The Marriage
.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typo's as always, OOC, and many more.
Pairing: SasuSaku
.
If you don't like it, don't read. You can leave the page. I warn you before.
.
.
.
"Dia sudah hamil."
Sedotan berwarna putih panjang itu berhenti berputar acak dari minuman bersoda hitam pada gelas kaca berkaki tinggi di atas meja. Mata kelam yang sedari tadi tertunduk menatap kosong gelas tersebut mulai menatap depannya penuh selidik. Membuat wanita berkacamata yang berbicara panjang lebar sejak tadi mendengus.
"Kau tidak mendengarkanku."
Bunyi decitan kursi bergerak terdengar. Lelaki itu menghempaskan punggung lebarnya kasar. Melipat kedua tangan kekarnya di depan dada. Matanya masih sama. Menatap penuh selidik.
"Hn. Aku mendengar."
Helaan napas terdengar. "Coba kau ulangi perkataanku tadi."
"Dia hamil."
Senyum kecil terlihat. Wanita itu meminum sedikit minuman yang dipesannya dan mengaduk-aduk kecil. "Kau bahagia."
Mata kelam lelaki itu berputar. Memandang ke arah lain. Manapun asal tidak menatap mata merah milik wanita yang sedang duduk di depannya sambil menahan senyum.
"Kau tahu itu."
Wanita itu tertawa lebar. "Oh, ayolah, Sasuke. Apalagi yang ingin kau sembunyikan dari sahabatmu ini?"
Lelaki itu tersenyum tipis sebagai respon.
"Aku secara diam-diam menyuntikkan cairan milikmu ke perutnya dua minggu yang lalu saat ia datang berkunjung untuk memeriksakan kondisinya yang kurang membaik waktu itu," mata merah milik wanita berkacamata itu memutar jenaka. "Oh, dan satu lagi, kau bahkan rela menghabiskan berjuta-juta uang milikmu hanya demi wanita itu. Di mana pikiran warasmu?"
Lelaki itu kembali menegakkan punggungnya. "Hn. Apapun. Demi dia. Hanya ini yang bisa ku lakukan."
"Aku mengerti," wanita itu tersenyum manis. "Kau mencintainya."
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak melebihi batas aturanmu."
Wanita itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Pertanda menyerah karena kalimat yang dilontarkan lelaki di depannya.
"Baiklah. Aku sudah melaksanakan tugasku. Menurut kedokteran, janin akan berkembang dalam rahim sekitar 3-4 hari. Dan Sakura sudah melewati tahap itu. Kemarin saat kunjungan terakhir ia ke rumah sakit, sudah ada pergerakan janin dari dalam perutnya dan aku menyimpulkan ia sudah positif hamil. Ku rasa ia hanya belum merasakannya. Lagipula, rahimnya sudah sembuh total semenjak kecelakaan beberapa tahun lalu."
Sasuke mengangguk mengerti. Ia mengambil jas kerjanya yang tergeletak di atas meja dan mengeluarkan kertas berwarna merah dengan pelan.
"Cek untukmu. Aku sudah menuliskan nominalnya. Aku tidak menerima penolakan. Terima kasih, Karin. Aku pergi."
Karin menghela napasnya kasar. Sasuke meninggalkan cek bernilai besar di sana. Ia melirik cek tersebut dengan malas dan kemudian meminum minumannya dengan kesal.
.
.
Sakura termenung di balkon apartemen miliknya. Mata hijaunya menatap kosong pada bulan purnama yang bersinar terang dari atas langit Tokyo. Seakan mengejek dirinya kalau ia baru saja tertimpa masalah besar. Oh, Tuhan apa yang harus dilakukannya?
"Dengarkan kata Ayah. Jangan coba-coba untuk mendekati Uchiha Sasuke. Hidupmu akan hancur berantakan jika kau berdekatan dengan dirinya."
Kalimat peringatan sang ayah dua tahun lalu terus menghantui pikirannya. Ia tak mengerti mengapa sang ayah bisa berkata seperti itu pada dirinya. Dan sekarang dirinya sedang mengandung anak pemuda itu.
Yang Sakura tahu perusahaan milik keluarga Uchiha dan perusahaan miliknya sudah menjadi rival sejak dirinya masih kecil. Ia tak tahu masalah apa yang membuat hubungan mereka renggang hari ke hari. Toh apapun itu Sakura tidak peduli.
Lengannya terulur untuk mengelus perutnya yang masih rata. Ia sudah meminum obat yang diberi resep oleh Karin dan itu berhasil mengurangi rasa mualnya. Setidaknya obat itu bermanfaat untuk sementara waktu ini.
"Apa yang harus aku lakukan…" gumamnya sendu.
.
.
Sakura melangkahkan kakinya pada gedung besar bertingkat milik Uzumaki Naruto. Pesan mendadak yang diberikan Kurenai lah yang mengantarkannya sampai di sini. Sakura merapikan jas merah miliknya dan menggenggam tas berwarna putih miliknya erat. Kaki jenjangnya melangkah cepat melalui beberapa pegawai dan membawanya menuju ruang pertemuan.
Sakura tersenyum ramah pada anggota saham yang menyapanya. Ia menghela napas lega. Ia datang tepat waktu. Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan mendapati sang pimpinan, Uzumaki Naruto sedang tersenyum lebar ke arahnya.
"Selamat pagi, Sakura-chan. Kau terlihat cantik hari ini."
Sakura tersenyum tipis dengan rona merah di kedua belah pipi ranumnya. Membuat cengiran Naruto semakin lebar terlihat. Suara deheman dari pria berambut hitam membuat seisi ruangan kembali hening. Sakura dan Naruto menolehkan kepala mereka secara bersamaan dan mengamati ketika pria itu mulai berbicara mengenai berita saham terbaru yang akan di laporkan.
.
.
"Berkunjunglah ke rumahku lagi, Sakura-chan. Hinata merindukanmu!" seru Naruto keras sambil tertawa lebar.
Sakura tertawa sebagai respon. Ia meninju pelan bahu lebar Naruto. "Tentu saja! Kapan aku bisa ke sana?"
"Kapan pun kau mau! Hinata dan aku akan selalu menyambutmu."
Sakura tersenyum hangat. Ia melirik jam tangan berwarna perak miliknya dan kembali menatap Naruto.
"Aku harus kembali ke kantor. Masih ada urusan yang belum ku selesaikan, Naruto."
Naruto tersenyum membalas perkataan Sakura. "Baiklah, semoga harimu menyenangkan, Sakura-chan! Terima kasih sudah hadir pada rapat kerjasama antar perusahaan kita. Mungkin lain waktu kita bisa meluangkan waktu bersama untuk sekedar makan siang?"
"Tentu! Aku akan mengatur waktunya," Sakura tertawa. "Sampaikan salamku pada Hinata dan putramu, Boruto. Aku merindukan mereka berdua. Jaga dirimu baik-baik, Naruto. Sampai jumpa." Sakura melambaikan tangannya dan kemudian bergegas pergi. Meninggalkan Naruto yang balas melambaikan tangannya dan berbalik pergi menuju ruangannya.
Sakura menatap lurus pada lantai gedung di depannya. Mata hijaunya masih setia memandang depan ketika ia menangkap ada sosok lain yang juga sedang melangkah berlawanan arah dengannya. Dia Uchiha Sasuke.
Sakura hendak membalikkan tubuhnya memutar tapi ia tak bisa. Tidak. Sasuke tidak boleh tahu mengenai hal ini. Belum. Sakura masih belum bisa memberitahukan yang sebenarnya terjadi. Dengan tarikan napas cepat, Sakura melangkahkan kakinya dengan santai melewati tubuh Sasuke yang juga melewati tubuhnya. Tak ada yang saling menyapa satu sama lain. Mereka seakan berfokus pada dunianya sendiri. Sasuke melewati dirinya begitu saja seakan tidak pernah terjadi apa-apa, begitu pula dengan dirinya.
Sakura menghentikan langkahnya ketika lima langkah lagi lift di depan matanya. Ia menghela napas perlahan. Sasuke sudah berjalan melewatinya dan itu pertanda bahwa mereka baik-baik saja. Masih tetap sama. Tidak ada apapun yang terjadi.
Kakinya kembali melangkah ke depan. Tidak memperdulikan keadaan di belakangnya. Ia menekan tombol lift untuk membawanya ke lantai dasar. Pintu lift terbuka. Hanya ada dirinya seorang di sana. Ia kemudian masuk dan memutar tubuhnya. Lengannya terulur untuk menekan tombol lift di dalam dan kemudian mata hijaunya melihat dengan jelas bahwa Sasuke sudah berbalik dan kini menatap dirinya dari kejauhan. Oh, dengan wajah angkuhnya ia menekan tombol lift cepat dan pintu lift tertutup rapat, membawanya menuju lantai dasar. Ia bisa melihat mata kelam lelaki itu menatap tajam padanya. Seakan penuh selidik dan ia tak menyukainya!
Sakura menekan tombol dari kunci mobil yang di genggamnya dan kemudian masuk ke dalam mobil itu lalu pergi meninggalkan gedung besar milik Uzumaki.
.
.
"Kau masih belum berkata yang sejujurnya pada Sasuke, Sakura?"
Sakura menggeleng lemah pada Ino yang menatap tajam dirinya. Tatapan dari biru laut itu menyiratkan kekesalan luar biasa yang sedang dipendam Ino dalam-dalam.
"Bodohnya dirimu, jidat! Kenapa kau tidak bilang yang sebenarnya?!" suara Ino naik menjadi dua oktaf. Membuat Sakura harus menutup telinganya rapat-rapat.
"Kau datang lalu mengacau di kamarku. Kau yang bodoh!" suara Sakura tak kalah tajamnya membalas Ino yang sedang duduk bersila di depannya.
Ino menghela napas lelahnya. Ia akan kalah berdebat kali ini. Bawaan hormon dari wanita hamil memang luar biasa. "Oke. Aku minta maaf," suara Ino mulai melembut. "Kenapa kau tidak berkata yang sejujurnya, Sakura? Kalian bisa menyelesaikan masalah ini baik-baik jika Sasuke mengetahuinya."
Sakura menggeleng lemah sebagai jawaban. "Ketika aku tahu aku hamil, aku memang langsung ingin bertemu dengan Sasuke. Tapi aku tidak bisa, Ino. Ia dan aku tidak berhubungan dekat. Hubungan kami hanya sebatas teman kantor karena perusahaan kami yang bekerjasama dan sisanya ia tetap musuhku," suara Sakura kian melemah. "Lalu aku kembali ke apartemen dan mengecek kasur tempat tidurku. Tidak ada bekas dari percintaan kami setelah aku mabuk. Masih bersih seperti sebelumnya. Aku merasa kalau kami tidak berhubungan badan. Dan tentang kehamilanku, aku masih belum tahu."
Ino bergerak mendekati Sakura yang tertunduk menahan tangis. Kedua lengannya terulur untuk memeluk sahabat merah mudanya dengan erat. Sakura dalam keadaan lemah saat ini. Tanpa ada kedua orang tuanya yang mendampinginya. Sakura sudah hidup mandiri sejak berumur 17 tahun. Dan itu berhasil membangun pribadi dirinya menjadi lebih kuat dan mandiri. Ino tahu benar hal itu. Tetapi, wanita tetaplah wanita. Mereka mempunya sisi dimana titik jenuh akan segala hal memuncak, dan Sakura sedang mengalaminya.
"Aku selalu di sini, Sakura. Menangislah." Lengan Ino mengelus lembut punggung mungil Sakura yang mulai bergetar seiring dengan kuatnya pelukan di pinggangnya. Sakura mulai menangis. Ino mengeratkan pelukannya. Menunggu hingga Sakura sudah benar-benar berhenti menangis baru ia akan berbicara kembali.
"Besok akan ku temani kau ke dokter kandungan. Bagaimana?"
Sakura mengangkat kepalanya dari dada Ino dan mengelap air matanya kasar. Mata hijaunya masih basah akan air mata dan bekas jejak air mata itu masih jelas terlihat.
"Karin?"
Ino menggeleng cepat. "Bukan. Aku punya teman, ia adalah dokter kandungan terbaik di Tokyo. Mungkin besok kita bisa memeriksakan kondisimu." Ino tersenyum tipis di akhir kalimat.
"Benarkah?"
Ino mengangguk. "Tentu! Jika kau bersedia, malam ini aku akan menghubunginya dan meminta waktunya untuk memeriksakanmu."
"Aku mau, Ino. Terima kasih!"
Sakura memeluk erat sahabatnya dan dibalas pelukan tak kalah eratnya dari Ino. Mereka berdua berpelukan lama dan tertawa ketika Ino menghiburnya dengan candaan konyol wanita itu.
.
.
Sakura merapikan rambut panjangnya dengan cepat. Hari ini ia akan bertemu dokter yang diberikan saran oleh Ino. Dan mungkin dokter itu bisa membantunya menemukan solusi yang terbaik jika ia benar-benar hamil.
Sakura meminum pil yang diberikan Karin beberapa waktu lalu. Masih tersisa tiga pil lagi. Itu artinya mual hebat akan kembali menyiksa tubuhnya.
Jas putih miliknya dibiarkan tergeletak begitu saja di sofa ruangan. Meninggalkan ruangan kerja, ia melangkah menuju mobilnya memalui lift gedung. Ia melirik jam tangan sekilas, pukul sembilan pagi. Masih ada waktu satu jam untuk berkonsultasi lebih banyak lagi pada dokter itu nanti. Sakura sudah mempersiapkan semua pertanyaan yang akan ia tanyakan pada dokter anjuran Ino ini.
Langkahnya terhenti di depan pintu utama besar gedung miliknya. Mata hijaunya melebar terkejut mendapati Uchiha Sasuke berdiri dengan punggungnya bersandar pada mobil hitam bermerk yang hanya dimiliki satu-satunya oleh lelaki tampan tetapi minim ekspressi ini.
Mata kelam Sasuke memutar dan ia melihat dengan jelas tubuh mungil Sakura mematung di depan pintu masuk gedung. Ia menyeringai sekilas ketika mata hijau itu berbalik memandangnya terkejut. Oh, Sakura apalagi yang ingin kau sembunyikan dari lelaki ini, hm?
Tubuh kekarnya menegak. Berjalan mendekati tubuh Sakura yang masih setia membeku di sana. Senyum mengejek andalannya masih terpasang dengan setia di bibirnya. Sakura akan bertekuk lutut kali ini.
"Jangan mendekat!" desis Sakura tajam saat tubuh Sasuke sudah berjarak beberapa meter dari tubuh mungilnya.
Sakura melangkah mendekati Sasuke yang berdiri dekat pintu masuk gedung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Para pegawai yang lalu-lalang masih sibuk dengan kegiatannya. Tidak memperhatikan kegiatan pimpinan tertinggi mereka.
"Sedang apa kau di sini?"
Sasuke mengangkat alis satu tak mengerti. Sakura menaikkan nada suaranya lebih kencang dari sebelumnya. "Mau apa kau di sini? Ada masalah apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Sasuke menggeleng cepat sebagai jawaban. "Hn. Tak ada. Hanya ingin menanyakan sesuatu padamu."
Sakura mengerutkan dahi tak mengerti. "Apa?"
Sasuke hendak berbicara sedikit lagi saat teriakan Ino yang memekakkan telinga berhasil menghentikannya.
"Sakura!" Sakura memutar pandangannya pada punggung belakang Sasuke. Di sana, Ino sudah berdiri sambil melambaikan tangannya ke atas dengan riang.
Sakura kembali memutar mata hijaunya dan beralih menatap Sasuke yang kini berubah menatapnya dingin. Oh, Sasuke. Ada apa dengan lelaki ini? Sakura tersenyum kecil. "Kita bisa melanjutkan pembicaraan ini lain waktu. Aku harus pergi. Maaf Sasuke. Permisi." Sakura berlari kecil menyusul Ino di halaman gedung dan pergi bersama menaiki mobil putih yang dikendarai Ino.
Sasuke memutar tubuhnya. Memandang mobil putih itu hingga keluar dari halaman gedung. Mata kelamnya menatap tajam pada mobil putih itu. Ia kemudian menolehkan kepalanya ke kanan dan mendapati ada pandangan memuja dari pegawai Sakura yang sedang menatap dirinya. Seakan ingin menelanjanginya saat ini juga. Ia mendengus dan berlari kecil ke mobil miliknya. Menyalakan mesin dan menyusul mobil putih yang pergi mendahuluinya.
.
.
Sakura memeluk tubuh mungilnya kencang. Saat ini ia berada di dalam ruangan bernuansa putih milik dokter bernama Kabuto. Dokter kandungan terbaik di Tokyo sekaligus teman dari sahabatnya, Ino. Dokter yang identik dengan kacamata ini sedang menatapnya serius. Lidahnya terasa kelu. Tidak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun untuk membalas perkataan dokter muda tersebut.
Dirinya benar-benar positif hamil.
Dan ini adalah anak dari Uchiha Sasuke.
Kenapa dirinya sudah berpikir ke arah sana? Benarkah Sasuke sudah menghamilinya?
Sakura tersenyum tipis ketika dokter ramah itu tersenyum ke arahnya. Segudang pertanyaan yang tercatat rapi di otaknya hilang sudah. Kata-kata pasti dari dokter Kabuto berhasil membuyarkannya. Sakura sudah tidak bisa membantahnya lagi.
Dokter ini bahkan memeriksa kandungannya memakai alat pendeteksi kehamilan. Dan di sana ia melihat jelas di dalam rahimnya ada janin yang sedang tumbuh. Itu artinya, perutnya akan semakin besar hari ke hari. Oh, Tuhan apa yang harus ia lakukan? Apa yang akan ia katakan nanti pada orang tuanya? Pada Sasuke?
Sakura menyambut genggaman hangat dari Ino saat tubuhnya di bawa keluar dari ruangan dokter itu hati-hati. Sakura memaksakan diri untuk berdiri. Melepas uluran lengan Ino yang menempel di pinggangnya.
"Aku masih bisa berjalan Ino," kekeh Sakura. "Kau pikir aku dalam masalah besar, hm? Tenang. Aku bisa mengatasinya."
"Kau yakin?"
Sakura mengangguk mantap. "Tentu!"
Mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu keluar rumah sakit. Sakura berjalan di belakang Ino yang lebih dulu berjalan di depannya. Kepala merah mudanya mendongak, melihat dengan jelas sosok Sasuke yang sedang menunggunya di depan pintu masuk rumah sakit. Ia hendak menghindar ketika lengan kekar itu menahan lengannya dan memegangnya kuat. "Ikut aku."
Sakura seperti diseret secara paksa jika di lihat seperti ini. Ino yang mengetahuinya langsung berlari mengejar Sakura ketika wanita itu dibawa masuk ke dalam mobil Sasuke dan melesat pergi melewati halaman rumah sakit.
"Sial!"
Ino berlari menuju mobil miliknya dan mengejar mobil hitam itu dnegan kecepatan tinggi.
.
.
Sasuke melirik spion mobilnya. Ino mengejarnya. Ia memutar kemudi melewati gedung-gedung tinggi untuk mengalihkan perhatian Ino. Dan berhasil, wanita itu tidak berbelok mengikutinya. Mobil itu melesat jauh lurus ke depan. Ino berhasil dialihkan.
Sasuke memutar kemudinya menuju apartemen Sakura. Wanita itu sudah kalah berdebat dengannya. Sejak tadi ia diam saja. Tidak berbicara sepatah kata pun pada dirinya.
"Sakura."
"Aku di ajarkan kedua orang tuaku untuk tidak berbicara pada orang yang tak dikenal."
"Dan aku orang asing, begitu?"
Sakura menoleh dan menatap tajam Sasuke. "Ya. Aku tak mengenalmu."
Sasuke menginjak pedal rem di bawah kakinya. Ia memandang halaman parkir apartemen sekilas sebelum kembali menatap mata hijau milik wanita yang duduk di sampingnya.
"Kau mengenalku. Lebih dari apapun."
Sakura tertawa sinis. "Mengarang. Aku tak kenal dirimu."
"Kau hamil."
Sakura membulatkan matanya terkejut. Ia menatap ke arah Sasuke dengan ekspressi yang tak bisa di sembunyikan. Siapa yang memberitahu Sasuke?
"Siapa yang memberitahumu?" desis Sakura marah.
"Ino."
Sakura tertawa pelan. Berusaha menutupi kekecewaannya."Kau bercanda."
"Kapan kau melihatku bertindak konyol, Sakura?"
Sakura meneguk ludahnya kasar. Tenggorokannya terasa kering. Ia butuh udara luar saat ini. Ia membuka sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya dengan gerakan cepat dan hendak membuka pintu mobil ketika lengan besar Sasuke menahannya.
"Kau takkan bisa pergi dari sini."
Sakura berbalik dan menatap dingin Sasuke lebih dari sebelumnya. Ia ingin bertanya pada sahabat pirangnya apa yang ia katakan pada Sasuke hingga lelaki ini mengejarnya seperti ini.
"Aku akan menikahimu."
"Tidak."
Sasuke menaikkan alis satu. "Mengapa?"
Sakura menghela napasnya kasar. "Aku tidak ingin menikah."
"Apa?"
Sakura tersenyum mengejek. "Ku rasa pendengaranmu masih cukup baik, Uchiha. Sekarang pembicaraan kita selesai. Aku ingin pulang. Terima kasih sudah mengantarkanku. Aku akan menelepon orangku untuk mengantar mobilku pulang. Semoga harimu menyenangkan."
Sakura bangkit dari tempat duduknya. Berusaha membuka pintu mobil mewah Sasuke secara paksa. Tapi nihil.
"Kau memang keras kepala."
Sakura masih menulikan pendengarannya. Ia masih berusaha dengan sekuat tenaga membuka pintu mobil itu.
"Kita menikah minggu depan. Aku tidak menerima penolakan."
Bunyi kunci pintu tertarik membuyarkan pikiran Sakura. Mata hijaunya menatap marah pada sesosok lelaki berambut raven yang sedang menatap objek di depannya.
"Aku akan menggugurkan kandungan ini." Sakura tersenyum saat Sasuke dengan kecepatan kilat menolehkan kepalanya ke arahnya.
"Kau tidak akan berani."
Sakura tertawa lemah. "Aku berani. Aku akan mengambil resiko terberatnya."
Sasuke tertawa pelan. "Silakan. Kau punya waktu untuk berpikir. Kita tetap menikah minggu depan. Selamat malam. Semoga kau mimpi indah."
Sasuke menekan tombol kecil di samping setir mobilnya. Pintu mobil pun terbuka. Sakura masih setia memandangi wajah tampan yang sekarang memasang wajah datar itu penuh amarah. Ia menarik napas kasar dan keluar dari mobil itu cepat lalu membanting pintu mobil hitam itu keras.
Sakura menatap kesal pada mobil hitam yang mulai melaju menjauhi halaman apartemen miliknya. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia menggigit bibir bawahnya keras. Hatinya sedang dilanda kekecewaan yang teramat besar. Kenapa Ino memberitahu Sasuke tentang hal ini? Kenapa?
Kepalanya tertunduk sesaat. Menahan cairan suci yang siap keluar kapan saja tanpa bisa di cegahnya. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat ke dalam pintu masuk apartemen. Ingin cepat bertemu kasur kesayangannya dan melupakan semua yang terjadi. Ya. Ini semua hanya mimpi siang bolongnya. Besok ia akan terbangun di pagi hari dan keadaan akan kembali normal seperti biasa. Tak ada masalah apapun. Sakura berharap itu terjadi.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
Author Note:
Halohaaaaaa, duh ficnya lama update ya? Maklum, saya baru selesai ujian praktek #curhat tapi gapapa mumpung idenya masih lancar. Saya harus segera menuangkannyaa
Makin aneh ya? tapi tiap plot udah saya pikirkan matang-matang scenenya. Jadi mau dirubah apapun jatuhnya takut tidak pas. Jadi, mohon maaf jika ada kesalahan kata atau apapun mohon dimaklumi. Saya gak sempat mengeceknya.
Balas review yang masuk dulu ya:
Q: si sasu emang cinta Saku ya?
A: wkwk chapter ini ketebak ga?
Q: kok sekali berhubungan langsung bisa hamil ya?
A: ini ketauan ga? Chap depan akan saya perjelas lagi kok kalau mereka udah nikah :p hoho
Q: kok gaada lemonnya sih?
A: kan dari awal udah saya kasih warning. Saya gabisa bikin lemon dan emang mutusin buat fic ini ataupun fic lain gaada lemon masuk ke dalam cerita. Karena lemon juga sebagai pemanis aja kan? Saya udah pikir matang-matang tentang lemon. So, kalo kalian memang minta lemon, mohon maaf saya gabisa turutin kemauan kalian. Terima kasih.
Q: dulunya Sasuke sama Sakura sepasang kekasih ya sebelum kecelakaan?
A: wkwkwkkwkw liat nanti alurnya gimana yaa. Kalian boleh tebak-tebak kok. Siapa tahu bener yaa XD
Q: sasuke licik ya?
A: hooh. Saya emang demen tipe cowo licik gitu serius. Entar mau buat fic pake karakter cowo licik juga. tapi gatau kapan #utangbanyak
Terima kasih buat kritik, review, fave dan follownya! Saya senang bacanya. Dukungan kalian berarti buat saya :") #ciumsatusatu
See you in the next chapter!
Love,
emerallized onyxta.
