Bersinggungan dengan makhluk sosial lain di momen yang kurang tepat memang terasa menjengkelkan. Ambil saja contoh; bahwa jiwa Ebina Yui belum terkumpul sepenuhnya saat mendengar nada panggil yang mengusik telinga.
Abaikan, itu perintah otaknya Jika bukan karena nama sang kakak yang ternyata terpampang jelas di layar ponsel.
"Halo, Kak…"
Bibirnya ingin terus berdiam rapat. Dari apa yang baru saja terjadi padanya dan Meisetsu, dari guyuran tinta hina yang sudah bersimbah pekat mengotori seluruh wajah juga harga dirinya.
Sampai kepada sebuah nama, Akira, Akira, kemudian Akira.
Hanya Akira yang terbayang dalam benaknya. Berkat Akira sekarang lapangan ragbi menjadi tujuan utamanya. Yui sampai lupa kalau dia sedang bercengkerama, meninggalkan elektronik selular miliknya yang memberi nasihat satu arah.
"Naa, Yui… kau percaya pada kawan-kawanmu, kan?"
つづく
