Seven years later…

Kris membaca ulang dokumen-dokumen yang akan dia bahas bersama dengan perwakilan dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaannya. Ini proyek kerja sama yang besar. Kalau kerjasama perusahaannya dengan The Fort berhasil, maka proyek kerja di Korea sana mulus dan sempurna. Dia tidak ingin pengorbanannya dari Seoul ke Paris jadi sia-sia.

L'Astrance adalah restoran tempat mereka berjanji untuk bertemu. Sebuah restaurant bintang lima bergaya abad ke 21 dengan harga yang mencekik kantong untuk orang yang pas-pasan.

"Bienvenue à Paris, Monsieur. Sorry for the long wait."

Kris menoleh dan mendapati seorang pemuda bertubuh tinggi dengan pakaian formal mewah. Dia tampak menawan dengan Monaco wool mohair suit dari GUCCI. Manis dan menawan.

Kris membereskan mejanya. Memberikan ruang pada pemuda itu untuk meletakan dokumennya. Dan saat pemuda itu duduk, di saat itulah Kris menyadarinya. Pemuda itu. Pemuda yang berhasil menariknya dari dunia hitam-putihnya.

"Zitao…," bisiknya tertahan membuat pemuda itu reflex menoleh padanya sambil tersenyum.

Mereka berdua saling bertatap-tatapan selama beberapa saat.

Kris terkejut sampai matanya berkaca-kaca. Dia terlalu bahagia karena pada akhirnya bisa bertemu lagi dengan sosok manis periang itu. Tujuh tahun dia merindukannya. Tujuh tahun pula Kris mencoba untuk berubah mengikuti kalimat dari sepucuk surat yang ditinggalkan Zitao.

Zitao terlihat santai meskipun jantungnya kali ini benar-benar bekerja sangat keras. Dia juga merindukan lelaki itu. Lelaki yang kini berambut hitam dengan potongan pendek. Sebenarnya dia merindukan rambut pirang Kris.

"Maaf karena aku meninggalkanmu dan mengingkari janjiku," Zitao akhirnya bersuara. "Aku perlu tempat dimana tidak ada orang yang mengenaliku. Aku butuh kehidupan baru. Aku harus menata kembali hidupku yang berantakan, menata hati yang kacau juga.

Aku tidak bisa berlarut-larut dalam kesedihan," jelasnya panjang lebar.

"Kenapa kau berada disini? Kenapa tidak ke Tiongok?" Tanya Kris serak.

Zitao tersenyum kecil. "Bukankah sudah ku katakan, aku butuh tempat dimana tidak ada orang yang mengenaliku. Kalau kembali ke Tiongkok, terlalu banyak kenangan bersama Yixing disana. Dan itu membuat rasa bersalah ku semakin menjadi-jadi."

Kris menghembuskan nafas berat. "Aku bersyukur masih bisa bertemu denganmu," ucapnya. "Ku pikir kejadian yang sama akan terulang lagi. Aku tidak bisa lagi bertemu dengan Yixing dan aku juga tidak ingin itu terjadi padamu."

Zitao tersenyum simpul. Dia menatap lembut pria tampan yang sudah banyak berubah itu.

"Maka dari itu aku datang ke sini. Bertemu denganmu sebagai perwakilan perusahaan."

Kris mengerenyitkan kening. Bingung.

"Cah," Zitao menyamankan posisi duduknya. "Explication longue," gumamnya. Dia menopang dagunya dengan tangan kanan di atas meja. "Sekarang, kita sedang bekerja. Lebih baik kita cepat menyelesaikannya dan…" Zitao tersenyum penuh arti. "…dan setelah ini, ayo kita pergi jalan. Kau bilang kau merindukanku, kan?"

.

.

.

.

.

.

.

Arch de Triomphe akhirnya menjadi tujuan mereka pada malam harinya atas usul Zitao. Setelah menyelesaikan urusan pekerjaan bersama Zitao, Kris pulang ke hotelnya untuk beristirahat setelah perjalanan jauh Seoul-Paris.

Pukul tujuh malam, dia memiliki janji untuk berjalan-jalan di sekitar Arch de Triomphe bersama Zitao. Tapi sebelum pukul tujuh, pria itu sudah berada di tempat dengan balutan round neck jumper in "Fauborg" berwarna plum di badannya dan straight trousers berwarna hitam.

"Kris!" panggilan Zitao dari belakang membuatnya berbalik. Dia tersenyum begitu mendapati sosok manis itu tengah berlari kecil ke arahnya.

"Kau sudah lama menunggu?" Zitao mengatur nafasnya. "Maaf, tadi ada sedikit urusan."

"Tidak apa-apa." Kris tersenyum. Dia mengamati Zitao dengan lekat-lekat. Cashmere cardigan yang menutupi kaos putih polosnya benar-benar cocok untuk tubuh Zitao. Dia terlihat bersinar. Warna cerah benar-benar cocok untuk pribadinya.

Lalu mereka mulai berjalan menyusuri jalan di sepanjang Arch de Triomphe. Sebentar lagi musim dingin. Wajar saja angin yang berhembus benar-benar menusuk kulit.

Mereka saling diam ketika berjalan-jalan. Keduanya enggan untuk membuka suara. Tidak ada topik yang bagus untuk diperbincangkan. Terutama Kris. Andai saja dia mengetahui kalau pada akhirnya dia akan bertemu Zitao disini, pasti dia akan menyiapkan rentetan topik mengobrol.

"Ngomong-ngomong, kau sudah punya kekasih?" Kris bertanya sarkatis. Pertanyaannya terlalu menjurus.

"Belum. Kalau kau?"

"Belum," dia tertawa miris. "Karena perasaan cintaku dibawa pergi oleh seseorang tanpa permisi." Kris tersenyum kecil melihat pipi Zitao bersemu merah. "Tapi pada akhirnya aku menemukannya kembali di Paris. Aku tidak menyangka akan di kota seromantis ini."

Lalu mereka menghentikan langkah mereka ketika tepat berada di depan Gerbang Kemenangan Napoleon itu.

Kris meraih tangan Zitao. Menggenggamnya dengan erat seakan-akan takut kalau dia akan pergi lagi. Kris menatap wajah yang tengah merunduk itu dengan penuh kasih.

"Mungkin ini terdengar aneh. Aku pernah mengatakan kalau dulu rasa cinta kita belum seratus persen karena bayang-bayang Yixing. Tapi, seiring berjalannya waktu dan rasa rindu yang semakin menjadi-jadi, perasaan cinta itu semakin naik dan akan terus naik. Hingga pada akhirnya kita bertemu kembali dan aku melepas rinduku," kata Kris panjang lebar.

Zitao mengangkat kepalanya. Dia tidak tahu harus berkata apa-apa. Ini terlalu indah, terlalu membahagiakan baginya.

"Kau tahu kenapa aku mengusulkan untuk bertemu di Arch de Triomphe?" bisik Zitao dengan suara serak menahan tangis.

Kris menggeleng.

"Arch de Triomphe adalah gerbang kemenangan bagi Napoleon. Dan gerbang ini juga menjadi saksi kemenangan untuk ku. Karena aku, pada akhirnya bisa mendapatkan tujuanku." Zitao tersenyum simpul. "Tujuanku adalah bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Yixing dan bisa mencintaimu dengan bebas. Aku berhasil. Aku menang melawan konflik bathin ku. Aku mencintaimu."

Kris lalu menarik pinggang Zitao mendekat ke arahnya. Dengan cepat dia menarik tengkuk Zitao juga untuk menyatukan bibir mereka. Memejamkan matanya dan menyalurkan rasa cinta dan rindunya dalam pagutan-pagutan lembut.

"Dua kali kau mengatakan cinta padaku duluan," ucap Kris setelah tautan bibir mereka terlepas. "Tapi itu tidak memperjelas semuanya. Kali ini biarkan aku yang memperjelasnya."

Kris mencium kening Zitao dengan lembut.

Ciuman di kening melambangkan rasa sayang.

Tak hanya kening, kali ini dia mememberikan angle kiss. Melambangkan kalau dia tidak ingin berpisah dengan Zitao lagi.

Terakhir Kris mencium hidung bangir Zitao.

Ciuman di hidung pertanda ia sangat menyayangi dan menyenangi waktu yang dihabiskan bersama.

Setelah melakukannya, Kris menjauhkan wajahnya. Menikmati pemandangan pipi Zitao yang sudah memerah karena malu. Kris tahu ini tempat umum. Tapi baginya itu tidak akan menjadi masalah.

"Aku mencintaimu."

Jantungnya berdetak cepat. Darahnya berdesir dan dia merasakan ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya.

"Aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintaimu."

Zitao terpaku di tempatnya. Matanya tak lepas dari mata coklat milik Kris yang menatapnya dengan lembut.

Entah kenapa dia menangis. Bukan menangis karena menangisi kehidupannya yang sebelumnya. Tapi ini adalah menangisi kebahagiannya. Ini terlalu mengharukan sampai-sampai dia tidak bisa menjelaskan emosi apa yang dia rasakan.

Di depan Arch de Triomphe yang ramai dan bersinar karena lampu warna-warni, orang-orang berlalu lalang di sekitar mereka, bibir mereka kembali bertaut. Dua hati yang sebelumnya berpisah dan diliputi rasa bersalah pada sosok yang sama, kini dipersatukan lagi karena dunia terlalu besar untuk dilalui seorang diri.

La vérité— kebenaran itu memang terkadang menyakitkan. Tapi percayalah, setelah mengetahui keberannya, Tuhan selalu menyiapkan rencana yang lebih indah yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.

Terkadang luka itu indah.

/

/

/

/

/

/

-FIN-

/

/

/

/

Maaf karena aku harus pergi meninggalkanmu. Aku punya alasan untuk melakukan ini. Aku sudah tidak punya urusan lagi di Seoul. Maka dari itu, aku tidak ingin menyakiti hati masing-masing. Aku memilih untuk pergi dan menata ulang semuanya.

Ku harap kau berubah ketika kita bertemu lagi. Manfaatkanlah sedikit warna yang aku torehkan dalam hidupmu yang hitam-putih itu. Kembangkankanlah dan warnai duniamu.

Kedatanganku ke Seoul adalah untuk bertemu Wu Yifan. Dan karena kau adalah Wu Yifan, maka dari itu aku akan menyampaikannya.

"Jangan pernah merasa bersalah karena tidak bisa menepati janji-janjimu. Karena aku akan bahagia kalau kau bisa menepati janjimu yang sangat penting. Janji yang akan membuat mu bahagia dan menemukan hidupmu yang sesungguhnya. Jangan pernah menyalahkan takdir kalau kita tidak bisa bertemu lagi.

Tapi aku selalu melihatmu. Mengawasimu karena aku mencintaimu."

Aku tidak mengerti apa maksud Yixing itu tapi kau pasti tahun.

Titip salam pada semua orang di Asrama.

Sampai bertemu lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

*nyengir kuda* JAHAHA FF EVENT KEDUA SUDAH SELESAI. MWAHAHAHA *puter gesper* Ini beneran END serius. Percaya, deh. Udah happy ending, kan? Rencananya ini jadi satu sama chap sebelumnya. Tapi namanya hape keluaran jaman Adolf Hitler, yah dibatasin -_-Mwehehe… Om Frista, maafkan Hayati yah. Aku dugeun-dugeun pas dikau BBM aku dengan jutek. Mwekeke :*

So, please RnR ^_^

Wo ai nimen~

Regard,

BabyMingA.

January, 28th2016