— Chapter 2 —

*Haise's PoV*

Entah apa yang membuat Arima-san berlama-lama melihatku seperti itu, well I admit, I shaved my pubic hair but, come on..tolong jangan lihat aku seolah aku ini penjual tubuh. Gaah, for God's sake, I'm naked and this awkward moment's totally embarrassing! Lututku sudah mulai bergetar, kepalaku berkunang. Aku rasa tubuhku tidak akan mampu menahan perasaan maluku lagi, aku berharap bisa pingsan sekarang juga sehingga aku tidak harus melihat tubuhku dilihat seperti ini.

Bernapas adalah cara terbaik untuk meredam kegugupanmu, sambil terus menatapnya aku menarik beberapa oksigen dan mengeluarkan karbondioksida ke udara, dan tepat setelah aku menghembuskan napasku, Arima-san memerintahku untuk berbaring dikasurku sendiri. Here it comes.

Tanpa ba-bi-bu aku segera melaksanakan perintah yang dimaksud, aku membuka selimutku dan membuangnya ke lantai begitu saja kemudian mendudukkan tubuhku terlebih dahulu, dengan sokongan kedua lenganku aku memanjat ke tempat tidurku sendiri. Aku mengangkat sedikit bokongku, mencoba mengadaptasi bahan yang menggelitik kulit telanjangku tersebut. Kenapa tiap kali aku telanjang tekstur bedsheet jadi berbeda sih? Apa mereka membuat sengaja merancangnya demikian sehingga bila ada pemuda telanjang diatasnya mereka akan langsung terangsang? Untuk pertama kalinya aku berpikir tidur tanpa bedsheet jauh lebih nyaman. Memejamkan mataku aku menggigit bibirku sendiri, ragu untuk merebahkan tubuhku sendiri ke material yang membuat sekujur tubuh geli. Aku menutup bagian privasiku dengan kedua lututku, dan aku bisa melihat Arima-san masih mengawasi pergerakanku.

"Apa sesulit itu untuk merebahkan dirimu di kasurmu sendiri?" Tanya Arima-san dengan intonasi yang mengerikan. "Apakah rematik tiba-tiba melandamu?" Ia menyilangkan kedua lengannya di dada.

"No, sir." Jawabku dengan gugup, "Aku hanya.." Aku memutuskan untuk tidak menyelesaikan kalimatku karena aku yakin Arima-san akan mengambil kesempatan dari kelemahanku saat ini.

"Hanya?" Suaranya terdengar menuntut penjelasan.

"Nothing." Setengah berbisik, aku berusaha keras untuk menampilkan senyum natural di wajahku. Saat aku kembali beradu tatap dengannya, aku bisa melihatnya menyilangkan kedua lengannya didada dan dagunya terangkat, aku tahu ia tengah menyuruhku untuk berbaring secepatnya. Dan dengan sekuat tenaga aku mengabaikan kegelian di sekujur tubuhku dan akhirnya merebahkan tubuh telanjangku. Bantal besar menyokong leherku, aku mencengkeram bedsheet sialan ini dengan kedua tanganku, aku merapatkan kedua pahaku, mencoba mengamankan bagian pribadiku dari tatapan lapar sang Dewa Kematian.

Aku berusaha bernapas lagi, menghipnotis rasa nyaman terhadap diriku sendiri. Bantal yang menyokong kepalaku cukup membantu, aku melihat ke arah lampu yang berpendar, cahayanya membuat kepalaku pening, bibirku mendadak kering. Aku baru akan memejamkan mataku saat kedua lengannya membuka pahaku dengan tidak sabar. Aku mencoba bangkit dengan lenganku saat aku lihat tubuhnya telah mendominasi tubuhku. Posisi kami bisa dibilang sangat awkward. Awkwardly erotic. Salah satu kakinya memenuhi bagian dalam pahaku, membuatku terpaksa memperlihatkan bagian intimku yang sejak awal aku lindungi. Arima-san dalam posisi setengah berbaring bertumpu pada salah satu sikunya, jari tangannya tenggelam dalam rambut putihnya dan tangan yang lainnya menangkup wajahku, tubuhnya yang masih berbalut pakaian lengkap mengunci pergerakan seluruh tubuhku, dan wajahnya sangat sangat dekat, hanya beberapa senti dari hidungku, aku pun bisa merasakan napasnya di wajahku. Kegugupan kembali menerorku.

Aku membuka bibirku, matanya masih tidak lepas dari kedua mataku, iris kelabunya tampak lembut namun terbakar oleh gairah disaat yang bersamaan. Ia secara seduktif menggesekan hidungnya pada puncak hidungku dan kalau bukan karena kacamata pengganggu itu keningnya sudah menempel dikeningku sekarang.

"Kau tidak perlu menutupi dirimu, Haise." Bisiknya diatas wajahku, dan aku tahu dirimu yang dimaksudnya disini adalah bagian pribadiku dan bukan aku. "No need to be shy, we're both men."

"You're so tense." Bisiknya mendaratkan kecupan ringan dibibirku yang kering. "Relax, Haise." Ia kembali mengecup bibirku dengan ringan kemudian menggigit bibir bawahku secara seduktif tentunya.

Aku mendesah saat ia menggigit bibir bawahku, gigitannya menyakitkanku secara erotis. Ahh..penglihatanku sudah tak lagi fokus. Damn, this guy, Arima-san membuka kacamatanya, dan akhirnya, lagi, setelah sekian lama aku bisa mengagumi wajah polosnya yang tanpa kacamata. Tanpa kacamata bodoh itu aku bisa melihat bulu matanya yang juga berwarna putih, aku suka saat bulu mata berwarna aneh itu berkibas saat mengedip. Tanpa aku sadari, aku mendesah lagi.

"You shaved." Katanya sambil tersenyum dengan aneh, dan kalau aku tidak salah lihat, pipinya merona. "Where did you learn that?"

Sejauh ini, aku rasa pernyataan barusan adalah pernyataan paling memalukan! Benar-benar yang paling memalukan dalam 20 menit terakhir. Aku berharap ada bom bunuh diri melingkar diperutku sehingga aku bisa meledak dan menghilang, warna merah dipipiku semakin berpendar seperti bola lampu, sialnya aku tidak dalam posisi yang tepat untuk menutupi rona diwajahku.

"I learnt that shaving makes vanilla-sex tastes better." Sahutku memprovokasi. OMG! What was I thinking? For God's sake, Haise kau baru saja menantang orang yang menyuruhmu telanjang! Dan apa yang aku pikirkan tentang having vanilla-sex?

"Smoother." Selanya tampak santai.

Oh my God! Did he just clarify my word? Damn, this pervert knew better than me. Kedua mataku berkedip dengan cepat mendengar revisinya tentang having a smoother vanilla-sex. Shit, Haise! Don't repeat that word, aku memperingatkan diri sendiri. Dan lihat betapa mudahnya ia menyebut hal yang demikian seolah hal itu hal yang diperbincangkan sehari-hari.

"Damn it, Haise." Cuitnya setengah tertawa. "Apa yang harus aku lakukan terhadap dirimu?" Punggung jarinya menelusuri pipiku dan berakhir memagut daguku.

"Setiap kali kita bertemu," Ujarnya menahan perkataannya sendiri, ia tampak berpikir untuk mendeskripsikan pendapatnya. "Kau selalu terlihat innocent yet so naughty disaat yang bersamaan, kau selalu mengejutkanku."

"Apa kau yakin kau belum melakukan sex sebelumnya, sebelum denganku?" Tanyanya antusias. What the fuck, man?

Aku menggelengkan kepalaku dengan hati-hati, mencoba mengingat apakah aku memang pernah melakukan pendekatan seksual sebelumnya kepada siapapun.

"Er, aku rasa tidak." Sanggahku dengan sopan.

"So ini yang pertama?"

"Hm." Sahutku mengangguk. "Bagaimana dengan anda, Arima-san?"

Tenggorokanku terasa tercekat saat aku mengajukan pertanyaanku sendiri. "Apakah anda pernah..melakukannya dengan orang lain sebelum aku?" Yes! I nailed it!

"Um.." Gumamnya menerawang, "No."

"I don't do romance with anyone." Tegasnya.

"But you're doing romance with a half-human."

"You bet." Bisiknya sambil mengangguk.

"Enough with the romance." Arima-san menarik daguku ke wajahnya. "You know I hate shit-talking." Ia langsung menyambar bibirku begitu mengakhiri percakapan. Arima-san melumat bibirku sekuat tenaga, lidahnya menjebol bibirku dengan tidak sabar. Aku bahkan tidak sempat bernapas dan mencerna situasi, saat lidahnya yang lapar menggerilya bagian dalam mulutku tubuhku menggulung secara refleks, aku bisa merasakan celananya bersinggungan dengan bagian intimku dan aku tahu itu bukan pertanda baik.

Selagi Arima-san sibuk melampiaskan gairahnya, akupun sibuk memanipulasi tubuhku terutama bagian sensitif itu. Tetapi Arima-san terus-terusan menggempurku dengan perbuatan tak senonohnya, seakan dia mengetahui betapa aku sedang berjuang untuk tidak terangsang. Lututnya semakin mendesak bagian itu, membuat kedua pahaku secara reflek menghimpit kaki kurang ajarnya. Secara otomatis pula perut dan kedua tanganku terangkat, aku meraih lengan bajunya dan berusaha mendorong lengan kekar itu untuk menjauhi tubuhku.

Hidungku tenggelam ke dalam ceruk pipinya sementara pergulatan lidah terjadi di dalam mulutku. Arima-san bahkan melumat bagian terluar bibirku hingga aku bisa membaui liurnya dengan jelas. Ia terus menekan kepalaku hingga bantal yang kutiduri membentuk sebuah ceruk yang besar.

Aku membenamkan seluruh jariku kedalam kemeja dan bisa merasakan otot dibalik kemeja itu mengeras. Oh shit, bayangan tentang lengan kekarnya semakin memperburuk kejiwaanku, aku pun mengerang dengan pasrah dan dengan dimulainya erangan erotisku, Arima-san semakin liar mencumbuku. Tanpa kusadari pula, aku mengangkat pinggulku, mempermudah bagain vitalku itu bersinggungan dengan celana yang masih dipakainya. Semakin pahanya bersinggungan dengan bagian pribadiku, semakin intens pula eranganku, begitupun ciumannya, aku sampai bisa menelan liurnya di mulutku.

Aku mengepalkan kedua tanganku di lengannya yang masih keras, tangannya yang sedari tadi memagut daguku kini menarik pinggangku mendekati tubuhnya, membuat bagian vitalku semakin mudah berkontraksi dengan pahanya. Napasku memburu, aku mendesah lagi, lagi, lagi dan lagi. Suhu ditubuhku naik seiring tempo ciumannya yang semakin cepat, semakin dalam, semakin bergairah dan semakin amoral. Damn this guy. God damn this guy. Darimana Arima-san mempelajari semua hal tentang memberi kenikmatan kepada orang lain secara liar seperti ini? God damn you, Arima-san, God damn you!

Pada akhirnya Arima-san menghentikan serangannya terhadapku. Ia mengangkat wajahnya dan aku bisa melihat dengan jelas bibir maskulinnya yang merona, bengkak dan basah. Kedua tangannya mendominasi wajahku, matanya yang terbakar nafsu terlihat lebih kejam dari sebelumnya dan secara tiba-tiba ia menjilat bibirnya sendiri dengan penuh kepuasan. Damn!

Aku mengerang dengan terkejut saat Arima-san berhenti menciumku, hidungku berterima kasih karena aku bisa bernapas dengan bebas, dadaku naik turun seiring napasku yang memburu, penglihatanku hanya dipenuhi oleh bayang-bayangan non moral. Arima-san tetap tampak keren dan bisa mengatur dirinya sendiri, saat aku mengangkat kedua tanganku untuk menangkup pipinya, salah satu tangannya menepis tanganku.

"As I said before, I owe you a present." Katanya tak terusik. "I'll give you in time. Nikmatilah hadiah natalmu." Ia mengangkat tangan kirinya kemudian meraup bagian pribadiku. Aku kembali mendesah dengan koheren, bahkan pernapasanku belum sempurna saat ia mulai mengeksplorasi bagian yang sudah mengeras itu, mataku membelalak, kepalan tangannya yang hangat mendominasi organ reproduksiku yang sensitif. Aku mengerang lagi, pinggangku terangkat secara naluriah membuat akses bagi Arima-san untuk semakin menyiksaku dalam kenikmatan yang tidak berujung.

Sebagai pelampiasan aku meraih bantal dibawah kepalaku dan meremas kuat-kuat ke material empuk tidak berdosa itu hingga tak berbentuk. Kenapa kenikmatan sebelum klimaks ini begitu insecure, kotor dan memabukkan? Aku kembali mengeluarkan desahan yang menggoda iman saat kepalan tangan yang dominan itu meremas organ sensitifku dengan gerakan yang perlahan, ia seperti sengaja menggoda pertahananku. Aku membasahi bibirku dan berkali-kali menenggak ludahku sendiri, memandang tatapan wicked sang penjajah tubuh itu, bibirnya membentuk sudut senyum.

"You dirty little pervert! Look how hard you are down here." Aku melesakkan sebagian wajahku pada bantal dibawahku, kata-kata erotis nan memalukan itu tidak seharusnya kudengarkan, aku jamin mukaku sudah benar-benar merah sekarang. "Aaah-" Aku berusaha meredam desahanku dengan menggigit bibirku sendiri, kedua mataku terpejam berharap kenikmatan menyakitkan ini berakhir secepatnya.

"Tidakkah kau ingin melihat dirimu sendiri, Haise?" Aku semakin berdenyut saat pijatannya semakin intens, ia melakukannya dalam gerakan up and down yang membuat perutku bergemuruh. Aku protes dalam desahanku, jantungku berderap seperti langkah kaki kuda, otakku sudah tidak lagi berfungsi dengan baik, pemikiranku telah dijajah oleh kenikmatan birahi.

"Aku benci orang yang menyembunyikan wajahnya saat aku berbicara. Berbaliklah dan tatap aku." Suaranya terdengar semakin masiv.

Oh, nein! (a.n: oh, tidak!) Aku tidak yakin apakah aku bisa menahan diriku lebih jauh lagi saat aku harus melihat wajahnya, hal itu sama seperti saat aku melihat diriku yang kotor di dalam cermin. Tapi aku tidak bisa menolak perintahnya kalau aku masih menyayangi diriku sendiri, maka aku pun kembali berhadapan dengan Detektif Special Class ini. Arima-san tampak tersenyum dengan sadis sementara kondisiku sudah seperti ikan yang kehabisan napas, keningku mulai basah dipenuhi keriingat, genggaman tanganku semakin erat dan aku bisa mendengar suara kain robek di kedua telingaku, aku tahu aku baru saja menghancurkan satu-satunya bantal yang aku punya. Aku akan meminta pertanggungjawaban Arima-san atas bantalku nanti.

Telunjuknya mengelus puncak ereksiku dan seluruh tubuhku menukik membentuk sebuah busur, desahanku kini naik beberapa oktaf membuatnya terdengar seperti teriakan yang erotis.

"Ah—No, Arima-san!" Protesku tersengal. Dadaku masih bergetar naik dan turun, aku menggigit bibirku dengan panik, bahkan aku tersedak oleh air liurku sendiri. Wajahnya masih tampak masiv, bibirnya kini tertutup rapat membentuk sebuah senyum yang menyeramkan, matanya menjadi lebih gelap dari sebelumnya.

"Look at yourself,baby."

Aku berusaha melakukan penawaran atas perintahnya barusan, adalah hal yang menjijikkan melihat ereksimu sendiri saat orang lain menyentuhmu. No no no! That'd be more than disgusting. Anything except that, please. But Arima Kishou on sadist-mode is no person for you to mess up with. Sebaliknya ia malah meneruskan stimulasinya pada bagian pribadiku.

Aku menelan ludahku terlebih dahulu, berusaha mengatur napasku yang sudah tersengal dan mengumpulkan keberanian seperti orang-orang yang akan melakukan bungee jumping dari ketinggian dua ribu kaki, aku mengatupkan bibirku, menarik napas dan menahannya selama beberapa detik kemudian mengintip bagian manly itu dari dadaku yang kembang kempis. Mataku berkedip dengan cepat, sangat terkejut melihat diriku yang sudah sangat mengeras! Holy shit, aku bahkan tidak pernah menyangka aku sendiri bisa menjadi sebesar itu, bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku menjadi se-pervert ini? Jesus, aku bahkan tidak merasakan apapun ketika aku tanpa sengaja melihat belahan dada Akira-san tapi kenapa saat Arima-san menyentuhku seperti ini aku jadi sekeras itu? Does that mean I have a different sexual orientation? Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku berdenyut, I just saw my very own manhood stood up begging for release. Benar-benar pengamalan pertama bagi diriku melihat bagian sensitifku mengeras seiring permainan tangan nakal Arima-san, merona, dan berdiri tegak merintih untuk dilepaskan.

Aku menolak melihat diriku sedang disiksa lebih jauh, setelah sepuluh detik yang menyiksa aku memutuskan untuk mengangkat kepalaku sendiri, menutup kedua mataku dan mencoba menghapus ingatan tentang sepuluh detik melihat bagian sensitifku sendiri. Kedua tanganku mencoba melampiaskan emosinya pada bantal malang yang sayangnya sudah tak berbentuk sempurna, bibirku tak berhenti merapalkan erangan yang bagaikan nyanyian erotis. I'm ready to explode.

Arima-san masih memegang kendali atas bagian pribadiku, ia meneruskan meremas kiblat sensitifku yang semakin berubah warna, menggelitik puncak ereksiku dengan telapak tangannya yang semakin hangat dan basah. Saat aku pikir Arima-san mengizinkanku keluar, ia menghentikan pijatan erotisnya, meninggalkanku yang sudah sangat putus asa meminta untuk keluar. Shit, why?

"I won't let you come just yet, baby." Bisiknya seolah mengetahui pertanyaan tersamarku. "Otherwise, it won't be any present." Ia mengecup keningku untuk meredam tubuhku yang bergetar.

"Sekarang angkat tanganmu, simpan diatas kepalamu dan jangan bergerak sampai aku bilang bergerak."

Akupun bergerak atas perintahnya, masih mencoba mengatur napas aku mengangkat tanganku dan meletakkan mereka diatas kepalaku, mulutku menggapai udara yang terasa tipis disekitarku, aku melihat kedua tanganku yang saling menyilang diatas kepalaku, berharap dengan berkonsentrasi pada tanganku sendiri ketenangan ditubuhku dapat kembali yang sepertinya sedikit membantu, sedikit demi sedikit rasa kesalku karena tidak bisa membebaskan hasratku menghilang. Aku mengatur posisi tubuhku, mencoba membuat diriku sendiri nyaman begitupun pria yang sedang menindihku ini, ia bertumpu pada kedua lengannya dan membawa tubuhnya lebih dekat pada tubuhku, ia mengecup pipiku berulang kali dengan lembut, meskipun begitu aku tetap saja berkonsentrasi membawa ketenangan kembali ke tubuhku.

"Relax, baby. You're so tense." Bagaimana bisa aku tenang saat aku berusaha keras menahan gairahku? Itu sama saja seperti kau berusaha menginjak rem di jalanan yang berlapis es pada musim dingin. It can't be handled.

Aku menangkap iris kelabunya yang mengawasiku tanpa berkedip dari ujung mataku. Tatapannya seperti tatapan burung elang yang akan menerkam mangsanya, lapar dan jahat. ia mengecup sudut bibirku yang masih meraih udara seperti ikan yang baru ditangkap lalu kembali mengecup pipi dan puncak hidungku berulang kali, seolah dengan kecupannya aku bisa sedikit menenangkan gairahku yang sudah menggebu-gebu, namun faktanya kecupan itu malah memperburuk kejiwaanku, bagaimana bisa aku diam saja saat aku bisa mendengarkan napasnya yang diburu oleh nafsu. Aku berusaha menyesuaikan kepalaku sehingga ia bisa dengan leluasa membaui wajahku. Holy fuck! Mendengar bagaimana Arima-san berusaha mengatur napasnya membuat bendungan konsentrasiku kembali hancur secara naluriah eranganku kembali meluncur.

"Stay still, Haise. And try not to speak." Bisiknya seduktif dipipiku. Aku membasahi bibirku yang ke sekian kalinya kemudian mengangguk dengan mantap. Lalu kecupannya menuruni pipiku hingga sampai di garis rahangku, secara otomatis aku kembali mengangkat wajahku, memberikan ruang yang lebih bagi bibirnya yang lapar itu untuk mengklaim santapannya. Mulutnya yang hangat menelusuri garis rahangku mulai dari bagian kiri lalu ke kanan, kemudian berakhir tepat didaguku. Setelah dagu, mulut nakal itu mulai meninggalkan jejaknya pada leherku. Tempo kecupannya mulai berubah, ia membasahi kulit leherku dengan lidahnya dan membuat lingkaran merona dengan mulutnya, aku bisa merasakan deretan giginya yang hangat pada leherku dan tanpa kusadari, eranganku pun muncul lagi.

Arima-san menghentikan kegiatannya tepat setelah mendengar eranganku. Aku baru berpikir bahwa ia tengah menggodaku lagi, sebelum akhirnya dia menyampaikan protesnya.

"I told you not to speak." Gumamnya dengan suara yang berat. "Otherwise we have to start from the beginning once again."

Aku mengatupkan bibirku hingga kedua gigiku bersinggungan, terkutuklah desahan ini sehingga tubuhku yang sudah setengah jalan menuju nirwana ini harus kembali menunggu. Inilah metode baru Arima-san dalam menyiksaku—mempersiapkan diriku hingga hampir klimaks dan mengulangnya kembali dari awal. God damn this guy.

Arima-san benar-benar memulainya kembali dari awal. Ia kembali mengecup pipi dan keningku, lalu berpindah ke jawline namun kali ini, ia menelusuri jawline-ku dengan lidahnya yang super hot. Oh, shit! Terkutuklah orang ini yang menggunakan segala cara untuk membuatku kembali turn on. Bagaimana bisa aku menahan eranganku saat lidah kurang ajar itu meninggalkan jejaknya diseluruh tubuhku. Aku mulai menggigit bibirku dengan gelisah, desahanku sudah sampai ke pangkal kerongkonganku, menggelitik untuk keluar. Aku memejamkan kedua mataku erat-erat, titik-titik keringat telah memenuhi wajahku dan aku hampir lupa kalau aku harus menjaga kedua tangan diatas kepalaku, aku membetulkan posisi tanganku yang sebelumnya hampir ku bawa menutupi mulutku, beruntung Detektif yang satu ini terlalu sibuk dengan kegiatannya menjamah tubuhku.

Arima-san mengotori leherku dengan salivanya, mencubit kulitku dengan giginya dan menyesap aroma kulitku dengan bibirnya, mulai dari otot sternokleidomastoidku, bagian pojok dekat dengan jawline, menggelitik adam's apple-ku lalu berakhir di ceruk tulang selangkaku. Dada terangkat seiring perjalanan mulutnya mendekati dadaku. Why it always feel so good when the moment of pleasure last longer? Perlahan eranganku bocor dari celah bibirku, oh no!

Tentu saja Arima-san tidak tinggal diam, iapun menghentikan aktivitasnya dan meraih daguku dengan kasar, aku terkejut saat jari-jarinya yang dominan itu menekan pipiku mendekati wajahnya yang tampak terlalu sadis.

"Shut your dirty mouth up." Arima-san mencengkram pipiku dengan keras. "Berhentilah mendesah, it's fucking distracting."

"Once you moan, I'm gonna rape you until you can't move. Dan kau akan kesakitan, mengerti?" Desaknya.

Bisakah manusia biasa memperkosaku sampai aku tak bisa bergerak? Aku tidak yakin, namun karena sosok Arima-san terhormat yang berbicara, akupun mempercayainya. Tak lama setelah aku mengangguk, Arima-san melepas cengkramannya dari pipiku lalu ia menyingkir mendekati dadaku, matanya masih mengawasiku seperti pengait saat ia menurunkan wajahnya dan menghilang di dadaku. Aku mencoba menutup mulutku kembali, bibirku mengatup hingga kedua gigiku bergemeretak.

Arima-san mencium ceruk dadaku dengan lembut, lalu bibirnya menelusuri garis dadaku hingga tiba di nipple-ku. Aku bereaksi, dadaku membusung seiring permainan lidahnya, aku bisa merasakan kedua nipple-ku mengeras. Shit, that goddamn tongue! Lidahnya membuat eranganku kembali sampai di ujung kerongkonganku, aku berusaha menanamkan ancamannya diotakku, namun apa yang bisa kulakukan saat tubuhku bergerak diluar kendali? Aku berusaha meredam eranganku sendiri dengan menggigit bibirku, kedua tanganku saling mengepal satu sama lain, tubuhku sudah jelas-jelas merintih supaya kenikmatan yang menyakitkan ini cepat-cepat berakhir.

Ia memperlakukan kedua dadaku dengan perlakuan yang sama, mulut hangatnya menguasai seluruh area areola-ku. Kesakitan menjalar disekitar puncak dadaku tersebut saat lidah dan giginya meninggalkan jejaknya disana. Saat dia rasa cukup bermain dengan dadaku, Arima-san menurunkan wajahnya ke perutku, aku bisa merasakan hembusan napasnya dengan jelas di perutku, membuat perutku mengencang dibuatnya.

Aku menolak untuk melihat Arima-san yang semakin mendekati bagian pribadiku, aku bisa merasakan kemeja bajunya bergesekan dengan bagian malang yang sedari tadi merintih itu. Kedua tanganku menggantung diatas kepalaku dengan pasrah, sementara aku masih berusaha meredam desahanku, oksigen serasa menguap disekelilingku, pernapasanku kembali tidak berfungsi dengan baik.

Arima-san mengecup permukaan perutku yang tidak tenang, ia mendorong lidahnya dilubang pusarku, membuat perutku semakin bergetar karena geli. Arima-san membuka kedua pahaku yang kerap bergerak.

"Keep your mouth shut, baby." Komandonya dengan suara yang dingin.

Dan wajahnya menghilang ke dalam selangkanganku, aku mengangkat pinggulku, memberikan ruangan cuma-cuma buat Detektif Special Class itu untuk mengotori bagian pribadiku. Arima-san menempelkan hidungnya membaui selangkanganku, kedua tangannya melebarkan kedua pahaku hingga maksimum, ia mencium bagian dalam pahaku dengan mulutnya yang masih super panas, lidahnya bermain diatas tulang kemaluanku, membuat tubuhku semakin menggelinjang tidak karuan, dan entah kenapa walaupun bagian itu tidak tersentuh aku bisa merasakannya excited. Arima-san berpindah ke pahaku yang lain dan melakukan hal yang sama, menciumi kulit pahaku hingga ke selangkangan kemudian meraba tulang kemaluanku dengan lidahnya dan kembali membaui kulit pahaku melewatkan organ seksualku yang juga meminta perlakuan yang sama.

Aku terus berbicara lewat tubuhku, bergerak memandu Detektif Special Class itu untuk menjamah barang pribadiku juga, namun yang sedang sibuk tampak tidak menggubris Bahasa tubuhku, sebaliknya ia malah melarikan bibirnya ke kedua kakiku.

"Keep silent, Haise." Ia memerintah disela-sela kesibukannya mencumbu jari kakiku. Apa yang dia katakan tentang hadiah kalau aku harus menderita seperti ini? Arima-san, you're so wicked.

Arima-san kembali membuka kedua pahaku dan menahannya,ia kembali mencumbu bagian dalam pahaku dan mengecup puncak ereksiku, ia menahan kedua pahaku yang bereaksi saat ia mencium puncak yang semakin merona itu tanpa malu. Aku bisa merasakan bagian pribadiku sendiri semakin mengeras dan berdenyut seiring mulutnya yang semakin menggoda ujung kepribadianku itu. Aku hampir saja mengeluarkan erangan yang dahsyat saat lidahnya menggelitik lubang kemaluanku, membuat sesuatu yang ada didalamnya semakin putus asa untuk dilepaskan. Arima-san terus menggodaku lebih jauh, tidak mempedulikan kejiwaanku yang depresi karena tidak bisa melampiaskan ekspresiku, kedua tanganku masih menggenggam satu sama lain, aku bisa merasakan rasa besi dari darahku sendiri, rintihanku semakin meninju pangkal tenggorokanku meminta untuk disuarakan, mulutnya mengurung perpanjanganku hingga ujung ereksiku bersinggungan dengan pangkal kerongkongannya, aku menggerakkan pinggulku naik turun, menstimulasi puncak ereksiku terhadap pangkal kerongkongannya yang begitu menggelitik. Aku merasakan kedua tangannya pindah ke bagian dalam pahaku, lalu tangannya mengganti pekerjaan mulut sensualnya. Salah satu tangannya meremas area pribadiku yang berdenyut sementara tangan yang lainnya berkeliaran disekitar puncak ereksiku yang semakin gelap dan basah.

"You-re so wet, Haise." Air mata merembes dari celah di mataku seiring usahaku menahan eranganku sekuat tenaga.

"Kau sangat sensitif." Remasannya jadi lebih kejam, kawah ereksiku diblokir secara possesif.

Air mataku mengalir semakin deras, keseimbangan tubuhku mulai kacau, kedua tanganku sudah gatal ingin menyumpal mulutku, keringat menguasai kening dan pipiku, beberapa tetes darah mengering di daguku. Perutku mengeras dan kedua pahaku mulai kesemutan, aku siap untuk meledak. Lalu aku merasakan mulutnya kembali menguasai puncak ereksiku, kedua giginya menghimpit lubang semenku, lidahnya membuat seluruh perpanjanganku berdenyut hebat, beberapa detik sebelum akhirnya aku meledak, ia menggiring diriku lagi menuju pangkal tenggorokannya. Pada akhirnya pangkal kerongkongan yang hangat itu memicu ejakulasiku. Aku menghembuskan napasku dengan penuh kelegaan, dalam sekali sentakan cairan semen dari dalam tubuhku meledak dan mengalir deras di dalam mulutnya.

Aku berhenti menggigit bibir bawahku, pinggulku merosot dan bergetar. Pada akhirnya aku bisa merengkuh diriku sendiri, aku menyuarakan eranganku yang sedari tadi aku tahan—terpaksa ditahan. Seluruh tubuhku seolah menyuarakan rasa terima kasihnya, aku mengacak rambutku sendiri, memfokuskan diriku dibawah sana yang masih berdenyut dan mengalir dalam mulut hangat si Detektif Special Class. Lidahnya menggelitik kulit kemaluanku sementara kerongkongannya bekerja seperti mesin penghisap menelan seluruh volume cairan itu tanpa rasa malu. I wonder what it feels like. Aku mendesah lagi, mengekspresikan kelegaan seluruh tubuhku yang akhirnya bisa merasakan kemerdekaannya, tak bisa menahan desakan untuk mengacak rambut putihnya aku membawa kedua lenganku melewati dada dan meraih kepala berambut putihnya. Pertama aku membenamkan seluruh jari-jariku hingga aku menyentuh kulit kepalanya, helaian rambut putih itu masih terasa halus seperti biasa, lalu aku meremas kulit kepalanya dengan perlahan mengikuti pergerakan mulutnya.

"Aah—" Desahku provokatif, sejalan dengan keluarnya erotic liquid itu dari area vitalku suhu tubuhku pun perlahan kembali normal.

Arima-san meninggalkan diriku yang masih mengalir, ia bangkit kemudian meraih rambutku dengan lembut lalu melumat bibirku lagi. Arima-san melesakkan lidahnya yang terasa seperti besi di mulutku, seluruh isi mulutnya terasa asin dan berbau besi. Aku menuntut bibirnya untuk menjelajah lebih jauh namun ia mengakhiri ciumannya, meninggalkanku kebingungan karena ciumannya yang singkat.

"Now, you know how you feels like, right?" Arima-san merebahkan dirinya disampingku bertumpu pada salah satu sikunya. Pipinya merona dan iris matanya terlihat melankolis, kami berdua saling bertatapan. Ia mengernyit lalu mendekatkan ibu jarinya ke bibirku. "Or not." Gumamnya, "Bibirmu terluka." Lalu ia menarik daguku lagi dan mendaratkan kecupannya dibibir bawahku yang terluka.

Aku bisa merasakan wajahku bersemu, aku menatap dirinya dengan begitu putus asa mengharapkan dirinya di lubangku, berharap ia menjajah tubuhku lebih jauh, bagian pribadiku berhenti berdenyut namun aku masih merasakan cairan seksualku mengalir meskipun tidak dalam volume yang besar lagi. Secara intuisif aku mengangkat tanganku dan bermaksud meraih wajahnya, namun ia menangkap tanganku di udara dan menggenggamnya.

"I told you I'm not going to fuck you." Ujarnya seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan. Ia kemudian menarik bahuku dan memaksaku memunggungi tubuhnya. Beruntung dia tidak bisa melihat kekecewaan diwajahku. Kenapa harus berakhir dengan cepat sih? Aku masih berharap dia akan mengubah pikirannya, namun Arima-san mengecup puncak bahuku dan berbisik di telingaku. "Sekarang pergilah dan bersihkan tubuhmu."

Plaak! Aku tersentak saat merasakan tangannya memukul bokongku. That was hurt, erotically hurt. Aku tidak bergerak selama beberapa detik, tubuhku melayang mengingat caranya memukul bokongku. Namun ia memukul pantatku lagi, menyadarkanku dari khayalan bukan-bukanku tentang perlakuannya barusan.

"Hurry up, I'm about to sleep!" Ia mendesak, membuatku dengan keberatan mengangkat tubuh dari peraduanku.

"Okay, Okay!" Protesku sambil berusaha mengangkat tubuhku dan beranjak ke kamar mandi dengan malas. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya lagi karena aku menolak melihat dirinya, baru pertama kali aku kecewa karena Arima-san bersikeras untuk tidak berhubungan sex denganku, aku berbohong pada diriku sendiri terhadap ketakutanku bila Arima-san memperkosaku, aku sadar sekarang; terpisah dari ketakutanku terhadap perlakuannya aku malah menginginkannya, menuntutnya menjamah tubuhku lebih jauh, I want to suck his cock! Memikirkannya membuatku sungguh frustasi, aku memijat keningku sendiri sebelum meraih kenop pintu dan mendorongnya ke dalam lalu menghilang dari penglihatannya—

—to be continued—

Garing ya? Garing ya? Garing ya? Gomenasai-

Next chapter I'm planning to make a bath scene *evillaugh*

Sorry for the early spoilers^^v