copyright © crownacre, 2016
CHIVALRY IS DEAD
Just cause I'm a gentleman,
don't mean I ain't taking you to bed
[[ WARNING ]]
Mengandung ucapan kasar, tindakan yang tidak pantas ditiru, dirty talk, dan mungkin hal berbahaya untuk dibaca. Jangan dibaca kalau tidak sanggup atau tidak suka, segera tinggalkan page tanpa tinggalkan komentar tidak menyenangkan setelah membacanya jika Anda tidak suka dengan alur yang saya angkat atau apapun yang saya pilih untuk cerita ini.
You've been warned!
Happy Reading!
Chapter 04
Yoongi pulang dengan langkah gontai; malas-malasan berjalan menuju apartemennya yang sudah beberapa langkah lagi dapat ia gapai. Rasanya lemas, kesal, malas, dan semuanya menjadi satu seperti adonan yang diaduk rata oleh koki handal di dalam hatinya.
Entah kenapa kejadian kurang ajar yang dilakukan Jungkook membuatnya terus memikirkan hal itu. Berperang batin dengan hatinya yang berteriak senang saat bibir Jungkook mendarat di bibirnya karena rasanya yang sangat pas bertautan satu sama lain, tapi juga merasa bagitu bodoh dan ceroboh membiarkan orang seenaknya merebut ciuman pertamanya. Memang siapa yang tidak kesal dicuri ciuman pertanya begitu saja dan setelah pencurian itu disakiti? Macam merampok habis harga diri, sungguh.
"Anak itu kenapa bisa tercipta begitu brengsek?" Yoongi mendesis kesal, kakinya ia hentak-hentakkan beberapa kali. Ia sibuk menggerutu, menggerakkan bibirnya lucu seperti membaca mantra yang sebenarnya memaki sosok Jungkook.
Saat ia sudah memasukkan kata sandi apartemennya, ia pun mendorong pintu itu agar terbuka.
"Oh, kata sandimu tidak kau ganti, hyungie?" Sialnya suara itu membuat Yoongi harus menahan napas dan mempersiapkan tangannya untuk memukul wajah tampan yang sangat menyebalkan dengan suara yang sangat ia kenali.
Yoongi menoleh dengan malas, menatap kesal pada Jungkook yang tersenyum selebar lima jari. "Kenapa kau belum masuk kamarmu, bocah?" Suaranya terdengar seperti desisan berbahaya jika Jungkook bukan seorang anak kurang ajar yang sangat senang membuat Yoongi kesal. "Kau sungguhan ingin membuatku terlihat sepuluh tahun lebih tua, ya?"
Jungkook terkekeh kecil sambil mengelus rambut lembut Yoongi; sok akrab. "Tenang saja hyungie, wajahmu bahkan seperti siswa sekolah dasar. Kau tidak akan terlihat tua, aku berani menjamin."
Dengan kasar Yoongi menyingkirkan lengan Jungkook, matanya menatap tajam dengan ekspresi kesal yang lucu. Bibirnya sudah nyaris meledakkan kalimat kasar tapi kembali ia kulum setelah menyadari ia harus menahan diri atau orang di hadapannya akan sangat bahagia. "Cuci tangan dan kakimu lalu tidur kau bocah sialan. Ini sudah terlalu larut, aku tidak ingin membuang waktu berhargaku untukmu."
"Tidak masalah jika aku bisa tidur denganmu," Jungkook tersenyum menawan; nyaris membuat Yoongi terkesiap cukup lama karena lagi-lagi Jungkook dengan pakaian santai jauh lebih menarik daripada ia yang menggunakan pakaian semi–formal untuk ke kuliah. "Atau mungkin kau mau menemaniku sampai tidur? Aku sih tidak masalah, hyung."
"Apa otakmu belum lurus juga?" Suara sarkastis penuh emosi yang ditahan itu lolos dari bibir Yoongi, cukup untuk menarik hati Jungkook agar tertawa karena ternyata sunbae-nya mengomel memang makin manis dilihat dari dekat. "Perlu aku benturkan kepalamu ke dinding agar kepalamu kembali normal?"
Senyuman Jungkook makin lebar, bahkan kini gigi kelincinya terlihat mengintip di balik bibir lumayan tebalnya. Mata itu sedikit menyipit hingga menumbulkan eyesmiles yang berharga. "Benturkan kepalamu ke dadaku lalu aku rela kepalaku terbentur dinding."
Yoongi benci kalimat implisit yang Jungkook katakan, keningnya pun mengerut tidak suka dengan mata memicing tajam. Apa-apaan. Membenturkan kepala ke dada? Siapa juga yang mau memeluk Jeon Jungkook sialan itu! Ia mendengus keras, "Jungkook-ah, aku mohon, kali ini saja izinkan aku tidur nyenyak dengan cepat."
"Tentu!" Dengan bibir yang melengkung senang, ia menggendong tubuh kurus Yoongi lalu membawanya masuk. Yoongi memekik kecil seperti suara terjepit yang menggemaskan, terkejut karena tubuhnya tiba-tiba tidak menapak tanah dan diangkat oleh Jungkook hingga masuk ke dalam apartemennya.
Jungkook menjatuhkan tubuh Yoongi ke kasur, membuatnya duduk di sisi kasur dan sekarang ia berdiri tepat di hadapan yang lebih tua. Yoongi mendongak dengan tatapan penuh racun, tapi sialnya Jungkook justru seperti orang mati yang jika diracuni pun tidak akan bereaksi apapun.
"Mau aku gantikan baju, hyungie?" Senyuman itu terlihat penuh godaan, Yoongi hampir terlena dan membiarkan jemari kurang ajar Jungkook bermain di atas kancingnya. Sudah dua kancing yang terbuka dan Yoongi baru tersadar dari hilang akal.
"Sialan!" Ia memekik keras sambil menampik kasar tangan Jungkook. Orang yang tangannya tersingkir itu justru tertawa-tawa seperti orang bodoh sambil memperhatikan Yoongi yang sekarang menggerutu dan berdiri menuju lemari; mencari baju untuk ia berganti. "Aku mau ganti, kuharap setelah aku keluar dari kamar mandi kau sudah tidak ada di sini."
Jungkook hanya mengangkat bahu, memberi ekspresi mengejek pada Yoongi yang sudah berlalu menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Bukannya mendengarkan peringatan Yoongi, ia justru menjatuhkan tubuh ke kasur dan berbaring di kasur yang cukup untuk dua orang itu. Tangannya terlentang hingga kasur penuh karena posisinya yang berada di tengah, kakinya pun ikut terbuka lebar hingga dirinya kini seperti orang-orangan sawah yang tumbang karena angin kecang. Ia bertahan dalam posisi itu beberapa lama.
"Astaga!" Itu suara Yoongi, dengan nada penuh lelah dan kesal. Jungkook tertawa dalam hati, apalagi saat matanya menemukan ekspresi lucu orang di depan pintu kamar mandi yang menggunakan piyama menggemaskan warna putih dengan corak donat dan es krim. "Kenapa masih di sini?!" Suaranya terdengar garang, bertentangan habis jika harus dibandingkan dengan pakaian yang ia kenakan juga tubuhnya yang sedikit tenggelam pada piyama yang membalut tubuhnya sedikit kebesaran.
Jungkook mengguling tubuhnya hingga menghadap ke arah Yoongi, ia memasang senyum manis yang ia punya kemudian menatap sosok menggemaskan itu dari atas ke bawah dan kembali pada mata sipitnya. "Kasurku kotor karena aku bermain di atasnya, aku mau tidur dengan hyung saja yang kasurnya bersih."
"Bermain?!" Suaranya seperti seorang ibu-ibu yang tidak percaya anaknya baru saja tertabrak sepeda. "Tu–tunggu dulu," ia memasang ekspresi blank yang begitu berharga, membuat Jungkook setengah mati mengulum tawanya yang siap meledak. "Kau bermain apa sampai kasurmu kotor bocah sialan."
"Bermain mari–membayangkan–Yoongi–hyung–dalam–kungkunganmu," senyuman itu tidak luntur, bahkan kali ini berubah menggoda dan menjengkelkan di saat bersamaan.
"Astaga! Apa yang kau bayangkan?!" Pekikannya panik setengah mati, tangannya memeluk tubuhnya sendiri seolah dirinya baru saja jadi korban kekerasan. Entah sudah keberapa kalinya Jungkook menahan semua tawanya hanya karena merasa tidak pantas mengumandangkan tawa di saat Yoongi berubah dari galak menjadi lucu. "Tuhan, kenapa Kau menciptakan bocah senista dia?"
Yoongi tidak sadar Jungkook sudah turun dari kasur, berjalan mendekatinya dengan langkah cepat, dan baru tersadar saat sosok itu tepat di hadapannya memasang senyum miring yang benar-benar berat sebelah. Entah kenapa ia jadi tercekat, langkahnya mundur beberapa kali tidak membuat yang lebih tinggi diam di tempat. Hingga akhirnya punggungnya menabrak sesuatu; membentur sisi pintu yang keras dan menempel pada dinding. Yoongi pikir ia bisa berlari masuk ke kamar mandi hingga Jungkook lebih cekatan meraih tangkai pintu sekedar untuk mengejek pikiran cerdas yang lebih tua yang dapat ia baca dengan jelas.
"Kau tahu hyung," suara Jungkook terdengar beberapa oktaf lebih rendah. Matanya menatap penuh arti berbahaya pada yang ada di kungkungannya. "sekedar membayangkanmu itu menyiksa, bagaimana jika aku membuktikannya?"
"Ka–kau mabuk," cicitan Yoongi terdengar bergetar, cukup untuk menjelaskan bahwa ia gugup berada dalam posisi seperti ini. Ia tahu orang di hadapannya tidak mabuk, hidungnya tidak mencium bau apapun selain bau parfum yang menyegarkan indra penciuman saat Jungkook makin mendekatkan diri padanya. Tangan kurusnya menahan dada bidang Jungkook, setidaknya cukup untuk memberi jarak walaupun wajah yang lebih muda terus mendekat padanya. "Menjauhlah."
Jungkook menggeleng penuh tantangan, senyumnya makin lebar melihat Yoongi ternyata meneteskan keringat sedikit di sudut dahinya. Ia pikir sunbae-nya benar-benar gugup, lucu sekali. Tangannya terangkat untuk mengelus dahi sunbae-nya yang ada sedikit keringan, kemudian dengan mudah menyingkirkan lengan yang menghalangi dadanya hingga kini tubuhnya bisa beberapa jengkal lebih dekat. "Hyung, bajumu menggemaskan sekali. Aku ingin memilikinya. Berikan padaku, hyung."
"Astaga Jeon Jungkook, sadarlah!" Suara itu terdengar panik, tangannya dengan lucu sudah menggenggam bagian paling atas kancingnya. Dalam hati mengutuk habis sosok Jungkook yang jadi begitu menakutkan. Ia ingin berontak, tapi mata tajam si gigi kelinci di hadapannya membuatnya merasa tidak sanggup bergerak.
"Aku sangat sadar sekarang," Jungkook tertawa kering, penuh dominasi yang entah kenapa membuat Yoongi makin lemah. Tawa mengejek yang berbahaya.
"Kalau begitu menjauh," lagi-lagi daripada peringatan suara itu justru seperti cicitan tanpa arti.
Satu kecupan mendarat di bibir tipis Yoongi hingga yang mendapat hadiah itu terkesiap dan terkesima beberapa saat. Matanya mengerjap tidak percaya seperti orang blank yang lucu. Bibirnya kaku, rasa hangat dari bibir Jungkook masih tersisa dan membuatnya tidak bisa berbicara sekedar untuk memaki.
"Demi Tuhan—menjauhlah brengsek," ia mendesis penuh rasa kesal, tapi tidak cukup berbahaya untuk membuat Jungkook mundur dan melepaskan dirinya.
Satu lagi kecupan. "Jaga bicaramu, hyung. Kau terlalu manis untuk mengatakan itu."
"Brengsek—"
Lagi. "Perlu aku hisap habis semua kata kotor dari mulutmu?" Ia tersenyum simpul yang menjengkelkan.
"Sial—"
Jungkook mendaratkan bibirnya untuk ke empat kalinya, melumat dan menghisap kuat bibir atas dan bawah secara bergantian. Mengabaikan mata melebar Yoongi juga gerakan berontak tidak berarti dari yang ada di kungkungannya. Setelah selesai, ia meninggalkan satu jilatan dari ujung ke ujung bibir Yoongi. "Ucapanmu, hyung."
Jika saja Yoongi dalam kondisi sadar sepenuhnya, mungkin ia akan berontak dan memukul wajah tampan Jungkook, menghabisinya hingga luka memar tersisa di mana-mana. Tapi Yoongi sekarang tengah tidak sadar. Ia dalam kondisi terdominasi dan jiwanya yang selama ini terpendam entah kenapa bangkit lagi; ia hanya sosok pasrah jika bertemu dominan setampan dan sekuat Jungkook.
Melihat Yoongi dalam posisi seperti ini, Jungkook nyaris berpikir bahwa sunbae-nya ini sibuk melontarkan kalimat kasar karena memang mengharapkan hal seperti tadi; tapi siapa peduli? Ia senang bisa mencium bibir itu lagi setelah tadi pagi menghabisinya hingga meninggalkan luka kecil di satu sisi.
"Ayo tidur, hyung," Jungkook tersenyum sambil mengelus surai Yoongi, menyadarkan sosok itu dari dunianya. Dengan cepat ia membawa tubuh kurus kakak tingkatnya untuk berbaring bersama di kasur.
Yoongi pasrah saja saat Jungkook membawanya dalam gendongan, berontak pun ia yang akan terjatuh dan sakit. Jadi saat tubuhnya sudah berbaring di kasur, dengan semua harga diri yang masih ia pegang teguh, kaki dan tangannya ia rentangkan, pun tubuhnya ia buat dalam posisi miring untuk memenuhi semua sisi kasur. Ia bisa mendengar tawa dari Jungkook, antara tawa geli dan mengejek yang menjengkelkan. "Tidur di kasurmu!" Ia memekik kesal saat Jungkook tetap saja mencari celah di kasurnya, mendorong pelan kaki Yoongi yang kecil dan ringan untuk ia duduki.
Jungkook menggeleng. "Aku terlalu lelah untuk berjalan," ia menjawab cuek tapi cukup untuk memancing emosi Yoongi. Beruntung Yoongi dalam mood untuk menahan diri dengan emosi yang nyaris tiap hari meledak-ledak. "Aku tidur di sini ya, hyung?"
Yang dimintai izin mendengus, ia kemudian meraih satu-satunya guling besar yang di kasurnya, meletakkannya di tengah-tengah, membuat satu sisi terisi dirinya dan satu sisi kosong. "Jangan lewati batas ini," ia menunjuk guling dengan jarinya, kemudian ia berbaring di sisinya. Menyerah karena terlalu lelah berdebat dengan Jeon Jungkook, pun terlalu malas menanggapi jawabannya yang selalu saja ada dan menjengkelkan.
Karena sudah mendapat izin, ia pun langsung menjatuhkan dirinya ke kasur sambil memekik riang. Ia memposisikan dirinya untuk tidur miring dan menghadap pada sosok Yoongi yang sudah terbaring sambil memejamkan mata. Cantik, batin Jungkook gemas. Rasanya senang sekali bisa melihat Yoongi dari dekat dan tidak menunjukkan kerutan jengkel seperti biasanya, sosok itu jadi berlipat manisnya. Apalagi piyama putih dengan motif makanan yang enak. Lucu.
"Selamat malam, hyungie."
.
.
.
Jungkook terbangun lebih dulu, ia menemukan wajah Yoongi menyambut paginya dengan rambut berantakan yang menarik. Wajah menggemaskan dengan rambut berantakan terlihat begitu menarik sampai Jungkook menahan diri untuk tidak menerkam sosok di hadapannya. Ia tersenyum, mengagumi bagaimana Tuhan menciptakan seseorang seindah Yoongi.
"Selamat pagi, hyungie," sapanya sambil mempertahankan senyuman tetap terpatri di wajah. Tangannya mengelus rambur berantakan itu hingga sedikit lebih rapi daripada sebelumnya, matanya tidak juga berpindah untuk mencari objek lain yang ingin ia pandangi.
Suara erangan kecil dari Yoongi membuat tangan Jungkook yang awalnya bermain pada wajah putih itu langsung menjauh, takut membuat orang yang terbaring di hadapannya mengomel karena sudah dengan berani melewati batas.
Eh, tunggu, melewati batas?
Jungkook menyeringai penuh kemenangan. Siapa peduli dengan batas? Semakin Yoongi mengomel, semakin menggemaskan sosok itu. Jadi, kenapa harus takut Yoongi mengomel?
Dalam hati Jungkook tertawa menang, kemudian dengan nakalnya ia membuk kancing piyama Yoongi satu-satu. Ia menemukan dada hingga perut putih Yoongi yang terekspos sempurna, terlihat mulus dan halus seperti permukaan beludu yang bersurai licin. Tangannya mulai menelusup masuk, membuat satu sisi baju itu tersingkap hingga bahu kurang tegap Yoongi terpamerkan. Jungkook bersiul iseng, seolah memuji keindahan yang baru saja ia buka beberapa menit lalu, juga merasakan lembutnya kulit dada yang ada di ujung jemarinya. Napasnya tercekat untuk beberapa saat, merasa baru saja menyentuh paha gadis—katakan Jungkook gila karena ia memang sudah beberapa kali mengelus paha beberapa kekasihnya yang sekarang sudah menjadi mantan.
Ia mendengar lagi erangan Yoongi, kali ini erangan itu seperti suara terganggu yang membuat Jungkook terkekeh kecil. Siapa yang tidak teganggu saat tangan orang lain bermain di atas kulitmu?
Beberapa saat erangan itu tidak berakhir, mata Yoongi terbuka. Jungkook memberi senyuman terbaik untuk menyambut pagi Yoongi dengan jari yang sekarang bermain di salah satu ujung dadanya. "Pagi!" Itu suara Jungkook, berlagak lugu dengan senyuman polos yang memuakkan.
Yoongi sendiri yang masih setengah sadar mengerjap bingung, bertanya-tanya untuk apa Jungkook hanya duduk bukannya pergi kalau dia sudah bangun sejak tadi. Hingga ia merasakan satu putaran menggoda dan menyakitkan pada ujung dadanya, ia memekik keras. Terduduk dengan panik dan menyadari kini sebelah lengannya jatuh dan kancingnya terbuka semua. Sialan, senyum lugu itu tadi untuk mengejeknya?
"Brengsek!" Satu pukulan mendarat di wajah Jungkook, membuat korbannya berguling jatuh dengan punggung lebih dulu. Yoongi tidak peduli, suara debaman keras itu nyaris seperti suara retakan tulang, tapi toh lantainya memiliki karpet cukup tebal, tidak mungkin ada patah tulang. Jarinya kemudian langsung menutup semua kancing pakaiannya dan melongok pada Jungkook yang kini merintih kesakitan. "Kau senang?" Suaranya penuh sarkastis yang berbahaya.
Jungkook tertawa dalam rintihannya, memegangi punggungnya yang terasa sakit seperti nyaris patah. Beruntung ia masih bisa melengkungkan tubuh yang berarti semua tulangnya masih bekerja dengan normal. Terima kasih pada karpet yang cukup untuk meredam benturan yang menyakitkan.
"Hyung, aku 'kan hanya menyapamu pagi," Jungkook seolah merajuk, berpura-pura tidak salah seperti orang tanpa dosa yang menjengkelkan. Matanya menatap mata sipit Yoongi yang kini memicing tajam penuh ancaman. "Kenapa kau begitu membenciku sih?"
"Aku tidak membencimu," jawaban itu terlontar dengan tenang. "Aku hanya terlalu ingin menghancurkan tulangmu karena kau begitu menjengkelkan."
"Aku selalu memperlakukanmu dengan baik, hyung."
"Baik katamu?!" Ia memekik jengkel setengah mati. "Lalu apa membuka baju orang itu termasuk baik bagimu? Astaga, aku tidak habis pikir dengan jalan otakmu itu."
.
Setelah insiden itu, Yoongi mengusir Jungkook dengan perasaan benci sepenuh hatinya. Mendorong ke luar seperti menendang kucing kurang ajar yang baru saja mencuri ikan. Jungkook merintih sakit sambil sesekali tertawa geli karena perlakuan Yoongi yang lucu.
Yoongi kesal setengah mati, mood-nya buruk hingga terbawa di perjalanan menuju halte untuk berangkat ke kampus. Kakinya terus ia hentak-hentakkan kesal saking jengkelnya tiap mengingat kelakuan tidak beradat macam yang adik tingkatnya lakukan. Menggerutu seperti kakek tua dalam film kartun, memaki seperti preman tidak tahu sopan santun, atau apapun asal bisa untuk meluapkan emosinya yang sudah di ambang batas. Rasanya dilecehkan oleh adik tingkat sendiri sungguhan menjengkelkan, siapa juga yang mau diperlakukan seperti itu oleh orang asing?
"Yoongi–hyung!" Suara seseorang dari arah belakang membuat Yoongi yang berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki menoleh. Ia mendapati Jimin dengan kaki pendeknya berlari menghampiri, memasang senyuman cerah hingga matanya lenyap ditelan pipi tembamnya.
Yoongi terenyum, membalas lambaian ramah Jimin lalu merangkul tubuh yang cukup kekar itu setelah sosoknya ada di dekatnya. "Kenapa naik bus?" Yoongi bertanya saat lengan berotot Jimin melingkar pada bahunya.
"Motorku di bengkel," ia tertawa jenaka, manis dan lucu karena matanya yang selalu lenyap meski hanya bicara. "Aku berharap banyak bisa berangkat dengan hyung dan ternyata harapanku terkabul. Omong-omong, mana Jungkook?"
Entah kenapa mood Yoongi yang awalnya sudah lebih baik karena menemukan Jimin dan membuatnya lupa kini kembali hancur, teringat kembali bagaimana senyuman tanpa dosa itu tertuju padanya. "Mana aku peduli," Yoongi menjawab cuek, cukup untuk membuat Jimin tertawa dan mencubit pipinya gemas.
"Dia memang menjengkelkan, 'kan?" Jimin terkekeh melihat wajah ditekuk hyung-nya. "Kau harus ekstra sabar menghadapinya, hyung. Jika kau sabar, kau akan menemukan sisi menyenangkannya."
"Apa dia seorang byuntae?" Yoongi bertanya tiba-tiba, tapi Jimin tergelak mendengar pertanyaan itu.
"Byuntae?" Langkah mereka sampai tiba di halte cukup penuh dengan tawa geli Jimin. Ia kemudian mengangguk kecil saat tawanya reda. "Ia sedikit byuntae, tapi dia tahu aturan hyung."
"Tahu aturan?" Kening Yoongi mengerut, suaranya membeo lucu. "Aku ragu," ekspresinya berubah jadi ekspresi sangsi.
"Jika pada orang yang ia suka, ia cukup kurang ajar," senyuman Jimin terpasang sempurna sambil menatap Yoongi. "Tapi tenang, meski dia kurang adat, jika ada orang yang menganggu atau menyakiti orang yang ia sukai, ia akan menjadi orang pertama yang murka hingga siap mati."
"Pfft, kau mengatakan itu karena Jungkook menyuapmu?"
"Mana mau aku disuapi Jungkook. Lebih baik Min Yoongi yang menyuapiku."
"Geli tahu tidak?"
Jimin kembali tertawa. "Ayo masuk hyung, busnya sudah satang."
.
.
.
"Yoongi–hyung! Jimin-ah!" Itu suara berat Taehyung, terdengar terengah karena berteriak sambil berlari.
Taehyung meloncat saat jaraknya sekitar satu meter di hadapan dua orang yang ia panggil tadi, mendarat dengan baik di hadapan keduanya dengan cengiran yang bodoh. "Selamat pagi! Yoongi–hyung terlihat kusut pagi ini, ada apa?"
Yoongi memutar bola matanya, "urus itu adikmu yang bernama Jeon. Dia menjengkelkan sekali!"
"Oh!" Jari Taehyung menjetik di wajah Yoongi, membuat yang melihat itu memekik terkejut sambil memundurkan wajah. "Pasti dia melakukan hal iya–iya, 'kan? Aaah, itu sih tidak perlu aku urus, dia sudah legal, hyung."
"Kalau begitu anggap saja aku yang belum legal untuk mendapatkan itu," suara orang yang berwajah kusut itu seperti desisan jengkel, tapi lumayan lucu karena wajahnya ditekuk menggemaskan.
"Kau bahkan dua tahun lebih tua dariku, mana mungkin kau belum legal kalau Jungkook yang lebih muda dariku sudah legal?" Tawa geli mengiringi pernyataannya.
"Wajahku tertinggal di umur lima belas, aku belum legal."
"Wajahmu yang belum legal," Jimin menanggapi. "Tubuhmu… sepenuhnya legal lahir batin," lanjutnya geli.
Yoongi menghela napas, tangannya pun melayang untuk memukul kepala dua orang di hadapannya yang sudah tertawa geli padanya. "Kalian ini menjengkelkan sekali sih?!"
"Kami tidak menciumi hingga bibirmu seperti ini," Jimin menyentuh sudut bibir Yoongi yang menunjukkan luka sudah membaik.
Tangan di bibirnya itu disingkirkan dengan jengkel oleh Yoongi. "Seperti ini atau tidak, jika membuatku kesal ya tetap saja mengjengkelkan!" Ia kemudian berlalu meninggalkan Taehyung dan Jimin.
.
"Yoongi!" Hoseok menyapa Yoongi yang tengah duduk di bangku kantin itu, minuman hangat ada di genggamannya. Tangan lainnya merangkul bahu sempit temannya. "Mau kopi? Lumayan untuk menambah mood," ia mengulurkan cup kecil pada Yoongi yang kusut.
Yoongi melirik yang diulurkan Hoseok, ia menariknya kemudian. "Untukku? Terima kasih, Hoseok-ah. Maaf merepotkanmu, tapi terima kasih," ia meminum perlahan kopi hangat yang kalornya berpindah sedikit pada genggamannya. "Ini enak," komentarnya.
"Tentu saja," Hoseok bersuara bangga. "Aku membuatnya sendiri."
"Oh, kau bisa meracik kopi?"
Ia mengangguk penuh percaya diri. "Tidak benar-benar bisa, hanya yang sederhana. Kalau kau mau lagi, aku bisa membuatkan untukmu nanti."
Senyuman Yoongi kini sedikit lebih lebar daripada sebelumnya. "Aku akan mengatakan padamu kalau aku mau lagi."
Mereka diam beberapa lama, Yoongi sibuk menghabiskan kopinya dan Hoseok sibuk memperhatikan teman baiknya yang tengah meminum kopi dengan senang.
Saat tiba-tiba Yoongi mengerang tipis, meletakkan kopinya ke meja kemudian menyentuh matanya sendiri.
"Ada apa?" Hoseok bertanya dengan bingung.
Yoongi menggeleng, satu matanya mengerjap banyak kali dengan lucu. "Sepertinya bulu mataku jatuh ke mata."
"Diam," tangan Hoseok menyingkirkan tangan Yoongi yang mengucek matanya terlalu banyak, wajahnya ia dekatkan untuk melihat ke dalam mata Yoongi yang tadi mengerjap terus. "Oh, aku menemukannya," ia meniup mata sipit itu sambil menahan kelopaknya agar tak tertutup.
Yoongi terdiam beberapa saat, mencium aroma kopi yang menyenangkan dari tiupan Hoseok. Kemudian matanya yang terasa sejuk karena Hoseok itu terasa lebih baik.
"Ini," Hoseok meletakkan bulu mata yang masuk ke mata Yoongi pada telapak tangannya, ia terkekeh kecil. "Ada yang merindukanmu sepertinya."
"Kau percaya pada hal seperti itu?" Yoongi tertawa. "Terima kasih omong-omong."
"Sama-sama."
To Be Continue…
Omo omo omo. Apa ini. Aku jatuh cinta sama Jungkook entah kenapa hahaha. Dia lucu kan?
Yoongi yang galak juga menarik, aku suka!
Sebentar lagi selesai nih, tapi ternyata lebih panjang dari yang aku kira. Aku pikir bakal selesai di lima, tapi ternyata kalau selesainya besok enggak mungkin.
Jadi, yeah, mungkin bakal selesai beberapa chapter berikutnya. Mugkin tujuh? Not sure.
Aku bayangin di posisi Yoongi yang uke dan aku gambarin Tae, Jim, Hosiki, Gguk, semuanya seme, dia itu macam… idola gitu jadinya hahaha. Dikelilingi cogan, ampun—lucu dan iri sekali!
Ya sudah, segini saja deh cuap cuapnya hahaha. Sampai ketemu next chapter!
Chapter 04; done!
Review Please?
