Sudah dua hari yang lalu semenjak kejadian lamaran yang diajukannya, kini sang wanita malah pergi menghindar.
Mengambil pekerjaan dengan berpergian seorang diri ke Eropa. Tanpa siapa pun menemaninya. Bahkan, Kurenai yang menjadi asisten pribadinya berada di sini. Untuk mengatur jalannya perusahaan.
Ide yang cukup bagus.
Sasuke bisa menebak. Sakura menghindarinya.
Dan lihatlah apa yang dilakukan wanita itu. Setiap Sasuke berusaha menghubunginya, ia selalu mengabaikannya. Dengan berbagai alasan yang mungkin masuk akal. Seperti, 'aku sibuk' 'mungkin lain kali' dan masih banyak lagi.
Dan kita lihat bagaimana Tuan muda ini bertindak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
The Marriage
.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typo's as always, OOC, and many more.
Pairing: SasuSaku
.
If you don't like it, don't read. You can leave the page. I warn you before.
.
.
.
Sakura menghempaskan punggung mungilnya kasar. Sudah lebih dari tiga jam ia habiskan untuk menatap laptop tanpa istirahat barang semenit pun. Targetnya adalah laporan mengenai saham baru harus selesai hari ini. Tidak ada waktu untuk menundanya lagi.
Mata hijaunya melirik malas pada ponsel mungilnya yang bergetar dengan gerakan memutar. Layarnya berkelap-kelip menandakan ada panggilan masuk. Tak perlu melihat Sakura tahu siapa yang meneleponnya kali ini.
Mengacuhkannya, Sakura berdiri. Memandang hamparan luas jalanan besar German pada sore hari. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu-persatu. Seperti sudah dikomando sebelumnya. Waktunya hanya tersisa tinggal besok, lalu setelah semua selesai apa yang harus dilakukannya? Kembali ke Jepang, begitu? Tidak. Itu sama saja cari mati namanya. Sasuke akan mengejarnya kemana pun ia pergi. Uchiha dengan segala kekuasaannya bisa melakukan apa saja.
Sebenarnya ia bisa. Tapi ia sendiri tahu, wanita berbeda dengan laki-laki. Kalau masalah seperti ini, hanya penjagaan ketat yang menjadi harapan besar satu-satunya.
Bahkan ia masih ingat dengan jelas bagaimana Ino dengan wajah penuh penyesalan meminta maaf padanya mengenai kejadian memalukan itu. Sakura tahu, Ino berusaha mencari jalan keluar terbaik. Tapi tetap saja ia masih kesal! Sahabatnya itu sudah berjanji akan menjaga rahasia itu.
Nasi sudah menjadi bubur. Sakura tidak bisa memutar waktu kembali. Semuanya sudah terjadi. Sasuke sudah mengetahui perihal kehamilannya dan lelaki itu dengan gentle melamarnya. What the hell, apa-apaan itu! Kenal hanya sebatas rekan bisnis dan lelaki itu melamarnya? Sakura tidak bisa mencerna dengan benar kelakuan lelaki arogan bernama Uchiha Sasuke itu.
Matahari sudah mulai terbenam. Sakura segera merapikan semua barang-barangnya dan bergegas pergi. Orang tuanya sudah menunggu di rumah. Ah, betapa bahagianya ia bisa berkumpul lagi bersama kedua orang yang sangat dicintainya itu.
.
.
"Sakura, mandilah dulu. Ibu sudah memasak untuk makan malam. Ayahmu sedang dalam perjalanan pulang."
"Baik!" dengan tawa riang khasnya, Sakura berlari dengan kecepatan tinggi menuju kamar mandi. Membuat sang Ibu yang sedang memotong sayuran di dapur hanya tersenyum tipis melihat kelakuan putri semata wayangnya.
.
.
Sakura melempar handuknya di atas kasur besar berukuran queen size di kamarnya. Rambut merah mudanya ia biarkan terurai basah karena titik-titik air dari ujung rambutnya masih menetes membasahi karpet bawahnya.
"Sakura, turunlah. Ayahmu sudah berada di ruang makan!"
Sakura hanya bergumam tak jelas ketika ia melangkah menuruni tangga rumah. Bau masakan Ibunya tercium hingga menusuk hidung mungilnya. Manik hijaunya melebar saat mendapati ada sosok sang Ayah yang sedang duduk sambil menyantap makan malamnya.
"Ayah," Sakura melempar senyumnya pada Kizashi yang duduk di tengah. Mebuki hanya tersenyum ketika kedua lengannya menaruh hati-hati semangkuk besar sup ayam dengan uap yang masih mengepul di atasnya.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Baik. Aku berhasil menyelesaikan semua laporan saham hari ini," Sakura mengambil sepotong ayam goreng dari piring lain dan menaruh di atas piring miliknya. "Aku tak ingin membawa pekerjaan itu sampai ke Tokyo besok," sambungnya seraya menyeringai jahil.
Kizashi hanya tersenyum lembut menanggapinya. Acara makan malam itu berlangsung secara khidmat.
.
.
"Kau ada masalah, nak? Ibu perhatikan beberapa hari ini kau sering melamun. Ada apa? Mungkin kau bisa ceritakan pada kami?"
Sakura menaruh sendoknya kasar. Kalimat itu secara gamblang terucap dari bibir Ibunya. Sekarang dirinya dilanda kebingungan. Haruskah ia bercerita mengenai semua yang terjadi?
"Tak ada masalah yang berat, bu. Kalian berdua tidak perlu khawatir."
Sakura berusaha sesantai mungkin menjawab pertanyaan mengerikan itu. Meski saat ini jantungnya sedang memompa cepat. Ya, Tuhan semoga saja kedua orang tuanya tidak mengetahui gerak-geriknya.
"Jangan berbohong pada kami, Sakura."
Suara tegas sang Ayah berhasil membuat tubuhnya tegang. Hancur sudah pertahanannya kali ini. Mana mungkin ia bisa berbohong pada kedua orang tua yang sudah membesarkannya selama dua puluh lima tahun lamanya ini?
Sakura menunduk. Mengambil udara sebanyak mungkin untuk menetralisir rasa gugup yang kini melandanya dengan hebat. Sekarang empat pasang mata sedang mengarah padanya. Menuntut jawaban atas pertanyaannya.
"Jika aku mengatakan sejujurnya, ku mohon pada Ayah dan Ibu untuk tidak marah padaku," Sakura menggigit bibir bawahnya keras. Ingin sekali ia menangis keras. Menyuarakan isi hatinya yang kini berubah tak tentu karena pengaruh dari kehamilannya.
Kedua orang itu mengangguk cepat. Mebuki meremas kedua tangannya. Harap-harap cemas dengan apa yang terjadi. Sakura bisa menebaknya.
"Aku hamil."
Dan tak lama pecahan gelas kaca yang digenggam erat oleh Kizashi terjatuh dan hancur berkeping-keping saat membentur lantai.
"Apa? Kau bercanda," Mebuki menggelengkan kepalanya. Seakan perkataan Sakura tadi adalah lelucon. "Kau berbohong pada kami, Sakura."
"Tidak." Sakura kini mulai menunduk. Menutupi air matanya yang perlahan turun membasahi pipi merahnya. Tak berani memandang mata orang tuanya yang memandangnya penuh kecewa.
"Maafkan aku, tapi aku," suara Sakura seakan tercekat di ujung tenggorokan. Tak mampu berkata lebih banyak lagi untuk sekedar meyakinkan bagaimana ini bisa terjadi.
"Bagaimana bisa? Siapa yang berani menghamilimu?" Mebuki berkata dengan nada yang agak tinggi. Membuat Sakura semakin menyembunyikan kepalanya lebih dalam.
"Uchiha Sasuke."
"Tidak mungkin." Kizashi bergumam datar namun jelas. Sakura menoleh pada sang Ayah yang tertawa miris saat nama Uchiha disebut olehnya. Ekspresi wajah kesakitan ditunjukkan oleh Ayah beranak satu itu. Beberapa kali kepalanya menggeleng tak percaya atas apa yang di dengarnya.
"Katakan kalau bukan lelaki itu yang menghamilimu!" bentakan keras dari sang Ayah membuat Sakura semakin takut untuk sekedar menatap matanya. Air mata semakin deras mengalir.
"Aku tak tahu apa yang terjadi, ceritanya cukup panjang dan aku tak bisa menceritakannya saat ini. Maafkan aku."
"Kalau begitu gugurkan bayi itu."
Sakura membulatkan matanya terkejut. "Apa? Aku tidak mungkin melakukan hal itu, Ibu."
"Mengapa? Apa karena kau punya perasaan pada lelaki keturunan terakhir Uchiha itu? Kau terpesona karena ketampanannya? Karena kekuasaannya? Ingatlah, Sakura. Uchiha dan Haruno adalah rival abadi."
"Aku tahu itu. Tapi tetap saja, kekuasaan Haruno masih jauh dibawah Uchiha. Kita memang berusaha untuk menyainginya, dan berakhir kita kalah," Sakura membalas perkataan sang Ayah dengan nada tak kalah tingginya. "Dan satu hal lagi, aku tidak tertarik pada Uchiha itu, Ayah. Aku sedang tida tertarik pada lelaki mana pun saat ini. Jika memang Ayah dan Ibu memaksaku untuk menggugurkan anak ini, aku menolaknya."
Sakura berlari menuju kamarnya. Sudah cukup. Ia tak akan bisa menang berdebat dengan kedua orang tuanya. Sakura akan merasa berdosa karena berani menentang kedua orang tuanya, tapi ia lebih merasa berdosa jika ia benar-benar sampai menggugurkan bayi malang ini. Sakura tidak akan tega.
"Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi," Mebuki memijit pelipisnya yang terasa sakit.
Sedangkan Kizashi hanya duduk terdiam, membatu layaknya patung. Hanya helaan napasnya saja yang terdengar.
.
.
Masih jam lima pagi. Matahari masih malas bangun dari peraduannya. Hari masih gelap. Sakura sudah memutuskan untuk kembali ke Jepang lebih awal agar orang tuanya tidak mengetahui dirinya pergi.
Sakura melangkah mengendap-endap saat melewati kamar orang tuanya. Tampak gelap dari dalam. Itu menandakan bahwa kedua orang tuanya masih terlelap. Semoga saja mereka tidak terbangun saat dirinya berusaha pergi diam-diam dari sini.
Menaiki taksi yang sudah dipesannya sejak malam dan kini dirinya sudah berada di bandara. Menunggu jam keberangkatannya. Ia sengaja memesan tiketnya lebih awal dan membatalkan kepulangannya pada siang hari nanti.
"Ino,"
Terdengar kasur yang berdecit dari seberang sana. Ino sepertinya baru bangun dari tidur.
"Sakura? Astaga aku hampir mati karena kau tidak menghubungiku sama sekali. Ada apa kau menghubungiku pagi begini?"
Sakura berusaha sekuat tenaga untuk menahan isakannya. Ingat, Ino tidak boleh tahu untuk sementara waktu ini.
"Aku butuh bantuanmu."
.
.
Ini jam sepuluh pagi. Perjalanan panjang itu benar-benar melelahkan. Sekarang punggungnya terasa sangat pegal. Mungkin karena beban yang dibawanya. Sakura mengelus perutnya yang masih terlihat rata dengan tubuhnya. Usia kehamilannya masih muda. Wajar saja jika belum menunjukkan hal-hal fisik yang berarti.
Ino melambaikan tangannya tinggi. Menyuruh Sakura untuk mendekat padanya. Dengan gerakan lambat, Sakura mendekat dan disambut pelukan hangat Ino.
"Aku minta maaf," Sakura tersenyum ketika Ino bergumam penuh penyesalan di bahunya. Mana mungkin ia bisa berlama-lama marah pada sahabatnya? Mungkin untuk masalah itu, bisa dibicarakan baik-baik. Yang terpenting saat ini ialah istirahat. Sakura butuh istirahat.
"Tak apa, Ino." Sakura menepuk lembut bahu sahabatnya, ia menarik koper menuju mobil Ino saat gadis itu menariknya menjauhi teras bandara. Ino terlihat lebih santai dari sebelumnya. Semoga saja pertemanan mereka tidak berakhir karena kebodohannya.
.
.
"Ini rumah keduaku. Kau bisa istirahat di sini untuk sementara waktu, Sakura. Rumah ini jauh dari kota dan jalan besar. Udara disini juga masih sejuk. Mungkin kau akan merasa nyaman di sini untuk beberapa hari ke depan."
Ino menarik koper milik Sakura menuju sudut ruangan. Ia segera mengambil selimut tebal dan menyelimuti tubuh mungil sahabatnya yang kini sedang berbaring lemah di atas kasur.
"Aku janji, Sakura. Jika Sasuke mencarimu, aku tidak akan memberitahunya lagi. Aku akan tutup mulut," Ino tersenyum saat manik hijau itu memandangnya. Sakura segera mengangguk cepat. Tak lama, kedua matanya terpejam dan helaan napasnya berubah teratur. Sakura sudah jatuh tidur.
.
.
"Aku sudah mengirimkan orangku untuk mengawasi Sakura di sana." Kizashi berdiri memandang kamar yang ditempati Sakura selama dirinya berada di rumah orang tuanya. Kamar ini sudah dirapikan sebelumnya. Sakura benar-benar memegang ucapannya untuk tidak menggugurkan kandungannya.
"Aku lega. Kita sudah berjanji untuk menjauhi Sakura dari lelaki sialan itu. Tapi mengapa takdir berkata lain?"
Kizashi menghela napasnya. Kepalanya menggeleng lemah. "Aku tak tahu. Kita tunggu saja bagaimana kabar selanjutnya."
"Semoga Sakura baik-baik saja."
.
.
"Ini foto-foto yang kami dapatkan saat kami berada di bandara tadi pagi, Tuan."
Sasuke memandang seksama empat foto yang ia sebar di atas meja kerjanya. Seringai kepuasan tercetak di wajah tampannya.
"Hn. Aku akan memberi kalian cek melalui sekretarisku di sana. Mintalah berapa pun yang kalian inginkan."
Kedua lelaki itu segera mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada Sasuka yang duduk menyandar pada kursi kerjanya.
Mata kelamnya tak bisa lepas dari sosok wanita yang berada dalam foto itu. Wanita dengan gaya khasnya yang tak pernah berubah dari hari ke hari. Ia juga selalu memujanya, kecantikannya dari hari ke hari tidaklah pudar. Malah bertambah. Betapa beruntungnya dia.
"Sakura, kini giliranku untuk mencari keberadaanmu."
.
.
Ino menggenggam belanjaan yang baru saja ia beli di toko sayuran terdekat. Hari ini akan memasak makanan untuk Sakura sebagai permintaan maafnya. Sejak tadi senyum tak bisa lepas dari wajah cantiknya.
Ino membuka pintu bagasi, menaruh barang belanjaan yang ia beli di dalam sana. Mata birunya menatap depan dan mendapati ada dua orang lelaki berbadan kekar dengan Kakashi yang duduk di sebuah café pinggiran. Mata mereka bertiga tidak pernah lepas dari jalan dan sekitarnya. Oh, Tuhan mereka mencari Sakura. Dengan cepat, Ino masuk ke dalam mobil. Berusaha menghindari Kakashi dan anak buahnya di sana.
Sakura bangun dari tidurnya I saat ada ketukan yang membangunkannya. Tubuhnya masih terasa lelah dan sekarang ia dipaksa untuk bangun.
Dengan langkah gontai, ia segera membuka pintu utama dan mendapati ada sosok lelaki yang sangat dikenalnya sedang bersandar pada tiang penyangga teras.
"Apa aku mengejutkanmu?"
Dengan cepat, Sakura segera menutup kembali pintu besar tersebut. Namun nihil, gerakannya kalah cepat dengan Sasuke di luar sana. Lengan besar lelaki itu berhasil menahannya.
"Mau apa kau?"
Sasuke hanya mengangkat alisnya sebagai respon. Dengan sedikit dorongan ia bisa membuka pintu itu lebih lebar lagi. Membuat Sakura harus mundur ke belakang karena kuatnya tenaga lelaki itu.
"Berkunjung untuk melihat calon istriku. Apa itu salah?"
Sakura memandang lelaki arogan ini dengan tatapan tajamnya. Kedua lengannya terlipat di depan dada. Matanya memicing tajam.
"Perlu ku tekankan lagi, Tuan muda Uchiha. Aku bukan calon istrimu. Silakan pergi."
Sasuke hanya mendengus. Dengan gaya angkuh khasnya ia mendekati sofa besar yang terletak di tengah ruangan dan menghempaskan tubuhnya di sana.
"Aku tak ingin pergi."
Suara mobil berhenti membuat Sakura menoleh. Ino dengan langkah cepatnya segera masuk ke dalam rumah dan mendapati pintu rumahnya terbuka. Ada seseorang yang bertamu di rumahnya.
Ia melepas sepatu berhaknya dan berlari ke dalam. Langkahnya sempat beberapa kali tersandung. Ia tak perduli. Saat ini Sakura lebih penting.
"Sakura, kita harus pergi dari sini. Aku tadi bertemu dengan Kakashi dan itu artinya Sasuke dekat sini—"
Ino membulatkan matanya saat melihat sosok yang menjadi topik pembicaraannya sedang duduk menyandar di sofanya dan kini tatapan kelam itu memandang tajam ke arahnya.
"Mau apa kau ke sini, Sasuke?"
Sasuke hanya mengangkat bahunya acuh. Mata birunya kini berputar arah menatap Sakura yang terdiam di dekat lemari besar. Tatapan matanya menajam saat memandang Sasuke di sana.
"Kau telat, Ino. Lelaki arogan ini sudah berada di sini sejak sepuluh menit yang lalu."
Sakura menghembuskan napasnya kasar. Ia memandang Ino dan bergantian pada Sasuke yang tampak tak memerdulikan keadaan sekitarnya.
"Aku akan mengusirnya, Sakura. Kau lebih baik beristirahat kembali. Tubuhmu masih lelah."
Sakura menjambak rambutnya hingga surai merah muda itu berantakan tak teratur. "Bagaimana aku bisa kembali tidur jika lelaki menyebalkan ini masih di sini, Ino?!" desahnya frustasi.
"Aku akan pergi jika Sakura mau pergi bersamaku. Masalah selesai."
Sasuke berdiri. Memandang dua wanita di depannya bergantian. Ia sengaja meninggalkan pekerjaannya untuk menemui Sakura di sini. Berterima kasihlah ia pada Kakashi yang berhasil menemukan alamat rumah Ino yang jauh dari perkotaan. Butuh waktu dua jam untuk sampai di sini.
"Sakura tidak akan pergi." Kini giliran nona muda Yamanaka bersuara. Matanya menajam memandang Sasuke yang hanya memasang wajah datarnya.
"Aku gunakan cara kasar."
"Kau brengsek." Sakura mendengus saat kata-kata itu meluncur dari bibirnya begitu saja. Ada rasa penyesalan di dalam hatinya saat kata itu keluar, tapi tetap egonya harus berdiri tegak hari ini. Sasuke harus di lawan.
Sasuke terdiam saat dirinya dimaki oelh wanita berambut merah muda itu. Aura permusuhan di antara keduanya masih kental terasa. Tatapan mata Sakura seakan menamparnya. Baiklah, untuk kesekian kalinya Sasuke mengalah pada wanita hamil. Terlebih itu adalah anaknya sendiri.
"Aku pergi."
Dan lelaki tampan itu meninggalkan rumah besar Ino tanpa kata-kata. Hanya kata singkat yang membuat kedua wanita itu bungkam. Mereka berhasil mengusir Sasuke dari sini. Dengan cepat, Ino segera menutup pintu besar itu dan memandang Sakura saat wanita itu jatuh terduduk seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jangan menangis, Sakura. Kau tahu bagaimana Sasuke itu. Sifatnya memang seperti itu. Para pemegang saham dan presiden perusahaan tahu bagaimana kelakuannya."
Sakura membuka kedua tangannya. Mata hijaunya tampak berair. Mood-nya berubah drastis. Ini semua karena kehamilannya. Perasaannya lebih sensitif dari biasanya.
"Tidak, Ino. Kau tahu? Mau tidak mau aku harus menikah dengannya. Ini anaknya. Aku tidak akan sanggup menggugurkan bayi malang ini."
Ino memeluk sahabatnya erat. Mengelus-elus punggung mungil Sakura yang bergetar di pelukannya.
"Sudah, jangan menangis lagi," Ino menghapus air mata sahabatnya. Senyum tulus terukir di bibir tipisnya. "Aku akan memasakkan sesuatu untuk mengembalikan moodmu yang hilang itu, bagaimana?"
Sakura menghapus air matanya kasar. Ia mengangguk sebagai respon. Membuat Ino tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya.
"Baiklah, kau tunggu di ruang keluarga saja. Di sana ada tv dan beberapa majalah terbaru. Semoga kau terhibur."
"Terima kasih, Ino." Sakura tersenyum saat Ino berdiri untuk mengambil barang belanjaannya di mobil. Wanita berambut pirang itu hanya mengangguk dan segera menghilang dari balik pintu.
.
.
Sudah dua hari saat Sasuke secara tiba-tiba mengunjunginya. Lelaki tampan yang punya kekuasaan untuk melakukan apa saja itu benar-benar menyebalkan di matanya.
Saat ini ia berada di ruang tengah untuk menonton tv. Acara pagi kesukaannya. Sudah lama ia tidak bisa melakukan hal ini. Setidaknya pagi ini ia bisa agak bersantai.
Ino terlihat sibuk dengan majalah terbitan kemarin yang sedang dibacanya. Manik birunya bergulir ke kanan dan ke kiri ketika membaca tulisan tersebut.
Dering telepon berbunyi. Sakura segera mengangkatnya karena jaraknya dengan meja telepon tidak begitu jauh.
"Halo?" Suara lembutnya mengalun lembut. Merasa tidak ada respon dari penelepon di seberang sana. Ia segera mengulang kembali sapaannya.
"Hn."
Sakura kenal siapa pemilik suara ini.
"Aku pikir Ino yang akan mengangkat teleponnya tapi ternyata dirimu."
Sakura diam. Ia memilih sebagai pendengar kali ini.
"Aku punya kejutan untukmu, sayang."
Teriakan Ino dari pintu utama membuyarkan pikirannya. Dengan cepat, wanita pirang itu berlari menghampiri Sakura yang berdiri memaku dengan gagang telepon yang menempel di telinganya.
"Sakura, ada undangan untukku. Undangan pernikahanmu dengan Sasuke. Hari minggu, tidak mungkin. Itu satu minggu dari sekarang."
Sakura memucat saat Ino membacakan undangan itu untuknya. Ia membisu. Ia seakan tak mampu untuk bersuara lagi. Lelaki ini benar-benar diluar dugaannya.
Sakura membanting gagang telepon itu kasar. Ia menggeleng pada Ino yang memandangnya bingung.
"Siapa yang menelepon?"
Sakura masih diam. Lima, sepuluh menit ia masih membisu. Kejutan yang benar-benar menampar telak dirinya.
"Sasuke yang menelepon."
Dan yang selanjutnya terjadi adalah teriakan tak percaya Ino dan undangan berwarna emas yang kusut karena remasan tangannya yang kuat.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
Author Note:
Yeaaaay! Akhirnya bisa di lanjut. Terima kasih untuk lagunya babang Calvin yang menjadi ide lancar fic ini.
Terima kasih juga bagi yang sudah review, memberi kritik, fave, follow dan lain-lain. Terima kasih :3
Ga mau banyak kata lagi. Saran dan kritik kalian saya terima.
Sampai jumpa~~
Love,
emerallized onyxta
