Sebelum mengikuti klub ragbi, Sakai Makoto sangat tergila-gila dengan sepak bola. Ia bahkan cukup terobsesi pada beberapa cabang olahraga kompetisi dengan tujuan mulia; ingin menjadi terkenal dan digemari di kalangan wanita.

Sampai sekarang mimpinya tidak pernah berubah, namun juga tidak pernah terlaksana.

Makoto masih merenung di atas bangku taman dengan ilustrasi yang sama. Sebersit senyum mencuat di wajahnya yang masih terasa nyeri ketika sekilas imajinasinya tadi tak pernah berbeda.

"Hiromi… apa yang harus kulakukan? Meisetsu sudah terlanjur hancur." ia berucap lirih, irisnya menerawang bangku di sampingnya yang begitu hampa tanpa kehadiran sahabat tercinta.

Sinar harapannya terlanjur padam jika sakunya tangannya tidak tergerak untuk mengangkat panggilan kontak seseorang, menyapanya bersemangat.

"Halo?"

Lalu suara manis dari seberang sana,

"Selamat siang, Senpai…"


つづく