Naruto mengerang dan perlahan membuka mata. Ia terdiam sejenak saat merasa ada tangan yang melingkari dadanya. Ia menunduk sembari berdoa, semoga apa yang ia pikirkan salah. Merasa sedang berdejavu, ia menemukan tangan pucat sedang memeluknya.

Naruto menatap tangan pucat itu, menelusurinya hingga berhenti di wajah alabaster yang sedang menutup mata.

"Astaga!" serunya setengah kaget saat mengetahui siapa yang tengah memeluknya. Tanpa sadar ia mendorong pemuda berambut raven hingga terjatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi 'buk'.

Naruto mengatur nafasnya yang terengah-engah karena kaget. Jantungnya berdegup tak beraturan mengingat wajah yang baru saja ia tatap. Naruto berusaha bangkit meskipun hasilnya nihil, karena perutnya yang besar. Hingga akhirnya ia pun menyerah.

Sasuke telonjak kaget ketika seseorang mendorongnya. Ia yang belum terbangun seutuhnya pun terpaksa harus mencium lantai. Ia mengerang menahan sakit di tubuh depannya. Ia bangkit seraya mengumpat dan mengusap keningnya. Hingga saat ia benar-benar terbangun dan berdiri, menatap pemuda berambut kuning yang tengah memasang ekspresi syok bercampur takut. Tangannya bergetar dan jari-jarinya meremas selimut yang sedikit melorot. Sasuke pun menyeringai menatap iris Shapire yang melebar di depannya.

.

.

.

Tears

Disclaimer: Masashi Kishimoto

By: Ran Hime

Rate: M

Genre: Drama, Hurt/Comfort

Pair: SasuNaru, ItaDei sligh SasoDei, SaiNaru.

Warning: AU, Yaoi, OOC, Mpreg, alur maju-mundur, typo.

.

Chapter 5

.

Jika dapat bangkit, ingin rasanya Naruto segera pergi dari kamarnya saat ini. Namun apa daya, posisinya yang sedang terkunci oleh pemuda di atasnya, membuatnya hanya bisa menangis. Meski ia tahu pemuda itu tak menindinya. Masih membuat jarak antara perut buncitnya dengan perut pemuda tersebut, namun ia sungguh tersiksa dengan posisinya saat ini.

Dengan bertumpu dengan lututnya, Sasuke menopang badannya agar tidak menindi perut Naruto. Kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Naruto. Sedangkan bibirnya ia gunakan untuk melumat bibir Naruto.

Awalnya Sasuke tak berniat 'menyentuh' Naruto sedikitpun. Tapi wajah yang ketakutan itu membuat Sasuke bertindak lain. Ia menaiki ranjang kembali. Memposisikan lututnya berpijak di sisi tubuh Naruto. Dengan kasar ia mencium bibir pemuda blonde tersebut.

Sasuke memperdalam ciumannya. Tidak perduli bocah di bawahnya meronta. Tidak perduli di mana dirinya saat ini. Namun yang pasti, kegiatannya saat ini membuatnya melayang. Ia melepaskan ciumannya dan membiarkan Naruto mengumpat di sela menarik nafas sepuasnya.

"Lepas!" seru Naruto dengan suara serak.

"Kenapa, Dobe?" ujarnya sembari menciumi leher Naruto. Selembut mungkin tanpa menggigit kulit kecoklatan milik Naruto. "Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" Sasuke mengangkat kepalanya dan menatap wajah kusut Naruto. "Jadi..." Sasuke menyeringai, "Kau harus siap memberikan ciuman selamat pagi padaku setiap hari, hahaha!" lanjutnya disertai tawa mengejek dan kembali 'menyerang' Naruto.

Andai saja Naruto tidak dalam posisi hamil tua, bisa dipastikan ia akan menindih Naruto. Mengulang 'kegiatan' itu untuk kedua kalinya.

"KAU BRENGSEK!" teriak Naruto.

Naruto terus meronta. Tidak perduli darahnya tersedot selang infuse dan bercampur dengan cairan bening itu. Ia terus menggerakkan kedua tangannya untuk lepas dari cengkeraman Sasuke.

"Arrggh!" teriaknya frustasi. Air matanya kian mengalir.

Dan Sasuke Uchiha tersentak mendengar teriakan itu. Ia melepas kedua tangan tan itu dan mendekap kepala Naruto di dada bidangnya.

Bukk...

Sasuke meringis merasakan punggungnya terkena tiang infuse yang roboh. Usaha Naruto yang meronta tersebut, membuat tiang infuse bergerak mengikuti gerakan tangan Naruto, hingga akhirnya roboh.

"Kau memang bodoh, Bocah!" bisiknya masih menyembunyikan tubuh Naruto. "Kau ingin membunuh anak kita, heh?" lanjutnya tanpa sadar, mengakui jika anak yang tengah di kandung Naruto adalah anaknya.

.

.

.

Suara di ruang makan nampak sunyi. Tidak ada yang membuka suara satu pun sejak sarapan di mulai. Manik hitam itu sesekali mencuri pandang ke arah pemuda di depannya. Kapan waktu untuknya tiba?

"Setelah sarapan, aku dan Itachi-nii akan pulang!" ujar Sasuke memecah keheningan.

"Tidak! Kita akan ke Konoha bersama." seru Sai sembari meletakkan garpu dan sendok.

"Kita?"

"Ya!" jelas Sai. "Kita selesaikan hari ini juga." lanjutnya mengakhiri sarapannya.

.

.

.

Deidara mempercepat langkahnya menyusuri koridor menuju kamar adiknya. Ia terus melangkah, mencoba menghindari sosok yang kini membuntutinya. Memangnya apa lagi yang pemuda itu inginkan? Tidak cukupkah pemuda itu membuatnya sakit hati? Membuatnya tak bisa menjaga adik satu-satunya?

"Dei!"

Suara barithon itu membuat Deidara semakin muak. Kenapa pula ia mesti bertemu pemuda brengsek itu lagi? Deidara mempercepat langkahnya, tidak memperdulikan pemuda yang membuntutinya.

"Dei!" seru Itachi mempercepat langkahnya.

Itachi menarik pergelangan tangan pemuda blonde di depannya. Membuat Deidara harus berbalik reflek. Terdorong ke depan dan menabrak dada Itachi. Dan berhenti di pelukan pemuda Uchiha itu.

"Dei!" seru Itachi sekali lagi. Ia memeluk pinggang Deidara dengan tangannya yang bebas. Menyembunyikan wajahnya di leher Deidara, "Maafkan aku!"

Maaf? Semudah itukah Itachi meminta maaf? Tangannya yang bebas mengepal. Ingin sekali Deidara memukul Itachi. Melampiaskan semua perasaan yang ia simpan selama 7 bulan ini. Kecewa, marah, benci, dan menyesal.

"Lepas!" seru Deidara dingin. Ada di dekapan Itachi, hanya akan membuat hatinya semakin sakit.

"Maafkan aku, Dei!"

"LEPAS, BRENGSEK!" teriak Deidara sembari meronta.

Mendengar Deidara berteriak, Itachi melepaskan pelukannya meski sebelah tangan Deidara masih ia cengkeram. Ia menatap Deidara. Betapa terkejutnya Itachi melihat ekspresi Deidara. Dan peristiwa siang itu terlintas di benaknya.

Astaga? Ia membuat Deidara hampir mengeluarkan air mata lagi. Itachi meruntuki tindakannya.

"Dei!"

"Lepaskan tanganku!"

Itachi menelan ludah paksa. Ia mulai merasakan sesak di dadanya. Sebegitu besarkah rasa sakit Deidara yang ia sebabkan? Itachi melepaskan tangan orang yang ia cintai. Ia tak ingin Deidara semakin membenci dirinya.

"Maafkan aku, Dei?" ucap Itachi mengulang permintaan maaf untuk ketiga kalinya. Ingin rasanya ia tertawa miris mendapati kenyataan seperti ini. Seorang Uchiha Itachi meminta maaf, bahkan sampai tiga kali.

"Aku!" seru Deidara dengan lantang. Jari telunjuknya mengarah ke wajah Itachi. Pandangannya memancarkan kebencian, "Tidak akan memaafkanmu!" lanjutnya menurunkan tangannya, "Sekalipun kau bersujud di kakiku."

"Aku tahu aku salah, Dei! Beri aku kesempatan."

"Kau pikir kesempatan bisa memutar waktu, heh!" ujar Deidara sengak. "Kesempatan tak mungkin bisa mengembalikan kebahagian Naruto. Kesempatan tak bisa mengembalikan Hidan-Senpai ke dunia lagi. Dan kesempatan tak mungkin bisa membuatku menyukaimu lagi."

Deidara berbalik. Ia melangkah dengan cepat, meninggalkan Uchiha Itachi yang bergeming di tempatnya.

Cinta membuat orang bodoh! Ya! Itachi mengakui jika dirinya bodoh saat itu. Menuruti apa yang diucapkan Sasuke tanpa tahu yang sebenarnya. Dan karena ucapan Sasuke, ia harus terlambat menyadari apa yang Deidara sembunyikan bersama Hidan selama ini.

Damn it! Itachi memaki dirinya sendiri ketika suara Deidara bercampur tangis berdengung di telinganya.

"Tanpa kau paksa, mungkin aku akan melakukannya. Tapi bukan sekarang. Bukan seperti ini. Karena aku juga menyukaimu."

.

.

.

Sai terdiam memandang adik pertamanya yang tengah menunduk. Ia menghela nafas menanggapi ketidaksetujuan Itachi atas keputusannya tadi malam. Bukankah itu lebih baik dari pada Itachi masuk penjara atas tuduhan pelecehan. Deidara tidak menuntut apa-apa, hanya ingin satu hal. Itachi harus menjauhi pemuda tersebut. Tapi Itachi berfikir lain.

"Menjauhi Deidara itu adalah keputusan yang terbaik, Chi!"

Itachi mendongak, menatap mata kelam milik sang kakak. Ia meremas kedua tangannya, lantas berujar, "Tapi itu tidak ada adil bagiku. Kakak serasa ingin menyiksaku."

"Anggap saja itu hukuman atas perbuatanmu!"

"Jika Sasuke harus menikah dengan Naruto, lalu kenapa aku harus menjauhi Deidara." ucap Itachi lirih. Ia bernafas lega ketika ia yang selama ini tertutup, bisa mengeluarkan isi hatinya.

Sai memandang adiknya. Seberapa ia kecewa kepada Itachi, namun ia juga kasihan kepada adiknya tersebut. Ia tahu adiknya. Ia tahu bagaimana Itachi selama ini. Namun ia juga tak mungkin memaksa Deidara untuk memilih Itachi. Sasori adalah sahabat baiknya.

"Kau harus menerima kosekuensinya." ujar Sai mengakhiri perdebatan dengan sang adik.

Itachi terdiam. Jika sang kakak tak mau membantu, maka ia harus mendapatkan Deidara dengan caranya sendiri. Bukan pemuda Akasuna itu yang akan mendapatkan Deidara. Karena Author sendiri yang berbicara. Namikaze Deidara hanya untuk Uchiha Itachi. Pemuda berambut panjang itu menyeringai lalu tertawa sendirian.

.

.

.

Dengan perlahan, Deidara membuka pintu kamar adiknya. Ia tak berharap banyak, kecuali kondisi Naruto membaik. Namun pemandangan di depannya memupuskan harapan Deidara.

Iris aquamarine milik pemuda blonde itu membulat. Dengan ekspresi terkejut yang sangat, Deidara berlari ke arah ranjang. Pandangannya nanar ketika melihat kondisi adiknya yang berantakan. Selimut yang semalam menutupi tubuh adiknya, kini teronggok di lantai. Seprei putih itu berantakan tak lagi rapi. Tiang infuse tergeletak di lantai beserta selangnya. Sedangkan Naruto...

"Nar!" seru Deidara duduk di tepi ranjang.

Dibangunkan tubuh adiknya yang masih lemas, dan menyandarkan punggung Naruto di dadanya.

"Apa yang terjadi?" serunya cemas melihat wajah pucat Naruto terlihat basah. Pandangan kosong serta punggung tangan yang berdarah.

Naruto menoleh dan menatap kakaknya. Ia membenahi posisinya, hingga bisa menyembunyikan wajahnya di balik pelukan sang kakak.

"Dei-nii... Semua bohong, kan!" ujarnya mulai terisak. "Kau tak kan meninggalkanku, kan?"

Deidara memeluk tubuh ringkih adiknya, sebelah tangannya ia arahkan untuk membelai helain kuning seperti rambutnya.

"Kau bicara apa, Nar?" tanyanya ketika Deidara belum begitu mengerti dengan kalimat sang adik.

"Dia menemukan kita, Aniki! Dia bilang, aku dan dia akan menikah! Itu bohong kan, Aniki!"

Deidara mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya bocah Uchiha brengsek itu mendatangi adiknya. Apa kurang, Sasuke hampir membuat Naruto kehilangan bayinya?

Deidara mencengkeram lembut lengan Naruto. Mendorongnya pelan agar pandangan mereka bertemu.

"Apa Naru sayang ayah?"

Naruto menatap bingung kakaknya. Kenapa kakaknya tiba-tiba menyebut kata ayah? Ayah... Sudah lama ia tidak bertemu lelaki yang selama ini membuatnya serasa mempunyai orang tua laki-laki itu. Bagaimana keadaannya sekarang?

Naruto mengangguk menanggapi pertanyaan Deidara.

"Ayah sakit, Nar!"

"Ayah... Sakit?"

Naruto nampak terkejut mendengar berita tersebut. Setahu Naruto, lelaki yang dipanggilnya ayah itu selalu menjaga kesehatannya dengan baik. Bahkan yang ia tahu, Fugaku juga yang selalu membuang ramen miliknya selama tinggal di kediaman Uchiha, dengan alasan makanan itu tidak sehat.

Lalu bagaimana Fugaku bisa sampai sakit?

"Ayah merindukanmu. Beliau terlalu memikirkanmu hingga kondisinya menurun."

Dengan hati-hati Deidara menjelaskan alasan mengapa Naruto harus menikah dengan Sasuke. Ia tak ingin adiknya berpikir terlalu jauh. Ia tak ingin Naruto berfikir jika ia tak ingin lagi mengurus adiknya tersebut.

"Ayah ingin bertemu dengan Naru, jadi Naru harus menikah dengan Sasuke-nii."

"Tapi... Kenapa, Dei-nii!"

"Kalau ayah melihat 'anak'nya seperti ini, pasti ayah marah besar. Da-"

"Ayah akan menghajar Naru?" Naruto memotong ucapan kakaknya, masih belum mengerti arah pembicaraan kakaknya.

Deidara ingin menangis saat ini juga, ketika melihat mata sang adik berkaca-kaca. Tapi itu tidak boleh ia lakukan. Ia harus tegar dalam menyemangati sang adik.

Deidara menggeleng, "Bukan Naru yang dihajar, tapi Sasu-nii!" lanjut Deidara menjelaskan.

"Tapi ayah Sayang Sasu-nii!"

"Ayah juga sayang Naru." Ditatapnya adiknya yang masih belum mengerti akan semua kesepakatan yang telah dibuat antara dirinya dan Uchiha.

"Kalau ayah sampai menghajar Sasu-nii, kondisi ayah akan memburuk." Deidara menelan ludah. Ia tak sanggup membohongi adik satu-satunya. Jika bukan untuk Fugaku, ia tak kan sudi membohongi Naruto.

"Naru sayang ayah!" seru Naruto sembari menyembunyikan kembali wajahnya di dada sang kakak. Tangisnya pecah. Kedua tangannya yang bergetar menarik kuat kemeja di pinggang Deidara, "Naru tak ingin ayah sakit lagi."

Mendengar ucapan Naruto, tanpa sadar air mata Deidara mengalir. Ia menarik nafas panjang, berusaha agar suaranya terdengar tidak serak.

"Naru istirahat lagi. Kakak akan berkemas, karena nanti siang kita akan ke Konoha."

Naruto mengangguk dalam pelukan Deidara.

.

.

.

Cuaca begitu panas, meski waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Bahkan jejak-jejak hujan semalaman pun sudah kering terkena biasan mentari. Mobil berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Menerobos jalanan menuju kota seberang. Dan dalam beberapa menit lagi, dua mobil yang melaju dengan tujuan tempat yang sama itu, akan segera meninggalkan kota Suna.

Melalu kaca jendela mobil, Naruto menatap pemandangan kota Konoha, semenjak mobil yang ia tumpangi meninggalkan kota Suna. Membuatnya teringat kembali kenangan-kenangan yang telah terjadi selama 14 tahun ia hidup di Konoha. Piknik di taman bersama keluarganya, menikmati akhir pekan untuk bersama. Menangis tak rela, ketika melihat kedua orang tuanya dimakamkan. Ia berfikir, pasti kedua orang tuanya akan menderita bila tidur di dalam peti yang gelap. Bagaimanapun ia hanyalah bocah berumur sepuluh tahun, ketika kedua orang tuanya meninggal.

Lalu ketika ia harus terusir dari rumah orang tuanya, setelah datang orang yang mengaku sebagai kerabat ibunya. Ia dan kakaknya terpaksa tinggal di jalanan. Hingga hari itu tiba. Hari pertemuannya dengan Fugaku yang tak sengaja. Hari itu Deidara sudah sakit selama dua hari. Ia lapar karena hampir sehari tidak makan. Melihat air jernih di kolam taman Kota yang mengalir dari kendi yang dibawa patung seorang gadis bersayap, Naruto pun terpaksa meminumnya. Dengan tangan dan jari-jari yang disatukan, Ia mulai mengambil dan meminum air tersebut. Matanya memicing ketika sebuah kilauan dari dasar kolam kecil itu tertangkap kornea matanya. Ia tersenyum kecil lalu melompat ke dalam kolam. Ia memunguti recehan ryo dalam kolam tersebut. Dan saat itulah Fugaku yang hendak jalan-jalan, memergoki ulah Naruto. Dan semua terus berjalan sampai Fugaku mengetahui pemuda blonde itu adalah putra bungsu Sahabatnya. Dan setelah hari itu, seolah Tuhan membencinya, satu persatu cobaan menguji hidupnya.

Naruto juga masih ingat saat berdebat dengan Kiba, ketika pemuda pecinta anjing itu memilih meneruskan sekolah ke Suna setelah lulus Sekolah Dasar. Dengan terpaksa ia harus masuk KJS sendirian. Beradaptasi dengan lingkungan serta orang baru. Semua lancar-lancar saja, sampai saat kenaikan kelas tiga.

Peristiwa itu masih begitu jelas diingatannya. Ia hanya ingin menemui kakaknya dengan datang ke Universitas Konoha. Namun pemuda berambut panjang coklat itu, berkata bahwa Sang ketua Senat -Namikaze Deidara- sudah meninggalkan kampus. Lalu ia bertemu pemuda bermata onik itu di parkiran. Ia menerima ajakan orang yang dikenalnya tersebut.

Naruto menutup mata ketika ingatannya telah sampai di kejadian 7 bulan yang lalu.

Pingsan. Bangun dengan tangan terikat, kemudian mendapatkan ciuman-ciuman yang membuat tubuhnya penuh dengan bekas kemerahan. Dilucuti dan digagahi berulangkali sampai ia pingsan.

Astaga, Apa salahnya?

Deidara menatap Naruto yang terlihat tak biasanya. Ia bergeser dari duduknya, semakin mendekat ke Naruto. Deidara memegang pundak Naruto, membuat pemuda blonde itu terkejut dan menatap Deidara.

"Jangan memikirkan kejadian itu lagi," ujar Deidara sembari memeluk Naruto dari samping. "Kakak tak ingin terjadi hal buruk terhadapmu dan calon keponakan kakak."

Tanpa menjawab teguran sang kakak, Naruto hanya mengangguk.

.

.

.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya mereka sampai juga di kediaman Uchiha. Itachi memasukkan mobilnya ke halaman Kediaman Uchiha, mengikuti mobil Sai yang terlebih dulu telah masuk. Selama dua jam perjalan ini, Sasuke nampak terdiam dan memikirkan kalimat penjelasan yang akan ia sampaikan kepada ayahnya.

"Sas, semua orang sudah masuk!" seru Itachi membuyarkan lamunannya.

Sasuke menatap kakaknya yang telah keluar dari mobil. Tanpa menjawab seruan dari kakaknya, Sasuke membuka pintu mobil lalu melenggang keluar. Ia dan Itachi mengikuti Sai dan lainnya, memasuki Kediaman Uchiha.

.

.

.

Sai membaringkan tubuh Naruto di ranjang kamar tamu. Ia tertidur saat setelah Deidara memeluknya ketika dalam perjalanan tadi. Setelah itu ia dan kedua adiknya bergegas untuk menemui ayahnya.

Mereka bertiga berjalan menaiki tangga dengan Sai yang berada di depan. Setelah sampai di depan pintu kamar Fugaku, Sai memantapkan hati untuk memberitahukan semua yang terjadi sebenarnya. Perlahan ia memutar knop pintu dan membuka pintu kamar ayahnya. Ia serta kedua adiknya memasuki kamar dan berjalan menuju ranjang ayahnya. Sai membungkuk lalu memanggil ayahnya dengan pelan.

Perlahan Fugaku membuka mata dan menemukan onik seperti miliknya.

"Sai!" seru Fugaku.

Dengan bantuan Sai, ia berusaha untuk duduk dan menyandarkan punggungnya dengan tumpukan bantal.

"Sasuke ingin berbicara dengan ayah."

Fugaku menatap ke arah kedua anaknya yang lain. Ia memicingkan sebelah matanya, ketika mengetahui seorang Sasuke ingin bicara dengannya. Tidak seperti biasanya Sasuke pulang dan menemui dirinya. Ia terbatuk-batuk sembari menahan sakit di dadanya.

Melihat ayahnya yang sedang batuk, Sai segera menyambar gelas berisikan air putih yang berada di atas meja sebelah ranjang ayahnya, dan menyerahkan gelas tersebut kepada Fugaku.

"Minum dulu, ayah!"

Fugaku menerima gelas tersebut lalu meneguk air putih itu sedikit. Menghela nafas sejenak, Fugaku mengisyaratkan kepada putra bungsunya untuk berbicara.

"Ayah!" seru lirih, "Sebenarnya..." Sasuke menggantung kalimatnya, ketika ia tidak tahu mesti dari mana memulai pengakuan atas perbuatannya.

"Ayah..." serunya lagi, "Aku menghamili 'anak' ayah," lanjutnya sembari menatap lantai. Meneguk ludah paksa, menyiapkan diri atas apa yang akan ayahnya lakukan terhadap dirinya.

Prangg...

Mata Fugaku melebar ketika mendengar penuturannya. Gelas yang belum sempat ia berikan kepada Sai, jatuh berkeping-keping menghantam lantai. Kalimat Sasuke menggema di telinganya. 'Menghamili 'anak' ayah?' Jangan bilang, yang dimaksud Sasuke adalah Naruto. 'Anak' yang selalu ia rindukan. Tiba-tiba ia merasa ada kunang-kunang di sekitarnya. Ia memegang dadanya dan tak menghiraukan wajah panik Sai yang memanggilnya.

Semua nampak gelap di mata Fugaku.

.

.

.

To be Continue...

.

.

.

Balasan Review:

hatakehanahungry:

Hai, Hana! Salam kenal! Wah makasih sudah bilang chap 4 bagus. Hoho, ntar habis nikah yang paling menderita memang Sasu, kok! Xp.

Naru malah pegang tangan Sasu?

Kan dia ndak sadar kalau pegang tangannya Sasu.

SasoDei ada kemajuan,

Hu'um, biar manasin Itachi.

Jadi ndak tega nich sama abang 'Tachi u,u (*peluk bang Itachi) plakk.

Yang mengurus bayi Naru ntar SasoDei?

Hehe, makasih rahasia.

Misa_Kun_May-May_Micha007:

Ini sudah lanjut. Hehe, belum ada lemon. Maaf (bungkukin badan). Mungkin chapter depan baru ada Misa xp.

nasusay:

Makasih sudah bilang. Ndak apa-apa kok, yang penting nasusay sudah mau baca fic. Hehe, jangan panggil Senpai, dong! U,U kan saya masih 6 bulan di FNI.

'Kurasa aku tidak mau', itu Sasu yang ngucapin. Kan Naru sedang tidur akibat obat penenang.

meyy-han:

Wah, makasih sudah mau review dari chap awal.

Itachi gimana?

Itu sudah mulai Scene ItaDei.

Yang sama Dei tetep Sasori, kan?

Ah, maaf! Tapi saya ndak mungkin mengubah kerangka yang sudah saya buat, hehe. Jadi, mungkin Dei akan sama Itachi.

Sasuke ndak mau bertanggung jawab!

Namanya juga remaja yang suka kebebasan. Jadi pasti ndak mau kalau tiba-tiba harus menikah dan mengurus orang lain, sedangkan ia masih ingin sendiri. Hehe, jadi harap dimaklumi.

Fugaku kapan tahu?

Nah tuh, dia udah tahu.

Reaksianya gimana?

Udah dijawab kan.

Ini sudah lanjut. Maksih atas review-nya dan salam kenal juga. ^_^

laila_r_mubarok:

'Kurasa aku tidak mau', itu yang ngomong Sasu, kan Naru lagi ndak sadarkan diri. Kena obat penenang.

Sekali-sekali pingin juga Sai jadi jakaknya dua Uchiha, hehe

Makasih buat review dan Fav story-nya.

Gunchan Cacunalu Polepel.

Jah, do'a-nya jelek amat Gunchan. Tapi itu memang bener kok, hehe.

Iya, bayinya gpp kok.

Walah, disantet, jangan dong u,u ntar yang ngelanjutin ni fic siapa? U,U

kapan melahirkan?

Mungkin beberapa chap lagi.

Namanya siapa? Mirip siapa?

Hehe, masih rahasia.

Ini sudah lanjut.

Rin Miharu-Uzu:

Ini sudah lanjut.

Makasih buat review-nya.

Tia Hanasaki:

Ntar pasti ada balasannya kok. Giliran Sasuke yang menderita xp

Aku:

Ini sudah lanjut.

kimiru_shiba:

ea, makasih sudah berkenan membaca fic ini. Makasih sudah bilang chap ini bagus. Ini sudah lanjut.

rama-yuliansyah-5:

Yah, yang lain pada pingin nangis, kamu malah senyum ketawa. Pasti waktu scene SasuNaru ya? (plak *sok tahu xp)

reaksi Naru pas udah sadar?

Udah dijawab, kan!

Ini sudah lanjut lagi.

Nine:

Saya juga suka Sasuke kejam, Senpai xp. Sasuke ndak terlalu dingin kok, karena menurutku seorang playboy kalau punya sifat dingin, rasanya kok aneh, hehe. Saya juga suka cerita Naruto tertekan. Wah, kita hampir sama nich sepertinya. Hehe

Makasih atas review-nya.

Miao-chan 2:

Dei tetap sama Sasori g?

Jawabannya tidak, Miao-chan.

Buat menderita Itachi sama Sasuke

itu sudah pasti Miao-chan, mereka pasti menderita, haha( *di Amaterasu uchiha bersaudara o.O)

ca kun:

Apa Naru tetep menikah sama Sasuke?

Iya, Senpai. Kan dari situ ntar Sasu mulai suka sama Naru.

Kelamaan update-nya!

Hehe, maaf Senpai! Beberapa hari kemarin ada Festival kampul di tempat saya, Senpai. Dari pagi sampai malam, jadi jalanan pada ditutup ^_^

ini sudah update. Semoga juga panjang.

Farenheit July:

Haduh, giliran Sasuke yang dicekik.

Jangan dicekik Senpai, nanti kasihan.

Kan Sasuke memang sombong (*plak di cidori)

MJ:

Hai juga ^_^

Iya, Sasu dipaksa nikah sama Naru oleh Sai.

Apa Sasu akan suka pada Naru?

Apa Naru akan lupa sama traumanya?

Ntar dijawab perchapter kok

Itachi orang yang mengintip adegan SasoDei?

Iya, bener banget tuch ^_^

Namikazevi:

Ini sudah lanjut,

Makasih buat review-nya

Devilojoshi:

Ini sudah lanjut ^_^

Pasti, ntar Sasu menderita XP

kkhukhukhukhudattebayo:

Sasu kok ndak mau nikah sama NAru?

Kan dia ndak mau kebebasannya hilang.

Sasu ndak cinta Naru?

Kan dari awal Sasu memang ndak suka Naru ^_^

Reaksi Naru setelah dia melihat Sasu di sampingnya?

Sudah dijawab, kan Senpai.

Pasti Fugaku marah?

Tentu dong… secara kan Fugaku lebih saying ke Naru ketimbang Sasuke.

Lemonnya kapan?

Mungkin chapter depan yang flashback. Kalo yang udah saling suka, mungkin masaih lama, heheh.

Ini sudah lanjut.

Mekuto:

Ndak apa-apa kok, banyak pertanyaannya, tapi semua sudah dijawab di atas kan, hehe

Makasih buat review-nya.

Subaru Abe:

Sasu pasti menderita, tapi itu nanti setelah dia menikah. Terima kasih buat review-nya dan fav. Story-nya.

MoodMaker:

Kan Sasu masih ingin kebebasan.

Biasanya umur segitu kan memang masih suka ke sana ke mari, seneng-seneng,

Hehe….

Terima kasih sudah mau membaca fic ini ^_^