WHITE KNIGHT ACADEMY
SEASON 2 : SAIKYOU NO SEDAI
Disclaimer : NARUTO milik Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Adventure, Friendship
Pair : Naruto X Hinata
Warning: OOC, AU, SmartNaru & StrongHina
Summary : Saikyou no Sedai adalah grup yang terdiri dari anak-anak yang memiliki kemampuan yang hebat dan istimewa. Tapi karena suatu sumpah yang mereka sepakati bersama, mereka harus saling bertarung untuk menentukan siapa yang paling kuat diantara mereka. Naruto adalah salah satu anggotanya. Mampukah Naruto menghadapi anggota Saikyou no Sedai lainnya? Lalu bagaimanakah kelanjutan kisah cintanya dengan Hinata?
Chapter 17 – Semua Telah Berubah
"Moshi-moshi", ujar Naruto.
"Moshi-moshi, benarkah ini dengan saudara Uzumaki Naruto?", tanya sang penelpon.
"I-iya benar, anda siapa ya?', tanya Naruto.
"Ini dari pihak Rumah Sakit Industry District, saya ingin memberitahukan bahwa ibu anda Uzumaki Kushina telah mengalami kecelakaan dan sayangnya nyawanya tak bisa diselamatkan..", ujar penelpon.
"A-APAAA?!", ujar Naruto kaget.
Setelah mendengar kabar bahwa ibunya telah mengalami kecelakaan dan meninggal, Naruto dan Naruko segera menuju Industry District saat itu juga. Mereka langsung ke bandara dan naik pesawat pada malam hari dan segera tiba di Industry District yang agak jauh dari distrik Konoha.
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit dan segera menemukan jasad ibunya yang kini telah ditutupi kain. Naruko langsung menangis histeris melihat ibunya yang telah meninggal sementara Naruto juga menangis sambil mengelus-elus punggung Naruko.
"Okaa-san..okaa-san...hiks...", ujar Naruko sambil menangis tersedu-sedu.
"Okaa-san...", gumam Naruto.
Besoknya jasad Kushina segera dibawa kembali ke distrik Konoha untuk dimakamkan. Upacara pemakaman pun berlangsung. Para kerabat dekat banyak yang datang. Klan Uzumaki kini hanya tersisa keluarga Nagato dan Konan lalu Naruto dan Naruko. Shion bersama Shino dan orangtua mereka datang. Koyuki bersama orangtuanya juga datang. Orangtua Sasuke datang tetapi Sasuke dan Sakura tidak datang. Kiba juga tak datang. Hinata datang ditemani oleh Kou saudaranya. Teman-teman Naruto juga datang bersama orangtua mereka yaitu Shikamaru, Chouji, Ino dan Rock Lee.
"Okaa-san...okaa-san...", ujar Naruko yang terus menangis meratapi nisan ibunya.
"Naruto-kun yang tabah ya...aku akan terus disampingmu...", ujar Hinata sambil mengenggam tangan Naruto.
"Arigato Hinata-chan...", ujar Naruto sambil tersenyum tipis.
Tapi tiba-tiba datang beberapa orang yang tak disangka. Ternyata itu Haku bersama Sara juga perdana menteri Zabuza bersama beberapa pengawalnya. Semua kaget melihat mereka dan segera memberi hormat karena kedatangan keluarga perdana menteri. Haku kemudian menghampiri Naruto.
"Naru-chin, aku turut berdukacita atas kematian ibumu. Semoga kau selalu tabah dalam menghadapi ini...", ujar Haku.
"Arigato Haku-san...", ujar Naruto.
"Naruto-kun yang tabah ya...", ujar Sara.
"I-iya arigatou Sara-chan...", ujar Naruto.
Upacara pemakaman pun berakhir, para pelayat satu-persatu mulai meninggalkan makam itu. Tetapi Naruko masih saja terus menangis meratapi nisan ibunya. Sementara Shion dan Koyuki berusaha menenangkan Naruko.
"Kalau begitu Naru-chin, kami pergi dulu, Otou-sama sudah menunggu di mobil", ujar Haku lalu mulai beranjak bersama Sara.
"Tu-tunggu sebentar!", ujar Hinata mencegat Haku dan Sara.
"Ada apa Hyuuga-san?", tanya Haku.
"Ke-kenapa kau bisa bersama dengan Sara-chi?", tanya Hinata.
"Aku dan Sara-chan telah menikah beberapa hari yang lalu. Jadi sudah sewajarnya kami selalu bersama", ujar Haku.
Semua yang masih berada disitu kaget mendengar hal itu.
"Be-benarkah itu Sara-chi?", tanya Hinata.
"Iya Hinata-san, saya sudah menikah dengan Haku-kun, nama saya sekarang sudah menjadi Yuki Sara", ujar Sara.
"Ke-kenapa kau memanggilku dengan formal seperti itu? Terasa aneh. Panggil saja aku kakak seperti biasanya", ujar Hinata.
"Kau sudah bukan kakaknya lagi Hyuuga Hinata. Karena Sara sudah bukan bermarga Hyuuga lagi. Kini dia istriku Yuki Sara", ujar Haku dengan tegas.
"Ta-tapi..", ujar Hinata.
"Aku tak ingin lagi Sara-chan berhubungan lagi dengan kalian klan Hyuuga. Aku sebenarnya tak bisa memaafkan dengan apa yang kalian telah lakukan pada Sara-chan. Jadi kumohon Hyuuga Hinata jangan pernah menemui Sara-chan lagi!", ujar Haku.
"Ta-tapi dia itu sudah lama menjadi adikku. Dia sudah seperti adikku sendiri! Aku sangat menyayanginya!", ujar Hinata.
"Kalau kau menyayanginya, apa usahamu selama ini untuk melindunginya? Kau bahkan tak mampu berbuat apa-apa saat dia menderita. Kau tak pantas menjadi kakaknya, kau tak mampu melindungi adikmu sendiri. Kau juga tak tahu apa-apa tentang dia. Kau tak tahu bagaimana kehidupannya selama ini dan perasaannya", ujar Haku dengan tatapan tajam.
Hinata tertegun mendengar perkataan Haku. Sementara yang lainnya menjadi bingung karena suasana yang memanas secara tiba-tiba.
"Ayo kita pergi Sara-chan", ujar Haku lalu berbalik dan mulai melangkah pergi.
"Kami permisi dulu semuanya, tolong maafkan perkataan suami saya yang agak kasar Hinata-san", ujar Sara lalu membungkuk dengan hormat. Haku dan Sara segera beranjak pergi darisitu.
"Hi-Hinata-chan sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Haku-san bisa berbicara seperti itu kepadamu?", tanya Naruto.
"Tidak apa-apa..mungkin dia benar, aku bukanlah kakak yang baik...", ujar Hinata mulai menitikkan airmatanya.
Beberapa hari berlalu, Naruto masih kelihatan murung dalam menjalani kehidupannya disekolah. Walaupun dia sudah mulai bercanda seperti biasa lagi tapi didalam hatinya dia masih sangat sedih dengan kepergian ibunya. Seringkali dia termenung sendirian lalu menitikan airmata. Walaupun Hinata seringkali menghiburnya tapi rasa kehilangan itu tak bisa hilang begitu saja.
Hari Sabtu telah tiba, atas permintaan Kiba yang gila bertarung, terjadi School War antara Red Knight Academy melawan Green Knight Academy. School War ini telah disetujui oleh Akatsuki dan berlokasi di hutan selatan distrik Kusa. Kedua kubu sudah bersiap dengan perlengkapan masing-masing. Kiba sebagai pemimpin Red Knight Academy ditemani partnernya Koyuki, sementara Shino sebagai pemimpin Green Knight Academy ditemani partnernya Shion. Naruto dan Hinata juga menonton pertandingan itu. Juga Sasuke dan Sakura. Sementara Haku dan Sara tidak hadir. Sistem dari pertandingan ini adalah pemenangnya adalah sekolah yang bisa duluan mengalahkan pemimpin dari lawannya masing-masing.
"School War antara Red Knight Academy VS Green Knight Academy dimulai!", ujar Hidan selaku pengawas dari Akatsuki.
"WOOOOOOO!"
Para murid dengan seragam hijau dan merah segera maju dan saling menyerang. Mereka bertarung dengan sengit. Semua dilakukan untuk menjaga kehormatan sekolah Knight masing-masing. Sementara disalah satu bagian area pertempuran kini Koyuki berhadapan dengan Shion.
"Akhirnya aku bisa berhadapan denganmu Shion, aku pasti bisa mengalahkanmu", ujar Koyuki.
"Aku takkan bisa ditaklukan semudah itu, akan kulawan kau dengan seluruh kemampuanku", ujar Shion bersiap dengan panahnya.
"Ayo maju Shion!", ujar Koyuki lalu mulai melemparkan kunai dengan rantai miliknya.
Shion dapat menghindari serangan Koyuki. Lalu Shion segera menyerang balik.
"SUZAKU FIRE ARROW!"
Panah dengan api milik Shion segera melesat menuju Koyuki. Koyuki dapat menghindarinya lalu menyerang balik lagi dengan kunainya tapi Shion dengan gesit dapat menghindar.
"Di-dia menjadi sangat gesit sekarang, padahal dulu dia paling lambat diantara White Knight Elite...", gumam Koyuki.
"RAIJIN THUNDER ARROW!"
Shion segera memanah dengan anak panah yang memiliki sengatan lisitrik dan melesat menuju Koyuki. Koyuki pun menghindarinya tapi serangan Shion melesat secara bertubi-tubi.
"Teknik baru ya... Aku juga punya", gumam Koyuki.
"EXPLOSIVE KUNAI!"
Koyuki memeparkan kunai dengan cepat ke arah Shion. Shion dapat menghindarinya tapi tiba-tiba kunai itu meledak.
BUAAAM...
"Kena kau!", ujar Koyuki.
"KAMIKAZE WIND ARROW!"
Tiba-tiba dari kepulan asap akibat ledakan tadi, serangan panah dengan kecepatan luar biasa kini melesat dengan cepat kearah Koyuki. Koyuki tak dapat menghindarinya dan akhirnya terkena serangan dari panah dengan pusaran angin itu. Koyuki terpental dan jatuh terkapar hingga tak sadarkan diri.
"Fiuh...", ujar Shion sambil membuang napas lega.
Sementara itu Naruto dan Hinata kaget melihat pertarungan Shion dan Koyuki.
"He-hebat...Shion dapat mengalahkan Koyuki secepat itu..", ujar Naruto.
"Ecchi-onna berkembang dengan pesat ya..", ujar Hinata.
"Teknik-tekniknya tadi sangat hebat, dia kini mampu menguasai elemen petir dan angin", ujar Naruto.
Sementara itu kedua pemimpin kini telah bertarung dengan sengit, Kiba dengan cakar besinya dan Shino dengan barrier serangganya. Kiba terus menyerang secara bertubi-tubi sedangkan Shino hanya terus bertahan.
"Ada apa Shino?! Kenapa kau tak menyerang?! Kau meremehkanku ya?!", ujar Kiba.
"Aku bertarung dengan rencana, jadi aku takkan membuang energiku sia-sia", ujar Shino.
"Kau masih saja seperti dahulu, penuh dengan perhitungan. Tapi tak masalah karena yang akan menang pasti aku!", ujar Kiba.
"IRON CLAWS FURY!"
Kiba menyerang dengan serangan cakar besi miliknya. Sementara Shino mengumpulkan serangga-serangganya membentuk perisai.
"KIKAICHU BARRIER!"
Serangan Kiba berhasil ditangkis dan Kiba terpental. Shino kemudian segera membuat teknik serangganya lagi.
"KIKAICHU HORN ATTACK!"
Serangga-serangga milik Shino membentuk sebuah kumpulan dengan bentuk tanduk dan melesat dengan cepat menuju Kiba.
"GREAT DOG TORPEDO!"
Anjing milik Kiba, Akamaru menembakkan torpedo dari punggungnya sehingga serangan dari Shino bisa dihentikan. Kemudian Akamaru kembali menembakan torpedo-torpedo itu ke arah Shino.
"Sial, anjingnya menganggu saja..", gumam Shino sambil menghindari serangan Akamaru.
"Akamaru, nice job!", ujar Kiba.
"Auuk!", Akamaru mengonggong.
Pertarungan mereka terus berlanjut, sebagian besar para murid ada yang sudah tepar dan sudah mulai kelelahan. Pertarungan itu terus berlanjut hingga malam hari. Tapi Kiba dan Shino terus bertarung tanpa kenal lelah.
"Hoi, ini dua orang ini semangat banget ya, lihat saja para murid yang lain sudah pergi semuanya, mereka berdua masih terus bertarung", ujar Naruto.
"Naruto-kun, pulang yuk, sudah malam nih", ujar Hinata.
"Baiklah kita biarkan saja mereka", ujar Naruto lalu mereka beranjak pergi darisitu.
Sementara yang lainnya juga sudah pulang. Tersisa Kiba dan Shino yang terus bertarung diawasi Hidan dan Kakuzu yang jadi pengawas dari Akatsuki.
"Hoi-hoi, semua sudah pulang, kalian tidak mau berhenti? Ini sudah jam 11 malam lho, kalian itu mulai dari jam 11 pagi, apa kalian tak lelah?!", tanya Hidan.
"Aku takkan berhenti sampai aku bisa mengalahkannya!", ujar Kiba sambil terus menyerang Shino.
"Aku akan terus meladeni lawanku hingga akhir!", ujar Shino.
"GREAT IRON CLAWS FURY!"
"MUSHI DAMA!"
Mereka berdua saling menyerang dengan teknik mereka yang paling kuat. Saat kedua serangan itu bertabrakan terjadi ledakan dahsyat. Mereka berdua terlempar dan terbaring lemah.
"Ukhh..sial, badanku terasa remuk semua...", ujar Kiba sambil merintih.
"Cih..pertarungan yang melelahkan..", ujar Shino.
"Hoi, karena kalian sudah tak bisa bangkit lagi, jadi pertarungan berakhir dengan hasil seri. Ayo pulanglah, kami juga sudah pada mau tidur..", ujar Hidan.
"Ukhh..sial, padahal sedikit lagi", ujar Kiba. Petugas medis segera datang untuk membawa mereka berdua untuk diobati lukanya.
Besoknya hari Minggu, Naruto dan Hinata kembali berkencan. Mereka menghabiskan waktu bersama berdua sambil mesra-mesraan. Jalan sambil gandengan tangan, makan dan bercanda bersama, sungguh pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta. Dan akhirnya saat hari sudah petang, Naruto mengantar Hinata kembali ke rumah Hinata. Tak disangka saat Hinata masuk kedalam rumah, Hiashi ayah Hinata telah menunggu di dekat pintu masuk.
"Tadaima Otou-sama", ujar Hinata.
"Hn, kau darimana saja Hinata?", tanya Hiashi.
"Aku habis jalan sama Naruto-kun, memangnya kenapa Tou-sama?", tanya Hinata.
"Kau tak boleh lagi berhubungan dengan Uzumaki Naruto", ujar Hiashi.
"Eh? Ke-kenapa? Bukankah Otou-sama sudah setuju Naruto-kun pacaran denganku?", tanya Hinata.
"Aku berubah pikiran, Naruto kini sudah tak sebanding dengan kita lagi. Sejak ibunya meninggal, klan Uzumaki sudah bukan klan yang berkelas lagi. Mereka sudah tak selevel lagi dengan kita para kaum bangsawan", ujar Hiashi.
"Ta-tapi a-aku sangat mencintai Naruto-kun, aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku tak mau berpisah darinya", ujar Hinata.
"Tidak, kau harus mendengar perkataan ayah. Pokoknya kau tak boleh menemui Naruto lagi!", ujar Hiashi.
"Ta-tapi Tou-sama..", ujar Hinata.
"Jangan pernah membantah perkataanku atau kau tahu sendiri akibatnya!", ujar Hiashi.
"Aku takkan menyerah begitu saja Tou-sama! Aku akan tetap mencintai Naruto-kun!", ujar Hinata.
Hari-hari berlalu, Hinata masih terus berhubungan dengan Naruto. Tetapi akhir-akhir ini kejadian aneh terus bermunculan, Naruto selalu mengalami hal yang buruk. Pertama ada masalah dengan administrasinya di sekolah dan guru-guru tampak mendiskriminasikan Naruto. Lalu yang lebih parah lagi suatu hari Naruto ditabrak mobil hingga lengan kirinya patah dan dirawat di rumah sakit. Hinata jadi curiga dengan semua yang dialami Naruto. Hinata curiga ayahnya lah yang telah mengatur semua itu. Hinata kemudian segera berbicara dengan ayahnya di rumah.
"Otou-sama ada yang ingin kubicarakan denganmu", ujar Hinata.
"Ada apa Hinata?", tanya Hiashi.
"Aku tahu pasti Otou-sama kan yang telah berbuat semua itu pada Naruto. Dari masalah di sekolah dan kecelakaan itu. Otou-sama yang telah melakukan semua itu bukan?", tanya Hinata.
"Bicara apa kau ini? Beraninya kau menuduh orangtua seperti itu!", ujar Hiashi dengan nada tinggi.
"Jangan pura-pura Otou-sama. Aku tahu hanya kau yang mempunyai kuasa untuk berbuat seperti itu. Naruto tidak salah apa-apa, kenapa Otou-sama berbuat sekejam itu?", tanya Hinata dengan tatapan tajam.
"Sudah kubilang untuk tak mendekatinya lagi tapi kau terus membantah. Pokoknya jangan dekati dia lagi atau akan kubuat dia lebih menderita lagi", ujar Hiashi.
"Otou-sama kau benar-benar kejam!", ujar Hinata geram.
"Semua kulakukan untuk kebaikanmu nak. Semua untuk masa depanmu yang cerah. Kau nanti jadi apa jika terus bersama dengan pria seperti dia?", ujar Hiashi lalu beranjak dari ruang keluarga itu.
"Naruto-kun...", gumam Hinata.
Hari terus berlalu, semua barang-barang dan akhirnya rumah Naruto yang sekarang telah disita karena ternyata sepeninggal Kushina, Uzumaki Corp tiba-tiba saja bangkrut karena kerugian yang sangat besar. Pemimpin yang sekarang tak bisa mengelola perusahaan dengan baik. Nagato dan Konan sementara ini bertugas di distrik Hoshi yang sangat jauh sehingga tak bisa membantu Naruto. Nagato dan Konan juga baru memulai hidup baru sebagai keluarga sehingga mereka juga hidup pas-pasan. Naruto dan Naruko akhirnya pindah ke sebuah flat kecil yang agak kumuh.
"Yah beginilah kita sekarang Naruko-chan, kita harus menjalani hidup kita yang baru ini", ujar Naruto yang sedang duduk bersama Naruko menikmati makan siang mereka yang begitu sederhana.
"Dulu kita bisa makan enak dan mewah, sekarang kita hanya bisa makan sepenggal roti seperti ini", ujar Naruko.
"Hidup itu seperti roda berputar Naruko-chan, kadang kita diatas dan kadang kita dibawah. Anggaplah kita sedang berada dibawah seperti keadaan kita sekarang ini", ujar Naruto.
"Nii-chan aku rindu Okaa-san..", ujar Naruko.
"Aku juga sangat merindukannya Naruko-chan...", ujar Naruto lalu memeluk Naruko.
Suatu hari tiba-tiba ada yang mengetok pintu flat milik Naruto dan Naruko. Naruto yang sedang belajar kemudian segera membukakan pintu. Naruto kaget melihat yang datang ternyata ayah Hinata, Hiashi bersama dua pengawalnya.
"Hi-Hiashi-sama!", ujar Naruto kaget.
"Hn, ada yang ingin kubicarakan denganmu", ujar Hiashi dingin.
"Si-silahkan masuk dulu, maaf kalau tempatku agak berantakan", ujar Naruto sambil mempersilahkan Hiashi masuk.
"Tak perlu, aku Cuma ingin memberitahukan sesuatu padamu", ujar Hiashi.
"Apa itu Hiashi-sama?", tanya Naruto.
"Kau tak boleh berhubungan dengan Hinata lagi. Hinata sudah ditunangkan dengan anak dari salah satu klan bangsawan. Jadi kuharap kalian berdua segera putus dan jangan menemui Hinata lagi. Kau paham?", ujar Hiashi.
"Ta-tapi Hiashi-sama, aku dan Hinata masih saling mencintai", ujar Naruto.
"Aku tak peduli dengan itu. Kau ini Cuma pria yang tak berguna sekarang, apa jadinya Hinata jika terus bersamamu. Seorang gadis terhormat seperti Hinata harus bersanding dengan orang yang sebanding dengannya", ujar Hiashi.
"Ta-tapi Hiashi-sama..aku...", ujar Naruto.
"Kuharap kau mendengar perkataanku kalau tidak aku takkan tinggal diam, akan kubuat hidupmu lebih menderita lagi!", ujar Hiashi.
"A-aku mengerti Hiashi-sama...", ujar Naruto.
"Baguslah..Segera pergilah dari hidup Hinata dan jangan pernah tunjukkan mukamu lagi di hadapan kami", ujar Hiashi lalu berbalik dan beranjak dari situ.
"Hinata-chan...", gumam Naruto frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.
Besoknya tiba-tiba Hinata memanggil Naruto untuk bertemu di jembatan Konoha. Mereka mempunyai sesuatu yang harus dibicarakan dan akhirnya mereka sampai di jembatan dan bertemu.
"Naruto-kun...", ujar Hinata dengan muka sendu.
"Hinata-chan...", ujar Naruto.
"A-ada yang ingin kubicarakan denganmu", ujar Hinata.
"Aku juga..", ujar Naruto.
"Be-begini, a-aku ingin putus denganmu...", ujar Hinata sambil menunduk.
Mata Naruto membulat sempurna. Dia tidak percaya dengan yang dikatakan Hinata.
"Kenapa?! Aku tahu aku sekarang ini miskin, tai aku masih mampu untuk membahagiakanmu Hinata-chan", ujar Naruto.
"Bukan begitu tapi...", ujar Hinata.
"Aku bermaksud untuk terus berjuang memperjuangkan cinta kita Hinata-chan. Aku tahu ayahmu sekarang melarang kita untuk bersama tapi aku takkan menyerah begitu saja, bersama kita pasti bisa melalui semua masalah ini!", ujar Naruto.
"Aku juga ingin begitu tapi...keadaan ini...", ujar Hinata.
"Percayalah padaku Hinata-chan...kita pasti bisa bersama selamanya..", ujar Naruto sambil mengenggam tangan Hinata.
"Tidak, kita tidak bisa. Aku akan segera bertunangan, aku ingin mengucapkan salam perpisahan padamu Naruto..Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi..", ujar Hinata sambil melepaskan genggaman tangan Naruto. Hinata kemudian berbalik untuk pergi.
"Apa kau benar-benar ingin ini berakhir seperti ini Hinata-chan?! Apa kau ingin kita berpisah!?", tanya Naruto yang memegang lengan Hinata untuk mencegah Hinata pergi. Airmata Hinata mulai mengalir dan tubuhnya bergetar hebat.
"Iya! Aku ingin kita berpisah! Lupakan aku Naruto-kun! Selamat tinggal!", ujar Hinata lalu langsung lari menjauhi Naruto dengan berlinangan airmata.
"Hinata...", gumam Naruto lalu jatuh dengan posisi berlutut dua kaki. Airmata mengucur ke pipi Naruto. Akhirnya kedua insan ini berpisah karena keadaan yang tak terduga ini.
Beberapa hari berlalu, hidup Naruto mulai tak karuan. Dia menjadi sering membeli bir dan mabuk-mabukan. Naruko berusaha menasehatinya tapi Naruto membantahnya dan seringkali tak bisa menahan emosinya dan memukul Naruko. Naruko menjadi sedih dengan keadaan kakaknya seperti ini. Naruko berusaha kerja part time untuk membiayai sekolah dan uang sewa flat tapi seringkali Naruto mengambilnya untuk membeli bir. Akhirnya karena tak mampu lagi membayar uang sewa, pemilik flat itu mengusir mereka. Kini mereka duduk di pinggiran jalan. Naruto terus duduk termenung dan Naruko merasa kasihan dengan keadaan kakaknya sekarang.
"Naruko...kenapa ini semua ini bisa terjadi pada kita...", ujar Naruto.
"Ini mungkin cobaan untuk kita nii-chan, kita harus berusaha mengatasinya..", ujar Naruko.
"Kenapa, sampai-sampai aku harus berpisah dari Hinata-chan..kenapa?!", ujar Naruto.
"Nii-chan...", gumam Naruko.
Tiba-tiba hujan mulai turun. Langit menjadi begitu gelap. Hari itu sudah sore menjelang malam. Naruto dan Naruko mulai basah dengan air hujan.
"Nii-chan ayo berteduh! Ini sepertinya akan jadi hujan lebat", ujar Naruko.
"Tidak, aku disini saja! Lebih baik aku mati kedinginan saja!", ujar Naruto.
"Tapi, nii-chan bisa sakit!", ujar Naruko.
"Aku tak peduli, pergi saja sana berteduh! Aku akan tetap disini!", ujar Naruto.
"Tunggulah sebentar aku akan membelikanmu payung!", ujar Naruko lalu mulai lari ke daerah pertokoan untuk membeli payung.
Naruto terus duduk di pinggiran jalan seolah tak peduli dengan hujan deras yang terus mengguyur tubuhnya. Dia terus memandangi langit dengan tatapan kosong.
"Hinata-chan...", gumam Naruto.
Hujan semakin deras Naruto masih saja bertahan disitu. Tapi tiba-tiba seseorang dengan payung datang menghampiri Naruto.
"Naruto-kun?"
"Kau.. Shion...", ujar Naruto dengan pandangan kosong.
"Kau sedang apa disini hujan-hujanan? Ayo berteduh kau bisa sakit nanti!", ujar gadis pirang yang ternyata Shion.
"Aku masih ingin disini Shion, biarkan saja aku!", ujar Naruto.
"Tidak boleh, ayo kita berteduh!", ujar Shion lalu menarik lengan Naruto untuk berteduh. Setelah mereka berteduh beberapa saat, hujan mulai berhenti dan Naruko sudah kembali membawa payung.
"Shion-senpai?", tanya Naruko.
"Naruko-chan apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kalian bisa ditempat ini?", tanya Shion.
"Sebenarnya kami...", ujar Naruko. Naruko kemudian menceritakan segalanya pada Shion. Shion merasa iba dengan yang dialami kakak-beradik itu.
"Ya sudah, ayo kita ke rumahku. Kalian harus segera ganti baju dan menghangatkan diri. Kebetulan 2 minggu ini aku akan kembali tinggal di rumahku", ujar Shion. Mereka bertiga segera menuju rumah Shion.
Setelah sampai di rumah Shion, Shion segera menyuruh Naruto dan Naruko untuk segera mandi air panas. Naruko mandi duluan dan Naruto menunggu di ruang ganti yang berada di depan kamar mandi tamu. Tapi Naruto sadar dia tak memiliki handuk dan segera menuju kamar Shion untuk menanyakan handuk yang bisa dipinjam. Naruto segera memasuki kamar Shion tanpa mengetuk pintu.
"Shion kau punya handuk lebih nggak?", tanya Naruto. Lalu kemudian kaget melihat Shion. Shion ternyata sedang membuka bajunya sehingga kini seluruh tubuhnya terlihat oleh Naruto. Shion kaget dan mukanya langsung memerah.
"KELUAR! DASAR HENTAI!", ujar Shion lalu melempari sepatunya ke arah Naruto.
BUAAKKH!
Wajah Naruto langsung kena sepatu Shion hingga membekas. Naruto pun langsung kabur keluar dari kamar Shion.
"Apa-apaan itu? Shion menjadi sangat berbeda dari dahulu. Biasanya dia takkan malu jika aku melihatnya telanjang", ujar Naruto yang ngos-ngosan.
Setelah itu Naruto dan Naruko bersama Shion kini berkumpul untuk makan malam. Pembantu di rumah Shion yang selama ini menjaga rumah selama Shion tinggal bersama Shino telah membuat makanan khusus untuk mereka.
"Arigato Shion-senpai, sudah menerima kami disini. Tapi aku akan segera bekerja lagi agar mendapat uang untuk menyewa tempat tinggal lagi", ujar Naruko.
"Tidak apa-apa, tinggallah selama kalian mau. Aku tak keberatan kok. Kalian ini adalah sahabat baikku, aku sangat senang bisa menolong kalian", ujar Shion.
"Sekali lagi arigato Shion-senpai. Ayo nii-chan kau juga harus berterima kasih pada Shion-senpai", ujar Naruko.
"Hmm. Terima kasih ya Shion...", ujar Naruto tapi dengan muka tak bersemangat.
"Sudah kalian makan yang banyak ya. Setelah itu istirahatlah kalian pasti capek sekali", ujar Shion.
"Arigato Shion-senpai!", ujar Naruko lalu tersenyum. Selesai makan mereka segera menuju kamar masing-masing lalu beristirahat.
Sementara itu di ruang rapat klan Hyuuga
"Hiashi-sama ini laporan mengenai kemajuan pengambil alihan perusahaan", ujar seorang kolega Hiashi.
"Hn, bagus sekali, kau memang hebat Koga", ujar Hiashi.
"Arigato Hiashi-sama", ujar Koga.
"Dengan ini, klan Hyuuga yang akan memonopoli Industry District!", ujar Hiashi dengan seringaian-nya.
To be Continued...
Yosh Chapter 17 update! Maaf agak lama update karena author sibuk dengan tugas-tugas kuliah akhir-akhir ini. Jadi baru bisa update sekarang.
Di chap ini, akhirnya Kushina dimakamkan dan ada sedikit perdebatan antara Haku dan Hinata sesudah pemakaman mengenai Sara. Juga terjadi School War antara Red Knight Academy dan Green Knight Academy, tapi karena Kiba dan Shino tak kunjung selesai pertarungannya akhirnya pertarungan berakhir seri. Juga disini terjadi konflik dimana Hiashi melarang Hinata untuk berhubungan dengan Naruto lagi karena Naruto yang kini sudah tak sekaya dulu. Akhirnya Hinata memutuskan hubungannya dengan Naruto karena ancaman Hiashi. Naruto pun menjadi terpuruk dan akhirnya dibantu oleh Shion yang mengijinkan Naruto dan Naruko untuk tinggal di rumahnya sementara. Dan mulai terlihat siapa yang telah membuat klan Uzumaki jatuh. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Tunggu ya chap depan.
Yang login saya sudah balas reviewnya lewat PM
Ini balasan buat yang ngak login:
Yuka Haruka: Saya sudah berencana membuat mereka menikah secepatnya. Ok! Thx buat rnr!
Guest: Ok! Thx buat rnr!
Sammy-kun: Ok! Thx buat rnr!
Renzy Strife: Disini sudah ada bagian bertarungnya. Maaf karena di S2 ini akan lebih banyak menceritakan kisah romansa antara para chara. Ok! Thx buat rnr!
Kazuki-sama: Ok! Thx buat rnr!
Natsumi-chan: Ok! Thx buat rnr!
Ha-chan: Ok! Thx buat rnr!
The Guest: Ok! Thx buat rnr!
Sevensword: Ok! Thx buat rnr!
Guest: Ok! Thx buat rnr!
Narutoloverz: Ok! Thx buat rnr!
Peko: Ok! Thx buat rnr!
Makasih banyak bagi para readers yang udah menyempatkan diri untuk membaca fanfic ini. Semoga anda terhibur dengan cerita yang disuguhkan. Jangan lupa juga memberi jejak berupa review ya? Review sangat berguna bagi author untuk mengembangkan cerita.
REVIEW PLEASE?
ARIGATOU GOZAIMASHITA!
