Beautiful Target/KyuMin/GS/Chapter.4
Cast : Always KyuMin, others
Rating : T
Genre : Romance, Hurt, Drama
Disclaimer : FF ini resmi milik Mheishiee Taeminnie dan KyuMin milik Tuhan, orang tua mereka, Elf, JOYers dan tentunya KyuMin saling memiliki 3
Warning : GS! Typo's! Gaje! Abal-abal! Cerita pasaran! Tidak sesuai EYD!
Summary : "Kau memang bisa dengan mudah mendapatkan hati para wanita di luar sana, tapi jangan harap kau bisa dengan mudahnya mendapatkan hatiku, karena hatiku telah lama membeku dan selamanya tak akan ku berikan kepada siapapun, termasuk dirimu!" "Lihat saja, aku akan jadi lelaki pertama yang akan meluluhkan hatimu. Camkan itu!"
Don't Bash! Don't Like! Don't Read!
~Happy Reading~
.
.
.
.
.
=Sungmin POV=
Hari ini begitu melelahkan. Aku terus menggerakkan jariku diatas keyboard milikku dan harus berpikir keras demi menciptakan sebuah lirik lagu yang baru. Aku terus memutar keras otakku namun perutku malah berkata lain karena sedari tadi terus berbunyi, meminta agar segera diisi. Aku hanya menghela nafas sebentar, sepertinya aku memang harus segera makan siang sekarang. Dengan langkah gontai, aku mulai melangkahkan kakiku menuju kantin kampus kemudian memilih untuk duduk dimeja paling pojok, demi mengurangi sedikit kebisingan karena memang aku berniat untuk melanjutkan pekerjaanku diselingi dengan makan siang. Bukankah itu cara yang bagus untuk mengefektifkan waktu?
Aku terus menggerakkan jariku sambil sesekali mengunyah makan siangku. Namun, sepertinya perkiraanku mengenai mengefektifkan waktu itu salah. Aku malah tidak bisa berkonsentrasi karena suasana kantin yang mulai ramai, sehingga konsentrasiku buyar seketika. Aku terus mengacak rambutku frustasi ketika apa yag kuketikkan selalu salah. Aku memang tidak peduli lagi dengan penampilanku sekarang, yang penting pekerjaanku harus kuselesaikan secepatnya.
Saat aku mulai mendapatkan ide baru lagi untuk lirik-ku, tiba-tiba aku mendengar ada seseorang yang menyapaku. Aku berusaha untuk tidak peduli, mungkin aku hanya salah dengar saja. Aku terus melanjutkan pekerjaanku namun suara itu kembali terdengar sok ramah ditelingaku. Aku hanya bisa bersabar dan mencoba untuk melanjutkan pekerjaanku lagi.
Aku terus memutar otakku sampai kudengar suara itu kembali menyapaku lagi untuk ketiga kalinya, sehingga ide yang telah kupikirkan sedari tadi buyar seketika.
'Sial!'
Aku hanya menggeram di dalam hati dan mengutuk kepada siapa saja yang tengah menggangguku sekarang ini. Kulirikkan mataku sebentar, ternyata didepanku telah berdiri seorang namja berperawakan tinggi berkulit pucat sedang menatapku dengan pandangan sok ramahnya dan terang saja hal itu membuatku kesal. Kenapa? Jelas saja, gara-gara kehadirannya, ide cemerlang yang telah kupikirkan matang-matang sejak tadi telah lenyap seketika. Rrggghhh~ sepertinya kesabaranku sudah habis sekarang!
GEPLAK!
"Eh!"
Dengan kesal, aku menggebrakkan meja didepanku dan memandang namja itu tajam.
"Jangan ganggu aku. Pergi menjauh dari sini, aku sedang sibuk!" Ucapku pelan namun telak dan sukses membuat namja itu terdiam.
"A-aku hanya ingin mengajakmu mengobrol. Sepertinya kau sedang banyak pikiran. Jadi aku datang kesini berniat untuk menghiburmu dan siapa tau kau…"
"KALAU SUDAH TAU AKU SEDANG BANYAK PIKIRAN KENAPA KAU MALAH MENGGANGGUKU! Pergi kau jauh-jauh dan jangan ganggu aku!" Bentakku lagi karena sakin kesalnya. Aku memang saat ini sedang tidak ingin diganggu. Lagipula, aku heran dengan namja didepanku ini. Padahal masih banyak gadis-gadis di dalam kantin ini, tapi kenapa dia malah mendekatiku? Apa dia tidak lihat aku sedang sibuk? Aku menyadari jika seluruh isi kampus memandang aneh kepada kami namun aku tidak peduli sama sekali. Yang kubutuhkan hanyalah ketenangan dan ketentraman untuk saat ini.
Kulihat namja itu diam sebentar sambil menggertakkan giginya, tak lama namja itu malah berteriak didepanku dan umpatannya sukses membuatku terkejut.
"Ya! Kau yeoja kumal! Harusnya kau beruntung mendapatkan tawaran dari namja tampan sepertiku! Masih baik aku menawarkan ini padamu dengan cuma-cuma tapi kau malah menolakku mentah-mentah bahkan mempermalukanku disini. Sadarlah?! Kau hanya yeoja jelek tak terurus, jadi jangan seenaknya saja membentakku! Dengar! Kau itu nyatanya tidak sebanding dengan namja tampan sepertiku, seenaknya saja kau menolakku bahkan harga dirimu hanya sebanding dengan 500 Won! Aku bisa saja membelimu dengan harga pantas seperti itu dan seharusnya kau tidak perlu jual mahal! Menjijikkan sekali!"
'500…won?'
"Kau wanita jalang! Jangan kau goda suamiku lagi karena kau hanyalah istri sewaan! Kau tidak pantas bersanding dengannya! Pergilah menjauh dari hidup kami. Kau tidak pantas diberikan hidup mewah. Harga yang pantas untukmu hanyalah 500 won saja! Jadi jangan harap kau bisa mendapatkan yang lebih dari suamiku, apalagi bisa hidup bersamanya dan bayimu ini! Arasseo!"
TES!
Aku seperti merasakan de javu saat namja didepanku mengatakan uang 500 won itu. Tak kusangka air mataku mengalir saat aku merasakan nyeri dibagian dadaku. Apa hidupku yang matian-matian kuperjuangkan selama ini hanya dihargai dengan 500 won saja? Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka yang seenaknya menghargaiku dengan murah. Untuk kesekian kalinya aku hanya bisa mengepalkan tanganku akibat harga diriku terus-terusan diinjak-injak. Dengan perasaan yang berkecamuk, aku langsung memandang namja itu tajam dengan masih disertai butiran-butiran air mataku yang masih saja mengalir deras.
"Aku memang jelek, kumal tak terurus tapi kau tidak berhak menghinaku. Laki-laki sok tampan sepertimu hanya bisanya menyakiti perasaan wanita. Aku heran, kau itu tampan namun ucapanmu tak lebih dari tumpukan sampah! Aku harap kau akan menyesali ucapanmu dan kau akan mendapat balasannya. Bawa saja sapu tanganmu itu karena aku tidak membutuhkannya dan ku harap jangan kau pernah mendekati aku lagi. Karena aku, TIDAK SUKA DENGAN KEBERADAANMU, LAKI-LAKI AROGAN YANG SOK KENAL DAN TIDAK MEMILIKI SOPAN SANTUN!" Ucapku penuh penekanan kemudian mulai membereskan perlengkapanku di atas meja dan mematikan laptopku. Aku tak tahan jika terus disakiti seperti ini, lebih baik aku pergi menjauh saja. Setelah itu aku langsung saja pergi dengan mendorong namja itu agar tidak menghalangi jalanku. Tak kupedulikan tatapan-tatapan iba disekelilingku, yang jelas aku ingin pergi menjauh dari tempat ini secepatnya.
Aku hanya bisa mengurung diriku disalah satu bilik kamar kecil. Entah kenapa, air mata yang selama ini selalu ku tahan saat hatiku sedang sakit, namun saat ini malah terus mengalir seolah tidak akan pernah berhenti sampai ada yang bisa menghapusnya. Ya.. hanya kehadiran seorang bayi mungil-lah yang mampu untuk menghentikan tangisku saat ini.
Kim Sunghyun, adalah seorang bayi mungil tampan hasil pernikahan kontrakku bersama namja yang dulunya sangat kucintai, yakni Kim Jungmo. Aku terlalu mencintai namja itu, sampai dengan bodohnya aku malah menerima lamarannya karena mulanya Jungmo menjanjikan pernikahan yang murni untukku. Dia tidak bilang jika ia sebenarnya telah memiliki istri pertama dan hanya menjadikanku istri kontraknya saja. Jungmo berhasil mengelabuiku dengan memintaku untuk menandatangani sebuah kontrak ketika aku sedang mabuk,tanpa ku ketahui apa isi dari surat itu. Karena mabuk itulah, aku malah ditipu 2 kali sekaligus. Yakni menandatangi apa yang tidak ku ketahui sama sekali isi perjanjiannya dan menghasilkan Sungyhun mungilku sebelum kami benar-benar menikah.
=FLASHBACK ON=
Ketika proses kelahiran itu selesai dan saat itu aku tengah memeluk bayi mungilku di atas ranjang, tiba-tiba Jungmo datang dengan menggandeng seorang wanita cantik yang aku tidak ketahui siapa namanya.
Wanita itu memandangku sinis dan matanya tiba-tiba terarah pada bayi yang sedang kupeluk saat itu. Aku memandang wajah Jungmo penuh tanya namun hanya ada tatapan dingin disana.
"Oppa, wanita itu siapa?" Tanyaku pada Jungmo dengan suara pelan karena saat itu aku baru beberapa menit yang lalu melewati proses persalinan.
Jungmo hanya diam tidak menjawab dan wanita itu tiba-tiba sajaa bersuara dan memandag tajam ke arahku.
"Aku Kwon Yuri. Istri Jungmo oppa."
JDER!
Tiba-tiba sengatan listrik menusuk kedalam dadaku dan aku memandang kaku kearah mereka.
"Is-tri? Op-oppa, apa yang dia katakan tidak ..be-benar kan? Jawab aku oppa?!" Tanyaku sambil memandang Jungmo dengan tatapan mengiba. Jungmo hanya diam dan seolah mengalihkan pandangannya dariku.
"Oppa! Jawab aku, oppa!"
"DIAM KAU WANITA JALANG!"
JLEB!
Aku sontak saja terdiam saat wanita itu kembali berteriak kearahku. Namun karena teriakannya, Bayi mungil yang kugendong malah terbangun dari tidurnya dan menangis kencang.
"Hoeekkk~ hoekkkk~"
"Cupp..cupp.. Sunghyunnie chagi. Jangan menangis? Ada eomma disini. Tenang ne?" Ucapku sambil menimang-nimang bayi mungil yang kuberi nama Sunghyun itu. Aku terus menepuk-nepuk pantatnya sampai wanita itu kembali berbicara lantang ke arahku.
"Oh, jadi nama bayi itu Sunghyun. Baiklah kalau begitu. Oppa! Ambil dia sekarang!"
Ucapan itu kembali membuatku terkejut dan tiba-tiba Jungmo menarik paksa Sunghyun dari pelukanku.
"Op-oppa. Jangan! Arrggghhh!" Aku berusaha bergerak untuk mengambil Sunghyun kembali namun Jungmo berdiri terlalu jauh dari ranjangku. Aku tidak bisa bergerak banyak sekarang karena aku masih terlalu lemah, namun aku terus berusaha untuk mengambil bayiku kembali.
"Cih, dasar wanita lemah! Kau hanya dikontrakkan untuk memberikan Jungmo anak saja! Jadi jangan harap kau bisa mendapatkan lebih. Lebih baik kita pergi dari sini oppa. Aku sangat benci mencium bau rumah sakit apalagi melihat wanita itu disini. Kajja!"
Mereka berdua malah berlalu dari hadapanku dan aku tentu saja shock dengan apa yang baru saja dia katakan.
'Dikontrak? Memberi Jungmo anak? Kapan itu terjadi?! Atau jangan-jangan.. saat mabuk itu…?'
"Hiks… ANDWAE! JUNGMO-YA! KEMBALIKAN ANAKKU! KEMBALIKAN SUNGHYUNNIEKU! JUNGMO-YA!" Aku terus berteriak-teriak dari dalam kamar dan berusaha untuk turun dari ranjang namun aku malah terjatuh dan tiba-tiba darah kembali keluar mengalir disepanjang kakiku.
"Argghhh~"
"Nyonya Sungmin! Apa yang terjadi? Mari segera saya tangani!" Tiba-tiba seorang suster datang dan membantuku untuk kembali naik ke atas ranjang namun aku masih ingin mengejar Sunghyun kecilku.
"Andwae, suster. Anak saya telah dibawa pergi. Saya harus mengejar anak saya Suster. Tolong saya!"
"Maaf Nyonya Sungmin, kondisi anda terlalu lemah. Anda harus segera istirahat dan tidak boleh banyak bergerak."
"Tapi suster, anak saya…Arrggghhh~"
"Nyonya Sungmin!" Pandanganku tiba-tiba menjadi buram dan akhirnya kegelapanlah yang menyelimutiku saat ini.
"Sunghyun-na~"
.
.
Aku terus melamun beberapa hari memikirkan bagaimana keadaan Sunghyunnie-ku saat ini. Sudah berminggu-minggu sampai saat aku sudah keluar dari rumah sakit, namun Jungmo tetap saja tidak memberiku kabar seolah hilang ditelan dunia.
Aku terus mengurung diriku di kamar sambil menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan. Tidak kupikirkan lagi rasa lapar yang kian menghampiriku karena selama ditinggalkan Jungmo itu pula makanku menjadi tak teratur. Yang kuinginkan saat ini hanyalah agar Sunghyun kembali kepadaku.
Saat aku sedang memejamkan mataku erat dan terus meneteskan air mataku, tiba-tiba bel apartemenku berbunyi. Ku lihat, jam dinding baru menunjukkan pukul 9 pagi, namun malah ada seseorang yang berkunjung. Dengan langkah gontai, aku pun berjalan menuju pintu kemudian membukanya pelan.
Aku sontak saja berdiri kaku ketika yang kudapati adalah seorang lelaki yang selama ini ku tunggu kehadirannya tengah menggendong bayi mungilku. Siapa lagi mereka jika bukan Jungmo dan Sunghyun.
"Sunghyun-na!"
Panggilku dengan perasaan bahagia sambil meneteskan air mata kemudian mengambil bayiku dan memeluknya erat. Ku lihat dia menggeliat-geliat pertanda senang ketika ku cium dan aku hanya bisa menangis bahagia melihatnya. Aku tidak menyangka jika akan bisa bertemu dengan anakku lagi setelah proses kelahiran itu. Aku sampai mengabaikan lelaki didepanku, karena yang kubutuhkan hanya Sunghyun lah sekarang.
"Cepat ganti bajumu dan berdandanlah yang cantik. Kita akan jalan-jalan hari ini." Ucapan singkat Jungmo dengan bodohnya aku mengangguk bahkan dengan cepat berlari ke kamarku untuk melaksanakan apa yang Jungmo perintahkan barusan padaku. Entah kenapa aku lagi-lagi merasa bodoh saat ini karena kembali menuruti perintahnya.
Namun lelaki itu menepati ucapannya dan hari ini kami benar-benar bersenang-senang. Kami terlihat seperti keluarga bahagia saat ini, walaupun kenyataannya tidaklah demikian.
Saat aku dan Jungmo pergi ke sebuah studio foto, tiba-tiba Yuri juga ada disana dan menatapku sinis. Yuri memang diam saja memperhatikan kami bertiga yang mulai mengambil foto bersama tanpa mau mengucapkan sepatah katapun. Senyumku yang dari tadi cerah tiba-tiba menguap saat difoto karena Yuri terus melayangkan tatapan sinis kearahku.
Selesai berfoto dan kami telah memiliki hasil gambarnya, Yuri dengan langkah angkuh mendekati kami dan kembali menarik Sunghyun dari pelukanku dan terang saja hal itu membuatku terkejut.
"Sudah selesai kan bersenang-senangnya oppa? Aku terlalu baik hari ini mengijinkanmu berlama-lama dengan wanita jalang ini. Tapi ini yang terakhir. Mulai saat ini, kau wanita jalang! Jangan kau goda suamiku lagi karena kau hanyalah istri sewaan! Kau tidak pantas bersanding dengannya! Pergilah menjauh dari hidup kami. Kau tidak pantas diberikan hidup mewah. Harga yang pantas untukmu hanyalah 500 won saja! Jadi jangan harap kau bisa mendapatkan yang lebih dari suamiku, apalagi bisa hidup bersamanya dan bayimu ini! Arasseo! Kajja oppa, kita pulang."
Aku hanya bisa terdiam kaku saat Yuri telah mengklaim apa yang bukan miliknya. Mereka dengan cepat berlalu dari hadapanku namun aku tak akan diam saja.
Dengan cepat aku sadar dari rasa terkejutku dan mulai mengejar mereka sampai ke parkiran.
"JUNGMO –YA! YURI-YA! KEMBALIKAN ANAKKU! AKU MOHON! KEMBALIKAN SUNGHYUNKU! YA! JUNGMO-YA! YURI-YA!" Teriakku sambil menggedor-gedor kaca mobil mereka. Namun mobil itu malah melaju cepat dan meninggalkanku yang masih menangis dipinggir jalan. Banyak orang yang memperhatikanku, mungkin mereka pikir aku suda gila. Namun aku tidak peduli. Aku hanya bisa menangis dan merutuki kelemahanku yang tidak bisa merebut Sunghyun untuk kedua kalinya.
"Hiks-…Sunghyun-na~"
=FLASHBACK OFF=
Mengingat kejadian itu aku terus saja menangis dan merutuki kebodohanku sendiri. Kenapa aku malah mempercayai lelaki seperti itu, kenapa!
Dengan gontai, aku mulai melangkahkan kakiku keluar dari bilik kamar kecil dan mulai mendekati wastafel. Kunyalakan air keran kemudian kubasuh wajahku yang terlihat kusam kemudian aku memandang kedua mataku yang membengkak didepan cermin.
"Hahh… sepertinya mataku membutuhkan kompres setelah ini." Kukeringkan wajahku menggunakan tissue kemudian aku mulai berjalan keluar, berniat untuk membolos mata kuliahku dan memilih untuk pulang.
.
.
Hari ini sama seperti biasanya. Sepi dan membosankan. Aku berusaha bangkit dari keterpurukanku. Namun hal itu masih saja belum berguna karena aku kembali menangis ketika melihat fotoku bersama Sunghyun kecilku yang terlihat manis di dalam foto itu. Foto yang diambil saat hari terakhirku melihatnya. Entah kapan lagi aku bisa menemui bayiku itu, namun ku harap bisa terjadi secepatnya. Aku kembali memasukkan foto itu kedalam loker setelah sebelumnya kucium wajah Sunghyun kecilku yang ada di dalam foto itu kemudian berjalan pelan menuju kelas.
Jam telah menunjukkan pukul 4 sore, aku memilih untuk duduk di taman kampus terlebih dahulu untuk melanjutkan pekerjaanku karena aku malas untuk pulang sekarang.
Namun tanpa kusangka, seorang namja yang berhasil membuatku sakit hati kemarin tiba-tiba muncul lagi kehadapanku dan menyapaku sok ramah.
"Ehem. Hai." Sapa namja itu dan sontak membuatku menoleh kearahnya. Mataku tiba-tiba membulat dan dengan sengaja kulayangkan tatapan dingin kearahnya.
"Sedang apa kau disini? Bukankah sudah ku katakan jangan dekati aku. Apa kau tidak dengar atau memang sudah tuli?" Tanya ku ketus tanpa memperdulikan perubahan ekspresi dari namja itu.
"Aku hanya sedang berjalan-jalan di taman ini dan kebetulan ada kau disini. Lagipula apa salahnya aku menyapamu Lee Sungmin-sshi? Bukankah aku berusaha untuk bersikap ramah padamu, yahhh~ hitung-hitung untuk memperbaiki hubungan kita atas insiden kemarin. Jujur aku menyesal telah berkata kasar padamu. Dan aku minta maaf untuk itu." Ujarnya panjang lebar dan hanya dibalas cibiran olehku.
"Ck. Aku tidak butuh kata maafmu. Lagipula aku tidak peduli dengan apa yang terjadi kemarin. Oiya, dan tau dari mana kau namaku? Aku tidak menyangka namja sok tampan sepertimu mengetahui nama yeoja sepertiku. Ku kira kau taunya hanya mengenal yeoja-yeoja cantik diluar sana saja. Ternyata yeoja yang katamu jelek sepertiku kau dekati juga." Ucapku sinis dan kulihat dia malah tersenyum pelan dan terang saja hal itu membuatku menaikkan sebelah alisku.
"Apa salahnya jika aku mengetahui namamu? Lagipula, dengan itu aku bisa dengan mudah memanggil namamu dan kita bisa mengakrabkan diri satu sama lain. Bukankah begitu?" Tanyanya memastikan dan aku hanya memiringkan bibirku.
"Cih, kau bilang mengakrabkan diri? itu tidak akan mungkin terjadi. Jangan sesekali mencoba sok akrab denganku karena aku tidak menyukainya." Aku kembali melanjutkan pekerjaanku dan mengabaikan namja itu yang menurutku sangat mengganggu. Namja itu hanya menaikkan sebelah alisnya kemudian tanpa minta izin lagi langsung duduk disebelahku dan terang saja hal itu membuatku tidak suka dan aku memilih untuk menggeser dudukku agar menjauh darinya.
"Ya! Siapa yang mengijinkamu duduk disini?!" Bentakku dan dia tidak menanggapi dan malah memejamkan matanya.
"Jangan terlalu kasar menjadi seorang wanita. Kau tak pernah mendengar sebuah penelitian? Sering marah-marah itu bisa menyebabkan penuaan dini. Lagipula aku tidak menganggumu. Kau hanya perlu melanjutkan pekerjaanmu dan anggap saja aku sebagai teman bercerita agar kau tidak jenuh dengan pekerjaanmu itu."Jawabnya santai dan tentu saja membuatku menjadi geram.
"Tentu saja aku merasa terganggu dengan kehadiranmu. Aku hanya butuh ketenangan tapi kau malah datang dan sok mengakrabkan diri denganku. Siapa kau berani-beraninya bertingkah seenaknya kepadaku? Aku minta kau pergi. Kalau tidak lebih baik aku yang pergi dari sini." Baru saja aku ingin menutup laptopku dan ingin beranjak pergi dan tanpa diduga dia malah menarik pergelangan tanganku dan hal itu terang saja membuatku terkejut dan wajahku tiba-tiba pucat seketika.
PLAK!
Dengan cepat aku melepas genggamannya kasar dan sukses membuat dia ikut terkejut juga.
"Jangan kau sentuh aku! Tangan kotormu itu tak berhak memeganggu seperti itu!" Setelah mengatakan itu, aku langsung berlalu pergi dan menyisakan wajah shocknya disana.
"Lee Sungmin, tunggu!" Aku masih bisa mendengar teriakannya memanggil namaku namun aku terus mempercepat langkahku untuk cepat-cepat pergi jauh dari lelaki itu. Jujur, aku menjadi trauma saat dia menyentuhku walau hanya dengan menggenggam pergelangan tanganku saja. Aku tidak siap jika harus disentuh lagi, apalagi dengan namja yang tidak ku kenal. Tidak akan!
.
.
Saat aku sedang menuju lokerku, tak kusangka hal yang membuatku kesal kembali terjadi. Didepan mataku telah berdiri 2 lelaki yang terlihat sangat mencurigakan berdiri membelakangiku dan sayup-sayup kudengar ocehan mereka. Aku membulatkan mataku saat ku ketahui lokerku telah terbuka dan tentu saja hal itu membuatku ingin meledak sekarang.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!"
Kedua lelaki itu terkejut saat mendengar teriakanku dan aku benar-benar tidak peduli dengan itu.
"LEE SUNGMIN?!"
"AKU TANYA APA YANG LAKUKAN, EOH?!" Teriakku lagi dengan nafas yang terengah-engah. Sungguh, amarahku tidak bisa ku tahan lagi sekarang.
"Ka-kami hanya iseng membuka lo-lokermu.. dan.."
"DAN APA?!"
Teriakku untuk ketiga kalinya setelah memotong ucapan lelaki yang aku tidak tau dia itu siapa. Dua namja itu hanya bisa terdiam kaku. Mataku membulat seketika saat mengetahui apa yang sedang dipegang namja arogan itu saat ini. Dengan cepat, aku merampas foto ditangannya kemudian memandang mereka tajam.
"Kalian memang keterlaluan…" geramku sambil mengepalkan tanganku kuat.
"Sungmin-sshi. Kami sebenarnya tidak bermaksud mengganggu urusan pribadimu. Ka-kami hanya…"
"DIAM KAU!" Bentakku sambil menunjuk wajah namja arogan itu dan namja itu hanya bisa bungkam.
"Aku tidak butuh penjelasan dari kalian berdua! Lebih baik kalian berdua pergi dan jangan ganggu hidupku lagi! Aku muak dengan kalian terutama denganmu namja arogan!" Tunjukku lagi tepat ke arahnya sampai ia hanya bisa memejamkan matanya.
"Baiklah. Kami akan pergi. Maaf jika kami telah berbuat lancang. Kami permisi. Kajja Hyung." Setelah mereka membungkuk hormat kepadaku, akhirnya kedua namja itu pergi. Aku mulai menangis terduduk sambil menyandarkan punggungku di pintu loker kemudian ku tangkupkan foto itu didadaku.
"Hiks~ kenapa semua orang begitu jahat padaku? Apa salahku? Sunghyun-a, kapan kita bisa hidup bersama lagi? Hanya kau yang bisa menenangkan hati eomma. Eomma sangat rindu padamu aegiya." Isakanku kian bertambah dan koridor sepi itu menjadi saksi bagaimana rapuhnya aku saat ini.
.
.
Sudah berhari-hari namja arogan itu tidak menggangguku lagi dan aku bersyukur akan hal itu. Setidaknya beberapa hari ini aku bisa menenangkan diri tanpa harus diganggu lagi oleh siapapun.
Aku kembali mengerjakan tugasku di taman kampus, tiba-tiba terdengar dering ponsel dikantong bajuku pertanda ada panggilan masuk kemudian aku pun mengeluarkan ponselku dari sana. Aku menaikkan sebelah alisku saat kulihat ada sebuah nomor baru yang tertera dilayar ponselku.
Dengan sedikit ragu-ragu kuangkat panggilan tersebut dan aku membulatkan mata ketika yang kudengar suara lelaki yang selama ini kucari keberadaannya.
"Minnie-ah, ini aku Jungmo-oppa."
Aku mengepalkan tanganku dan dengan cepat berdiri dari dudukku dan menjawab panggilannya.
"Katakan! Dimana kau sembunyikan Sunghyunnie-ku! Katakan dimana?! Kembalikan dia! Kumohon!" Pintaku dengan sangat kepada lelaki itu dan aku hanya bisa mendengar helaan nafas disana.
"Bersabarlah sayang. Kita bicarakan ini baik-baik. Temui aku di Caffe Kona Beans jam 7 malam ini, jika kau benar-benar ingin bertemu dengan Sunghyunmu itu. Dan jangan lupa, berdandanlah yang cantik. Aku tak ingin melihat penampilanmu yang acak-acakan karena aku tidak menyukainya."
Pipp!
"Yeobosseyo! Yeobosseyo! Ya! Jungmo-oppa! Argghh!" Dengan seenaknya Jungmo malah menutup panggilanku. Setelah aku mengingat jika dia telah mengatakan nama Sunghyun tadi, dengan cepat aku membereskan perlengkapanku dan bersiap untuk pulang. Dia telah menjanjikan akan mempertemukanku dengan Sunghyun dan aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Aku harus merebut Sunghyun kali ini, harus!
.
.
Aku benar-benar menuruti keinginannya. Malam ini aku berdandan sangat cantik, jauh dari kata jelek seperti dandananku kesehariannya. Aku selalu saja menuruti kemauan namja itu. Aku tau memang bodoh dan aku tidak bisa menyangkalnya.
Aku mulai memasuki caffe yang dijanjikan oleh Jungmo oppa dan kuedarkan pandanganku. Kulihat dibagian sisi kanan seorang namja yang selama ini kucari keberadaannya duduk sendirian tanpa membawa seseorangpun bersamanya. Bukankah dia tadi berjanji akan mempertemukanku dengan Sunghyun? Tanpa kuduga Jungmo telah menyadari kehadiranku dan bangkit dari duduknya. Namja itu menarik pergelangan tanganku dan menuntunku untuk menuju kursi yang telah dia sediakan. Aku hanya bisa menurut dan duduk didepannya. Aku sadar namja itu terus menatapku tapi aku terus menundukkan wajahku karena aku tak ingin melihat wajahnya yang sama sekali tidak merasa bersalah itu.
"Sayang, jangan tundukkan wajah manismu terus, tataplah aku?" Ucapnya yang terdengar jijik ditelingaku apalagi jarinya dengan lancang mengangkat daguku dan terpaksa aku harus melihat wajahnya.
"Bicaralah jika memang ada yang ingin kau ucapkan. Katakan saja." Ucapnya lagi kemudian aku menepis kasar tangannya.
"Kembalikan Sunghyun-ku. Aku hanya menginginkan dia. Aku hanya menginginkan anakku untuk kembali padaku!" Pintaku dan dia hanya tersenyum tanpa berdosa dan aku sangat muak melihatnya.
"Kau hanya perlu bersabar sayang. Sunghyun akan kembali lagi padamu jika kau mau menuruti kata-kataku. Sampai Yuri pindah ke luar negeri nanti, aku berjanji akan membawa Sunghyun padamu dan kau akan hidup bersama dia." Aku hanya terdiam mendengar ucapan namja itu. Apa aku harus kembali mempercayai ucapan dia kali ini? Aku sungguh bimbang dengan perasaanku sendiri. Jungmo hanya terus memandangku dan dia memilih untuk beranjak dari duduknya dan menarikku lagi agar aku segera berdiri.
"Ja, sepertinya aku tidak berselera lagi untuk makan dan kaupun sepertinya juga. Lebih baik kau kuantar pulang. Aku rasa Yuri bisa mengamuk jika aku tidak segera pulang sekarang."
Setelah mengucapkan itu, Jungmo dengan lancangnya memeluk pinggangku dan tentu saja aku tidak menyukainya. Aku berusaha untuk melepas pelukan itu namun tangannya terlalu kuat sehingga aku hanya bisa pasrah diperlakukan begitu seenaknya.
Entah sampai kapan aku harus menjadi mainan Jungmo seperti ini? Apa yang kulakukan ini salah? Aku hanya ingin Sunghyunnie kembali, itu saja. Entah sampai kapan penderitaanku akan segera berakhir. Aku hanya bisa berdo'a, semoga Sunghyun bisa kembali kepadaku secepatnya.
=Sungmin Side End=
=TBC or END?=
lee hye byung : haayyy chingu.. bertemu lagi kita disini :D hihihii.. iyeee si daddy emang arogan bangett.. kita timvuk aje nyok? :v
orange girl : iyee… si Momo emang jahat T.T #Plak! ini udah lanjut chingu.. makasih banyak udah review ;)
SecretVin137 : ini baby sunghyunnie baru muncul.. tapi pas dibagian ingatannya Ming :D kkk~ ini udah lanjut eon , gomawo udah review ;)
ratu kyuhae : hehe.. ne udah.. gpp kalo chingu lupa yg penting pas chap ini ikutan review lagi :D hihihihi.. iyee.. ahjumma mah emang ember.. sukanya gossip*, untung gossipnya ama Kyu bukan yg laen :v ini udah lanjut.. makasih udah review ;)
abilhikmah : hay eon.. kita bertemu lagi di ff ini :D Aammin..kita berdoa sama* ne ;) makasih udah nyempetin review ^^
TiffyTiffanyLee : ini udah lanjut chingu :D :D hayooo gimana menurut chingu? Terjawab di chapter ini pa gk ? :D jeongmal gomawo udah review ;)
haepopo : ne.. selamat datang di ff aneee :D #KasiTjivok! ane tunggu review berikutnya ;)
hyuna : neee… ini udah panjangan dikit gk saeng? eonni harap sih gtu :D hihihi.. ne! kasi semangat buat daddyyy! jeongmal gomawo saeng udah review ;)
lee hye byung : yaaa… sesuatu chingu :D hihihi.. makasih udah review ^^
Choi Ryeo Hyun : neee… kasi semangat buatt kuuuyyuuunnnn XD ini udah lanjut.. makasih udah review ^^
ovallea : ahahaha.. abisnya pan si Momo emang cocok jadi orang ketiga hubungannya KyuMin :v #Plak! ini udah next.. makasih banyak udah review ;)
dewi. : iyee.. si Momo yang ganteng-ganteng kayak serigala(?) itu :v #Pletak! iyee..ini udah dibantu :v udah lanjuttt nihh… tengKYU banget udah review ^^
nuralrasyid : ne… ini udah lanjut saeng… wuaa.. kita bertemu lagi disini.. makasih banyak saeng duah review ;)
wdespita elfjoy : yakin? :D hihihi… ini udah ada chapter 4 nya chingu… makasih banyak udah review ^^
KyuMin EvilAegyo : iyeee eon T.T Nii udah selese eon.. baru tadi sore ane pulang :D hihihi…ini ane udah update.. makasih buanyaakkk udah review :* #Tjivok
ikakyuminss : hayooo anak siapa? :D ini udah next chap 4 nya saengi.. makasih banyak udah review ^^
Park Heeni : eemmm… semua pertanyaan chingu bakalan terjawab kok nantinya… chingu pantengin aja terus ni ff… :D hihihihi.. makasih banyak udah review ^^
sparkyumin : iyeee T.T ini udah lanjut… makasih banyak udah review ^^
Maya Agnes : huwaaa….. kita bertemu lagi di ff ini eon.. masih inget ane? "Mheishiee taeminnie" yang biasanya update ff di fb? :D iyee.. ff ini emang udah pernah eonni baca kok.. cuman ada beberapa kalimat yang ane ubah jadi ceritanya agak sedikit berbeda :D makasih banyak eon udah nyempetin diri buat mampir dan ngereview lagi disini? ^^
Cho MeiHwa : hi juga eon :D ketemu lagi deh kita di ff ini XD Nanti bakalan keliatan kok eon gimana nanti usahanya si Kuyun buat uri Mommy tercintehh.. makasih banyak eon udah nyempetin buat review ^^
chokyuri : akhirnya eluu muncul juga beibbb! #Tjivok! iyee.. kagak lama kok si daddy dinistain Mommy.. cuman ya lama banget :v buahakhakhak #PLETAK! nih udah lanjut… tengKYU SUMAN elu udah mampir di ff nista aneee XD XD #Peyuk! #Timvuk!
Chapter 4 selesai. Wuaaa.. ini benar-benar panjang XD semoga tidak membosankan. Huweee~ ane harap kalian semua gk akan melempariku pakai sendal ataupun kolornya kyupil gara-gara kembali membuat Uri Mingie menderita! Mianhae?! #Plak!
Sekali lagi ini hanya fiksi. Jungmo tidak benar-benar menodai uri Ming karena kita tau sendiri Ming itu miliknya Kyupil. Jadi ane harap sih kalian gk ngamuk gara-gara membaca ff nista ini kkk~
Otte? Apakah alurnya terlalu cepat? Apa ceritanya mulai membosankan? Apa perlu ada perbaikan? Komentar kalian sangat ane harapkan karena dengan itu akan memotivasi ane juga untuk kembali melanjutkan cerita ini. Untuk itu, saran-saran dari kalian sangat ditunggu. Ikuti terus kelanjutannya ne, gomawo untuk yang sudah RnR di chapter sebelumnya. RnR again, please? ^^
