"Kau mau ke mana, Chicchan?"

Yang bersangkutan tidak bisa menampik ketika nama panggilan yang terlalu feminin itu meluncur dari mulut ayahnya. Salahkan Hiromi yang tega memanggilnya pertama kali dengan sebutan demikian, ketidaksengajaan merupakan sumber bencana.

"Ke lapangan."

"Jauh? Ayah bisa mengantarmu."

Tawaran yang langsung disambut dengan senang hati, "Terima Kasih."

Bahasa singkat, padat dan seperlunya seakan mendarah daging bagi Kubota Chisato. Untunglah ia segera menyadari kekurangannya dalam berkomunikasi, karena setelah ini dan untuk selanjutnya, bibirnya bertekad akan melepas kalimat-kalimat jujur demi membantu sesama rekan-rekan Meisetsu.

"Ayah, boleh aku menjemput teman-temanku dulu?"

Dari balik kaca jendela mobil, bola matanya tidak bisa lepas dari dua sosok yang sedang duduk bersanding di bangku taman.


つづく