copyright © crownacre, 2016

chivalry is dead

Just cause I'm a gentleman,
don't mean I ain't taking you to bed

[[ WARNING ]]

Mengandung ucapan kasar, tindakan yang tidak pantas ditiru, dirty talk, dan mungkin hal berbahaya untuk dibaca. Jangan dibaca kalau tidak sanggup atau tidak suka, segera tinggalkan page tanpa tinggalkan komentar tidak menyenangkan setelah membacanya jika Anda tidak suka dengan alur yang saya angkat atau apapun yang saya pilih untuk cerita ini.
You've been warned!

Happy Reading!

Chapter 01

Yoongi melangkah angkuh memasuki kampusnya, matanya mengedar dengan tatapan tajam hingga beberapa mahasiswa baru atau orang yang mengenalnya sebagai seseorang berbahaya tentu saja melangkah menjauh. Sesekali mereka berbisik melihat bagaimana ia terlihat sangat menyebalkan sekaligus mengerikan dalam saat yang sama, namun tidak bisa memungkiri bagaimana keindahan yang dipancarkannya dengan sempurna. Ia mencebik tipis, mengomentari bagaimana orang-orang tanpa tata karma membicarakannya seolah tidak ada yang salah bersuara sekeras itu di sebelahnya. Oh, katakan saja ia tidak keberatan dibicarakan, tapi nyatanya ia benci bagaimana orang berkomentar tidak-tidak tentang dirinya.

Ia menghela napas kasar saat tiba di ruang senat, melempar tasnya sembarangan ke bangku tidak memedulikan suara bedebam yang menganggu. Ada Seokjin dengan mata mengikuti langkahnya yang tadi menyambut kedatangannya, juga Namjoon yang bahkan matanya tidak teralihkan dari buku bacaannya. Mereka mendapat bagian sebagai pengurus ruang senat hari ini, itu sebabnya Yoongi tersenyum tulus pada Seokjin setelah masuk ke ruangan. Seokjin memang selalu yang paling bersih meski dipasangkan dengan Namjoon yang paling ceroboh, ia orang rajin dan selalu membuat ruangan rapi seperti semula meski hari sebelumnya ruangan seberantakan kapal pecah.

"Kau datang pagi," Namjoon menggumam di balik bukunya, mengatakan seolah sebuah keajaiban dunia jika si ketua senat yang galak bisa tiba lebih cepat daripada pukul sepuluh.

"Aku ketua senat sekarang," jawabnya santai. Ia memang jadi sedikit lebih keras ditambah angkuh setelah mendapat jabatan ketua senat. Ia menerima perpindahan jabatan dengan senyuman bangga selama tiga hari sejak si Lee Jinki, ketua senat sebelumnya menyerahkan jabatan terhormat itu pada Yoongi. "Omong-omong kau membersihkan dengan baik, apa itu pekerjaan Seokjin?"

Namjoon tertawa setelah melirik Seokjin, ia kembali menatap Yoongi dan kali ini menurunkan bukunya yang menghalangi pandangan. "Kita bekerja sama, aku membuang sampah kalian semua kemarin dan Seokjin–hyung berbaik hati menyerahkan diri sebagai yang menyapu—dia memang tahu aku payah dalam hal itu."

"Kau payah dalam apapun," Seokjin mendengus. "Kecuali dalam menghancurkan."

"Apa menghancurkan lubangmu itu termasuk salah satu hal yang tidak payah dalam diriku?"

Seokjin dan Yoongi terbatuk, tersedak ludah mereka sendiri. Wajah Yoongi terlihat kesal dengan delikan tajam karena perkataan tidak senonoh dari salah satu orang kelebihan hormon yang sangat ingin ia bunuh, sementara Seokjin sibuk merona dengan wajah yang ia buang jauh-jauh; memalingkannya dari dua orang lain di ruangan yang sama.

Namjoon tertawa keras melihat reaksi sama dengan alasan yang bertentangan, ia menggeleng seolah tengah menilai orang yang menurutnya bereaksi berlebihan pada ucapannya. Ia menatap Yoongi dengan senyuman tengil, matanya menatap tubuh kurus itu dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas. "Yoongi, aku jadi penasaran jika kau memiliki kekasih, di posisi mana dirimu? Top? Bottom? Kau membuatku ragu."

"Hentikan itu," tangan Yoongi menuding tidak sopan pada wajah Namjoon yang memberi ekspresi menyebalkan. Ia melempar satu spidol yang ada di meja dekatnya dan lalu menggerutu seperti nenek tua.

Seokjin yang tadi malu-malu mendadak tertarik dengan apa yang Namjoon bicarakan, matanya menyala-nyala seperti lampu taman yang baru saja diganti. Ia menatap Yoongi penasaran dengan senyuman lebar yang bagi Yoongi menambah ribuan porsi menyebalkan. "Menurutku dia akan dalam posisi bottom," ujarnya dengan nada tenang yang manis namun menggoda—menggoda hati Yoongi hingga ia ingin melempar wajah polos itu dengan granat. "Meski galak aura lemahnya tidak pernah hilang sejak junior high school. Semua orang tetap ingin memeluknya erat dan melindunginya seberapa kasar pun seorang Min Yoongi."

"Hentikan mulut kotormu itu," nada suara Yoongi meninggi, matanya memicing marah yang mungkin jika itu sebuah senjata Seokjin akan tewas dalam waktu sepersekian detik. Ia meraih tasnya yang tadi ia lempar lalu menyampirkannya asal pada bahunya. "Kalian membuatku kehilangan selera tidur, terima kasih."

Yoongi dapat mendengar Seokjin dan Namjoon tertawa keras setelah ia yang berlalu begitu saja sambil menggerutu, memaki banyak kali pada sejoli yang selalu menggodanya seolah menjadi seorang single adalah dosa tak termaafkan. Bibirnya berkomat-kamit seperti membaca doa yang sebenarnya itu bergerak untuk menyerukan ucapan kotor yang selalu hanya mampu ia kulum dalam bibirnya; menjaga segala harga dirinya tentang menjadi ketua senat beradab dengan mulut bersih dari dosa.

"Yoongi–hyung!" Suara langkah tergesa dari belakang membuat Yoongi berhenti, ia membalikkan wajahnya tanpa minat pada orang berambut oranye gelap yang menghampirinya dengan senyuman penuh. Itu Jimin, tetangganya dalam lingkungan apartemen sama yang selalu mendatanginya dengan bibir merekah seperti kelopak bunga lili yang begitu lebar. "Senang melihatmu," ujar yang lebih muda setelah tiba di sebelah Yoongi, tangannya merangkul lengan yang lebih tua dan setelah itu langsung mendapat sentakan tidak suka dari yang dirangkul; Yoongi selalu benci sentuhan.

"Apa?" Pertanyaan kasar dengan wajah berkerut penuh tanya terpasang apik di wajah Yoongi.

Jimin tertawa riang, seperti seorang anak kecil tanpa beban. "Hari ini aku berangkat pagi karena Jeon Jungkook memintaku mengantarnya dan justru berpisah dengannya, dan beruntungnya aku menemukanmu. Mau jalan-jalan denganku, hyung?"

"Yang benar saja," Yoongi melirik dengan wajah tidak suka, ia menatap gemas sosok Jimin. "Apa jabatan sebagai ketua senat padaku adalah hal yang pantas untuk kau ajak jalan-jalan sekarang?"

"Ah, ya, benar!" Anggukan seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat ilmu tentang coklat adalah suplemen penambah semangat muncul dengan mudah dari Jimin. "Mianhae—aku lupa ketua senat harus mengurus kegiatan orientasi terakhir ini. Kalau begitu… sampai jumpa, hyung!" Ia melangkah dengan ringan dan melambai penuh senyuman cerah sebelum akhirnya mengilang di tikungan.

Yoongi melanjutkan langkahnya, berpikir perlu membersihkan wajah di toilet, jadi ia pergi menuju tempat itu. Karena masih terlalu pagi, kampus baru terisi beberapa mahasiswa rajin dengan jam masuk pagi dan beberapa maba yang berangkat untuk orientasi terakhir—sebenarnya tidak benar-benar sepi, tapi saat siang hari kampus jauh lebih ramai dari ini.

Saat ia masuk ke toilet, ia langsung menuju wastafel dan membasuh wajahnya. Ia mendesah lega saat semuanya jadi terasa lebih segar karena semalam sempat susah tidur dan membuatnya terbangun dalam kondisi terkantuk-kantuk. Ia mendongak, menatap wajahnya pada pantulan cermin yang menurutnya terlihat lebih segar daripada yang tadi, jadi ia tersenyum sedikit. "Semangat untuk hari ini," gumaman tipis sebagai penyemangatnya untuk hari ini lolos; harinya harus dimulai dengan semangat, begitu pikir seorang ketua senat galak satu itu.

"Yoongi–sunbae," suara seseorang mengejutkan Yoongi, matanya mengedar pada pantulan cermin dan menemukan Jungkook yang melangkah menuju wastafel di sebelahnya. Ia tersenyum penuh pesona, memberi tatapan khas bad boy yang sangat seksi di mata Yoongi. "Kau sendiri?"

Yoongi mengerut bingung, merasa risih dengan tatapan dari atas ke bawah lewat sinar mata adik tingkatnya. Seluruh tubuhnya jadi panas dan seperti ditelanjangi habis karena rasanya orang itu memandang tajam dengan laser berbahaya. "Aku selalu sendiri, kenapa bertanya begitu?"

Jungkook terkekeh, ia mencuci tangannya dan lalu menatap kakak tingkatnya dari pantulan cermin. "Aku takut seseorang semanis kau diculik karena kau terlihat begitu kecil dan perlu perlindungan."

"Aku sabuk hitam bela diri asal kau tahu saja."

"Yeah," lagi-lagi yang lebih muda terkekeh. "Tapi tetap saja kau terlihat seperti itu."

Dengusan kesal lolos dari hidun Yoongi, matanya menatap tidak suka sosok itu. "Tidak usah bersikap seolah kau seorang gentleman, Jeon Jungkook."

Mata Jungkook turun mengikuti arah pandang Yoongi, menemukan mata itu melirik pada name tag yang memang wajib digunakan ketika sedang masa orientasi. Ia mengacak lembut rambut yang lebih tua lalu memberi senyuman lebar. "Kau sangat menggemaskan, sunbaenim. Harusnya kau bersikap lebih manis, bukan berteriak seperti seekor predator mengerikan yang anaknya diculik manusia jahat."

Suara tawa Yoongi kini terdengar sumbang karena rasa kesal yang tertahan, mantanya memberi tatapan menilai yang sejujurnya sangat menyebalkan sekaligus mengerikan. "Tahu apa kau?" Ujarnya dingin, bibirnya pun mencebik setelah itu.

"Aku tahu pendapat orang, mendengarkannya, dan menyampaikannya padamu."

"Bocah gila," desis Yoongi lirih sambil melirik muak pada sosok di sampingnya. Setelah itu ia membetulkan posisi tasnya kasar dan berlalu begitu saja meninggalkan Jungkook yang memberi tatapan dengan senyuman tengil menyebalkan.

.

"Hari ini aku yang memegang acara," suara lantang Yoongi terdengar sampai mahasiswa baru yang berbaris di belakang, membuat semuanya meringis aneh karena mendapat si ketua senat manis yang nyatanya galak dan mengerikan; lebihnya lagi, ia ahli bela diri yang mungkin bisa menendang wajah mereka yang melanggar.

"Karena aku bukan kakak tingkat baik hati, ada baiknya kalian yang perlengkapan khusus orientasinya belum lengkap silakan berbaris di depan sebelum aku mengeceknya sendiri."

Semua membuat bisikan-bisikan ribut, menanyakan apa ada yang kurang atau sudah tidak perlu memikirkannya karena tidak ada yang kurang. Beberapa siswa dengan wajah takut-takut melangkah ke luar barisan, berbaris di sebelah Yoongi menghadap temannya yang berjejer rapi. Saat si ketua senat melirik mereka, semua langsung mengalihkan pandangan agar tidak bertemu pandang dan tewas menyedihkan di tanah.

Saat mata Yoongi menemukan seseorang dengan potongan yang ia kenal, keningnya langsung berkedut kesal dan mengeluarkan sudut siku-siku sebanyak empat di sana. Ia menghela napas kasar, mengatakan pada dirinya perlu bersabar karena hanya anak itu yang menatapnya, memberi senyuman menyebalkan seolah meledeknya.

"Dari yang paling dekat denganku, sebutkan nama dan apa yang tidak lengkap dari kalian."

Satu persatu menyebutkan nama dan apa yang tidak mereka kenakan, sebagian besar menyebutkan name tag dan sepatu yang ditentukan. Hingga saat tiba di orang yang membuat keningnya berkedut, perhatiannya langsung menjadi seratus persen.

"Saya Jeon Jungkook, tidak membawa name tag."

Kali ini Yoongi bersumpah ingin sekali rasanya berlari ke hadapan si Jeon itu, menendang di wajah dan berteriak keras sambil menunjuk ekspresi yang selalu tersenyum cerah menggoda karena terlampau muak. Name tag katanya? Lalu apa yang ia lihat tadi di toilet? Bocah sialan, ia sengaja ingin berurusan dengannya sepertinya.

"Baiklah," Yoongi menatap sekitar belasan anak dengan predikat tidak–tertib, memasang wajah paling sangar yang ia miliki dan menatap mereka satu persatu dari atas ke bawah. "Cari Namjoon–sunbae dan minta tugas untuk kalian, katakan kalian diperintah saya. Laksanakan."

Semua menjawab siap dengan serempak, sementara satu mahasiswa yang membuat kening Yoongi berkedut itu memberinya senyuman menggoda sebelum berlalu bersama anak yang lain.

Sejujurnya Yoongi sendiri memang datang untuk mengambil mahasiswa tidak tertib, seperti tugasnya sebelumnya. Tapi melihat Jungkook yang tadi di toilet membuatnya kesal, ia pikir ia bisa mengambil alih tugas Namjoon dan membuat wakilnya mengurus tugasnya.

Saat sedang asik memberi instruksi, Namjoon berlari tergopoh-gopoh menghampiri Yoongi. Membawa wajah menyedihkan dan menjelaskan beberapa hal sambil bersibik. Yoongi mengerut tidak suka mendengar yang rekan satu dewan senatnya itu bicaranya, mencebik kecil sambil mengomentari ceritanya dengan desisan tajam. Sepertinya Namjoon memang sangat payah dalam menghadapi anak-anak nakal.

"Kau urus ini, aku akan urus mereka," ujar Yoongi akhirnya. Memutuskan mengalah daripada membuat temannya kewalahan karena tugasnya. Ia lalu menepuk bahu Namjoon dan pergi menuju ruangan yang disediakan untuk memberi tugas pada para indispliner.

Matanya mengedar, mendapatkan angka lima belas sebagai jumlah siswa yang terlambat dan membuat keningnya sekali lagi berkedut lelah. Jungkook, orang yang sangat ia hapal sebagai orang tampan dan kini berubah menjadi si menyebalkan, melambaikan tangan ditambah memberi senyuman lebar dari ujung sana. Entah kenapa sekarang ia jadi begitu ingin membunuh orang itu, memaki wajah tampannya dan menjelaskan betapa tidak termaafkannya orang itu jika terus melakukan hal menyebalkan.

"Kenapa tidak menulis esainya?" Ia bersuara, menatap satu persatu adik tingkatnya di sana. Semua diam sambil menggaruk tengkuk speerti orang bodoh, membuatnya berpikir bahwa selain ceroboh dan tidak tertib, otak mereka juga di bawah rata-rata.

Sialnya seorang siswa yang menggunakan tindik di telinganya justru mengangkat tangan, menahan senyuman lebar sejak tadi ia masuk agar tetap terpasang rapi di wajahnya. "Sunbaenim! Kami semua di sini sengaja terlambar untuk melihat sunbae di hadapan kami. Sejujurnya kami sudah selesai, kami hanya menggodai Namjoon–sunbae yang tidak menarik agar membuat Yoongi–sunbae datang ke sini," suaranya terdengar lantang bercampur menyebalkan.

Yang lebih menyebalkan lagi, semua terlihat menunduk dan menurut saja pada perkataan siswa bernama Jeon Jungkook itu. Terlihat seperti sudah mendapat iming-imingan agar menurut dan mengikuti kemauannya. Tidak ada yang mengangkat tangan untuk menolak pernyataan dari yang paling ujung.

"Begitu? Baiklah," Yoongi tersenyum tipis. "Karena aku sudah di sini, kalian yang ingin mengumpulkan esai kalian padaku, segera kumpulkan dan tinggalkan tempat ini. Yang masih ingin bersamaku lama, silakan tetap tinggal."

Semua beranjak, melangkah sambil menunduk menyerahkan kertas lalu membungkuk sopan. Hanya satu yang tersisa, duduk manis di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun, memamerkan senyuman menjengkelkan dan gigi tertata rapi di gusinya.

"Aku tetap di sini, sunbaenim," senyumannya jadi berkali menyebalkan kali ini. "Sayangnya hanya aku yang tinggal, apa kita akan berkencan setelah ini?"

Sungguhan seperti sebuah sabotase kekuasaan. Tidak terbayang di pikiran Yoongi akan terjadi pemberontakan macam ini dari orang yang baru saja ia beri pernyataan galaknya di Minggu pagi dan setelah itu langsung dibeginikan di Senin pagi, apa lagi orang itu adalah adik tingkatnya. Rasanya seperti nasibnya berubah sangat cepat.

"Sekarang kau mau apa? Aku sudah di sini," suara Yoongi melembut, mencoba bersikap baik dan berpikir mungkin jika sikapnya lebih sopan ia akan mendapat sikap yang sama sopannya.

Jungkook berdiri, melangkah menghampiri Yoongi dengan senyuman cerah. "Sunbae mau berlama-lama dengaku tidak?"

"Tidak."

Yang lebih muda merengut, membuat ekspresi sedih yang ia buat semenyedihkan mungkin, berpikir sang sunbae akan melembut dan menjawab iya. Sialnya sekali tidak tetaplah tidak. "Bagaimana kalau seharian ini kita pergi ke mall? Berkencan?"

"Jugulae?" Kening Yoongi mengerut menunjukkan rasa tidak suka, matanya memicing tajam memberi tatapan mematikan. "Ini sedang jam tugas, kau juga sedang jam orientasi, jangan macam-macam."

"Oh!" Jungkook menjentikan jarinya, wajahnya yang tadi berpura-pura sedih kini berubah jadi cerah. "Sepulang orientasi, kita berkencan! Bagaimana?"

"Hey saekki, darimana kau belajar bersikap setidak sopan ini?" Yoongi memukul kepala yang lebih tinggi kesal, menatapnya sekejam mungkin agar yang ditatapi mengkerut—yang sialnya tidak menghasilkan apa-apa. "Tidak ada kata kencan jika itu soal kau dan aku. Sekarang, kembali ke lapangan dan bersikaplah baik atau aku akan memasukkanmu ke dalam blacklist hidupku."

"Aku senang masuk dalam blacklist-mu. Jika kau tidak menyukaiku dan dan membuatmu memikirkanku sampai kau berbunga tiap melihatku, itu berarti pilihan kedua adalah menjadi orang yang sangat kau benci dan membuatmu memikirkanku sampai kau kesal setengah mati. Masuk blacklist adalah salah satu cara untuk tetap ada di pikiranmu, sunbaenim-ku yang manis."

Tolong beritahu Yoongi mana lagi kalimat yang lebih memuakkan dari kalimat yang dikatakan seorang Jeon Jungkook. Adik tingkatnya yang jelas-jelas sebelumnya bersikap baik, tidak menunjukkan sisi kurang ajar sama sekali sejak sebelum bertemu dengannya saat bersama Jimin.

.

"Jeon Jungkook?" Namjoon menatap ketua senatnya dengan tatapan bertanya.

Yoongi mendengus, mengangguk kecil sambil memberi senyuman khasnya ketika kesal. "Dia yang membuatmu memanggilku untuk datang ke sana?"

"Begitulah," kekehan kecil lolos dari yang sudah duduk di lantai sejak tadi. "Dia terlihat begitu terobsesi padamu. Apa dia sengaja melakukannya di akhir orientasi agar bisa begitu, ya? Dia cerdas juga."

"Jaga mulut kotormu," satu pukulan ringan mendarat mulus di bahu Namjoon. "Aku tidak tahu harus menghadapinya dengan apa sampai harus menyelesaikannya selama ini," ia melirik jam yang menunjuk angka satu di jarum pendeknya. "Oh, dia benar-benar! Rasanya kesalku sudah sampai ke ubun-ubun!"

"Kau bisa meledak setelah ini dan setelah itu jatuh cinta padanya," Hoseok nimbrung dengan wajahnya yang seperti penggosip ulung. "Jangan terlalu membencinya, nanti ia akan terus di otakmu."

"Terima kasih Jung Hoseok," jawaban ketus dengan mata yang diputar malas. "Aku takut aku akan mengeluarkan pisau dan menusuknya tepat di jantung."

"Min Yoongi mulai menyeramkan! Haruskah aku lari?" Namjoon menggoda sambil terkekeh mengejek.

"Omong-omong, Yoongi, aku kenal jeon Jungkook itu."

"Di mana kau mengenalnya?"

Hoseok terlihat berpikir. "Aku tidak yakin karena saat itu aku hanya siswa pindahan yang perlu fokus untuk ujian perguruan tinggi, tapi aku pikir ia memang adik kelasku yang terkenal itu. Ada siswa kelas satu yang wajahnya tampan dan senyumnya menawan, semua suka padanya. Namanya juga Jeon Jungkook. Aku tidak tahu persis wajahnya, tapi ia terlihat punya gigi kelinci menggemaskan. Tipikal wajah bottom yang manis tapi aura top-nya juga sangat kuat."

"Wow, sekalinya Yoongi disukai orang, yang menyukainya adalah orang tampan tapi gila! Aku tidak mengerti kenapa nasibmu begitu luar biasa abstrak, Yoongi-ah."

"Terima kasih Namjoon-ah, aku tersanjung."

Namjoon dan Hoseok tertawa bersama, menertawakan wajah Yoongi yang terlihat kusut minta ditarik agar lurus—yang sejujurnya terlihat sangat menggemaskan. Meski sang ketua senat memang sangat galak, ia adalah salah satu mahasiswa dengan predikat berwajah baby face atau penjahat umur. Tapi ia dihapus dari daftar karena semua tahu ia akan mengamuk dan mengusari semua anggota pengurus majalah kampus yang dengan berani memasukan dirinya dalam urutan semacam ini.

"Aku pikir setalah ini rap Yoongi akan penuh kebencian. Aku bertaruh ada lima kata saekki ditambah beberapa makian berbahasa inggris di dalam sana. Bagaimana menurutmu, Hosiki?"

"Aku tidak yakin, terakhir ia bermasalah dengan seseorang kata saekki ada tujuh dan yang kasar-kasar lain seperti bagian dari musik."

"Sialan," Yoongi menggerutu. "Kalian benar-benar anggota senat paling kurang ajar."

Selalu begitu, Yoongi memang yang paling mudah di-bully, tapi juga yang paling mudah menyumpahi bahkan menendang. Paling menyenangkan sekaligus paling berbahaya dalam hal bully mem-bully.

Saat sedang asik menertawakan Yoongi, tiba-tiba saja Seokjin datang dari luar sambil membawa makan dalam satu ikatan besar di kedua tangannya, memanggil semua anggota senat yang masih di ruangan dan memberi perintah untuk makan. Dus berisi ayam goreng kesukaan semuanya, ditambah beberapa jajanan plus soda hitam. Sangat menggoda hingga semua berhamburan menghampiri Seokjin.

"Kita makan enak di hari terakhir orientasi!" Salah seorang anggota senat bernama Jackson memekik riang sambil mengangkat tinggi ayam gorengnya. "Ini akan sangat enak!"

Semua mengamini, mengangguk setuju pada pernyataannya lalu mulai melahap ayam menggoda dalam dus. Seokjin tertawa melihat teman-temannya, ia meletakkan satu persatu kaleng berwarna merah ke hadapan anggota senat lainnya, mengatakan selamat makan. Dan setelah selesai ia duduk di sebelah kekasihnya, mulai memakan paha ayam dalam balutan tepung yang menggodanya.

"Tidak sia-sia kan ide menambahkan jumlah pembayaran kas dariku," Hoseok bersuara sombong, memasang senyum pamer menyebalkan. "Kita kapan pernah makan seenak ini sebelum aku mengajukan ide itu? Belum pernah!"

Semua tertawa, mengangguk untuk mengiyakan kesombongan Hoseok.

"yang ahli makan memang selalu tahu bagaimana caranya mendapat makanan dari uang yang dikumpulkan sejak lama," anggota senat bernama Youngji meledek Hoseok sambil menjulurkan lidahnya, membuat yang diledek merengut.

"Jangan menatap Youngji-ku seperti itu," Jackson memukul lengan Hoseok yang memberi tatapan tidak suka pada gadis dengan rambut dikuncir kuda.

"Jadian dulu baru bela dia," kali ini Hoseok balas meledek. Membuat dua orang itu memerah dan berpura-pura tidak mendengar. Hoseok pun terkekeh karena merasa menang; anggota yang lain pun beberapa ikut tertawa bermaksud menggoda.

Jiyoung yang dikatakan kembaran Youngji itu tertawa sambil menepuk bahu Hoseok, "caramu menjawab memang selalu penuh humor, Hoseok-ah."

"Yoongi! Ada yang mencarimu di luar," suara seorang gadis yang sepertinya baru dari luar, ia menunjuk pintu dengan dagunya.

Yoongi yang masih sibuk dengan ayamnya mendongak bingung, ia menoleh pada Namjoon seolah bertanya siapa yang mencarinya, tapi yang diberi tatapan bertanya menggeleng. Tidak ada yang menitipkan pesan untuk bertemu dengannya, lalu siapa yang mencarinya?

"Dia memakai pakaian seperti peraturan orientasi omong-omong, sepertinya salah seorang mahasiswa baru," gadis yang tadi memberi tahu Yoongi menjelaskan.

Yoongi mencoba mengingat siapa yang mungkin akan berurusan dengannya, dan nama seseorang muncul begitu saja di otaknya. "Apa dia beberapa senti lebih tinggi dariku dengan rambut hitam dan gigi kelinci menyebalkan?"

"Tidak," gadis itu menggeleng. "Dia tampan dengan gigi kelinci menggemaskan."

Oh, dasar gadis. Seandainya dia tahu seberapa brengseknya makhluk itu. "Geurae, sepertinya aku tahu siapa yang mencariku. Aku ke luar dulu," Yoongi membersihkan tangannya dengan tisu, melakukan gestur permisi pada temannya lalu melangkah ke luar dengan langkah malas.

Saat di luar, ia menemukan sosok yang disebut tampan tengah berdiri sambil menggendong tasnya sembarangan. Menyampirkannya seperti malas membawa di bahu kanan dengan tangan menggenggam cangklongannya dan tangan kirinya masuk ke dalam saku. Kepalanya mendongak angkuh menantang sinar matahari yang menerpa wajah meski mata yang sebenarnya bulat itu perlu disipitkan. Seperti berpose bad boy dalam sebuah photoshoot, tampan namun sangat menarik untuk ditendang wajahnya.

"Mencariku?" Yoongi bertanya, memecah lamunan sambil menatapi matahari—atau mungkin awan— dan membuat sosok itu menoleh dengan senyuman terlampau bahagia.

"Yoongi–sunbae!" Anak itu memekik riang, terlihat menggemaskan dan lucu. Gigi kelincinya yang cukup besar membuat tawa manisnya makin kuat. Tangannya yang tadi masuk ke dalam saku terangkat untuk merangkul yang lebih rendah, kepalanya pun yang tadi mendongak angkuh kini didekatkan pada wajah orang di rangkulannya. "Jalan-jalan denganku, yuk? Setelah itu aku antar kau pulang, kita kan ada di satu apartemen yang sama, bersebelahan pula."

Saat berusaha berontak, Yoongi tidak menghasilkan apa-apa; tangannya terkunci karena Yoongi menahan gerakan lengan atasnya. Tangan Jungkook terlalu kekar dan berat, mau disingkirkan bagaimanapun kekuatannya jelas tidak seberapa jika hanya lengan bawahnya yang bekerja. "Aku ada tugas senat dan tugas dari dosen karena izin untuk kegiatan senat. Aku tidak ada waktu untukmu, cari orang lain saja untuk bersenang-senang bersama."

"Tapi yang aku mau hanya Min Yoongi, bukan orang lain."

"Apa yang salah denganmu, Jeon?" Yoongi mengerut tidak suka. "Sebelum hari ini kau bersikap sangat baik, apa kepalamu terbentur sesuatu saat di kamar mandi tadi pagi? Kewarasanmu jatuh ke kloset dan hanyut bersama airnya?"

"Apa menurutmu aku tidak waras?" Jungkook terkekeh kecil. "Yang tidak waras itu orang yang tidak mencoba mengejarmu, sunbaenim. Kau sangat menarik, bodoh jika mereka tidak menginginkanmu."

Yoongi menghela napas kasar, "apa kalau aku mau menemanimu jalan-jalan kau akan berhenti mengusikku seterusnya?"

"Tergantung seberapa persen kau membuatku senang selama perjalanan."

"Apa berjalan bersamaku tidak membuatmu senang sampai ingin meledak seperti kembang api?"

Sekali lagi Jungkook terkekeh, "aku akan tetap meledak seperti kembang api meski itu tidak dalam skala seratus persen."

"Lepaskan tanganmu bocah brengsek."

Entah kenapa Jungkook jadi senang tertawa, apa lagi tiap wajah merengut Yoongi lolos begitu saja. Sepertinya Jungkook sangat menyukai wajah kesal dari sang ketua senat. "Sunbaenim, apa aku perlu menciumu agar semua kata-kata kasar tidak keluar lagi dari mulutmu?"

"Hajima," lirikan tajam Yoongi berikan pada Jungkook.

"Aku akan melakukannya sekarang."

"Hajima!" Yoongi memekik tidak suka dan setelah itu ia melakukan gerakan luar biasa mengejutkan; mendorong kuat tubuh Jungkook dan memukul wajahnya yang mendekat seperti siap menciumnya. Keahlian yang diam-diam ada dalam dirinya di balik wajah menggemaskan Yoongi: Taekwondo dengan sabuk hitam tingkat awal.

"W–wow," Jungkook tergagap karena terkejut, wajahnya yang mendapat serangan tiba-tiba terasa ngilu tapi justru membuatnya ingin tertawa. Ia menatap wajah kesal Yoongi, terlihat begitu lucu karena warnanya memerah dengan mata memicing, tapi ia menahan diri untuk mejadi tidak beradat, berpikir wajahnya akan mendapat luka biru banyak di wajahnya jika ia masih menggoda Yoongi. "Arraseo, sunbaenim. Mungkin tidak hari ini, kita lakukan lain kali. Sampai jumpa, sunbaenim! Besok aku ke sini lagi."

Saat Jungkook sudah menjauh sambil melambai riang, Yoongi jadi merasa bersalah. Ia sudah berjanji pada ibunya untuk tidak menyakiti orang lain dengan kemampuan bela dirinya, tapi adik tingkatnya itu sangat menyebalkan. Ia mendengus, merasa bersalah tapi lega juga karena sudah melampiaskan kekesalannya. "Aku mungkin harus berusaha sebaik mungkin menghindari anak itu setelah ini."

TBC.

Apa ini astaga… abstrak banget engga sih ;A; aku berusaha buat selesaiin ini dengan plot baru karena temenku bilang ini macam ff yang pernah dia baca. Jadi yeah—aku atur ulang dan buat semua bangunan dari awal. Aneh kah? Duh—maafkan kalo masih pendek, aku cuma berhasil dapet 3,7K buat chapter ini padahal niatnya 5K. maafkan T^T

Chapter 01; done!

Review please?