Sesaat setelah sadar dari pingsannya, Fugaku berteriak memanggil nama putra bungsunya. Ia benar-benar marah dan bahkan kecewa terhadap Uchiha Sasuke. Tak diperdulikan olehnya ekspresi Sai yang biasanya tenang kini nampak cemas sembari menenangkan dirinya. Ia benar-benar tak bisa mengontrol emosinya. Sasuke benar-benar keterlaluan.

Fugaku berusaha bangkit sekalipun rasa sakit masih membalut dadanya. Ia berdiri dengan Sai yang menjaga keseimbangannya. Berjalan dengan sempoyongan ke arah Sasuke yang kini sedang menundukkan kepalanya. Tak berani sedikitpun menatap wajah ayahnya.

"Angkat wajahmu Uchiha Sasuke!" seru Fugaku dengan lantang.

Sejujurnya Sasuke takut, namun apa daya ia tak ingin ayahnya semakin marah. Dengan ragu akhirnya ia mengangkat wajahnya, menatap ekspresi mengeras di wajah Fugaku yang sedang dikuasai amarah.

PLAKK

Semua pasang mata dibuat terkejut dengan apa yang telah Fugaku lakukan terhadap putra kesayangannya.

.

.

.

Tears

Disclaimer: Masashi Kishimoto

By: Ran Hime

Rate: M

Genre: Drama, Hurt/Comfort

Pair: SasuNaru, ItaDei sligh SaiNaru, SasoDei

Warning: AU, AR, OOC, Yaoi, Mpreg. Alur maju dan mundur, Typo.

Chapter 7

.

Sasuke dapat merasakan panas bekas tamparan di pipinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Sasuke merasa jika ia telah berbuat salah. Itu terbukti dari pengakuan sang ayah yang benar-benar kecewa padanya. Kalimat-kalimat kekecewaan yang kian berdengung dan memenuhi gendang telinganya, yang terucap dari bibir Uchiha Fugaku membuktikan hal itu. Bahkan tak hanya rasa bersalah yang ia rasakan, untuk pertama kalinya dalam hidup, Sasuke dapat melihat tetes demi tetes air yang mengalir di pipi Fugaku. Ayahnya menangis! Ayahnya yang selalu bertampang dingin itu bisa meneteskan air mata. Menangisi semua kejadian yang menimpa keluarganya. Menangisi penyesalan akibat tak dapat mendidik putranya dengan baik. Menangisi kelalaiannya dalam menjaga 'anak'nya. Bahkan mungkin menangis karena telah kehilangan kontrol yang menyebabkan pipi Sasuke memerah akibat tamparannya.

"Ayah!" seru Sai sedikit panik, ketika melihat tubuh Fugaku oleng. Dengan sigap ia menopang tubuh Fugaku agar tidak roboh.

"Kurang apa lagi yang ayah berikan padamu selama ini, Sas?" seru Fugaku menguatkan hatinya yang masih syok, "Kau ingin pindah ke Apartemen, Ayah menyetujuinya. Bahkan ayah membiarkan dirimu melakukan 'apapun'. Ayah menyayangimu, tapi kenapa kau menyakiti hati ayah."

Tak ada satu pun kalimat yang keluar dari bibir Sasuke untuk sekedar membela dirinya. Ia akui selama 19 tahun hidup dalam keluarga Uchiha, semua kebutuhan selalu terpenuhi. Apa yang ia inginkan selalu ia dapatkan. Tak pernah sekalipun sang ayah mengabaikan dirinya. Namun nyatanya ia malah menyakitiki hati ayahnya.

"Astaga! Pasti mereka bertiga akan mengutukku karna tak bisa menjaga anaknya." lanjut Fugaku.

"Ma-af, Ayah!" ujar Sasuke hampir berbisik.

Fugaku perlahan berbalik dan kembali menuju ranjangnya dengan bantuan Sai yang memapah tubuhnya hingga berbaring. Sejujurnya ia lelah. Fugaku lelah pada semua kejadian yang akhir-akhir ini menimpa keluarganya.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Naruto mulai mengerjapkan mata untuk bangun. Ia tertegun sejenak ketika ia merasakan sesuatu tempatnya tidur terasa empuk. Ia menatap bingung ruangan yang bernuansa orange tersebut. Ia masih ingat dengan ruangan itu. Jika tidak salah, ruangan yang kini ia tempati adalah kamarnya yang ada di kediaman Uchiha. Apakah ia sudah sampai? Lalu kenapa ia tidak dibangunkan jika telah sampai.

Naruto mencoba bangun meski agak kesulitan karena perut buncitnya. Sesekali ia meringis ketika ia merasa anaknya menendang perutnya dengan keras. Ia tersenyum sembari mengelus perutnya dari balik hakama yang ia kenakan. Mengisyaratkan kepada calon bayinya agar tidak nakal di dalam sana. Naruto menghentikan gerakannya ketika mendengar suara pintu bergeser. Ia menatap seseorang yang mulai berjalan ke arahnya. Ia menelan ludah dan mulai takut pada sosok yang mulai membantunya untuk duduk tersebut.

"Lepas! Aku bisa sendiri" ucap Naruto sedikit berteriak. Ia takkan sudih disentuh lagi oleh makluk sadis di sampingnya. Ia mencoba mendorong pemuda bermata onix itu dengan kasar, "kubilang lepas, brengsek." Untuk kesekian kalinya ia meronta, membuat perutnya terkena sikutnya sendiri.

"Aughhh! Hah… hah.." Naruto meringis kesakitan akibat sikutan sikunya sendiri.

"Aku hanya ingin membantumu duduk, Bocah!" suara barithon terdengar merasa bersalah.

Naruto menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang setelah berhasil duduk. Ia menatap Sasuke yang tengah membelakanginya. Ia meraih ponselnya, berjaga-jaga bila Uchiha itu macam-macam, maka ia bisa melempar ponselnya ke kepala pemuda brengsek tersebut. Naruto menarik nafas panjang sambil terus mengelus perutnya yang masih terasa sakit.

"Sebegitu mengerikannya 'kah diriku?" ucap Sasuke lirih tanpa mengubah pandangannya. Ia menunduk menatap lantai. Namun Naruto tetap menutup mulutnya tak berniat membalas kalimat Sasuke.

"Hanya ingin membantumu bangun tapi kau melihatku seolah aku ini hantu."

"Kau bukan hantu. Tapi kau iblis. BRENGSEK!" seru Naruto menaikkan kalimat terakhirnya.

Ia mencoba bergeser agar bisa turun dari ranjang. Namun tingkah Sasuke membuat Naruto kaget. Ia terjatuh ke kasur ketika Sasuke menyerangnya.

Sasuke naik ke kasur dan merangkak mendekat ke arah Naruto. Ia mencengkeram ke dua lengan Naruto dengan erat. Membuat Naruto ketakuatn kembali. Takut-takut kalau Sasuke menciumnya dengan brutal seperti di YPA. Oh, Tuhan, apa salahku, bathin Naruto.

"Dengar, Bocah!" seru Sasuke tanpa sadar semakin mengeratkan cengkeramannya dan membuat ponsel yang ada di genggaman Naruto terjatuh, "Aku tahu aku salah! Tapi bukan bearti aku akan selalu menyiksamu, bukan? Aku masih punya hati, makanya aku datang dan ingin bicara baik-baik, tapi kau membuatku marah," kata Sasuke panjang lebar.

"Sasu-nii tak punya hati," teriak Naruto untuk pertama kalinya menyebut nama Sasuke setelah berbulan-bulan mencoba melupakan nama itu, "Sasu… hiks… nii jahat. Hanya karena 'Ayah' lebih sayang Naru, Sasu-nii menyiksa Naru sampai seperti ini. Sasu-nii hiks.. hiks… ja-hat."

Air mata Naruto perlahan mengalir. Sesak mulai menjalar di dadanya. Ia tak tahu apa yang ia katakan. Yang ia mengerti, ia berusaha mengatakan apa yang ia pendam berbulan-bulan.

"Ak-aku .. hiks … pasti pergi hiks jika Sasu-nii tidak suka ak-aku ada di sini."

Sasuke menelan ludah menatap wajah bocah di bawahnya. Wajah yang perlahan memerah karena menangis. Ia menyesali kedatangannya ke kamar Naruto, hingga membuat bocah kesayangan ayahnya menangis sesenggukan.

"Maaf, Naruto!" seru Sasuke untuk pertama kalinya menyebut nama bocah itu di depan sang pemilik. "Maaf!" serunya lirih lalu tanpa sadar memeluk Naruto.

Bukan itu alasan Sasuke meniduri Naruto beberapa bulan yang lalu. Ia hanya terbawa emosi dan nafsu saja. Bahkan ia tidak pernah tahu apa yang selama ini yang dilakukan ayahnya dengan Naruto di kediaman Uchiha.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Sai menatap ayahnya dengan cemas. Apakah keputusannya untuk memberitahukan tentang keadaan Naruto adalah salah. Apakah seharusnya ia lebih dulu mencari waktu yang tepat? Tidak! Sai menggeleng lalu menatap ayahnya kembali. Semua demi kebaikan bersama.

Perlahan Fugaku sadar dari pingsannya. Berita tentang Naruto sungguh membuat jantungnya semakin lemah. Apa salahnya hingga tak mampu mendidik Sasuke seperti kedua anaknya.

"Sai!" panggil Fugaku dengan lemah.

"Iya, Ayah!" jawan Sai sembari lebih mendekat ke ranjang Fugaku.

"Pergilah ke Gereja dan temui Pastur Jiraiya. Katakan pada Beliau aku ingin bertemu dengan Beliau."

"Iya, Ayah!" seru Sai mengangguk.

"Ayah ingin melihat Naru-Chan!"

Sai mengangguk lagi, "Naru yang akan ke sini, jadi ayah bisa istirahat kembali" lalu ia bangkit untuk menemui Deidara.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Sai tersenyum ke arah Deidara yang berada di ruang tamu. Menunggu apa yang akan Sai katakan. Sai berjalan mendekati Deidara dan berhenti di samping pemuda blonde itu.

"Ayah ingin bertemu Naruto." Kata Sai.

"Bagaimana keadaan Paman?" tanya Deidara cemas. Ia bangkit dari duduknya lalu mulai mendekati Sai.

"Ayah sedikit terkejut ketika mendengar keadaan Naruto," ucap Sai dan mulai melangkah bersama Deidara untuk ke kamar Naruto.

"Apa Paman-"

"Ayah marah terhadap Sasuke itu wajar Dei," potong Sai ketika tahu maksud dari apa yang ingin Deidara katakan, "lagi pula Sasuke memang keterlaluan."

Mereka berhenti di depan pintu kamar Naruto. Deidara terdiam, tidak yakin jika sang adik telah siap beretemu dengan 'ayah'nya. Ia menghela nafas dan perlahan membuka pintu.

"Naru-" ucapan Deidara terhenti ketika memandang ke arah ranjang adiknya. Bola matanya kini hampir copot karena tak percaya dengan apa yang ia lihat.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

"Maaf, Naruto!" seru Sasuke semakin mengeratkan pelukannya. Sesekali ia mengecup kening Naruto yang tak berhenti menangis.

"Naru-" seru Deidara membuat Sasuke reflek menatap ke arah pintu. Di sana nampak Deidara dan Sai menatap dirinya penuh amarah.

"KAU….." teriak Deiadara lari ke arah Sasuke. Ia meraih pundak Sasuke dan mendorong tubuh pemuda raven itu agar terlepas dari Naruto.

Buaggghhh…

Deidara melayangkan pukulan ke arah wajah Uchiha bungsu tersebut. Kesabarannya sudah habis. Bisa-bisanya Sasuke melakukan tindakan itu lagi. Deidara yang memang tidak tahu hal sebenarnya kembali melayangkan pukulan demi pukulan ke arah Uchiha Sasuke yang nampak tak ingin melawan.

Sasuke mencium lantai untuk kesekian kalinya. Ia sedikit meringis ketika merasa pipinya lebam akibat pukulan telak dari Deidara. Pemuda Namikaze itu memang tidak bisa ditebak kekuatannya. Meski fisiknya terlihat lemah namun jika sedang marah bahkan sekali pukul rasanya bisa membuat tulang pipinya remuk.

"DEI-Nii!" panggil Naruto setengah berteriak. Ia berusaha bangun dengan bantuan Sai.

Namun Deiadara tak menggubris teriakan Naruto. Ia sudah muak dengan tingkah Uchiha bungsu itu. Apalagi maunya setelah membuat Naruto tersiksa selama berbulan-bulan itu.

"Kuperingatkan sekali lagi, Bocah!" seru Deidara sembari mencengkeram baju depan Sasuke, "jangan sentuh adikku!"

Sasuke menyeringai sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah, "Bagaimana jika kami menikah?" kata Sasuke ambigu.

"KAU…"
"Aku akan puas menidurinya setiap malam," ujar Sasuke mengejek."

"Aniki!" teriak Naruto membuat Deidara tak jadi memukul Sasuke.

Dengan kasar, Deidara melepas baju depan Sasuke.

Ia berjalan dengan terburu ke arah adiknya. Dengan pandangan yang cemas ia mengusap wajah Naruto yang basah karena air mata.

"Ka-kau tidak apa-apa 'kan, Nar?" tanya Deidara sembari memeluk tubuh Naruto.

"Aku tidak apa-apa, Dei-nii!" Naruto membalas pelukan sang kakak yang selalu mencemaskan dirinya.

"'Ayah' ingin bertemu denganmu!" bisik Deidara dan mendapatkan anggukan dari Naruto.

Sai menghela nafas, karena melihat wajah sang adik bungsu terlihat lebam. Ia meraih tangan Sasuke dan membantunya untuk berdiri, "Mintalah Itachi untuk mengompres wajahmu." Seru Sai datar, "Aku akan ke Gereja untuk menemui Pastur Jiraiya." Lanjutnya sambil mengisyaratkan sang adik untuk keluar dari kamar Naruto.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Deidara membantu Naruto untuk berjalan menuju kamar Fugaku. Ia sedikit ragu akan keputusan Sai yang membawanya bertemu Fugaku. Apakah waktunya memang benar-benar tepat, mengingat Fugaku dalam keadaan yang kurang baik. Sepanjang perjalanan ia merasa cemas. Apakah Fugaku akan marah ketika tahu dirinya tidak dapat melindungi 'anak' kesayangannya. Iya, ia tahu bukan dirinya yang membuat Naruto menderita. Akan tetapi tetap saja ia merasa kurang bisa megawasi sang adik.

Naruto mencengkeram lengan Deidara. Sesungguhnya ia takut bertemu 'ayah'nya. Ia tidak sanggup menatap 'ayah'nya yang telah ia kecewakan karena tidak dapat melanjutkan sekolahnya lagi. Sesekali naruto menelan ludah sembari menyakinkan diri bahwa Fugaku pasti mengerti semua yang telah terjadi padanya.

Deidara membuka pintu kamar Fugaku dan berjalan bersama sang adik untuk mendekati Fugaku yang tengah berbaring di ranjangnya.

"A-ayah!" panggil Naruto agak terbata. Rasanya sungguh sulit mengatakan kata itu setelah semua yang terjadi.

Perlahan Fugaku membuka kedua matanya. Ia tersenyum menatap wajah 'anak'nya. Sungguh ia sangat merindukan bocah itu. Namun senyumnya menghilang ketika melihat perut Naruto yang nampak membesar dari balik hakama tersebut. Ia menelan ludah menyaksikan ada kehidupan di perut bocah 14 tahun tersebut. Mengapa harus seperti ini? Berbulan-bulan ia tidak melihat 'anak' kesayangannya, dan sekarang bukan cengiran yang ia dapat melainkan mata yang berkaca hampir menangis.

Fugaku mencoba mengangkat tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di tumpukan bantal dengan bantuan Deidara. Ia merentangkan kedua tangannya sembari tersenyum menahan rasa getir yang membuat dadanya sesak.

"Peluk Ayah, Nar!" seru Fugaku melebarkan tangannya.

Tanpa kata Naruto segera menghambur ke pelukan Fugaku. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Fugaku. Ia mulai tak sanggup menahan air matanya dan menangis sesenggukan.

"Hiks… maafkan Naru, Ayah!"

"Ayah yang salah, Nak!" ucap Fugaku menepuk punggung Naruto dengan lembut.

Fugaku mendorong bahu Naruto agar tatapan mereka bertemu. Walau kenyataannya Naruto masih belum berani menatap balik sang ayah. Fugaku mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto hingga hidung mereka bersentuhan. Fugaku membingkai wajah tan Naruto dengan kedua tangannya yang besar. Rasanya sudah lama tidak melihat wajah manis di depannya. Tapi kenapa bukan rasa senang seperti biasanya. Ada yang sakit di hati fugaku melihat wajah yang tersakiti itu. Perlahan tubuh fugaku bergetar. Tanpa sadar air matanya mengalir.

"Jangan tinggalkan Ayah, Nar!" seru Fugaku lirih, "Ayah akan semakin sakit bila kau tidak ada di samping Ayah."

Naruto mengangkat tanggannya lalu memegamg lengan Fugaku, "Maafkan Naru, Ayah! Naru… Naru sudah mengecewakan ayah." Ucapnya sambil menunduk dan menatap perut besarnya, "Naru bukan anak yang baik."

Fugaku menggeleng hingga hidungnya bergesekan dengan hidung Naruto, "Naru anak baik. Sampai kapanpun Naru adalah anak kesayangan Ayah."

Deidara mencoba menghancurkan bongkahan di dadanya yang membuat dadanya sesak. Lihatlah Fugaku menangis. Untuk petama kali ia melihat Kepala keluarga Uchiha yang selalu memasang wajah dingin itu menangis. Deidara mengerjap beberapa kali agar air yang menghalangi penglihatannya bisa hilang. Ia menyeka iar matanya melihat Uchiha Fugaku yang mulai tertawa meski air matanya belum mengering tengah mengelus perut Naruto.

"Kau juga kesinilah, Dei!" seru Fugaku mengisyaratkan Deidara agar mendekat dan berkumpul bersama.

Deidara mulai melangkah mendekat ke arah Fugaku dan adiknya sembari tersenyum seolah tidak ada kejadian yang menyakitkan yang dialami Naruto.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Itachi menatap langit-langit kamarnya sembari membaringkan tubuhya di atas ranjangnya, setelah membantu mengobati luka lebam di wajah Sasuke. Ia merasa lebih beruntung daripada adiknya tersebut. Dimarahi, ditampar ayahnya dan kini mendapatkan bogem mentah dari Deidara. Ia menghela nafas, sejujurnya Sasuke lebih beruntung dari dirinya yang bahkan diacuhkan oleh Deidara. Kalau bisa, ia lebih memilih dihajar habis-habisan oleh Deidara dari pada ia harus diacuhkan.

"Aku tak habis pikir, bagaimana bisa kau meniduri pemuda kasar seperti Deidara."

Itachi mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke yang duduk di tepi ranjangnya. Ia menatap Sasuke yang masih mengompres wajah lebamnya.

"Dengan kekerasan," ujar Itachi sembari mengingat kejadian siang itu.

Ia masih ingat dengan jelas bagaimana ia menampar Deidara hingga tubuh langsing itu jatuh tepat ke ranjang Sasuke. Bagaimana ia membuat Deidara berteriak keras ketika ia mulai menjambuk punggung Deidara dengan sabuknya. Ia akui, tidak mudah untuk membuat Deidara bisa berada di bawahnya.

"Ternyata Kau lebih sadis dari pada aku!" seru Sasuke sedikit mencibir kakaknya.

"Tapi aku tidak meniduri bocah di bawah umur sepertimu," Itachi men-deathglare adiknya sembari bangkit dan mulai turun dari ranjang lalu berjalan ke kamar mandi.

Sasuke mengusap-ngusap pipinya yang masih ngilu. Ia menatap Itachi yang berhasil menohok hatinya. Meniduri bocah di bawah umur.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Sai menatap bangunan Gereja yang megah di depannya. Dengan perlahan ia mulai menginjakkan kakinya di lantai Gereja. Ia berjalan menyusuri bangunan tua itu. Membuka pintu besar yang menampakkan deretan bangku di sepanjang samping jalan menuju mumbar. Ia berjlan ke arah ruang pengakuan dosa, dan berhenti di ruangan tempat Pastur Jiraiya selalu mendengarkan pengakuan dosa semua oang yang datang padanya.

"Pastur Jiraiya-san!" panggil Sai.

"Kau, Sai!" seru Jiraiya dari balik ruangannya, "bagaimana keadaan Ayahmu?"

"Sedikit membaik Pastur!"

"Apa Fugaku-san ingin aku mendengarkan pengakuan dosanya lagi?"

"Bukan! Tapi ada hal lain yang ingin Beliau bicarakan dengan Anda."

"Tentang apa?"

"Saya tidak bisa memberitahukan hal tersebut."

Jiraiya tersenyum, walau Sai tak mungkin melihat senyumnya itu. Ia mulai melangkah keluar dari ruangannya. Ia menatap Sai sejenak sebelum mengikuti langkah Sai.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Jiraiya dan Sai melewati ruangan demi ruangan untuk sampai di depan kamar Fugaku. Ia dan Sai mulai berjalan mendekat ke arah Fugaku yang tengah bersandar di tumpukan bantal, sedang beristirahat.

Fugaku tersenyum kepada Jiraiya. Ia mengangguk mempersilahkan Jiraiya untuk duduk di kursi yang ada di kamarnya.

"Bagaimana keadaan Anda, Fugaku-san?" tanya Jiraiya sembari membalas senyuman Fugaku.

"Seperti yang Pastur lihat, saya sudah baikan!"

"Syukurlah jika demikian. Saya harap Anda bisa ke Gereja lagi untuk berdo'a."

"Tentu saja!"

Sai memperhatikan mereka berdua yang kini tengah berbincang-bincang sebelum masuk ke pembicaraan utama. Ia sedikit ragu, Jiraiya akan menyetujui apa yang akan ayahnya katakan.

"Jadi, ada apa Fugaku-san ingin bertemu dengan saya?" tanya Jiraiya mulai masuk ke pokok pembicaraan.

"Saya harap Pastur Jiraiya-san mau mencarikan hari yang baik untuk pernikahan anak saya."

"Sai!" seru Jiraiya sambil melirik Sai yang berdiri di samping ranjang ayahnya.

"Bukan! Tapi Sasuke!"

"Sasuke?" ucap Jiraiya mengernyitkan keningnya seolah ia salah mendengar ucapan Fugaku. Bukankah bocah itu baru saja lulus SMA.

"Anda tidak salah dengar Pastur!" seru Fugaku seolah ia mampu mengetahui apa yang sedang Jiraiya pikirkan.

Jiraiya menghel nafas, "Dengan Siapa?"

"Namikaze Naruto!" ucap Fugaku dengan wajah yang terlihat senang menyebut nama 'anak' kesayangannya itu.

Mata Jiraiya membulat sempurna. Namikaze Naruto! Namikaze … Naruto! Bukankan bocah itu anak yang di bawah Fugaku ke rumahnya beberapa tahun silam. Bukankah bocah itu adalah laki-laki? Tapi kenapa Fugaku ingin menikahkan bocah itu dengan putranya yang juga seorang laki-laki. Ia menggeleng. Itu tidak dibolehkan Agama.

"Pernikahan itu tidak boleh dilaksanakan. Mereka tidak boleh menikah!" seru Jiraiya mampu membuat Sai dan Fugaku terkejut tak percaya akan ucapan Jiraiya.

.

.

.

To be Continue

.

.

Sebelum membalas review, saya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada reader sekalian karena saya sudah lama menggantung fic ini. Saya juga ingin menyampiakan permintaa n maaf untuk chapter kemarin. Iya, saya tahu alasan Sasuke me-rape Naruto terlalu sederhana atau tidak seberat chapter-chapter sebelumya. Tapi jujur, saya mendapatkan ide menulis Tears ini dari chapter 6. Saya mikir lagi, apa yang bisa dijadikan alasan Sasu me-rape naruto. Saya hanya bisa garuk-garuk kepala nyari alasan yang juga berat, tapi tidak menemukan jalan terangnya(?) hehe.

Saya Cuma bisa minta maaf, bila fic ini semakin surut beratnya(?) ya… kelemahan saya di rape, itu nyari alasan kok sampai me-rape.

Oke saya balas review reader dan senpai sekalian.

hanazawa kay: iya, makasih!

dame dame no ko dame ku chan: ItaDei tidak dibahas.

Ini sudah lanjut

.5: jah, bearti manis dong -_-

Naru lahiran mendekati Natal, kira-kira beberapa minggu lagi.

kkhukhukhukhudattebayo: masih lama, nunggu Naru lahiran dulu, baru balasan buat Sasu datang XP

Kutoka Mekuto: kirain 'jangan lanjutkan fic ini' :)

Ini sudah lanjut2

Son Sazanami: aishh… ini bukan horror.

laila. : tidak ada Flashback ItaDei :)

devilojoshi: mungkin tidak akan ada flashback ItaDei. Maaf!

nasusay: ini sudah lanjut

Dobe Hilang: namanya juga Sasuke. Kalau tidak kejam dan keterlaluan, ntar disangka Uke#piss

himeko laura dervish cielo: wkkwkwkw, saya tidak mesum, Cuma ngikutin Author Senior aja#ditawur

Salam kenal juga ;)

Reita: ItaDei tetep belum bisa bersama. Kan ada Sasori

Gunchan CacuNalu Polepel: 20k bisa langsung tamat tuch Gun Xp

Acara nikahannya g jadi#digampar

Iya, memang mau periksa soal keistimewaan tubuhnya

hatakehanahungry: jah -_- kebanyakan bikin lemon ntar saya dikira mesum XP

kinana: udah dilanjut kok fic yang itu

TheFujoshiGeneration: saya pusing mikirnya kalau tiap chapter berat, hehe

Misa-kun: iya. Itachi membohongi Deidara biar bisa me-rape si

Dee chan - tik: ini sudah lanjut

kuroko-chan: salam kenal juga. Weee… saya bukan artis(?) u,u

Ini sudah lanjut

Princess Love Naru Is Nay : kalau yang nistain orang lain, ntar Sasuke marah XP

Akita Neru: iya makasih

Mrs. EvilGameGyu: Sasuke ketemu Naruto hanya beberapa kali, tapi waktu Naruto masih kecil. Karena setelah itu ia tinggal di Apartemen dan tidak pernah lagi ketemu Naruto. Hanya bertemu Deidara

Fu: ini sudah lanjut kok

MoodMaker: Adil dong buat Uchiha yang nantinya menderita.

ruennii uzumaki: ini sudah lanjut kok, moga tetep masih bagus

jieichiai: pasti! Uchiha bersaudara akhirnya akan menderita.

Terima kasih masih berekenan membaca fic saya.