copyright © crownacre, 2016
CHIVALRY IS DEAD
Just cause I'm a gentleman,
don't mean I ain't taking you to bed
[[ WARNING ]]
Mengandung ucapan kasar, tindakan yang tidak pantas ditiru, dirty talk, dan mungkin hal berbahaya untuk dibaca. Jangan dibaca kalau tidak sanggup atau tidak suka, segera tinggalkan page tanpa tinggalkan komentar tidak menyenangkan setelah membacanya jika Anda tidak suka dengan alur yang saya angkat atau apapun yang saya pilih untuk cerita ini.
You've been warned!
Happy Reading!
Chapter 06
Yoongi tidak tahu soal dirinya sendiri, bertanya-tanya kenapa ia menurut saja tiap Jungkook mengetuk dinding kamar dan mengatakan untuk ke luar. Mereka akan berakhir mengobrol beberapa hal hingga banyak hal di luar, Jungkook sesekali bertanya dengan tatapan khawatir yang manis tentang apa dirinya dingin atau apa dirinya dalam kondisi tubuh lelah. Yoongi meleleh beberapa kali, merasa bodoh karena wajahnya memanas saat Jungkook mengatakan padanya untuk berhati-hati dan tetap menjaga suhu tubuh tetap hangat karena udara Seoul masih dingin sejauh ini meski siap memasuki musim semi.
"Kau terlihat sedikit gemukan," Jungkook berkomentar melihat Yoongi yang terlihat makin tembam dengan lengan yang sekarang tidak meninggalkan terlalu banyak ruang pada lengan bajunya. Sebelumnya Yoongi terlihat begitu kurus dengan pipi nyaris tirus, tapi sekarang ia terlihat lebih manusiawi meski kulitnya tetap pucat seperti mayat.
Yoongi memegang pipinya dan mengerjap, "apa itu baik atau buruk? Perlu aku mengurangi beratku?"
Jungkook terkekeh sambil menggeleng, memberi senyuman menawan setelah kekehannya berakhir. "Tidak perlu, hyung. Aku senang melihatmu lebih berisi, makin menarik untuk kupeluk dan kuciumi."
Salahkan ucapan adik tingkatnya yang benar-benar menjengkelkan itu dan cukup untuk membuatnya merona. Tidak, Yoongi tidak berniat menjadi seperti gadis di luar sana yang merona malu mendengar pujian yang dilontarkan pujaan hati—ah, apa? Pujaan hati? Oh tidak, tidak, otak Yoongi benar-benar tercemar sepertinya. "Jugulae?" Ia mendelik tajam pada Jungkook, menunjukkan sisi defensif penuh karena tidak mau terlihat seperti seorang bottom manis. "Berani memelukku dan menciumku, huh?"
"Aku berani," yang lebih muda tersenyum dengan mata melengkung sedikit. "Hujan deras kemarin ada seseorang bersembunyi di pelukanku, meremas lenganku, juga mengigit bajuku. Kalau sudah begitu kenapa aku harus takut memeluk dan menciummu?"
"H–hey!" Sekarang Yoongi benar-benar merona dengan wajah yang dipalingkan ke arah lain. Ia menatap bintang yang bergantung di langit dan rasanya sekarang jadi sangat menarik daripada wajah tampan Jungkook. "Sudahlah, aku rasa aku masuk saja. Sampai jumpa—"
"Hyung," Jungkook menyela dengan cepat dan membuat mata Yoongi terkunci dengan matanya setelah sosok itu berniat meminta izin. "Aku benar-benar ingin loncat ke sana dan menciumimu, bagaimana ini?"
"Hentikan itu," jemari Yoongi ia gunakan untuk menunjuk sosok Jungkook di seberang dengan mata penuh peringatan. "Aku hanya mengizinkanmu ke sini setelah kau mendengarku terisak kemarin, tidak untuk saat aku baik-baik saja. Pergi sana!"
Yang dituding tidak sopan itu tertawa kecil, ia mengangguk paham. "Baiklah, hyung. Sampai jumpa besok, aku tidak mau tahu kau harus mau membonceng!"
.
Jungkook sudah siap dengan semua yang ia butuhkan untuk ke kampus, menatanya di tas dan lalu bersandar pada dinding sebelah pintu apartemen Yoongi. Ia menunggu Yoongi keluar dan berniat melakukan penculikan jika sosok itu menolak ajakannya berangkat bersama seperti beberapa hari lalu.
Saat suara pintu di buka terdengar, Jungkook tersenyum cerah dan langsung berbalik untuk menatap Yoongi yang ke luar. Suara pekikan terkejut dan reaksi loncat ke belakang cukup untuk membuat Jungkook tertawa kecil melihat tingkah lucu hyung-nya. "Ayo berangkat?" Ia bersuara setelah Yoongi terlihat sepenuhnya sadar.
Yoongi mendengus kesal sambil membenarkan posisi tasnya. "Kau tahu, kau benar-benar berengsek," ia mencibir.
Jungkook mengangguk sambil tersenyum. "Dan si berengsek ini siap mengantarmu dengan selamat sampai kampus. Bagaimana?"
Tangan Jungkook yang terulur hanya dibalas dengan pukulan lirih dan lalu dirinya ditinggalkan begitu saja. Yoongi melangkah lebih dulu ke arah lift untuk segera turun. Saat tiba di depan lift ia menoleh dan menemukan Jungkook masih berdiri di tempatnya, Yoongi pun kembali mendengus. "Katanya mau mengantarku, hah?!"
Dalam hati Jungkook bersorak senang, setelah itu ia melangkah cepat agar segera tiba di sebelah Yoongi sebelum lift terbuka. "Kau menggemaskan sekali, hyung," Jungkook terkekeh sambil mengacak pelan rambut halus Yoongi setelah tiba di sebelah sosok kecil itu. Yoongi yang membiarkan sifat malu-malunya keluar memang sesuatu yang menyenangkan.
.
Selama berada di motor, mereka hanya saling diam tanpa membicarakan apapun. Jungkook sesekali bersuara, tapi jawaban Yoongi yang apa adanya membuat Jungkook akhirnya menyerah karena tidak memiliki bahan obrolan apapun untuk dibicarakan. Yoongi sendiri berpikir tidak seharusnya banyak bicara dengan orang yang menyetir, ia tidak boleh mengangguk orang yang tengah berkonsentrasi atau dirinya akan dalam posisi berbahaya karena menganggu konsentrasi.
Akhirnya mereka sampai di parkiran kampus. Yoongi meloncat turun dan segera melepas helmnya untuk ia serahkan pada Jungkook. Jungkook yang masih di motor mengerling pada uluran yang lebih tua dan bertingkah seolah dirinya tidak mengerti maksudnya. Jungkook turun perlahan setelah mencabut kunci dan mengantungkannya, setelah itu ia baru melepas miliknya dan menarik yang diulurkan Yoongi untuk digantung.
"Terburu-buru sekali," Jungkook berkomentar. Ia merangkul lengan Yoongi lalu memaksanya ikut melangkah menuju kantin. "Kalau kau lapar, biar aku traktir. Kajja!"
Karena Yoongi sudah biasa dengan sikap seenaknya yang dilakukan sosok di sebelahnya, ia pun pasrah saja mengikuti langkah Jungkook yang membawanya ke kantin. Toh dirinya lapar dan merasa bersyukur bisa dapat makanan gratis. Tahu begini dari dulu ia biarkan saja orang yang menyukainya mendekati dirinya, sudah menghemat biaya bus, juga menghemat biaya makan di kampus, bahkan terkadang ketika malam ada yang mengirim pesan mengajak makan malam bersama—siapa lagi pelakunya kalau bukan Jeon Jungkook yang mati-matian mengejar Min Yoongi yang galak.
Setibanya di kantin, Jungkook menyuruh Yoongi duduk dan menunggu dirinya di meja. Ia mengatakan akan membeli makanan siap saji yang ada di penjual langganannya dan minuman hangat untuk pagi di akhir musim dingin. Yoongi menurut saja dan memilih memainkan ponsel daripada mengelak lalu meminta untuk ikut seperti takut akan hilang.
Kembalinya Jungkook dengan nampan berisi dua minuman hangat dan satu piring berisi beberapa potong kimbap cukup untuk membuat Yoongi tersenyum cerah. Yoongi suka kimbap dan susu murni hangat, beruntungnya Jungkook membawa dua hal kesukaannya untuk sarapannya pagi ini yang gratis.
"Terima kasih," Yoongi tersenyum setelah Jungkook meletakkan susu di hadapannya dan memberikan sumpit untuk memakan kimbap. Ia terlihat begitu menggemaskan karena dengan tergesa meniup pelan sisi dari susu di tangannya lalu meminumnya perlahan karena masih panas. Dalam hati Yoongi bersyukur banyak karena rasa menyenangkan yang masuk ke dalam perutnya melalui tenggorokan.
Jungkook diam memperhatikan Yoongi yang terlihat begitu indah layaknya syakir, merasa senang karena ternyata memilih susu murni bukan sesuatu yang salah karena reaksi manis seperti beberapa hari lalu saat ia diam-diam memperhatikan pesanan apa yang Yoongi suka terulang kembali. Benar dugaannya tentang Yoongi suka susu, jadi ia berpikir ia perlu terus membawa Yoongi ke kantin dan memberi susu padanya agar si manis ini sungguhan bersikap manis.
"Makan kimbapmu," ia mengulurkan satu kimbap untuk dimakan Yoongi karena menyadari sang hyung daritadi sibuk mengagumi rasa susu dan merasa jengkel karena ia yang sudah menghabiskan tiga potong sementara orang yang ingin ia bahagiakan belum sedikit pun memakannya.
Wajahnya terlihat menggemaskan saat memasukkan kimbap suapan Jungkook ke dalam mulutnya dan tertawa kecil menyadari tingkahnya tadi yang mengabaikan makanan membuat wajah Jungkook berubah kusut. Ia senang melihat adik tingkatnya jengkel karena akhirnya ia tahu bahwa Jungkook sangat mudah jengkel ketika ada seseorang yang membuat rasa khawatirnya terusik—kadang Yoongi akan melakukan hal berbahaya agar wajah ditekuk Jungkook keluar sekali lagi. "Enak!" Yoongi berkomentar setelah menelan kimbapnya. "Apa lagi ini gratis."
"Tsk," Jungkook mendengus jengkel, "sekarang makan kimbapmu dan minum susumu nanti setelah dingin. Jangan seperti anak kecil yang perlu didekte!"
Yoongi tertawa kecil, "jangan seperti orang tua yang suka mengatur."
"Kenapa jadi kau yang menjengkelkan dan aku yang suka jengkel, hyung?"
"Nan gwiyomi," Yoongi membuat pose sok imut yang lucu dengan gigi atas yang terpamerkan sempurna dan mata lenyap hingga menjadi dua bulan sabit. Ya, mau bagaimana lagi, Yoongi memang terlihat menggemaskan sekarang, jadi Jungkook hanya mengangguk pasrah dan setuju pada pernyataan itu.
.
Lagi-lagi mereka mengobrol satu sama lain di balkon. Jungkook meminta Yoongi ke luar dengan melempar kerikil pada pintu kaca apartemen Yoongi dan membuat sosok pemiliknya ke luar dengan wajah jengkel yang manis. Ia meminta hyung-nya itu ke luar karena tadi saat di kampus setelah makan pagi Yoongi langsung berpisah dan sepulangnya mengatakan perlu menyelesaikan rapat juga memberi tahu bahwa sebaiknya Jungkook pulang saja karena rapat terkadang selesai pukul delapan malam. Jungkook sendiri menunggu sampai malam dan tersenyum cerah setelah menyadari suara berisik nyanyian itu berasal dari apartemen sebelah.
"Hai," Jungkook menyapa dengan senyuman bodoh yang entah kenapa justru terlihat begitu manis.
Yoongi di seberang masih dengan rambut basah dan tangan sibuk mengeringkan rambut dengan handuk mengangguk garing, ia memberi senyuman tipis dan kembali sibuk pada rambutnya. "Aku sibuk, ada apa?" Ia bertanya setelah Jungkook sepertinya tidak berniat mengatakan apapun.
"Kau seksi malam ini," ia terkekeh saat menyadari kalimatnya membuat sosok di seberang sana mendelik jengkel dengan tatapan mematikan yang manis. "Jangan keringkan rambutmu, kaos putihmu yang basah—"
"Heh, bocah berengsek," mata sipit itu menatap tajam Jungkook dengan tangan berhenti menggosok rambutnya, tetesan air di rambut yang basah pun mulai membuat aliran air di baju putih tipis yang menarik perhatian Jungkook sejak tadi. "Kau menginginkanku, huh?"
"Uh—," Jungkook menatap bingung sambil mengerjap beberapa kali. Ia merasa pertanyaan Yoongi yang baru saja sedikit ambigu. "Maksudmu?"
Yoongi terkekeh sambil tersenyum tipis, ia menurunkan handuknya dan membiarkan bekas basah membuat bajunya menempel dengan tubuhnya. "Kau tahu password apartemenku, 'kan?"
Sosok yang lebih muda mengangguk kecil dengan wajah blank yang lucu. "Ya… lalu?"
Yang lebih tua memiringkan kepala sambil memberi senyuman miring. "Tidak berminat masuk? Bukannya kau menginginkanku?" Dan setelah itu ia melambaikan tangan pada Jungkook untuk masuk ke dalam.
Jungkook awalnya bingung setengah mati, merasa kehilangan arah mendadak karena pertanyaan luar biasa mengejutkan dan benar-benar ambigu dari sosok Yoongi di seberang sana. Tapi saat otaknya mencoba berpikir positif, ia justru dengan semangat menggebu melangkah lebar menuju apartemen Yoongi untuk menemui sosok yang ia lihat tadi. Setidaknya untuk memastikan bahwa pemikiran dengan penafsiran negatif itu salah besar.
"Woah," orang di kasur yang tengah duduk mengeringkan rambut itu menatap takjub Jungkook, memberi tatapan berbinar yang priceless melihat adik tingkatnya ada tepat di ambang pintu kamar. "Kau datang?" Ia bertanya sambil tersenyum tipis.
"Jelaskan padaku," suara Jungkook tertahan melihat Yoongi yang kini menatapnya dengan tatapan menggoda—tidak Jungkook, itu hanya imajinasimu. Ia menarik napas sebelum berbicara, "jelaskan padaku apa maksud dari menginginkanmu, hyung?"
Yoongi tertawa kecil sambil meletakkan handuknya, ia kemudian melangkah menghampiri Jungkook yang sejak tadi melangkah mendekat padanya. Ia mendongak dan menatap Jungkook beberapa lama tanpa melepaskan senyuman berbahayanya. "Perlu aku jelaskan? Aku pikir otakmu sudah menyimpulkan sesuatu di sana."
"Hyung…," Jungkook menatap Yoongi skeptis dengan mata menajam yang lucu. "Apa yang salah denganmu, hyung?"
"Tidak ada," Yoongi terkekeh kecil untuk sekedar menghilangkan canggung.
Tapi sepertinya kekehannya harus berhenti karena tiba-tiba tubuhnya terhempas ke kasur dan Jungkook memberi tatapan tajam yang mengerikan.
"Min Yoongi, kau gila?" Mata itu menajam dengan rahang mengeras. "Aku tidak ingin memainkan dirimu, tapi kenapa sekarang justru kau yang—"
"Kita main bersama saja," mata sipit itu mengerjap penuh godaan. "Keberatan?"
Jungkook mendesis, "Hentikan itu! Aku bisa tiba-tiba saja menjatuhkan diri dan—akh!" Ia terjatuh menimpa tubuh Yoongi karena bajunya yang ditarik kuat.
"Kau berisik," sosok yang tertimpa itu menyeringai dengan mata menyabit yang manis bercampur seksi. "Bisa aku menyumpalnya?"
Mereka berakhir dengan ciuman penuh gairah dengan Jungkook yang menahan punggung serta tengkuk Yoongi, terus memperdalam ciuman sampai dagu Yoongi basah dan wajah memerah padam hingga telinga. Ia mengabaikan pekikan meminta napas dari Yoongi karena apa yang ia lakukan hanya memundurkan wajahnya beberapa detik lalu menyahut kembali bibir tipis itu. Terus begitu sampai akhirnya Jungkook berhenti, mengeluarkan lidahnya dari mulut Yoongi yang masih ada rasa pasta gigi di dalam sana.
"Siapa yang ingin menyumpal mulutku tadi?" Jungkook memberi tatapan meremahkan pada Yoongi yang kini sibuk mengatur napas dengan mulut terbuka membiarkan beberapa saliva pertukarannya dengan Jungkook tadi menetes ke luar.
Yoongi tertawa kecil dengan napas yang lemah, matanya menatap sayu Jungkook. "Aku tidak keberatan mandi sekali lagi malam ini."
"Hyung," suara Jungkook menjadi lebih rendah dari biasanya. Matanyanya yang hampir tiap hari berkilat jenaka dan menjengkelkan kali ini jadi lebih berbahaya dan penuh peringatan. "Aku tidak berani jamin kita akan sempat mandi—"
"Kalau begitu tidak perlu mandi lagi."
Mereka diam sejenak dengan Jungkook yang terkesima dan Yoongi yang memberi senyuman mantap. Mata sipit itu menatap meyakinkan pada yang lebih tinggi dengan tatapan sangsi, memberi senyuman tipis sebagai imbuhan untuk tatapannya.
Terus seperti itu sampai tiba-tiba tangan Jungkook berada pada pinggang sempit Yoongi yang hanya terbalut kaos putih tipis dan karet dari celana yang ia kenakan. Yoongi terkesiap dengan mata melebar, tangannya secara reflek meremas lengan kekar yang kedua tangannya berada pada pinggangnya.
"Kau yang menyerahkan diri," wajah yang awalnya blank itu pun berubah menjadi seringaian. "Jadi aku tidak akan menolak pemberianmu."
Jungkook mengiring tubuh Yoongi untuk berbaring dengan posisi lebih nyaman, membuat tubuh kecil itu tenggelam di bawah dirinya. Yoongi membiarkan yang lebih muda berada di atas, bahkan membiarkan tangan yang awalnya di luar itu masuk ke dalam bajunya untuk mengelus kulit pada bagian dada dan punggungnya bergantian. Rasanya lembut dan panas, masih tersisa jalur di mana Jungkook menyentuh kulitnya dengan rasa terbakar di sana.
Yoongi mengerang tipis dengan tatapan sayu saat jemari Jungkook tiba pada dadanya, melakukan gerakan ringan pada tonjolannya dan memilinnya untuk sekedar memberi godaan. Mereka mendesah lirih merasakan gerakan Yoongi membuat milik mereka bertempelan dan bergesekkan.
Saat tangan Jungkook berhasil sampai di celana Yoongi dan siap membukanya, tangan kurus Yoongi yang bergetar meremas lengan yang di atas.
Jungkook memberi senyuman saat menyadari tatapan Yoongi kini penuh dengan keraguan, bibirnya melengkung indah sekedar untuk memberi penenang pada yang di bawah. "Semua akan baik," bisiknya pelan dan segera menurunkan celana yang digunakan Yoongi perlahan.
Melihat tatapan lembut yang diberikan Jungkook, ia pun mengangguk dengan tatapan lebih tenang daripada sebelumnya. Ia membiarkan tangan itu menanggalkan yang ia kenakan dengan kepercayaan penuh pada sosok yang menindihnya.
Melihat Yoongi tanpa sehelai benang pun dan wajah memerah padam karena malu cukup untuk membuat Jungkook mengerang gemas, merasa seperti baru saja menelanjangi adiknya yang ada di Busan karena tidak mau mandi—bedanya adiknya akan memerah karena jengkel dipaksa mandi, bukan karena ditelanjangi untuk disetubuhi.
"Bolehkah?" Jungkook meminta izin dengan wajah tenang yang tampan, matanya tetap menatap lembut wajah putih Yoongi.
Yoongi mengangguk sambil memberi senyuman tipis dengan mata yang tersisa segaris, remasan pada lengan Jungkook melemah dan berubah menjadi elusan lembut.
Mendapat lampu hijau, Jungkook pun melanjutkan kegiatannya. Ia ganti membuka bajunya sendiri dan menyusul Yoongi yang telanjang. Mereka tersenyum tipis saat melihat diri masing-masing yang sudah tidak memakai apa-apa lagi.
Jungkook bergerak cepat dengan memberi kecupan pada wajah putih Yoongi dengan jemari bergerak aktif pada kulit yang kini sudah tidak tertutupi apapun lagi. Saat tiba di bibir tipis yang masih basah karena ciuman beberapa menit lalu ia kembali melahap bibir itu, menyesap habis rasa manis yang ada di sana dan membuat bentuknya makin membengkak karena tiap sesapannya ia imbuhi dengan gigitan.
Dengan desahan tertahan Yoongi mencakar pelan lengan Jungkook, ia mengerang tipis karena jemari Jungkook kini sibuk bermain pada pantatnya bahkan melakukan gerakan nakal pada belahan pantatnya untuk sekedar memberi godaan. Mata Yoongi berkabut dengan banyak air mata di sana, terlalu menikmati perlakuan Jungkook. Apalagi saat Jungkook berpindah pada lehernya dan mulai bergerak memasukkan jari ke dalamnya. Ia memekik dan memejamkan mata, membiarkan air matanya lolos begitu saja karena rasa menyenangkan yang mengisi dirinya dan membuat tubuhnya panas.
"K–Kook—ahh," Yoongi memanggil sambil bergerak gelisah saat Jungkook menambah satu lagi jari ke dalam dirinya. Gerakan pelan yang Yoongi berikan justru membuat Jungkook menekan lebih dalam miliknya, membuat suara desahannya justru bertambah keras dengan air mata lebih banyak menetes.
Yoongi suka, begitu pula dengan Jungkook. Mereka menikmati bagaimana perlakuan dan reaksi yang diberikan masing-masing mereka, menyukai bagaimana gairah mereka makin terpacu setelah makin jauh dan mendekati inti permainan mereka.
"Argh—Jungkook!" Ia berteriak saat Jungkook dengan tanpa aba-aba menambah satu lagi jarinya, membuat tiga jari memenuhi dirinya hingga gerakannya begitu menyiksa dinding lubangnya. Ia mengerang sambil mencakar bahu telanjang Jungkook, meninggalkan beberpaa jejak goresan kuku di atas kulit Jungkook.
"Ssht," Jungkook mendesis pelan sambil memberi aba-aba untuk tenang, bibir dan lidahnya yang tadi bergerak nakal pada dada Yoongi berhenti lalu berpindah pada wajah basah Yoongi. Ia mendaratkan banyak kecupan juga beberapa kalimat penenang tiap cakaran pada kulitnya makin dalam, tangannya yang bebas pun mulai bekerja untuk mengelus rambut halus Yoongi yang lembab karena keringat. "Kita bisa berhenti—"
Yoongi menggeleng keras saat Jungkook bergerak menarik ke luar jari dari dalam dirinya, ia menatap sayu yang di atasnya dengan mata berkaca dan menambah senyuman sederhana di matanya. "Lanjutkan, kau bisa masuk," suaranya serak karena sibuk mengerang dan berteriak sejak tadi.
Jungkook mengangguk dan mencium lama kening sempit Yoongi. Ia memposisikan dirinya di depan Yoongi untuk masuk, gerakannya pelan sekedar untuk memberi tahu tubuh yang lebih tua bahwa ia akan masuk. Saat merasa siap, ia mulai masuk perlahan. Suara erangan tertahan dan cakaran pada kulitnya kembali datang, membuat dirinya makin sulit menahan diri untuk bergerak perlahan. Saat seluruhnya masuk, mereka mendesah keras bersamaan dengan pemikiran kosong karena rasa nikmat.
Jungkook diam beberapa saat, membiarkan Yoongi merasa lebih baik dengan dirinya. Hingga Yoongi bergerak kecil, Jungkook pun mulai bergerak perlahan. Mereka mendesah dan mengerang bersama, menikmati bagaimana tubuh mereka menyatu. Ia memberikan beberapa kecupan pada wajah Yoongi, juga mengurus miliknya yang menegang untuk bisa mencapai puncak bersama.
"Kook–ah," Yoongi memanggil saat merasa dirinya sudah dekat. Miliknya sudah mengeluarkan beberapa cairan kenikmatannya di tangan Jungkook yang memainkan miliknya, tangannya sendiri sibuk meremas lengan yang di atas karena sebentar lagi sampai.
"Nado," Jungkook berbisik saat miliknya pun sudah mengeluarkan sedikit cairannya hingga gerakkannya jadi makin licin. Ia menekan terus titik manis Yoongi dan membuat suara desahan Yoongi makin ribut.
Saat dengan tepat Jungkook menekan titik Yoongi keras, teriakan nyaring dan tangan yang basah cukup untuk menjelaskan bahwa Yoongi sudah sampai. Jungkook menyusul saat merasakan jepitan karena keluarnya Yoongi yang membuatnya tidak bisa menahan miliknya lagi, ia keluar di dalam hingga lubang itu penuh dan membiarkan beberapa cairan meleleh ke luar karena penuh.
Jungkook menjatuhkan dirinya ke sebelah Yoongi, memeluk tubuh kurus yang penuh dengan peluh. Ia tersenyum, memperhatikan wajah di hadapannya yang terpajam mengatur napas. Indah sekali.
"Aku mencintaimu, hyung," Jungkook berbisik.
Yoongi terlihat memberi senyum tipis dengan mata mengerling pada yang lebih muda. Ia mengangguk kecil, "aku juga."
FIN.
Serius ini berakhir! Oh, kalian jangan kaget ya(?) aku di chapter sebelumnya sempet bilang ini bakal end di chapter ini kan? Ya, karena aku pikir mereka ga perlu lama lama hide and seek gitu. Kalo kalian ngerasa ini kecepatan, biar aku jelasin. Mungkin aku salah dalam penjelasan jadi kalian bingung(?)
Begini, jadi Yoongi sejak awal udah tertarik sama Jungkook (kalau enggak salah di prolog aku udah ceritain itu, 'kan?) tapi dia kesel karena kelakuan Jungkook yang seenaknya (emangnya kalian mau diperlakuin seenaknya sama orang yang kalian suka? Engga kan wkwk) jadi dia galak sama Jungkook.
Dan di chapter sebelum ini, ada adegan Jungkook nahan Yoongi masuk dan mau bilang sesuatu. Di situ Yoongi kan langsung nyela macam engga mau denger tuh, di situ sebenernya Yoongi udah tau Jungkook bakal nyatain cinta jadi dia pamit masuk ke apartemennya.
Trus kenapa di sini Yoongi di sini tawarin dirinya? Yak arena Yoongi sejak awal emang tertarik sama Jungkook dan dia enggak punya ide lain buat kasih tau dia suka Jungkook pake cara apa, jadi dia serahin diri itu maksudnya kasih tau Jungkook kalau dirinya udah sepenuhnya percaya sama Jungkook. Begitulah.
Baiklah! Mungkin cukup, kan?
Terima kasih untuk kalian semua yang bersedia baca dan tinggalkan review, pun nungguin chapter perchapter padahal aku updatenya enggak bener-bener cepet, kan? hahahaha
Ini bener-bener pengalaman hebat! 100 komentar lebih dan fav+foll lebih dari 30! Terima kasih banyak! Aku bener-bener enggak bayangin bakal dapet segitu, tapi ternyata aku bisa. Makasih banyak! :))
Chivalry Is Dead jadi fiksi keduaku yang selesai dengan tanggapan yang bikin aku selalu semangat, terima kasih banyak buat kalian semua! Saranghae! Terima kasih banyak buat kritik dan saran yang masuk, aku bakal perbaikin semuanya di fiksi berikutnya yang aku usahakan lebih baik.
Aduh aku enggak rela lepasin ini ff, tapi baiklah, kita bakal ketemu di ff lain, sampai jumpa! Sampai jumpa di fiksi Jungkook–Yoongi atau siapa aja di fiksi yang lain! Seneng bisa jalanin ini sampe akhir. Terima kasih!
