NaruHina's Family

Author: Lynhart Lanscard

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Family/Humor

Pairing: NaruHina

Note : Di chapter ini umur anak-anak Naruto juga berubah, Haruto jadi 15, Natsuki 12, dan Himeka jadi 10.

Chapter 3 : Cockroach Panic

Hari minggu, adalah hari santai bagi setiap orang, termasuk juga bagi keluarga kecil Naruto dan Hinata. Hampir semua anggota keluarga masih tertidur lelap di atas kasur mereka yang nyaman dan empuk, dilengkapi dengan air liur yang masih mengalir di mulut mereka. Hanya Hinata dan putri bungsunya, Himeka, yang sudah bangun di pagi hari dan menyiapkan sarapan bagi para monster pemalas itu. Minggu yang cerah, udara yang sejuk dan aroma pagi yang menyeruak ke hidung benar-benar sangat pas untuk menaikkan mood Hinata, dengan semangat dia dan Himeka menuju ke dapur dan membuat sarapan.

Celemek berwarna lavender tak lupa dia kenakan, dia juga memakaikan celemek putih kecil pada Himeka yang berniat membantunya. Senyuman riang dan senandung kecil terus itu lantunkan selama melakukan pekerjaannya. Himeka kecil, pun tak mau kalah dengan sang ibu, walau masih kecil tapi dia tetap berusaha yang terbaik untuk membantu ibunya. Berbeda jauh 180 derajat dengan kedua saudaranya yang menuruni sifat jelek sang ayah.

"Hmm...Hmm...Hmmm...Nana...Nana...," Hinata memasak sambil bersenandung kecil membuat Himeka kecil tertarik padanya.

"Ada apa Himeka-chan? Kenapa melihat Mama terus?" tanya Hinata yang berhenti sejenak dari pekerjaannya.

"Aah...tidak kok...Himeka hanya penasaran dengan lagu yang Mama nyanyikan, sepertinya Mama senang sekali," ujar Himeka sambil memasukkan jari telunjukknya ke dalam mulutnya.

"Ah itu lagu kenangan Mama bersama Papa, dulu kami sering menyanyikannya bersama-sama saat kencan. Walaupun, sekarang juga masih sih," ujar Hinata sambil tersenyum mengingat kenangan yang manis bersama sang suami.

"Waah romantis! Seperti di buku-buku cerita yang Himeka baca! Kalau sudah besar, Himeka mau punya lagu kenangan seperti itu!" seru Himeka bersemangat.

"Hahaha, Himeka-chan kan masih kecil jadi itu pasti nanti jauh sekali ya. Tapi, Mama harap itu akan menjadi sebuah kenyataan." Hinata mengusap-usap kepala putri kecilnya itu.

Aah, siapapun yang melihat momen manis antara pasangan ibu dan anak ini pasti tersentuh hatinya dan mengalirkan air mata haru. Sungguh peristiwa yang mengharukan. Author harap sang ayah dan kedua kakaknya juga bisa menyaksikan momen yang mengharukan ini, daripada malas-malasan dengan air liur yang terus mengalir. Sayang kejadian itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba sesosok makhluk hitam kecoklatan masuk kedapur dan bergerak ke arah Hinata.

"KYAAAAAAAAAAA!" teriakan panjang dan keras dari Hinata membangunkan para anggota keluarga yang masih tertidur.

Naruto, Haruto dan Natsuki langsung bangun dari tidur mereka dan datang dengan tergopoh-gopoh menuju sumber teriakan dan bertanya dengan serempak, "Ada apa sih?!"

"A-A-Ada ke-kecoa di dapur!" teriak Hinata dengan tergagap dan wajah yang sangat ketakutan.

"Hanya kecoa kau sampai berteriak seperti ini Hinata? Ayolah, mereka kan kecil, sekali injak atau pukul saja mereka pasti langsung mati kok," ujar Naruto menenangkan.

"Ta-Tapi mereka sangat mengerikan, kau tidak tahu sih! Me-mereka bisa saja merayap tiba-tiba di tubuhmu dan mengigitmu, apa itu tidak membuatmu takut?"

"Tidak sama, sama sekali tidak menakutkan kok. Ayolah jangan melebih..." belum selesai Naruto berbicara sebuah wajan anti lengket berwarna merah mencolok dengan merek ROCK yang sangat dikenal dengan ketahanan dan kekuatannya mendarat manis di wajahnya.

"Naruto-kun baka! Kau sudah tidak mencintaiku lagi! Pokoknya aku tidak akan mau memasak di dapur yang ada kecoanya!" teriak Hinata sambil menuju kamarnya.

"Tunggu Hinata! Kau salah paham, aku tidak bermaksud seperti itu..." Brak! Wajah Naruto kembali terhantam pintu kamar yang ditutup paksa.

"Kaa-san kalau marah seram ya, lebih seram daripada Obaa-chan," celetuk Haruto, anak tertua Naruto.

"Benar, Tou-san harus tanggung jawab loh membuat Kaa-sa menangis seperti itu!" timpal Natsuki.

"Kalian ini, jangan cuma bisa bicara saja. Bantu Tou-san menyelesaikan masalah ini," gerutu Naruto pada kedua anaknya.

"Kenapa kami yang harus membantu? Ini kan masalah yang Tou-san ciptakan sendiri," sahut Haruto tak acuh.

"Benar, kami malas menjadi penengah pertengkaran suami istri," Natsuki menimpali.

"Asal kalian tahu saja ya, kalau Kaa-san masih marah dan tidak mau memasak lagi maka tidak akan ada jatah sarapan, makan siang, dan makan malam. Kalian tidak akan bisa menikmati masakan lagi Kaa-san seumur hidup," ancam Naruto.

"Baik! Prajurit 1, Haruto siap bertugas Jendral!"

"Prajurit 2, Natsuki juga siap bertugas!"

"Ah, Himeka juga siap membantu!"

Haruto dan Natsuki langsung kompak membantu ayah mereka setelah mendapat ancaman tersebut. Kini keempat anggota keluarga itu tengah menyusun rencana demi menyelesaikan masalah tersebut. Misi terbagi dua, misi pertama adalah meminta maaf kepada Hinata dan misi kedua adalah membasmi kecoa sial yang kini tengah menginvasi dapur mereka. Keduanya harus dilakukan secepat mungkin. Misi pertama diberikan pada Naruto dan Himeka, Himeka selaku anak paling kecil pasti bisa merayu sang ibu agar sang ayah lebih mudah dimaafkan. Sedangkan misi kedua diberikan kepada Natsuki dan Haruto, diharapkan keduanya bisa bekerja sama dalam membasmi kecoa tersebut. Setelah pembagian misi selesai, kedua kelompok tersebut berpencar dan menyusun rencana masing-masing agar misi mereka bisa berjalan sempurna.

~NaruHina's Family~

"Papa, yakin mau melakukan ini?" tanya Himeka ragu-ragu.

"Tentu saja Himeka-chan! Ini adalah harga diri seorang laki-laki, Papa tidak akan pernah mundur!" ujar Naruto dengan tegas dan mantap.

"Kalau begitu, Himeka mulai sekarang ya?" Himeka mulai mengetuk pintu kamar ibunya dan memanggilnya.

"Mama, Mama, buka pintunya dong. Himeka mau bicara dengan Mama," Himeka memulai mengeluarkan rayuannya.

"Tidak Himeka-chan! Selama masih ada Papa dibelakangmu, Mama tidak akan pernah membuka pintu kamar ini! Biar Kaa-san menjadi hikkikomori seumur hidup!" seru Hinata dari balik kamarnya.

"Tapi tidak baik kan, mengurung diri terus di kamar. Papa juga nampaknya sudah menyesal, saat ini Papa sedang menangis didepan pintu kamar sambil memegang bangkai kecoa yang tadi loh. Sepertinya Papa sangat menyesal sekali, apa Mama tidak mau memaafkannya? Kasihan kan? Bukannya Mama pernah bilang sendiri kalau ada seseorang yang pernah berbuat salah maka kita harus memaafkannya?"

"Itu benar Himeka-chan, tapi kelakuan Papa kali ini benar-benar sudah kelewatan!" suara Hinata terdengar masih marah.

"Himeka-chan, taktik B," bisik Naruto pada Himeka yang disanggupi tanda OK oleh Himeka.

"Ja...jadi Mama tidak mau memaafkan Papa? Ka...Kalau begitu na...nanti akan cerai, Hi...Hime...Himeka...tidak mau Mama dan Papa bercerai!" teriak Himeka sambil terisak.

"Siapa yang bilang begitu Himeka-chan? Mama dan Papa tidak akan bercerai kok!" Hinata langsung membantah, suara terdengar melunak kali ini. Rupanya taktik B berbuah keberhasilan.

"Itu benar Himeka-chan, Mama dan Papa tidak akan bercerai hanya gara-gara seekor kecoa. Iya kan, Hinata? Keluarlah dan katakan pada Himeka, dan aku masih mencitaimu kok Hime-sama," ujar Naruto dengan suara selembut mungkin yang dia bisa.

"Baik, aku akan keluar Naruto-kun. Maaf sudah memanggilmu baka dan tidak mencintaiku, aku benar-benar menyesal." Pintu kamar perlahan-lahan mulai terbuka, akan tetapi tiba-tiba...

"Natsuki! Pukul disitu dan jangan biarkan dia lari!"

"Aah! Kecoanya terbang Nii-chan! Dia terbang ke kamar Kaa-san!"

Dan Plok, kecoa itu kini hinggap di wajah Hinata. Tak perlu dijelaskan lagi, wajah Hinata langsung memerah dan berteriak, "KYAAAAAAA!" Kecoa yang kaget karena teriakan itu segera kabur menyelamatkan diri. Hinata mulai melemparkan barang-barang di dekatnya, bantal, guling, jam weker, dan lukisan di dinding ke arah sasaran, Uzumaki Naruto, suaminya.

"Naruto-kun BAKA! BAKA! BAKA! Kau berbohong padaku! Aku benci!" teriaknya sambil membanting pintu.

"Tunggu Hinata! Ini salah paham! Aku mohon buka pintunya Hinata! Aku benar-benar menyesal, Hinata! Hinata! Hinataaaaaaa!" Naruto terus berteriak putus asa seperti itu.

"Mana harga diri yang dikatakannya barusan tadi?" celoteh Haruto.

"Cerewet! Ini karena kalian yang membawa kecoanya kemari, padahal kan sudah diberitahu, musnahkan dan jangan sampai Kaa-san tahu!" sahut Naruto.

"Mana kami tahu? Kecoa itu yang salah karena terbang kesana kemari, iya kan Natsuki?"

"Iya, bukan kami yang salah. Ayo kita bereskan kecoa itu, biarkan saja Tou-san meringkuk disini seperti orang tidak berguna." Natsuki dan Haruto pergi meninggalkan Naruto yang kini sedang kesal.

"Dasar anak-anak itu, sifat jelesk siapa sih yang mereka ambil? Apa aku sudah tidak dianggap di keluargaku sendiri?" Naruto mulai merengek.

"Jangan begitu dong Papa, mana mungkin tidak ada yang peduli. Himeka peduli dan sayang dengan Papa kok," ujar Himeka memeluk Naruto dengan penuh kehangatan.

"Himeka! Hanya kamu yang benar-benar peduli pada Papa! Benar-benar anak berbakti, tidak seperti dua kakakmu yang kurang ajar itu!"

~NaruHina's Family~

Kali ini kita tinggalkan sejenak Naruto dan Himeka yang sedang melakukan momen yang mengharukan sekaligus memalukan. Kita beralih ke pasangan kakak beradik yang bersemangat, Haruto dan Natsuki. Mereka berdua masih berupaya untuk mencari kecoa yang sudah mengganggu waktu bermalas-malasan di hari libur mereka. Dengan tatapan yang teliti dan tajam, keduanya mencari sosok yang tengah bersembunyi di suatu tempat di rumah mereka.

"Cari yang benar Natsuki, jangan sampai lolos seperti tadi!" perintah Haruto sok kuasa.

"Kenapa jadi menyalahkanku begitu sih!? Yang tadi itu kan bukan hanya kesalahanku saja, tapi kesalahan Onii-chan juga!" ujar Natsuki tak mau kalah.

"Siapa yang menyalahkanmu? Aku hanya menyuruhmu berhati-hati tahu, agar kesalahan tadi tidak terulang!"

"Itu menyalahkan namanya!"

"Huh! Terserah kau saja, tapi mulai sekarang kita jalan masing-masing saja! Aku tidak mau berkelompok dengan orang yang tidak bisa diatur sepertimu!" bentak Haruto.

"Aku juga tidak mau kok!" balas Natsuki.

Kedua bersaudara ini akhirnya memutuskan untuk berpisah dalam perburuan kecoa hari ini. Ego yang besar dari keduanya membuat mereka tak mau mengakui kelebihan dan kelemahan masing-masing. Salah satu sifat buruk yang Naruto turunkan tentu saja. Dalam diam, keduanya mencari kecoa yang telah mengusik ketenangan di hari libur mereka, mata mereka yang tajam digunakan untuk melihat ke segala arah dengan teliti sampai akhirnya...

"Ketemu!" teriak keduanya kompak.

"Jangan mengganggu Natsuki! Itu mangsaku!" teriak Haruto egois pada adiknya.

"Enak saja! Onii-chan saja yang menyingkir, jangan salahkan aku kalau kena semprot spray!" sahut Natsuki.

Kejar-kejaran yang seru antar dua bersaudara pemburu kecoa dan kecoa sebagai mangsa yang diburu berjalan seru. Haruto memukulkan pemukul serangganya dengan liar ke segala arah, tak peduli walau dia mengenai perabotan rumah, entah itu vas, ataupun TV. Sementara Natsuki tak kalah brutalnya, dia menyemprotkan spraynya dengan membabi buta. Kecoa yang punya sensor yang tajam dan juga daya tahan yang tinggi tentu saja bisa menghindari semua serangan barusan. Mungkin dia juga beruntung karena dikejar oleh pemburu yang akalnya lebih rendah daripada yang diburu. Kecoa itu terbang ke meja makan, sementara Natsuki dan Haruto mengepungnya dari arah depan dan belakang. Kini saatnya membalikkan meja, keunggulan berada di tangan sang pemburu dan sang buruang kini terjebak tak berdaya.

"Aku akan menghabisimu kecoa sial!" maki Haruto sambil mengayunkan pemukulnya layaknya ahli kungfu yang memainkan sebuah nunchaku.

"Ah spraynya habis, tak apalah. Botolnya masih berguna." Natsuki memegang botol pembasmi serangga dengan erat, kuda-kudanya persis seperti seorang pitcher yang hendak melempar bola.

Sang kecoa kini tengah terpojok tak berdaya, apakah ini akhir dari hidupnya yang singkat? Natsuki dan Haruto mulai menghitung aba-aba mundur pelaksanaan eksekusi mereka.

"1...2...3...Hajar!" teriak mereka seperti tokoh utama dalam film 300 yang meneriakkan kata SPARTA.

Sayang kecoa itu terbang lebih tinggi untuk menghindari serangan brutal mereka, dan hasilnya...PLAK! DUAK! Pukulan kencang Haruto mendarat ke muka Natsuki, membuat cetakan pemukul serangga yang jelas di mukanya. Sementara Haruto harus menerima sekaleng kosong spray pembasmi serangga di dahinya yang membuat dahinya memar.

"ITTAI!" keduanya berteriak kesakitan, sementara sang kecoa masih terbang bebas dan tertawa tentu saja.

~NaruHina's Family~

Para prajurit kita yang kalah kini berada di ruang keluarga, merenungi dan menyesali kekalahan pahit yang mereka alami dai seekor kecoa. Wajah lesu, lemas, dan kecewa adalah wajah mereka sekarang. Helaan nafas terus bersahutan dari mulut mereka. Kini mereka tahu pahitnya suatu kekalahan, dan juga rasa malu.

"Tou-san apa kita ini lebih rendah dari kecoa?" tanya Haruto.

"Aah...Tou-san rasa juga begitu," sahut Naruto.

"Kita tidak bisa membunuh seekor kecoa, memalukan," timpal Natsuki.

Himeka malu melihat para saudara dan ayahnya yang terpuruk hanya karena gagal membunuh kecoa, dia harus melakukan sesuatu untuk membangkitkan kembali semangat para prajurit yang kalah. Membangun kembali semangat yang patah, itulah yang harus dia lakukan.

"Papa berarti hari ini kita tidak makan sama sekali?" Himeka bertanya pada Naruto yang tengah pundung.

"Ah iya, lebih baik hari ini kita pesan makanan saja. Haruto ambil teleponnya."

"Jadi selama kecoa itu ada di dapur kita tidak bisa memakan ramen buatan Mama ya? Aah, sayang sekali padahal masakan Mama adalah nomor satu se-Konoha. Haah..." Himeka pura-pura menghela nafas dan melihat keaadaan.

"Benar juga, apa kita akan menyerah saja dan membiarkan kecoa penjajah itu menguasai dapur!?" Naruto kini mulai bangkit dan bersemangat.

"Tidak!" jawab mereka bertiga kompak.

"Apa kita akan kehilangan makanan kita hanya karena seekor kecoa?"

"Tidak!"

"Baik kalau begitu! Kita harus menyatukan kekuatan dan mengalahkan kecoa itu bersama!"

"Setuju!"

Sepertinya Himeka berhasil memangun kembali semangat para prajurit yang patah, kini semangat juang mereka kembali berkobar dan kecoa penjajah itu harus waspada.

"Tou-san, bagaimana kalau kita panggil bala bantuan?" usul Haruto.

"Maksudmu?" tanya Naruto tak mengerti.

"Kita minta bantuan ke Neji Oji-san atau Hanabi Oba-san, bagaimana?"

"Tidak, itu mustahil," tolak Naruto.

"Eeh, kenapa? Mereka cukup membantu kan?" tanya Natsuki.

"Apa yang akan mereka lakukan kalau tahu Kaa-san kalian sedang mengunci diri di kamar dan menangis gara-gara Tou-san? Mereka sudah pasti akan membunuhku," Naruto menjelaskan.

"Kalau begitu bagaimana dengan Shino Oji-san? Dia kan ahli serangga, pasti tahu cara menyingkirkan kecoa kan?" kali ini Natsuki yang memberi usulan.

"Aah tidak, dia bisa membawa serangga lain masuk ke rumah ini. Kalian ingat kan ketika terakhir kali dia berkunjung dan membawa sekumpulan serangga kesini?"

"Kalau begitu bagaimana jika kita menelponnya dan meminta pendapatnya? Dengan begitu dia tidak perlu datang kan?" usul Himeka.

"Bagus Himeka-chan! idemu itu sangat cemerlang!" Naruto memberi jempol pada anak bungsunya itu.

~NaruHina's Family~

Setelah menelpon dan meminta saran pada Shino, akhirnya sebuah rencana telah tersusun matang di otak Naruto. Masalahnya, rencana ini membutuhkan seorang sukarelawan untuk menjadi umpan dan siapa yang bersedia untuk menjadi umpan.

"Baiklah, Shino Oji-san sudah memberi Tou-san pencerahan dan Tou-san berhasil membuat rencana untuk memusnahkannya. Masalahnya rencana itu membutuhkan seseorang yang memiliki rasa takut pada kecoa, kecoa itu dapat mendeteksi rasa takut pada manusia, namun dia tidak menghindari manusia yang takut itu, mereka justru malah mendekatinya. Oleh karena itu, kita akan menafaatkan hal itu untuk memancingnya keluar. Sekarang siapa diantara kita yang mempunyai rasa takut yang cukup untuk memanggil kecoa itu keluar?" tanya Naruto sambil memandang anak-anaknya, dan akhirnya semua memandang ke arah Himeka.

"Kenapa semuanya memandang Himeka?" Himeka masih tidak ingin berpikir mereka akan menjadikannya umpan kecoa.

"Himeka-chan, kau bersedia kan?" semuanya memandang Himeka dengan tatapan memelas.

"Tidak! Himeka tidak mau! Tidak akan mau!" tolak Himeka mentah-mentah.

"Ini demi Mama Himeka-chan! Apa kau tidak mau lagi melihat senyuman Mama?" bujuk Naruto.

"Ayolah Himeka-chan, kami semua akan melindungmu," ujar Haruto menenangkan.

"Iya, kami tidak akan membiarkan kecoa itu menyentuhmu seujung jari pun!" timpal Natsuki.

"Jadi, kau mau jadi umpan kan?" tanya mereka bertiga sekali lagi dan dijawab dengan anggukan pelan dari Himeka.

~NaruHina's Family~

Uzumaki Himeka, kini berdiri sendirian di dapur, dimana sepasang mata selalu mengawasi gerakannya. Lengah sedikit saja, dia bisa menjadi santapan empuk makhluk mengerikan itu. Kira-kira itulah gambaran horor dari pikiran Himeka saat ini. Keringat dingin tak henti-hentinya mengalir dari dahinya, sungguh, dia rela mengorbankan apapun untuk menukar waktunya saat ini. Dia menoleh ke kiri dan kanan, menjaga agar kewaspadaannya tidak menurun. Walaupun kakak-kakaknya bilang akan selalu menjaganya, dia masih harus berhati-hati terhadap makhluk itu. DEG! Tiba-tiba saja firasat tak enak dirasakannya, dia seperti diawasi oleh sesuatu dan ketika dia menoleh ke belakang, benar saja, makhluk hitam itu sudah ada disana.

"Ja...Jangan mendekat!" dia berusaha memperingatkan makhluk itu, namun sayang makhluk itu justru semakin mendekatinya.

"Jangan mendekat!" teriaknya sekali lagi.

Dan dalam sekejap makhluk itu melebarkan sepasang sayapnya dan terbang menuju dirinya, tahu dirinya akan diserang dia segera berteriak sekencang mungkin, "KYAAAA! Papa, Onii-chan, Onee-chan! Kecoanya sudah datang!"

Kecoa itu tak menghiraukan teriakan nyaring dari Himeka dan terus mendekat, sementara bantuan yang diharapkan pun tak kunjung datang. Himeka benar-benar takut sekarang, dia menutup mata, mengaharakan sebuah keajaiban datang menolongnya.

"Aku datang Himeka-chan!" Natsuki tiba-tiba saja muncul dari balik meja, dan menyemprotkan sebuah spray pembasmi serangga merek KILLER PEST, yang menurut survey adalah spray pembasmi serangga paling ampuh dan mematikan saat ini.

Sebuah serangan dari semprotan spray pembasmi serangga terampuh yang berharga 1000 yen baru saja diluncurkan. Pembami serangga itu diluncurkan layaknya ribuan misil yang hendak menghancurkan lawan. Kecoa itu menerjang ribuan misil tersebut dan sayangnya masih hidup. Walaupun sekarang terbangnya menjadi agak kacau dan terseok-seok, kecoa itu masih berusaha melarikan dari maut yang menghampirinya.

"Onii-chan, dia masih hidup dan sekarang bergerak ke arahmu!" teriak Natsuki memperingatkan.

Tak ada jalan keluar bagi sang kecoa, sekarang dihadapanya sudah beridiri seorang anak laki-laki dengan dua pemukul serangga di kedua tangannya. Dan saat ini, anak itu sudah bersiap melayangkan jurus andalannya. Diayunkannya dengan cepat kedua pemukul serangga itu, gerakannya sangat efektik dan efisien membuatnya tak ada celah bagi sang kecoa. Dan begitu kecoa itu lewat, Syat! Kedua sayapnya putus oleh tebasan liar dan mematikan dari Uzumaki Haruto.

"Tou-san! Dia berhasil menghindar dari seranganku, habisi dia sekarang!" teriak Haruto pada sang ayah selaku pimpinan dalam misi penghabisan ini.

"Serahkan padaku!" Naruto mengayunkan sebuah raket listrik dengan daya sebesar 100 volt, raket itu menghantam tubuh kecoa dan menghanguskannya dalam sekejap. Itulah akhir hidup sang kecoa penjajah.

"Berhasil! Kita berhasil!" mereka berempat bersorak-sorai gembira merayakan kemenangan mereka yang sangat gemilang itu.

"Hinata! Hinata! kami berhasil membunuh kecoa itu, kau bisa keluar sekarang!" seru Naruto bersemangat.

"Be-Benarkah? Tidak bohong kan?" Hinata mengintip dari celah pintu, takut Naruto membohonginya lagi.

"Benar kok! Ini buktinya!" ujar Naruto menunjukkan bangkai kecoa gosong di telapak tangannya.

"KYAA! Jauhkan itu dariku Naruto-kun!" teriak Hinata ketakutan.

"Aah, maaf, maaf. Aku akan membuangnya!" Naruto segera membuang bangkai itu jauh-jauh dari Hinata.

"Ka-kalian semua sudah berusaha keras demi Kaa-san ya, Kaa-san sangat senang sekali," ujar Hinata terharu.

"Tentu saja karena Kaa-san adalah bagian terpenting dari keluarga ini!" jawab Haruto.

"Benar, kami semua sangat menyayangi Kaa-san!" timpal Natsuki.

"Itu benar Mama!" ujar Himeka.

"Hinata, kami semua sangat peduli dengan masa...ah maksudku dirimu. Karena itulah kami mengorbankan jiwa dan raga kami untuk memburu kecoa itu. Maafkan aku soal yang tadi Hinata, aku hanya ingin membuatmu tenang, tidak bermaksud membohongimu. Kalau kau tidak memaafkan aku...aku..."

"A-aku juga minta maaf Naruto-kun! Maaf sudah berbuat kasar padamu dan menuduhmu seperti itu," Hinata menundukan kepalanya.

"Aah tak apa, lagipula awalnya kan aku yang salah. Jadi bagaimana dengan sarapannya Hinata?" tanya Naruto menggoda.

"Baiklah! Karena kalian semua sudah berusaha, Kaa-san akan membuat sarapan spesial untuk kalian hari ini sebagai ucapan terimakasih! Tunggu sebentar ya." Hinata melangkah ke dapur dengan perasaan tenang dan senang.

"Akhirnya kita bisa sarapan juga," ujar Haruto senang.

"KYAAA! Ada tikus!" Hinata berteriak ketakutan lagi.

"Aah, sepertinya sarapan kita masih lama," kata Naruto lemas dan diikuti dengan tundukan lemas dari ketiga anaknya.

END

Author Note

Di sini saya pengen ngasih penjelasan, karena sebelumnya banyak yang tanya fic ini masih lanjut atau ngga. Fic ini cuma fic sampingan dan cuma diupdate kalo lagi ada ide baru dan kesempatan aja, jadi mohon maaf ya. Makanya saya sengaja ngasih tanda complete karena ga tau bakal kapan lagi updatenya, daripada ngasih PHP. Oh iya, sebenernya fic ini secara ga langsung kelanjutannya Bokutachi no Akachan cuma dalm versi ringan, jadi bagi yang pengen tahu kelanjutannya baca fic ini dan bagi yang belum baca, baca aja #promosi mode. Maaf apabila ada salah kata dan menyinggung, sampai jumpa.