Tears 3

Naruto membuka mata perlahan. Yang pertama kali ia lihat adalah pemuda bermata onik dengan nafas teratur tengah memeluk tubuhnya erat. Tanpa sadar air matanya mengalir. Rasa jijik datang ketika ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Ia benci dirinya sendiri. Ia benci pada suara desahan yang ia keluarkan. Bahkan ia juga membenci pemuda yang tertidur di depannya.

Dengan hati-hati ia melepas pelukan pemuda di depannya. Membuatnya meringis karena ada gerakan tiba-tiba di bawah sana ketika pemuda yang terlelap itu menggerakkan tubuhnya. Naruto menunduk, menatap benda panjang yang ujungnya ternyata masih tertanam di rektumnya. Sekali lagi ia merasa jijik saat menyentuh benda gemuk itu dan mencoba menyeluarkannya dari rektumnya. Ia menarik nafas panjang sembari menahan sakit. Darah dan cairan putih kental keluar dari rektumnya. Dengan langkah pelan ia menuruni ranjang yang penuh darah dan ceceran cairan dari kegiatan panas yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu.

"Dei-nii!" ujarnya lirih sembari mengambil celana seragam birunya di lantai. Memakainya dengan gerakan pelan sembari menahan sakit di selangkangannya yang terasa ngilu. Mata birunya menelusuri ruangan mencari baju putihnya. Lagi-lagi ia menangis ketika melihat seragamnya tertindi tubuh polos di ranjang. Ia pun memutuskan mengambil seragam milik pemuda yang menidurinya. Meski kebesaran, setidaknya ia tidak harus bertelanjang dada ketika keluar dari kamar berantakan itu.

"Dei-nii!" suara lemah keluar dari bibirnya yang bengkak.

Ia melangkah dengan tertatih. Mengabaikan rasa sakit dan pening di kepalanya. Ia trus melangkah menyusuri koridor penginapan. Hatinya sakit, tubuhnya sakit dan semuanya sakit. Ia tidak berhenti melangkah meninggalkan penginapan dengan terseok. Menerobos senja yang kian mempertemukan dirinya dengan malam. Melewati lalu lalang yang semakin ramai. Kepalanya kian pusing. Dan penglihatannya mengabur. Tubuhnya roboh entah kemana. Namun sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia dapat mendengar suara teriakan-teriakan dan sesuatu yang menghantam tubuhnya.

"Dei-nii!"

Kesadarannya pun menghilang.

.

.

.

Tears

Disclaimer: Masashi Kishimoto

By: Ran Hime

Rate: M

Genre: Drama, Hurt/Comfort

Pair: SasuNaru, ItaDei sligh SasoDei, SaiNaru.

Warning: AU, AR, Yaoi, OOC, Mpreg, alur maju-mundur, typo.

.

.

Chapter 3

.

.

Sai berjalan menaiki tangga rumahnya dengan lunglai. Perasaannya bercampur aduk. Pikirannya kacau setelah ia meninggalkan YPA. Apa yang harus dikatakan kepada ayahnya? Ia menghela nafas ketika teringat kembali bocah pirang tersebut.

Sai berjalan menuju kamar ayahnya. Mungkin dengan kabar yang ia bawa, ayahnya akan lebih baik. Hanya sekedar pemberitahuan bahwa ia telah menemukan 'anak' kesayangan ayahnya. Ia menatap setiap sudut ruangan yang kini semakin terasa sepi sejak 7 bulan yang lalu.

Dulu, rumahnya selalu ramai setiap kali Naruto berkunjung untuk Fugaku. Ia akan membuat ayahnya merasa tidak kesepian setelah ibunya lama meninggal. Bocah itu selalu menjadi obat untuk despresi Fugaku akibat terlalu memikirkan kelakuan anak bungsunya. Betapa berharganya Naruto untuk ayahnya, sampai Fugaku menyuruh Naruto memanggil dirinya ayah. Kehadiran bocah blonde itu lebih dari cukup untuk menggantikan keberadaan Sasuke yang memilih tinggal di Apartemen.

Sai berhenti di depan pintu kamar ayahnya. Ia menutup mata mengingat kejadian di YPA tadi sore. Awalnya ia tidak begitu yakin jika Sasuke berani 'menyentuh' Naruto. Deidara menjelaskan semuanya dan menyerahkan seragam putih yang penuh darah dengan nama Uchiha Sasuke di bagian dada kanan tersebut. Bukan hanya penuturan dari Deidara yang menjadi bukti. Akan tetapi juga penuturan Naruto. Ia masih ingat bagaimana kondisi bocah tersebut. Bagaimana keadaannya ketika menceritakan kelakuan bejat adiknya. Bocah itu tertekan dan sulit untuk ditenangkan setiap kali ia mengucapkan kalimat demi kalimat dari bibirnya yang bergetar itu.

Menghela nafas dan mengatur pikirannya, Sai membuka pintu kamar ayahnya. Ia melangkah masuk dan berjalan ke arah Fugaku yang sedang tertidur di ranjangnya.

Sai menarik kursi lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi tersebut. Ia menatap wajah lelaki berumur setengah abad di depannya. Gurat kelelahan nampak bertengger di kulit pucat sedikit berkeriput itu. Apa yang akan dirasakan oleh ayahnya, ketika mengetahui keadaan Naruto nanti?, pikir Sai sembari tersenyum, menatap ayahnya yang telah membuka mata.

"Sai!"

"Aku telah menemukan 'anak' ayah!" seru Sai.

Fugaku hampir terbelalak tidak percaya ketika mendengar penuturan anak sulungnya. Namun Fugaku hanya tersenyum tipis sembari menggumam. Bukan Fugaku tidak kaget, tapi hanya kepada bocah blonde itu saja ia dapat berekspresi, tentu setelah sang istri.

oO0~Ran Hime~0Oo

Deidara menatap wajah adiknya yang tertidur. Baru kali ini Naruto bisa sepulas itu dalam tidurnya, setelah vonis dokter beberapa bulan yang lalu. Ternyata kedatangan Sai bisa membuat Naruto sedikit tenang.

Satu Uchiha telah menemukan tempat persembunyian dirinya. Tidak menutup kemungkinan bahwa Uchiha yang lainnya juga akan menemukannya. Bagaimana ini? Ia bahkan belum mau dan tidak akan pernah mau bertemu mantan sahabatnya.

Naruto mengerang lalu membuka mata. Ditatapnya wajah kakaknya yang nampak lelah, "Dei-nii belum berangkat kerja?" serunya membuat Kakaknya tergragap.

"Kakak menunggumu bangun dulu."

"Aku sudah lebih baik, Dei-nii!" serunya sembari tersebut.

.

.

Orochimaru menatap tak percaya pemuda blonde yang duduk di depan meja kerjanya. Setelah berbulan-bulan Deidara bekerja untuk Club malam miliknya, akhirnya pemuda itu mengundurkan diri. Hah~ bukankah harusnya ia marah, karena tambang emasnya selama ini akan membuat pendapatannya berkurang drastis.

Jika itu orang lain, pasti ia akan menyuruh anak buahnya untuk segera menghajar orang tersebut. Tapi ini Deidara, sahabat sekaligus orang yang dicintai sepupunya, Hidan. Ia merasa senang karena akhirnya Deidara mau berhenti dari pekerjaan nista, menjual dirinya satu malam. Orochimaru senang, akhirnya Deidara mau menuruti omongannya untuk meninggalkan pekerjaan kotor itu.

"Harusnya kau menyuruh anak buahmu untuk menghabisiku, kan!" seru Deidara menatap tampang ular di depannya, "Bukannya malah senang seperti itu!"

"Jika kau orang lain, bisa kupastikan kau akan masuk rumah sakit," canda Orochimaru sembari menyandarkan punggungnya ke kursi, "Tapi itu kau! Hidan bisa meminta Jashin untuk mengutukku kalau kau terlalu lama ada di 'Paradise'." lanjutnya.

Deidara terdiam ketika mendengar nama Senpai-nya disebut.

Sudah lama! Ternyata tak terasa waktu begitu cepat berlalu semenjak kepindahannya ke Suna dan mendapatkan kejutan demi kejutan. Di mulai dari kematian Hidan yang mengalami kecelakaan 6 bulan yang lalu. Hidupnya mulai terasa berat. Gaji yang di dapat dari menjadi pelayan di cafe milik Orochimaru tidak seberapa. Bekerja sampingan pun tidak berhasil menutup kekurangan. Terpontang-panting karena tidak ada lagi orang sebaik Hidan kepadanya. Meski Orochimaru juga baik, namun ia tidak berharap lebih dari gaji yang ia dapat.

Lalu dua bulan kemudian, hal buruk menerjang hidup barunya. Adik satu-satunya mendapatkan Vonis mengejutkan dari dokter. Naruto tengah hamil tiga bulan. Astaga! Apa lagi ini, pikirnya. Ia memeluk adiknya yang bergeming. Naruto masih 14 tahun dan hidupnya masih panjang. Ia mengutuki dirinya yang lalai dalam menjaga adiknya. Perlahan namun pasti hal yang ditakutkan terjadi. Adiknya mulai enggan bersosialisasi dan mengurung diri.

Dan tidak di pungkiri, hidupnya semakin berat. Nasib pun mendorongnya untuk terjun ke 'Paradise', tempat laknat yang berkedok club malam.

Menjual tubuhnya demi adik tercinta. Mengulangi 'kegiatan' yang ia benci untuk uang. Dan semua demi Naruto.

Tersadar dari lamunannya akan teriakan pelan dari Orochimaru, Deidara segera mengalihkan pikirannya ke dunia nyata.

"Kau baik-baik saja?" tanya Orochimaru cemas.

Deidara hanya mengangguk.

"Maaf, membuatmu teringat pada Hidan."

Deidara menggeleng, "Tidak apa-apa!" ujarnya lalu bangkit dari kursi, "Terima kasih, Bos! Aku pergi dulu."

Setelah berjabat tangan dengan Orochimaru, Deidara memutar langkah keluar dari ruang kerja mantan bosnya.

.

.

Pemuda berambut merah muda tersebut menatap bangunan di depannya. Bangunan yang menjadi 'surga' untuk orang-orang yang membutuhkan 'kehangatan'. Tempat bagi para pria yang mempunyai penyimpangan seksual. Dan tentunya tempat pertama kali ia bertemu dengan dia. Dia yang pada akhirnya membuat seorang Akasuna Sasori jatuh cinta. Membuat seorang Seniman pemilik sekolah lukis itu, jatuh bangun untuk mendapatkan hati seorang gigolo yang berharga mahal.

Sasori tersenyum menyambut pemuda yang kini berjalan ke arahnya. Dibuka olehnya pintu mobil di sampingnya, lalu mempersilahkan pemuda manis di depannya untuk masuk. Lantas ia pun berlari kecil menuju pintu mobil depan yang satunya. Ia mengemudikan mobilnya setelah masuk.

"Terima kasih, Dei!" ujarnya membuka obrolan.

"Ini juga untuk Naruto, Sas!"

Deidara terdiam. Ia sudah memutuskan segalanya untuk hidupnya dan juga adiknya. Ia akan menerima tawaran Sasori. Menjadi guru di sekolah lukis orang yang mencintainya tersebut. Lantas mempertemukan adiknya dengan Fugaku. Semua akan baik-baik saja, itu yang dikatakan oleh Sai. Dan dia akan mengikuti apa yang disarankan oleh Sai.

Deidara menatap pemuda bermata hitam di sampingnya. Pemuda yang pernah membayarnya hanya untuk tidur seranjang tanpa melakukan 'itu'. Pemuda pertama yang membuat Deidara merasakan kehangatan dalam dekapan Sasori, bukan karena nafsu. Pemuda yang mati-matian mengejarnya yang seorang 'pemuas nafsu'.

"Jangan memandangiku terus, Dei!" seru Sasori tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya, "Kau membuat jantungku tidak nyaman."

Sadar atau tidak, pipi putih Deidara merona. Sasori selalu saja bisa meruntuhkan dinding beku di hatinya. Sasori selalu saja bisa membuat dirinya ingin jatuh cinta lagi.

"Terima kasih, Danna!" serunya lalu memalingkan wajahnya, menyembunyikan semburat merah di pipinya.

"Dan terima kasih sudah mau memanggilku Danna! Aku menyayangimu, Dei!"

"Aku juga!"

.

.

oO0~Ran Hime~0Oo

.

.

Tepat pukul 9 pagi, Sasuke sampai di SJS. Jarak antara Konoha dan Suna memang hanya membutuhkan waku dua jam bila ditempuh dengan mobil. Ia turun dari mobil setelah memarkirnya di halaman tempat parkir. Dengan langkah angkuh seperti biasanya, ia melangkah memasuki gedung SJS.

Sasuke melenggang masuk ke ruang Kepala Sekolah, setelah seseorang mempersilahkan masuk. Ia mendudukkan dirinya di kursi di depan meja kerja Kepala Sekolah. Di tatapnya dengan datar pria berambut putih panjang, sang Kepala Sekolah.

"Jadi, apa yang bisa saya bantu, tuan Uchiha?" tanya lelaki bernama Jiraiya tersebut.

"Informasi tentang Namikazi Naruto!" jawabnya dingin.

"Namikaze?" seru Jiraiya sembari mengerutkan keningnya.

"Kudengar dia pindah ke Sekolah ini."

"Oh, iya!" Jiraiya mengangguk, "Tapi beberapa bulan yang lalu dia mengundurkan diri. Dan kurasa kakaknya tidak mengurusi surat ke pindahannya."

"Di mana ia tinggal?"

"Alamatnya bergonta-ganti. Tapi kudengar dari teman-teman sekelasnya dulu, sekarang ia tinggal di YPA 'Akasuna'." Jiraiya tersenyum.

"Terima kasih atas informasinya dan selamat siang."

Sasuke berdiri lantas keluar dari Ruangan Jiraiya.

"Dasar, Sombong!" ucap Jiraiya lirih ketika Sasuke sudah menutup pintu ruangannya.

Tujuan selanjutnya adalah YPA 'Akasuna'. Sasuke menyeringai melangkahkan kakinya di sepanjang koridor SJS.

.

.

.

oO0~Ran Hime~0Oo

.

.

.

Naruto duduk di bangku taman YPA. Seperti siang biasanya, ia menemani anak-anak yang dititipkan oleh orang tuanya, karena urusan pekerjaan. Ia tersenyum setiap kali menanggapi pertanyaan demi pertanyaan bocah polos yang berada di sekelilingnya.

"Naru-nii, kapan adik akan lahir?"

"Emh, sekitar 2 bulan lagi, sayang!" ujarnya sembari menatap bocah perempuan bermata emerald tersebut.

"Wah, aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya."

"Kau kan masih kecil, Konohamaru!"

"Memangnya kenapa, Ino?"

"Kau bisa menjatuhkan anak Naru-nii, BAKA!" teriak Ino.

"Kenapa kau marah?"

"Hey, sudah!" Seru Naruto, "Tidak baik bertengkar." Naruto mencoba bangkit, "Naru-nii masuk ke dalam dulu, ya!"

Anak-anak itu mengangguk.

Baru beberapa langkah ia berjalan, seseorang memanggilnya dari belakang.

"Naruto!"

"Iya!"

Naruto berbalik. Senyumnya memudar ketika ia melihat sosok yang kini tak jauh ada di depannya. Ekspresi meraka sama-sama terkejut.

Seperti merasa Dejavu, ia mundur ke belakang. Air mulai jatuh di pelipisnya. Keringat dingin membuat perasaan Naruto tidak nyaman.

"Tidak mungkin!" seru Naruto melangkah mundur.

Ia mulai ketakutan.

BRAAKK...

Ia mengerang kesakitan ketika tubuhnya jatuh ke tanah dengan pantatnya menyentuh tanah terlebih dulu.

"AARGHH... DEI-Nii... SAKIT!"

Dirabanya perut yang membuatnya ingin pingsan.

Bocah-bocah tadi segera menghampiri Naruto. Berjongkok dan menatap panik wajah pucat Naruto.

"Naru-nii tidak apa-apa?" tanya Konohamaru.

"Naru-nii... Naru-nii kenapa? Apa adik menendang perut Naru-nii?" Ino tidak kalah Khawatir.

"Darah... Naru-nii berdarah!" teriak Sakura ketika melihat hakama orange bagian bawah itu berubah warna. Ia bangkit lalu berlari ke dalam YPA.

Di saat Naruto berteriak kesakitan. Mata kelam itu hanya mematung menatap Naruto. Ia bergeming mencoba mencerna apa yang terjadi. Sampai saat suara Naruto membuyarkan lamunannya, entah kenapa ia merasakan sesak di ulu hatinya.

"ARRGGHH... DEI-NIIII... SAKIT!" teriakan Naruto menggema di telinganya. Bocah itu mengalami pendarahan.

To be Continue...

.

.

.

Maaf ya... Sudah update telat, pendek pula. saya memang ndak mau ambil resiko ndak bisa nulis lagi. Kalau terlalu maksain, cidera di pergelangan tangan saya bias semakin parah. Tahu sendiri kan, kalo saya ngetiknya di note hape XP.

.

.

Balasan Review :

Guest:

Kenapa dengan Itachi?

Ntar dech dijawab sama chapte-chapter selanjutnya

Xp

Ca kun:

Makasih Senpai…

Ini sudah dilanjut

MJ:

Kan Sasuke ndak tahu kalau Naruto sedang hamil anaknya.

Lagi pula Naruto laki-laki, jadi Sasuke ndak pernah kepikiran sampai seperti itu

Sasori kapan muncul?

Nah tuh, dah muncul…

Han gege:

Ea… kayaknya

.

.

Dan yang log in, saya balas lewat PM

.

Terima kasih sudah mau membaca fic ini ^_^