—Chapter 3—
I'm really sorry I forgot to add the disclaimer stuffs. Of course the whole characters and the whole story of Tokyo Ghoul and Tokyo Ghoul: Re belong to Ishida Sui.
Warning: Arima goes very out of character in this chapter, so beware folks!
Enjoy—
Aku menutup pintu dibelakangku dengan tidak bergairah, saat aku berbalik dan menginjakkan kakiku dilantai keramik berwarna putih baru kusadari betapa dinginnya malam natal itu. Aku memeluk tubuh telanjangku dan segera melompat ke bath tub setelah sebelumnya menekan tombol sakelar lampu. Hanya karena ini bukan kamar mandi utama, bath tub di kamar mandiku tidak berukuran besar, aku selalu menjaga kebersihan kamar dan kamar mandiku sendiri.
Bath tub berwarna putih dari porselen ini selalu mengkilap kapanpun aku mau mandi atau hanya sekedar membilas tubuhku. Ada ruangan kecil tepat disebelah bath tub bilasku yang kusulap menjadi beberapa kompartemen dimana tumpukan handuk berwarna-warni dan bersih selalu tersedia disitu, gagang shower yang selalu berwarna keperakan mengkilap bertengger di tembok yang berlawanan. Wastafel dan cermin yang berlawanan arah dengan pintu pun tidak luput dari perhatianku, menurutku wastafel dan cermin merupakan pasangan paling vital dari tempat mandimu, aku tidak tahan bila melihat wastafel setinggi perut itu kotor karena bekas pasta gigi atau sabun mukaku sendiri sehingga setiap habis membasuh wajah aku menggosok keduanya setiap hari. Dan aku tidak mengerti apakah aku membutuhkannya karena aku tidak pernah menggunakannya, kloset malang itu hanya menganggur dipojok ruangan, bibirnya selalu tertutup dan tampak kering, bahkan tampaknya penghilang bau kloset yang kutempelkan jadi terlihat sia-sia karena sesungguhnya aku tidak membutuhkannya. Lampu LED berpendar memberi cahaya kepada keseluruhan interior, kamar mandi pribadiku ini dindingnya mozaik dan dicat berwarna oranye dibagian atasnya untuk memberikan kesan hangat.
Aku menutup tirai bath tubku dan segera memutar kenop shower ke arah tanda merah. Tubuhku tersentak saat aliran pertama yang mengalir begitu dingin, membuat kedinginan ditubuhku semakin nyata, aku mundur beberapa langkah sampai titik-titik air itu tidak menghujaniku, saat aku merasakan kehangatan ditelapak kakiku, aku menyodorkan jari-jariku ke rintik air shower itu, aku membasahi seluruh tubuhku saat suhu dari air shower sesuai dengan suhu tubuhku. Aku memejamkan mata, merasakan rambutku sendiri terurai kuyup di wajahku, meski peristiwa horror nan erotis itu sudah berlalu aku masih bisa merasakan mulut Detektif Special Class itu di kepunyaanku, aku memberanikan diri melihat ke bawah—sejujurnya aku sering melihat barangku sendiri, namun karena aku—kita baru saja melakukan kegiatan memanjakan birahi kami masing-masing aku merasa sedikit risih.
Aku menggigit bibir bawahku sendiri—yang terasa sakit saat melihat kepunyaanku yang (untungnya) kembali ke ukuran normal, cairan air maniku lenyap disapu hujanan air hangat yang membasahi sekujur tubuhku. Beberapa menit yang lalu memang menit-menit yang mengerikan dimana Arima-san menyuruhku melihat ereksiku sendiri. Oh, Tuhan, rasa-rasanya aku sangat bersalah telah melacurkan tubuhku pada pria berambut putih itu. Walaupun aku sudah bukan dibawah delapan belas tahun, rasa-rasanya jijik saja melihat kepunyaanmu sendiri me—ah, sudahlah aku tidak mau melanjutkan kalimatnya. Nampaknya aku merasakan wajahku kembali merona. Benar-benar memalukan, disgusting, embarrasing!
Aku menundukkan wajahku, membiarkan tengkukku yang dihujani ribuan air hangat. Rasanya menenangkan seperti di sauna. Aku bisa sedikit melupakan ingatanku tentang ereksiku sendiri. Aku meraih rambutku yang layu dengan kedua tanganku, menyisir helaian basah itu dan memassage kepalaku sendiri dengan gerakan melingkar, kali ini leherku membutuhkan lebih banyak air sehingga aku menengadah dan membiarkan leherku dihujani air yang merelaksasi itu. Walaupun aku tahu hickey yang diukir oleh Arima-san dileherku tidak akan menghilang dalam beberapa hari, rasanya kesensualan bibirnya menghilang dari leherku. Faktanya, aku mulai melupakan seluruh sentuhannya ditubuhku barusan, air hangat ini benar-benar membantu. Aku masih asyik memberikan pijatan dikepalaku saat aku mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Akupun membuka tirai mandiku secepat kilat dan sudah melihat sosok Arima Kishou yang sudah telanjang bulat!
Mataku membulat dan membesar sebesar-besarnya. Apa yang dilakukan oleh Detektif berambut putih itu disini? Apa yang dia pikirkan tentang masuk ke kamar mandi seseorang saat ada seseorang yang sedang mandi di dalamnya? Dan apa yang dia lakukan terhadap semua pakaiannya?!
Bahunya yang tampak adamant itu masih bersandar pada kusen pintu saat aku menatapnya dengan ketakutan, salah satu tangannya masih berada di gagang pintu, punggungnya tegak memberikan kesan dengan dadanya seolah ia sedang menantang seseorang, ekspresi stoicnya seperti biasa, tidak dapat terbaca maupun ditebak, kedua iris kelabunya tertuju ke mataku tanpa berkedip. Sebelum aku bisa mengajukan pertanyaan tentang apa yang mau ia lakukan selanjutnya ia menyela.
"Let me have a bath with you." Tuntutnya lalu membawa dirinya masuk ke dalam ruangan.
Arima-san melompat ke bath tub dan menutup tirainya lalu berdiri tepat dibelakangku. Kehangatan yang menguar dari dalam bertambah karena kehadiran tubuh tegap sang Detektif.
"Berputarlah, hadap ke depan." Perintahnya padaku saat aku masih menatapnya dengan penuh pertanyaan dan ngeri tentunya. Aku merasa seperti orang bodoh karena melihatnya dengan mulut yang terbuka.
"Haise, aku benci saat aku harus menyuruh dua kali. Hadap depan!" Ia menghardik dan aku bisa melihat kedua alis putihnya bereaksi sebelum akhirnya aku memutar kepalaku sendiri dan kembali berkonsentrasi untuk mengatur napas. Here we go again.
Arima-san membasahi kedua tangannya sendiri saat pergelangannya bertengger di pinggangku. Suara rintik air shower kini bercampur dengan deru napasnya. Arima-san mencium bagian belakang leherku dengan lembut namun ada nafsu tertahan yang bercampur didalamnya, ciuman itu tidak berlangsung lama karena air hangat masih mengguyur tubuhku dan sebagian tubuhnya. Aku merasakan tubuhnya maju mendekatiku beberapa millimeter kemudian dia mengecup tengkukku lagi. Ia melahap pundak kiriku dan aku secara reflek mengangkat leherku, membiarkan bibirnya kembali membuat mahakarya di leherku. Seiring bertambah liarnya Arima-san di leherku, kedua tangannya semakin melingkar diperutku, menghantarkan sengatan sensual kembali ke sekujur tubuhku yang memang masih menuntut sentuhannya. Tubuhku terasa lebih ringan saat aku mendesah lagi untuk yang pertama kalinya.
Arima-san menggunakan tangan kanannya untuk memutar kenop shower, membuat aliran air hangat berhenti menghujani kami berdua kecuali sisa tetesan air ditubuh kami, tubuh kekarnya kini benar-benar menempel pada tubuhku, aku bersandar di pundaknya seperti orang yang sedang mabuk dan bagian pribadinya bergesekan dengan punggungku, Oh God! Karena aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat, tanganku mencoba menggapai-gapai wajahnya.
Jemariku sukses mendarat dirambutnya yang basah sebagian, kepala itu bergerak-gerak disaat aku menyentuhnya karena kegiatan bercumbu yang sedang dilakukannya, aku menaikkan desahanku beberapa oktaf saat lidah hangatnya menjilati kulit leherku, tanganku meraba pelipisnya, tanpa sengaja menyentuh bulu matanya yang lembut dan mengerjap-ngerjap dengan seksi. "Aah—" Kepalaku semakin terangkat dipundaknya, mendesak cumbuannya menjadi semakin liar dan sensual.
Deru napasnya menggambarkan ketertarikan di kulit leherku, bibirnya yang lembap melumat kulit leherku seperti ia melumat sepotong semangka, menimbulkan bercak kemerahan dari bawah kulit. Aku mengakui, seluruh tubuhku pun merona di genggamannya. Kedua tangannya seperti tidak rela meninggalkan perutku seolah perutku akan dirampas apabila tangannya pergi. Isi perutku bergolak bersamaan dengan jemarinya yang berlarian dengan posesif diperutku dan hanya tinggal menunggu waktu sampai aku kembali ereksi.
"Dimana sabunmu?" Tanyanya setelah ia menggantung cumbuan yang memabukkan itu, meninggalkanku lagi-lagi dalam kebingungan dan tubuhku mengecam perbuatannya. Aku bisa menangkap desahan dari pertanyaannya.
Ia menyentak diriku sedikit kasar sehingga aku benar-benar kembali dari khayangan, aku bisa mendengar degup jantungku sendiri saat aku mengambil botol sabun cair yang kuletakkan diatas kompartemen handuk, aku berbalik tanpa melihat dirinya dan mengopernya botol sabun cairku yang berwarna hitam.
Tanpa perlu mengucapkan terima kasih, Arima-san membuka flip-top botol sabun itu dan menuangkan cairannya dipergelangan tangan kirinya. Leherku berkontraksi saat kedua tangannya yang berselimut busa sabun yang lembut menggosok pundakku, ia juga menyebarkan busa sabun itu ke seluruh leherku kemudian ke sebagian bahuku, saat busa menipis Arima-san menuangkan cairan sabun itu lagi dan mulai menggosok tanganku.
Ia memulainya dengan tangan kiriku, menggunakan tangan kirinya, ia menahan jemariku sementara tangan kanannya mendistribusikan seluruh sabunnya ke kulitku, tangan kananku mendapat perlakuan yang sama. Aku terpaksa menahan desahanku saat ia menggosok ketiakku lalu menelusuri sepanjang punggung dan berakhir di tulang panggul. Kemudian ia berhenti untuk mengisi ulang sabun di tangannya. Arima-san memulai kembali dengan menggosok tulang belikatku, ia memastikan telah benar-benar menyebarkan busa sabun yang selembut sentuhan wanita itu hingga kulitku tertutup, aku meregangkan punggungku saat Arima-san memberikan sedikit penekanan di sekitar situ. "Ooh—"
Seluruh busa di kedua tanganku hampir menghilang saat aku merasakan ia merundukkan tubuhnya, kepalanya setinggi bokongku sekarang dan ia meremas pantatku dengan kedua tangannya yang ditutupi sabun yang melimpah, lalu beralih ke pahaku, pantatku mengeras saat jarinya menyentuh bagian dalam pahaku dan nampaknya ia sengaja berlama-lama ditempat itu untuk menggodaku lalu menggosokkan sisa busanya dengan rata ke bagian depan kakiku dan berakhir di pergelangan kaki.
Aku melihat kepala putihnya mencuat dari paha kananku, kedua tanganku kini mengkilap imbas dari busa-busa sabun yang telah luntur, iris kelabunya penuh dengan perasaan menyelidik saat aku menoleh ke arahnya mengabaikan bagian pribadiku, ia sesekali mencuri pandang ke bagian pribadiku yang mulai merona, wajahnya tampak puas melihat diriku yang carut marut berusaha untuk menahan diri.
"That part needs to wash too."
Lalu ia menarik dirinya lagi untuk berdiri. Arima-san kembali mengisi ulang cairan sabun ditangannya lalu menggosok kedua telapak tangannya hingga cairan sabun itu larut menjadi tumpukan busa lembut berwarna putih bersih.
"Stay still." Gumamnya dingin ditelinga kananku. Aku menelan ludahku dan kembali mempersiapkan diri.
Dadanya kembali bersinggungan dengan punggungku, kedua tangannya menyelinap dari celah tanganku dan meraih bagian pribadiku tanpa ragu sedikitpun, ia menggosok kedua tangannya yang dipenuhi busa di sekitar bagian pribadiku, meremas dan memijat area vitalku dengan penuh provokasi.
"You sure came a lot in my mouth." Godanya ditelingaku.
"I want this part become very sterile." Aku bergidik saat tangannya meremas kemaluanku dengan kejam, membuat desahanku menjadi pekikan. Aku bisa merasakan bagian pribadinya berkontraksi seiring dengan remasan dan pijatannya di kiblat seksualku.
"I remembered how excited you were a couple minutes ago." Suaranya sedikit menghilang, "You are so cute, baby."
Tidak lupa ia memenuhi perutku yang sedari tadi absen dari genggamannya, ia menyapukan ke seluruh perutku dengan sensual dan provokatif membuat desahanku semakin tinggi dan serak. Telunjuknya mengikuti jejak jahitan yang samar diperut kananku, membuat seluruh kiblat sensitifku dalam keadaan gawat darurat. Kedua nipple-ku mengeras seiring kedua tangannya yang merangkak mendekati dadaku, bagian dalam pahaku semakin penuh.
Arima-san menangkup kedua dadaku dan aku pun mendesah lagi dibawah kendalinya, pergelangan tangan+aroma sabun bukanlah kombinasi yang tepat untuk membangkitkan libido seseorang. Kedua telunjuknya menyentuh puncak dadaku yang mengeras, mengelus nipple-ku yang merona digenggamannya dalam gerakan melingkar, sesekali ia menekan telunjuknya di puncak dadaku yang membuat mulutku tak kuasa melantunkan desahan yang membuat bagian pribadinya semakin keras di punggungku. Shit!
"Uuh—" Aku menekan kepalaku sendiri yang kembali terasa berat, "Arima-san it's too much." Kataku dengan suara yang serak. Namun ia tidak mempedulikan permintaanku.
"Your hair needs to wash too." Ia berkata setelah menghentikan kegiatan persuasifnya. Aku berputar tanpa melihat melihat dirinya dan meraih shampoo di kompartemen sebelumnya lalu mengoper kepadanya botol shampooku tanpa harus menghadap dirinya.
Aku kembali menghadap ke tembok, merasakan buih sabun ditubuhku merosot mengikuti gravitasi, aku menelan ludahku dengan gugup, lalu memejamkan kedua mataku saat kedua tangan kekarnya menangkup kepalaku.
Arima-san menarik beberapa helai rambut dari pelipisku, dan beberapa rambut didekat tengkuk, lalu memijat kulit kepalaku dengan perlahan, ia menggerakkan jemarinya sampai perbatasan pelipisku, menyebarkan seluruh busa shampoo itu secara merata ke seluruh bagian kepala, ia masih memassage kulit kepalaku hingga seluruh rambutku melembut, kedua ibu jarinya menyelinap di bagian belakang telingaku, menekan kulit kepalaku dan menghantarkan ketenangan yang persuasif.
"Sekarang bilaslah tubuhmu." Titahnya sambil menjauh beberapa senti dari tubuhku. Aku segera memutar kenop shower dan hujanan air hangat pun melarutkan seluruh buih di sekujur tubuhku dan melunturkan sentuhan erotisnya juga tentunya.
"Giliranku, Haise." Arima-san berbisik di telingaku, ia menyergap bahu kiriku dengan tidak sabar. Aku menoleh ke belakang, menatapnya dengan tatapan yang jelas mendeskripsikan kengerian dan kebingunganku. Arima-san mengangkat kenop shower membuat arus air hangat yang keluar menjadi semakin deras hingga seluruh tubuhnya kuyup.
"Jangan menatapku seperti orang idiot, Haise. Berputarlah." Keningnya berkedut saat ia menghardikku.
Aku kembali menoleh ke depan sebelum akhirnya berputar menghadapnya. Tubuh telanjang kami saling berhadapan. Tubuh kekarnya basah dialiri oleh air hangat, pundaknya kokoh berlawanan dengan hujanan air yang membasahi tubuhnya bagaikan tiang dermaga yang tengah melawan gelombang, tetap tenang dan tidak bergeming, lehernya yang tinggi berkontraksi dengan seksi, rahang dan tulang selangkanya mendeskripsikan tubuh laki-laki yang sesungguhnya, sangat kontras dengan bibirnya yang terlihat feminin, bibir yang tampak lembut itu mengatup dengan kuat, rambutnya yang sewarna kapas layu menutupi keningnya, menyerah dibawah guyuran air hangat, bulu matanya yang lentik masih bertahan melawan derasnya aliran air, matanya menatapku dengan begitu melankolis, membuat Detektif Special Class ini terlihat jantan lagi feminine disaat yang bersamaan. Aku berhenti bernapas sesaat saat menatap ke keagungan dirinya, meskipun pipinya sedikit merona, ekspresinya justru terlihat penuh percaya diri. Ia tidak bisa menutupi rasa malunya bertelanjang didepan orang lain, bagaimanapun juga Arima-san bukan exhibitionist.
Aku meraih botol shampoo di lantai bath tub—menolak melihat bagian pribadinya karena aku pastikan wajahku akan merona sempurna. Aku mematikan keran shower lalu menuangkan cairan shampoo berwarna putih itu ke telapak tanganku.
"Aku selalu memulai dengan bagian kepala bukan tubuhku, Arima-san." Aku bergumam dengan serak seraya melarutkan cairan sabun itu hingga menjadi tumpukan busa. Arima-san tersenyum lembut ke arahku sebelum menundukkan kepalanya, aku sepuluh senti lebih pendek darinya sehingga ia harus menyesuaikan tinggi tubuhnya dengan tubuhku.
Untuk yang pertama kalinya aku memandikan seseorang, dan orang yang beruntung itu untungnya adalah Arima Kishou. Aku mendaratkan kedua tanganku ke rambut selembut kapasnya, membenamkan ke sepuluh jemariku di helaian rambut putihnya yang basah dan mulai memijat kulit kepalanya, aku meraih rambut depannya dan menyentuh pelipisnya dengan pijatan yang lembut lalu merangkak ke belakang telinganya, menelusuri tengkorak kepalanya dan berakhir di perbatasan rambutnya. Ia bangkit sendiri tanpa harus kuberitahu. Aku tertawa pelan saat melihat rambutnya yang bercampur busa secara tidak beraturan, melihatnya dalam keadaan yang kacau bukanlah hal yang mudah kau temui.
Aku setengah tersenyum saat melihat Arima-san berkedip penasaran padaku, membuat penampilannya menjadi lebih cute dan menggemaskan. Aku berjinjit dan bertumpu pada pundaknya kemudian mengecup bibir menggoda laki-laki itu dengan lembut. Keningnya mengerut, tatapannya jadi semakin penuh tanda tanya, bibirnya sedikit turun.
"Jangan sekarang." Bisiknya didepan wajahku, suaranya sedikit serak. "Tolong lanjutkan, aku mulai kedinginan."
Aku menggigit bibir bawahku dengan kecewa saat kecupanku di respon dengan garing olehnya, aku mengangguk lemah kemudian meraih botol sabun mandi di dekat kakinya. Aku menggosok cairan sabun ditanganku hingga larut menjadi busa lalu mulai menyabuni pundaknya.
"Jangan gigit bibirmu seperti itu."
"It heals fast." Desakku, menduga bahwa ia tengah menyinggung bibirku yang terluka.
"No, bukan itu yang aku maksud." Katanya tak mau mengalah. Aku berhenti menyabuni pundaknya.
"Menggigit bibir seperti itu sama saja dengan mengundangku untuk menerkammu, kau mengerti?" Bisiknya di depan wajahku, ibu jarinya menggamit daguku dengan posesif.
"Aku tidak menyentuhmu dalam waktu yang lama, jadi tolong jangan membakar nafsuku yang sudah di ujung kepala ini dengan tindakan yang bukan-bukan." Sergahnya membawa wajahnya mendekati wajahku. "Atau aku akan memperkosamu dengan sangat brutal, kau mengerti?"
Aku menelan ludah dengan gugup dan mengangguk, kedua mataku terkejut tak berkedip ke tatapannya yang meneror.
"Aku tidak ingin mengotori malam perayaan ini dengan perbuatan yang kotor." Well, as if what we've done weren't dirty anyway?
Tanganku bergerak ke bahu kanannya, menyelimuti seluruh kulit putihnya yang tampak manly dengan buih sabun di tanganku, lalu berpindah ke bahu kirinya, memperlakukan seluruh lengan hingga telapak jarinya dengan perlakuan yang sama.
"Tolong berputar, Arima-san. Aku akan menggosok punggungmu." Aku berkata setelah menghela napas.
Arima-san memutar tubuhnya dengan mudah, aku mengisi ulang cairan sabun ditanganku lagi lalu mulai menggosok punggungnya yang tegap. Ototnya berkontraksi dengan seksi saat aku menekan-nekan telapak jariku dipunggungnya. Aku memenuhi telapakku lagi dengan sabun cair lalu mengusap pinggangnya, ia meregangkan otot lehernya dengan gugup saat kedua tanganku mulai menggapai perutnya.
Aku mengulurkan tanganku dari celah dipinggangnya dan mulai mengusap perutnya yang naik turun, aku menahan napas saat merasakan otot sixpack-nya menggelinjang dibawah sentuhanku, dengan sekuat tenaga aku mencoba berkonsentrasi dengan apa yang sedang kulakukan, perutnya semakin menggulung saat tanganku menuruni pusarnya, dan aku bisa mendengar Arima-san mengumpat entah pada siapa. "Damn it."
Aku menarik tanganku kembali dan mengisi ulang sabun cair pada telapak tanganku, aku mulai merunduk dan mulai menggosok bagian bawah tubuhnya, aku memulainya dari tulang ekor lalu menuruni bongkahan pantatnya yang kencang. Mulai memasuki bagian dalam pahanya, aku berusaha keras mengalihkan pandanganku dan menggosok paha kirinya. Aku berdoa agar tidak menyentuh bagian yang ada diselangkangannya, lalu mulai menggosokkan sisa sabun ditanganku hingga telapak kakinya.
Aku kembali berdiri dengan wajah yang merona, membayangkan bokongnya berkontraksi sedekat itu diwajahku beberapa detik yang lalu, Oh my God! Rasanya hidungku sudah mau mimisan saja!
"That was good, Haise." Desisnya sambil kembali membalikkan tubuhnya. "Very good." Desahannya begitu menggoda ditelingaku, ia berusaha mengatur napasnya saat berbalik menghadapku. Aku memutar keran air hangat dibelakangku dan mengguyur wajahnya yang sudah terlihat kacau. Gumpalan residu sampo mengalir bersamaan dengan guyuran air hangat dari atas kepalanya, ia memijat kepalanya sendiri membantu menyingkirkan residu sampo dikepalanya supaya cepat menghilang lalu menekan-nekan wajahnya sendiri.
Aku mematikan keran shower setelah ia rasa tubuhnya cukup bersih, lalu menunggu sampai ia selesai memijat wajahnya sendiri. Sisa air hangat yang menghujani tubuhnya terjatuh ke arah gravitasi, rambut putihnya tampak berat oleh titik-titik air di ujung rambutnya, bulir-bulir air tampak jelas di kedua bahu dan pundaknya. Arima-san membuka wajahnya lagi, kami saling memandang diri dalam waktu yang lama, dua mata kami saling menebak perasaan masing-masing, pipi kami merona, bibir kami sama-sama sedikit terbuka, refleksi tubuhku tampak jelas di dua iris kelabunya, rasa-rasanya tubuh kami seperti melebur menjadi satu, aku melengkapi dirinya dan ia melengkapi diriku, bersatu dalam kenikmatan fana nan singkat.
"You're so beautiful." Tanpa kusadari aku membisikkan pikiranku. Aku pun melihatnya bereaksi.
"You're so beautiful." Ia mendekati tubuhku, meraih kepalaku dengan tangan besarnya lalu mencium bibirku. Aku menangkap kedua tangannya dikepalaku, mencegah kedua tangan itu meninggalkan tubuhku dan membalas ciumannya dengan tidak sabar. Pada akhirnya kerinduan yang telah lama kami pendam, nafsu yang sudah sangat lama kami tekan, rasa cinta kami yang semakin lama semakin meluas melebur dalam ciuman ini, ciuman ini alpa dari gairah dan hal-hal kotor, ciuman ini murni ciuman yang menggambarkan kerinduan kami, mendeskripsikan teriakan relung hati kami yang kerap berdengung aku merindukanmu, aku merindukanmu.
"I'm so fucking miss you, Arima-san." Ungkapku di antara desahanku, meraba lengan atletisnya yang masih basah oleh air bilas, mataku menelusuri wajahnya yang tak ekspresinya tak pernah bisa kutebak.
"Ssh.." Desisnya meraba bibirku dengan ibu jarinya, telapak tangannya menangkup rahangku dengan posesif, menenangkan kegugupanku dengan perlakuannya.
"You can miss me anytime you want, baby." Ia mengecup keningku. "Now do me a favor, please finish your job."
Aku mengerutkan kedua alisku dengan tidak tertarik. Oh dan sekarang datang bagian tersulitnya, raungku dalam hati. Untuk sesaat aku berharap ia tidak menyuruhku menyentuh bagian pribadinya, namun permintaanku ditepis oleh perkataan selanjutnya. "You know which part I mean, don't you?"
"Uh-huh." Anggukku membenarkan. Lalu membasuh tubuhnya sedikit dengan air hangat, aku menuangkan sabun cair ke tanganku lagi sambil menelan ludah. Aku menolak melihat ke bagian intim itu, sebaliknya aku menatap wajahnya dan mencari bagian dibawah sana melewati perutnya.
Bagian intimnya sudah setengah ereksi saat aku menyentuhnya dengan kedua tanganku, untuk yang pertama kalinya aku menyentuh bagian paling pribadi dari seorang Arima Kishou, biasanya ia yang selalu menyentuh diriku, entah dengan tangan atau mulutnya namun kali ini, ia membiarkanku mengeksplorasi bagian tubuh yang sudah tiga kali mengoyak lubangku ini, Jesus!
Aku melihatnya memejamkan kedua matanya, tampak menikmati genggaman tanganku yang menguasai bagian pribadinya, lalu dari mulutnya yang tertutup desahan di tenggorokannya menguak. Pipiku kembali merona saat aku dihadapkan oleh seorang Arima Kishou yang tampak menikmati nafsu yang menguasai pemikirannya, aku tidak melihat perlawanan sedikitpun dari ekspresinya, ia membiarkan nafsu itu merenggut penguasaan dirinya dengan mudah, tubuhnya jadi terlihat rentan dan rapuh direngkuh oleh gairah sesaat yang sedang membangkitkan libidonya.
Saat ia membuka matanya, ia tampak melupakan semua hal yang berhubungan dengan manusia, ia menikmati dirinya dimabuk oleh ombak gairah dihadapannya dan tenggelam ke dalamnya, melarutkan dirinya sendiri ke kenikmatan sementara. "Mmh.." Ia mendesah lagi masih dengan bibirnya yang tertutup rapat. Aku melanjutkan gerakan tanganku, meraba perpanjangan ereksinya dan mendistribusikan cairan sabun ke seluruh area intimnya.
"Dear God!" Pekiknya sambil membelalakkan matanya kearahku. "You're so goddamn good on this, Haise." Tubuhnya bergetar seiring remasanku pada bagian intimnya.
"I've learnt it from you, sir." Responku sambil tersipu, wajahnya terguncang oleh sengatan sensual yang kuberikan, ia mengambil napas dengan susah payah lalu menghembuskannya bersamaan dengan kegugupan dirinya dan ia terlihat lebih baik dari dua detik yang lalu.
"Keep learning from your superior, Haise—" Ujarnya dengan susah payah, desahannya semakin intens.
"Yes, sir." Aku mengecilkan volume suaraku, bagian intimnya semakin mengeras seiring pijatanku yang semakin cepat, entah kenapa aku jadi terbiasa dengan perpanjangannya, aku menambahkan tanganku yang menganggur dan mengelus puncak ereksinya.
"Oh, fuck!" Umpatnya sambil mengangkat kepala, otot-otot dilehernya menegang, urat-urat yang seksi bermunculan dari bawah kulitnya, kerongkongannya tercekat naik turun, berusaha keras mengatur napas dan air liurnya sendiri yang kini tidak bisa ia bedakan, pundaknya naik turun dengan panik seiring usahanya yang gagal mengumpulkan udara.
"I'm gonna come in your hands, Haise." Ia menjelaskan diantara desahannya yang semakin serak, ia meraih daguku dengan gegabah. "If you don't want your hands to be dirty, please stop right now." Tuturnya tergesa-gesa terdengar seperti sebuah ancaman ditelingaku. Setelah sejauh ini, ia menyuruhku untuk berhenti? Tampak seperti sebuah penawaran yang tidak adil bagiku.
"No." Aku menolak dengan tegas. "I won't stop until you come. Please come in my hands, sir."
Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman, aku mendengar suara tawanya yang mendesah, kedua matanya terpejam saat ujung tanganku menyentuh puncak ereksinya yang lembut. Mulutnya yang biasa memberikan perintah kini bergetar dengan seduktif, hanya erangan sensual yang melantun dari situ.
Aku mendekati wajahnya dan mendaratkan ciuman singkat dibibirnya yang merona.
"You're so cute, sir." Bisikku didepan wajahnya, namun wajah yang sudah kacau itu tetap tidak bergeming. Seolah mengabaikan godaanku kedua matanya masih tertutup rapat, tampak lebih berkonsentrasi terhadap kenikmatan diujung ereksinya yang seperti berlangsung selamanya.
Aku menarik diriku dengan kecewa, bahkan disaat aku menguasai bagian intimnya seperti ini ia masih mengenali kapasitasnya sendiri. Ia tidak membiarkan dirinya diseret oleh arus kenikmatan, sebaliknya ia yang justru mengatur arus kenikmatan itu. Apakah aku yang kurang jago dalam menggoda seseorang? Ataukah Arima-san yang benar-benar keras kepala? Aku berinisiatif menambahkan tenaga pada pijatanku diperpanjangannya dan aku melihat kedua alisnya mulai bereaksi, kelopak matanya tampak bergerak tidak tenang, bibirnya terbuka, mendengungkan desahan paling kencangnya sejauh ini dan pada saat itu aku tahu siasatku berhasil. Aku tersenyum simpul, bangga dengan diriku sendiri yang berhasil membuat seorang Arima Kishou, pria yang paling ditakuti oleh Ghoul mendesah seperti wanita. Tubuhnya yang bergetar tak beraturan terlihat semakin seksi saat erangannya terlantun.
Aku melepaskan showerku dari hangernya kemudian membersihkan bagian intimnya dari residu sabun yang mengganggu, Arima-san tampak tidak terusik saat aku menghentikan pijatanku, ia masih menatapku dengan tatapan yang melankolis, bahunya masih naik turun, wajahnya benar-benar merona dengan sempurna, bulir-bulir air dirambut putihnya sudah setengah mengering.
"I'm not done yet, sir." Aku berkata setelah selesai membasuh bagian bawah tubuhnya, ia hanya meresponku dengan menaikkan alisnya.
Aku tercekat saat kedua mataku menangkap ereksinya untuk yang pertama kalinya, seperti kepunyaanku dan kepunyaan anak-anak cowok lainnya di seluruh belahan bumi manapun, bagian intim itu berdenyut, merona, dan mengeras dengan gagah. Namun ukuran dirinya jauh lebih besar dibanding kepunyaanku, aku menggigit bibir bawahku ketika menyadari bahwa selama ini benda yang mengoyak lubangku dan menggoda a-spotku besarnya melebihi batas kewajaranku. Bagaimana caranya benda sepanjang itu menembus a-holeku? Wajahku memerah dengan sempurna, aku kembali menelan ludahku sebelum akhirnya merunduk, menyamakan tinggi kepalaku dengan bagian intim yang masih berdiri dengan percaya diri.
Aku mencium perpanjangannya sebagai langkah awal, kemudian menghapus jejak air yang ada diperpanjangannya dengan lidahku, senyumnya bergetar saat aku melirik ke wajahnya.
"You're su-ch a good bo—y, Haise." Ucapnya terbata-bata. Ia mengusap puncak kepalaku dengan lembut.
Kulitnya masih terasa seperti kimia di mulutku saat aku melahap puncak ereksinya, bukan cuma sisa air bilas saja yang memenuhi mulutku, rasa getir dan sedikit manis menyeruak dari lubangnya yang kubelai dengan lidahku, aku masih mengawasi perubahan wajahnya dari bawah sini, ia tersenyum lebar hingga deretan gigi depannya terlihat, erangannya semakin koheren mendeskripsikan kebutuhan birahi raganya, matanya setengah terpejam seperti orang yang sedang mabuk, Arima-san terlihat begitu rapuh karena kesensitifan tubuhnya, seolah satu sentuhan saja sudah bisa membuat tubuhnya hancur berkeping-keping.
"Ah, you're getting very good on this, Haise." Desahannya menampakkan keterkejutan, ia membenamkan jemarinya dengan lembut di helai rambutku. Aku semakin melumat ereksinya hingga lubangnya menggelitik pangkal kerongkonganku, ujung ereksinya membuatku tersedak, aku berhenti melumat perpanjangannya.
"If you can't do this we can stop." Sarannya masih membelai rambutku, bahuku bergetar dengan hebat saat aku mencoba mengatur napasku kembali, seluruh isi mulutku jadi berbau seperti dirinya, aku tahu wajahku sudah melebihi kacau saat ia menyarankanku untuk berhenti.
"No." Kataku setengah berteriak, aku menggelengkan kepalaku dengan tidak sabar. "Let me have you in my mouth, sir."
Lalu aku menelan perpanjangannya lagi, aroma besi dan sedikit rasa manis semakin intens dimulutku saat aku kembali melumat bagian intimnya, aku menutup kedua mataku, mencoba untuk mengabaikan tatapannya dan berkonsentrasi pada stimulasiku, aku mengecup ujung ereksinya yang lembap, menggelitik bagian lunak itu dengan lidahku lalu melumat bagian intimnya lagi, aku merasakan jemarinya semakin kuat terbenam dikepalaku, dan aku pun melahap ereksinya lagi hingga pangkal tenggorokanku, aku terdiam sesaat, mencoba mengatur napasku dan menyesuaikan mulutku dengan ereksinya yang semakin berdenyut agar aku tak lagi tersedak, lalu aku mendengar Arima-san memerintahku dengan suara desahannya yang semakin seksi.
"Move, baby." Ia mengusap kepalaku dengan kasar. "Move."
Aku mulai menggerakkan rahangku secara perlahan, menunggu posisi yang pas supaya aku tidak tersedak dan desahannya pun kembali memenuhi ruangan saat lidahku kembali membelai ujung ereksinya lalu menyinggungnya lagi dengan pangkal tenggorokanku. Aku mempercepat proses itu saat bagian intimnya semakin keras di dalam mulutku, aku mengulum, menjilat dan menyesap cairan kejantannya. Kedua tanganku melingkar di pinggulnya, menjaga tubuhnya supaya tidak bergerak dan mengganggu kesibukanku. Aku mulai terbiasa melakukan ini, entah kenapa ada rasa kepuasan yang amat besar muncul dari alam bawah sadarku, rasa puas melihat pasanganmu merintih dibawah kendalimu, begitupun Arima-san, aku melihat bagaimana ia tenggelam dalam arus kenikmatan yang memanja libidonya, mendengar kejujuran dalam desahannya, menerima perubahan tubuhnya yang semakin sensitif akan sentuhan.
Saat cairan yang keluar dari ereksinya semakin penuh dimulutku, aku tahu dia sudah menyentuh batas tubuhnya. Akupun menyambut cairan itu dengan sukacita, menelan cairan semen itu dalam sekali tegukan. Rasanya pahit dan hambar, cairan asing itu tidak bisa ditoleril oleh kewarasanku, namun karena kewarasanku telah dirampas oleh tuntutan libido yang memabukkan, aku bisa dengan mudah menelan cairan seksual itu tanpa rasa malu. aku menuntut dalam tatapanku, kepalaku mulai berkunang-kunang saat aku sudah menelan hampir seluruh cairan yang meledak dari ereksinya, lidahku masih menggoda puncak ereksinya yang masih terasa lunak dan legit itu, memerah seluruh bagian intimnya supaya memberikan feedback yang lebih.
"That's enough..that's enough..get up!" Arima-san mengangkat tubuhku dengan tidak sabar. Ia meraih kedua lenganku dan membantuku kembali berdiri.
"Get up!" Pekiknya sebelum bibirnya menciumku dengan beringas.
Aku melingkarkan kedua tanganku dilehernya, membiarkan mulutnya mendominasi bibirku yang masih sedikit berbau semennya, aku menempelkan tubuhku pada tubuhnya, sementara kedua tangannya meremas pipi bokongku, aku bertumpu pada jari kakiku, menyesuaikan tinggi badannya hingga bagian intimnya yang masih basah bersentuhan dengan bagian intimku, seiring itu pula ciuman kami menjadi lebih liar, lidah kami saling menghantarkan vibrasi yang membuat detak jantung kami menjadi tak menentu, kedua tanganku menekan kepalanya mendukung ciuman kami semakin panas dan menggila, bagian intimku menuntut dirinya, tak ada yang bisa kami dengar diruangan itu selain deru napas kami sendiri.
"Aah!" Aku menjerit saat terlepas dari ciuman mautnya, lalu menyandarkan kepalaku yang terasa pening dipundak kirinya. Detak jantungnya berdengung ditelingaku seiring dada telanjangnya yang naik turun, pundakku masih berguncang dan aku memeluk kepalanya dengan lemah meminta perhatiannya.
"Ssh.." Bisiknya dikepalaku, ia mengangkat tangan kanannya dan mengelus pelipisku dengan lembut, mencoba menenangkan tubuhku yang masih naik turun.
"It's okay, let it go." Ia berbisik lagi, bibirnya menempel di kepalaku dan ia mengecup ubun-ubunku.
Aku meresap ciuman Arima-san dikepalaku, merasakan ketenangan berkumpul dari situ dan menyebar ke seluruh penjuru tubuhku, memperlambat laju gairah ditubuhku dan membantuku memunculkan lagi kewarasanku. Lenganku semakin melingkar dengan erat, aku menutup mataku sendiri mencoba membaui pernapasanku dengan wangi tubuhnya, kepalaku berpindah ke ceruk lehernya, mengecup leher yang berdenyut seksi itu dengan manja.
"You've sure learnt a lot, Haise-kun—"
Aku mengubur mukaku yang bersemu dilehernya saat ia bergurau, lalu berdeham protes dan memukul punggungnya dengan tanganku. "Shuddup.." Erangku diantara kulit lehernya.
"Dasar perawan!" Celetuknya setelah tertawa dengan puas lalu ia kembali memukul pantatku, membuatku yang sedang asyik bermanja dilehernya tersentak.
"Sekarang keringkan tubuhmu, aku akan membilas tubuhku sendiri."
Aku menuruti perintahnya dan mengeringkan tubuhku, sementara ia menutup tirai mandi dibelakangku dan mengguyur dirinya sendiri dibawah pancuran air shower yang hangat.
What a special night, gumamku pada diriku sendiri.
—to be continued—
a.n: Tolong jangan bully saya, karena saya benar-benar mengumpulkan keberanian setengah mati untuk menyelesaikan chapter kali ini, Arima-san maafkan kekurang ajaran saya menodai karaktermu T_T
