Di selasar sebuah rumah sederhana, gadis berkuncir dua itu masih asik duduk nyaman sambil bersenandung. Perutnya memang mulai lapar, tapi selama kakaknya tidak mau menyentuh makanan bagiannya, maka gadis itu akan melakukan hal yang sama.
Suara decit sepeda di luar sana membawa dua bersaudara tersebut keluar menuju sumber suara.
Sang adik terkesima melihat pemuda seumuran kakaknya kini berteriak tepat di muka. Diperhatikannya lebih teliti luka-luka yang menghias kaki juga tangannya. Masih terlalu baru, pikirnya.
"KAKAAAK!" pekiknya ngeri ketika yang sulung diseruduk mendadak oleh sosok asing tadi. Tidak ada yang bisa dilakukan seorang gadis kecil, ia hanya bisa melihat posisi saudaranya sudah terkunci dengan air mata mengalir di pipi.
"BANGUN, SANO MEGUMI! KAU SUDAH BERJANJI PADAKU DAN AKIRA UNTUK MENJADI KUAT!"
つづく
