Mata oniknya tidak percaya. Orang yang dicarinya selama berbulan-bulan, ternyata tinggal di YPA milik nenek sahabatnya. Ia tersenyum menatap wajah orang yang disayangi oleh ayahnya. Namun senyumnya menguar ketika melihat salah satu dari dua pirang tersebut pingsan.
"Astaga, Naruto!" ujarnya sembari mendekati Deidara yang mencoba mempertahankan tubuh adiknya agar tidak jatuh.
Ia terkejut ketika melihat perut bocah 14 tahun tersebut nampak besar.
"Nar!"
Ia memperhatikan wajah Deidara yang nampak panik. Tanpa bertanya lebih jauh tentang apa yang terjadi, ia mengambil tubuh Naruto dan membopongnya.
"Sai!" ujar Deidara lirih.
"Tunjukkan dimana kamarnya, Dei!" seru Sai ketika menyadari kondisi Naruto kian lemah.
Tanpa banyak bicara lagi, Deidara mengangguk lalu berjalan membimbing Sai menuju kamar adiknya.
.
.
.
Tears
Disclaimer: Masashi Kishimoto
By: Ran Hime
Rate: M
Genre: Drama, Hurt/Comfort
Pair: SasuNaru, ItaDei sligh SaiNaru, SasoDei
Warning: AU, AR, OOC, Yaoi, Mpreg. Alur maju dan mundur, Typo
.
.
Chapter 2
.
.
Tatapannya kosong seolah menerawang jauh ke masa lalu. Ia duduk terdiam meringkuk di sudut kamar mandi. Tidak dihiraukan olehnya air-air dari shower yang jatuh mengguyur tubuh pucat miliknya yang masih tertutup pakaian lengkap. Ia menyesal!
Di dalam hidupnya, seorang Uchiha Itachi tidak pernah sekalipun merasakan perasaan seperti terpuruk. Tapi hanya karena orang itu, orang yang tiba-tiba menghilang dari dunianya, ia merasa seperti orang terbodoh di dunia. Jika ditanya siapa yang harus bertanggung jawab atas sakitnya ayahnya, maka ia akan berteriak 'Aku'. Namun sayangnya, tidak ada yang bertanya perihal alasan mengapa dua Namikaze bersaudara itu pergi, hingga membuat ayahnya sakit-sakitan. Ia sangat tahu, jika ayahnya begitu menyayangi putra dari sahabat lamanya tersebut. Apalagi bocah ingusan yang ceria dan sangat hiperaktif itu. Betapa ia merasa iri ketika ayahnya yang terkesan dingin, ternyata bisa tertawa lebar karena celotehan dari bungsu Namikaze.
Terkadang Itachi berfikir, seandainya ia menolak tawaran adiknya. Pasti semua tidak akan terjadi. Pasti pemuda blonde itu tidak akan membencinya dan tidak akan pergi dari Konoha. Namun sayangnya, kata seandainya tidak mampu merubah semuanya. Orang yang ia sukai tidak mungkin memaafkan dirinya. Luka yang ia berikan tidak hanya di fisik akan tetapi juga di hati.
"Dei!" ujarnya lirih sembari menunduk, menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya, "Maafkan aku!"
Itachi masih ingat dengan sangat jelas ekspresi Deidara ketika itu. Ia menangis dan meringkuk di atas ranjang Apartemen Sasuke. Pemuda blonde itu bahkan menepis kasar tangan Itachi -ketika hendak membelai rambutnya- sembari berteriak mengumpat disela isakannya. Ia menutupi kepalanya dengan kedua tangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang sangat berantakan setelah 'kegiatan' pemaksaan tersebut.
Ia sesenggukan merasakan apa yang telah terjadi kepadanya. Tidakkah Itachi mengerti, jika ia benci pemaksaan. Tidakkah Itachi merasakan betapa ia terluka. Bukan hanya karena kebohongan yang telah Uchiha itu buat, akan tetapi juga karena rasa sakit akibat pelecehan yang dibuat oleh sahabatnya.
Masihkah ia percaya itu karena Itachi mencintainya?
Cinta itu menjaga, bukan merusak.
oO0~Ran Hime~0Oo
Sai mencoba meredam amarahnya ketika mendengar setiap kalimat demi kalimat dari penjelasan Deidara. Kedua tangannya mencengkeram erat lututnya. Tujuan awalnya ke YPA adalah untuk menemui Sasori. Belum juga bertemu Sasori, dua pemuda blonde telah mengalihkan perhatiannya. Ia tersenyum ketika terlintas wajah dua Namikaze di pikirannya. Ia berjalan mendekat ke arah bangku taman YPA. Matanya membulat ketika 2 sosok pirang tersebut adalah Namikaze. Apalagi setelah melihat keadaan bocah kesayangan ayahnya. Tubuhnya semakin kurus dengan kandungan hampir menginjak 8 bulan, hasil perbuatan adiknya.
Ia telah gagal dalam mendidik kedua adiknya. Jika itu Sasuke, ia tidak akan heran. Adik bungsunya memang sering bercinta dengan pemuda yang diajak ke Apartemen adiknya tersebut. Tapi ini Itachi! Adik yang diharapkan olehnya untuk bisa mengurus perusahan ayahnya, menggantikannya kelak. Bagaimana Itachi bisa sampai senekat itu?
"Sai!"
Mata oniknya menatap ke sumber suara. Lihatlah betapa menyedihkan pemuda cantik di depannya. Harus semenderita apa lagi hidupnya setelah kedua orang tuanya meninggal. Mengapa ia masih harus menerima pelecehan, hingga membuatnya harus menjual diri demi adiknya.
"Jangan katakan kepada paman Fugaku!" pinta Deidara.
Namikaze sulung tidak ingin sosok yang dianggap seperti ayahnya itu semakin sakit. Ia cukup mengerti dengan semuanya. Ia tidak akan menuntut apapun dari Uchiha. Ia tidak akan meminta pertanggungjawaban dari 'orang itu', sekalipun calon keponakannya membutuhkan ayah. Ia akan mengurusnya sendiri. Memberikan adiknya kepada 'orang itu' sama saja seperti menyerahkan adiknya kepada penderitaan yang lebih dalam.
" 'Dia' harus bertanggung jawab, Dei!"
"Aku tidak ingin paman murka. Naruto sudah dianggap anak oleh paman."
"Tapi tetap sa-"
"Lagipula," potong Deidara, "Naruto bukan anak gadis."
"Kau juga tahu kalau 'dia' tidak suka perempuan."
Mereka berdua terdiam.
Sai berfikir, ayahnya akan semakin marah jika mengetahui hal ini nanti. Semakin cepat ayahnya tahu, maka akan semakin baik. Dan adiknya... Ayahnya lah yang akan mengurus hal itu.
"Pulanglah, Dei! Ayah membutuhkanmu."
Deidara menggeleng. Ia tidak mungkin menemui Fugaku. Apalagi pamannya sakit karena terlalu merindukan adiknya. Apa yang harus dikatakan olehnya, saat berhadapan dengan Fugaku? Ia sudah menyecewakan Lelaki tersebut. Ia tidak bisa menjaga 'anak' kesayangan pamannya.
Masihkah ia bisa menatap wajah pamannya.
"Katakan saja keadaan kalian baik. Dengan melihatmu, ayah akan membaik, Dei!"
"Akan kuusahakan."
oO0~Ran Hime~0Oo
Mata obsidiannya menatap papan nama di atas pintu di depannya. Entah sudah berapa kali ia menginjakkan kakinya di KJS dalam beberapa bulan ini. Bocah ingusan itu sudah membuat semua orang repot. Kenapa pula ia mesti menghilang. Dan ayahnya...
Tidakkah ayahnya tahu, jika tugas kuliahnya menumpuk. Dengan tega ayahnya mengancam akan menyuruh Sai agar tidak lagi memberinya uang, jika ia tidak mau ikut mencari 2 Namikaze tersebut.
Ia semakin muak dengan orang-orang blonde itu. Mereka telah merebut perhatian ayahnya. Dan kini mereka sudah membuat seorang Uchiha Sasuke tidak bisa bercinta seperti biasanya.
Damn!
Sasuke memutar knop pintu di depannya. Dengan angkuh ia melenggang masuk ke ruang kepala sekolah KJS. Ia berhenti di depan meja kerja kepala sekolah.
"Katakan kemana bocah itu pindah!" ujarnya dingin.
Wanita di depannya mendengus. Ia mengangkat wajahnya dan menatap mantan muridnya dulu. Seperti biasanya, pemuda Uchiha bungsu itu angkuh dan berbeda dengan dua kakaknya.
"Sudah kukatakan, bukan! Dia pindah ke SJS di suna." Tsunade Senju terlalu lelah menanggapi Uchiha di depannya. Harus berapa kali ia mengatakan hal yang sama. Namikaze Naruto pindah ke Suna.
"Aku sudah mencarinya ke sana. Tapi tidak ada."
"Terserah kau! Itu bukan urusanku. Kenapa kau tidak mengaduk kota Suna saja." ujar Tsunade sinis.
Sasuke mendengus. Ia pun berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Memang percuma berada di sini, toh wanita mantan Sensei-nya itu akan menjawab hal yang sama. Lalu kenapa dia masih juga datang ke sini?
Entahlah! Ia ingin cepat menemukan bocah itu. Lagipula ia juga sedikit merindukan 'tempat' hangat itu. Ia merindukan teriakan yang dianggapnya suatu nyanyian itu. Ia merindukan desahan dari suara cempreng dari bocah itu. Hah… bahkan ia juga merindukan bibir mungil yang pernah ia nikmati sekaligus memanjakan 'miliknya' tersebut. Heh… ia belum pernah merasakan hal itu seperti saat ia bercinta dengan orang lain.
Sasuke menyeringai dan menentukan tempat pencarian yang baru, Kota Suna.
Persetan dengan kuliahnya. Toh, itu kampus ayahnya.
oO0~Ran Hime~0Oo
Sai memeluk tubuh mungil yang bergetar itu. Ia mengusap helaian pirang milik bocah yang sedang sesenggukan. Bocah yang pernah akan dijodohkan dengannya. Namun gagal karena mereka sama-sama normal. Ia tidak menyangka Naruto sekacau ini setelah sadar dari pingsannya.
"Hiks... Ma-maafkan aku, Sai-nii! Aku sudah mengecewakan ayah," ujar Naruto sesenggukan.
Naruto mencengkeram erat kemeja Sai. Ia semakin terisak ketika teringat harapan-harapan seorang Fugaku padanya. Ia sudah gagal dan tidak mungkin bisa mewujudkan harapan orang yang dipanggilnya ayah tersebut. "Ayah pasti marah."
"Sstt... Ayah tidak akan marah pada Naru, jika Naru mau pulang."
"Ak-aku takut Sai-nii. Dia dia menyakitiku. Aku takut." ujarnya semakin sesenggukan.
"Dia siapa Naru! Katakan siapa yang sudah membuatmu seperti ini," desak Sai, "Dia harus bertanggung jawab."
Naruto semakin mengeratkan cengkeraman tangannya. Ia menggeleng semakin sesenggukan.
"Aku takut Sai-nii. Dia menyakitiku. Dia-dia memaksaku. Dia 'menusuk'ku. Dan dia..." Naruto tidak mampu mengatakan hal yang disimpannya selama hampir 8 bulan ini. Air matanya semakin mengalir.
Sai mengeratkan pelukannya. Menyakinkan Naruto bahwa 'dia' tidak akan menyakiti bocah pirang tersebut.
"Katakan siapa orang yang sudah menyakitimu, Naru!"
"Di-dia... Sasuke-nii!"
Mata obsidian itu melebar mendengar pengakuan bocah blonde 14 tahun yang ada dipelukannya.
To be continue...
Maaf kalo chapter ini mengecewakan. Saya tidak tahu mesti berkata apa, ketika banyak yang memberikan respon kepada fic ini. Jujur, bahkan saya tidak bermaksud melanjutkan fic ini, karena awalnya cuma iseng pas nulis, hehehe
Terima kasih sudah mau memberikan review senpai dan reader semuanya.
.
.
.
Balasan review:
Rin Miharu-Uzu:
Iya ini MPREG.
Kalau lanjut, jangan berharap sebagus chap pertama yang nulisnya dadakan, hehe.
MJ:
Hai juga!
Wah makasih.
Kalo soal yang ngrape Naru, jawabannya di chapter ini.
Sai Naru sebatas kakak adik kok, mereka kan sama-sama straigh.
Ini sudah update,
makasih buat .
Vz:
Jangan guling-guling,nanti capek.
Hehe makasih sudah bilang fic ini bagus.
Han gege:
kalau soal itu, chap ini jawabannya.
84RIni:
Iya.
Ini jawabanya, soal siapa orang itu.
Guest:
Hehe... Sempat bingung buat lanjutannya.
Soalnya ndak kepikiran buat lanjutin fic dadakan ini.
Makasih udah mau menunggu fic ini di update.
ca kun:
Hehe
maaf Senpai, sudah menyecewakan senpai di chap 8 dan 9
botol pasir:
Huaww, Senpai yang nulis fic 'AKU' kan? Aku suka banget sama karya Senpai.
Makasih udah mau ngasih review, Senpai.
Reita:
Hehe, aku juga suka kalo dei jadi kakaknya Naru
.
.
Dan yang log in, saya balas lewat PM
Terimaksih sudah mau membaca fic ini ^_^
Mohon review-nya untuk chap in ya senpai dan reader sekalian ^_^
