"Belum! Sekali lagi!"
Ada desah panjang satu studio sebelum kembali pada aransemen sebelumnya.
Menyandang predikat artist sanggup menjanjikan siapapun agar bisa bertindak semaunya, sesuai mood tercipta. Makanya ketika Kamiyama Madoka memaksa untuk mengulang kesalahan di tempat yang sama—sudah dua lima kali di hari itu bersama gitarnya—teman satu band-nya tidak diijinkan protes.
Tubuhnya sudah mengalami penolakan. Ragbi maupun band, rasanya tidak ada hal lain yang bisa membuatnya bertahan.
"Bukannya kalah bagimu hal biasa?"
Kalimat itu tajam namun benar adanya. Terlalu kentara melebihi kapasitas ampli maupun jeritan hati.
Kalah memang biasa, tidak kalah merupakan hal luar biasa. Madoka ingin mencicipi hal luar biasa paling tidak sekali dalam hidupnya. Setelah selesai di lapangan, ia berjanji akan mengulang kejayaan bersama rekan-rekan satu studionya nanti.
つづく
