawab dengan sedikit kikuk, dia bisa merasakan aura kecanggungan mulai mengerubungi mereka. Tapi dia pikir sepertinya hanya dirinyalah yang merasa canggung dengan perubahan sikap Kai.

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu..." seiring kalimat itu berhasil keluar dari mulut Kai, saat itu juga jantung milik Baekhyun berdegup sedikit kencang dari sebelumnya. Dia benar-benar merasa sangat gugup saat ini. "A-apa itu?"

Kai masih menatapnya dengan seksama dan sedikit lebih intens, tentu saja hal itu membuat tingkat kegugupan Baekhyun berkali-kali lipat menjadi naik.

"Aku..."

Dia tak sanggup lagi menatap kedua manik mata milik Kai hingga iris matanya teralih kesuatu benda bersinar di atas langit tepat diatas kepala Kai. "Lihat! Bintang Jatuh!" pekik Baekhyun sambil mengarahkan jari telunjuknya keatas kepala Kai.

Mendengar Baekhyun berteriak, membuat Kai langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang dituju Baekhyun. Disana, diatas langit terdapat benda bercahaya yang tak lain adalah sebuah bintang bergerak turun. Baekhyun benar, sebuah bintang jatuh.

"Cepat buat permohonan!" ucap Baekhyun cepat.

Sebenarnya Kai tidak percaya dengan hal-hal semacam itu, tapi saat dia membalikkan badan dan mendapati sosok mungil disampingnya sudah memejamkan matanya dengan kedua tangan mengepal dibawah dagunya. Mau tak mau dia melakukan hal yang sama.

.

.

.

Dan malam itu mereka berdua membuat sebuah permohonan.

.

.

.

.

Tapi hanya satu yang akan terkabul.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

Hari ini dokter sudah memperbolehkan Baekhyun pulang, dokter juga mengatakan kondisi Baekhyun sudah pulih. Tapi dia harus kembali untuk cek rutin setelah obat yang diberikannya habis, hal itu dilakukan agar Baekhyun benar-benar pulih sepenuhnya.

"Kita harus segera pulang, sebentar lagi pasti hujan akan turun." Baekhyun mengalihkan pandangannya kearah jendela kamar rawatnya dan mendapati langit sudah mendung.

"Hyung, mana Kai? Dia tak mau ikut mengantarku pulang?" Luhan menghentikan aktifitasnya memasukkan barang-barang milik Baekhyun kedalam tas dan menatap Baekhyun sekilas lalu tertawa kecil.

"Sebenarnya siapa hyungmu, huh? Kau selalu bermanja-manja dengannya dan mengabaikanku saat dia ada disampingmu." Ucap Luhan dengan nada sedikit menggoda.

"Tentu saja kau, hyung. Kau tahu, kau adalah Hyung terbaik yang ada didunia ini. Dan aku sangat sangat mencintaimu!"

"Kau mulai berlebihan..."

"Aku tahu, tapi kenapa Kai tidak ikut?" Luhan memutar bola matanya malas karena lagi-lagi Baekhyun bertanya kemana Kai. "Dia ada urusan mendadak dikampus—"

Baekhyun ingin berbicara lagi tapi Luhan sudah terlebih dulu mendahuluinya. "—dan dia tidak boleh meninggalkannya hanya untuk mengantarmu pulang."

Namja berambut coklat itu hanya mempoutkan bibirnya kesal, tapi tak lama kemudian kedua sudut bibirnya terangkat dan membentuk sebuah senyuman. Kedua pipinya terasa hangat saat dia mengingat sesuatu.

.

.

.

.

Sesuatu yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.

Mereka berdua masih dalam perjalanan pulang, dan Baekhyun sudah merasa sangat gembira karena akhirnya dia bisa kembali pulang kerumahnya. Walaupun hujan sudah terlanjur turun membasahi bumi, tapi hal itu tak membuat kegembiraan Baekhyun berkurang sedikitpun. Dia bersenandung kecil disepanjang perjalanan, kedua bola matanya bergerak lincah mengamati bangunan-bangunan atau pepohonan yang berdiri di sepanjang tepi jalanan kota Seoul yang sedang diguyur hujan.

Sementara Baekhyun masih tenggelam dengan dunianya, Luhan hanya tersenyum kecil melihat adiknya begitu bersemangat. "Kau merasa senang?"

"Tentu saja!" jawab Baekhyun sembari mengangguk-anggukkan kepalanya semangat. "Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat kota ini. Aku juga sudah tidak sabar untuk pergi jalan-jalan lagi bertiga dengan Kyungsoo dan Chen. " Luhan kembali tertawa, "Tapi aku belum mengijinkanmu jalan-jalan keluar sekalipun dengan Kyungsoo dan Chen."

"Hyung—"

"Atau dengan Kai."

"Hyung..." Baekhyun semakin merengek karena larangan Luhan barusan. Melihat hal itu membuat Luhan berusaha menahan tawanya, tapi gagal. "haha, Aku hanya bercanda Baekhyunnie... Kau boleh pergi dengan mereka tapi aku tetap harus ikut."

"Hyung!"

"Ahaha..."

Akhirnya Luhan bisa tertawa lepas, dia merasa sangat merindukan saat-saat seperti ini. Baekhyun adalah keluarga satu-satunya yang dia punya didunia ini, dan dia tak akan membiarkan adik semata wayangnya ini menderita lagi. Semua ini sudah cukup, dan Luhan bertekad untuk menjaga dan memperhatikan Baekhyun seperti yang seharusnya seorang Hyung lakukan.

Hujan semakin deras seiring suara guntur terdengar beberapa kali, dia berusaha mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar karena guyuran hujan sedikit menghalangi jarak pandangnya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar, dan Luhan berusaha mengambil benda persegi itu dari saku depan celana jeansnya dengan tangan kanannya sedangkan lainnya masih setia mengendalikan setir mobil. Dengan pandangan yang masih terfokus kedepan, Luhan berhasil meraih ponselnya tapi terselip begitu saja dan jatuh kebawah kemudi.

"Baekhyun, bisa kau bantu hyung mencari ponsel yang tadi jatuh kebawah. Hyung tidak mungkin mencarinya sendiri saat menyetir, bukan?"

"Tentu!" Baekhyun menunduk dan berusaha mencari ponsel yang dimaksud Luhan. Tak butuh waktu lama karena ponsel milik Luhan hanya terselip dibawah jok kemudi, dan tanpa menunggu detik berlalu lagi, Baekhyun sudah meraih ponsel itu dan duduk diposisi semula.

"Hyung, ada satu pesan."

"Coba kau buka, mungkin saja itu penting."

Baekhyun mulai memainkan jemarinya diatas layar, bola matanya bergerak seiring pesan itu terbuka.

.

.

"Hyung, apa kalian sudah sampai dirumah?"

.

.

Dia membaca isi pesan itu lalu bola matanya bergerak lagi untuk melihat siapa pengirimnya. "Ini dari Kai!" seru Baekhyun dengan senyum yang sudah terplester dibibirnya. Belum sempat Luhan merespon Baekhyun sudah berbicara lagi. "Owh! Kai menelpon!" dengan cepat Baekhyun langsung mengangkat panggilan itu tanpa meminta ijin terlebih dulu pada Luhan.

"Hey Kai!"

"Owh— Baekhyun? Ini kau?"

Baekhyun mengangguk antusias dan kembali berbicara, "Iya, ini aku. Luhan hyung sedang menyetir, jadi aku yang mengangkatnya."

Kai bergumam paham dan kembali bertanya. "Jadi, kalian sudah sampai dimana?"

Baekhyun menoleh ke arah Luhan dan bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan Kai. "Kita sudah sampai dimana hyung?" Luhan menoleh kekanan dan kiri mencoba mengamati jalan atau tempat yang sedang mereka lewati. "Emm... kita sudah sampai di... jalan Garosu-gil"

"Hyung bilang kita sudah sampai di jalan garosu—"

.

.

Titttt!

.

.

CKITTTTT!

.

.

.

Napasnya tertahan, mulutnya terbuka dan kedua tangannya bergetar. Dia hampir menjatuhnya ponsel yang dia pegang kalau suara diseberang sana tidak menyadarkannya.

"Baekhyun, A-apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?"

"Baekhyun, Kau masih disana?"

"Baekhyun! Jawab Aku!?"

"Baekhy—"

"A-aku..." Baekhyun tak sepenuhnya menangkap apa yang dikatakan Kai, otaknya masih terlalu shock dengan apa yang baru saja terjadi. Matanya berkedip beberapa kali, dia berusaha menarik napas tapi masih terasa sulit.

Dia kembali menatap Luhan yang masih terlihat shock sama sepertinya, "A-ku hampir menabrak motor tadi." Desis Luhan pelan dan hampir tak terdengar karena suara guyuran hujan masih mendominasi.

Baekhyun bisa melihat kedua tangan Hyungnya ikut bergetar diatas setir yang masih dipegangnya. Napasnya terlihat berat dan terburu. "H-hyung k-kau tidak apa-apa?" ucap Baekhyun dengan suara yang sedikit bergetar.

Luhan akhirnya menoleh, napasnya sudah lebih teratur dari pada sebelumnya. "A-aku, ya. Aku baik-baik saj—Oh! Shit!" Umpat Luhan tiba-tiba dan hal itu langsung membuat Baekhyun mengerutkan dahinya bingung. Dia memutar kepalanya mengikuti arah pandang Luhan sebelumnya dan mendapati sebuah truk melaju kencang dari arah samping. Kedua matanya membulat sempurna seiring suara klakson yang memekakan telinga itu berbunyi.

Napasnya tercekat, dan detik berikutnya semuanya terjadi dalam hitungan detik. Suara hantaman, pekikan, teriakan orang-orang, guyuran hujan, suara guntur dan kilatan cahaya petir adalah hal terakhir yang dia lihat. Otaknya tak lagi sanggup memproses, yang masih sanggup dia rasakan hanya rasa sakit, perih, remuk. Sekelebat pemikiran melewati otaknya.

.

.

.

.

Beginikah rasanya berada diujung kematian?

.

.

.

.

.

babybyunsoo©

.

Alas kaki jenjang milik seorang namja itu terus menghantam lantai hingga menghasilkan bunyi yang cukup keras dan gaduh. Dari ujung rambut hingga kaki, semuanya basah kuyup. Tapi dia tak peduli dengan bekas yang dia tinggalkan dilantai berwarna putih itu, karena yang ada diotaknya saat ini hanya berlari dan terus berlari hingga dia tak sanggup lagi berlari.

Setelah menemukan tempat yang dia cari, tanpa membuang waktu sebelah tangannya langsung mencengkeram knop pintu, memutarnya lalu membuka kasar pintu itu hingga memperlihatkan apa yang ada didalamnya.

Kedua kakinya terasa lemas dan detik berikutnya dia terjatuh di kedua lututnya dengan kepala yang menggangtung kebawah. Jantungnya terasa sangat nyeri seperti ada mata pisau tajam yang menyayat hingga menghasilnya luka dalam yang membuatnya berdarah dengan sangat buruk.

Kedua bola matanya sudah berair bahkan mereka berbondong-bondong berusaha untuk keluar dari bendungannya. Sebelah tangannya yang masih bergetar mencengkeram erat dada bagian kirinya, dimana disanalah letak rasa sakit yang paling dalam.

.

.

.

"Tidak, ini tidak mungkin. Itu bukan dia. Itu bukan..."

.

.

.

.

Diwaktu yang sama ditempat lain, seorang namja tengah memfokuskan pandangannya ke arah layar televisi.

"Tuan, i-ini jus yang anda minta." Perhatiannya teralih saat salah seorang maid berdiri didekat meja sambil membawa sebuah nampan dengan segelas jus diatasnya.

"Taruh saja disana."

"Baik." Kedua bola mata bulat miliknya kembali beralih kearah layar televisi yang sedang menampilkan sebuah film action dengan adegan kejar-kejaran antara sebuah motor dan sebuah mobil. Beberapa kali suara tembakan terdengar karena salah seorang pengendara mobil mencoba melempar pelurunya kearah si pengendara motor. Tapi motor itu terus melaju karena semua peluru yang dilayangkan meleset.

.

.

PRANGG!

.

.

.

Dia tersentak kaget dan langsung memutar kepalanya kearah keributan yang baru saja terjadi.

"M-maf tuan. S-saya tidak sengaja menjatuhkannya. Maafkan saya. Maaf." Maid yeoja itu membungkuk beberapa kali sambil terus meminta maaf. Dia menyangka akan mendapat sebuah amukan, teriakan atau hal-hal lain menakutkan yang biasa dilakukan oleh tuannya. Tapi kali ini yang dia dapat hanya ekspresi linglung dengan pandangan mata kosong menatap kearah layar televisi.

.

.

Pengendara motor itu berhasil selamat, tapi tidak dengan mobilnya. Mobil itu kehilangan kendali dan menabrak sebuah truk bahan bakar dengan sangat keras, dan detik berikutnya suara ledakan terdengar diikuti dengan kobaran api yang membabi buta.

.

-BIGGEST MISTAKE-

.

Kedua matanya terbuka lebar, napasnya bergetar dan terlihat memburu, wajahnya sudah dibanjiri dengan peluh. 'Mimpi buruk apa ini?'

Beberapa saat dia masih tenggelam dengan pikirannya, hingga sesuatu menyadarkannya.

.

.

Langit-langit yang berwarna putih bersih.

.

.

Tirai berwarna biru.

.

.

Infus?

.

.

Tabung oksigen?

.

.

Ini bukan kamarnya.

Lalu... 'Dimana aku?'

.

.

Tak berselang lama pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan sosok namja yang sudah sangat dia hafal dan menatapnya dengan ekpsresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Dia menarik napas berat berusaha mengeluarkan suaranya yang masih tersangkut ditenggorokan, tapi tetap gagal. Namja itu masih menatapnya, dan detik selanjutnya ekpresi datar itu langsung tergantikan dengan sebuah senyuman manis dan sangat hangat.

.

.

.

.

.

.

"Hyung..."

.

.

.

T to the B to the C

.

.

.

TBC

.

.


BIG THANKS to :

[ndadila] [reny boice : Chanlu putus kan gegera Lulu-nya gak kuat(?) ngadepin sikap keras sama br*ngseknya si yeol. Coba siapa yang tahan? Tapi sesorang bisa bersikap kayak gitu pasti ada sebab akibatnya, kaya hidupnya si Yeol. Sayangnya si Lulu ga tau aja ] [luluna99 : berubah jadi chanbaek? Tunggu bentar dong, kan belum lihat akhirnya kaya apa /nyengirUnicorn/ pengen sih nerima request-an dari para readers, tapi umm belum sanggup kayaknya /elah/] [Azura Eve : nah koq malah gak mau bahas ceritanya sih? Eonnie kan masih butuh banyak masukan buat ff absurb kek gini] [shinta lang : emm, gimana ya?] [Guest : hhe, Baeknya diumpetin dulu. Tapi sekarang udah ada kan?] [chans] [ryanryu: eh Chanbaek moment? Eum gak yakin bakal ada /plak/] [C B : wowow slow dear, thanks udah exited banget buat review. I like it. Yah sebenernya aku juga kurang rela kalo Yeol ma Lulu, tapi tapi semua ini demi kepentingan ff doang. Baek is Yeol's and Yeol is Baek's forever. Tapi kalo disini ceritanya beda.] [momo] [inggit : I still have no time for KrisBaek :'(, maybe next time . Nah, sebenernya tingkah se'sadisan'nya Yeol disini juga masih dalam batas normal(?)] [GreifannyGS : emm Chanbaek? Tunggu ntar aja deh, tapi tetep pada pair awal koq. HyeSung-nya anggap aja OC.]

A/N : Dan seperti biasanya, saya pengen minta maaf karena lagi dan LAGI harus membuat kalian menunggu lama buat FF 'absurb' ini. Sebenernya saya lumayan sedih karena respons buat chap sebelumnya menurun :'(. Dan gak ada yang bener-bener tertarik sama event yang saya buat kemarin. Jadi saya bingung harus gimana.

Tapi karena saya gak mau ngecewain kalian, saya akan tetep pilih pemenang buat event kemarin. Tapi, saya hanya akan milih satu orang aja. Dan kayaknya saya belum bisa umumin sekarang, mianhae. I'm really sorry for making you all disappointed.

Saya masih berusaha namatin ff ini, dan kemungkinan chap depan bener-bener jadi chap terakhir. Life is so complicated, and I don't want to make it more complicated by putting off this story any longer. So pray for me to be able to completed this story. As soon as possible. Mungkin dalam bulan ini.

Kalau kalian kasih banyak respon ke cerita ini, saya akan sangat senang dan berusaha sebisa mungkin buat update FF ini lagi secepatnya.

.

.

.

So, mind to review?

.

.


Note : Garosu-gil street itu benar-benar ada di korea, dan disepanjang kanan kiri jalannya ada pepohonan yang saat musim gugur bakal jadi pusat perhatian karena daun2nya yang menguning.


BIGGEST MISTAKE ©babybyunsoo 2014