copyright © crownacre, 2016
CHIVALRY IS DEAD
Just cause I'm a gentleman,
don't mean I ain't taking you to bed
[[ WARNING ]]
Mengandung ucapan kasar, tindakan yang tidak pantas ditiru, dirty talk, dan mungkin hal berbahaya untuk dibaca. Jangan dibaca kalau tidak sanggup atau tidak suka, segera tinggalkan page tanpa tinggalkan komentar tidak menyenangkan setelah membacanya jika Anda tidak suka dengan alur yang saya angkat atau apapun yang saya pilih untuk cerita ini.
You've been warned!
Happy Reading!
Chapter 02
Jungkook melangkah riang menghampiri sosok Jimin yang tengah duduk mengobrol dengan Taehyung, ia menepuk bahu mereka berdua dan setelah itu menempatkan diri di antara dua orang itu. "Hyungdeul! Sedang membicarakan apa?" Tanyanya sambil memberi tatapan dan senyuman bertanya pada dua orang di sebelahnya bergantian.
"Kau dan pukulan dari Yoongi–sunbae," Taehyung menjawab dengan nada setengah geli, ia menatap wajah adik tingkatnya yang kini terlihat bingung. "Aku menyesal tidak memotret dirimu saat dipukul sunbae galak itu, itu sungguhan epic!"
Jimin ikut tertawa melihat wajah Jungkook yang kini mengerut tidak suka setelah menyadari apa maksud dari perkataan Taehyung. "Kau sungguhan berminat mendekati sunbae itu? Aku pikir dia terlalu berbahaya, wajahmu masih biru tuh."
"Memangnya kenapa?" Jawabnya cuek sambil menyerobot asal minuman yang ada di hadapannya. "Kau bahkan menyetujui pernyataanku tentang dia yang terlihat sangat manis, 'kan?"
"Dia memang manis, Jungkook-ah. Tapi tidak dalam tingkat kau bisa meraihnya, asal kau tahu saja."
Jungkook mencibir, napasnya ia denguskan sambil menunjukkan rasa kesal pada sosok yang baru saja bicara. "Lihat saja, hyung. Nanti akan aku buat dia jatuh cinta padaku."
Jimin tertawa kecil, ia mengangguk mengamini pernyataan adik tingkatnya; bermaksud sekedar memberi perasaan senang dan optimis. "Baiklah, aku akan terus mendoakanmu yang terbaik."
"Oh—tunggu di sini, hyungdeul!"
.
Yoongi menatap malas sejoli yang sibuk berpadu kasih di hadapannya, saling menggoda dan tersenyum malu-malu seperti sepasang orang gila. Selalu begitu, mengatakan kalimat gombal lalu menjawab dengan penolakan dan wajah tersipu, Yoongi sampai hapal; dan muak. Baginya tidak ada yang lebih absurd daripada dua makhluk kelebihan hormon dan otak mengkerut, membuatnya sakit perut dan berakhir ingin memuntahkan makanan yang terakhir dimakannya tiap melihat bagaimana mereka berinteraksi.
"Hentikan itu, kalian menggelikan!" Akhirnya komentarnya keluar, memutuskan untuk memberi tahu bahwa yang mereka lakukan sangat menganggu pemandangan—meski sebelumnya pun sudah melakukannya dan terabaikan. Saat sepasang mata dari salah satu sejoli di hadapannya menatapnya tengil, ia langsung memutar bola matanya malas dan mendengus kasar. "Aku tidak iri sama sekali, dasar sialan! Aku hanya muak."
Mereka berdua tertawa setelah mata mereka kembali bertemu pandang, mengerling pada sosok Yoongi yang kini terlihat marah akan hal yang tidak jelas, menambah rasa geli karena tingkah tanpa dasar yang dilakukan Yoongi.
"Kau harusnya mencari kekasih, Yoongi-ah," Seokjin terkekeh kecil. Ia menghisap lewat sedotannya minuman dingin dalam gelas di hadapannya.
Namjoon tertawa kecil, "kau yakin ada yang berminat mendapat pukulan tiap hari minimal satu? Kita saja sudah angkat tangan kalau sudah soal Yoongi yang kesal. Sialnya, Yoongi selalu kesal pada apapun."
"Hey!" Suara berat Yoongi meninggi, matanya menatap nyalang pada dua orang dihadapannya sambil menunjuk mereka menggunakan sendok dari gelasnya. "Aku tidak suka terikat lagi pula, Aku tidak benar-benar perlu kekasih."
"Geurae," yang berambut coklat kehijauan itu mengangguk menyetujui. "Kalau kau dalam satu ikatan dengan seseorang, bisa-bisa orang itu lolos dari tali dengan penuh lebam dan luka!"
"Bisa tidak sih kalian berdua mengabaikan status single-ku?! Aku ini—"
"Sunbae tidak single," seseorang tiba-tiba duduk di sebelah Yoongi, merangkul lengan kurusnya dengan sangat sopan seolah mereka berteman akrab. Ia tersenyum cerah mengalahkan sinar matahari yang sayangnya hati ini tengah terhalang awan karena mendung, matanya membentuk bulan sabit dengan gigi kelinci menggemaskan pada dua orang di seberang mejanya. "Aku kekasih Yoongi–sunbae."
"Siapa kau?!" Yoongi memekik, mendorong sekuat tenaga lengan yang ternyata kekar dan membuatnya lelah karena tidak berhasil dan justru mendapat rangkulan lebih erat. Itu Jeon Jungkook dengan senyuman kurang ajarnya, mengerling menggoda emosinya untuk meledak begitu saja. "Lepaskan tanganmu dasar bocah sialan!"
Satu kecupan mendarat di ujung hidung Yoongi, nyaris meleset dan menggelincir jatuh pada bibir jika saja Jungkook tidak melakukannya dengan tepat. "Aku ingin sekali mencium bibir manismu agar tidak berbicara macam itu, sunbaenim. Tapi sayangnya aku cukup sadar diri jika bibir dengan luka lebam tidak pantas mendarat di bi—"
"Jugulae?!" Teriakan murka Yoongi dengan mata menatap nyalang penuh emosi pada sosok Jungkook membuat Seokjin dan Namjoon meringis, sementara yang diteriaki justru terkekeh kecil. Tubuhnya bergerak agresif mencoba melepaskan diri, jadi saat tubuhnya sudah bebas ia langsung berdiri dan mendorong keras tubuh Jungkook hingga nyaris jatuh. Napasnya terengah karena emosi, matanya menatap kesal sosok Jungkook yang ekspresinya sekarang justru membuat dirinya terlihat manis; oh, mana yang tidak manis jika wajah putih itu memerah dan mata sipitnya mencoba terbuka selebar mungkin namun gagal?
"Yoongi–sunbae," Jungkook berdiri, lalu langkahnya ia dekatkan hingga tubuhnya kini hanya berjarak beberapa jengkal dengan sosok kakak tingkatnya; yang tubuhnya lebih kecil dan lebih menggemaskan karena ia harus menunduk untuk menatapnya. "Aku harap setelah ini kau bisa lebih tenang karena aku akan terus mengusikmu mau atau tidak mau," senyuman paling menawan ia berikan pada sosok Yoongi. "Karena aku sangat ingin melindungi dirimu dari apapun."
Kalau Yoongi boleh jujur, ia baru saja terkesima penuh rasa kagum untuk beberapa saat pada senyuman Jungkook, hatinya bergetar penuh pujian karena sosok adik kelasnya yang terlihat sangat menawan dengan senyuman dan telaga coklat gelap yang membuatnya ingin tenggelam lama-lama di sana. Tapi ia segera mencubit pahanya sendiri, membawa seluruh kesadarannya kembali berkuasa dan membuat wajahnya yang tadi terlihat terkagum kembali seperti wajah sangarnya. Ia mendecih tipis lalu menatap malas sosok Jungkook, menahan diri untuk tidak mendongak teralu banyak karena sialnya tubuhnya terlalu kecil untuk matanya jika ingin menatap mata yang lebih muda. "Aku tidak bisa tenang jika hidupku ada pengusiknya."
"Tidak jika pengusikmu setampan aku," senyuman sombong terpasang di wajah yang lebih muda. "Kau akan sangat senang mengenalku setelah ini, sunbaenim. Juga merasa sangat beruntung bisa mendapatkanku tanpa perlu kau genggam."
"Hentikan omong kosongmu," gumam Yoongi kesal. Ia lalu segera berbalik dan meninggalkan dua teman baiknya dan Jungkook yang menyebalkan.
.
"Wow, Kookie, itu tindakan paling luar biasa yang pernah aku lihat!" Taehyung berseru heboh, menepuki lengan Jungkook yang tertawa-tawa bodoh seperti orang aneh. Yang berbicara memberi tatapan memuja berlebihan pada yang lebih muda, mengacungi banyak ibu jari karena kagum akan tindakan luar biasa yang tadi ia lihat.
Jimin mengangguk setuju, berpikir bahwa apa yang dikatakan Taehyung memang benar. "Aku tidak menyangka kau akan seberani itu mengecup hidungnya. Astaga, aku yang pernah tidur di kasur yang sama dengannya saja tidak berani memeluknya."
Jungkook mengangguk angkuh, "aku sudah bilang aku tidak akan main-main dalam mendekati orang."
"Kau belum pernah mendekati orang dengan cara seperti itu sebelumnya, Kookie. Dari mana kau belajar macam itu?"
"Aku sudah memikirkan untuk mendekati seseorang dengan cara itu, tapi sekolah menengah tidak sebebas kuliah, hyung."
Jimin mendesis jijik, menatap sangsi pada sosok Jungkook kemudian. "Kau tetap bisa dilaporkan pada polisi dengan alasan pelecehan."
"Aku tidak membuka baju Yoongi–sunbae," Jungkook menjawab santai. "Tapi tidak buruk juga jika aku melakukan hal itu secepatnya."
Taehyung yang awalnya memasang wajah bodoh kini tersedak ludahnya sendiri, matanya terbelalak kaget akan apa yang dikatakan adik tingkatnya. Hidungnya mengembang seperti kesusahan mendapatkan udara karena mendadak otaknya malas bekerja untuk hal lain selain memproses beberapa kalimat yang dia dengar dan ucapan yang ingin ia katakan. "Jeon Jungkook, kau perlu didisiplinkan."
"Aku yang akan mendisiplinkan Yoongi–sunbae."
"Astaga Jeon Jungkook!"
Taehyung dan Jimin nyaris serangan jantung mendengar jawaban tanpa dosa yang diberikan adik tingkatnya. Antara terkesima dan setengah mati menahan emosi karena pernyataannya terdengar tanpa merasa ada hal salah sedikitpun dalam ucapannya sendiri. Taehyung beberapa kali memukul kepala yang lebih muda, sementara Jimin sibuk meneriaki anak itu karena jaraknya yang terhalang meja. Keduanya ribut memaki Jungkook dan justru membuat yang dimaki itu tertawa keras dengan gigi kelinci yang aslinya imut berubah menyebalkan.
"Aku sudah dua puluh tahun kalau kalian lupa," senyuman lebar Jungkook menghiasi kalimatnya. "Aku sudah sepenuhnya legal dengan apa yang aku katakan dan bukan masalah jika aku melakukannya."
"Tapi coba lihat lawanmu," Jimin mendesis tipis. "Pertama, Yoongi–sunbae adalah hyung tersayangku dan aku tidak mau kau sekedar bermain dengannya. Kedua, Yoongi–sunbae bukan orang mudah dan kau tidak pantas memikirkan hal kotor tentangnya semudah itu. Ketiga, Yoongi–sunbae tidak akan sesedarhana yang kau pikirkan. Jangan main-main ya!"
"Kau ini," Taehyung menatap kagum Jimin. "Kau bersikap seperti kau adalah ibu Yoongi–sunbae."
"Dia hyung tersayangku sejak pindah ke apartemen, dia juga alasanku masuk Konkuk."
Jungkook mengangguk paham, "aku tidak akan main-main kali ini. Kau bisa bunuh aku kalau Yoongi–sunbae sakit karenaku."
"Aku pegang ucapanmu."
.
.
.
"Aku baru tahu kau menjalin hubungan dengan—"
"Aku tidak!" Yoongi berteriak keras, menatap Hoseok yang kini duduk di hadapannya dengan wajah khas penggosip menyebalkan.
"Wow, tenang, memang kau tahu apa yang akan aku katakan?"
"Intinya itu berhubungan dengan Jeon Jungkook, apa aku salah?"
"Kau benar," Hoseok terkekeh kecil, mengangguk mengiyakan kalimat si ketua senat yang wajahnya kusut seperti kain yang baru saja dilipat asal dan disumpalkan ke dalam tas. "Jadi kalian tidak?"
"Astaga Jung Hoseok, apa kau tidak bisa melihat bagaimana si Jeon gila itu terlihat seperti seseorang yang terobsesi padaku? Aku saja merinding!"
"Dia tidak terlihat terobsesi padamu," Hoseok mengacungkan ponselnya yang tengah membuka sebuah gambar. Itu gambar Yoongi yang hidungnya dikecup dengan tidak sopan oleh Jungkook! "Lihat, dia terlihat penuh perasaan mendaratkan—"
"Berhenti bicara," mata Yoongi menatap nyalang Hoseok. "Itu hanya tingkahnya dengan segala hormonnya yang berlebih. Jelas tidak ada alasan perasaan atau bla–bla–bla dalam sana."
"Menurutku tidak," kekehan kecil Hoseok membuat wajah Yoongi jadi makin kusut. "Yang jelas, Yoongi, foto ini sudah beredar. Kau mungkin harus lebih sabar mulai sekarang atau kau terlihat seperti bottom menggemaskan karena menolak takdirnya."
"Aku tahu, Namjoon sudah memberitahuku bahwa aku jadi topik hangat di kampus. Beruntung aku langsung kabur ke sini setelah menyelesaikan kelasku."
"Jungkook terkenal juga. Dia tampan sih, tidak heran banyak yang meliriknya."
Mata Yoongi melirik tajam sosok Hoseok, memberi tatapan berbahaya yang mengancam dan membuat yang ditatap meringis kecil. "Kalau menurutmu begitu, kenapa tidak kau saja yang menyerahkan diri untuk dia ganggu? Aku tidak tertarik lagi pula."
Hoseok menepuk bahu sahabatnya, tertawa kecil setelah itu. "Jalani saja, dia tetap tahu batasan kok, tidak sekurang ajar itu."
Yoongi sendiri tidak tahu kenapa Hoseok mengatakan bahwa si adik tingkatnya tidak sekurang ajar itu mengingat kelakuannya yang sungguhan tidak beradat, nyaris membuat emosinya kembali berbuih dan meledak-ledak kecil seperti air yang didihkan. Tidak ada yang baik dari kelakuan seorang Jeon Jungkook. Iya, kelakuan. Jika soal dirinya, harus Yoongi akui, wajahnya tampan dan ia memiliki aura luar biasa menarik sejak awal ia mengetahui sosok itu meski diawali dengan tidak tahu namanya.
Hoseok sendiri masih menunggu yang di hadapannya berbicara, menanti kalimat makian yang mungkin akan ia lontarkan. Tapi nyatanya tidak ada satu pun kalimat kasar, justru wajahnya kini berubah seperti seseorang yang berpikir dan jadi sangat menggemaskan; ya walaupun yang sebenarnya Yoongi memang selalu menggemaskan meski dalam keadaan marah.
"Menurutku kalian berdua cocok," Hoseok bersuara, memecah keheningan sesaat diantara mereka. "Dia terlihat begitu berani dan kau terlihat begitu menantang, aku pikir kalian akan sangat—"
"Tidak ada kata cocok dalam kata kalian jika itu soal aku dan Jungkook, dia akan selamanya menjadi adik kelas kurang adat yang ingin aku bunuh."
"Tentu, kau memang selalu ingin membunuh orang. Itu caramu menyayangi mereka."
"Berisik kau, Hosiki sialan."
Namjoon datang di tengah keributan, membawa Seokjin dengan tangan dalam genggamannya. Terlihat seperti sepasang kekasih yang lucu karena wajah Namjoon yang penuh senyuman sedangkan wajah Seokjin terlihat tidak senang. Ya, Seokjin memang tidak pernah senang di bawa ke tempat Namjoon biasa rapping meski ada dua sahabatnya yang lain, mengatakan dirinya merasa begitu payah atau mungkin terabaikan karena tidak bisa dan tidak pernah paham akan dunia rap yang cepat.
"Aku melewatkan sesuatu?" Namjoon bertanya masih dengan senyumnya, menatap kedua sahabatnya setelah mendapat bangku dan posisi nyaman sambil merangkul bahu lebar Seokjin.
"Tidak ada," Hoseok menggeleng, ia tertawa kecil sambil melirik Yoongi setelah itu. "Hanya sedang sangat senang menggoda si snow white Min satu ini dengan seorang Jeon yang baginya sangat menyebalkan."
Seokjin yang tadi terlihat merengut itu memberi ekspresi tertarik, menatap Yoongi yang kini sibuk mencibir sambil menggerutu kecil mendengar kalimat yang diucapkan Hoseok. Ia terkekeh karena cara si ketua senat memasang ekspresi tidak suka dan setelah itu memukul pelan kepala besurai hijau muda—mint. "Bibirmu bisa jatuh kalau kau terus begitu. Lagi pula Jeon Jungkook tidak buruk juga kalian terlihat—"
"Berhenti membicarakan sesuatu tentang terlihat," Yoongi melirik dengan tatapan tajam. "Jika itu hanya karena terlihat, coba cari hal lain semacam terdengar atau tercium atau yang lainnya karena indra kita ada lima, tidak hanya penglihatan."
Semua tertawa melihat ekspresi Yoongi yang ditekuk tidak suka, bibirnya menggerutu seperti seorang kakek tua yang kehilangan cerutu setelah digunakan bermain cucunya yang nakal; beruntung wajahnya terlihat sangat menggemaskan saat bibirnya bergerak ribut menyerukan makian tertahan dalam bibir. Ia memang selalu menjadi seseorang yang sangat–amat–menggemaskan ketika sedang kesal.
"Aku mau tampil saja," Yoongi mendengus kecil, meraih flashdisk-nya dan membawanya ke stage setelah melihat seseorang turun dari sana. Semua yang menertawakan sosok itu lalu beralih untuk memperhatikan langkah Yoongi yang sesekali dihentakkan, salah satu cara menunjukkan kekesalan yang sialnya terlihat begitu menggemaskan.
Yoongi berdiri angkuh di tengah stage, matanya sibuk mengedar dan sesekali meninggalkan tatapan tajam pada tempat tiga temannya berada untuk sekedar menunjukkan betapa kesalnya ia. Saat musik intro berakhir, ia pun membuka suara dan mulai melakukan rap dengan lirik buatannya yang baru saja selesai kemarin.
Ia adalah salah satu rapper dengan nama yang sudah cukup dikenal karena kemampuannya dalam rapping sungguhan mengagumkan, lirik buatannya juga bisa dibilang cerdas dan menyatu bersama musik pengiringnya. Semua mengagumi kemampuannya dalam bernyanyi yang tidak bisa diragukan lagi. Bahkan beberapa agency yang mencari rapper pernah menawari Yoongi untuk bergabung, tapi para rapper underground memang tidak tercipta untuk menjadi idola dan Yoongi tidak pernah berpikir pantas menjadi seorang tokoh tiruan masyarakat.
Namjoon, Seokjin, dan Hoseok mendengarkan baik-baik. Lirik yang Yoongi buat tidak seperti dugaan mereka yang mengira akan penuh makian karena emosi yang meledak-ledak, justru liriknya berisi tentang susahnya mendapatkan seorang gadis. Mereka sesekali tertawa dengan kiasan yang Yoongi buat, dia memang cukup hebat dalam hal membuat kalimat lucu lewat sarkasme.
.
.
.
Yoongi pulang ke apartemennya pukul sembilan malam dan menemukan sosok Jungkook berdiri di depan pintu apartemen sebelah pintu apartemennya —yang berarti apartemen milik si adik tingkatnya itu— dengan wajah yang sungguh menyebalkan. Terlihat menilai atau mungkin mengomentari perbuatannya. Apa anak itu sekarang sedang memandang dirinya sebagai contoh yang tidak baik?
"Baru pulang, sunbae?" Jungkook menyapa sosok itu dengan pertanyaan, memberi tatapan bertanya lewat matanya.
"Bukan urusanmu," jawaban ketus dilontarkan Yoongi.
"Apa kau marah?"
Kening Yoongi mengerut, tidak mengerti pada pertanyaan adik tingkatnya; sebelum akhirnya paham apa maksud pertanyaan itu. "Kenapa kau begitu peduli?" Tangannya bergerak menekan kata sandi kamarnya untuk segera bertemu kasur.
"satu–dua–satu–tiga, password-mu, sunbae?" Suara Jungkook terdengar begitu tenang, matanya menatapi kakak tingkatnya yang terlihat lucu karena kini memasang ekspresi tidak suka dan mata melirik tajam.
"Kau tahu yang dinamakan privasi, 'kan? Jadi tolong jangan usik privasiku," ujarnya tenang, mencoba menahan diri agar tidak berteriak di malam hari.
"Sunbae," Jungkook melangkah mendekat, mendekatkan wajahnya pada wajah kakak tingkatnya tanpa takut mendapat pukulan; yang beruntungnya tidak ia dapatkan sekarang. "Sudah kukatakan untuk jangan mendorongku menjauh, 'kan sunbae? Aku jadi makin tertarik kalau kau terus menolakku," ujarnya sambil tertawa kecil. Tangannya terangkat untuk mengelus surai yang terlihat lembut seperti permen kapas.
"Menjauhlah," suara Yoongi tertahan. Entah kenapa aura Jungkook jadi benar-benar berbeda jika sudah ada di lingkunan rumah. Mau bagaimana lagi, ia mengenal tetangganya sebagai sosok tampan yang menarik hati sejak lama, bahkan ia secara diam-diam spazzing ria jika melihat sosok itu di balkon apartemennya. Terlewat dari sikap kurang adatnya di kampus karena ia seorang adik tingkat, maka jika sudah di lingkungan rumah, seorang tetangga Yoongi bernama Jeon Jungkook pasti akan menjadi laki-laki sungguhan.
Jungkook menarik sudut bibirnya, badannya makin condong ke depan untuk mengikis jarak diantara mereka tanpa berniat menjauh seperti perintah yang diberikan kakak tingkatnya di kampus. "Yoongi–Sunbae, Yoongi–hyung, bukankah kata hyung terdengar lebih manis untukmu? Aku akan memanggilmu hyung dan menambahkan kata ie dibelakangnya agar lebih manis tanpa menyebut namamu. Jadi, hyungie, kenapa kau memintaku menjauh?"
Bisa dirasakan hembusan napas Jungkook menyapu wajah Yoongi, memberi sapaan panas dengan aroma harum khas orang dewasa yang rasanya sangat pantas dengan wajah tampannya. Yoongi menahan napas, mencoba mengatakan kalimat yang ingin ia katakan, tapi sialnya Jungkook justru sekarang tertawa kecil sambil menahan wajahnya tetap dalam posisi sangat dekat. "Aku tidak suka posisi seperti ini," akhirnya kalimatnya keluar juga, tangannya mendorong tubuh Jungkook menjauh namun tidak menghasilkan apapun yang berarti.
"Kau tidak suka? Oh, Baiklah, kita bisa mengubahnya dengan gaya menungging di kasur atau berpegangan pada sisi meja, hyung. Mau Menco—akh!" Satu pukulan mendarat pada perut Jungkook.
Yoongi mendengus kasar, matanya menatap kesal sosok yang masih kesakitan sambil memegangi perutnya. "Rasakan itu, dasar bocah mesum!" Ia memekik kesal dengan tangan menunjuk wajah Jungkook. "Kau memang seharusnya mendapat pelajaran berarti seperti itu atau otakmu akan terus kotor dan menyebalkan." Setelah mengatakan kalimat itu, Yoongi langsung masuk ke dalam apartemennya untuk segera bertemu dengan kasur. Meninggalkan Jungkook yang meringis memegangi perut.
Oh, tidak, ternyata sesuatu menahan pintunya dan membuat ia tidak bisa membuat pertahanan apartemennya dalam posisi bertahan. Itu kaki Jungkook, dengan sepatu yang cukup tebal dan pasti tidak akan berarti apa-apa jika pintu di dorong kuat. Bisa dilihat senyuman tengil Jungkook dengan wajah yang terlihat begitu (sok) polos. "Aku kedinginan, hyungie, biarkan aku masuk dan memelukmu."
"Peluk saja gulingmu!"
Jungkook terkekeh, ia menggeleng setelah itu. "Tidak mau," jawabnya dengan nada manja, memberi tatapan memohon yang kata orang adalah aegyo. "Biar aku memelukmu, hyungie."
"Mana sudi! Sana menjauh," Yoongi nyaris meloloskan makian jika tidak ingat Jungkook adalah adik tingkatnya di kampus.
"Oh, astaga Jungkook!" karena kekuatan Jungkook yang luar biasa, Yoongi terdorong ke sisi dinding dekat pintunya dengan pintu yang nyaris menabrak wajahnya jika Jungkook tidak menahan benda itu; menahan dan membantingnya hingga tertutup.
Pintu itu tertutup, meninggalkan suara debam lirih sebelum akhirnya kunci otomatis bersuara memberi tahu bahwa pintu sudah dalam kondisi aman. Jungkook berada di dalam dengan senyuman menang meledek Yoongi, kakinya pun melangkah mendekati Yoongi lalu saat sudah dekat ia menjadikan tangannya kungkungan bagi tubuh yang lebih mungil. Yoongi tenggelam, terkunci seperti terpenjada di antara lengan kekar Jungkook yang lekuknya mengintip dari balik lengan kaosnya.
"Hyungie, aku kedinginan."
"Kemari, biar aku peluk," ia mencoba mengalah kali ini. "Tapi setelah itu segera pulang karena aku ingin tidur, ya?" Terlalu lelah untuk berdebat dan berurusn terlalu banyak dengan si adik tingkat kurang adat.
"Tidak mau," ujarnya sambil tertawa dan menggeleng lucu. Ia lalu mendaratkan satu kecupan pada masing-masing pipi Yoongi. "Nah, sekarang sudah hangat."
"O–oh," Yoongi tekejut, tangannya seketika tidak bisa bergerak karena tidak menyangka akan mendapat kecupan meski posisi mereka yang sangat intim. "Apa-apaan tadi?"
"Mencuri hangat tubuhmu tentu saja," ia terkekeh melihat wajah blank sunbae-nya.
"Kau sungguh keterlaluan," desisan tipis lolos dari bibir Yoongi. Matanya menatap tidak suka Jungkook. "Astaga—aku sungguhan muak denganmu, sana menjauh!" Tangan Yoongi yang kini sudah sadar pun bekerja mendorong Jungkook hingga mundur beberapa langkah.
Tidak menyia-siakan kesempatan, ia langsung menyerat tubuh itu dan membuka pintu apartemennya dalam waktu bersamaan. Lalu ia mendorong tubuh yang lebih tinggi dan lebih berat darinya itu ke luar dari apartemen.
Jungkook sempat memekik protes, tapi wajah Yoongi yang tersenyum puas justru membuat Jungkook tertawa melihatnya.
"Selamat tinggal bocah menyebalkan!" Begitu kalimat terakhir Yoongi sebelum akhirnya menutup pintu dan meyakinkan pintunya sudah terkunci.
TBC.
Aku mencoba yang terbaik buat fast update, maaf kalau masih lama karena—yeah, ini kemampuanku. Apalagi laptop lagi sedikit error dan aku mau nunda perbaikannya sampai study tour nanti. Jadi engga jamin bakal fast update. Lihat aja deh, intinya aku bakal usahain dan nanti post secepat yang aku bisa.
Chapter 02; done!
Review please?
