copyright © crownacre, 2016

CHIVALRY IS DEAD

Just cause I'm a gentleman,
don't mean I ain't taking you to bed


[[ WARNING ]]

Mengandung ucapan kasar, tindakan yang tidak pantas ditiru, dirty talk, dan mungkin hal berbahaya untuk dibaca. Jangan dibaca kalau tidak sanggup atau tidak suka, segera tinggalkan page tanpa tinggalkan komentar tidak menyenangkan setelah membacanya jika Anda tidak suka dengan alur yang saya angkat atau apapun yang saya pilih untuk cerita ini.
You've been warned!


Happy Reading!

Chapter 03

Jungkook terusir, namun bibirnya tetap memasang senyuman cerah hingga pintu itu benar-benar tertutup. Masih teringat bagaimana wajah kesal sunbae-nya itu, memberi tatapan tajam, tapi akhirnya menghela napas dan menyerahkan diri untuk memberi pelukan. Manis sekali. Pengusiran sopan sebelum akhirnya tetap saja menjadi dorongan paksa hingga harus tersandung kakinya sendiri dan nyaris jatuh.

"Aku akan mendapatkanmu Yoongi–sunbae," ujarnya dengan penuh percaya diri dan senyuman lebar.

.

"Aku bisa gila!" Yoongi mengacak rambutnya, menggerutu dengan wajah tenggelap dalam bantal agar semua makiannya tidak terdengar ribut. "Aku harus apa kalau begini?" Ia bertanya pada dirinya sendiri, menatap buku-buku yang tertata di rak sebelah kasurnya seolah berbicara pada buku kesayangannya di sana.

Yoongi berguling ke sana–ke sini hingga kepalanya setengah pusing, ia berhenti beberapa saat untuk menatapi langit-langit atapnya kemudian kembali berteriak; kali ini sedikit ditahan karena tidak ada yang akan menyerap gelombang suara yang keras darinya

"Kalau begini terus bisa-bisa aku diledeki dua Kim sialan itu!" Ujarnya setengah gusar setelah mengingat dua wajah sahabatnya yang menjadi sepasang kekasih dengan marga sama.

"Sudahlah," ia tidak juga selesai dengan monolognya, berbicara seolah ada lawan bicara padahal jelas hatinya yang menjawab. "Aku harus tidur dan menyegarkan pikiran dari si Jeon sialan itu. Tetangga paling menyebalkan yang pernah kumiliki!"

.

.

.

Pagi-pagi Yoongi terbangun, menemukan matahari sudah menelusup masuk lewat cela gorden yang terbuka sedikit. Matanya mengerjap untuk menyesuaikan cahaya dan lalu mengedar untuk melihat pukul berapa sekarang.

"Setengah delapan?" Ia bertanya pada dirinya sendiri, mengerutkan kening setelah menyadari ia bangun sedikit lebih pagi dari yang biasa ia bisa lakukan. Ia menguap sambil meregangkan otot sebelum melangkah keluar ke balkon dengan wajah setengah mengantuk, sekedar mencari udara segar sebelum mandi dan menata diri untuk berangkat.

"Oh," suara dari seberang membuat Yoongi yang sibuk menguap sambil merentangkan tangan lebar-lebar untuk melegakan ototnya itu menoleh. Menemukan sosok Jungkook yang tersenyum lebar dengan gigi kelinci terpasang apik di rahang atas, matanya berbinar begitu menyegarkan seolah melihat laguna di pantai pasir putih yang diterpa pantulan sinar matahari. "Selamat pagi, hyungie!" Suaranya tenang dan menyegarkan, seperti penyejuk telinga jika saja Yoongi tidak ingat ia perlu membenci sosok manis itu. "Hari ini berangkat denganku, ya? Aku memaksa!"

Yoongi nyaris berteriak jika saja tidak dengan tiba-tiba menemukan pintu kamar Jungkook sudah tertutup. Ia mendengus kasar, "mana sudi!" Ujarnya penuh penekanan sebelum akhirnya kehilangan mood untuk mencari udara segar dan memilih langsung mandi saja.

Setelah mandi bersih, ia memilih pakaian yang akan ia kenakan. Mengambil dan memakainya setelah tubuhnya sudah kering dari air bekasnya mandi tadi. Ia bercermin dan menemukan dirinya dengan pakaian lebih sederhana dari beberapa hari lalu, celana jin biru gelap yang pas di kakinya, kaos putih berlengan hitam juga tiga kancing di bagian tengah. Sempurna, ia tidak pernah merasa senyaman ini sebelumnya untuk berangkat ke kampus sejak awal bulan ini.

Ia melangkah ke rak sepatu setelah menggendong tasnya dan setelah itu memilih satu sneakers kesayangannya untuk dikenakan, membuat simpul rapi dengan talinya dan tersenyum puas melihat hasilnya. Setelah merasa penampilannya sudah sangat baik, ia pun melangkah ke luar.

"Yoongi–hyung!" Dan mendapat sambutan senyuman terlampau riang dari Jeon Jungkook yang menyebalkan. Matanya berbinar jenaka nyaris menarik emosi Yoongi untuk mengeluarkan pulpen dari dalam tasnya lalu menancapkan benda itu pada mata bulat si adik tingkatnya.

"Apa sih?!" Yoongi bertanya kasar, mendadak mood yang sudah ia bangun susah-susah tadi langsung remuk begitu saja; terhancurkan gelombang menyebalkan sekaligus membahayakan dari Jeon Jungkook. "Aku tidak mau ribut pagi-pagi begini, lebih baik kau berangkat sana!"

Jungkook mengangguk dan tersenyum, "aku ada jadwal pagi ini dan aku memang berniat berangkat. Tapi itu denganmu, aku tidak mau naik motor sendiri."

"Kau bisa meminta Jimin."

"Jimin–hyung tidak ada mata kuliah pagi, ia akan mengambil yang siang. Ayolah hyungie, aku memaksa!" Ia memasang wajah memohon sekaligus tatapan penuh permohonan.

Yoongi hampir tersedak ludahnya sendiri melihat sosok super brengsek di hadapannya bisa memasang wajah macam itu, juga terbatuk hingga mengeluarkan apa yang sedang perutnya proses. Beruntung ia hanya mengangkat tangan dan melayangkannya pada kepala si yang lebih muda. "Berpikir lurus lah, aku tidak akan mau berangkat denganmu!"

"Itu sebabnya aku memaksamu, hyungie."

"Astaga!" Yoongi hampir saja berteriak jika ia tidak ingat dirinya harus tetap menjaga ketenangan lingkungan apartemen demi kenyamanan. "Aku mau naik bus hari ini."

"Aku temani deh, bagaimana?" Senyuman lebar terpasang kembali di wajahnya.

"Kau ada motor."

"Tidak masalah," Jungkook menjawab santai sambil memasukkan kunci motornya ke dalam saku. "Aku bisa naik bus umum asal itu denganmu, hyungie."

.

Sekalipun Yoongi menolak habis-habisan, bahkan berlari secepat yang ia bisa menuju halte, tetap saja Jeon Jungkook yang menyebalkan itu berakhir duduk di sebelahnya. Ia heran setengah mati kenapa pagi ini bangku hanya ada dua yang tersisa, semacam menyisakan tempat khusus untuk penderitaannya dengan dua puluh menit di samping Jeon Jungkook.

Jungkook sibuk berceloteh, mengajaknya mengobrol tentang ini–itu hingga Yoongi tidak sanggup memasang headphone-nya dengan volume lebih tinggi lagi. Yoongi memutuskan melepas apa yang menyumpal telinganya, menahan diri untuk tidak berteriak di kendaraan umum karena Jeon Jungkook yang makin ribut saja.

"Hentikan," desisan tajam keluar juga pada akhirnya, meloloskan emosinya yang meledak-ledak setelah sepuluh menit harus dijalani dengan Jungkook yang cerewet.

Jungkook tertawa, ia lalu diam untuk beberapa saat sebelum kembali menarik napasnya. "Kau tahu hyung, aku sebelumnya tidak pernah berpikir perlu berbicara banyak dengan orang, tapi rasanya berbeda jika itu tentangmu."

"Hoek," Yoongi membuat gestur seolah dirinya tengah memuntahkan isi perutnya ke lantai. "Kau menjijikkan, katakan itu pada orang lain kalau kau mengharapkan tanggapan dengan rona merah."

"Muntah adalah tanggapan yang aku inginkan," tidak habis juga senyuman di wajah Jungkook. Justru tumbuh lebih subur dan makin mekar lebar.

Beruntungnya emosi Yoongi terselamatkan dengan bus yang berhenti pada halte, membuat Yoongi langsung melompat turun sambil menyerukan kata hore lirih agar tidak banyak yang mendengarnya. Ia langsung pergi menuju kampus, meninggalkan Jungkook yang tertawa melihat kelakuan konyolnya.

"Yoongi–hyung menggemaskan sekali," komentar Jungkook sambil mengikuti langkah Yoongi.

.

.

.

"Oh astaga!" Yoongi menjatuhkan tubuhnya pada bangku, menelusupkan wajahnya pada lipatan tangan di meja kantin. Ia menemukan sosok Namjoon dan juga Seokjin yang memang selalu menjadi temannya menunggu jam masuk mata kuliah; mereka berdua memang selalu datang pagi seperti satpam penjaga pintu masuk kendaraan di gerbang utama kampus. "Aku pikir aku perlu pindah apartemen."

"Wae, Yoongie?" Seokjin bertanya penasaran, matanya menatap Yoongi dengan surai yang menyembunyikan bagian kepalanya. "Apartemenku kemalingan?"

"Bukan itu!" Ia menjerit setengah frustasi sambil mengangkat kepalanya untuk mendongak pada Seokjin sebentar dan kembali menyembunyikan wajah. "Jeon Jungkook membuatku gila!"

"Kenapa jadi Jeon Jungkook?" Kali ini Namjoon terdengar penasaran.

Yang ditanya mendengus keras sambil menggeleng. "Dia hanya tetangga menyebalkan dengan senyuman menjengkelkan."

"Tapi dia tampan," Seokjin menanggapi. "Juga terlihat sangat manly!"

"Hey," kali ini suara Namjoon dengan nada yang terdengar tidak suka. "Bisa kau jelaskan apa maksud kalimatmu tadi, Jin-ie?"

Seokjin tertawa dengan suara malu-malu yang menggelikan. "Aku hanya mencoba jujur, dia memang terlihat seperti itu."

"Tapi tidak dengan mata berbinar!"

"Diam!" Yoongi memukul meja sedikit bertenaga, menatap kesal dua teman baiknya yang jika tidak bercumbu berlebihan maka akan berdebat menyebalkan. "Aku pusing nih, bantu sedikit tidak bisa apa?"

"Yoongie, semua masalah itu hanya kau yang bisa menyelesaikan. Maksudku, hey, lagipula Jeon Jungkook itu tidak terlihat buruk. Caranya mendekatimu mungkin berlebihan, tapi ia melakukannya dengan sopan. Dia tetap anak baik dalam banyak aspek, 'kan?"

Yoongi terlihat menimang perkataan Seokjin, kemudian ia mengangguk kecil. "Mungkin. Tapi aku tetap kesal dengan anak itu."

"Memang apa hal yang tidak membuatmu kesal?" Namjoon menyela dengan tatapan menilai. "Aku tidak tahu ada hal yang tidak mengesalkan untukmu."

"Hey!" Satu pukulan mendarat di kepala Namjoon. "Kau itu, bisa tidak sih jadi lebih menyenangkan sedikit padaku? Menyebalkan."

"Kalau aku menyenangkan nanti kau jatuh cinta padaku."

"Enak saja!" Sekali lagi, tangan Yoongi melayang bebas untuk memukul ubun-ubun si Namjoon yang menjengkelkan. "Lebih baik aku jatuh cinta pada Jung—OH!" Ia reflek menutup mulutnya. "Aku pergi dulu!" Kemudian berlalu sebelum mendapat pertanyaan lebih jauh karena mata Seokjin jelas berkilat lapar seperti pemburu yang haus akan makanan dari jawabannya nanti.

.

"'Lebih baik aku jatuh cinta pada Jung—Oh!'," suara seseorang dengan nada mengejek dari pintu masuk toilet membuat Yoongi yang sedang bercermin menoleh. "Hai hyungie!" Itu Jungkook dengan senyuman jenaka yang tidak pernah absen dari wajahnya. "Jung siapa maksudmu, hyung? Aku penasaran."

Yoongi mendengus, "apa pedulimu?"

"Aku penasaran. Apa maksud kalimatmu itu Jungkook? Atau Jung Hoseok? Atau Jung yang lain, hyung? Beri tahu aku!"

Mata Yoongi berputar kesal, ia melirik tajam sosok Jungkook. "Bukan urusanmu!"

Jungkook menyeringai, kemudian melangkah penuh senyuman mengerikan dengan tatapan yang entah kenapa tiba-tiba berubah seksi di mata Yoongi. "Hyung," ia memanggil pelan saat tubuhnya sudah ada di dekat Yoongi, tangannya bergerak untuk membalik tubuh Yoongi agar menghadap padanya. Yang diputar tubuhnya pun hanya memekik seperti tikus terjepit dengan cara menggemaskan, tubuhnya condong ke belakang untuk menjauhi Jungkook. "Hyung, jangan buat aku cemburu. Katakan Jung yang kau maksud adalah Jungkook."

Mata sipit itu mengerjap, menatap bingung bagaimana wajah yang tadi terlihat sangat seksi dan berbahaya berubah menjadi penuh emosi antara sedih dan kesal. Apa-apaan itu? Yoongi membatin dengan bingung. "Itu rahasiaku," suaranya terasa bergetar dan membuat ia setengah mati mengutuk pita suaranya karena sudah mengeluarkan suara lemah semacam itu.

"Tidak boleh ada rahasia di antara kita," satu oktaf lebih rendah hingga yang terhimpit menegang dan meremang mendengar suara yang terdengar lebih menggoda. "Hyung, kau itu milikku."

"Kita tidak ada perjanjian untuk itu," jawaban lugas itu membuat Jungkook sedikit mengeraskan rahang. "Kenapa kau begitu terobsesi pad—umph!"

Satu ciuman dengan gerakan pintar dan beberapa lumatan ringan mendarat di bibir tipis Yoongi hingga yang diberi ciuman itu terbelalak kaget dan tangan meremas lengan sosok yang menciumnya. Ia mengerang tertahan saat merasakan satu gigitan hingga membuat luka kecil pada bibirnya dan kemudian merasakan sedikit rasa anyir dari sisi itu.

Jungkook melakukannya dengan cepat, mengejutkan dan membahayakan. Tubuhnya seketika lemas dengan bibir bergetar karena terlalu terkejut. Tatapan tajamnya meredup, berubah menjadi blank dengan cara menggemaskan di mata Jungkook.

"Kau milikku," komentar Jungkook melihat bibir Yoongi yang sudah tertandai gigitannya. Ia menyeringai puas, "bersiaplah, hyung, setelah ini aku akan lebih berbahaya."

Setelah mengatakan itu, ia berlalu, meninggalkan sosok Yoongi masih dengan keadaan blank dan tangan mulai terangkat untuk menyentuh bekas gigitan hingga luka pada bibirnya. Nyata. Itu terasa nyata dan memang nyata. Masih tersisa sedikit rasa darah yang menganggu pada mulutnya yang berarti memang gigitan itu bukan main-main. Itu sungguhan, dan kenapa ia hanya diam tanpa melayangkan pukulan?

Astaga, apa yang salah pada tubuhku, batin Yoongi.

.

.

.

"Kau—apa?!" Taehyung memekik tidak percaya, matanya terbelalak berlebihan dengan mulut menganga.

"Aku yang membuat luka di bibirnya dengan gigiku," Jungkook mengulang kalimatnya yang membuat sosok Taehyung jadi makin berlebihan.

Jimin yang berada di sebelah Taehyung mengerut tidak suka, matanya menatap sosok Jungkook dengan ia picingkan kesal. "Kau terlalu jauh, Jeon Jungkook," ia berkomentar.

Taehyung menggeleng sambil bertepuk tangan. "Itu keren!" Ujarnya antusias. "Lihat, dia tidak mendapat lebam! Itu berarti Yoongi–sunbae menikmati ciumannya!"

"Mana bisa memberi bogem mentah kalau tangannya ditahan, eh?"

"Aku tidak menahan tangannya," Jungkook tersenyum simpul. "Tangannya sibuk meremas lenganku, aku tidak menahannya sama sekali."

"H–hah?" Jimin memasang ekspresi blank yang jauh lebih konyol daripada Taehyung tadi. "Se–serius?" Matanya mengerjap tidak percaya seperti orang bodoh.

Jungkook mengangguk penuh percaya diri. "Aku mendaratkan bibirku dan berpikir tidak masalah mendapat pukulan keras, tapi ia tidak juga memberiku itu. Aku tidak salah, 'kan?"

"Tentu saja tidak salah!" Suara serak Taehyung terdengar begitu bersemangat. "Itu sangat–sangat–sangat keren! Woah, aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal itu."

Jimin menghela napas, ia kemudian memasang senyum sederhana. "Yoongi–hyung sepertinya juga menyukaimu, Jungkook-ah."

"Ada apa denganmu, Jimin-ah? Kau jadi seperti orang patah hati."

Jimin tertawa kecil. "Tidak, aku tidak patah hati," ia tersenyum sekali lagi. "Hanya saja rasanya hebat sekali sampai Yoongi–hyung menyukai seseorang. Tiap ada yang mendekatinya aku selalu menjaganya, aku tidak mau Yoongi–hyung kenapa–kenapa."

"Aw—Jimin-ie sangat manis!" Goda Taehyung sambil merangkul leher Jimin. "Biar Jungkook yang menjaga Yoongi–sunbae mulai sekarang. Kau bisa istirahat dan mulai fokus mencari pasangan untukmu. Iya 'kan, Jungkook-ie?"

"Aku akan menjaga Yoongi–hyung dengan baik, tapi tidak berjanji soal sikap."

"Hey!" Jimin menatap tajam Jungkook. "Jangan macam-macam, Jeon! Mau aku penggal ya?!"

Jungkook tertawa keras. "Aku bercanda. Tentu saja aku akan menjaga dengan baik Yoongi–hyung. Mana mungkin aku menyakiti orang semanis madu sepertinya? Yang ada nanti aku disengat lebah!"

"Maksudmu aku ini lebah?!"

"Aku tidak mengatakan itu loh!"

.

"Bibirmu kenapa?" Seokjin menunjuk luka di bibir Yoongi yang terlihat baru.

"Aku tersandung dan membuat bibirku mencium tanah."

"Bukan mencium Jeon Jungkook?"

Mata Yoongi mengerling tajam seperti laser pada Namjoon. "Apa maksudmu, hah?"

Namjoon mengangkat bahunya cuek. "Aku hanya bertanya, salah?"

"Seokjin-ah, tolong pukulkan kekasihmu untukku."

Seokjin tertawa sambil menggeleng, "tidak tega."

Ah, ya, Yoongi lupa sejoli menyebalkan di hadapannya memang senang bekerja sama. Mereka sekongkol meski tidak merencanakan apapun, otak mereka berjalan dengan baik dan teratur seolah memiliki telepati kuat antasa satu sama lain hingga jalan pikir mereka selalu nyaris sama. Ia mendengus kemudian, menatap kesal duo kim yang begitu menjengkelkan.

"Aku bersumpah kalian akan segera putus."

Seokjin dan Namjoon tertawa bersamaan. "Terima kasih," Namjoon menjawab. "Aku juga akan bersumpah kau segera jadian dengan Jeon Jungkook."

"Hey!"

"Aamiin."

"Kalian berdua memang sahabatku yang paling brengsek."

TBC.


wi–fi adalah alasan utama kenapa aku ngebut selesaiin ini dan maksa post walaupun cuma dapet 2K. iya, 2K. terlalu sedikit, ya? tapi gimana lagi huwee aku beneran stuck, tapi enggak akan bisa post tanpa wifi. Jadi, yeah, aku post ini.

Maaf untuk update yang mungkin lama. Aku bakal coba segera ketik chap ini dan buat sepanjang 3.5K lebih. Aku bakal berusaha. Doakan aja bisa selesai cepat dan nanti minggu aku post (karena aku cuma bisa konek wifi lagi di hari minggu waktu aku pulang; kecuali temen kostku berbaik hati pinjemin laptopnya buat aku bawa, jadi aku bisa post kapan aja).

Oh iya, maafkan untuk beberapa typo karena mata ini beneran males baca ulang.

Chapter 03; done!

Review please?