Zitao terbangun karena ketukan yang tidak manusiawi di pintu kamar. Dia melirik jendela yang masih tertutup. Dengan malas, dia membuka pintu kamar.

Wajah seorang yang asing tengah tersenyum lebar menjadi pemandangan pertama yang terlihat begitu daun pintu terayun membuka. Rambutnya yang berwarna abu-abu dan mencuat ke berbagai arah tampak basah karena habis mandi. Zitao mengucek mata. Pemandangan ini terlalu jelas untuk ukuran manusia yang baru bangun tidur sepertinya.

"Selamat pagi penghuni baru," sapanya ramah sambil melambaikan tangan.

"Ada apa?" tanyanya dengan suara parau.

"Ayo ke bawah. Semua penghuni asrama sudah di berkumpul untuk sarapan."

Zitao melihat sekeliling kamarnya.

"Dia sudah berada di bawah," Sehun berucap seperti mengetahui isi pikiran Zitao.

Zitao mengangguk singkat sebagai jawaban dan kembali menutup pintu. Dia memang sangat lapar karena kemarin dia hanya memakan roti dan sepiring nasi goreng kimchi saja.

"Aku duluan!" katanya sebelum berlari menuruni tangga menuju ruang makan.

Zitao meraih baju seragam yang sudah disiapkan dari sebelum kedatangannya kemari. Di kaca wastafel dia tersenyum melihat pantulan dirinya sendiri. Terlalu mengerikan. Kantung matanya semakin membesar saja. Dia benar-benar kacau.

Setelah mandi, dia kembali berkaca. Kali ini menjadi sosok yang lebih menawan. Dia mengenakan jaket NIKE berwarna merah untuk menghalau rasa dingin dari musim dingin di Korea.

Semua penghuni asrama sudah menunggu di ruang makan. Kedatangan Zitao membuat suasana yang ramai seketika hening. Satu bangku yang tersisa ada di sebelah Kris. Mungkin mereka takut duduk bersebelahan dengan pemuda 'buas' itu.

"A…anyeong haseyo…" sapanya kaku.

Semuanya membalas seadanya. Ingin tertawa dengan aksen Zitao yang terdengar aneh di telinga mereka.

Di atas meja, Ibu Song suda menyiapkan beberapa hidangan sarapan ala tradisional Korea; Galbi, kongnamul Bab, Oi naengguk, dan Moo sangchae. Semuanya tampak asing di mata Zitao.

"Ayo, dimakan Zitao!" Baekhyun yang duduk di depannya berucap semangat.

"Ya…"

Suasana makan benar-benar terasa hidup. Zitao ikut tertawa kalau ada yang lucu meskipun terkadang dia tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Maklum saja, bahasa Korea nya masih dasar.

"Ano… aku ingin bertanya," Zitao mengucap malu-malu. "Bisakah…" dia berfikir cukup lama untu memikirkan yang tepat. Setidaknya menjelajahi kosa kata Korea di otaknya untuk merangkai kalimat.

Dia lalu melirik Kris setalah merasa putus asa.

"Kris, bagaimana aku mengatakan kalau aku butuh satu kasur untuk tidur?" bisiknya pada Kris dengan bahasa Mandarin.

Kris hanya meliriknya sekilas lalu mengabaikannya. Zitao menghela nafas.

"Ada apa Zitao?" Tanya pemuda bermata bulat di sebelahnya— Do Kyungsoo.

Zitao menggeleng.

"Kalau kau kesulitan bahasa dan Kris tidak mau menerjemahkannya, tanyakan saja pada Luhan." Baekhyun merangkul pemuda cantik yang duduk di sebelahnya. "Dia juga orang Tiongkok, loh. Rusa dari Beijing," lanjutnya.

Zitao berbinar-binar menatap pemuda yang Baekhyun perkenalkan sebagai Rusa dari Beijing itu.

"Benarkah?"

"Yip!"

"Kalau begitu—"

"Aku sudah selesai." Kris memotong kalimat Zitao lalu beranjak dari kursinya. Semuanya hanya menatap kepergian lelaki yang sangat tidak bersahabat dengan siapapun.

"Abaikan saja. Jadi apa yang ingin kau ucapkan? Biarkan Luhan's Translator yang bekerja." Chanyeol ikut-ikutan.

"Itu… aku butuh kasur untuk tidur. Apa aku harus memintanya pada Ibu Song?"

Luhan menaikan sebelah alisnya. "Kasur? Bukankah di kamar kalian ada?"

Zitao menggeleng. "Hanya ada satu. Kris menyuruhku untuk tidur di bawah dengan karpet."

"APA?!" Luhan mendadak memekik. "Tidur di bawah di musim dingin seperti ini?"

Zitao mengangguk.

Luhan menghela nafasnya kasar. Merasa shock dengan penuturan Zitao barusan.

"Kenapa Lu? Kenapa?" Baekhyun mengguncang-guncang tubuh Luhan.

"Kris kejam. Dasar manusia itu!" Luhan memundurkan kursinya. Dia lalu beranjak menghampiri Zitao. Pemuda cantik itu menarik tangan Zitao dan memaksanya untuk mengikuti langkahnya.

"Hey, Luhan ada apa?" Sehun berteriak tetapi Luhan sama sekali tidak merespon.

Luhan membuka pintu kamar Kris dan Zitao dengan kasar. Kris yang sedang memakai mantelnya menatap kesal ke arah mereka berdua. Tanpa permisi, Luhan mengajak Zitao masuk meskipun dia tahu Kris tidak menyukainya.

"Ini namanya trundle beds. Ranjang di bawah sini bisa ditarik." Luhan menarik ranjang yang dia maksud.

Zitao menatapnya takjub. Dia lalu menarik lagi ranjang yang sekarang sudah sah menjadi miliknya itu.

"Kris, kenapa tidak memberitahuku, huh?"

"Aku tidak tahu," jawab Kris seadanya.

Kris lalu pergi keluar kamar setelah merasa dirinya rapid an siap untuk ke sekolah. Kedua orang lainnya hanya menatap punggung pria pirang itu dengan tatapan kesal dan satunya lagi dengan tatapan polos— Zitao.

"Kadang kau harus bersikap keras pada orang seperti Kris, Zitao," saran Luhan.

"Aku penasaran kenapa Kris bisa seperti itu."

Luhan menggedikan bahunya. "Semejak kedatangannya ke sini, dia sudah seperti itu."

.

.

.

.

.

Hari ini adalah hari sial pada Kris.

Dia tidak bisa meninggalkan sekolah dan pulan ke kamar asramanya yang hangat karena terjebak salju. Seharusnya dia sudah pulang dari dua jam yang lalu. Tapi karena dia ketiduran di ruang olahraga dan kebabalasan, dan berakhirlah dia sendirian menunggu salju sedikit mereda.

"Salju!"

Ternyata dia tidak sendirian. Pekikan seseorang yang belakangan ini tidak asing di telinganya tredengar.

Lalu langkah kaki berhenti di sebelahnya.

"Kris!" lalu Zitao memekikan namanya dengan suara riang.

Acuhkan saja dirinya— bathin Kris.

"Kenapa belum pulang Kris?" Zitao masih belum menyerah untuk berbincang dengan Kris.

"Tenang saja, aku tidak akan marah padamu masalah ranjang itu, kok. Aku tahu kau berniat membuatku tidak betah, kan?"

Akhirnya Kris menoleh kepadanya.

"Kau…"

"Setelah mengetahui beberapa fakta tentang dirimu, seperti kau menyukai tempat yang gelap, tempat yang sepi, dan kau adalah orang yang penyendiri, aku memakluminya."

Kris masih setia mendengarkan.

"Berarti di Seoul ini aku sekarang punya dua misi," Zitao menghadap Kris. "Satu membuat kau menjadi bisa menikmati hidup dan kedua…" Zitao mengankat tagannya. Menunjukan jemari lentiknya yang tersemat sebuah cincin berwarna perak. "…dan kedua menemukan seseorang bernama Wu Yifan."

Deg…

Deg…

Deg…

Kris tidak tahu kenapa jantungnya mendadak bekerja dua kali lebih keras kali ini. Selama beberapa detik dia merasa terlempar ke ruangan hampa udara. Tidak ada suara, bernafas terasa tercekat.

"Darimana kau dapat cincin itu?" suara Kris terdengar parau.

"Oh, ini? Sepupuku Zhang Yixing yang memberikannya padaku," jawab Zitao polos.

"Aku punya seorang sepupu. Dia manis, dia riang, dan cerewet. Dunia di sekitarnya selalu berwarna-warni. Orang yang hidupnya hanya hitam-putih akan masuk ke dalam dunia yang penuh dengan warna jika bersamanya."

"Begitukah?"

"Ya. Maka dari itu,kalau kau bertemu dengannya kau harus menjaganya. Dia itu hanya bocah cengeng."

"Kekanakan, yah?"

"Ya. Meskipun begitu, aku benar-benar menyayanginya."

Kris menatap nanar Zitao yang masih belum peka terhadap situasi yang mendadak berubah.

"Zhang Yixing?" Kris membeo. Tenggorokannya terasa sakit untuk bersuara.

"Eheum. Kau mengenalnya?" Zitao bertanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Zhang Yixing… dimana dia?" suara Kris semakin memelan.

Mendengar pertanyaan itu, mata Zitao serasa memanas. Jantungnya terasa sakit. Dia berusaha mengumpulkan udara untuk menenangkan diri.

Melihat reaksi Zitao yang mendadak berubah, Kris menghela nafas lelah.

"Dimana dia?" ulangnya sekali lagi.

Zitao memalingkan wajahnya dari Kris.

"Kau menangis," katanya pelan. "Sebenarnya ada apa? Dimana Yixing?"

"Aku tidak menangis," bantahnya. Sebuah kebodohan besar yang ia lakukan karena jelas-jelas air bening itu sudah mengalir di pipinya. Alirannya semakin deras ketika dia beursaha untuk menghentikannya. "Sial, aku menangis lagi."

Kris punya firasat buruk tentang ini setelah melihat reaksi Zitao.

Kris merogoh sakunya dan mengeluarkan sapu tangan berwarna biru dongker. "Pakai saja, ini bersih."

Zitao meerima uluran sapu tangannya dan mengelap air matanya yang mengalir. Pundaknya mulai naik turun tak beraturan. Aliran udara meuju paru-parunya mulai tersendat.

"Aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Tapi…"

Zitao bisa melihat raut penyesalan di wajah Kris.

"Aku akan menceritakannya. Karena ku pikir, kau adalah teman baik Yixing." Zitao tidak tahu mendapat sugesti darimana kalau Kris adalah teman baik Yixing.

Ia mendudukan tubuhnya di atas lantai diikuti Kris.

"Saat itu, saat aku mendengar kalau Yixing sudah sadar dari komanya, aku benar-benar senang. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung berlari ke rumah sakit. Semuanya di sekelilingku serasa tidak bersuara.

Tanpa melihat lampu penyebrangan yang berwarna merah, aku terus saja berlari. Bahkan truk yang melaju dan sudah membunyikan klakson berkali aku tidak bisa merasakan dan mendengarnya," jeda selama beberapa detik "…dan aku tertabrak. Cukup keras sampai-sampai semua orang mengira aku mati di tempat."

Zitao melirik Kris yang mash menjadi pendengar setia.

"Aku dilarikan ke rumah sakit. Dokter bilang jantungku rusak terkena tulang rusuk ku yang patah. Jalan satu-satunya hanya donor jantung. Tapi siapa orang gila yang mau memberikan jantungnya pada orang yang sekarat? Semua orang memilih untuk hidup.

Tapi ternyata…" Zitao menggigit bibir bawahnya. "Orang gila itu Zhang Yixing sendiri."

"Kau yakin Yixing?"

"Aku bahkan lebih yakin dari kalian."

"Tapi…"

"Apakah kalian tahu aku sadar dari koma hanya untuk mngucapkan selamat tinggal pada kalian? Aku tidak punya waktu lama lagi untuk hidup. Masih banyak hal-hal yang ingin aku lakukan. Jadi, biarkan Zitao yang melakukan hal-hal itu."

"Sekali lagi aku bertanya, apa kau yakin?"

"Hanya jantung ku yang bisa menyelematkannya, kan? Kalau begitu aku benar-benar yakin."

.

"Selamat tinggal. Sampaikan salam ku pada Zitao"

.

Kris Nampak kaget dengan cerita darinya. Dia terlihat begitu terpukul. Wajahnya berubah pucat dan ia mengusap wajahnya berkali-kali. Akan tetapi, dengan cepat ia mengubah raut wajahnya seperti sedia kala. Tenang.

Dan, ketika seluruh ceritanya selesai, Zitao merasa lega. Dia tidak pernah menceritakan masalah bathinnya ini kepada siapapun. Kris adalah orang pertama yang mendengarkannya dengan baik.

"Jadi begitu," gumam Kris pelan, setelah sesaat Zitao mengakhiri ceritanya. "Aku turut berduka cita."

"Terima kasih," ujar Zitao sambil tersenyum tipis. "Tapi ngomong-ngomong… kau siapanya Yixing?"

Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Sampai akhirnya Kris menjawab,

"Aku… temannya Yixing."

.

.

.

.

.

.

Huang Zitao berulang kali mendengar lantunan nada dari bibir Kris yang bersenandung lirih. Entah Kris adalah orang yang melankolis atau bukan, tapi pria pirang itu terus saja melantunkan nada The man who can't be moved dari The Script.

Kris sedang duduk di meja belajarnya membelakangi Zitao. Berkutat dengan sebuah kotak berwarna ungu yang tidak ingin Zitao untuk ketahui apa isinya.

Rasanya benar-benar berbeda. Kris kembali dingin padanya setelah perbincangan panjang mereka tadi di sekolah. Menghela nafasnya panjang, Zitao menutup matanya, menikmati nada merdu yang dilantunkan Kris.

Entah berapa lama Zitao memejamkan matanya, yang dia tahu hanyalah dia jatuh terlelap diiringi senandung dari Kris.

Kris memandang selembar foto dengan tatapan lirihnya.

Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet,
And you'd see me waiting for you on the corner of the street.

So I'm not moving
I'm not moving

I'm not moving
I'm not moving

Going back to the corner where I first saw you,
Gonna camp in my sleeping bag not I'm not gonna move.

(The Script-The Man Who Can't Be Moved)

Dan pada akhirnya, dia menyerah. Air mata itu mengalir begitu saja. Dia hanya bisa menangis tanpa suara. Meluapalkan semua emosinya yang bercampur aduk.

.

.

.

.

.

.

Zitao mengerjapkan matanya perlahan-lahan karena silau yang disebabkan oleh cahaya matahari yang masuk melalui tirai jendela yang terbuka. Dia menguap lalu merenggangkan tubuhnya.

"Jadi, apa suaraku terlalu bagus sampai kau terlelap, hm?"

Kris berdiri di samping ranjang Zitao dengan senyum jahil.

Senyum… jahil.

Kris tersenyum.

"Aku membuka tirai. Setelah kupikir-pikir, kamar ini butuh diterangi cahaya matahari juga sesekali. Tidakkah kau merasa begitu?"

Zitao mengerjap. Dia tidak bermimpi, kan? Kris mengajaknya berbicara. Membicarakan topik yang sama sekali tidak penting sebenarnya. Tapi bukankah ini sebuah kemajuan?

Kris mendudukan dirinya di samping Zitao. Menatap pemuda panda yang masih Nampak berantakan karena baru bangun tidur itu.

"Zitao, bukankah kemarin kau bilang akan membuatku bisa menikmati hidup?" Kris mengubah nadanya menjadi serius. Dia menatap Zitao lekat-lekat.

Dengan ragu Zitao mengangguk.

"Kalau begitu, tolong kembalikan warna di hidupku lagi sama seperti saat masih ada orang itu." Suara Kris terdengar bergetar di telinga Zitao.

"Kris…"

"Kau pasti heran, kan kenapa aku tiba-tiba begini?"

Zitao kembali mengangguk.

"Karena… aku… aku ingin mengenalmu lebih jauh."

Deg

Zitao merasa jantungnya berdetak sangat cepat. Kalimat Kris membuatnya merasakan ada ratusan kupu-kupu di dalam perutnya; menggelitik.

Dia menyentuh dadanya. Merasakan bagaimana jantung yang diberikan Yixing itu berdetak abnormal. Tanpa sadar wajahnya memerah begitu matanya bersibobrok dengan mata tajam itu.

"Karena seseorang bernama Wu Yifan berjanji pada Yixing untuk menjagamu."

Deg

Deg

Debaran di jantungnya semakin keras. Saking kerasnya Zitao sampai merasakan ngilu. Dengan mata yang membulat, dia meraih tangan Kris. Menatap wajah tampan itu dengan penuh harap.

"Kau mengenal… Wu Yifan?" genggaman tangannya mengerat. "Dimana dia?"

Kris tersenyum lirih. "Dia sudah pergi."

Rasanya semakin sakit.

"Wu Yifan sudah mati saat berpisah dengan Zhang Yixing untuk selamanya."

Karena yang ada sekarang hanyalah Kris Wu.

Kris Wu— seorang Wu Yifan yang kehilangan warna dunianya.

"Maka dari itu, aku yang akan bertugas menjagamu. Demi menepati janji Wu Yifan."

Air mata Zitao mengalir. Dia menggelengkan kepalanya tidak percaya.

"Yifan, berjanjilah padaku kalau kita akan bertemu lagi."

"Aku berjanji."

"Aku menunggumu. Akan selalu menunggumu sampai kita bertemu lagi."

Tapi Wu Yifan hanyalah seorang pengecut yang tidak bisa menepati janjinya sampai akhir. Dia menerima Zitao masuk ke dalam kehidupannya hanya untuk menebus rasa bersalahnya pada Zhang Yixing.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

.

.

.TBC aja, deh /slapped

#Yeay, finally the second~ mwehehe… kenapa FF ini galau sangat? Berat ini berat. Duh… duh… /geleng-geleng pala/ Yaps, akhirnya ini cerita dilanjut. Pengen nangis jadinya T…T Finally, gue mendapatkan feelnya kembaleeh. MWAHAHAHA/ ketawa jahat/

#Well, FF ini temanya 7 Deadly Sins : Wrath and Hate Love. Hm…

As we know, Kris marah dengan takdir yang harus memisahkannya dengan Yixing /nangis Bombay/

Gimana? Gimana? Chapter depan Last chapter, loh… /senyum manja/ jadi kalian mau review, kan? Kalau gak gue mogok lagi /malingin muka/ padahal chapter depan bakal ada SAMTING. HAHAHA… *gue juga gak tau apaan* -_-

Oke, dah. Cuap-cuap kepanjangan. Sepanjang pisang Canada senikmat pisang Qingdao(?)

WO AI NIMEN~~~

Regard,

BabyMingA