Iris obsidian itu menatap pemuda yang tengah menjerit kesakitan, yang berada tidak jauh di depannya. Pandangannya terpaku ke arah jari-jari mungil, yang tengah memegangi perut buncit di depannya. Mata kelamnya tidak sedikit pun meninggalkan gundukan yang terbungkus Hakama orange. Hingga suara kecil menginstrupsi dirinya untuk kembali dan tersadar ke dunia nyata.

"PAMAN... BANTU NARU-NII!"

Entah merasa linglung atau memang masih syok, Uchiha Sasuke tetap bergeming dan berdiri di tempatnya semula. Sasuke masih belum bisa mencerna apa yang terjadi atas bocah Namikaze tersebut.

"PAMAN... TIDAKKAH KAU TAHU NARU-NII KESAKITAN!" Teriak Ino sedikit marah. "ADIK MENENDANG PERUT NARU-NII SAMPAI BERDARAH," lanjutnya polos, tanpa tahu jika sosok pemuda yang dipanggilnya kakak tersebut mengalami pendarahan.

"ARRGHH... DEI-NII... SAKIIT..."

Dan teriakan itu membuat Hati Sasuke terasa ngilu, hingga kakinya bergerak sendiri mendekati Naruto yang tengah duduk di atas tanah.

.

.

Tears

Disclaimer: Masashi Kishimoto

By: Ran Hime

Rate: M

Genre: Drama, Hurt/Comfort

Pair: SasuNaru, ItaDei sligh SasoDei, SaiNaru.

Warning: AU, AR, Yaoi, OOC, Mpreg, alur maju-mundur, typo.

.

Chapter 4

.

.

Sasuke segera berlutut dan mencoba mengangkat tubuh ringkih Naruto. Dengan sedikit sempoyongan, akhirnya ia dapat berdiri dan membopong Naruto. Tarikan di kemeja depannya membuat Sasuke menatap wajah tan yang semakin pucat dan berkeringat itu. Apa yang terjadi? Sasuke masih belum mengerti atas keadaan Naruto. Hamil? Itu terasa tidak mungkin. Naruto seorang laki-laki. Mata kelamnya menelusuri wajah yang kesakitan tersebut. Entah mengapa hatinya terasa tidak enak ketika melihat air mengalir dari sudut mata yang setengah tertutup tersebut.

Meski kesadaran Naruto masih belum hilang sepenuhnya, namun ia tidaklah sadar jika kini ia berada dalam gendongan orang yang paling ia benci. Yang ia tahu, kini perutnya serasa ingin pecah. Meski ia sudah sering mengalami pendarahan, namun kali ini rasa sakitnya lebih dari biasanya. Ia mengeratkan cengkeraman di baju depan milik Sasuke, hanya untuk sekedar menahan rasa sakit tersebut.

Sasuke membawa tubuh Naruto ke arah bangunan tua di depannya. Rasanya Sasuke ingin menertawakan dirinya sendiri yang merasa panik karena bocah ingusan yang dulu pernah ia gagahi. Baru menginjakkan kakinya di teras YPA, sesuatu hal terlintas di benaknya. Rumah Sakit! Ah, betapa bodohnya dirinya. Sasuke mengumpati dirinya sendiri yang melupakan Rumah Sakit.

Sasuke kembali memutar langkah. Baru selangkah ia berjalan, suara yang terdengar nyaring menghentikan niatnya untuk membawa Naruto ke Rumah Sakit. Ia berbalik dan mendapati seorang laki-laki yang seumuran dengan kakak pertamanya.

"Kau mau membawanya ke mana bocah?"

Ke mana? Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Tentu saja Sasuke akan membawa bocah Namikaze tersebut ke Rumah Sakit. Memangnya ke mana lagi ia akan membawa Naruto. Tidakkah lelaki berambut merah muda itu melihat kondisi Naruto? Sasuke hendak mengangkat bibirnya untuk bicara, namun Sasori terlebih dahulu memotongnya.

"Kau tidak perlu membawanya ke Rumah Sakit," ujar Sasori seakan tahu apa yang ada dipikiran Sasuke.

Entah kenapa mendengar kalimat itu, Sasuke ingin marah dan menghajar pemuda Akasuna tersebut. Tidak perlu! Kalimat itu terus berputar di kepala Sasuke. Tidak perlu apanya? Naruto kehilangan banyak darah dan kesadarannya hampir menghilang. Sasuke akan berbicara, namun lagi-lagi Sasori mendahuluinya.

"Dia sudah sering mengalami pendarahan!" seru Sasori lagi, "Bawa saja dia ke kamarnya," lanjutnya sembari menatap bocah perempuan yang ada di sampingnya, "Sakura, antarkan paman itu ke kamar Naru-nii," ujarnya setelah itu berlalu pergi untuk mencari neneknya.

Sasuke menatap punggung Sasori. Shit, harusnya ia sadar jika nenek Sasori adalah Dokter tersohor di Negara HI, Akasuna Chiyo. Sasuke tersadar dari lamunannya ketika suara gadis kecil di depannya memanggilnya. Ia segera beranjak dan berjalan mengikuti Sakura menuju kamar Naruto.

.

.

.

oO0~Ran Hime~0Oo

.

.

.

Sasuke membaringkan tubuh Naruto di ranjang kecil di salah satu kamar YPA. Ia hendak beranjak dari sana, namun cengkeraman di pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. Sasuke berbalik, menatap wajah Naruto yang memucat. Kelopak tan itu tertutup sepenuhnya untuk menahan sakit di perutnya. Dengan iris Oniknya, Sasuke menelusuri tubuh Naruto yang kini terlihat berbeda dari 7 bulan yang lalu. Tubuh yang semakin kurus dengan gundukan di perut Naruto yang membuat hatinya mencelos.

Astaga, ini pasti bohong!

Pintu terbuka. Dua Akasuna melangkahkan kakinya menuju ranjang. Chiyo beranjak menaiki ranjang di mana Naruto terbaring. Sedangkan Sasori sendiri berjalan ke arah lemari yang terletak di sudut ruangan, untuk mengambil kotak peralatan medis. Setelah menaruh kotak tersebut di samping neneknya, Sasori kembali berjalan ke arah lemari untuk mengambil infus serta tiang penyangganya.

"Nek, tangan kanan Naruto?" seru Sasori sembari menatap neneknya.

Akasuna Chiyo menatap Sasori sejenak lalu berujar, "Kau infus saja tangan kirinya." lalu ia kembali fokus ke tubuh bagaian bawah Naruto.

Sasuke mengerti apa yang dimaksud Sasori. Tangan kanan Naruto yang seharusnya diinfus itu ternyata malah mencengkeram dengan erat pergelangan tangan kiri Sasuke. Hingga akhirnya Sasori terpaksa menancapkan ujung selang infuse yang lancip itu di punggung tangan kiri Naruto. Sasuke memperhatikan gerak-gerik Sasori yang begitu cekatan dalam melaksanakan tugasnya. Bagaimana ia bisa?

"Aku pernah belajar Keperawatan." ujar Sasori tersenyum menatap Sasuke, seolah ia tahu apa yang ada di benak Uchiha bungsu tersebut.

"Eengh..."

Naruto mengerang merasakan punggung tangannya tertusuk selang infuse yang lancip mirip jarum suntik tersebut. Dan Sasuke meringis karena cengkeraman di tangannya kian kuat.

Chiyo merasa kesulitan menghentikan pendarahan yang dialami Naruto. Tanpa memandang cucunya, ia meminta Sasori untuk menekuk kaki Naruto dan membuka paha bocah tersebut lebih lebar, agar mempermudah dalam membersihkan darah disekitar rektumnya. Bukannya menekuk, kaki Naruto malah meronta, membuat kedua Akasuna tersebut kuwalahan. Sasori menatap Sasuke yang memasang ekspresi datar tersebut.

"Bisa kau bantu kami?" seru Sasori sembari tersenyum.

"Hn."

"Kau hanya cukup membuatnya tenang."

Sasori menatap wajah Naruto. Hatinya ragu. Ia tidak tahu mesti harus melakukan apa. Ini pertama kali dalam hidupnya, menemani seseorang yang tengah mengalami pendarahan. Sekali lagi, ia memperhatikan wajah Naruto. Keringat tidak henti menelusuri pelipis kecoklatan itu. Kelopak mata yang terpejam erat seolah menahan sakit. Bibir mungilnya mengucap 'mantra' kesakitan.

Sasuke menunduk, menurunkan kepalanya ke samping telinga Naruto. Diarahkan tangan kanannya ke kening Naruto dan mengusapnya dengan lembut. Ia mengucapkan kalimat-kalimat agar Naruto sedikit tenang. Membisik sesuatu untuk orang yang selama ini dicari oleh ayahnya. Beralih dari kening, Sasuke menghapus air mata yang keluar dari sudut mata yang tertutup itu. Sedikit mengangkat kepalanya, Sasuke menatap wajah Naruto. Entah sadar atau tidak, perlahan bibirnya menyentuh kening lengket tersebut sembari bergumam, "Tenanglah Dobe, kau baik-baik saja!"

Tubuh bocah 14 tahun itu melemas dan perlahan tidak lagi menegang. Nafasnya semakin teratur. Dan Akasuna Chiyo bisa 'menangani' Naruto dengan lancar dan baik.

Chiyo turun dari ranjang setelah selesai menghentikan pendarahan Naruto. Sesekali terdengar keluhan dari bibir wanita tersebut atas keadaan Naruto. Sudah sering ia menyuruh agar Naruto tidak terlalu memikirkan hal yang berat. Namun tetap saja bocah blonde itu sering membantah, hingga mengalami pendarahan. Sebelum Chiyo keluar meninggalkan kamar Naruto, ia menyuruh cucunya untuk mengganti Hakama orange milik Naruto. Ia tidak ingin Deidara panik ketika pulang nanti.

Setelah membersihkan alat-alat medis, Sasori menaruhnya kembali ke dalam lemari yang ada di sudut ruangan kamar. Ia datang ke arah Sasuke sembari menenteng seprei dan Hakama berwarna biru laut. Ia meminta Sasuke untuk mengangkat tubuh Naruto, sedangkan dirinya mengganti seprei yang telah berubah warna tersebut.

Walau sedikit kesulitan, akhirnya Sasuke berhasil mengangkat tubuh Naruto. Cengkeraman di tangan kirinya telah terlepas seiring Naruto yang tertidur akibat obat penenang. Setelah beres, ia membaringkan tubuh tan itu kembali.

"Biar aku yang mengganti bajunya!" seru Sasuke ketika pemuda Akasuna itu hendak mengganti Hakama milik Naruto.

"Terima kasih!" ucapnya sembari tersenyum. "Oh iya, Uchiha-san! Bisa kau jaga dia sebentar? Aku ingin menjenguk kakaknya dulu."

"Hn"

Menganggap jawaban dari kata 'Hn' itu adalah iya, Sasori berjalan ke arah pintu. Namun sebelum mencapai ganggang pintu, suara Sasuke menghentikan langkahnya.

"Kau ayahnya?"

Seolah mengerti maksud dari kalimat pertanyaan itu, Sasori mengepalkan kedua tangannya. Ayahnya? Memangnya dia seorang Pedophil apa? Ia menarik nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sasuke.

"Bukan!" serunya tanpa berbalik dan memunggungi punggung Sasuke, "Aku lebih tertarik dengan kakaknya." ia terdiam sejenak. "Kau tahu..." lanjutnya, "Tujuh bulan yang lalu seseorang telah memperkosanya. Dan meninggalkan bocah itu tanpa bertanggung jawab," ucapnya lalu berjalan melenggang pergi dari kamar Naruto. Meninggalkan Uchiha Sasuke yang bergeming di tempatnya dengan perasaan tertohok oleh pernyataan Sasori.

Meninggalkan tanpa bertanggungjawab? Yang benar saja? Bahkan Naruto yang meninggalkan dirinya di penginapan waktu itu. Naruto juga lah yang tiba-tiba menghilang dari Konoha. Sasuke menatap perut Naruto. Ia mengambil ponsel dari Saku celananya dan menghubungi seseorang.

.

.

.

oO0~Ran Hime~0Oo

.

.

.

Suara langkah menggema di sepanjang koridor YPA. Uchiha Itachi berjalan di depan adiknya dengan langkah tidak biasanya. Ia tidak tahu apa yang Sasuke lakukan di Suna. Dan ia pun tidak tahu apa yang terjadi dengan adiknya. Namun yang pasti, Sasuke tengah merasakan resah. Itu terbukti dari suaranya yang menghubungi dirinya kurang lebih dua jam yang lalu

"Aniki." ujar Sasuke memecah keheningan mereka.

Itachi tetap melangkah tak menjawab teguran adiknya. Ia masih terjebak dalam pikirannya. Ada apa dengan Sasuke? Untuk apa ia ada di tempat penitipan anak satu-satunya di kota Suna? Menghela nafas, akhirnya ia menjawab panggilan adiknya untuk kesekian kali itu.

"Menurutmu, bagaimana reaksi ayah jika tahu anaknya menghamili anak orang?"

Pertanyaan Sasuke sukses membuat kakaknya terperanjat. Menghamili anak orang? Itachi mengerutkan keningnya. Jangan bilang, Sasuke ke YPA untuk melihat anaknya bersama orang yang pernah ditidurinya. Itachi menggeleng pelan ingin tertawa. Jangan konyol! Sasuke seorang gay, sama seperti dirinya.

Itachi berbalik, menatap wajah adiknya yang datar, yang berdiri tidak jauh di depannya.

"Kau bicara apa, Sas?" ujarnya dengan ekspresi tak kalah datar.

"Jawab saja!"

Itachi menghela nafas sejenak, "Jika kau atau aku yang melakukannya, mungkin ayah akan bersyukur. Karena kau tahu..." Itachi terdiam sejenak, "Ayah sangat menginginkan anak-anaknya bisa memberikan keturunan."

Sasuke Sweetdrop mendengarnya. Ingin sekali ia menjerit, berteriak kalau yang dimaksud itu laki-laki bukan wanita.

"Namun kalau Sai-nii yang melakukannya, mungkin ayah akan marah besar."

Marah besar! Tentu saja, pikir Sasuke. Di samping Sai adalah anak tertua yang harusnya memberikan contoh yang baik untuk kedua adiknya, Sai juga satu-satunya anak Fugaku yang normal.

"Lalu bagaimana seandainya aku yang melakukan hal itu?"

Itachi memicingkan matanya. Ia pun tertawa sejenak sebelum akhirnya memasang wajah stoic-nya kembali.

"Sudah kubilang kalau ayah akan senang, karena satu anaknya telah normal."

Ingin sekali Sasuke memukul wajah kakaknya yang begitu santai, seolah hal pelecehan itu bukan masalah besar.

Sasuke menggeram, tidak peduli wajah stoic-nya pudar, "Aku menghamili Naruto, Aniki!" akunya frustasi, "Na-ru-to!" ulangnya dengan pengejaan.

"Itu bagus, karena akh- APPA?" teriaknya OOC ketika mulai mencerna nama yang disebut adiknya.

"KAU GILA, SAS!" teriaknya sembari mengusap kasar wajahnya, "Harusnya kau tahu bocah itu 'istimewa'," cercahnya tak perduli muka adiknya terlihat semakin kusut, "Dan kau menidurinya!"

"Aku tidak tahu soal itu!" ujar Sasuke membela, "Dan hari itu aku memperkosanya," ucapnya menelan ludah.

Sasuke semakin merasa terpojok. Ini masih berhadapan dengan Itachi. Lalu bagaimana kalau Sai tahu? Kakaknya itu pasti akan melapor pada ayahnya dan matilah Uchiha Sasuke. Jika itu orang lain, pasti ayahnya tidak akan bertindak. Tapi ini bocah Namikaze! Huh, Sasuke mana tahu akan begini jadinya. Mereka sama-sama lelaki.

"Lalu aku harus bagaimana?" seru Sasuke membuyarkan keterkejutan Itachi.

Itachi menatap Sasuke. Ia menghela nafas. Adiknya tidak pernah sekacau ini. Belum sempat ia membuka mulut, ia dibuat terkejut kembali.

"BRENGSEK KAU!"

Buagh...

Sasuke terlempar ke samping, akibat pukulan tiba-tiba yang tidak sempat ia hindari.

.

.

.

Begitu sampai di YPA, Deidara segera berlari menerobos hujan menuju bangunan di depannya. Ia begitu panik ketika selesai rapat, Sasori mengatakan jika Naruto mengalami pendarahan lagi. Deidara terus berlari tanpa memperdulikan dua orang yang ada di belakangnya. Sasori dan Sai, yang kebetulan juga mengikuti rapat di AAS (Akasuna Art School), dikarenakan mereka merupakan pemilik Sekolahan.

Namun langkahnya terhenti ketika sampai di belokan Koridor. Sempat terkejut hingga amarah menguasainya, ketika ia melihat dua orang yang amat dibencinya. Dua Uchiha yang telah menghancurkan hidupnya dan masa depan adiknya. Ia mengepalkan tangannya dan berlari ke arah dua pemuda Uchiha tersebut.

"BRENGSEK KAU!"

Buaghh...

Ia melayangkan pukulannya telak di pipi Uchiha Sasuke. Deidara mengatur nafasnya yang terengah, sementara manik birunya menatap sosok yang terlempar akibat pukulannya.

Deidara hendak memukul Sasuke lagi,

namun Sasori -yang entah sejak kapan berada di sampingnya- menghentikan tindakan sang kekasih. Deidara menggeram frustasi. Sementara Sasuke berusaha untuk bangun dengan bantuan Itachi.

Sasuke mengusap sebelah pipinya yang terasa panas. Ia yakin jika sebentar lagi pipinya akan berubah warna, membiru lebam. Ia memperhatikan Deidara yang nampak frustasi. Huh, ternyata ucapan Neji beberapa bulan yang lalu memang benar. Pemuda bermuka Uke itu bisa saja mematahkan kaki seseorang yang mengganggu adiknya. Buktinya pukulan di pipinya terasa sakit.

"KAU MAU APA LAGI, HEH!" teriak Deidara di sela cengkraman Sasori. "Kalau saja aku tidak menghormati paman Fugaku, mungkin sudah ku bunuh kau dari dulu. DASAR KEPARAT!"

"Dei, sudah!" ujar Sasori lirih. Kedua tangannya masih mencengkeram lengan Deidara agar tidak lepas, "Kita bisa membicarakannya baik-baik."

"Tapi pantat ayam itu sudah keterlaluan, Danna!"

"Iya, Dei!" Sasori berusaha menenangkan pemuda blonde itu, "Kau temani Naru-chan saja, dan mereka biar aku dan Sai yang mengurusnya."

Deidara mendecih. Lalu berjalan meninggalkan mereka untuk menemani adiknya. Namun sebelumnya ia memberikan tatapan kebencian kepada pemuda yang sedari tadi memperhatikan dirinya, Uchiha Itachi.

Setelah kepergian Deidara, Sasori pun mengisyaratkan yang lainnya agar mengikuti dirinya menuju ruang kerjanya. Yah, sekedar untuk membicarakan langkah apa yang akan Uchiha ambil.

.

.

.

Ruang kerja Sasori nampak begitu sunyi. Semenjak mereka berempat memasuki ruangan tersebut, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Itachi masih bergeming duduk di samping Sasuke. Ia dan adiknya terlihat seperti anak kecil yang kepergok mencuri mangga milik tetangganya. Diam dan bahkan tidak berani menatap wajah kakaknya.

Sai menghela nafas. Rencananya telah berantakan akibat ulah kedua adiknya yang tiba-tiba muncul di YPA. Percuma menunda pertemuan Deidara dengan ayahnya. Toh, sang pelaku telah mengetahui akibat ulahnya.

"Tatap kakak, Sas!" serunya kepada adik bungsunya.

Dengan ragu, akhirnya Sasuke mengangkat wajahnya untuk menatap wajah kakaknya yang tersenyum. Sai memang mudah tersenyum.

"Kau sudah melihatnya?"

Mengerti dengan kalimat kakaknya, Sasuke mengangguk. Masih ragu untuk bersuara.

"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

Sasuke menggeleng pelan. Sejujurnya ia tahu kemana arah maksud pembicaraan kakaknya. Ia jenius. Ia tidak bodoh. Tapi...

"Aku tidak bisa menikah dengannya." seperti biasanya, ucapan dari Sasuke terkesan dingin.

Sai bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah kedua adiknya. Tenang... Ia masih mencoba untuk bersikap tenang. Dan tepat di hadapan Sasuke, ia berhenti.

"Kau laki-laki, kan? Bersikaplah dewasa."

"Aku akan bertanggung jawab, tapi bukan berarti aku harus menikahi dia!"

Sai sedikit geram dengan kekeraskepalaan adik bungsunya, "Memangnya, bagaimana kau akan bertanggung jawab?"

"Menitipkan anaknya di sini lalu membiaya anak itu sampai dewasa. Jadi dia tidak perlu repot mengur-"

"KAU?" potong Sai dengan nada geram, "Itukah yang dinamakan bertanggungjawab, heh?"

"Lalu aku harus bagaimana, Aniki? Aku harus menikah dengannya? Lalu jadi ayah yang baik? Jangan gila, Aniki! Aku masih muda! Aku masih 19 tahun dan harus mengurus bocah itu beserta anaknya?" ujar Sasuke bangkit dari duduknya.

"SASUKE!" seru Sai menaikkan volume suaranya, "Jika kau belum siap hidup dengan ikatan, harusnya kau lebih berhati-hati dalam bertindak." Sai semakin terbawa emosi.

"Lagipula, walaupun aku dan dia menikah, pernikahan itu tidaklah bisa disahkan oleh Negara. Bocah itu masih 14 tahun." Sasuke tetap bersikukuh pada pendiriannya.

Sai mengepalkan kedua tangannya dengan erat. 14 tahun, dia bilang? Sai melangkah satu langkah lagi ke hadapan Sasuke. Kesabarannya tidak bisa ditahan lagi. Dilayangkan tangan kanannya menuju kerah baju adiknya.

"14 tahun kau bilang, heh?" ujarnya menarik kerah kemeja Sasuke, "KAU TAHU DIA MASIH 14 TAHUN DAN KAU BERANI MENIDURINYA!" teriaknya penuh amarah.

Sasuke nampak terkejut dengan perilaku kakaknya. Selama 19 tahun ia hidup dalam keluarga Uchiha, tak pernah sekali pun ia melihat Uchiha Sai menampakkan emosinya. Kakaknya selalu tersenyum menanggapi kenakalannya selama menjadi bocah. Tapi kali ini...

"Kau akan tetap menikah dengan Naruto," ujarnya sembari melepaskan kerah baju Sasuke, "Dan pernikahan kalian akan didaftarkan ke Negara, tepat ketika Naruto berusia 19 tahun," lanjutnya lalu berbalik memunggungi kedua adiknya. "Katakan perbuatanmu pada ayah atau aku yang akan mengatakannya."

Usai berbicara seperti itu, Sai berjalan menuju ke arah pintu. Ia menatap Sasori yang sedari tadi hanya diam. Mengisyaratkan sesuatu kepada sahabatnya tersebut lalu keluar dari ruangan tersebut.

Sasori beranjak dari kursi. Tersenyum ke arah dua Uchiha secara bergantian.

"Sebaiknya kalian menginap saja. Hujan mungkin saja bisa sampai besok pagi."

Ia pun memutar langkah lalu berjalan menyusul Sai.

"Kau tak membelaku, Aniki?"

Mendengar seruan adiknya, Itachi yang sedari diam dan duduk dengan tenang pun akhirnya bangkit dan membuka mulutnya.

"Kau pikir hanya kau yang mendapatkan ceramah, heh!" Itachi menatap pintu yang tertutup. "Sebentar lagi giliranku."

Sasuke mendengus mendengar pernyataan kakaknya.

.

.

.

oO0~Ran Hime~0Oo

.

.

.

"Danna!" seru Deidara lirih, ketika ia melihat Sasori menutup pintu kamar Naruto.

Sasori tersenyum sembari melangkah mendekati Deidara.

"Bagaimana, Danna?" tanya pemuda blonde yang sedari tadi menemani adiknya.

"Sai bersikeras menginginkan adiknya agar mau menikahi Naru-chan."

"Tidak! Aku tidak akan memberikan Naru-chan." ujar Deidara mulai resah.

"Dei, dengarkan aku!" seru Sasori sembari mencengkeram kedua lengan Deidara dengan lembut, "Semua demi kebaikan kita semua."

"Naruto tidak akan setuju."

"Hanya sampai bayinya lahir," ujar Sasori mencoba menyakinkan, "Setelah itu mereka bisa bercerai."

"Tapi Danna?"

"Bukankah kita bisa mengasuh bayinya setelah kita menikah!"

Sontak kalimat pernyataan dari Sasori membuat pipi Deidara merona. Hey, bukankah itu bearti Akasuna Sasori melamarnya secara tidak langsung. Deidara menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya saat ini.

Sasori merengkuh tubuh pemuda di depannya. Memeluknya dengan lembut. Ia tahu ia tidak akan bisa memberikan keturunan untuk Deidara, maka dari itu ia telah memutuskan untuk merawat anak Naruto kelak ketika ia dan Deidara menikah.

"Sudah waktunya makan malam, nenek pasti sudah menunggu."

Deidara mengangguk dalam dekapan Sasori. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Dan tanpa ia ketahui, mata kelam itu tanpa sengaja menatap kemesraannya dari balik pintu.

.

.

.

oO0~Ran Hime~0Oo

.

.

.

Usai makan malam, Sasuke tak dapat memejamkan matanya barang sejenak pun. Ia menatap jam dinding di kamar tamu yang ia huni. Sudah pukul setengah sepuluh, tapi hujan yang mengguyur sedari siang belum juga mau reda. Kota Suna memang selalu begini. Sekali hujan, maka bisa sampai sehari penuh. Terkadang ia berfikir, bagaimana bisa banjir tidak pernah melanda kota yang selalu hujan dalam waktu seharian penuh itu. Memang ia akui, Suna adalah kota paling panas di Negara Hi. Jadi kota itu jarang turun hujan. Dan sekali hujan turun, maka bisa sampai seharian.

Sasuke menarik tubuhnya untuk duduk di atas ranjang. Ia beringsut ke tepi lalu memakai sepatunya. Mungkin dengan jalan-jalan di luar kamar, akan membantunya untuk bisa tidur. Ia pun melangkah keluar dari kamarnya.

.

.

.

Sasuke menatap pintu di depannya. Pintu yang menghubungkan dirinya dengan bocah blonde yang tengah tertidur sedari tadi siang akibat obat penenang. Meski awalnya ragu, namun pada akhirnya, Sasuke memilih memutar knop pintu di depannya lalu melenggang masuk.

Sasuke berhenti di samping ranjang yang tengah ditempati bocah berambut pirang, Namikaze Naruto. Ia memperhatikan wajah tan yang tengah tertidur dengan tenang tersebut. Benarkah dia bocah laki-laki waktu itu?

Sasuke mengulurkan tangannya ke arah wajah Naruto. Meraba kulit tan yang halus masih seperti dulu, saat ia cumbui waktu itu. Jari-jarinya merangkak turun. Menyapu rahang Naruto. Terus berjalan dan menyusuri kulit leher dan berhenti tepat di Hakama Naruto. Ia menelan ludah menatap kulit dada yang kini nampak di depannya. Dengan perlahan ia membuka Hakama Naruto. Memperlihatkan tubuh depan pemuda pirang tersebut.

Sasuke menggeleng dan ingin tertawa. Ia masih sangat ingat, lekuk tubuh di depannya sama persis dengan tubuh yang pernah ia tiduri dulu. Ia menatap perut yang membuncit milik Naruto, membuat hatinya mencelos kembali. Perut datar yang dulu pernah ia ciumi kini nampak membesar.

Sasuke meraba perut Naruto. Ia menutup mata ketika merasakan ada reaksi dari dalam perut Naruto setiap kali ia mengusapnya. Bayi yang sebentar lagi akan menatap dunia. Bayi yang katanya adalah hasil benihnya.

Sasuke tersentak ketika ia merasakan tubuh Naruto bergetar. Dengan buru-buru ia menarik tangannya. Ia menatap jendela yang terbuka. Mengerti udara dingin membuat tubuh Naruto bergetar, Sasuke berjalan menuju jendela. Udara benar-benar dingin, ditambah hujan musim gugur yang masih deras. Setelah menutup pintu jendela, Sasuke berjalan kembali menuju ranjang Naruto. Ia memperbaiki letak Hakama Naruto. Ia melepas blazer-nya lalu menaruhnya di kursi. Dengan langkah pelan, Sasuke menaiki ranjang dan tidur di samping Naruto. Memeluk tubuh Naruto. Menyalurkan kehangatan untuk bayi yang ada di kandungan bocah 14 tahun tersebut.

"Apa kau mau menikah denganku, bocah?" tanyanya sembari membenamkan kepalanya di ceruk leher Naruto. "Kurasa aku tidak mau!"

.

.

.

To be Continue...

.

.

.

Banyak yang bilang, Sasuke di sini kejam. Sebenarnya dia tidak kejam. Dia kan tidak tahu kalau Naruto hamil. Lagi pula Naruto juga laki-laki, jadi Sasuke tidak berfikir sejauh itu.

Semenderitanya Naruto, pada akhirnya Sasuke yang paling menderita, haha. Saya suka Sasu-teme menderita. (plakk *di cidori). Membuat suka seseorang yang pernah dilukai itu tidak mudah, lho...

Balasan Review

Widi orihara:

He'em, ini sudah panjang belum?

Ea, makasih! Ini sudah mendingan kok, n,n

Zaky UzuMo:

Ndak apa-apa kok. Setidaknya sudah mau membaca fic ini saja, saya sudah senang.

Saya juga suka kalau Naru-chan menderita (digeplak Naruto FC) O_o

Iztha dark neko:

hem, maaf baru update, hehe.

Makasih buat review dan Fav. Storie-nya.

hatakehanahungry:

Ya, begitulah! Itachi kena pengaruh si pantat ayam (di cidori n_ยค)

Ah masa' sich, Sasuke kejam. Padahal belum sampai nyiksa Naruto, hehe

Kalau Naruto sama Sai, ntar kasian Sasu-teme.

Tenang aja, Sasuke bakal menderita kok (pasang senyum lebar buat hatake)

Reita:

Naru cuma pendarahan kok, ntar kasihan anaknya kalo lahir di usia 7 bulan.

Ini sudah panjang belum?

Itadei kan baru ketemu. Ntar pasti diperbanyak kok.

Makasih buat review-nya.

Maurineko Aiko:

Everywhere?

Maksudnya? Jahat? Licik? Playboy? Atau nge-rape Naruto?

Kalo Naru dirape yang lain, ntar saya yang repot - di tawur reader, hehehe

Ini udah update, makasih.

VIP:

Makasih atas pengertiannya, Senpai.

Dan makasih buat review-nya ^_^

Misa07:

dak apa-apa kok.

Hem, lemon ya? Ada kok Misa. Tapi ndak tahu, asem apa ndak.

Ntar di chapter flashback. n,n

han gege:

Anaknya g hilang kok.

Kasihan Naruto kalo anaknya meninggal.

Guest:

Nah, itu dia yang masih saya pikirkan.

Emosinya orang dingin tuch gimana ya? *digeplak Fugaku.

Ne, Senpai! Kasih saran dong, gimana reaksi dan ekspresi Fugaku waktu tahu Naru hamil *pasang puppy eyes n_n

Naru ndak keguguran kok. Ntar kalo anaknya hilang, selesai dong ceritanya.

Earl Louisia Vi Duivel:

Lha, kan masih Hurt/Comfort belum Angst? Masa' sich menyayat.

Jiah, jangan digunduli rambut Sasuke! Kan daya tariknya ada di rambut pantat ayamnya.

Ntar Naru marah lho, seme-nya dikasih ke yang lain. n,n

eacc-augest:

Kenapa semua bilang Sasu-teme kejam sich?

Saya jadi merasa ikutan kejam nich... -,-

MJ

100 buat tebakan Senpai. Yang muncul itu Sasuke.

Ea, udah muncul tuch SasoDei-nya.

ca kun:

Makasih Senpai.

Ndak meninggal kok bayinya, kan cuma pendarahan.

Lagi pula, itu kan salah satu alasan Sasu-teme ntar jadi menderita.

Laila-l-mubarok:

Ini tetep ItaDei, kok! Kan Sasori cuma Chara pendukung.

Nah tuh, Sasuke sudah tanggung jawab.

Gentle, kan? Hehe

jangan kesel sama Sasuke, saja jadi tidak enak hati nich. Natar saya di cidori sama si pantat ayam (*Plak)

Gunchan CacuNalu Polepel:

Na-naru sama b-bayinya ndak apa-apa kok *ngelepasin cekikan Gunchan.

Apa Sasuke tahu itu anaknya?

Sudah dijawabkan Gun-Senpai.

Apa Naru akan mencintai Sasuke?

Sepertinya agak sulit buat chapter sebelum Naru melahirkan.

Nasib ItaDei?

Ini mulai masuk dalam membahas cinta segitiga ItaDeiSaso.

Apa akan berganti SasoDei?

Jawabannya tidak, Senpai!

Ntar Itachi sama siapa? Kan Kyuubi main di fic saya yang satunya. Masa' Itachi sama saya? Saya sich mau-mau saja *plakk-ngarep

Makasih buat review-nya

n,n

Ciel-kky30:

Udah lihat SasuNaru di chap ini, kan?

Hampir sebagian isinya SasuNaru.

Ea, semoga ndak kena WB, biar ndak harus berhenti di tengah-tengah cerita.

Two Brother Crazy Lady and Boy:

Hehe, makasih!

Sebuket?

Sebuket apa'an nich T.T

Dobe Hilang:

Kenapa Sasu datang di qpaat ndak tepat?

Kan memang sudah jalan ceritanya..

Naru ndak keguguran kok.

Reaksi Fugaku?

Nah itu dia yang masih saya fikirkan. Secara Sasuke kan menghamili laki-laki.

Rasanya aneh, kayaknya T.T

devilluke ryu shin:

Kenapa pada bilang Sasuke kejam sich?

Ntar kubikin kejam beneran nich -,-

Si Naru bakalan suka g sama Sasu?

Kayaknya sulit tuch, secara dia kan sakit hati juga sama si pantat ayam.

Nasib ItaDei?

Masih dipikirkan, hehe

Si Dei lebih cocok sama Saso...

Iya, saya tahu kok. Tapi kan Kyuu adanya di fic satunya. ^_^

MoodMaker:

Iya, Naru sama anaknya baik-baik saja kok.

Ini sudah lanjut.

Rin Miharu-Uzu:

Ini sudah lanjut n,n

Infaramona:

Nah tuch, Sasuke sudah tanggung jawab. Gentle, kan? Hehe

My Name Is Kuzumaki:

Ea, Dei kerja bareng sama Sasori.

Ntar Itachi bagaimana?

Dia kan baru ketemu Deidara...

Yang manggil Naru, Sasuke bukan?

Iya, itu Sasuke.

Naru ndak keguguran kok. Kan anaknya yang bakal nyatuin mereka.

Gimana Fugaku?

Saya juga belum tahu, hehe. Mohon sarannya, Senpai!

devilojoshi:

Ini sudah update.

Makasih sudah bilang fic ini seru.

Sai sayang ke Naru kayak adik kok. Kan Sai straigh, sama seperti Naruto.

kimura-shiba:

Kan udah ditolong sama Sasuke...

Jarak umur SasuNaru?

Sasu 19 tahun dan Naru 14 tahun.

Hm, kira-kira 5 tahunan.

Ini sudah lanjut.

.

Terima kasih sudah mau membaca fic ini ^_^