Teriakan demi teriakan terdengar memenuhi lapangan Konoha University. Bagi para Senior, tidak ada kata ampun dalam menangani para mahasiswa baru dalam ospek terakhir hari ini. Terutama seorang mahasiswa semester tujuh itu. Pemuda berambut pirang bermata iris aquamarine tersebut tidak pernah pilih kasih selama memimpin jalannya Ospek. Deidara selalu memberikan hukuman kepada Kohai-nya jika berbuat salah, ataupun tidak mematuhi peraturan yang harus dipatuhi selama kegiatan Ospek berlangsung. Ia tak kan peduli sekalipun yang berbuat salah adalah anak pemilik Kampus. Salah tetap harus dihukum.
Deidara menatap beberapa pemuda yang berseragam hitam putih tersebut dengan pandangan tegas. Ia memikirkan hukuman apa yang pantas untuk mereka yang memang kurang bisa diatur dari awal.
"Kau... Neji! Push up 100 kali!" teriaknya dengan lantang.
Pemuda berambut cokelat panjang itu hanya bisa menuruti perkataan Senpai-nya. Percuma membantah. Deidara hanya akan menambah hukuman untuknya jika ia menentang.
"Dan kau-" Deidara terdiam sejenak lalu menatap papan nama yang tergantung di leher pemuda bertato 'ai' di depannya, "Gaara... Lari keliling lapangan 50 putaran."
pemuda bernama Gaara itu tetap memasang wajah datar. Ia enggan menanggapi kalimat Senpai-nya yang itu. Semua mahasiswa Konoha University juga tahu, jika Deidara selama ini memang terkenal patuh pada Peraturan-Peraturan Kampus, dan akan menghukum para Kohai-nya yang bersalah -dalam Ospek- sekalipun mereka adalah anak dari orang yang cukup berpengaruh di Kampus. Karena itu pula, semua penghuni Konoha University selalu menaruh hormat kepadanya, meskipun Deidara hanyalah Mahasiswa yang bisa masuk ke Konoha University karena beasiswa. Setidaknya mereka menghormati Deidara karena dia adalah Ketua Senat, bukan karena uang.
Deidara mengalihkan pandangannya ke arah sosok yang sejak awal memang selalu seenaknya. Pemuda bertampang Stoic dengan rambut seperti pantat ayam, Uchiha Sasuke. Deidara tahu siapa pemuda berkulit pucat tersebut. Bungsu Uchiha, putra dari orang yang membuatnya bisa tetap kuliah di kampus ini. Meskipun demikian, ia tidak boleh memanjakan pemuda itu. Deidara telah menyetujui permintaan Fugaku untuk tetap memperlakukan anaknya seperti halnya calon Mahasiswa baru yang lainnya. Ia tidak perlu takut akan kehilangan beasiswa, meskipun ia berani menghukum pemuda beriris onik tersebut. Yang menentukan beasiswa untuknya adalah prestasi Seni yang selama ini disandang olehnya.
"Dan kau, Uchiha!" seru Deidara sembari menatap dingin Sasuke, "Lari 50 putaran dan Push up 100 kali."
Mahasiswa Seni tersebut berbalik lalu mulai melangkah meninggalkan lapangan, setelah sebelumnya mengisyaratkan kepada anggota yang lainnya untuk mengawasi tiga pemuda yang sedang menerima hukuman.
Mata dingin itu menatap nyalang punggung Deidara. Ini adalah penghinaan! Selama ini tidak ada yang berani kepada seorang Uchiha Sasuke, dan itu termasuk Kepala Yayasan. Memangnya siapa dia? Pemuda blonde yang hanya bisa masuk kampus ayahnya dengan beasiswa. Sasuke terus saja memandang punggung Deidara sampai tidak terlihat. Ia akan membalas penghinaan ini. Ya... Balas dendam! Sasuke menyeringai lalu mulai berlari mengelilingi lapangan.
.
.
.
Tears
Disclaimer: Masashi Kishimoto
By: Ran Hime
Rate: M
Genre: Drama, Hurt/Comfort
Pair: SasuNaru, ItaDei sligh SasoDei, SaiNaru.
Warning: AU, Yaoi, OOC, Mpreg, alur maju-mundur, typo, Rape.
.
.
.
Chapter 6 : Flashback
Sasuke duduk di bangkut yang terletak di pinggir lapangan. Ia meluruskan kedua kakinya sembari memijat-mijat kakinya yang terasa pegal. Push up 100 kali ditambah lari 50 putaran mengelilingi lapangan yang begitu luas.
Sasuke mendongak ke samping ketika seseorang menyodorkan minuman kaleng ke arahnya. Ia dapat melihat kakaknya tengah tersenyum kepadanya.
"Minumlah!" ujar Itachi sembari duduk di samping adiknya.
Sasuke menerima minuman pemberian kakaknya. Ia segera meneguk minuman tersebut dikarenakan rasa haus yang begitu mengeringkan tenggorokannya. Deidara memang butuh diberi pelajaran, umpatnya dalam hati.
"Harusnya kau tidak menentang Deidara," ujar Itachi memecah keheningan, "Kau tahu, kan! Ayah memberinya wewenang lebih untuk menghadapimu. Dia itu mahasiswa kesayangan ayah."
Sasuke tidak menggubris ucapan kakaknya. Persetan dengan status Deidara. Ia tidak pernah peduli meski Deidara adalah putra dari teman baik ayahnya. Ia tidak perduli kepada pemuda blonde itu. Lagipula ia tidak pernah mengenal sahabat ayahnya yang sudah meninggal tersebut.
Sasuke mengalihkan perhatiannya, menatap kakaknya yang tiba-tiba diam tidak bersuara. Ia mengikuti arah pandangan Itachi. Di sana, di seberang lapangan nampak Deidara tengah tertawa bercanda dengan Senpai-nya yang lain. Ia dapat melihat rasa sakit yang terlukis di wajah kakaknya. Ah, iya! Itachi memang telah lama menyukai Deidara. Karena rasa suka itu juga yang membuat Itachi menjadi anak baik dan meninggalkan kelakuan buruknya di SMA.
Sasuke menyeringai, "Kau belum mengatakannya?"
"Tidak! Aku tak ingin dia menjauhiku," seru Itachi tanpa mengalihkan perhatiannnya dari wajah putih yang sedikit bersemu di seberang sana.
"Kenapa tidak kau 'selesaikan' saja!"
Sasuke merogoh kunci dari saku celananya, "Aku meminjamkan apartemenku."
Itachi menoleh ke arah adiknya. Ia tahu maksud Sasuke. Dan ia juga tahu bahwa Sasuke memang sering bercinta di apartemennya. Dan Itachi pun tahu alasan sebenarnya kenapa adiknya memilih tinggal di apartemen. Semua bukan demi mandiri, akan tetapi untuk lepas dari aturan-aturan ayahnya yang bisa merubah Sasuke seperti dirinya.
"Terima atau tidak ada kesempatan lagi!" Senyum lebar mengembang di bibir Sasuke.
Itachi sedikit ragu, namun akhirnya ia meraih kunci tersebut.
"Aku harus pergi." ujar Sasuke sembari bangkit. Ia meraih tasnya dan menyelempangkan tas tersebut di bahunya.
.
o0ORan HimeO0o
.
Deidara mencoba menghentikan tawanya. Pipi putihnya yang bersemu merah itu membuat jantung Hidan berdetak lebih cepat. Ah, betapa manisnya wajah itu. Kohai berambut blonde itu memang telah mencuri hati Hidan, sejak pertama kali mereka bertemu, pertama kali Deidara masuk ke Konoha University. Bahkan karena Deidara, Hidan rela menunggu membuat Skripsi hingga satu semester kemudian. Ia ingin lebih lama bersama Deidara, namun tuntutan dari keluarganya untuk segera membantu di Perusahaan, membuat Hidan harus rela berpisah dengan junior-nya tersebut.
"Jangan lupa besok, Dei!" ujar Hidan setelah tawa Deidara berhenti, "Beasiswa-mu untuk satu semester lagi tergantung dari hasil kejuaraan besok."
"Aku tahu, Senpai!"
"Nah, cepat pulang lalu istirahat! Kau harus menyiapkan diri untuk besok."
"Tapi sayangnya Naru-chan ingin aku menemaninya cek up."
"Ya sudah! Tapi jangan terlalu lelah!"
Hidan pun meninggalkan Deidara sendirian di Koridor kampus.
.
o0ORan HimeO0o
.
Seorang pemuda berseragam KJS memasuki gerbang Konoha University. Ia celingukan mencari seseorang. Shapire birunya membuat Sasuke tertarik. Wajah tan itu nampak begitu manis di onik Sasuke. Melihat tubuh pemuda itu, membuat suhu tubuh Sasuke tiba-tiba naik. Ia harus mendapatkan pemuda itu. Ya... Membuat pemuda itu berakhir di ranjang seperti yang lainnya.
"Jangan macam-macam!" seru Neji membuyarkan pikiran kotor Sasuke, "Dia adik Deidara."
Mendengar itu, Sasuke segera menatap Neji. Pantas saja, ia merasa Familiar dengan wajah pemuda berseragam KJS itu. Adik Deidara... Sasuke menyeringai.
"Sebaiknya kau tidak 'menyentuhnya' atau Deidara akan menghajarmu," Neji mengingatkan, "Walau Deidara bermuka Uke, tapi dia bisa mematahkan kakimu."
Tidak menggubris ucapan Neji, Sasuke malah berjalan ke arah Naruto, "Katakan pada Senpai tercinta itu bahwa adiknya sudah pulang."
"Kau mau apa?" sahut Neji.
"Bersenang-senang! Dia cukup manis untuk 'dimakan'."
Neji hanya menghela nafas. Ia tahu jika Sasuke dendam kepada Deidara, karena merasa telah dipermalukan oleh Senpai kepercayaan Fugaku tersebut. Neji pun kembali memasuki gedung kampus untuk menemui Deidara.
.
o0ORan HimeO0o
.
Itachi mendekati Deidara. Ia sedikit ragu apakah akan menjalankan kesempatan yang diberikan oleh adiknya. Seberapa buruk kelakuannya dulu, akan tetapi ia tidak pernah melakukan hal nista seperti adiknya. Ia berhenti di depan Deidara. Membuat kaget sosok yang baru saja memutar langkah itu.
"Dei, maukah kau menemaniku menjenguk Sasuke di Apartemen-nya?" ujar Itachi sedikit gugup.
Deidara mengerutkan keningnya, "Kenapa dengan Sasuke?"
"Ia pingsan!" ucapnya berbohong.
"Astaga! Pingsan?" Deidara nampak kaget. Ia merasa bersalah karena telah menghukum Sasuke terlalu berlebihan. Ia berfikir sejenak, lalu mengiyakan ajakan Itachi. Mungkin dengan menjenguk Sasuke, ia bisa meminta maaf secara tidak langsung. Ia pun berjalan bersama Itachi. Lagipula janji dengan adiknya telah batal, setelah neji memberitahukan bahwa Naruto datang dan meminta Neji umtuk mengatakan bahwa bocah itu masih ada kegiatan tambahan.
.
o0ORan HimeO0o
.
Naruto membuka mata. Ia masih merasakan pening di kepalanya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua tangannya terikat di depan dengan dasi miliknya. Ia meronta mencoba melepas ikatan tersebut. 'Dimana ini?' tanyanya dalam hati. Perlahan ingatannya terkumpul.
Naruto masih ingat jika ia hendak mencari kakaknya di Konoha University. Bukannya mendapati kakaknya. Ia malah dihampiri pemuda emo bermata onik. Berdalih sedang ditugaskan kakaknya, pemuda tersebut membuatnya menurut. Ia masuk dan menaiki sebuah mobil berwarna hitam bersama pemuda tersebut. Tidak ada hal mencurigakan selama perjalanan. Hanya saja pemuda tersebut menghentikan mobilnya di tepi jalan dan membuatnya pingsan setelah memukul punggungnya.
"Sudah bangun bocah!"
Suara itu begitu dekat dari Naruto. Bahkan deru nafasnya terasa sampai ke leher belakangnya. Dimana pemuda itu?
Tangan pucat itu membalikkan tubuh kecil yang sedang terbaring miring membelakanginya di depannya. Hingga akhirnya ia dapat melihat mata sang pemilik yang terlihat kebingungan. Jarak yang begitu dekat itu membuat mata biru itu gelisah.
"Sa-suke-nii! Kita di mana?" ujarnya ketakutan.
Sasuke bangkit dari posisi rebahannya, "Di kamar!"
Naruto menelan ludah. Ia merasa cemas ketika mengetahui posisinya saat ini. Tidur di atas ranjang dengan posisi terikat. Jika itu Sai, ia tidak akan cemas karena ia tahu Sai itu normal. Tapi itu Sasuke, seorang gay sekaligus playboy.
"Di mana Dei-nii?" tanyanya ketika ia ingat tujuannya ikut dengan Sasuke.
"Dei-nii?" Sasuke balik bertanya seraya turun dari ranjang, "Dia memberikan kesempatan untuk kita bersenang-senang."
"Apa maksudmu?"
Suara itu kini terlihat cemas. Ia merubah posisinya menjadi terlentang hingga mampu melihat Uchiha Sasuke yang sedang membuka ikat pinggangnya.
"Kau mau apa?" Naruto menelan ludah.
Sasuke membuang sabuknya asal, lantas menurunkan resleting celananya setelah membuka kaitnya. "Sudah kubilang kita akan bersenang!" ia mulai menaiki ranjang yang sedikit berdecit karena ulahnya, membuat Naruto mendorong tubuhnya naik dengan kedua kakinya. Naruto menelan ludah, semakin khawatir ketika Sasuke membuka seragam sekolahnya.
Membuang baju putih tersebut, Sasuke segera menjatuhkan tubuhnya, menindi Naruto.
"Ka-kau mau apa, Sasuke-nii?" suaranya kian terdengar kalut.
Sasuke melepas ikatan dasi di tangan Naruto. Membuat bebas tangan itu untuk mendorong tubuhnya. Namun tubuh kekar yang menindihnya, membuat Naruto tidak mampu melepaskan diri dari Uchiha Sasuke.
Naruto terus saja memberontak, menggerak-gerakkan kepalanya ketika Sasuke mencium bibirnya kasar. Membuat Sasuke kian bernafsu untuk menggerayai tubuh tan di bawahnya. Sasuke terkejut saat tangan tan itu meremas pinggangnya. Ia menyeringai karena tangan Naruto yang memberontak malah membuat tangannya tidak sengaja menurunkan celana Sasuke.
Sasuke melepaskan ciumannya lalu beranjak bangkit dan berdiri dengan lututnya. Ia menatap wajah Naruto yang memerah dengan nafas terengah-engah. Saliva menetes dan menelusuri kulit leher mulusnya.
"Kau nakal, Naruto!" seru Sasuke membenahi celananya yang melorot hingga memperlihatkan kejantanannya yang setengah menegang tanpa dalaman tersebut. Ya... saat Naruto pingsan tadi dia telah melepasnya agar mudah dalam menggagahi Naruto, Orang yang selama ini dilewatkan kehadirannya, meski bocah blonde tersebut dan Deidara sering ke rumahnya. "Kau berani menurunkan celanaku!"
Kembali, Naruto menelan ludah dan menatap Sasuke dengan cemas. Memperhatikan Sasuke yang memperbaiki posisi celana hitamnya.
"A-aku tidak sengaja Sasu-nii."
Mata Naruto dibuat terkejut ketika Sasuke mengeluarkan kejantanannya dan memijat-mijatnya pelan.
"Besar,kan?" serunya sembari menatap wajah ketakutan Naruto.
"Kau mau apa, Sasu-nii?" tanyanya khawatir ketika Sasuke beringsut mendekati Naruto dengan lututnya.
"Sudah kubilang kita akan bersenang!"
"NO! DON'T FUCK ME!" teriaknya frustasi.
"I'm not going fuck you! But we will make love." ujar Sasuke berada tepat di atas leher Naruto. Mengacungkan kejantanannya tepat di atas wajah Naruto.
"NO! You can't do that! I'm minors. I'm still 14 years old."
"Oh, yeah!" Sasuke tersenyum mengejek, " That's good! Because i'm the first to enjoy your body." ia menjambak rambut Naruto. Membuat pemuda bermata shapire itu mengikuti gerak tangan Sasuke yang menarik rambutnya Naik. "We're going to have fun now. Suck me and you will also be satisfied. Hahaha!" Sasuke tertawa keras.
"NO!" teriak Naruto, "Hmmpp..." dan langsung mendapatkan 'benda' Uchiha tersebut.
Sasuke memaju-mundurkan kepala Naruto. Menikmati rasa hangat dari mulut yang basah tersebut. Ia mendesah tertahan dengan muka memerah setiap kali lidah Naruto menggesek 'miliknya'. Menerima gigitan-gigitan kecil saat tanpa sengaja Naruto tersedak.
"Ough... kau benar-benar hebat sebagai pemula," racaunya semakin kasar memaju-mundurkan kepala Naruto.
Sebutir air jatuh dari kedua sudut mata Naruto. Ia tidak pernah menyangka akan berakhir di tangan salah satu putra dari orang yang menolong dirinya dan kakaknya. Tubuhnya perlahan melemas, membuat cengkramannya di tangan Sasuke terlepas. Dan sekali lagi Naruto tersedak ketika cairan hangat menyentuh tenggorokannya. Ia mengambil nafas berat terlepas dari kejantanan Sasuke.
Beralih dari wajah Naruto, Sasuke menatap selangkangan yang membesar di tubuh Naruto. Ia merangkak hingga mencapai 'sesuatu' yang masih tertutup celana biru tersebut.
"Lihat! Naruto kecil minta dimanja!" ujarnya membuat Naruto membelalakkan matanya ketika Sasuke meremas kejantanannya kasar.
"TIIDAAK!" teriak Naruto saat merasakan pertahanannya dilepas paksa oleh Sasuke.
"Tidak?" ujar Sasuke melempar celana Naruto ke lantai. "Tapi sudah lepas, Dobe!"
"You are stupid, Teme!" serunya mencoba mengeluarkan teriakan yang sia-sia.
"Stupid!" Sasuke memandang Naruto dengan nyalang, "Kau mengatakan aku bodoh!"
Sasuke menarik paksa dalaman Naruto. Membuat pantat Naruto sedikit terangkat. Tanpa menunggu lagi, Sasuke segera membuka kaki Naruto. Mengangkat dan menaruhnya di pundak. Ia membungkuk lalu melahap 'benda' kecil diselangkangan Naruto.
Terkejut! Naruto mencoba bangkit lalu mendorong kepala Sasuke. Bukannya berhenti, Sasuke malah meraba 'lubang' Naruto. Mendapatkan cairan Naruto, Sasuke segera melepas kejantanan Naruto. Menatap wajah kelelahan akibat klimaks dan juga ulahnya yang mencoba meronta.
Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Dengan tangan kanan ia menyeka air mata Naruto. Sang blonde menggerakkan kepala dan menatap mata onik di depannya, "Kenapa, Sasu-nii?" tanya Naruto ambigu dengan suara serak.
"Karena aku membencimu! Kau mengambil perhatian ayahku." jawabnya berbohong. Ia bahkan tidak pernah sekalipun melihat Naruto bersama keluarganya semenjak ia memutuskan untuk tinggal di Apartemen. Ia tidak menyangka bocah ingusan yang dikenalkan oleh ayahnya empat tahun lalu, tumbuh menjadi semenarik itu hingga membuatnya 'mengeras' hanya dengan menatap wajah berkulit tan tersebut.
"A-aku minta ma- akh," pekik Naruto saat sebuah jari tertanam di rektumnya.
Sasuke mencium bibir Naruto sembari menambah satu jarinya dan membuat Gerakan di dalam sana. Lantas menambahnya lagi.
"Engg..." erang Naruto ketika jari besar itu menghantam prostatnya.
Sasuke melepas ciumannya bersamaan melepas ketiga jarinya dari ruang hangat tersebut. Ia bangkit lalu melepas celananya.
Naruto membangunkan tubuhnya. Ia hendak beranjak namun Sasuke sudah menangkap tubuhnya duluan. Ia berusaha meronta ketika Sasuke memeluknya dan menjatuhkan tubuh mereka ke ranjang.
Sasuke mencengkeram kedua tangan Naruto yang sedari tadi melawan. Menghempaskan tangan itu ke samping tubuh Naruto dan menyatukan jari-jari mereka.
"Hentikan, Sasu-nii!" ujarnya sembari meronta. "HENT- emmph!"teriakannya tertahan. Tapi tubuhnya tetap meronta ketika merasakan benda tumpul bergerak-gerak di sekitar rektumnya. Dan sekali lagi tubuhnya bergetar dan melemas. Matanya melebar. Wajahnya menahan sakit ketika setengah dari kejantanan Sasuke berhasil menerobos 'lubang'nya.
Berdiam sejenak, Sasuke memberi waktu untuk Naruto. Ia melepas ciumannya dan menatap wajah syok di bawahnya. Meremas jari-jari mungil di tangannya, Sasuke mulai memompa Naruto. Menggerakkan pinggulnya dan membuat suara ranjang berdecit. Ia mengencangkan permainannya hingga Naruto klimaks untuk kedua kalinya.
Melepaskan tangan Naruto, Sasuke segera beralih ke baju seragam Naruto. Melepas semua kancingnya lalu mulai menyerang tubuh tan itu hingga menimbulkan bercak kemerahan.
"Hen-ti-kan, Sasu-nii!" ujar Naruto parau. Ia tidak mampu melawan lagi. Jari-jarinya hanya mampu meremas seprei.
"Berhenti? Kau bahkan melahap 'milik'ku di tubuhmu dengan kencang." jawab Sasuke di sela menggerakkan pinggulnya dan menghisap-menggigit tonjolan di dada Naruto.
"Akh...Aaahh" Naruto mendesah disertai teriakan ketika dirinya mencapai klimaks untuk kesekian kalinya.
"Ukh... akh... kau kian sempit, Nar!" teriak Sasuke sembari mendorong kejantanannya yang menerima pijatan dari daging hidup tersebut dan mencapai klimaks di dalam tubuh Naruto. Ia memeluk tubuh Naruto, berguling di atas ranjang hingga membuat posisi mereka berbalik.
Sasuke menciumi leher Naruto yang kini ada di atasnya. Meremas pantat Naruto dan kembali mendorong miliknya yang kembali mengeras. Merasa posisinya kurang enak, Sasuke berguling hingga tubuh mereka miring. Ia terus memompa kejantanannya meski Naruto telah menutup mata. Satu hentakan lagi, akhirnya ia mencapai klimaks. Tanpa melepas pelukan atau pun kejantanannya dari tubuh Naruto, ia mulai menutup mata. Mengunci kedua kaki Naruto dengan selangkangan dan kakinya, ia pun tertidur.
.
.
.
To be Continue
.
.
Maaf saya baru bisa update. Kondisi saya menurun lagi, dan saya juga baru sembuh dari sakit. Sesuai janji saya, ini satu chapter full flashback. Semoga chapter ini tidak menyecewakan para Senpai n,n. Dan saya minta maaf karena untuk chapter kemarin saya belum bisa membalas review-nya. Mungkin baru akan saya balas di chapter depan, karena chapter ini juga chapter flashback. Semoga para Senpai dan reader sekalian bisa memaklumi keadaan saya ^_^.
