The Marriage
.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typo's as always, OOC, and many more.
Pairing: SasuSaku
.
If you don't like it, don't read. You can leave the page. I warn you before.
.
.
.
Sakura menghela napas pendeknya. Ino sedang bersamanya, wanita itu benar-benar menjaganya dengan baik. Ino tidak pernah melepasnya barang satu detik pun. Kemana Sakura pergi, Ino ada bersamanya. Sepertinya, semenjak undangan kemarin disebar, sikap Ino semakin protective padanya.
"Ino, beristirahatlah." Sakura menutup map merahnya. Sorot matanya memandang Ino dari kursi kebesarannya. Ino sempat menjaganya semalaman suntuk dikarenakan mood sialan dan yah, ngidam.
Ino menggeleng tegas. Wanita itu berdiri, mengambil tempat di depan Sakura. "Tidak," lalu tak lama terdengar helaan napasnya. "JIka Sasuke datang kemari dan membawa paksa dirimu, aku akan membunuhnya."
Sakura tertawa kecil. Ia tidak bisa menyembunyikan tawanya lebih lama lagi. Sudah empat hari berjalan dan Sakura sama sekali tidak peduli dengan pernikahan konyolnya itu. Lagi pula, ia sanggup jika harus membesarkan anak seorang diri. Dan, yah, untuk tanggapan orang-orang terhadapnya, itu akan menjadi urusan nanti.
Bunyi sepatu seseorang yang sedang berlari, atau setidaknya, terdengar sampai ke dalam ruangan kerja Sakura. Beberapa suara wanita yang sedikit berteriak juga terdengar. Ino menoleh, iris birunya menatap waspada ke arah pintu.
Pintu terbuka, menampilkan sosok Uchiha Sasuke dengan sorot matanya yang menajam. Ino menghalangi pandangan Sasuke dengan tubuh mungilnya. Seakan ia sudah memasang perisai sebelum ini.
"Jadi, Uchiha Sasuke, ada apa kau kemari?"
Sasuke melangkah mendekat. Tidak memedulikan perkataan Ino sama sekali. Sakura berdiri setelah dirasa Sasuke akan menghampirinya. Wanita cantik itu berdiri di dekat Ino.
"Apa?"
Iris hijau Sakura turun ke bawah. Ia melihat Sasuke mengepalkan tangannya.
"Kau membatalkan tempat kita menikah, lalu gaun pengantinnya. Dan sekarang apalagi?!" bentaknya.
Sakura mengerutkan dahinya. "Salahmu yang tak mau berbicara padaku apa yang kau lakukan, sialan!" Sakura juga tak mau kalah adu argumen kali ini.
Sasuke semakin maju mendekat. "Tetap disana Uchiha atau kau akan berurusan denganku," Ino berkata dengan suara tajamnya.
Sasuke menghentikan langkahnya. Sakura kembali memutar tubuhnya, kembali duduk.
"Kau bermain-main denganku. Lihatlah apa lagi yang bisa aku lakukan untuk mendapatkanmu."
Setelah itu Sasuke pergi diikuti beberapa pengawal yang berjaga di dekat pintu. Wajar saja jika Sasuke memiliki beberapa pengawal bertubuh besar seperti mereka. Lelaki itu punya musuh besar di luar sana yang terus mengintainya.
Ino mengerang kecil. Semua rencananya gagal total hanya karena seorang Uchiha Sasuke yang menyebalkan itu. Ia dan Sakura memang membatalkan semua yang berkaitan dengan pernikahan nanti. Seperti gaun, tempat untuk mereka menikah, para tamu yang hadir.
"Aku belum cukup kuat untuk mengalahkan dia."
Sakura hanya mendesah kecil. Ia tidak punya ide apa-apa untuk saat ini.
.
.
Haruno Kizashi duduk dengan gusar di kursi kerjanya bersamaan dengan sang istri yang menunggunya dengan gelisah. Sakura tidak memberikan kabar apapun dan juga beberapa orang yang diperintahnya tidak memberikan kabar apa-apa.
"Bagaimana kalau Uchiha itu benar-benar akan menikahinya?" Suara Kizashi rendah namun mematikan. Jarak yang terbentang antara ia dan putrinya menyulitkannya untuk bertindak lebih. Sakura sedang berjuang di sana. Ia bersikeras untuk tidak pernah menggugurkan kandungannya. Kizashi tak sanggup memikirkannya jika sampai sesuatu terjadi padanya hanya karena kandungan bodohnya itu.
"Bagaimana kalau aku yang akan pergi menemui putri kita?" Mebuki menyuarakan pendapatnya. Tidak tenang saat melihat tubuh Kizashi yang terus bergerak tak beraturan, bingung.
"Kau tidak bisa meninggalkanku di sini sendiri, dan perusahaan sialan ini sedang banyak proyek," Kizashi memijit pelipisnya.
Mebuki menghela napasnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Akankah ia pergi dengan cara mengendap-endap di malam hari?
"Jangan coba-coba untuk berpikiran lain, Mebuki."
.
.
Ino sedang pergi untuk membeli susu bagi Ibu hamil di supermarket dekat perumahan yang ia tinggali bersama dirinya. Wanita itu sudah pergi sejak sepuluh menit yang lalu dan ia belum kembali.
Suara bel berbunyi membuatnya harus berdiri. Mematikan siaran televisinya, ia bangkit dan melangkah menuju pintu.
Seorang petugas pengantar barang yang datang kali ini. Hatinya sudah berdebar-debar mengantisipasi jika Sasuke yang akan datang kali ini. Tapi ternyata salah.
"Silakan tanda tangan, Nona." Petugas itu memberikannya selembar kertas dan Sakura menandatanganinya di sana. Bibir tipis itu melengkungkan senyumannya dan petugas itu segera pergi.
Ini kiriman untuk Ino. Sakura tidak tahu apa yang Ino beli dari toko online kali ini. Biasanya, wanita itu gemar sekali membeli pakaian, atau bahkan beberapa koleksi tas terkenal yang hanya dijual di beberapa toko saja dan transaksinya melalui internet.
"Sakura? Apa kau baik-baik saja?" Ino berteriak dari halaman teras. Wanita itu pulang dengan membawa sekantung belanjaan.
"Kau membeli apa, Ino?" Sakura mengangkat bungkusan yang cukup besar itu. Ino hanya terkekeh kecil, ia menaruh barang belanjaannya di atas meja makan dengan Sakura yang mengekor di belakangnya. "Hanya beberapa koleksi celana santai, Sakura. Aku mendapatkannya secara cuma-cuma."
Sakura hanya mengangguk. Ia menaruh barang milik Ino di samping barang belanjaan wanita itu. Ia segera bergegas membantu membongkari belanjaan milik Ino dan menaruhnya di setiap tempat yang sudah disediakan.
.
.
Malam semakin larut dan Sakura tidak kunjung memejamkan matanya. Baru saja ia memakan dua mangkuk ramen berukuran jumbo yang ia beli karena ia tak mau mengganggu Ino yang sedang tertidur. Untung saja, toko ramen di dekat rumah mereka masih buka hingga larut.
Entah, ia ingin sekali memakan ramen setelah sebelumnya ia memesan dua pizza dengan ukuran yang dibilang tidak kecil itu. Dan Sakura sangat yakin kalau tubuhnya akan membengkak dalam waktu yang singkat.
Hormon sialan.
Ino sudah tertidur pulas di kamarnya setelah mereka menghabiskan waktu bersama sampai makan malam tiba. Sakura tidak sampai hati membangunkan wanita itu hanya untuk menuruti ngidam anehnya itu. Ini sangat lucu, Sakura seperti tidak asing dengan hal ini sebelumnya.
Rasa kantuk mulai menyerangnya. Sakura mematikan televisi yang ia tonton sejak tadi dan mulai beranjak meninggalkan ruangan sebelum bel rumah berbunyi keras.
Sakura mengerutkan dahinya. Ia ingin sekali membuka pintu itu, tapi jika itu Sasuke, ia akan mendapat masalah baru. Sakura memilih mengabaikannya dan ia pergi menuju kamarnya.
.
.
"Sarapan siappp!" Ino datang bersama dua piring yang berisikan tumis udang dan aneka sayuran yang diolah menjadi satu. Sakura tersenyum lebar, ia sedang senang memakan sayuran kali ini.
"Siapa yang memencet bel tadi malam, Sakura?" Ino bertanya saat Sakura sedang menyendok sayurannya. Wanita itu menggendikan bahunya acuh. "Tidak tahu. Aku tidak membukanya, Ino."
Ino mengangguk kecil. "Ah, jika itu, Sasuke, kau benar-benar mengambil langkah yang bagus."
Sakura menghentikan kegaiatan makannya. "Apa dia tetanggamu?"
"Aku tidak dekat dengan orang-orang di sekitar sini selain petugas warung dan toko. Mereka memilih untuk mengurung diri di dalam rumah mereka dan itu sangat mustahil."
Sakura melanjutkan sarapannya. Ia tidak akan bilang pada Ino kalau dia keluar malam hari untuk membeli ramen. Ino akan memarahinya dan wanita itu tidak segan-segan menyembunyikan kunci rumahnya agar Sakura tetap aman.
"Aku akan pergi diantar supir. Bagaimana denganmu?"
Ino meneguk air minumnya hingga tandas. "Baiklah. Aku akan pergi untuk mencari sesuatu. Kalau begitu hubungi aku nanti jika kau perlu bantuan."
.
.
Sakura merasa tatapan para pegawainya sedikit berbeda padanya. Entah apa yang terjadi, apa mungkin mereka melihat Sasuke yang datang ke kantornya dengan tiba-tiba dan laki-laki itu terlihat marah?
Sakura membuka pintu ruangannya dan mendapati Uchiha Sasuke sedang duduk di kursi kerjanya. Laki-laki itu terlihat tidak terganggu dengan kehadiran Sakura.
"Selamat pagi."
Suara datar itu terasa seperti membakar amarah Sakura yang terpendam. Sakura melangkah mendekat, masih mengabaikan adanya eksistensi keberadaan Sasuke di sana.
Sasuke bangkit dari kursinya saat Sakura mendekat ke mejanya. Wanita itu sama sekali tidak mau menatap ke arahnya dan itu membuatnya marah.
Sakura baru saja ingin menghindar dan pergi dari sana sebelum tangan lain menariknya dan memeluk dirinya dengan erat secara tiba-tiba. Sasuke menyembunyikan kepalanya di leher Sakura dan ia merasakan tubuh Sakura menegang di pelukannya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menikah denganku karena kita tidak benar-benar berpisah."
Kata-kata ambigu dari Sasuke membuat Sakura melepas pelukannya. Sasuke hanya menyunggingkan seringai kecilnya dan mencium pipi Sakura cepat sebelum ia meninggalkan ruangan ini dengan Sakura yang masih diam berdiri di tempatnya.
Sakura duduk dengan rasa gelisah di kursinya. Kata-kata Sasuke membuat kepalanya terasa pusing dan ia tidak mau memikirkannya lebih jauh lagi.
Mereka adalah rival. Dan selamanya akan seperti itu.
.
.
Hari ini adalah hari ulang tahun sebuah Perusahaan besar yang bekerja sama dengan Perusahaan Haruno. Sakura diminta untuk datang sebagai tamu kehormatan dan wanita itu jelas sekali menyanggupinya. Ia tidak keberatan jika harus menghadiri sebuah perayaan besar dan menyangkut tentang pekerjaannya.
Sakura datang dengan dress malamnya. Wanita hamil itu jelas sekali terlihat cantik dengan olesan make-up tipis di wajahnya membuatnya semakin terlihat mempesona. Bahkan mereka—orang-orang yang ada di luar sana tidak mengetahui kalau Sakura tengah berbadan dua saat ini.
Sakura masuk ke dalam dan disambut hangat oleh beberapa pegawai yang ia yakini adalah pegawai dari Perusahaan itu sendiri.
Salah satu dari mereka membawa mantel milik Sakura yang ia kenakan saat ia sedang dalam perjalanan kemari. Bajunya terlalu terbuka dan hawa dingin saat malam hari terasa menusuk kulitnya.
Para tamu yang hadir adalah kalangan atas dari beberapa Perusahaan besar yang Sakura tidak bisa tahu satu-persatu secara keseluruhannya. Mereka adalah tamu-tamu penting.
Ia tidak melihat adanya Sasuke di sekitar sini. Laki-laki itu tidak akan datang. Karena Perusahaan Akasuna sepertinya tidak menjalin kerjasama dengan Uchiha walaupun kemungkinannya kecil. Perusahaan mana yang tidak mau bekerjasama dengan Perusahaan sebesar itu?
Sakura melangkah menuju tempat minuman. Ia bisa merasakan kalau tatapan mata para lelaki seusianya sedang mengarah padanya. Banyak dari pebisnis muda yang masih merintis karir dari bawah juga ikut hadir di sini.
Sakura mengambil segelas champagne dan hendak meminumnya sesaat sebelum ada tangan lain yang mencegahnya.
"Kau akan membunuh bayiku jika kau meminumnya."
Oh, sial. Itu Uchiha Sasuke.
Sasuke datang bak pahlawan kesiangan. Laki-laki itu menaruh kembali minuman itu dan menyuruh pelayan untuk membawakan secangkir teh atau air putih untuk Sakura.
"Ku pikir kau tak datang."
Sasuke mendengus kecil. "Aku tidak akan melewatkan acara ini. Apalagi saat aku tahu kau akan datang."
Sakura membuang mukanya. Ia ingin pergi dari sini dan lagi-lagi Sasuke mencegah langkahnya.
Sorot kelam Sasuke mengarah ke pakaiannya. Rahang laki-laki itu tampak mengeras dan wajahnya terlihat sedikit marah. Sakura tidak mau ambil pusing dengan respon yang diberikan Sasuke padanya. Memang dia siapa?
"Haruno Sakura."
Sakura menoleh bersamaan dengan kepala Sasuke yang ikut menoleh ke sumber suara. Laki-laki tampan dengan surai merah lembutnya datang dengan setelan jas hitamnya. Laki-laki itu terlihat tampan dengan senyumnya yang membuat wajah Sakura merona.
Sasuke menghembuskan napas gusarnya. Ia memandang laki-laki itu tajam.
"Apa kau tidak mengenalku?" tanyanya dengan senyum di wajah tampannya.
"Akasuna Sasori." Suara tenang namun mematikan milik Sasuke membuat kepala merah Sasori menoleh. Sorot matanya yang terlihat tenang kini berubah berkilat karena ia melupakan adanya sosok Sasuke di sana.
Sakura masih diam. Ia tidak mengerti mengapa Sasuke memberikan tatapan yang tak biasa pada laki-laki yang menjadi penerus sebuah Perusahaan besar mewarisi sang Ayah.
"Sakura—
—Uchiha Sakura namanya. Kau tidak bisa menyebutnya Haruno begitu saja, Akasuna."
Sakura menggigit bibir bawahnya. Ia sangat kesal sekarang. Wajah Sasori yang semula hangat berubah menjadi dingin sekarang.
"Oh, baiklah, Uchiha Sakura."
Sakura menggeleng cepat. Ia mendelik pada Sasuke. "Tidak. Namaku tetaplah Haruno Sakura. Uchiha Sasuke sedang melucu saat ini. Jangan pedulikan dia." Sakura tertawa kecil menyadari adanya ketegangan yang terasa di antara lelaki berbeda karakter ini. Sakura tidak mengerti mengapa Sasuke begitu terlihat … membenci Sasori?
"Kalau begitu, terima kasih sudah mau datang." Sasori kembali memperlihatkan senyum manisnya. Membuat Uchiha Sasuke yang sejak tadi berdiri dengan diam mendecih.
Sakura merasa ketegangan yang terjadi tidak akan berakhir dengan cepat. Maka dari itu, ia memutuskan untuk berpamitan pada untuk pergi ke kamar kecil. Ia tidak bisa berlama-lama di sana.
Sasuke tersenyum miring. Mengejek pada Sasori yang menatapnya. "Jadi, mau apa kau malam-malam berkunjung ke rumah Yamanaka?"
Sasori mendengus. Ia menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celananya dan beberapa pasang mata—terutama wanita sedang mengarah pada mereka. Dua lelaki tampan yang begitu di puja oleh wanita-wanita. Dan sekarang, pesona Uchiha Sasuke akan mulai tergantikan oleh Akasuna Sasori.
"Benarkah? Aku tidak menyangka kau akan mengikuti Sakura sampai sejauh ini. Ku pikir setelah kecelakaan waktu lalu kau meninggalkannya."
Sasuke diam. Ia mendengar suara langkah Sakura yang menjauhi mereka. Lelaki beriris kelam ini melirik Sakura sebentar sebelum kembali memandang netra merah milik Sasori.
"Dia milikku. Dan selamanya akan seperti itu. Jika kau berani mengambilnya, kita lihat apa yang bisa seorang Akasuna lakukan untuk menjatuhkan seorang Uchiha." Sasuke memberikan seringainya dan berlalu pergi meninggalkan Sasori yang tersenyum miring—membalasnya.
Desahan kecewa dari para wanita yang memandang mereka berdua terdengar sampai ke gendang telinga Sasori. Laki-laki tampan itu memberikan senyum mautnya dan para wanita itu berusaha menahan bibir mereka agar tidak menjerit histeris.
Sasuke mempercepat langkahnya. Ia mengambil mantel yang dibawa Sakura dan mengejar wanita itu. Sakura begitu ceroboh sampai ia melupakan mantelnya sendiri.
Sakura hampir saja masuk ke dalam mobilnya sendiri sebelum tangan Sasuke mencegahnya. Lelaki itu menyuruh supir pribadi Sakura untuk pergi lebih awal.
"Aku akan mengantarmu."
Sakura tidak bisa lagi membantah. Ia sangat lelah. Tubuhnya perlu untuk beristirahat.
.
.
Sakura hampir saja tidur di dalam perjalanan jika saja Sasuke tidak membangunkannya ketika mereka sudah sampai. Sakura meminta Sasuke untuk mengantarnya ke tempat Ino dan wanita itu tidak berminat untuk pulang ke apartementnya sendiri.
Sasuke mematikan mesin mobil. Ia melirik Sakura yang sedang membuka sabuk pengamannya. Wanita itu sama sekali tidak mau berbicara padanya. Bahkan di dalam mobil pun Sakura tidak pernah melihat ke arahnya.
"Sakura."
Sakura menghentikan gerakan tangannya hendak membuka pintu mobil. Wanita itu menoleh, memandang Sasuke yang mendekat ke wajahnya dan menarik tengkuknya untuk lebih dekat.
Ciuman bibir itu terjadi. Sakura tidak sengaja membuka bibirnya ingin mengatakan sesuatu sebelum bibir tipis Sasuke menutup bibirnya. Ciuman itu terjadi cukup lama. Sasuke sama sekali tidak mau melepasnya dan lelaki itu semakin menciumnya dalam. Membuat kupu-kupu yang sudah lama tertidur di dalam dirinya kini terbang. Menimbulkan sensasi aneh yang sudah lama terkubur di dalam hatinya.
Sasuke melepas ciuman itu. Tatapan mata sayu Sakura padanya membuatnya ingin mencium wanita itu lagi. Ia mendekatkan kembali wajahnya. Mencium bibir merah itu singkat.
Sakura menyadari sesuatu. Ia segera duduk tegak. Menatap Sasuke yang memandang lurus ke arah kemudinya.
"Jaga bayiku baik-baik. Selamat malam."
Pintu mobil itu terbuka otomatis setelah Sasuke menekan tombol di dekat kemudi setirnya. Lelaki itu menoleh ke arah Sakura yang masih diam tidak menjawab kata-kata darinya.
Mobil hitam Sasuke melaju menjauhi halaman rumah milik Ino. Sakura memandang mobil itu dengan tatapan lirihnya. Ciuman tadi seakan menyadarkannya sesuatu. Sesuatu yang telah lama hilang.
"Sebenarnya ada apa antara diriku dan dirinya dulu?"
.
.
.
Tbc.
.
.
.
A/N:
Lama banget update ya, emang. Saya kehabisan ide untuk fic ini. Dan akhirnya saya mutusin buat mantengin depan laptop di saat saya free. Dan jadilah chapter empat ini. Maaf kalau membosankan.
Balas review dulu, ya, Tapi saya pilih-pilih ya XD
Sasuke yang berkuasa, kejam, brengsek itu emang hot banget: hihi kamu ambigay sekaleh. Tapi, kayaknya Sasuke ga kejam deh ya. hikz. Aku tatut di flame lagi setelah baca review ini huhu WKWK engga deh becanda. Udah lanjut yaa :D
Manganya Masashi Kishimoto ancur awas kalau g sasusaku: kamu kenapa shay, ai tidak mengerti sama kata-katamu. SasuSaku sudah fix canon kok :3
AKU GASUKA SAMA KARAKTER SAKURA YANG DI SETIAP FF BUATAN KAMU SELALU JADI ORANG LEMAH, GABISA NGAPA2IN DAN SELALU DIMANFAATIN KAMU CEWEK BUKAN SIH? SEHARUSNYA NGERTI BUAT SAKURANYA JANGAN KAYAK GITU, PIKIR GIMANA KALO KAMU DIGITUIN SAMA COWO! FUCK!: WKWKWK SAYANGKUU, KALAU MAU MARA-MARA JANGAN DISINI DONG. PM SAYA AJA APA AKH KAMU INI SUKA BEGITU KADANG PLUS JANGAN DI ANON YA SAYANG. Kesel ga? Kesel dong:* wkwk pake kata fuck segala hii tatut. Kamu gabisa baca don't like don't read ya? apa emang kamu gabisa baca tulisan itu? :D Gausah baca kalau ga suka. Hidupnya gausah dibikin susah lagi. Coba kamu tunjukin dengan kamu bikin karya gitu dong, siapatau hasilnya lebih bagus dari aku, daripada nulis koar-koar gajelas? Jadi ide saya kamu kata-katain gitu? Gimana author lain yang baru belajar? Mau kamu katain juga? ah sedih banget sih kamu. Oiya, kalau kamu mau komplen, mau ngatain saya fuck, bego, tolol, disuruh mati aja, mending pm, line, bbm saya ajalah. Gausah review disini, ga guna juga buat saya. Udah ya, shut the fuck up. Semoga hari kamu menyenangkan, birdie :*
Makasih buat yang nungguin ini. Saya ketawa dapet review yang bagus dari di atas itu wkwk. Sampai ketemu lagii di chap depan!:3
Lots of love
Delevingne
