"Aaah.."
Bunyi deritan ranjang yang menggema memenuhi seisi ruangan membuat sepasang anak muda yang sedang dimabuk cinta ini tidak lagi memedulikan sekitarnya.
Baik kondisi ranjang yang tidak karuan, pendingin ruangan yang tidak berfungsi dengan baik bahkan dering ponsel yang sejak tadi berbunyi, juga tidak mereka hiraukan.
"Ah!"
Tubuh sang wanita tersentak-sentak ketika sang pria menusuknya semakin dalam hingga menyentuh bibir rahimnya. Ia mencari pegangan lain untuk dirinya bertahan selain rambut sang pria yang kini mencumbunya.
Remasan pada seprai menguat seiring tusukan sang pria yang semakin dalam. Peluh membasahi tubuh polos mereka berdua. Dari semua hal yang terpenting adalah pelepasan dan … klimaks.
"Ah!"
Sang wanita membuka matanya ketika benda kenyal itu menyentuh bibirnya yang membengkak dengan posesif dan penuh kelembutan setelah percintaan panas mereka. Dengan kondisi tubuh masih menyatu, ia belum bisa sepenuhnya sadar dengan kondisinya.
Maka, ketika tangan besar namun penuh kelembutan itu menyentuh pipi basahnya dengan lembut, ia benar-benar tersadar dengan tekstur tangan dan segala kelembutan yang dimiliki sang pria.
Kedua matanya yang terbuka membulat. Wajah yang kini berjarak dua centi dari wajahnya sedang tersenyum. Senyum menyeringai yang membuat tubuhnya membeku bahkan ketika mereka masih menyatu satu sama lain.
Kedua tangannya terkepal seiring remasan seprei yang mengusut. Bola mata hijau penuh kelembutan itu berubah tajam dan dingin secara bersamaan.
Karena yang sedang bercinta dengannya saat ini adalah Uchiha Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. The Marriage
.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typo's as always, OOC, and many more.
Pairing: SasuSaku
.
If you don't like it, don't read. You can leave the page. I warn you before.
.
.
.
Sakura bangun setelah tersadar dari mimpi erotisnya. Sosok Ino berdiri di tepi pintu dengan wajah panik dan takut secara bersamaan. Ino masih memakai piyama tidurnya dan jelas sekali, teriakan Sakura yang kencang membangunkannya dari tidur nyenyaknya.
"Sakura, apa yang terjadi?" Ino melangkah menghampirinya setelah melihat wajah sahabatnya yang memerah dan kedua matanya berkaca-kaca karena menahan tangis.
Sakura mengusap wajahnya yang memerah lalu menutupinya dengan kedua tangannya. Rambut panjangnya acak-acakan dan ia tidak sempat untuk memikirkannya. Pikirannya masih dipenuhi dengan mimpi yang sama sekali tidak inginkannya. Sakura tidak pernah mengalami mimpi ini sebelumnya.
Apakah ini karena faktor kehamilan? Ia tidak tahu. Yang jelas, ia benar-benar tidak ingin mimpi itu terulang lagi.
"Apa aku membangunkanmu?" lirih Sakura ketika ia menyadari wajah Ino yang masih panik.
Ino menarik napas panjang. "Ya, kau berteriak tadi. Aku takut sesuatu terjadi padamu di saat aku lengah," Ino memegang erat kepalan tangan sahabatnya di atas ranjang. "Aku melihatmu baik-baik saja itu melegakan, Sakura. Oh, Tuhan, terimakasih."
Sakura memaksakan senyum di wajahnya meskipun ia sedang tidak bisa berbuat apa-apa untuk sementara waktu ini. Ino masih setia menunggunya untuk bercerita mengenai apa yang terjadi. Mengapa ia berteriak di tengah malam seperti ini. Ino ingin tahu dan Sakura merasa malu jika menceritakannya secara lengkap.
"Uchiha Sasuke," Sakura mengucapkan nama itu samar dan berhasil membuat wajah Ino memucat.
"Apa dia melakukan sesuatu padamu?" tanya Ino gelisah.
Sakura menggeleng menyadari pola Ino yang berubah. "Tidak. Aku hanya mengalami mimpi buruk yang berkaitan dengannya, itu saja."
Ino menghela napas lega. Ia tersenyum ketika Sakura kembali berbaring di atas ranjang dan bersiap-siap untuk tidur. Ino menuangkan segelas air putih hangat ke dalam gelas milik Sakura dan meninggalkan sahabatnya dalam diam ketika dirasa Sakura butuh waktu sendiri untuk memulihkan kondisinya dari segala mimpi buruk yang ada.
.
.
"Sakura?"
Sakura menoleh ketika mendengar suara lembut memanggilnya dari jarak yang tidak terlalu jauh dengannya. Ia sedang makan siang di sebuah restaurant yang tidak jauh dengan kantornya saat ini. Ino memutuskan untuk kembali lebih awal karena memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan dan berjanji untuk kembali lagi.
"Sasori, kemarilah." Sakura menepuk meja di hadapannya yang kosong dimana Ino sebelumnya yang menempati tempat itu. Sasori tersenyum hangat, ia memeluk Sakura sekilas lalu menarik kursi untuknya duduk.
"Suatu kebetulan aku melihatmu di sini." Sasori tesenyum ketika ia melihat Sakura yang meresponnya dengan senyuman manis. Wanita itu memanggil pelayan yang melewati meja mereka dan memesan hidangan penutup.
"Kau hanya memakan salad? Sakura, nanti kau bisa sakit." Sasori mengingatkan ketika ia melihat piring di atas meja milik Sakura dimana sisa-sisa sayuran segar itu masih ada.
Sakura hanya tersenyum samar. Ia meminum lemon hangatnya dan menatap Sasori dari tepi gelas . "Aku merasa kenyang, Sasori. Salad juga sangat bagus untuk kesehatan, bukankah begitu?"
Sasori menghela napas. Ia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dadanya. Menyerah. Tapi, kemudian ia tertawa geli ketika menatap Sakura yang menatapnya penuh dalam.
"Oh, baiklah. Kau benar-benar keras kepala, Sakura," kata Sasori menyerah. Lalu, pelayan datang membawa secangkir kopi hitam dengan asap yang masih mengepul dan sepotong cake cokelat pesanannya.
Sakura tersenyum ketika Sasori memotong separuh bagian dari kuenya untuknya dan berniat menggodanya dengan garpu yang berisi potongan kecil kue itu dan memberikannya pada Sakura.
"Sasori, ayolah, jangan seperti ini. Kau terlihat sangat kelaparan, aku benar-benar kenyang," Sakura memundurkan wajahnya dan memilih untuk tidak memakan kue itu. Ia benar-benar tidak bernapsu untuk memakan sesuatu yang mengenyangkan.
Sasori hanya mendesah dan memasukkan garpu itu ke dalam mulutnya. Mengunyahnya lembut dan terus dilakukannya berulang-ulang sembari sesekali berbincang ringan dengan Sakura.
Sakura menopang kepalanya dengan satu tangannya dan memperhatikan seisi restaurant yang tampak lenggang. Restaurant ini biasa ramai oleh kalangan atas dikarenakan tempatnya yang cukup mewah dan harga makanan yang dilabeli juga cukup menguras isi dompet bagi kalangan pekerja kebawah.
Iris hijaunya tidak sengaja memandang sosok pria yang duduk dengan empat bangku menjadi jarak mereka. Ketika sosok itu menoleh, Sakura merasa aliran darahnya terhenti dan napasnya tercekat di tenggorokan.
Sial, kenapa Uchiha Sasuke bisa ada di sini?
Sakura memalingkan wajahnya ketika mata kelam segelap malam itu menatapnya. Ia tidak ingin mendapati Uchiha Sasuke tersenyum menang ketika mendapati wajahnya yang memerah atau merona ketika ditatap olehnya. Ini tidaklah mungkin. Sakura baru saja memiliki hari yang buruk dikarenakan mimpi bodoh semalam.
"Ada apa, Sakura?" tanya Sasori ketika ia melihat wajah Sakura yang pucat menatapnya.
Sakura menarik napas panjang. Wajahnya semakin memucat ketika ia menyadari tatapan Uchiha Sasuke mengarah ke arahnya dari kejauhan. Sejak kapan pria itu ada di sini? Kenapa juga Sakura tidak menyadarinya?
"Kalau kau sudah selesai, kita bisa kembali. Aku melupakan sesuatu." Jawabnya ringan dan ia mencoba membentengi diri untuk tidak melirik ke arah Uchiha Sasuke saat ini.
Sasori mengangguk kecil. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan bangkit dari kursinya ketika Sakura pergi mendahuluinya dengan tergesa-gesa.
Maka, ketika Sasori mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang berhasil membuat Sakura berubah seketika, ia menemukan sosok Uchiha Sasuke mengedipkan mata ke arahnya dengan sinis dengan secangkir kopi di mejanya.
Tidak ingin menimbulkan perkelahian di sini, Sasori memilih untuk pergi menyusul Sakura yang masuk ke dalam mobil dan mengemudi menuju kantornya. Jelas sekali kalau Sakura menyembunyikan sesuatu darinya. Kehadiran Uchiha Sasuke di sana sangatlah mengganggunya.
Sakura membuka kaca mobilnya, tersenyum menyesal ketika mendapati wajah kecewa Sasori menatapnya. Ia melirik kaca restaurant dan mendapati perhatian Sasuke masih mengarah pada mereka. Sakura menarik napasnya, mencoba tersenyum menyerah pada Sasori.
"Aku minta maaf. Aku harus pergi," dan Sakura menekan pedal gasnya untuk menjauh dari halaman parkir restaurant sebelum sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi.
Sasori hanya bisa memandang mobil hitam itu dengan pandangan datar. Ia kembali menoleh ke arah dalam restaurant. Tidak lagi mendapati Uchiha Sasuke duduk di sana dan mengamati mereka.
.
.
Pintu ruangannya diketuk, Sakura menimbang-nimbang siapa yang datang kali ini untuk mengejutkannya. Maka, dengan jantung berdebar kencang setelah menggumamkan kata masuk, ia memilih untuk tetap menunduk dan fokus pada laporan ketimbang menatap penuh gelisah pada pintunya.
Ayame masuk dengan sebuah map hijau di tangannya. Sakura mendesah lega, ia tersenyum ketika Ayame melangkah maju mendekati mejanya.
"Nona, kau harus menghadiri rapat di gedung Uchiha Corp satu jam dari sekarang," Ayame membuka map hijau itu dan memperlihatkannya pada Sakura yang tampak terkejut dengan ucapannya.
Sakura membaca isi laporan itu. Mengenai beberapa masalah yang terjadi akibat inflasi besar-besaran yang melanda ekonomi Jepang beberapa minggu belakangan ini. Ia tidak menyangka kalau ini akan berdampak pada pekerjaan dan taruhan hidup mati Perusahaan yang dikelolanya.
Sakura menyerah dengan ketidakberdayaannya. Ia mengusap wajahnya lemah. "Baiklah, atur saja jadwalnya. Kita akan pergi bersama."
Ayame segera mengangguk setelah izin untuk kembali bekerja. Sakura memutar kursi kerjanya, memandang bangunan kota dari balik jendela ruangannya. Cuaca tidak bersahabat hari ini, gerimis yang tidak kunjung berhenti menambah buruknya suasana hatinya. Ia berniat untuk pergi bersenang-senang setelah semua urusan pekerjaannya selesai dan baru memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Tangannya bergerak untuk menyentuh perut ratanya. Ini baru berjalan satu bulan dan perutnya belum membesar. Ia masih bisa memakai pakaian kerja lamanya tanpa harus repot memikirkan perutnya. Ia sudah memantapkan hati untuk mengurus anaknya seorang diri. Tanpa bantuan dari Uchiha Sasuke atau apapun itu. Walaupun, pria itu telah menodainya dan membuat luka besar di dalam hatinya. Ia sendiri menyesal. Menyesal karena terlalu lengah dan bodoh sampai ia mendapati dirinya tengah mengandung.
Dan ia tahu, kalau ia sendiri tidak akan menangis. Menangisi kebodohannya.
.
.
Sakura berjalan diikuti Ayame di belakangnya. Gadis manis itu sudah menjadi kepercayaannya sejak tiga tahun yang lalu. Ia selalu cekatan dalam melakukan pekerjaannya dan membuat Sakura bangga. Sakura merasa puas dengan semua hasil yang dikerjakan Ayame untuk Perusahaannya. Wanita itu bahkan tidak ingin menukar Ayame dengan pegawai lain yang diagung-agungkan oleh Perusahaan lain agar mampu bekerjasama dengannya.
Sakura masuk ke dalam lift masih bersama Ayame di sisinya. Rapat akan dimulai sepuluh menit lagi dan ia berharap kalau semua anggota sudah hadir dan tidak perlu menunggu anggota lain yang jelas-jelas akan mengulur banyak waktunya. Ia ingin segera pulang dan beristirahat. Tubuhnya terasa lelah.
Pintu lift terbuka, Sakura melangkah keluar dari lift dan berjalan menuju ruang rapat. Ia melirik sekretaris berkacamata bening itu dengan dingin ketika wanita itu juga menatapnya tidak kalah dingin. Sakura menghentikan langkahnya tiba-tiba ketika suara wanita itu berhasil membangunkan emosinya.
"Oh, inikah Haruno Sakura yang terkenal itu? Jauh sekali dari perkiraanku selama ini," katanya diiringi dengan tawa sinis.
Ayame menegurnya dengan tatapan tajam namun wanita itu masih saja berceloteh tentang Sakura dengan segala pemberitaan yang ada. Sakura sudah memberikan pelajaran pada pihak majalah dan koran-koran jika memuat berita tentang dirinya yang masih beruba gossip dan bukanlah fakta. Ia tidak ingin reputasi yang ia bangun dengan susah payah harus hancur karena pemberitaan bodoh itu.
"Apa?"
"Kau juga tahu benar siapa dirimu. Kau berkuasa tapi tidak di sini." Jawabnya dingin.
Sakura baru saja mendekati meja wanita itu sebelum sosok Uchiha Sasuke datang dan langsung menengahi mereka berdua. Sakura merapikan blazer hitamnya. Tatapan matanya terkunci pada wanita berkacamata yang masih melayangkan tatapan tak bersahabat dengannya.
"Seharusnya kau tahu dengan siapa kau berbicara saat ini—" Sakura melirik nametag yang tersemat di kemeja wanita itu. Bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum mematikan. " —Sara."
Wanita itu—Sara menahan napasnya ketika Sakura melepas pegangan tangan Sasuke pada lengannya. Menatap tak suka padanya lalu pada atasannya, Sasuke dengan begitu berani. Mereka semua tentu mengenal bagaimana karakter Sakura yang sebenarnya. Keras dan dingin.
"Kau perlu membuat pelatihan untuk para pegawaimu," Sakura memutar matanya, tampak berpikir sesuatu, "mengenai pelajaran kesopanan atau keramahan, mungkin?"
Sakura tersenyum ketika mendapati tatapan Sasuke kini mengarah pada Sara. Ia mengedipkan matanya pada Sara sebelum berlalu pergi menuju ruang rapat. Ayame tersenyum pada Sara yang sekarang merasa terpojok. Gadis manis itu mengikuti Sakura menuju ruang rapat. Meninggalkan Sara seorang diri bersama Sasuke yang masih memandangnya dingin.
"Kita akan bicara setelah ini." Sara menelan ludahnya gugup ketika kata-kata dingin yang tidak pernah ia ingin dengar dari mulut atasannya, keluar begitu saja. Ia merasa menyesal bermain-main dengan Haruno Sakura. Dan bahkan dirinya juga tidak tahu kalau ini akan berakhir dengan pekerjaannya. Sial. Ia harus minta maaf nanti.
.
.
Uchiha Sasuke masuk ke dalam ruang rapat setelah ia mengambil berkas-berkas yang harus dibawa. Pikirannya sedang berkecamuk dalam banyak hal. Ia masih belum bisa menerima kejadian yang terjadi di depan matanya. Dimana Sakura bercanda mesra dengan Sasori. Sial. Tangannya gatal untuk memukul pemuda dengan wajah imut itu.
Tidak perlu menoleh Sakura tahu siapa yang datang kali ini. Wanita itu duduk manis di kursinya. Pandangannya tetap fokus pada layar di depan ketika salah satu dari anggota memberikan keterangan tentang masalah yang terjadi.
"Mungkin salah satu dari kita akan bangkrut jika tidak bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat," ucap salah satu anggota yang bernama Tayuya.
Sakura tampak berpikir keras mengenai jalan keluarnya. Hanya ada dua tumpuan dari semua masalah ini. Antara dirinya dengan Uchiha Sasuke. Dua raksasa besar ini harus mempertaruhkan beberapa dari bagian mereka untuk kepentingan para anggota yang lain. Sakura masih berpikir keras, ia harus menemukannya atau semuanya akan hancur.
"Beberapa bank yang mendanai Perusahaan kami satu persatu mulai bangkrut tidak bersisa lagi. Kami memiliki banyak hutang untuk menutupi gaji para pegawai dan hanya saham yang bisa membantu kami saat ini," seru anggota yang lain.
"Ini masalah Pemerintah sebenarnya," Sakura menjawab keluhan dari para anggota. "Inflasi terjadi karena tidak adanya kestabilan dalam keuangan."
Sakura mengusap pelipisnya pelan. Lalu, kembali bersuara, "Aku akan membantu kalian. Pertahankan apa yang kalian punya saat ini. Aku bisa berdiskusi dengan beberapa bank besar lainnya."
Sasuke memutar-mutar pulpennya ketika sedang berpikir. Alisnya sedikit bertaut, pertanda ia sedang serius. "Aku akan menghubungi Itachi untuk masalah ini. Eropa sedang baik-baik saja dan ia bisa membantu mengatasi masalah kalian." Katanya dengan wajah sungguh-sungguh.
Sakura menoleh, tanpa sadar ia tersenyum samar ketika melihat tatapan penuh kelegaan bercampur rasa bahagia di wajah anggota rapatnya. Ia melirik Uchiha Sasuke yang masih duduk dengan tenang. Tampak ikut menikmati wajah para anggota rapat lainnya.
"Kalau begitu kami setuju. Terimakasih banyak." Mereka melayangkan pandangan berbinar pada Sasuke lalu bergantian pada Sakura.
Sakura mengangguk dengan senyum lebar. Ini bisa diatasi. Ia tidak akan menghancurkan Perusahaannya sendiri untuk masalah ini. Tidak akan ada Perusahaan lain yang akan menerima akibat dari kekacauan ekonomi ini selama mereka masih ingin berusaha mencari jalan keluar.
.
.
Haruno Kizashi menghubungi seseorang dari ruang kerjanya. Wajahnya tampak tegang beberapa saat sebelum kembali tenang. Di sisinya, Haruno Mebuki tampak terlihat gelisah ketika berulang kali pandangannya bertemu dengan pandangan suaminya.
"Kita akan mengunjungi putri kita, Mebuki. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Kita akan memberikan kejutan untuk Sakura," ucap Kizashi tenang sembari mengelus lembut bahu tegang istrinya.
Mebuki tersenyum penuh lega. Ia memeluk pinggang sang suami dengan lembut. Ia sangat merindukan putri kecilnya. Harta yang paling berharga yang ia punya selama ini. Berada jauh dengan sang anak membuatnya tidak tenang meskipun mereka selalu bertukar kabar setiap minggunya. Jiwa sang Ibu tetap saja terpanggil. Ia begitu menginginkan Sakura terus berada di sisinya.
Apalagi, ketika mengetahui kalau putrinya tengah mengandung. Ia tahu, ini sangat berbahaya bagi masa depan putrinya. Mebuki memejamkan matanya ketika air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak akan menangis demi mengingat luka lama putrinya yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam untuk selamanya.
Tapi, semenjak mendengar kabar kalau Sakuranya hamil dengan Uchiha Sasuke yang menjadi ayah dari janinnya. Tidurnya tidak lagi nyenyak. Bayangan ketakutan dan semua kemungkinan terburuk yang ada menghantuinya setiap malam.
Sakura bersikeras untuk mempertahankan bayinya. Sedangkan, dirinya dan sang suami bersikeras agar putrinya mau menggugurkan bayi tidak bersalah itu demi masa depannya.
"Sakura bisa celaka jika kehamilannya tetap dipertahankan," Kizashi berujar sedih dengan kedua matanya yang basah. Mengingat luka lamanya. Ia menatap Mebuki yang duduk membisu di kursinya. "Kita harus ada di sana dalam waktu yang lama, Mebuki."
Mebuki mendongak, menatap mata suaminya yang basah dengan penuh tekad. "Ya, kita harus."
Pintu diketuk membuat mereka menoleh. Sosok laki-laki tinggi berjas berdiri di tepi pintu untuk memberitahukan mereka sesuatu.
"Tuan, pesawat sudah siap. Kalian bisa pergi malam ini."
.
.
Sakura mendapat telepon mendadak dari pihak rumah sakit mengenai hal yang penting. Jantungnya serasa diremas tak kasat mata ketika mendengar penuturan dari sang penelepon dengan isakan pedih.
Ia terburu-buru keluar dari ruang rapat setelah berpamitan pada anggota yang lain kalau ia memiliki urusan yang mendadak. Tidak sampai Uchiha Sasuke mencegahnya masuk ke dalam lift dan memberi penjelasan padanya mengapa Sakura ingin segera pergi dari sana.
Sakura mengusap matanya yang basah. Wajahnya memerah dan ia berusaha sebisa mungkin untuk bersikap dingin ketika lengannya masih bersentuhan dengan telapak tangan Sasuke.
"Bukan urusanmu," Sakura menoleh. Mendapati wajah marah Sasuke yang menjadi reaksinya. Sakura menyentak tangan Sasuke hingga terlepas dari lengannya.
"Kalau kau pergi bersama Sasori lagi, aku tidak akan mengizinkannya." Serunya dingin.
Sakura menautkan kedua alisnya. Ia menatap dingin ketika Sasuke memulai perdebatan tidak bergunanya dengan dirinya. Ia benar-benar tidak punya waktu jika berurusan dengan Uchiha Sasuke saat ini.
"Aku bilang padamu, ini bukan urusanmu!" Balasnya tajam.
Sakura masuk ke dalam lift dan segera pintu lift tertutup sebelum Sasuke bisa masuk bersamanya dan menghentikan langkahnya lebih jauh lagi. Ia tidak ingin ada orang lain tahu mengenai hal ini. Tidak ada.
Pintu lift terbuka. Sakura berjalan melewati lobi dengan tergesa-gesa. Matanya tidak sengaja bertemu tatap dengan Sara yang ingin masuk ke dalam lobi dengan wajah tertunduk penuh menyesal. Sakura tidak ingin ambil pusing dengan masalah yang terjadi tadi.
"Nona Haruno," panggil Sara.
Sakura menghela napas. Ia berbalik, menunggu Sara untuk berbicara.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf."
Sakura memejamkan matanya. Ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman samar. "Ya, aku memaafkanmu. Sudahlah, aku harus pergi."
Sara mengangguk dengan senyum terpatri di wajah ayunya. Ia melambaikan tangannya ketika Sakura membalas senyumnya. "Hati-hati, Nona!"
Sakura mengangguk dan segera pergi meninggalkan teras gedung Uchiha menuju mobilnya.
.
.
Uchiha Itachi menatap sendu pada sang Ibu yang kini duduk lemah di kursinya dengan pandangan matanya menatap kosong pada taman besar belakang rumah. Pria berparas tampan itu segera mendekat, menyentuh lembut bahu sang Ibu dengan sayang.
"Apa yang sedang Ibu pikirkan?" tanya Itachi lembut.
Uchiha Mikoto hanya tersenyum lemah. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh rahang tegas putra pertamanya. "Aku hanya merindukan Sasuke. Itu saja."
Itachi terdiam sejenak. Ia ikut memandang taman belakang rumahnya dengan lirih. Setelah tiga tahun berlalu, Sasuke tidak lagi pulang ke rumah. Ia meninggalkan rumah ini dengan perasaan marah yang berkecamuk pada keluarganya. Hanya Itachi yang selama ini menjadi penghubung antara keluarganya dengan Sasuke.
"Apa Ibu ingin bertemu dengannya?"
Mikoto menoleh tak percaya pada sang anak yang kini tengah tersenyum padanya. Ucapan Itachi benar-benar membuatnya terasa hidup kembali.
"Apa Ayahmu mengizinkannya?" tanya Mikoto sedih.
Itachi memeluk sang Ibu dengan melingkarkan tangannya pada bahu Ibunya. "Tenang saja, Ayah akan mengizinkannya. Ia tidak mau harga dirinya tercoreng hanya karena mengucapkan rindu pada Sasuke."
Mikoto tersenyum lirih. Ia membalas pelukan Itachi dengan sayang. Kedua matanya terpejam. Membayangkan hal apa yang akan terjadi ketika ia bertemu dengan Sasuke setelah sekian lama berlalu. Apakah putranya akan baik-baik saja? Apakah Sasuke sudah berubah, apakah Sasuke akan menerimanya lagi? Ia tidak tahu.
Yang jelas, ia datang untuk merubah segalanya. Untuk merubah apa yang pernah terjadi di antara dirinya dengan putra bungsunya.
.
.
Ino memeluk Sakura yang menangis terduduk di lorong rumah sakit dengan terisak. Wanita pirang itu juga ikut menangis ketika mendapati sahabatnya tak henti-hentinya menangis sejak menginjakkan kaki ke rumah sakit ini.
"Bagaimana bisa, Ino?" Sakura masih menangis di dada sahabatnya. Ia masih menunggu proses jalannya pengobatan anak asuhnya. Sakura tidak pernah memberitahukan ini pada siapapun. Hanya keluarganya dan Ino lah yang tahu mengenai ini.
Sakura membeli sebuah rumah sakit khusus untuk menangani anak-anak penderita kanker dan disabilitas yang berkebutuhan khusus dengan kekurangan biaya pengobatan. Anak-anak asuhnya yang selama tiga tahun ini menjadi tumpuan hidupnya. Sakura bahkan rela menyerahkan hidupnya demi mereka hidup dan tidak pernah merasa terasingkan lagi oleh dunia luar.
Ia membiayai semua kebutuhan rumah sakit ini. Sakura sengaja membangunnya di sudut kota agar terhindar dari media dan segala pemberitaan yang ada. Sakura dengan rutin mengunjungi mereka setiap minggunya. Mendengarkan ketika mereka bercerita tentang pengalaman mereka, melihat mereka bermain sudah cukup membuat hatinya terobati akan kerinduan yang ia sendiri tidak tahu apa itu.
Ini semua berawal ketika Sakura mengalami mimpi buruk. Mimpi yang begitu menakutkan dan membuatnya selalu terjaga setiap malam. Mimpi setelah kecelakaan itu terjadi. Sakura tidak pernah mengingat apapun setelah kecelakaan itu. Ia bahkan tidak ingat sedang bersama siapa saat kecelakaan itu terjadi dan siapa pelakunya.
Kasusnya ditutup. Orang tuanya memaksa untuk menutup kasus itu dengan alasan yang tidak Sakura ketahui. Semenjak itu kesehatannya sering terganggu. Sakura tidak tahu apa yang terjadi dengannya selama beberapa tahun belakangan ini.
Saat itu Sakura diajak untuk berkeliling melihat anak-anak yang memiliki kekurangan fisik dan penyakit mematikan disaat hidupnya masih terlalu panjang untuk dijalani. Ia tersentuh, ia ingin merawat mereka, bergabung untuk berbagi luka yang sama. Sakura pernah mengalami gangguan hebat setelah kecelakaan. Dan hanya anak-anaklah obat paling ampuh untuknya. Dan itu alasan mengapa Sakura bisa berdiri tegak sampai sekarang.
Sakura berpindah tempat duduk agar Ino bisa ikut duduk bersamanya. Sakura sudah berhenti menangis dan menyisakan isakan kecil yang lolos dari bibirnya. Ino tidak henti-hentinya mengelus lembut punggung Sakura dengan sayang untuk menenangkannya. Sakura berefek dengan hal itu.
"Aku akan membelikan air untukmu. Tunggu di sini." Ino bangkit dari kursinya dan pergi ke luar untuk membeli sebotol air. Ia menghapus air matanya, ketika bergerak keluar rumah sakit. Tubuhnya membeku ketika mendapati Uchiha Sasuke berdiri tidak jauh dari halaman rumah sakit dan kini tengah memandangnya.
Sial, tidak ada yang boleh tahu tentang hal ini.
Ino berusaha mengabaikannya. Ia memutar arah jalan lain agar tidak berpapasan dengan Sasuke di sana. Tapi, sayang, langkahnya tidak terlalu cepat untuk menghindarinya. Sasuke kini berdiri tepat di depannya. Meminta jawaban darinya.
"Tidak ada yang perlu kau tahu, Sasuke. Tidak ada." Ucap Ino datar.
Ino bergerak untuk terus berjalan maju. Tapi, terhalang oleh tubuh Sasuke di depannya.
"Beritahu apa yang Sakura lakukan di sana."
Ino memejamkan matanya, mencoba menahan air matanya yang akan tumpah saat ini juga.
"Aku berpikir banyak mengenai hal ini. Mengapa aku membencimu sama seperti apa yang dilakukan kedua orang tua Sakura padamu. Seharusnya, kau tahu apa yang terjadi."
Sasuke mengatupkan bibirnya. Menahan ucapannya.
"Ini ada kaitannya dengan Sakura. Kau tahu apa yang terjadi tiga tahun lalu? Ini berkaitan dengan nuraninya. Semua terhubung ke sana," Ino mengusap dahinya kasar. "Seandainya, kecelakaan itu tidak terjadi. Sakura tidak akan pernah menjadi seperti ini."
Sasuke memundurkan langkahnya ketika Ino mulai menangis.
"Jika, kasus itu tidak ditutup. Kita akan tahu siapa dalang dibalik semuanya. Sakura tidak akan menderita karena semuanya."
Sasuke terdiam. Ino menarik napas perlahan-lahan lalu membuangnya. Ia menghapus air matanya kasar. Mencoba tersenyum dingin pada pria di hadapannya.
"Kau tahu kalau Sakura mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Melebihi apapun di dunia ini. Tapi tidak untuk saat ini. Setidaknya, aku benar-benar bahagia melihatnya yang menatapmu sebagai rival bukan seseorang yang dicintainya seperti tiga tahun lalu."
Ino tersenyum ketika wajah pucat Sasuke menjadi reaksi pertama yang dilihatnya. Lalu, ia kembali melanjutkan perkataannya, "Aku berdoa semoga Sakura tidak pernah sadar dan melupakan masa lalunya untuk selamanya."
Ino melangkah menjauhi Uchiha Sasuke untuk pergi membeli minuman. Sasuke masih setia berdiri di sana. Memandangi latar rumah sakit dengan pandangan kosong. Perlahan-lahan ia bergerak menjauh dari sana dan sosoknya hilang di balik taman rumah sakit entah kemana.
.
.
Sakura melangkah gontai ke arah taman dan duduk di sana sembari terisak. Anak asuhnya masih terbaring koma karena penyakitnya yang semakin parah dari hari ke hari. Ia seharusnya ada di sana untuk menyemangatinya dan tidak sibuk bekerja sepanjang waktu. Ini semua salahnya.
Sakura menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis terisak di sana untuk waktu yang lama. Rumah sakit tampak sepi karena para dokter sedang beristirahat. Ia tidak ingin pulang ke rumah, ia ingin tidur di sini menemani anak-anak asuhnya yang kini sedang terbuai bersama mimpi indah mereka.
"Aku tidak bisa melihatmu menangis."
Sakura membuka tangannya, ia mendongak dengan kedua matanya masih basah dan pandangannya sedikit buram ketika melihat sosok menjulang yang kini berdiri di depannya.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf."
Sosok itu memeluknya dengan bahu bergetar. Sakura tidak bisa membalas pelukannya sama seperti apa yang sosok itu lakukan. Ketika Sakura menunduk untuk mencium aroma sosok itu, ia baru tersadar kalau saat ini Uchiha Sasuke yang memeluknya.
Sakura meronta agar Sasuke melepas pelukannya. Namun nihil. Sasuke mempererat pelukannya meskipun Sakura memberontak agar Sasuke melepasnya.
"Lepas, Sasuke. Kenapa kau ada di sini," lirihnya sembari terisak. "Tidak ada yang tahu tentang semua ini. Kenapa kau mengikutiku!" Sakura mengepalkan tangan kanannya untuk memukul lengan Sasuke yang melingkari bahunya.
Sasuke diam saja. Ia tidak merasakan apapun ketika Sakura memukulnya agak keras. Seluruh tubuhnya seakan mati rasa.
Sakura memaksa untuk tetap melepas pelukan mereka. Ia menatap Sasuke dengan linangan air mata di wajahnya yang memerah. Sasuke menarik napas panjangnya, ia menyentuh kedua pipi memerah Sakura dengan kedua tangannya. Mengusapnya dengan lembut kedua pipi basah itu.
Ditatapnya lekat-lekat iris hijau menenangkan itu dengan dalam. Meskipun, kini berubah merah dan basah, Sasuke masih bisa merasakan kelembutan yang selama ini tersembunyi di dalam sana untuknya. Bola mata yang selalu dirindukannya setiap malam.
"Aku mencintaimu. Aku akan tetap mencintaimu selamanya."
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
Author Note:
Ya, kalau ada yang tanya kenapa mellow gini, saya akan jawab karena tuntutan alurnya. Gak semua orang kuat itu bisa menyembunyikan lukanya /apasih
Disini bakalan keungkap kok apa yang terjadi dengan mereka. Yeay. Yang bisa nebak, silakan tebak ya! Jawaban dari kalian ada beberapa yang mendekati ada juga yang zonk wkwk.
Saya kena wabah wb hiks. Jadi mood nulis saya turun drastis. Saya juga belum sembuh total. Tapi keburu idenya surut, mending saya tulis.
Saran, review dan segalanya ditunggu ya. terima kasih bagi yang sudah membaca sampai sini!
Lots of Love
Delevingne
