WHITE KNIGHT ACADEMY

SEASON 2 : SAIKYOU NO SEDAI

Disclaimer : NARUTO milik Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Adventure, Friendship

Pair : Naruto X Hinata

Warning: OOC, AU, SmartNaru & StrongHina

Summary : Saikyou no Sedai adalah grup yang terdiri dari anak-anak yang memiliki kemampuan yang hebat dan istimewa. Tapi karena suatu sumpah yang mereka sepakati bersama, mereka harus saling bertarung untuk menentukan siapa yang paling kuat diantara mereka. Naruto adalah salah satu anggotanya. Mampukah Naruto menghadapi anggota Saikyou no Sedai lainnya? Lalu bagaimanakah kelanjutan kisah cintanya dengan Hinata?

Chapter 19 – Reuni

Beberapa hari kemudian, Sasuke dan kawanan-nya dari Black Knight Academy yang masih setia padanya, menantang Shino untuk bertarung dalam School War. Shino menyetujui tantangan itu dan juga bersiap untuk menghadapi Sasuke. Mereka kini telah berkumpul di medan pertarungan. Karena jumlah murid yang sedikit dari kubu Sasuke maka pasukan Shino juga dibatasi agar sebanding dengan kubu Sasuke. Para murid telah bersiap dengan senjata masing-masing. Pengawas dari Akatsuki yaitu Itachi juga telah berada di tengah untuk memberi aba-aba.

"Baiklah, pertarungan dimulai!", ujar Itachi.

WOOOOOO!

Semua murid dengan seragam hijau dan hitam segera maju untuk saling menyerang. Pertarungan antara Green Knight Academy dan pasukan Sasuke pun dimulai. Pertarungan berlangsung sengit, tapi tampaknya kubu Sasuke lebih unggul.

Kini Sasuke berhadapan dengan Shino, Sasuke terus menyerang sedangkan Shino daritadi hanya menghindari tanpa menyerang balik Sasuke.

"Aburame, tampaknya kau meremehkanku?! Kau hanya mengerahkan orang-orang yang lemah ya?!", ujar Sasuke sambil terus menyerang Shino.

"Bukan seperti itu, kau lihat saja, pasukanmu akan kalah dalam sekejap Uchiha", ujar Shino.

"Heh, bicara apa kau?! Kenyataannya pasukanmu banyak yang sudah gugur!", ujar Sasuke.

"Kita lihat saja", ujar Shino.

Tiba-tiba muncul bayangan-bayangan hitam berbentuk manusia ke medan pertarungan. Bayangan-bayangan itu langsung menyerang pasukan Sasuke.

"Ba-bayangan apa ini?", ujar Sakura kaget.

"Darimana asalanya bayangan-bayangan ini?"

"I-itu!", ujar Sasuke kaget.

Lalu munculah sosok bertopi hitam dan berkacamata hitam yang ternyata memunculkan bayangan-bayangan hitam tersebut.

"Hoo, akhirnya kau datang", ujar Shino.

"Gomen Shino-san, aku sedikit terlambat, tapi tenang saja aku akan membereskan ini secepatnya", ujar pria bertopi itu yang ternyata Kuro.

"Ka-Kau tidak mungkin...", ujar Sasuke kaget melihat Kuro.

"Uchiha Sasuke, lama tak berjumpa, tampaknya kau belum berubah ya", ujar Kuro sambil menyeringai.

"Ke-Kenapa kau masih hidup? Bukannya kau sudah tewas dalam misi itu?!", tanya Sasuke.

"Cih, ini bukannya waktu ngobrol kan Uchiha? Lihat keadaan pasukanmu", ujar Kuro.

Sasuke kemudian kaget melihat pasukannya yang kini telah banyak yang gugur karena dikalahkan bayangan hitam tersebut. Tersisa sedikit pasukan yang masih bertahan.

"Sasuke-kun, bagaimana ini? Kita kehilangan banyak orang", tanya Sakura.

"Cih, kita mundur dulu!", ujar Sasuke.

"Wah-wah, tak kusangka kau akan menyerah secepat ini Uchiha? Pantas saja Naruto bisa mengalahkanmu dengan mudah", ujar Kuro.

"Kau pasti akan kubalas! Aburame pertandingan ini belum selesai, aku pasti akan menghancurkan kalian berdua!", ujar Sasuke.

Pasukan Sasuke pun mundur, akhirnya pertandingan ini dimenangkan dengan mudah oleh Green Knight Academy yang dipimpin Shino. Itachi Cuma menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya.

Sementara itu Sasuke dan Sakura kini dalam perjalanan pulang. Sakura penasaran mengapa Sasuke menyerah secepat itu.

"Sa-Sasuke-kun ada apa? Sebenarnya siapa orang bertopi hitam itu?", tanya Sakura.

"Di-dia, kenapa, kenapa orang itu masih hidup?", ujar Sasuke dengan kepala menunduk.

"Sasuke-kun kenapa? Siapa sebenarnya orang itu?", tanya Sakura.

"Dia orang yang berbahaya Sakura.. Kita bisa habis dalam sekejap jika memaksakan diri untuk melawan dia bersama Aburame", ujar Sasuke.

"Eh?", Sakura kaget mendengar perkataan Sasuke tadi. Tak biasanya Sasuke takut menghadapi lawan seperti itu. Biasanya Sasuke selalu meremehkan lawan-lawannya.

Sementara itu Shion dan Naruto menjalani hari-hari mereka sebagai pasangan kekasih yang baru. Shion sangat senang berjalan bergandengan tangan bersama Naruto. Hal itu adalah hal yang diimpi-impikannya sejak dulu. Dari dulu dia ingin sekali Naruto mencintainya dan mereka menjadi pasangan kekasih. Kini semua itu terwujud. Shion sangat bahagia dengan hal ini. Dia selalu tersenyum pada Naruto dan Naruto selalu membalasnya.

"Naruto-kun, aku senang sekali. Akhirnya aku bisa menjadi kekasih Naruto-kun", ujar Shion sambil tersenyum.

"Iya aku juga senang bisa menjadi kekasihmu Shion", ujar Naruto lalu tersenyum juga.

"Ayo kita kesana Naruto-kun, sepertinya pemandangan dari situ sangat indah!", ujar Shion lalu menarik tangan Naruto untuk menuju ke arah pemandangan kota yang indah.

"Ayo!", ujar Naruto lalu mengikuti Shion kesitu.

Mereka kemudian memandangi pemandangan kota yang indah tersebut. Kini mereka berada di tempat yang tinggi untuk melihat pemandangan kota dari atas.

"Naruto-kun indah sekali ya kota ini. Kota Tanzakujo memang indah!", ujar Shion.

"Iya kau benar Shion. Pemandangan kota ini memang yang paling indah di Knight's Territory ini", ujar Naruto.

"Oh iya, Naruto-kun, sebenarnya sebentar malam aku mendapat undangan acara perkawinan dari salah satu keluarga kerajaan. Mereka mengundang klan kami sebagai tamu kehormatan, apa kau mau menemaniku ke pesta itu?", tanya Shion.

"Oh benarkah? Tapi aku kan tak diundang, apa aku bisa masuk?", tanya Naruto.

"Tentu saja, kau kan kekasihku, mereka pasti akan mempersilahkanmu masuk dengan senang hati", ujar Shion.

"Begitu ya, baiklah aku akan menemanimu", ujar Naruto.

"Oke, Arigatou Naru-kun", ujar Shion lalu tersenyum. Naruto kemudian mengelus-elus kepala Shion lalu tersenyum.

Sementara itu di apartemen Haku, Sara sedang membersihkan rumah, tapi tiba-tiba saja dia merasa mual dan muntah-muntah. Lalu selang beberapa saat dia kembali mual-mual lagi. Tsunami yang baru pulang langsung heran melihat Sara yang terlihat lesu.

"Sara-chan, kamu kenapa, kamu terlihat pucat? Apa kamu sakit?", tanya Tsunami.

"A-ano..sebenarnya daritadi aku merasa mual-mual, ini terjadi begitu tiba-tiba, kenapa ya aku ini?', tanya Sara.

"Mual-mual? Jangan-jangan kamu..", ujar Tsunami lalu terdiam.

"Eh? Kenapa ba-san, apa ba-san tahu sesuatu tentang ini?", tanya Sara.

"Tunggu sebentar, aku akan mengambil sesuatu", ujar Tsunami lalu masuk ke kamarnya.

"I-iya ba-san", ujar Sara.

Tsunami lalu kembali membawa sesuatu ditangannya. Sara kaget melihat benda itu.

"Ba-san bukankah benda itu?", ujar Sara kaget.

"Ba-san menduga kalau kamu telah hamil, sebaiknya pastikan dengan alat penguji kehamilan ini", ujar Tsunami lalu memberikannya pada Sara.

"Ba-baiklah ba-san", ujar Sara. Sara segera menuju toilet untuk menguji.

Setelah beberapa menit akhirnya Sara keluar dari toilet.

"Bagaimana hasilnya Sara-chan?", tanya Tsunami dengan penasaran.

"A-aku positif hamil ba-san", ujar Sara lalu menunjukan alat itu yang keluar tanda dua garis merah.

"Benarkah!? Syukurlah, selamat ya Sara-chan, kamu dan Haku-chan akan segera memiliki bayi!", ujar Tsunami dengan gembira.

"Ta-tapi apakah Haku-kun akan senang dengan hal ini? Ini mungkin terlalu cepat baginya. Kita kan masih anak sekolah", ujar Sara lalu tertunduk.

"Dia pasti akan senang. Jangan khawatir Sara-chan", ujar Tsunami.

Malam pun tiba, Haku akhirnya pulang dari kantor ayahnya. Walaupun dia masih bersekolah tapi sepulang sekolah, dia harus bekerja di kantor ayahnya. Ayahnya telah mempercayakan sebuah jabatan bagus untuknya di kantor sehingga Haku harus mempertanggung jawabkannya.

"Tadaima", ujar Haku.

"Okaerinasai Haku-kun", sambut Sara.

"Kau baik-baik saja kan sayang? Wajahmu agak sedikit pucat", ujar Haku lalu mengecup kening Sara.

"A-aku tak apa-apa. Haku-kun mau mandi atau makan dulu?", tanya Sara.

"Aku mau makan dulu. Aku sudah tak sabar ingin menyantap makananmu yang nomer satu di dunia itu", ujar Haku lalu tersenyum.

"Ba-baiklah, akan segera kusiapkan", ujar Sara.

Haku kemudian duduk di depan meja makan lalu Sara mulai menghidangkan makanan-makanan buatannya.

"Wah steak salmon ya, kau memang istriku yang paling hebat! Aku pasti akan menghabiskan ini semua!", ujar Haku.

"Arigatou Haku-kun, silahkan nikmati makanannya", ujar Sara lalu duduk di sebelah Haku.

"Makanan ini benar-benar enak. Kamu memang istriku yang paling jago memasak", ujar Haku sambil terus makan dengan lahap.

"A-ano Ha-Haku-kun sebenarnya ada yang ingin kuberitahukan padamu...", ujar Sara.

"Engh..apa itu sayang?", tanya Haku.

"Se-sebenarnya aku telah hamil Haku-kun...", ujar Sara. Haku langsung terdiam setelah mendengar perkataan itu. Dia terperangah melihat Sara. Sara kemudian menjadi gugup lalu menundukkan kepala.

"A-aku tahu ini mungkin terlalu cepat Haku-kun. Haku-kun pasti marah..", ujar Sara dengan tubuh bergetar.

"Jadi kau telah hamil?", tanya Haku.

"I-iya..ma-maafkan aku Haku-kun..", ujar Sara.

GREBB

Haku langsung memeluk Sara dengan erat. Sara kaget mendapat pelukan dari Haku. Sara mengira Haku akan marah besar karena kehamilannya.

"Aku sangat senang mendengar hal itu Sara-chan. Akhirnya kita berdua akan mempunyai anak", ujar Haku.

"Ja-jadi kamu tak marah?", tanya Sara.

"Buat apa aku marah? Aku malah sangat bahagia Sara-chan, aku kan segera mempunyai anak darimu! Aku sangat bahagia!", ujar Haku.

"Aku juga bahagia Haku-kun", ujar Sara.

"Aku akan menjadi seorang ayah dan kamu akan jadi seorang ibu. Aku tak sabar menunggu kelahirannya", ujar Haku. Sara lalu tersenyum sambil mengelus-elus perutnya.

Sementara itu di tempat lain, pesta megah dilangsungkan di convention hall yang terletak di pusat kerajaan Knight's Territory. Pesta perkawinan antara pangeran dengan wanita pilihannya. Para tamu kehormatan hadir dalam pesta megah itu. Para petinggi klan-klan terhormat dan keluarga bangsawan hadir dalam pesta itu.

Sementara itu Naruto dan Shion juga telah hadir dalam pesta itu. Mereka kagum melihat kegemahan pesta ini.

"Wah sugoi, dekorasinya sangat megah!", ujar Shion.

"Kamu benar, pesta ini benar-benar megah!", ujar Naruto.

Pesta pernikahan antara putra dari raja Knight's Territory dengan seorang gadis dari keturunan bangsawan itu berlangsung dengan baik. Semua prosesi terlaksana dengan baik, lalu tiba-tiba ditengah kata sambutan, raja berbicara sesuatu mengenai pertunangan anak keduanya.

"Para hadirin yang terhormat, selain anak pertamaku, pangeran Tenma yang telah menikah, anak keduaku, pangeran Temujin akan juga segera bertunangan. Dia akan bertunangan dengan seorang gadis dari klan yang begitu terhormat dari distrik Konoha. Mari aku undang pangeran Temujin dan pasangannya untuk naik ke atas panggung", ujar raja.

Kemudian laki-laki berambut pirang panjang bersama seorang wanita berambut indigo dengan mata amethyst segera berjalan menuju panggung. Semua mata terpana melihat mereka. Naruto juga kaget melihat hal itu.

"Hinata-chan...", gumam Naruto.

Pasangan itu akhirnya sampai di atas panggung dan Temujin segera memulai kata-kata sambutan.

"Selamat malam para hadirin sekalian, saya pangeran kedua dari kerajaan Knight's Territory, Temujin. Saya sebentar lagi akan bertunangan dengan putri dari pemimpin klan Hyuuga, klan terhormat dari distrik Konoha, Hyuuga Hinata", ujar Temujin.

Para hadirin segera bertepuk tangan mendengar kata-kata Temujin. Sementara itu Naruto langsung menundukan kepalanya.

"Kau tak apa-apa Naruto-kun?", tanya Shion.

"Aku tak apa-apa, Shion tunggu sebentar ya aku ke toilet dulu", ujar Naruto lalu mulai beranjak.

"Oh iya Naruto-kun", ujar Shion.

Naruto segera ke toilet untuk membasuh mukanya tapi saat dia keluar dari toilet, tak disangka dia bertemu dengan Hinata. Mereka berdua saling bertatapan tapi Naruto segera memalingkan wajahnya dan segera bergegas beranjak darisitu.

"Tunggu Naruto-kun..", ujar Hinata sambil menahan lengan Naruto.

"Ada apa Hinata-san? Kupikir kita tak punya hal yang perlu dibicarakan lagi", ujar Naruto dingin.

"Aku ingin berbicara denganmu. Bolehkah aku meminta waktumu sedikit?", tanya Hinata.

"Baiklah tapi jangan lama-lama, karena sayangku pasti akan cemas jika aku tak kembali terlalu lama", ujar Naruto.

"Aku mengerti...", ujar Hinata.

Hinata kemudian mengajak Naruto ke lantai paling atas dari convention hall yaitu bagian atap. Terlihat langit malam penuh dengan bintang dan bulan yang bersinar dengan indah.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?", tanya Naruto.

"Naruto-kun apa selama ini kau baik-baik saja?", tanya Hinata.

"Aku baik-baik saja. Biarpun kini aku miskin, tapi aku selalu bahagia karena masih ada Shion yang selalu menyayangi dan memperhatikanku", ujar Naruto.

"Jadi begitu, Shion akhirnya mendapatkan hatimu ya Naruto-kun?", tanya Hinata.

"Tentu saja, aku telah melakukan kesalahan bodoh karena tak menyadari bahwa selama ini Shion-lah yang selalu mengerti dan memperhatikan aku. Dia selalu menyayangiku dengan tulus, berbeda denganmu yang hanya memandang status sosial orang lain!", ujar Naruto.

Perlahan-lahan airmata Hinata mulai mengalir membasahi pipinya. Naruto kaget melihat hal itu.

"Gomenasai Naruto-kun...gomenasai..", ujar Hinata lirih.

"Cih, aku sudah tak perduli lagi denganmu. Hiduplah sesuai dengan keinginanmu", ujar Naruto lalu mulai berbalik untuk meninggalkan tempat itu.

GREBB

Hinata memeluk Naruto dari belakang. Naruto kaget mendapat pelukan dari Hinata yang tiba-tiba ini.

"A-apa yang kau lakukan Hinata-san? Lepaskan aku!", ujar Naruto.

"Kumohon Naruto...kumohon tolong selamatkan aku...Aku tak mau menikah dengan Temujin... Selama ini Otou-sama yang telah memaksaku untuk meninggalkanmu dan memaksa aku untuk bersanding dengan Temujin. Kumohon Naruto bawa aku pergi, aku hanya ingin bersamamu...", ujar Hinata.

"Apa kau pikir, aku tak sakit hati selama ini?! Kau tega meninggalkanku begitu saja! Dan sekarang kau memohon untuk membawamu pergi?!", tanya Naruto dengan emosi.

"Gomen Naruto-kun...Maafkan aku, aku sadar hanya kamu yang selalu ada di hatiku. Aku takkan pernah bisa mencintai orang lain. Aku hanya bisa mencintaimu Uzumaki Naruto!", ujar Hinata. Naruto tertegun mendengar perkataan Hinata. Naruto kemudian membalikan badannya menghadap Hinata dan Hinata melepaskan pelukannya.

"Ugh kau merepotkanku saja..Baiklah aku..ummfh..", ujar Naruto lalu terhenti karena Hinata langsung mencium bibir Naruto dengan tiba-tiba. Hinata terus memperdalam ciumannya dan lama-kelamaan Naruto mulai membalasnya.

Sementara itu ternyata Shion telah melihat semua kejadian itu dari balik pintu. Dia kaget melihat Naruto dan Hinata berciuman. Dia kemudian mulai berjalan mendekati mereka.

"Naruto-kun...", ujar Shion.

Naruto dan Hinata kaget mendengar suara itu. Mereka langsung berhenti berciuman lalu kaget melihat Shion.

"Shi-Shion!", ujar Naruto kaget.

"Ja-jadi begitu ya...Kau dan Hinata-senpai...", ujar Shion lirih, airmata mulai membasahi pipinya.

"Ti-tidak kau salah paham Shion. Kumohon dengarkan aku dulu..", ujar Naruto lalu mulai mendekati Shion.

"A-aku mengerti sekarang... Maaf telah menganggu...", ujar Shion lalu segera berlari darisitu dengan berlinangan airmata.

"Tunggu Shion!", ujar Naruto sambil mengejar Shion.

Shion dengan cepat telah keluar dari gedung itu dan segera menaiki taksi. Sementara itu Naruto berhasil menyusulnya dan mengetuk-ngetuk jendela taksi yang dinaiki Shion.

"Kumohon Shion, dengarkan aku. Itu tadi semua hanya salah paham!", ujar Naruto.

"Pak, segera jalankan taksinya", ujar Shion.

"Baik, ojou-sama", ujar supir taksi.

"Shion! Shion!", ujar Naruto yang berusaha mengejar taksi itu.

Shion akhirnya tiba di rumahnya di distrik Konoha. Shion segera disambut Naruko.

"Tadaima...", ujar Shion dengan lesu.

"Okaerinasai, lho Onee-san tidak bersama Onii-chan?", tanya Naruko bingung.

"Ah itu... aku lelah sekali jadi aku pulang duluan..", ujar Shion lalu langsung menuju kamarnya.

"Eh?", Naruko agak bingung mendengar perkataan Shion barusan. Naruko kemudian menyusul Shion ke kamarnya.

"A-ano Onee-san kalau boleh tahu mengapa Onee-san tampak begitu sedih? A-apa yang sebenarnya terjadi?", tanya Naruko.

"Ti-tidak apa-apa, aku hanya ada masalah sedikit saja dengan kakakmu", ujar Shion.

"A-apa yang terjadi?! Onii-chan berbuat apa padamu?!", tanya Naruko.

"Naruko-chan gomen, aku begitu lelah, aku mau beristirahat, bolehkah kau membiarkanku sendiri dulu?", ujar Shion lalu mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

"Baiklah, silahkan beristirahat Onee-san..", ujar Naruko. Naruko kemudian keluar dari kamar Shion dan kemudian melihat Naruto yang baru pulang.

"Naruko-chan mana Shion?", tanya Naruto.

"Dia sedang beristirahat di kamarnya, dia tak mau diganggu. Onii-chan sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang membuat Onee-san sedih begitu?", tanya Naruko.

"E-eto...se-sebenarnya..", ujar Naruto.

"Ayo ceritakanlah padaku. Kau tak berbuat macam-macam pada Onee-san?", tanya Naruko.

"Bukan begitu, ada sedikit kesalahpahaman antara kami. Aku ingin segera bicara dengannya agar bisa meluruskan masalah ini", ujar Naruto.

"Apa yang terjadi? Cepat katakan padaku!", ujar Naruko.

"Se-sebenarnya dia tak sengaja melihatku berciuman dengan Hinata...", ujar Naruto dengan muka sendu.

Mata Naruko membulat sempurna mendengar hal itu. Naruko kemudian menatap tajam Naruto.

PLAKK..

Naruko kemudian menampar pipi Naruto dengan keras. Naruto kaget mendapat tamparan yang tiba-tiba itu Naruko.

"Kau memang bajingan nii-chan! Kenapa kau berbuat seperti itu di hadapan Onee-san! Kau ini sekarang kekasihnya!", ujar Naruko geram.

"Aku tak bermaksud seperti itu. Hinata yang tiba-tiba menciumku, tapi ternyata Shion melihat kami berciuman", ujar Naruto.

"Kenapa kau tak menolak ciuman Hinata-senpai?! Jika kau sudah tak mencintainya lagi, kau pasti akan langsung menolaknya bukan?!", tanya Naruko dengan geram.

"A-aku...", ujar Naruto sambil terus menundukkan kepala.

"Jangan-jangan kau masih menyukai Hinata-senpai?!", tanya Naruko.

"A...aku...", gumam Naruto sambil terus tertunduk.

BUAKKH!

Naruko memukul pipi Naruto dengan keras hingga Naruto terpental. Naruko kemudian menatap Naruto dengan tatapan tajam.

"Kau benar-benar sialan! Kau pasti masih menyukai gadis pengecut itu bukan?! Kau tak pernah mencintai Onee-san bukan?!", ujar Naruko dengan geram.

"Bu-bukan seperti itu...tapi aku masih sulit melupakan Hinata...Dia masih terus membekas dalam diriku...", ujar Naruto.

BUAKKH!

Naruko kemudian menendang kepala Naruto dengan keras hingga berdarah. Naruko benar-benar marah mendengar perkataan Naruto.

"Aku selalu berharap nii-chan bisa menyukai Shion-nee-san. Tapi jika begini lebih baik kau tak pernah muncul di hidup nee-san. Kau hanya membuat dirinya sakit dan menderita!", ujar Naruko.

"Aku sudah berusaha menyukainya..tetapi ketika aku melihat Hinata...aku menjadi sulit untuk melupakannya...Rasa itu masih tetap ada...", ujar Naruto lirih.

"Kau memang bedebah! Kau kurangajar! AKU SANGAT MEMBENCIMU NARUTO!", ujar Naruko geram.

Naruto Cuma tertunduk sedih mendengar perkataan Naruko tadi. Dia telah mengecewakan adiknya. Satu-satunya saudara yang dimilikinya saat ini.

"Besok kita harus segera keluar dari rumah ini. Aku benar-benar malu karenamu Onii-chan..", ujar Naruko lalu menuju ke kamarnya.

"Gomen...Naruko-chan...", gumam Naruto.

Besok paginya Naruto dan Naruko telah berkemas untuk segera keluar dari rumah Shion. Kini mereka sudah berada di depan pintu masuk dan berhadapan dengan Shion.

"Onee-san maafkan kami telah merepotkanmu selama ini. Kami memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Aku rasa kami sudah tak pantas untuk tinggal disini lagi", ujar Naruko.

"Ti-tidak apa-apa Naruko-chan, kalian tak perlu sampai pindah seperti ini. Tinggallah selama kalian mau", ujar Shion.

"Tidak. Aku rasa setelah yang diperbuat Onii-chan padamu, kami tak mungkin bisa tinggal disini lagi. Aku benar-benar minta maaf karena perbuatan kakak-ku ini", ujar Naruko sambil membungkuk.

"Shi-shion..a-aku..", ujar Naruto.

"Aku sudah mendengar semuanya dari pembicaraan kalian tadi malam. Aku tahu selama ini kau masih menyukai Hinata-senpai. Tapi tak apa-apa, aku takkan memaksakan kehendakku. Kembalilah kepada Hinata-senpai, Naruto-kun. Kamu harus bersama dengan orang yang benar-benar kau cintai. Sepertinya kita harus mengakhiri semuanya disini...", ujar Shion.

"Ti-tidak, Shion a-aku...", ujar Naruto terbata-bata.

"Kuharap setelah ini kita bisa terus bersahabat Naruto-kun. Aku minta maaf karena telah masuk dalam kehidupan kalian berdua..Semoga kamu dan Hinata-senpai bisa bersama lagi dan hidup bahagia..", ujar Shion.

Naruko mulai menangis mendengar perkataan Shion. Naruto Cuma tertunduk sedih.

"Onee-san kami akan segera berangkat. Sekali lagi terima kasih banyak atas kebaikanmu selama ini. Kami akan selalu mengingatnya. Sayonara..", ujar Naruko.

"Shi-Shion...", ujar Naruto yang mulai menangis.

"Sayonara. Hati-hati di jalan..", ujar Shion sambil senyum.

Naruto dan Naruko mulai berbalik dan keluar dari kompleks rumah Shion. Naruko terus menangis dan Naruto Cuma tertunduk dengan sedih. Sementara Shion juga akhirnya masuk kerumahnya dan mulai menangis.

Naruko kembali menatap tajam Naruto dan mencercanya.

"Kau pasti akan menyesal, karena sudah menyakiti gadis sebaik Shion-nee-san, dasar bajingan!", ujar Naruko.

Hari senin tiba. Setelah mengikuti pelajaran selama beberapa jam akhirnya bel tanda pulang berbunyi. Shion segera keluar dari kelasnya untuk pulang. Tapi di gerbang ternyata Naruto datang untuk menemuinya.

"Shion", ujar Naruto.

"Naruto-kun ada apa kau datang kesini?", tanya Shion.

"A-ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bolehkah kau ikut aku sebentar?", tanya Naruto.

"Sepertinya tak ada yang perlu dibicarakan. Semua sudah beres. Kita sudah memutuskan ikatan kita sebagai pasangan kekasih. Maaf aku ada urusan yang sangat penting, aku pergi dulu", ujar Shion lalu bergegas beranjak darisitu.

"Shion...", gumam Naruto.

Shion kemudian menuju taman yang tidak jauh dari sekolahnya. Shion kemudian duduk di bangku taman itu. Tapi tiba-tiba ada yang menutup matanya dengan tangan.

"He-hei a-apaan ini?", ujar Shion kaget.

"Tebak siapa aku?"

"Su-suara ini? Kuro ya?", ujar Shion.

"Hahaha, kau hebat bisa menebaknya dengan benar!", ujar Kuro lalu membuka mata Shion dan langsung duduk di sebelah Shion.

"Kuro, aku tak pernah melihatmu akhir-akhir ini, darimana saja kau?", tanya Shion.

"Rahasia. Aku tak mau memberitahukannya padamu", ujar Kuro.

"Huh, kau ini. Dasar pria aneh!", ujar Shion dengan muka cemberut.

"Hahaha, mukamu jadi lucu jika cemberut seperti itu", ujar Kuro.

Shion kemudian terdiam lalu mukanya kembali sedih. Kuro menjadi heran karena perubahan raut wajah Shion.

"Kau kenapa, kenapa daritadi kulihat mukamu sedih melulu? Ada masalah apa? Cerita saja padaku", ujar Kuro.

"Sebenarnya aku sudah putus dari Naruto-kun", ujar Shion.

"Eh? Ke-kenapa?", tanya Kuro kaget.

"Aku memang bodoh. Terlalu mengharapkan cintanya..Ternyata dia masih menyukai Hinata-senpai..Aku tahu tapi aku pura-pura tak menyadarinya...", ujar Shion lalu mulai menitikkan air mata.

"Shi-Shion...", gumam Kuro.

"Kuro kenapa ya begitu sulit untuk mendapatkan kebahagiaan. Aku Cuma berharap bisa bahagia bersama dengan orang yang aku cintai tetapi hal itu begitu sulit untuk dicapai..", ujar Shion lirih sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Kuro.

"Aku yakin suatu saat kamu bisa mencapai hal itu... Karena kamu gadis yang benar-benar baik Shion...", ujar Kuro sambil mengelus-elus rambut Shion dengan tangan kanan-nya tetapi tangan kirinya mengepal dengan kuat.

"Kuro aku mau pulang, bolehkah kau mengantarku pulang?", tanya Shion.

"Baiklah", ujar Kuro. Kuro kemudian mengantar Shion ke rumahnya naik kereta.

Besok siangnya Naruto baru pulang dari sekolahnya dari White Knight Academy. Dia melewati sebuah taman untuk kembali ke rumah kontrakannya yang baru. Tapi tiba-tiba dia dihadang sesosok orang bertopi hitam dan berkacamata hitam.

"Bu-bukankah kau temannya Shion, kalau tidak salah namamu Kuro kan?", tanya Naruto.

"Hn, itu benar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu", ujar Kuro.

"Eh? Apa yang ingin dibicarakan?", tanya Naruto.

Kuro kemudian melepaskan topinya lalu melepaskan kacamata hitamnya. Dan tampaklah sosok pria berambut hitam jabrik dengan muka yang sangat mirip dengan Naruto. Naruto sangat kaget melihatnya.

"Ti-tidak mungkin kau...", ujar Naruto kaget.

"Naruto, lama tak bertemu", ujar Kuro.

"Menma adikku ternyata kau masih hidup...", ujar Naruto lalu mendekati Menma untuk memeluknya. Tapi Menma segera mundur ke belakang untuk menghindari Naruto.

"Aku datang bukan untuk reuni keluarga. Aku hanya ingin membereskan sesuatu", ujar Menma.

"Apa maksudmu?", tanya Naruto bingung.

"Aku akan melenyapkanmu dari dunia ini, Naruto!", ujar Menma lalu mengaktifkan sharingan-nya.

"Mangekyou Sharingan...", ujar Naruto kaget.

Pertarungan antara saudara kembar segera dimulai...

To Be Continued...

Yosh chapter 19 update! Gomen karena update-nya lama banget, lagi-lagi tugas kuliah yang menumpuk menghambat saya untuk bisa update fic. Tapi karena akhirnya punya waktu luang saya bisa update fic ini.

Di chap ini akhirnya hubungan NaruShion harus kandas karena ternyata Naruto belum bisa melupakan Hinata dan Shion memergoki mereka berdua berciuman. Tapi karena Shion yang sekarang begitu baik, dia tidak marah besar pada Naruto. Naruko pun yang akhirnya menghantam Naruto dengan beberapa pukulan. Naruto dan Naruko akhirnya pergi dari rumah Shion dan kembali mengontrak rumah. Di akhir chap akhirnya identitas Kuro terungkap. Ternyata Kuro adalah Menma, adik kembar Naruto. Tapi Menma berniat menghabisi Naruto karena suatu alasan. Bagaimana kelanjutannya? Tunggu aja chap depan.

Yang login saya sudah balas reviewnya lewat PM.

Ini balasan review buat yang tidak login:

Topeng Retak: Maaf tapi alur ceritanya dibuat seperti in karena Naruto spertinya akn kembali bersama Hinata. Karena rasa cinta Naruto begitu besar pada Hinata. Ok! Thx buat rnr!

Unknown person: Arigato! Ok! Thx buat rnr!

Yuka Haruka: di chap ini identitas asli Kuro akhirnya terungkap. Ok! Thx buat rnr!

Sevensword: Daijoubu. Arigato! Ok! Thx buat rnr!

The Guest: Ok! Thx buat rnr!

Sammy-kun: Ok! Thx buat rnr!

Guest: Ok! Thx buat rnr!

Natsumi-chan: semoga aja. Ok! Thx buat rnr!

Narutoloverz: Ok! Thx buat rnr!

Makasih banyak bagi para readers yang udah menyempatkan diri untuk membaca fanfic ini. Semoga anda terhibur dengan cerita yang disuguhkan. Jangan lupa juga memberi jejak berupa review ya? Review sangat berguna bagi author untuk mengembangkan cerita.

REVIEW PLEASE?

ARIGATOU GOZAIMASHITA!