copyright © crownacre, 2016

CHIVALRY IS DEAD

Just cause I'm a gentleman,
don't mean I ain't taking you to bed

[[ WARNING ]]

Mengandung ucapan kasar, tindakan yang tidak pantas ditiru, dirty talk, dan mungkin hal berbahaya untuk dibaca. Jangan dibaca kalau tidak sanggup atau tidak suka, segera tinggalkan page tanpa tinggalkan komentar tidak menyenangkan setelah membacanya jika Anda tidak suka dengan alur yang saya angkat atau apapun yang saya pilih untuk cerita ini.
You've been warned!


Happy Reading!

Chapter 05

Bruk!

Tubuh Yoongi terbanting kasar hingga punggungnya menubruk dinding, terkejut dengan perlakuan tiba-tiba orang yang menariknya kasar ke dalam kamar mandi saat ia melangkah tadi. Ia menemukan wajah Jungkook dengan tatapan nyalang kesal dan tangan mengungkung tubuhnya hingga tidak ada akses keluar dengan bebas, ditambah ujung sepatunya diinjak tanpa dosa oleh sosok di hadapannya.

"Apa-apaan ini?" Yoongi mendesis kesal, memberi tatapan tidak kalah tajam pada mata bulat sosok di hadapannya. Tangannya mencoba berontak tapi tiba-tiba saja ditarik kasar hingga kini ditahan ke dinding bersama tangan Jungkook yang mengungkungnya. Dengan suara rendah ia mengeram kesal, "lepas."

Jungkook memberi seringaian, nyaris bisa disebut tampan jika Yoongi tidak ingat sosok di hadapannya sekarang sangat menjengkelkan. "Tidak mau," jawabannya terdengar penuh tantangan dan ejekan.

"Jelaskan apa maksudnya ini," suara kesal Yoongi terdengar jelas, ia menahan seluruh emosinya untuk tidak berteriak karena ia pikir Jungkook perlu menjelaskan terlebih dahulu.

Senyuman lebar Jungkook kali ini terlihat berbahaya, penuh peringatan karena matanya kini menyipit dan menajam. "Sudah aku katakan kau milikku 'kan, hyung?" Matanya memberi tatapan intens pada bibir merah Yoongi, kemudian lidahnya mendarat pada bibir merah itu.

Suara desisan Yoongi terdengar kesal, bibirnya menipis untuk sekedar membuat desisannya makin tajam dan memperjelas rasa tidak sukanya. "Hentikan itu, bocah. Kau benar-benar menjengkelkan."

"Kau yang menjengkelkan, hyung. Mengobrol penuh tawa dengan orang-orang, memberi senyuman pada mereka, bahkan kau saling melakukan interaksi luar biasa dekat! Kau menjengkelkan!"

"Kenapa aku? Kita bahkan—"

"Jika aku jatuh cinta padamu, maka kau milikku, hyung," ia mendesis kesal. "Aku tidak peduli mau Jung Hoseok itu menyukaimu atau justru kau yang menyukainya. Karena aku jatuh cinta padamu, maka kau milikku. Jika kau menyukainya, maka biarkan aku membuatmu tidak memikirkan sosok itu."

"Kau cemburu pada Hoseok?" Yoongi tertawa, membuat matanya lenyap dan meninggalkan gigi yang terpamerkan sempurna. "Yang benar saja, Jungkook! Lagipula kau tidak memiliki hak untuk cemburu pada Hoseok."

"Kau milikku," suara itu terdengar penuh dominasi.

"Sejak kapan?"

"Perlu aku beri tanda?"

Kening Yoongi mengerut bingung, "tanda?"

Jungkook mengangguk kecil tanpa dosa. "Tanda. Sesuatu yang memperjelas kepemilikan."

"U–uh?" Mata sipitnya mengerjap lucu. "Aku tidak mengerti."

"Seperti ini," kepala Jungkook menelusup pada leher putih Yoongi, meninggalkan kecupan-kecupan ringan di sana kemudian bertambah menjadi jilatan. Yoongi terkejut, setengah berontak tapi tak mampu berbuat banyak karena tangannya yang terkunci baik di genggaman Jungkook. Hingga bibir itu mulai menempel terlalu lama di kulitnya, menggigitnya pelan dengan sesekali menggesekkan gigi pada kulit, kemudian menghisapnya penuh perasaan hingga Yoongi melenguh dan tangan mengepal. Ia berontak, mencoba mendorong tubuh Jungkook, sayangnya Jungkook tidak bisa dilawan.

"Sial," Yoongi setengah memekik dengan mata sayu yang turun. Bibirnya melakukan gerakan mengumpat untuk sekedar menunjukkan rasa kesalnya.

Jungkook tertawa, menemukan tiga bekas yang ia tinggalkan pada leher putih itu di bagian yang lumayan tinggi dan sulit ditutupi cukup untuk membuatnya merasa puas. "Kau milikku, apa tanda yang kuberikan kurang jelas?" Ia tersenyum hingga matanya lenyap dan berubah menjadi dua bulan sabit yang indah.

"Kau pikir aku ini mainan ya?!" Teriakan yang tertahan lolos, matanya kini nyalang dengan emosi meledak-ledak menatap Jungkook. "Kau cabul atau apa, ha? Mencium tiba-tiba, membuka bajuku, meninggalkan kiss mark, setelah ini apa? Menelanjangiku bulat-bulat dan melakukan sesuatu padaku?! Menjengkelkan!"

"Kalau kau langsung mengerti kau adalah milikku, kau tidak akan berpikir itu kurang ajar."

"Tapi aku bukan milikmu!"

"Maka jadilah milikku!"

Mata Yoongi yang awalnya penuh emosi dengan terlihat seperti penuh serpihan kaca karena air mata kini membelalak kaget, seperti tersentak karena tubuhnya tiba-tiba diam mendengar pekikan yang Jungkook serukan. "Mi–milikmu?" Ia mendesah, terkekeh kecil kemudian. "Kau mengatakannya seperti itu bukan hal berarti apa-apa."

"Jadilah milikku, hyung. Kalau kau tidak suka aku yang melakukannya sebelah pihak, kenapa tidak kau ikut menyetujuinya?" Tatapan mata Jungkook melembut, tangannya melonggarkan pergelangan Yoongi yang ia genggam dan membiarkan tangan itu bergerak. "Aku memang brengsek, kau tahu itu dengan jelas. Tapi aku tidak main-main dengan kepemilikan, hyung."

"Aku pergi," tangan kurus yang sudah terbebas itu mendorong tubuh Jungkook hingga sosok di hadapannya mundur beberapa langkah.

Ia berlalu, pun yang didorong tidak berminat untuk menahannya lebih lama dan mengungkung tubuh itu lagi.

.

Jungkook menghela napas, membuangnya kasar karena pikirannya yang kacau mengingat tadi di kamar mandi bersama Yoongi. Ia baru merasa bersalah setelah punggung sempit itu menghilang di balik pintu, menyesal sudah bersikap kasar dan tidak mengajaknya bicara baik-baik. Tapi bagaimana lagi, ia terlanjut kesal karena Yoongi yang terlihat biasa saja.

"Ah, memang aku siapa," ia menghela napas kembali, kali ini merasa bodoh sudah kesal dan membuat Yoongi sama kesalnya padahal mereka jelas bukan apa-apa.

Ia menoleh pada cermin, melihat bibirnya dan mengangkat jarinya untuk menyentuh bibir bawahnya. Bibir yang baru saja meninggalkan bekas ciuman di leher kurus Yoongi. Masih terasa manis leher itu, bahkan aroma wangi sabun masih membekas di hidungnya. Perasaan bersalah itu pun makin besar mengingat mata berkaca-kaca Yoongi yang sepertinya menahan kesal. Hanya saja Jungkook tidak bisa menahan senyum tiap lidahnya teringat pada rasa manis leher Yoongi. Ia menyukai itu, menyukai bagaimana reaksi menegang dari sosok di kungkungannya dan pasrah saat ia menghisapnya. Ia menyukainya karena ia pikir Yoongi juga tidak keberatan. Ah, Jungkook boleh 'kan sedikit percaya diri?

"Aku tidak tahu kenapa kau begitu sulit diraih," ia menggumam pelan. Terbayang wajah jengkel Yoongi yang selalu membuatnya merasa senang, wajah jengkel yang manis dan menggemaskan. "Tapi bukan masalah, aku pasti bisa mendapatkanmu, Yoong."

.

Yoongi tidak tahu apa yang salah dengan otaknya, juga bertanya-tanya kenapa ia menyukai cara Jungkook meninggalkan bekas pada lehernya. Mungkin kali ini lehernya masih baik-baik saja, hanya ada bekas gigitan yang tidak akan benar-benar terlihat. Tapi besok? Lehernya pasti memar dan Yoongi tidak tahu harus menutupinya dengan apa. Yoongi selalu benci syal kecuali syal hitam kesayangannya yang menenggelamkan leher dan wajah bagian bawah, syal yang hanya akan ia gunakan hanya saat musim dingin dengan suhu lebih rendah dari nol. Sisanya ia menggunakan jaket berkerah tinggi jika tidak benar-benar dingin. Sangat tidak mungkin dia menggunakan jaket di akhir musim dingin yang akan berganti ke musim semi, meski masih dingin, tetap saja sudah tidak ada udara yang menyakitkan hingga menusuk tulang.

"Jungkook berengsek," ia menggerutu. Tangannya terkepal penuh emosi dan otak menyalahkan dirinya sendiri karena tidak berpikir untuk memukul wajah itu dan menambah memar di sana sebelum ia berlalu pergi. "Jungkook sialan!"

.

.

.

Saat pulang, Yoongi menemukan sosok Jungkook bersandar pada dinding sebelah kamarnya. Ia menghela napas pelan, melangkah seolah tidak melihat ada orang di sebelah pintu dan memasukkan sandi begitu saja untuk masuk. Awalnya Jungkook tidak melakukan apa-apa, hanya mengerling dan memperhatikan pergerakan tanpa beban sosok di sebelahnya yang tengah membuka pintu. Tapi begitu sosok itu sudah akan masuk, ia bersuara.

"Tunggu dulu," suaranya terdengar lirih dan membuat sosok yang satu kakinya sudah melangkah masuk ke dalam jadi berhenti untuk sekedar menoleh. "Jangan masuk dulu," ia menggumam pelan tanpa mengubah posisinya.

Yoongi setengah dongkol juga, merasa langkahnya yang sengaja ia hentikan sia-sia karena yang bersandar di sebelahnya justru hanya diam setelah ia tidak melakukan perlawanan seperti masuk ke dalam. Menjengkelkan.

"Bicara saja," ia mendesis kesal karena setelah beberapa lama dalam posisi seperti ini sosok di sebelahnya tetap diam tanpa berkata-kata.

Jungkook mendongak, kemudian menoleh untuk menatap Yoongi dengan matanya yang sangat menenangkan. Yoongi terdiam sambil menahan napas melihat tatapan yang diberikan padanya seperti membuatnya meleleh begitu saja, tatapan panas yang memabukkan.

"Hyung," suara tenang Jungkook lolos, bibirnya ia gigit dengan gigi kelincinya. Terlihat tidak setenang suaranya beberapa waktu lalu. Ia menarik napas hingga bahunya terangkat sedikit dan membuangnya perlahan setelah itu. "Maaf," suaranya terdengar penuh sesal kali ini.

Yoongi terkesiap, matanya mengerjap bingung menatap sosok Jungkook yang terlihat memberi tatapan penuh rasa bersalah. "Untuk apa?" Ia bertanya tanpa beban.

"Yang tadi di kamar mandi," Jungkook menggaruk tengkuknya, terlihat bingung.

"Oh," ia mengangguk mengerti. Kemudian bibirnya mencebik tipis. "Lupakan saja, lagi pula tidak penting."

"Aku tetap ingin meminta maaf."

"Baiklah, aku memaafkanmu."

"Sungguh hyung?" Mata bulat itu melebar penuh, memberi tatapan tidak percaya karena ternyata ia bisa dengan mudah mendapatkan kata maaf. "Kau memaafkanku?"

Yoongi mengangguk malas. "Ya, bukan masalah."

"O–ah, hyung—"

"Ya sudah," Yoongi menyela perkataan Jungkook. "Aku masuk. Dah," ia masuk begitu saja tanpa memedulikan Jungkook yang memanggil namanya dan sempat menahan dirinya untuk tetap berada di luar sebentar.

Jungkook menghela napas beratnya, menatap pintu putih yang sudah tertutup rapat. "Setelah kata maaf, harusnya aku mengatakannya. Kenapa kau buru-buru sekali, hyung. Aish!" Ia mengacak rambutnya kesal.

Yoongi sendiri masih di belakang pintu, membelakangi kayu bercat putih itu dengan tangan masih menyentuh tangkai pintu. "Lain kali, Jungkook-ah," ia menggumam sambil memberi senyuman tipis untuk dirinya setelah mendengar ucapan Jungkook yang terdengar samar dari luar. "Lain kali kau bisa mengatakannya padaku."

.

"Ya siapa suruh membuatnya jengkel!" Jimin mendengus, mencibir pada curhatan Jungkook beberapa menit lalu dan sepenuh hati memihak pada Yoongi setelah mengetahui penyebab jengkelnya sang sunbae.

Jungkook merengut sambil merajuk pada perkataan Jimin, bibirnya bisa saja jatuh jika ia terus membuatnya dalam posisi seperti itu. "Tapi perasaanku tulus kok pada Yoongi–hyung."

Jimin menggeleng, "mau tulus kek, jujur kek, atau apa lah yang sejenisnya, kalau semaunya macam itu—mana mau Yoongi–hyung!"

"Jadi harus apa supaya Yoongi–hyung mau?"

"Ya! Kalau suka orang itu perhatikan sifatnya dong," Jimin menyentil kening Jungkook gemas. "Dia keras, ya harusnya dibuat lembut. Disiram air sedikit-sedikit atau dibuat kepanasan, apa lah. Ya yang pasti jangan yang seenaknya!"

"Itu caraku, hyung."

"Itu juga cara Yoongi–hyung, Kookie."

Jungkook mengerjap, "cara?"

"Hm," yang diberi tatapan bertanya mengangguk. "Itu cara Yoongi–hyung memberimu tantangan, dari gerak-geriknya mungkin semacam memberi tahumu kalau kau harus membuktikan sesuatu lebih keras daripada seenaknya. Yoongi–hyung tidak sesulit itu ditaklukkan kok!"

"Aku tidak mengerti."

"Aku juga tidak."

"Hyung!" Jungkook memekik gemas. "Beri tahu aku."

"Belajar sendiri," Jimin mencibir. "Pasti nanti kau langsung paham, aku yakin."

Jungkook menghela napas kesal, "kau benar-benar tidak membantu!"

"Ya, sama-sama," senyuman simpul Jimin gunakan untuk membalas pernyataan Jungkook. "Sudah sana, kau pulang. Sudah terlalu malam dan kau perlu berangkat."

"Baiklah, hyung," Jungkook beranjak dari duduknya kemudian merapikan pakaiannya dan rambutnya yang sempat ia acak-acak. "Sampai jumpa besok!"

.

.

.

Jungkook mengetuk dinding kamarnya berada. Beberapa hari lalu ia sudah memperhitungkan tempatnya dan menyadari bahwa kamarnya tepat berada di sebelah kamar Yoongi, jadi ia pikir jika ia mengetuk dinding dengan sedikit keras ia akan membuat Yoongi mendengarnya. Entah bagaimana rasanya rindu sekali pada sosok itu, ingin memeluknya dan membawanya ke dalam pelukan sambil menghujami wajah itu dengan ciuman.

Tiba-tiba saja ada suara ketukan dari sisi lain, Jungkook nyaris menjerit kaget tapi kemudian terkekeh kecil menyadari mungkin Yoongi membalas ketukannya.

Apartemen mereka tidak kedap suara, pun dindingnya hanya dinding biasa yang jika dipukul dengan sesuatu yang agak berat akan terdengar sampai sisi lain. Ia tadi memukulnya dengan hiasan dinding kamarnya yang terbuat dari kayu dan sekarang bertanya-tanya dengan apa sosok di seberang sana membalas ketukannya.

"Hyung," Jungkook memanggil agak keras. Hening kemudian, meski ia berharap banyak sosok di luar sana membalas panggilannya. Tapi ia pikir ia hanya perlu melanjutkan kalimatnya, "ke luar lah, aku akan ke balkon."

Jungkook jadi yang lebih dulu tiba di balkon, pun tidak berharap banyak pada tetangganya untuk ke luar dan menengoknya yang sudah berada di luar. Tapi kemudian suara ribut pintu kaca yang dibuka membuat Jungkook tersenyum lebar dengan penuh harapan.

Ia menemukan Yoongi dengan baju tidur yang kali ini berwarna biru muda, terlihat menggemaskan karena memiliki corak polkadot putih yang lucu. Ia pikir itu baju tidur sejak sekolah dasar yang tidak ingin Yoongi ganti karena bajunya yang masih utuh dan terasa nyaman.

Jungkook terkekeh kecil sambil melambaikan tangannya sedikit pada sosok di seberang. "Hey hyung," ia menyapa dengan senyuman.

Yoongi hanya memutar bola matanya kemudian mendengus kecil sebelum bersuara, "ada apa?"

Dalam hati Jungkook tentu tersenyum, bersyukur sepenuh hati sosok itu mau membalas sapaannya meski dijawab dengan angkuh. Lagi pula angkuh memang sifat dasar seorang Min Yoongi. "Kau belum tidur, kenapa?"

"Tidak bisa," Yoongi menjawab cepat dengan bahu yang diangkat sedikit. "Kau sendiri?"

"Hanya sibuk memikirkanmu. Boleh aku loncat ke sana dan menemanimu tidur?"

"Tidak."

Jungkook terkekeh kecil melihat wajah sewot yang Yoongi berikan, dalam hati tersenyum puas karena sosok itu memang hanya membawa sifat alaminya, bukan tengah kesal padanya seperti yang ia pikirkan tadi. "Mungkin lain kali aku akan meloncat ke sana diam-diam."

"Oh," Yoongi mencibir, "mungkin mulai sekarang aku akan mengunci terus pintu balkonku kecuali saat aku keluar dari apartemen."

"Aku akan mendobraknya."

"Kau berani?" Mata itu memberi tatapan menantang.

Jungkook mengangguk tanpa dosa. "Kenapa tidak?"

"Aku akan melaporkanmu."

"Wow," ia terkekeh kecil. "Baiklah aku kalah."

Kemudian mereka berdua terdiam, hanya saling memandang dengan ekspresi tenang dan mata mengunci satu sama lain. Tidak memberikan reaksi apapun pada satu sama lain. Hanya menatap tanpa berkomentar macam-macam tentang ini–itu.

"Tidur Jeon Jungkook," Yoongi bersuara setelah mereka hening, matanya kini beralih untuk menatap langit sebentar. "Sudah mulai larut, tidurlah."

Jungkook tersenyum tipis dan mengangguk kecil, "tentu. Tapi beri aku salam sebelum tidur dulu, hyung."

Yoongi menghela napas kesal, "selamat malam Jungkook, mimpi indah."

Bibir Jungkook melebar hingga matanya lenyap dengan kebahagiaan meluap-luap. "Kau juga, hyung. Sampai jumpa besok!" Ia bersuara setelah menyadari Yoongi sudah melangkah masuk sejak memberinya salam dan ucapan mimpi indah. Bukan masalah, yang terpenting Yoongi sudah mengatakan mimpi indah. Jadi, meski dilakukan dengan acuh, ia yakin dirinya pasti akan mimpi indah malam ini.

TBC.


Astaga! Ih, apa banget sih chapter ini T^T aku bener-bener bingung harus apain lagi ini ff, jadi, yeah, aku buat aja Yoongi sedikit melunak(?) lagi pula kalo dia ga lembut lembut bisa panjang deh ini ff. Aku ga berminat buat ff panjang, jadi, ya beginilah hasilnya. Mungkin besok jadi end chapter dan aku kasih side story atau epilog. Tapi kalo emang belum bisa selesai, mungkin di chapter 7 aku bakal endingin ini cerita. Dengan paksa!

Aku kasih clue nih, jadi Jungkook sama Yoongi ini udah saling suka sejak awal, bisa dilihat dari prolog kan? Cuma ya Yoongi ini si tsundere parah dan Jungkook ini orangnya emang pemberani banget. Jadi begitu lah, tipikal tsundere, bakal galak dan jahat sama orang disukai. Makin diganggu makin jengkel. Jadi begitulah. Jadi besar kemungkinan chapter berikutnya mereka sudah saling mengakui perasaan satu sama lain, yeay!

omong omong aku mau minta maaf nih, sebulan ini aku bakal sibuk jadi yeah mugkin chap akhir akhir aku bakal susah upload huhu maafkan ya :'3

Chapter 05; done!

Review please?