capitolo i.

Danau

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Saya tidak mengambil keuntungan materiil apa pun dari menulis fanfiksi ini.

.

..*.. = flashback


..*..

"Ini kotak terakhir," Midorima membungkuk di dekat pintu untuk meletakkan kardus cokelat di lantai kayu, "ternyata punyamu."

"Ah?" kata Akashi. Dari tempat Midorima berdiri, sosoknya kelihatan hampir hanya sebagai siluet yang sedang memiringkan kepalanya. "Terima kasih sudah membawakannya, tapi sebenarnya kau hanya perlu memanggilku lho, aku bisa mengambilnya sendiri."

"Sopir mobil pengangkutnya terlihat ingin segera pulang, akan lebih cepat kalau aku langsung membawanya ke atas saja daripada repot-repot memintamu turun." Ia menaikkan kacamata. "Jadi, apa saja yang kau lakukan sejak tadi, memasang tirai? Produktif sekali."

Tawa Akashi keluar dalam dengusan pelan, tapi ia tidak mengelak, tidak juga berpindah tempat. Pemuda itu tetap bersandar di pertengahan bingkai jendela, sementara kacanya yang setengah terbuka mengembus tirai putih tipis di sisinya. Matahari sore berada tepat di belakang Akashi, membuatnya seakan memiliki halo berwarna oranye di sekeliling rambutnya yang berkilau merah. "Sebenarnya, ini bukan tiraiku. Sudah ada di sini sejak kita datang melihat-lihat waktu itu kok."

"Sungguh? Itu aneh sih, kok mereka tidak mengangkatnya, ya."

"Tidak apa-apa." Suara kertas terdengar saat ia membalik halaman buku yang sedang dipegangnya. "Berarti aku tidak perlu membeli tirai lagi, kan?"

Di lantai apartemen mereka yang baru, di depan kaki mereka, tersebar dus-dus yang setengahnya baru dibuka, satu atau dua di antaranya memuat lusinan buku. Akashi selalu suka membaca. Midorima tahu karena pertama kali ia berkunjung ke rumahnya ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, mereka mengerjakan tugas di perpustakaan keluarga dan Akashi memberitahunya tentang bermacam buku yang disukainya. Midorima juga menyukai buku, dan itu membuat mereka semakin mudah untuk menjadi dekat. Sekarang ketika mereka telah memutuskan untuk berbagi apartemen, ia sama sekali tidak terkejut kalau Akashi juga membawa koleksi favoritnya.

Meskipun begitu, Midorima tahu hanya ada satu buku yang paling disukai Akashi—judulnya tidak pernah didengar orang dan penulisnya pun tidak diketahui—Paradiso. Sampulnya cokelat kaku, dengan judul berukir yang dibubuhi warna emas. Tebalnya enam ratus halaman dan mungkin cukup berat untuk memecahkan kaca jendela. Akashi bilang ia mendapatkan buku itu dari mendiang ibunya; cetakan yang dipegangnya sekarang adalah versi terjemahan Inggris dari aslinya yang berbahasa Italia. Midorima sendiri tidak pernah membacanya, tapi sahabatnya itu sering mengutip bagian-bagian favorit hingga mungkin sepertiga isinya sudah pernah ia dengar. Buku itu mengisahkan tentang seseorang yang masuk dan berpetualang ke sebuah dunia bernama Paradiso—sebuah kisah fantasi, dan menurutnya sama sekali tidak cocok dengan tipe bacaan Akashi yang lain. Di berbagai kesempatan, si pemuda berambut merah juga suka membicarakan konsep yang ada di buku, membuat Midorima berpikir kalau ia agak terlalu terobsesi. Satu-satunya pembelaan Akashi hanyalah bahwa ia menemukan banyak hal menarik dalam buku itu, lebih dari sekadar fantasi untuk anak-anak. Midorima masih tidak paham.

"Midorima, kau tahu kan apa artinya Paradiso?"

"Bagaimana mungkin tidak?" sahutnya. "Kau sudah membicarakan soal itu ribuan kali."

"Sebuah tempat atau pernyataan akan kebahagiaan yang besar, tidakkah menurutmu maknanya tanpa batas?"

"Jadi, apa inti ucapanmu kali ini?" Midorima menghela napas, enam tahun lebih mereka bersahabat, ia sudah melewati hal ini berkali-kali seperti sebuah rutinitas mingguan. Akashi tahu jelas kalau si pemuda berkacamata sudah bosan, tapi tetap terus saja menggunakan apa pun yang berhubungan dengan buku itu dalam perkataannya.

"Yah, aku hanya mau bilang, kalau aku juga ingin membuat tempat tinggal baru kita menjadi paradiso," kata Akashi, "sebuah tempat yang kau dan aku bisa melewati hidup dengan gembira sampai empat tahun ke depan." Ia menutup bukunya dengan debum pelan. "Jadi mulai hari ini pun, yoroshiku."

Angin bertiup lagi, untuk sesaat Midorima tidak tahu bagaimana harus menjawab, karena rasanya agak konyol dan menggelikan kalau ia mendengar sesuatu yang seperti itu dari Akashi. Mereka sudah saling mengenal sejak lama sehingga ia tidak merasa mereka perlu saling berkata, "Mulai saat ini kita akan sering berurusan dengan satu sama lain, jadi mari punya hubungan yang baik." Bahkan sewaktu masuk ke universitas yang sama, nyaris tidak butuh pernyataan apa pun bagi keduanya untuk mencari 2LDK[1]. Semuanya hanya terjadi begitu saja, baik Akashi ataupun dirinya sudah berekspektasi kalau mereka akan berbagi tempat tinggal.

Maka untuk detik-detik pertama, mereka hanya bertatapan. Ia tidak bisa melihat dengan jelas karena cahaya di belakang Akashi, tapi Midorima tahu kalau matanya yang semerah batu rubi itu sedang memandanginya. Akhirnya sembari membetulkan letak kacamata, ia keluarkan sepatah kata sebagai balasan,

"Yoroshiku."


Satu hal yang pertama kali disadari Midorima ketika terbangun adalah bahwa ia sedang tenggelam.

Hal kedua yang disadarinya adalah dingin, dan rasa dingin itu menjepit paru-parunya ketika menarik napas. Panik, tangannya menggapai dan merasakan angin; seketika dikerahkannya segala tenaga yang bisa ia kumpulkan untuk menarik dirinya sendiri ke posisi duduk. Kepalanya melewati batas permukaan, lalu ia terbatuk-batuk memuntahkan air yang sempat tertelan. Midorima merasa pening, jantungnya berdebar-debar karena keterkejutan serta kebingungan, sementara pandangannya berputar-putar sebelum akhirnya berhasil fokus.

Dari balik lensa kacamatanya yang buram karena air, Midorima bisa melihat kalau dirinya tenggelam hingga ke dada. Airnya jernih dan berkilau ketika memantulkan cahaya matahari siang. Ia menyapukan tangan ke wajah dan rambut, seluruhnya basah. Pemuda itu menatap sekeliling dan mendapati dirinya sedang terduduk di bagian pinggir yang dangkal dari sebuah danau.

Sembari menunggu denyut di pelipisnya meringan, Midorima perlahan bangkit ke posisi berdiri, benar-benar gagal membayangkan kalau sebelumnya ia berbaring di bawah air. Bagaimana bisa? Mau dilihat dari mana pun, tetap saja mustahil. Pemuda itu membungkuk, menumpukan kedua tangannya di lutut, berusaha mengatur paru-parunya yang masih kaget. Ketika sakit kepalanya sudah mereda dan ia tidak lagi merasa akan kehilangan keseimbangan, Midorima menegakkan tubuhnya dan mengedarkan pandangan ke sekitar.

Jauh di atas kepalanya, gumpalan awan putih tersebar di langit yang mirip kain biru pucat. Matanya turun, menyapu bentangan hutan kemerahan; pohon-pohonnya terus tumbuh hingga ke atas lembah yang melingkari danau. Midorima tidak begitu yakin, tapi sepertinya ia melihat pegunungan di kejauhan. Tempat itu seperti jenis lokasi yang bakal dibeli pengembang vila atau orang kebanyakan uang yang mungkin menginginkan tempat semitersembunyi untuk liburan, hanya saja sepinya lebih mirip pemakaman. Dipasangnya telinga, tapi sama sekali tidak terdengar bunyi-bunyian burung atau binatang lain yang ia harap akan ada. Udara sebenarnya cukup hangat, namun bajunya yang basah membuatnya agak kedinginan. Midorima sama sekali tidak tahu di mana dirinya berada atau bagaimana ia bisa sampai ke sana, apalagi percaya kalau ini benar-benar nyata dan bukan hanya bayangan atau mimpinya saja.

Mimpi—ah, itu dia! Mungkin saja sekarang Midorima memang sedang bermimpi dan karenanya semua terasa janggal. Tapi hipotesis itu tidak sedikit pun menjelaskan apa-apa ataupun menenangkan hatinya—dan bukankah normalnya ia akan terbangun ketika tersadar sedang bermimpi?

Air beriak saat ia bergerak. Di awal, langkahnya terasa aneh, begitu ringan seakan-akan ia melayang, kemudian saat keluar dari danau, mendadak bumi yang dipijaknya menjadi lebih konkret dan ia merasakan berat dari sepatunya yang terisi air. Pelan, suara kerikil kelabu yang memagari danau berderak saat terinjak. Mimpi ataupun bukan, itu urusan belakangan, setidaknya Midorima harus segera menemukan penjelasan akan keadaannya sekarang. Ia tidak mau hanya berdiri saja di tempat itu, menjadi tiang jemuran untuk pakaiannya yang basah. Maka diputuskannya untuk berjalan ke arah hutan, keluar dari lembah. Mungkin ada pemukiman di balik sana, tempat ia bisa mencari perlindungan dan bertanya pada orang-orang.

Sesaat ia bahkan sempat geli sendiri, ketika menyadari responnya masih terlampau rasional untuk sesuatu yang sudah lumayan ia yakini hanyalah mimpi.

Sembari berjalan, Midorima menghapus titik-titik air dari kacamatanya dengan jari. Awalnya ia tidak begitu peduli, tapi kemudian ia ingat kalau ada orang yang selalu lebih rewel soal kacamatanya dibanding dirinya sendiri. Orang itu adalah Akashi, yang gemar sekali memberitahu, "Midorima, kacamatamu kotor tuh", "Midorima, lensa kacamatamu ada bercak jarinya", "Midorima, kok kau bisa tahan sih—ada bulu mata rontok yang menempel di sudut kacamatamu" dan hal-hal semacam itu. Ia sering kali terlalu sibuk untuk mengurusi hingga akhirnya Akashi menggapai sendiri kacamatanya dan mengambil lap yang selalu Midorima bawa, membersihkan lensa-lensa itu untuknya, lalu menempatkannya kembali ke batang hidungnya serta lap itu ke saku kemejanya.

Midorima merogoh saku jaket serta celana; lap itu tidak ada, tidak juga Akashi. Ia merasa ada sesuatu yang ia lewatkan, sesuatu yang kurang, sesuatu yang hilang; mungkin karena lap kacamatanya tidak ada, atau karena Akashi tidak bersamanya, sebab sekarang keadaan sekitarnya sedang aneh dan pengalaman tidak biasa apa pun yang pernah dimiliki Midorima selalu melibatkan Akashi.

Ia berhenti di tepian hutan, ragu-ragu. Akankah keputusannya benar? Ia sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam sana, ia bisa saja tersasar dan tidak bisa menemukan jalan ke mana-mana lalu mati kehausan—itu pun kalau tidak ada binatang buas yang menemukannya terlebih dahulu atau yang semacam itu. Tapi kemudian ia mendengus, meyakinkan dirinya sendiri kalau sekarang ia memang benar-benar sedang bermimpi. Kalau Midorima bakal mati, ia pasti sudah mati tenggelam di danau tadi. Lagi pula kalau ia mati, itu seharusnya bisa membangunkannya, kan?

Sesaat, dipandanginya lagi danau itu. Midorima membayangkan dirinya sendiri duduk di tepiannya, melipat lengan dan berpikir akan situasi apa yang sebenarnya sedang ia hadapi sekarang. Sesaat juga ia tergoda untuk kembali ke sana dan melakukan itu, tapi logikanya berkata kalau ia juga tetap tidak akan menemukan jawaban apa pun hanya dengan berdiam sana.

Maka tanpa berpikir lebih panjang lagi ia memasuki hutan, dengan hati-hati memilih jalannya di antara pohon-pohon yang ternyata tidak tumbuh terlalu rapat. Tanah di bawah sepatunya berselimut dedaunan dan ranting, berkertak ketika ia lewat. Midorima melangkahi sesemakan, sesekali juga menendang batu-batu kecil. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia melewati hutan atau menghabiskan waktunya di sekitar pepohonan taman kota, tapi entah bagaimana ada perasaan nostalgia yang merambatinya. Nyaris semua dedaunan yang ada di sana berwarna merah dan kuning, sementara daun-daun yang telah gugur ke tanah bernuansa oranye dan kecokelatan. Midorima tidak tahu apakah harusnya musim di mimpi mengikuti dunia nyata, tapi di seberang sana sekarang sedang awal musim panas, bukan gugur seperti yang ditemuinya sekarang.

Bagai tanpa akhir, di balik pohon hanya ada pohon-pohon lagi, dan di bagian terjauh yang bisa dicapai oleh matanya hanya ada warna kelabu samar. Di hutan itu ada kabut tipis, yang membuat udara jadi lebih dingin dan membatasi jarak pandangnya. Dihadapkan dengan lebih banyak keanehan, ia justru melangkah lebih cepat, hampir berlari, memutari tanah yang terlihat landai, melompati akar pohon yang mencuat dan berbonggol, merunduk untuk menghindari dahan pohon yang hampir bertemu dengan kepala.

Semakin jauh ia masuk, semakin suhunya mendingin. Midorima agak khawatir ketika mendapati napasnya mulai keluar dalam potongan uap putih. Baju yang dikenakannya adalah jaket lengan pendek yang ia rasa mungkin dikenakannya sebelum pergi tidur; air yang membasahinya membuatnya hampir menggigil. Tapi ia tidak bisa berhenti, tidak bisa juga berbalik lagi. Fokusnya hanyalah untuk menemukan jalan keluar, jalan keluar—

Kemudian suara tembakan terdengar.


Di sebelahnya, bagian batang pohon yang sejajar dengan kepala Midorima mendadak memiliki lubang.

Suara tembakan terdengar lagi, dua kali, dan hanya butuh sepersekian detik baginya untuk menyadari bahwa gema yang muncul setelah itu berasal dari balik tulang iganya sendiri.

Refleks, Midorima menjatuhkan dirinya sendiri agar rata dengan tanah, melindungi kepalanya dengan kedua tangan meski sebagian akal sehatnya yang tidak macet berkata kalau itu sama saja dengan tidak berguna. Dadanya terasa meledak-ledak, seluruh darahnya terasa dipompa ke telinga ketika mendengar letusan senjata. Sedikit pun tidak tahu apa yang terjadi atau apa yang harus dilakukannya sekarang, tapi ada sesuatu yang ia yakini; siapa pun yang menghasilkan suara itu, Midorima sama sekali tidak ingin menemuinya.

Keheningan menakutinya jauh dibandingkan sebelumnya ketika ia menyadari bahwa hutan itu benar-benar mati. Tidak ada suara burung-burung yang berterbangan saat mendengar keributan, tidak ada gemeresak daun akibat binatang-binatang yang berlari mencari perlindungan. Di tengah-tengah cekaman itu Midorima berusaha menajamkan pendengaran, berharap menemukan apa pun yang bisa dijadikannya petunjuk akan lokasi asal tembakan. Samar-samar di kejauhan, ia seperti bisa mendengar langkah kaki… tapi Midorima tidak begitu yakin, dan ia bisa saja salah mendengar karena sibuk dimakan oleh kepanikan—kemudian suara yang ia pikir didengarnya itu menghilang, dan tidak pernah dalam hidupnya ia merasa begitu sendirian.

Midorima menunggu lebih lama, mengumpulkan keberaniannya untuk kabur menyelamatkan diri. Entah berapa menit yang telah lewat; ia masih sedikit gemetaran, tapi setidaknya berhasil berdiri di atas kedua kaki. Masih tetap dengan punggung yang membungkuk, ia bergerak menjauh, memacu langkah, menembus sesemakan. Mimpi ataupun fantasi ia sudah tidak memikirkannya lagi; yang jelas perasaan ngerinya sungguhan, dan ia tidak punya secuil pun keinginan untuk mencicipi peluru meski itu mungkin hanya bohong-bohongan.

Pemuda itu berdecak; ranting-ranting tetap saja berisik saat terpijak tak peduli seberapa pelan pun ia berusaha bergerak. Beberapa kali juga lengannya tergores, dan ada noda tidak menyenangkan di lensa kacamatanya. Tapi ia tidak peduli, ia hanya perlu lari, lari, lari—dan di balik belokan yang tercipta dari pohon serta semak-semak, ia mengerem mendadak.

Mereka berdua sama-sama menarik napas terkejut; jantung Midorima serasa melesak ke lutut.

Di hadapannya berdiri seorang pemuda dengan ekspresi kaget bodoh menempel di wajahnya. Matanya membelalak lebar dan mulutnya setengah terbuka, tapi tubuhnya sigap dan ia berdiri di kuda-kuda. Namun bukan itu yang menarik perhatian Midorima, melainkan benda yang dipegangnya dengan kedua tangan: sebuah senapan berburu.

Sekarang ia tahu dari mana asal suara tembakan tadi.

Belum sempat ia mengatakan atau membuat pergerakan apa pun, pemuda itu sudah berbicara lebih dulu, "Ya Tuhan, kau menakutiku, kukira kau tadi beruang atau yang semacamnya. Kau tidak apa-apa, kan?" Satu tangannya menggaruk bagian belakang kepala, sementara bibirnya membentuk senyum yang terlihat lega sekaligus meminta maaf.

Midorima tidak menjawab, ia sendiri masih memulihkan diri dari keterkejutannya, sementara apa pun yang diucapkan pemuda itu saling berlomba dengan suara jantungnya sendiri. Kakinya terasa lemas, tapi pada saat yang bersamaan juga ingin bersiap kabur. Kalau mengikuti logikanya, sebenarnya ia lebih suka tidak berurusan dengan seseorang yang membawa-bawa senjata api, terutama kalau seseorang itu berusaha menembaknya.

Tapi lalu masuk pemahaman lain ke dalam kepalanya, kalau sebelumnya ia sendirian dan keheranan, sekarang ia menemukan seseorang—seseorang! Bayangkan itu! Midorima sedikit lega meski masih waspada, tadinya ia kesulitan memikirkan apa yang terjadi jika ia tidak bertemu dengan siapa pun.

Pemuda itu sekepala lebih pendek darinya, dengan rambut sehitam gagak dengan potongan yang terbelah di tengah kening. Ujung-ujung poninya menyentuh sisi mata, sementara matanya sendiri seperti manik-manik kelabu. Ia mengenakan rompi cokelat di atas kemeja putih berbahan kasar yang lengannya digulung hingga siku, serta celana yang bagian bawahnya menghilang ke dalam sepasang sepatu bot. Gerak tubuhnya berusaha terlihat santai, namun Midorima sadar kalau ia juga sedang bersiaga, sementara tatapannya yang tajam memberikan kesan kalau ia mengamati banyak hal sekaligus. Ia menunggu tapi Midorima tidak kunjung menjawab, maka pemuda itu kembali berujar, "Kau tampaknya tersesat, Kawan." Kalimatnya tidak diucapkan dengan nada yang mengejek, malah hampir seperti penuh simpati dan Midorima berpikir apakah ia memang terlihat seputus asa itu, hingga orang yang baru melihatnya saja langsung tahu dirinya sedang kehilangan arah. "Kalau memang iya, aku bisa membantumu. Namaku Takao Kazunari."

Secara naluriah, Midorima memang orang yang penuh curiga. Dipandanginya lagi pemuda Takao itu dari atas hingga ke bawah, berusaha menemukan sesuatu yang dapat dijadikannya petunjuk apakah harus benar-benar lari atau tidak. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti alur sementara, sampai tahu persis apa yang harus dilakukannya. Membenarkan posisi kacamata, Midorima mengakui, "Sepertinya ya, aku memang tersesat."

Ia sesungguhnya ragu-ragu, tapi kemudian Takao mengulurkan tangan—dan ia tidak pernah bisa menolak jabat tangan dari orang lain. "Midorima," ia memberitahu namanya, "Midorima Shintarou."


"Tidak banyak binatang yang bisa berdiri di kedua kaki dan mencapai setinggi ini, oke?" Tangan Takao yang berlapis sarung tangan kulit naik melewati kepalanya, membuatnya setara dengan kening Midorima untuk memberi gambaran. "Dan tidak banyak juga orang yang berburu di sana selain aku, terlebih kabut tadi membuat Midorima kelihatan lebih besar dari ukuran sebenarnya. Jadi wajar saja kalau aku panik." Ia tertawa. Midorima sama sekali tidak melihat letak lucunya. Harusnya ia yang sebegitu panik—bukan Takao lho yang tiba-tiba dijadikan sasaran tembak padahal tidak melakukan apa-apa. Begitu sadar akan ekspresi wajah Midorima, Takao jadi semakin terlihat merasa bersalah dan meminta maaf lagi, hingga Midorima berkata kalau ia perlu berhenti karena dirinya baik-baik saja.

Takao membuka percakapan dengan bercerita. Pagi itu ia pergi berburu, tapi mendadak ada kabut dan sebenarnya ia sendiri juga sedang agak tersasar. Lalu ia melihat sosok Midorima dan mengira kalau pemuda itu adalah beruang, dan di sinilah mereka berakhir. Si pemuda berkacamata menahan dirinya sendiri dari bertanya hewan macam apa yang diburunya di tempat yang mirip hutan mati itu; ia juga tidak bertanya apakah Takao memang membiasakan dirinya untuk menembaki sosok apa pun yang lebih tinggi dari tubuhnya sendiri. Namun kemudian pembicaraan beralih ke Midorima serta asalnya, dan setelah menimbang-nimbang jawaban, akhirnya ia mengatakan yang sesungguhnya. Ia memang suka mengatakan hal yang berkebalikan dengan isi hatinya, tapi Midorima tetap bukanlah tipe pembohong yang sanggup mengarang cerita bebas. Pemuda itu sadar kalau ia sendiri masih belum bisa menerima fakta konyol bahwa dirinya mendadak muncul di sana, jadi ia pun tidak akan menyalahkan Takao kalau menganggapnya omong kosong.

"Jadi… kau terbangun di danau itu?" Takao memastikan. "Pantas saja kau basah begitu."

"Seperti itulah," ia berkata tanpa melihat ke arah lawan bicaranya, sadar persis kalau ceritanya tidak kedengaran masuk akal.

Takao tertawa pelan, suaranya unik dan ia punya cara tertawa yang mudah diingat; kekehannya bergulir pelan seperti nada-nada yang merdu. Jenis tertawa yang disukai Midorima dan tidak akan bosan ia dengarkan berkali-kali, meski sampai mati pun tidak akan pernah ia akui. Pemuda itu menyandarkan senapan ke bahunya. "Yah, katanya orang-orang memang 'muncul' dari danau itu," ia berkata, "bahkan kudengar, yang terakhir datang beberapa waktu lalu dari tempat yang sama, tapi aku tidak melihatnya langsung sih."

"'Orang-orang'?"

"Iya, orang-orang, kau bukan orang pertama yang tahu-tahu saja muncul kok, jadi aku tidak begitu kaget," ia mengibaskan tangan, terlihat terhibur dengan raut kebingungan Midorima. Pada titik itu pohon-pohon menjadi lebih jarang dan jalanannya semakin melandai, Midorima pikir mereka mungkin sedang menuruni lembah, lalu kedunya berbelok ke jalan setapak kecil, yang terpisah dari sekitarnya karena rumput-rumputnya lebih tipis dan tampak sering diinjak. Takao terus-terusan melihat ke arah langit, sekaan-akan ia takut hujan akan tiba-tiba turun atau karena ada suatu pikiran yang mengganggunya.

Pertama ia muncul tanpa penjelasan di danau, kemudian diberitahu kalau dirinya bukanlah satu-satunya orang yang bernasib sama. Midorima mengerutkan alis, bahkan absurd pun juga ada batasannya, dan yang ini sih, jelas sudah berada di luar jangkauan akal sehatnya. Mimpi, pasti mimpi, satu-satunya tempat hal seaneh ini bisa terjadi hanyalah di dalam mimpi.

"Boleh aku bertanya," mulai Midorima, "ini sebenarnya di mana?"

"Oh, kau tidak tahu?" Pemuda yang berjalan di sebelahnya seketika menoleh. "Kukira kau sudah tahu, karena orang-orang yang kubicarakan itu selalu tahu mereka ada di mana dan apa yang mereka cari."

"Aku tidak," sanggahnya, "aku juga tidak tahu apa yang aku cari."

"Kalau begitu kau pasti mencari kebahagiaan," Takao mengeluarkan tawa itu lagi, tawa yang mengingatkan Midorima pada seseorang, "karena kau berada di Paradiso."


[1] Apartemen dengan dua kamar tidur, L (living room), D (dining room) dan K (kitchen).