NaruHina's Family
Author: Lynhart Lanscard
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Genre: Family/Humor
Pairing: NaruHina
Chapter 4: Happy Anniversary Dear!
Pagi hari yang cerah dimana matahari bersinar dengan terangnya membuat langit biru yang cerah, burung-burung kecil pun saling berkicau seolah tak mau kalah dalam merayakan hari yang indah ini. Walau ini dibilang hari yang indah, entah mengapa masih saja ada orang yang terlelap di tempat tidurnya. Terus terbuai dalam dunia mimpi indah yang dia ciptakan dengan airliur yang terus mengalir dari mulutnya.
"Natsuki-chan, Himeka-chan, bisa tolong Mama bangunkan Papa? Dia bisa telat ke kantor kalau tidak dibangunkan."
Suara Hyuuga Hinata...ah tidak nama keluarganya bukan Hyuuga lagi, melainkan Uzumaki Hinata, istri seorang Uzumaki Naruto dan juga ibu ketiga anak-anaknya. Maaf atas penjelasan singkat ini, mari kita kembali ke cerita. Suara Hinata terdengar lembut ketika dia meminta tolong anak-anaknya, Natsuki dan Himeka untuk membangunkan ayah mereka yang masih tertidur lelap.
"Siap Mama!" jawab Natsuki dan Himeka kompak. Mereka berdua langsung berlari dengan semangat menuju kamar Naruto, Hinata yang melihatnya hanya bisa tertawa geli melihat tingkah lucu anak-anaknya itu.
"Papa! Papa! Bangun dong! Nanti telat ke kantor loh!"
Mereka berdua teriak sambil mengguncang-guncangkan badan Naruto yang masih tetap tertidur pulas.
"Ba-bagaimana ini Onee-chan? Kalau Papa tidak bangun, nanti dia telat ke kantor," ujar Himeka penuh cemas.
"Tenang saja Hime-chan, Onee-chan yang akan mengurus semuanya. Hime-chan cukup duduk manis disini dan percayakan semua pada Onee-chan."
Natsuki mengatakan kalimat keren itu dengan percaya diri, sepertinya dia memang punya teknik jitu untuk membangunkan sang ayah dari tidur lelapnya. Natsuki mengambil beberapa langkah ke belakang. Dia seperti bersiap dalam lomba marathon, dia menarik nafas panjang dan ancang-ancang.
"SeNo! Natsuki drop kick!"
Dia melompat dan meneriakkan nama jurusnya yang diarahkannya ke perut Naruto.
Buagh! Suaranya terdengar keras sekali, ranjang spring bed yang empuk pun sempat terguncang. Dan 1...2...3... Naruto mulai membuka matanya dan berteriak dengan kencang, sangat kencang.
"ITTAI! Natsuki, kau mau membunuh orangtuamu sendiri hah?" seru Naruto pada bocah 12 tahun yang kini nyengir dengan lebar itu.
"Habisnya Papa tidak mau bangun sih, Hime dan aku sudah membangunkan dengan lembut tapi Papa tidak bangun. Itu sih salah Papa sendiri."
"Dasar kau ini! Anak siapa sih kau ini?!"
"Anak Papa dan Mama!"
"Kau menuruni sikap buruk siapa sih?!"
"Tentu saja Papa!"
"Argh kau ini! Kenapa hanya membuat kesal saja sih!"
"Hu-Hue...Papa benci sama Himeka?"
"Aa...bukan...bukan yang Papa maksud itu Natsuki Nee-chan, bukan Himeka. Kalau Himeka sih anak yang baik dan penurut."
"Be-Benarkah? Ti-tidak bohong kan?"
"Benar kok, Papa hanya memarahi Natsuki Nee-chan bukan Himeka. Kalau tidak percaya tuh lihat saja Natsuki Nee-chan yang diam saja dari tadi, pasti dia sudah menyesal."
Naruto menunjuk Natsuki, sayang yang sedang ditunjuk dan dibicarakan malah tertidur pulas.
"Oi bangun! Kenapa malah kamu yang gantian tidur Natsuki!"
~NaruHina's Family~
"Dasar! Kenapa setiap pagi harus selalu serepot ini sih! Memangnya aku tidak bisa dibangunkan dengan cara yang biasa apa?" gerutu Naruto sambil memakan sarapannya.
"Loh, bukannya dulu aku pernah memberimu jam weker ya? Tapi katanya kau tidak suka suara alarmnya, lalu kau menyuruhku menyimpannya," jawaban jujur langsung terlontar dari sang istri.
"Eh? Me-memangnya pernah ya? A-aku kok lupa. Ma-maaf Hinata bisa carikan jam itu, mulai besok aku akan menggunakan jam weker. Aku tidak mau lagi perutku dijadikan sasaran tendangan Natsuki."
Naruto langsung memasang wajah bodohnya sambil menggaruk-garuk kepalanya, si bodoh itu benar-benar melupakan hadiah dari istrinya.
"Ah Papa sudah pikun!" sambar Natsuki tiba-tiba.
"Enak saja! Siapa yang pikun? Papa cuma lupa dan tidak ingat saja kok!" bantah Naruto tak mau kalah.
"I-itu sama saja Naruto-kun," batin Hinata yang sweatdrop melihat tingkah suaminnya yang kekanak-kanakan.
"Ah, ngomong-ngomong dari tadi aku belum melihat Haruto sama sekali. Dia masih tertidur pulas ya?" tanya Naruto pada Hinata.
"Ooh kalau Haruto sudah berangkat ke sekolah tadi. Dia baru saja berangkat pukul 06.00."
"Eh? Pagi sekali? Apa yang dilakukannya, mengepel sekolah?"
"Bukan, katanya ada latihan pagi di klub memanah. Dia serius sekali loh mengikuti kegiatan klub itu."
"Mama sih tidak tahu, Haruro Nii-chan itu hanya mengincar perhatian Airi-san saja. Makanya dia seserius itu di klub memanah, biar dia siap memanah hati Airi-san," celoteh Natsuki.
"Memanah Airi Nee-chan? Apa Haruto Nii-chan benci pada Airi Nee-chan sampai mau memanah hatinya, Mama?" tanya Himeka polos.
"Ah bukan begitu Himeka...anoo...bagaimana mengatakannya ya? Tanya Papa saja!"
Hinata langsung melemparkan tanggung jawab ke arah Naruto, matanya menatap Naruto dengan penuh cemas.
"Begini Himeka-chan, Haruto Nii-chan itu menyukai Airi Nee-chan. Jadi dia butuh persiapan matang untuk menyatakan perasaanya itu, yang dimaksud memanah ya itu," jelas Naruto dengan singkat dan tenang.
"Ja-jadi Airi Nee-chan akan menikah dengan Haruto Nii-chan!?" seru Himeka.
"Ya, itu sih masih lama dan belum tentu juga terjadi. Tapi Himeka bisa membantu Haruto Nii-chan agar Airi Nee-chan menyadari perasaannya kok."
"Eh? Caranya bagaimana?"
"Setiap bertemu Airi Nee-chan, usahakan selalu membicarakan Haruto Nii-chan. Kalau bisa sih langsung bilang kalau Haruto Nii-chan menyukai Airi Nee-chan," kata Naruto dengan entengnya.
"Na-Naruto-kun? Ka-kau berlebihan! Kasihan Haruto kan?"
Hinata berbisik sambil menyikut Naruto.
"Tak apa, aku tidak mau Haruto jadi anak yang terus memendam perasaan pada orang yang disukainya selama bertahun-tahun seperti ibunya."
Blush! Wajah Hinata langsung memerah.
"Nah, sampai dimana tadi Himeka-chan. Oh iya, yang penting adalah..."
Hinata langsung membekap mulut suaminya yang terlalu berterus terang tanpa memperhatikan perasaan orang itu.
"Yang penting apa?" tanya Himeka lagi.
"Kepercayaan Himeka-chan, Himeka hanya perlu mempercayai Onii-chan dan mendukungnya. Himeka tidak perlu mengumbar perasaan Onii-chan seperti itu, mengerti?"
"Iya Himeka mengerti!" jawab Himeka mantap, beruntung dia tidak mendengarkan saran Naruto yang sesat itu.
"Wah sudah jam segini, lebih baik aku berangkat sekarang."
"Naruto-kun, kau lupa sesuatu," ujar Hinata sambil tersenyum.
"Ah iya, Papa berangkat dulu ya Natsuki, Himeka dan juga Mama. Ittekimasu!" Naruto mengecup mereka satu per satu dan berangkat.
"Nee Mama..."
"Ada apa Natsuki-chan?"
"Papa itu orang yang ceroboh ya?"
"Kenapa bilang begitu?"
"Papa berangkat ke kantor, tapi tasnya tertinggal di atas meja."
"Wah benar Mama, tas Papa tertinggal!" seru Himeka.
"Wah bagaimana ini? Kita harus memberikannya!" kata Hinata penuh cemas.
"Tak usah khawatir, karena Papa akan kembali dalam hitungan...1...2...3..."
"Wah tasku tertinggal!" seru Naruto yang tergopoh-gopoh kembali.
"Benar kan?"
~NaruHina's Family~
"Nah ayo kalian semua juga harus bersiap-siap, kalian tidak mau telat ke sekolah kan?" ujar Hinata pada kedua putrinya.
"Baik Mama!" sahut mereka kompak.
Sesampainya di sekolah mereka sudah disambut dengan hangat oleh salah satu guru SD mereka, Yamanaka Ino atau sekarang berganti nama menjadi Shimura Ino yang tak lain adalah teman dari orang tua mereka sendiri.
"Ohayou Ino Ba-chan!" sapa Natsuki dengan santainya.
Buk! Sebuah jitakan yang keras dan penuh kasih sayang langsung mendarat di kepala Natsuki.
"Panggil Ino Sensei kalo di sekolah Natsuki!" omel Ino.
"Baik," jawab Natsuki sambil mengelus kepalanya yang benjol akibat jitakan barusan.
"Ohaou Ino Sensei!" salam Himeka dengan pipi yang penuh dengan roti isi yang dimakannya.
"Himeka, telan dulu kalau berbicara. Tidak sopan tahu, apalagi sama Ino Sensei," tegur Hinata.
"Iya, Mama..."
"KYAAA! Himeka-chan memang selalu paling imut diantara para muridku! Paling imut diantara murid yang lain! Himeka ito paling top imutnya!" teriak Ino menggila sambil memeluk Himeka dengan erat dan mengelus-elus pipinya yang lembut itu.
"Ino-san, jangan lakukan di depan umum begini!" bisik Hinata pada Ino.
"Ta-tapi Hinata aku sedang sedih! Airi dan Rika sudah tidak mau lagi kucium dan peluk seperti ini, mereka sepertinya sudah tidak sayang aku lagi. Hibur aku dong Himeka-chan!"
"Cup...cup...kasihan Sensei, nanti Himeka akan beritahu Rika-chan agar tidak seperti itu lagi ya," ujar Himeka sambil mengelus-elus kepala Ino.
"Aku sudah tidak tahu lagi mana yang guru atau murid," batin Hinata yang tengah melihat momen unik sekaligus mengharukan itu.
"Ka-Kalau begitu aku permisi dulu ya, Himeka-chan, Natsuki-chan, Mama pulang dulu ya. Baik-baik di sekolah dan jangan merepotkan Sensei, jaga Sensei baik-baik ya!"
"Bahkan Mama pun lupa mana yang guru atau murid," gumam Natsuki pelan.
~NaruHina's Family~
Di saat-saat seperti ini adalah hal yang paling membosankan bagi Hinata, setelah membereskan rumah, mencuci pakaian kotor, dan menjemurnya dia tidak punya hal lain untuk dikerjakan. Hal yang bisa dilakukannya hanya duduk dan menonton televisi saja, acara yang diputar pun hanya dorama dan acara memasak saja. Yah, tapi dia juga tidak membenci waktu luang seperti ini kok.
"Aah, apa yang kubuat untuk makan malam nanti ya? Ramen? Ah tidak mereka tidak boleh terlalu banyak makan ramen! Tidak baik untuk gizi mereka!"
Beruntung Hinata yang memikirkan menu untuk makan malam, entah apa yang terjadi kalau sang suami yang memikirkannya. Bisa-bisa seluruh keluarga memakan ramen seumur hidup.
"Menu hari ini adalah gyoza..." tiba-tiba suara sang pembawa acara menganggetkan Hinata dari lamunannya.
"Ah itu dia, aku akan membuat gyoza saja, Naruto-kun dan anak-anak pasti suka!"
"Ngomong-ngomong soal Naruto-kun, apa dia ingat tentang ulang tahun pernikahan kami ya? Aku jadi khawatir, soalnya dia nampak tenang sekali. Yah mudah-mudahan saja dia ingat. Celaka sudah jam segini! Aku harus menjemput anak-anak!"
~NaruHina's Family~
"Ayo semuanya ganti baju dan bantu Mama membuat makan malam," seru Hinata pada kedua putrinya.
"Eeh, aku harus mengerjakan PR. Hari ini Ino Sensei memberi banyak sekali PR," ujar Natsuki yang berusaha mengelak.
"Natsuki-chan...jangan bohong pada Mama. Ino Sensei tidak bilang memberi PR kok, sekarang ganti baju dan bantu Mama."
"Baik..." jawab Natsuki lemas dan setengah hati.
10 menit berlalu, Himeka dan Natsuki kini sudah berganti pakaian dan mencuci tangan mereka dengan bersih. Kini keduanya siap membantu Hinata membuat makan malam, gyoza spesial ala keluarga Uzumaki. Resepnya sendiri diracik dan diturunkan ke keluarga Uzumaki dari generasi ke generasi. Hinata sendiri sudah menerima resepnya dari Kushina, ibu Naruto.
Hinata dan Himeka nampak sangat tenang dalam hal ini, keduanya sangat terampil membuat gyoza. Dalam hitungan menit saja sudah tersaji beberapa gyoza yang sudah siap untuk dimasak. Lipatannya pun sangat rapi dan terlihat seperti seorang profesional.
"Mama, Mama, lihat! Gyoza buatan Himeka cantik kan?" seru Himeka menunjukkan gyoza buatannya dengan percaya diri.
"Wah iya cantik! Padahal Himeka kan baru pertama kali ya? Natsuki Nee-chan saja tidak bisa membuat yang sebagus itu, padahal sudah lama membantu Mama. Himeka punya bakat menjadi seorang ahli masak ya ternyata."
Hinata memuji sekaligus menyindir Natsuki, bukan maksud Hinata pilih kasih hanya saja dia ingin agar Natsuki lebih bersemangat dan tidak setengah hati dalam hal ini. dia sengaja membakar emosi Natsuki agar Natsuki lebih bersemangat dan bekerja lebih keras.
"A-Aku juga bisa! Lihat nih!" seru Natsuki yang tak mau kalah dan menunjukkan gyoza buatannya.
"Onee-chan, itu bukan gyoza tapi pangsit," koreksi Himeka.
Ternyata bentuk gyoza Natsuki bulat seperti pangsit, bukan berbentuk gyoza pada umumnya.
"Ah kalau begitu begini!"
"Kalau yang itu malah jadi dim sum, Natsuki," kali Hinata yang berkomentar sambil terkikik geli.
"Wah ternyata Natsuki hebat juga ya, mampu membentuk dim sum dan pangsit dari bahan gyoza."
"Mama, pujian Mama tidak membuatku bangga tahu!" ujar Natsuki cemberut sambil menggembungkan pipinya.
Walau hasil gyoza Natsuki tidak terlalu bagus, tapi setidaknya dia sudah berusaha keras dan Hinata pun memujinya walau harus menahan tawanya. Dalam beberapa menit akhirnya piring-piring pun telah penuh dengan gyoza-gyoza yang matang. Bau harum gyoza memenuhi dapur, sungguh bau yang menggoda selera. Air liur Natsuki bahkan sudah menetes daritadi.
"Eh jangan meneteskan air liur seperti itu Natsuki, tidak sopan. Sana mandi dulu dengan Himeka, nanti Mama akan menyusul setelah beres-beres. Lagipula, Papa dan Haruto Nii-chan pasti akan pulang sebentar lagi. Kalian tidak mau gyoza-nya dihabiskan mereka kan?"
"Baik Mama kami segera mandi! Ayo Himeka!" Natsuki menarik lengan Himeka dan berlari menuju kamar mandi, Hinata hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang satu itu sambil tertawa.
~NaruHina's Family~
"Papa kok lama sekali ya pulangnya, jangan-jangan terjadi apa-apa lagi," ujar Hinata khawatir.
"Mungkin ada kerja lembur? Pasti nanti akan mengabari kok," ujar Haruto sang putra tertua menenangkan.
"Mungkin saja ya."
Baru saja Hinata berpikir begitu, tiba-tiba telepon di ruang keluarga berbunyi. Hinata segera berlari dan menjawabnya, di dalam hatinya berharap semoga bukan berita buruk tentang suaminya yang didengarnya.
"Moshi-moshi," terdengar suara Naruto di sebrang sana.
"Naruto-kun! Kenapa tidak pulang? Aku khawatir denganmu tahu!" suara Hinata agak keras dari biasanya, sepertinya dia kesal terhadap Naruto yang terlambat pulang dan di satu sisi merasa lega bahwa tidak ada berita buruk yang didengarnya.
"Maaf Hinata, aku tidak bisa pulang seperti biasanya hari ini."
"Memangnya kenapa? Ada kerja lembur dari kantor?"
"Aah tidak, bukan begitu. Shikamaru baru saja memenangkan tender besar dengan perusahaan AIC. Kau tahu kan perusahaan besar itu? Kami memenangkan kontrak kerja sama dengan mereka selama 10 tahun ke depan! 10 tahun loh Hinata! Maka dari itu kami sekarang berada di restoran yakiniku untuk merayakannya. Maaf ya Hinata aku telat mengabari, nanti aku belikan oleh-oleh deh."
"Masa bodoh! Aku tidak peduli! Selalu begitu setiap tahunnya! Naruto-kun tidak pernah ingat kan!? Tidak pernah ingat kalau hari ini ulang tahun pernikahan kita! Padahal aku sudah susah payah memasakkan makan malam untukmu! Aku tidak mau tahu lagi! Aku benci Naruto-kun!" seru Hinata sambil menutup telponnya dengan kencang.
Anak-anaknya yang melihatnya seperti itu hanya bisa terdiam, baru kali ini mereka melihat Mama mereka marah seperti itu pada ayah mereka. Semua memandang Hinata dengan tatapan cemas, Hinata yang sadar menatap mereka dengan lembut sembari menghapus air matanya.
"Tidak apa-apa kok, Mama hanya sedikit kesal pada Papa tadi. Sekarang lanjutkan makan malamnya ya, Mama lelah dan mau beristirahat. Haruto, nanti bereskan semuanya ya."
"Tapi Mama kan belum makan gyoza -nya!" seru Himeka.
"Tidak apa Himeka-chan, Mama sudah kenyang."
Setelah mengucapkan hal itu, Hinata segera ke kamarnya dan mengunci pintu. Di dalam kamarnya dia menangis pelan. Dia tak percaya, suaminya lebih mementingkan pesta bersama rekan-rekannya ketimbang mengingat ulang tahun pernikahan mereka. Hinata tahu, harusnya dia tidak berbuat seperti ini tapi apaboleh buat. Dia terlalu kesal terhadap Naruto. Sambil menangis dan memikirkan hal itu akhirnya dia tertidur.
~NaruHina's Family~
Beberapa menit tak lama setelah Hinata tertidur, terlihat 4 sosok siluet tengah mengendap-endap menuju kamar Hinata. Keempat sosok misterius itu nampak membicarakan sesuatu, nampaknya mereka sedang mendiskusikan sesuatu yang penting. Mereka menggenggam beberapa barang di tangan mereka masing-masing. Hinata yang terbangun pun mendengar suara diskusi itu sayup-sayup, dia menyimpulkan kalau mereka adalah segerombolan perampok yang hendak mencuri di rumahnya.
Hinata pun bersiap, dia memegang lampu tidurnya dengan erat. Walau tidak seberapa, setidaknya bisa untuk melawan para perampok itu. Perlahan langkah mereka semakin mendekat, gagang pintu pun bergerak perlahan. Satu sosok misterius masuk ke dalam kamar Hinata dan langsung saja, Hinata memukulkan lampu tidurnya di kepala sosok misterius itu. Duak! Hantamannya cukup kuat, dia roboh seketika. Namun tiba-tiba saja lampu menyala dan terdengar teriakan.
"Selamat hari ulang tahun pernikahan, Mama dan Papa!"
Prok! Prok! Prok! Suara confetti terdengar saling bersahutan dan beberapa kertas metalik tersembur kemana-mana menghiasi ruangan. Rupanya mereka bukanlah para perampok, melainkan Haruto, Natsuki, Himek dan tentu saja Naruto yang tengah mengadakan pesta kejutan. Mereka sengaja membuat sedikit sandiwara dan mengejutkan Hinata dengan pesta dadakan.
"Kalau itu kalian, berarti yang Mama pukul barusan itu siapa?"
"Ah Papa pingsan!" seru Himeka menunjuk Naruto yang tergeletak tak berdaya bersamaan dengan kue yang dibawanya.
"Ma-Maaf Naruto-kun! Aku tidak sengaja, aku pikir tadi itu perampok! Haruto, Natsuki cepat bawa es, dan kotak P3K!"
Setelah diobati dan beberapa menit kemudian akhirnya Naruto tersadar, dia terus memegang kompres di dahinya yang masih sakit dia berkata, "Kau kejam Hinata, aku tahu kau sakit hati dengan sandiwaraku barusan, tapi tidak dipukul begini juga dong."
"Ma-Maaf, aku kan tidak tahu tadi. Aku pikir itu perampok, makanya aku memukulnya. Tapi kau tidak apa-apa kan?" tanya Hinata cemas.
"Iya, tidak apa-apa hanya sedikit memar dan lecet saja kok. Tidak usah berwajah cemas begitu. Ah iya, ini hadiah ulang tahun pernikahannya. Kami semua ikut berpartisipasi dalam memilih hadiah ini loh," ujar Naruto sambil tersenyum.
"Baik, aku buka ya?"
"Silahkan."
"Wah ini kan? Peralatan masak yang sudah lama kuinginkan! Terimakasih ya semuanya!" ujar Hinata terharu.
"Aku senang kau menyukainya Hinata, tapi tetap saja aku merasa heran kenapa kamu lebih memilih peralatan masak dari pada perhiasan seperti kalung atau cincin?" tanya Naruto penasaran.
Wajar saja kan? Benda seperti perhiasan itu hanya berfungsi sebagai aksesoris saja tidak lebih, sedangkan kalau peralatan masak bisa untuk membuat makanan yang membahagiakan seluruh anggota keluarga," jelas Hinata.
"Haha, kau benar juga. Terimakasih ya sarannya Himeka, Natsuki. Kalau tidak ada kalian, Papa juga bingung akan memberi hadiah apa."
"Hehe, itu karena kami selalu melihat Mama yang terus menatap peralatan masak itu. Mama selalu melihatnya di toko saat mengantar dan menjemput kami dari sekolah. Saat kami tanyakan kenapa tidak membelinya, Mama menjawab terlalu mahal jadi lebih baik uangnya dipakai untuk yang lain saja."
"Hei aku tidak kebagian ucapan terimaksih nih! Aku sudah membantu Tou-san membawakan hadiah yang berat itu, tapi karena hadiah itu juga sih aku bisa pulang bersama Airi, hehe," ujar Haruto.
"Haruto Nii-chan, jangan tertawa seperti itu lagi. Menjijikan tahu," protes Natsuki.
"Apa kau bilang?!"
"Sudah, sudah. Yang terpenting Mama menyukai hadiahnya kan? Terimakasih ya kalian yang sudah memilihkan hadiahnya, Naruto-kun juga, aku minta maaf karena sudah menuduh yang bukan-bukan. Terimakasih Naruto-kun. Nah sekarang aku yang akan memberikan hadiahnya, tutup matamu."
"Eh sekarang?"
"Iya tutup saja, dan hitung sampai 3 ya."
"Satu...dua...tiga..." Cup! Sebuah kecupan manis mendarat di dahi Naruto.
"Wah curang kenapa di dahi?"
"Biar cepat sembuh, lagipula aku malu kan di depan anak-anak."
"Hee, tak apa kan?"
"Tidak mau!"
Walaupun hadiahnya bukan barang mewah seperti kalung permata atau cincin berlian, Hinata menyukainya. Karena hadiah ini adalah merupakan bukti bagi ikatan mereka sebagai keluarga yang selalu menyayangi satu sama lain. Happy aniversary too, dear.
End
Terinspirasi dari salah satu doujin kancolle, ada yang tahu judulnya? Sekali-kali pengen bikin FF yang heartwarwing gitu, maaf ya kalau jelek. Mohon reviewnya ya minna ^_^
Gyoza : adalah daging atau udang dan sayuran yang dicincang dan dibungkus lembaran tepung terigu. Adonan kulit dibuat dari campuran tepung terigu, air, dan garam dapur. Makanan ini dimatangkan dengan cara direbus. Di Jepang, makanan disebut gyōza, sementara di Korea disebut mandu. Gyoza tidak sama dengan pangsit (wonton). Kulit Gyoza ebih tebal dari pangsit.
