Suasana di luar rumah masih gelap begitu Kris dan Zitao keluar dari asrama. Mereka akan pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan untuk hari ini karena hari ini adalah giliran belanja dari kamar nomor 17. Mau tidak mau mereka harus pagi buta dan merasakan dingin yang tetap menusuk meski sudah melapisi tubuh dengan pakaian hangat.
"Selama ini kau pergi sendiri untuk belanja?— maksudku, setiap kamar ada dua orang dan mereka selalu pergi belanja bersama. Dan kau…"
"Tidak," Kris memasukan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya. "Aku tidak pernah belanja. Tidak ada yang menyuruhku," lanjutnya.
"Oh…" Zitao mengangguk faham. "Kalau begitu, hari ini masak apa?"
Kris menggedikan bahunya. "Anak asrama memakan apa saja yang disajikan. Mungkin diberikan daging buaya saja akan mereka makan."
Zitao terkikik geli. "Kau punya selera humor yang bagus."
"Itu bukan lelucon. Bahkan Chanyeol dan yang lainnya pernah memakan daging ular."
"Hah?"
"Baekhyun saat itu iseng-iseng memasak daging ular dan memberikannya pada Chanyeol tanpa memberi tahu daging apa itu sebenarnya. Lalu katanya enak. Jadilah beberapa anak asrama mencobanya."
"Ewh…" mendengar ceritanya saja Zitao merasa mual. "Mendadak aku ingin makan sayuran saja."
.
.
.
.
Kris bersin beberapa kali. Dia mengusap hidung nya yang memerah dan menyandarkan tubuhnya pada dinding restaurant yang masih tutup. Mereka sedang berteduh karena salju yang mendadak turun. Seharusnya Kris menerima usul Zitao untuk meminjam payung milik Kyungsoo.
"Kau terlihat lebih tampan dengan hidung yang memerah seperti itu," gumam Zitao sambil mengusak rambutnya yang terkena salju. "Andai aku membawa ponsel akan ku foto kau."
"Jangan menggodaku seperti itu," ujar Kris sengau.
Kris menepuk jidat Zitao. Tangan Kris terasa begitu dingin ketika mengenai kulit wajahnya.
Salju masih turun selama sepuluh menit ke depan. Kris terlihat beberapa kali menggosok kedua tangannya mencari kehangatan di sana.
Berbeda dengan Kris, Zitao malah mengadahkan tangannya menampung setiap butiran salju yang turun.
"Aku suka salju," bisik Zitao tiba-tiba. "Salju yang turun dengan perlahan-lahan dan terlihat seperti peri-peri putih yang turun dari langit."
"Kenapa kau suka salju?" lalu Kris bersin kembali.
"Yixing dan aku selalu membuat boneka salju di depan rumah. Lalu terkadang kami perang bola salju. Setelah kami lelah, Yixing akan mengambilkanku handuk dan mengelap kepalaku yang basah.
Lalu dia akan membawakan sebaskom air panas untuk merendamkan kaki. Ah, dan tidak lupa secangkir coklat panas," gumam Zitao.
Kris menghela nafas. Dia juga pernah sesekali melakukan hal itu bersama Yixing.
"Yixing sangat menyayangimu," katanya.
"Oh ya?"
"Heum…"
Lalu hening menjemput mereka.
Salju yang turun saat itu membawa gambaran-gambaran kenangan dari Zitao maupun Kris. Setiap melihat butirnya, selalu ada kenangan yang tergambar. Yixing terlalu berkesan sehingga meninggalkan banyak kenangan untuk mereka.
"Aku benci salju," kata Kris.
"Kenapa?" Zitao bertanya dengan nada tidak suka.
"Salju itu dingin. Aku alergi dingin jadi aku akan terlihat lemah."
Zitao tertawa mendengar alasang Kris itu. Oke, itu manusiawi. Tapi baginya itu terdengar konyol dan menggelikan. Seorang Kris Wu yang keras kalah hanya dengan cuaca dingin.
"Kau boleh membenci dingin tapi jangan membenci salju." Zitao melangkah maju. Membiarkan tubuhnya menjadi tempat mendarat bagi salju-salju yang turun dari langit. Salju putih begitu cocok untuknya karena Zitao terlalu polos— bersih.
"Kau bisa mati kedinginan," desis Kris.
Zitao terkikik. "Tidak akan. Sekarang, kemarilah." Zitao mengulurkan tangannya.
Kris awalnya ragu. Lalu dia menerima uluran tangan Zitao. Tangan mereka bertaut. Mereka terlihat konyol karena membiarkan diri mereka terkena salju. Tangan Kris dingin sedangkan tangan Zitao hangat meskipun tangan itu habis mengadah salju.
.
.
.
.
Empat bulan.
Empat bulan sudah Zitao berada di Seoul. Niatan awalnya hanyalah untuk menemui cinta pertama Yixing dan menyampaikan kalau Yixing sudah meninggal dan mengatakan beberapa pesan terakhirnya dari sepucuk surat.
Tapi sayangnya, Wu Yifan sudah tiada. Sebenarnya sudah tidak ada alasan lagi bagi Zitao untuk menetap di negeri ginseng ini. Tapi, seorang lelaki bernama Kris Wu membutuhkannya.
Awal pertemuan mereka memang meninggalkan kesan yang menyeramkan. Tapi itu hanya berlangsung beberapa hari. Saat Zitao menceritakan tentang Yixing, Kris berubah total. Sebenarnya Kris bukanlah orang yang buruk. Dia hanyalah seorang pemuda yang mengalami trauma dengan kepergian 'sahabat'nya dan tidak ingin menerima orang lain lagi untuk masuk ke dalam ke kehidupannya.
Zitao tidak tahu pasti apa hubungan Kris dengan Yixing. Kenapa hanya dengan nama Yixing saja Kris bisa berubah? – entahlah, Zitao tidak ingin memikirkannya.
"Jadi, bagaimana Seoul setelah empat bulan berada disini?" Kris membuka percakapan.
Mereka sekarang berada di taman kota. Keduanya duduk di bangku taman. Mereka memperhatikan anak kecil yang sedang bermain pistol air yang tak jauh dari mereka.
"Bagus," jawab Zitao singkat. Dia terlalu focus memperhatikan anak-anak kecil yang sedang bermain.
Anak-anak kecil itu memulai perang pistol airnya. Mereka saling menembakan air dan langsung menunduk begitu ada air yang di arahkan ke mereka. Beberapa ada yang lolos dan tidak mengenai sang target dan malah mengenai sasaran lain. Contohnya Zitao dan Kris. Suara tawa mengisi gendang telinga Zitao. Begitu bahagia, seolah tanpa beban.
"Kau terlalu menyukainya," Kris mencibir.
Zitao menutup wajahnya dengan telapak tangan agar tidak terkena percikan air. Berbeda dengan Kris, dia terlalu malas untuk mengangkat tangannya.
"Bukankah ini terlalu sayang untuk dilewatkan?" balas Zitao.
Lalu tak berapa lama, orang tua dari anak-anak itu datang menjemput anak-anak mereka. Menggandeng mereka, mengajaknya pergi, mengelus puncak kepala mereka dengan sayang. Zitao memandangnya iri diam-diam. Terlalu iri sampai-sampai sinar bahagia dimatanya menjadi sendu.
"Sudah sore. Mau pulang juga?" tawar Kris.
Dia menoleh pada Zitao yang masih menatap lurus ke depan. Tatapan yang sangat sedih. Seperti merindukan sesuatu.
Nafas Zitao mendadak menderu. Dia tahu dia sedang marah. Marah tanpa alasan. Marah bercampur sedih. Marah pada kejadian yang baru saja dia lihat.
"Apakah kau pernah merasa kesepian dengan hidupmu?" Tanya Zitao pada Kris.
"Tidak," katanya.
"Kenapa?" Zitao tahu pertanyaannya ini sarkatis.
"Karena aku mencintai hidupku yang seperti ini."
"Kau masih punya orang tua?"
"Masih. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga mengabaikanku disini."
"Terkadang kau merindukan mereka? Berapa lama kau tidak bertemu?"
"Aku lupa sudah berapa lama. Tapi yang jelas, aku tidak merindukan mereka."
Zitao menghela nafasnya dalam-dalam. "Sebenarnya kau beruntung Kris," ia menatap Kris, "kau masih memiliki orang tua. Yah, meskipun jarang bertemu." Zitao tersenyum tipis. "Aku tiba-tiba merindukan orang tuaku." Ia tertawa. Tertawa tapi mengeluarkan air mata. Kris tahu Zitao sedang sedih saat ini.
"Aku kehilangan orang tuaku saat umur tiga tahun. Lalu keluarga Yixing yang mengadopsi ku. Dua tahun kemudian, orang tua Yixing kecelakaan dan meninggal. Jadilah aku hidup bersama Yixing saja. Dibantu dengan para pelayan," jeda beberapa saat, "aku lupa wajah orang tua ku bagaimana."
Kris tahu arah pembicaraan Zitao ini. Dia merengkuh kedua pundak Zitao, memaksanya untuk memandang dirinya.
"Zitao, dengar aku," katanya lembut, "jangan pernah merasa menjadi orang paling menderita di dunia karena orang tuamu sudah tiada begitu juga dengan Yixing. Setidaknya kau bersyukur kau pernah dimandikan oleh orang tua kandungmu, pernah merasakan air susu ibumu.
Bayangkan bayi-bayi di luar sana yang dibuang. Tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua mereka."
Zitao terdiam. Air matanya semakin meluncur dengan jelas.
"Kau masih memiliki aku. Kau masih memiliki orang-orang di asrama dan kau masih memiliki kenakan bersama Yixing. Setidaknya masih banyak yang menyayangimu. Kami keluarga barumu, Peach."
Dia menyeka air mata Zitao dengan menggunakan ibu jarinya. Diusapnya pipi Zitao perlahan-lahan sampai tak tersisa lagi jejak-jejak air mata di sana.
Zitao tersenyum lirih. Kris berkata dengan tepat.
"Aku kagum padamu. Kau tangguh."
"Terima kasih, Kris," kata Zitao pelan. Suaranya terdengar serak.
Kris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mendadak dia merasa aneh dengan dirinya sendiri. "Ergh, apa tadi terdengar aneh? Aku tidak pernah berkata seperti itu sebelumnya."
Zitao tertawa kecil. Iya, aneh juga mendengar Kris berkata seperti itu.
"Kau cantik saat menangis, asal tahu saja."
Deg
"Tapi lebih cantik saat kau tertawa."
Pipi Zitao merona hebat. Jantungnya berdetak abnormal. Ada rasa bahagia mendengar pujian Kris.
"Kau bercanda," Zitao mendorong pundak Kris. Dia terlalu gugup untuk saat ini.
"Aku serius. Apa belum pernah ada yang mengatakannya?"
Zitao menggeleng. "Kau yang pertama," cicitnya.
"Kasihan sekali," Kris nemepuk-nepuk kepala Zitao. "Tapi, kalau kau menangis lagi tidak apa-apa. Aku siap melihat wajah jelekmu itu saat menangis."
Zitao melotot.
Kris tertawa renyah. "Itu hanya untuk menghiburmu. Hehe…"
.
.
.
.
.
.
.
Ketika Zitao jatuh cinta, dia ingin sekali Yixing menjadi pendengar pertamanya. Mungkin ini adalah pertama kalinya Zitao merasakan yang namanya jatuh cinta.
Yixing sering bercerita tentang cerita cintanya yang sangat manis. Jantung yang berdebar-debar, wajah yang merona, tersipu, tersenyum malu-malu, dan perasaan yang lainnya. Zitao pikir itu hanya kata hiperbola dari Yixing. Tapi setelah dia mengalami, itu sungguhan.
Zitao menggulingkan badannya ke kanan. Menepi pada ujung ranjangnya. Dia sekarang berada di ranjang atas setelah Kris menyuruhnya. Zitao memperhatikan wajah Kris yang sedang tertidur. Terlihat tenang. Seperti pangeran di cerita Disney. Rambut pirang, hidung mancung, bibir merah… urgh, membuat Zitao bersemu saja.
"Kau belum tidur?" tiba-tiba Kris membuka matanya.
Zitao gelagapan karena kepergok sedang mengintip Kris yang sedang tertidur.
"A… be-belum," gugupnya.
"Tidurlah," perintah Kris. "Aku tidak bisa tidur kalau ada orang melihat tidurku." Kris ternyata memiliki insting yang kuat.
"Ma-maaf." Zitao buru-buru membenarkan posisinya. Menarik selimut lalu memeluk gulingnya. Wajahnya benar-benar seperti kepiting rebus saat ini.
.
.
.
"Selamat pagi," sapa Kris.
Pemuda itu sudah terlihat rapih. Pakaiannya hari ini bukan kaos oblong dan celana santai seperti biasanya. Kali ini, sebuah kemeja berwarna biru dibalut rompi rajut berwarna coklat tua serta celana bahan berwarna cream untuk membungkus kaki jenjangnya.
"Pagi. Kau mau pergi kemana? Ini hari Minggu."
Kris mengangguk. "Ya. Ada sedikit urusan."
Zitao mengangguk. Dia menyukai aroma mint bercampur aroma kayu manis dari parfum yang dikenakan Kris. Terkesan manly dan nyaman.
"Menu hari ini sup jagung. Sudah ada di meja belajarmu. Cepat di makan sebelum dingin," ucap Kris sambil mengenakan sepatunya.
Zitao menyibak selimut lalu mendudukan tubuhnya.
"Alright."
Kris lalu pamit pergi.
Zitao mendesah kecewa saat aroma itu perlahan-lahan menghilang bersamaan dengan sosok Kris yang sudah pergi dari kamar.
Dia memperhatikan sekeliling kamarnya. Terlihat berantakan. Pakaian Kris berceceran dimana-mana. Mungkin lelaki itu terlalu pusing untuk memilih baju sampai-sampai mengeluarkan hampir seluruh isi lemarinya.
"Setelah membereskan diri, aku akan membereskannya."
Setelah mengurus dirinya dan menyantap sarapan paginya, Zitao melaksanakan niatannya. Dia menghampiri meja belajar Kris lalu menggeleng. Dia tidak tahu apakah itu masih pantas disebut meja belajar atau tidak.
Buku pelajaran, komik, novel, alat tulis, semuanya tidak pada tempatnya.
Setelah menyelesaikan meja belajar, Zitao beralih pada lemari Kris. Dia membuka lemari pakaian pria itu untuk pertama kalinya. Dia tahu dia lancang. Tapi, dia tidak suka dengan keadaan kamar yang berantakan.
Saat sedang menyusun pakaian, matanya tertuju pada sesuatu yang menarik.
Dan saat itu pula, jantungnya mulai berdetak keras sekali.
Seketika darahnya berdesir. Dia bisa merasakan wajahnya memucat dan tubuhnya mulai gemetar melihat benda itu. Dia tahu dia tak seharusnya melihat benda itu karena sudah dipastikan itu rahasia. Otaknya mengarahkan untuk tidak melihat benda di sudut terdalam lemari Kris. Tapi tangannya membangkang dan meraih benda itu.
Foto Zhang Yixing. Ada berbagai foto Zhang Yixing dan self potrait Zhang Yixing dan Kris Wu.
Mereka bahagia saat bergaya di depan kamera. Yixing tampak alami ketika dirinya hanya sendirian di frame foto. Zitao tahu foto itu diambil diam-diam.
Kenapa bisa ada begitu banyak foto Yixing?
Tidak hanya itu saja, Zitao meraih benda lainnya yang mengkilap.
Sebuah cincin. Jantungnya terasa sakit karena berdetak begitu keras. Cincin yang sama seperti yang dia pakai. Tapi di balik cincin itu terukir sebuah nama.
Zhang Yixing.
Zitao meremas cincin itu lalu jatuh terduduk. Kakinya terasa lemas hingga tak sanggup menopang berat tubuhnya. Dibalik salah satu foto yang terjatuh, ada tulisan yang menjawab semuanya. Rahasia besar Kris Wu.
Zhang Yixing dan Wu Yifan.
Ya, itu adalah wajah Kris yang ternyata adalah Wu Yifan. Zitao tidak tahu alasan apa yang membuat Kris mengganti namanya.
Dia selama ini begitu dekat dengan cinta pertama sepupunya. Saking dekatnya sampai-sampai dia melewati batasnya. Mencintai Wu Yifan. Ini tidak seharusnya terjadi. Dia salah karena mencintai orang yang sama dengan orang yang paling dia sayangi dan hormati.
"Hah…" Zitao merasakan udara di sekitarnya menipis. "Yixing…" nafasnya mulai satu-satu. Jantungnya semakin sakit. Seperti akan copot.
"…tao!"
Pandangannya memburam tidak hanya karena air mata yang entah sejak kapan sudah keluar. Tapi juga karena kesadarannya yang mulai menipis.
"Zitao!"
Terakhir yang dia lihat, Sehun dan Kyungsoo berlari ke arahnya dan menangkap tubuhnya sebelum tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
.
Semuanya terlihat putih. Tubuhnya terasa hangat. Dia tahu dia berada dimana. Cukup melirik tangannya yang terinfus sudah menjelaskan kalau dia berada di rumah sakit. Zitao melirik sekelilingnya. Kosong. Tidak ada siapapun yang menungguinya di ruangan ini. dia bertanya-tanya kenapa bisa berada disini. Tapi semakin ingatannya memutar mundur, dia jadi teringat satu hal.
"Urgh," dia meremas dadanya sendiri.
Terlalu sesak. Terlalu menyakitkan.
Dia mendudukan tubuhnya. Memeluk lututnya sendiri lalu membenamkan wajahnya.
Sekarang, dia sudah mengetahui kenyataannya.
Dia memutar kenangannya bersama Yixing dan Kris. Dua kenangan yang terpisah, tapi keduanya memiliki benang merah.
Zitao akhirnya tahu alasan mengapa ekspresi dan perilaku Kris berubah begitu mengetahui bahwa Yixing sudah meninggal. Perasaannya pasti hancur ketika orang yang dia tunggu dan sangat cintai itu sudah tiada.
Wu Yifan belum meninggal. Wu Yifan berganti nama menjadi Kris karena dia benci dengan masa lalunya. Masa lalu yang membuatnya menderita. Memisahkannya dengan cintanya. Zhang Yixing adalah warna bagi dunia Wu Yifan. Dan ketika Zitao mengatakan akan mengembalikan warna hidup Kris, dia tidak akan pernah bisa. Ikatan cinta mereka terlalu kuat. Dia terlalu naïf.
"Karena seseorang bernama Wu Yifan berjanji pada Zhang Yixing untuk menjagamu."
Zitao mengingat ucapan Kris saat itu. Ternyata Kris peduli padanya hanya karena janji yang dia buat dengan Yixing. Tidak lebih. Lagi-lagi dia menyadari kalau dirinya terlalu naïf. Menyangka kalau Kris menerima dirinya seutuhnya. Lalu, semuanya yang sudah mereka lewati ternyata adalah kepura-puraan. Dia merasa kasihan pada dirinya sendiri.
Zitao melihat jari manisnya. Cincin yang diamanatkan Yixing masih tersemat. Tidak peduli dari siapa, Zitao melepaskannya dengan kasar lalu melemparkannya ke arah pintu. Dia berteriak histeris. Tepat saat cincin itu mendarat di depan pintu, pintu ruangannya terbuka. Menampilkan Sehun dan Kyungsoo.
"Zi, kau sudah sadar?" Luhan buru-buru mempercepat langkahnya. Meletakan plastik buah di meja samping ranjangnya. "Kau kenapa, Zi? Apa ada yang sakit?" Luhan memeluk tubuh ringih itu.
"Bahkan sangat sakit, Lu." Ringisnya.
Kyungsoo tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan. "Lu, dia kenapa?" Kyungsoo bertanya pelan pada Luhan. Luhan membalasanya dengan gelengan kepala.
Di ambang pintu, seorang pemuda lainnya sedang memungut cincin yang Zitao buang. Tatapannya tertuju lurus pada cincin di tangannya. Dia lalu menengok ke arah ranjang. Zitao masih histeris dan Luhan masih mencoba menenangkannya.
"Kris—"
Kris mengangkat tangannya menyuruh Chanyeol yang akan masuk untuk berhenti. Lalu mereka sama-sama melihat moment dramatis itu dalam diam dan penuh tanya.
Tanpa sengaja Zitao melihat sosok Kris di ambang pintu. Kris menyadarinya karena mata mereka sempat bertemu.
"Bisakah kalian pergi dari sini? Aku ingin berbicara empat mata dengan Zitao."
Luhan melepaskan pelukannya. Zitao dengan cepat meraih tangan Luhan lalu menggeleng. "Jangan pergi, ku mohon."
"Mungkin ini masalahmu dengan Kris," Kyungsoo membuka suara, "tapi lebih baik kalian meluruskan masalah kalian."
Lagi-lagi Zitao menggeleng. Luhan melepaskan tangan Zitao lalu tersenyum lembut. Dia menangkup pipi Zitao dengan sayang. "Tidak apa-apa."
.
Semuanya pergi.
Kris berdiri di sampingnya. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dokter mengatakan—"
"Kenapa?" Zitao cepat memotong ucapan Kris, "kenapa kau merahasiakannya?" Zitao mendongak ke arah Kris. "Wu Yifan."
"Kau sudah mengetahui semuanya sekarang," lirih Kris.
"Jadi alasanmu berubah secara mendadak itu karena hanya janjimu pada Yxing." Zitao menarik nafas dalam-dalam. "Kau memiliki banyak janji dengan Yixing. Tapi pada akhirnya tidak ada yang bisa kau tepati. Hanya satu saja yang bisa. Menjaga ku, kan?"
"Apa itu penting sekarang?" dia bersuara tak kalah pelan. "Yixing sudah meninggal tak pantas membicarakannya seperti ini."
"Aku mencintaimu," kata Zitao pada akhirnya. Nafasnya tersengal-sengal. Berkata jujur membutuhkan energy yang berlebih. "Tapi…" Zitao menarik nafas, "aku tidak bisa seperti ini terus. Aku mengkhianati Yixing kalau aku mencintaimu." Zitao meremas rambutnya sendiri.
Kris menarik tangan Zitao mencegah lelaki itu untuk menyakiti dirinya sendiri. Dia menahan Zitao. Mengenggamnya dengan erat. Kris mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Zitao.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri, Peach."
Zitao menutup mulutnya, berusaha menekan perasaan agar tak ada lagi suara ketika dia menangis.
"Seharusnya aku mati saja saat itu. Aku tidak ingin hidup di ambang rasa bersalah seperti ini. Seharusnya aku mati saja. Mati!"
Kris menarik tengkuk Zitao dan membiarkan dadanya basah karena air mata Zitao. Semua ini memang salah Kris. Dia tidak seharusnya merahasiakan apapun dari Zitao sehingga tidak menyebabkan anak itu tersiksa pada akhirnya.
Zitao tidak bersalah apa-apa disini. Dia tidak seharusnya menderita. Dia masuk ke dalam benar merah Yixing dan Yifan karena rasa sayangnya pada Yixing.
Melihat Zitao yang seperti ini, membuat hati Kris sakit. Dia tidak bisa membiarkan Zitao pada akhirnya menderita dan terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
Angin musim semi berhembus. Dedaunan yang gugur perlahan-lahan mulai tumbuh kembali. Merubah pepohonan yang tidak berwarna menjadi kembali berwarna. Hari ini cuaca sedikit mendung meskipun tidak ada tanda-tanda akan hujan.
Kris memberanikan diri untuk mengajak Zitao ke taman kota. Mengatakan padanya kalau Zitao butuh udara segar. Tidak baik kalau harus terukurung di kamar terus-terusan. Kejadian itu sudah sebulan yang lalu. Dan selama sebulan itu pula Zitao mengurung dirinya di kamar—kecuali sekolah dan mengambil makan. Selama itu pula dia tidak berbicara pada Kris.
Mereka duduk di atas rerumputan. Memperhatikan pengunjung taman yang sedang menghabiskan waktu mereka. Sedari tadi Zitao tidak bersuara. Pemuda manis itu lebih memilih diam. Mengabaikan eksistensi pria lain di sampingnya.
"Aku ingin jawaban yang jujur," Zitao membuka suaranya. "Tentang kau masih ingin peduli padaku."
Kris menghela nafasnya. "Aku belum sempat mewujudkan janji-janjiku pada Yixing. Jadi aku mewujudkannya denganmu."
Sakit.
Zitao seperti pelampiasan.
"Yixing ada pada dirimu. Dia memberikan jantungnya agar kau yang bisa mewujudkan apa yang dia inginkan. Karena dia tahu, kau memiliki banyak waktu lebih darinya. Maka dari itu, aku memperlakukanmu sebaik mungkin. Berharap Yixing juga merasakan kenyamanan dan kasih sayangku melalui dirimu."
Jadi Zitao semacam perantara antara Kris dan Yixing. Kasihan sekali dirinya.
Zitao tertawa perih. "Begitu." Zitao menyeka air matanya. "Yixing memang banyak dicintai orang. Dia baik, pintar, bisa melakukan segalanya. Pantas saja kau mencintainya sampai mati. Hanya orang bodoh yang tidak mencintai Yixing."
Kris menatap Zitao dengan tajam. "Sayangnya sekarang, akulah orang bodoh itu."
Zitao mendengus. "geojismal jaeng-i," lirihnya. "Jangan mengatakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataannya padaku lagi."
"Maafkan aku."
Zitao kembali menyeka air matanya yang tidak bisa berhenti. Dia malu kalau harus terlihat lemah di depan orang.
"Jangan menangis, ku mohon." Kris menangkup pipinya. Mengarahkan wajah Zitao padanya. Tatapan mereka bertemu. Tatapan sama-sama orang yang sedang terluka. "Hati ku sakit melihat kau menangis."
Zitao tercekat.
"Beginilah hasilnya. Mungkin Yixing mengirimkanmu padaku untuk menggantikan posisinya di hatiku. Mannaseo bangabseubnida. Akhirnya aku mengetahui alasan kenapa kita bertemu." Kris memeluk tubuh Zitao. "Karena kita sama-sama terluka kehilangan orang yang kita sayangi. Benang merah yang mengikat diriku sudah terputus dan giliran aku yang terikat benang merah denganmu.
Kita saling menopang untuk menghapus kesedihan masing-masing karena kejadian yang sama dan pada orang yang sama pula.
Senang berkenalan denganmu"
Zitao tidak mengerti apa yang Kris bicarakan. Dia seperti mendengar sesuatu yang manis tapi semakin di dengar suaranya semakin samar-samar.
"Aku mencintaimu."
Ini terlalu cepat untuk mendengarnya dari mulut Kris. Mendengarnya Zitao merasakan perasaan bersalah itu lagi.
"Tapi aku—"
"Jangan merasa bersalah pada Yixing. Aku sudah tahu semuanya. Kau akan menolak ku karena kau tidak ingin mengganggu tidur Yixing di sana."
Tepat.
"Perasaan cinta kita sama-sama belum seratus persen. Aku tahu itu. Kita masih ada di bawah bayang-bayang Yixing. Kita tidak bisa memaksakan perasaan satu sama lain."
"Terima kasih," bisik Zitao. Dia membalas pelukan Kris pada akhirnya. "Terima kasih sudah mengatakannya. Terima kasih sudah mengerti diriku."
.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak ada hal penting lagi yang bisa Zitao lakukan di Seoul. Semuanya sudah selesai. Kris sudah berubah meskipun sedikit. Setidaknya pasti lelaki itu bisa merubahnya sendiri. Dia sudah dewasa. Pesan terakhir Yixing sudah dia tulis di secarik kertas dan dia meninggalkannya di meja belajar Kris.
Huang Zitao memutuskan untuk meninggalkan Seoul. Meninggalkan semuanya; termasuk juga Kris. Pagi buta dia keluar dari asrama. Menarik kopernya dengan perlahan agar penghuni asrama yang lainnya tidak terbangun. Hanya Ibu Song yang mengetahui kepergiannya. Dia sudah memanggil taxi untuk mengatarnya ke Bandara.
"Titipkan salam ku pada semua, Bu.," kata Zitao sebelum akhirnya menaiki taxi.
Semua orang memiliki tujuan.
Termasuk dirinya. Tujuan hidup Zitao saat ini adalah menghilangkan rasa sakitnya. Melupakan kenangan buruknya. Tiongkok adalah pilihan Negara yang buruk. Dia ingin lari dari kenyataan yang ada. Kembali ke tempat asal ada pilihan terburuk. Lukanya di hatinya akan semakin menganga. Dia butuh tempat yang baru dimana semua orang tidak ada yang mengenalnya. Dimana semua orang tidak pernah masuk ke dalam dunianya.
"Selamat tinggal."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selesai (*o*)/ akhirnya selesai juga. #JDHER
Seriusan ini selesai? Masa sih? Hah? Serius? Gantung? Katanya harus berakhir Happy Ending? Terus ini apa?
/Gue Cuma bisa senyum mesem/
