Seharusnya apa yang Pastur Jiraiya sampaikan sanggup dipahami Fugaku. Namun entah kenapa Fugaku masih juga ngotot untuk menikahkan putra bungsunya dengan laki-laki. Jiraiya menghela nafas, seharusnya Fugaku mengerti banyak konsekuensi yang akan ia terima jika pernikahan itu terjadi. Bukan hanya tidak akan adanya keturunan, akan tetapi juga ketidakharmonisan keluarga yang mungkin akan terjadi kelak.

Jiraiya menatap Fugaku dalam-dalam berharap keluarga Uchiha itu mau memikirkan lagi keinginannya tersebut. Namun mata hitam itu seolah mantap dengan apa yang ia ucapkan.

"Ini demi Naru-chan, Pastur!" seru Fugaku membangunkan Jiraiya dari lamunannya.

"Itu tetaplah salah, Fugaku-san!" jawab Jiaiya masih tidak setuju.

"Tapi ini juga demi anak yang dikandung Naru-chan! Naru-chan tengah mengandung!"

Sontak kalimat terakhir Fugaku itu membuat Jiraiya kaget tidak percaya. Ada apa ini sebenarnya?

.

.

Tears

Disclaimer: Masashi Kishimoto

By: Ran Hime

Rate: M

Genre: Drama, Hurt/Comfort

Pair: SasuNaru, ItaDei sligh SaiNaru, SasoDei

Warning: AU, AR, OOC, Yaoi, Mpreg. Alur maju dan mundur, Typo.

Chapter 8

.

Jiraiya terdiam masih tak percaya. Ia berharap Fugaku salah berucap atau sebaliknya dia lah yang salah mendegar kalimat yang terucap dari bibir Fugaku. Pandangannya masih kosong dan pikirannya mulai kacau mencerna kalimat tersebut. Naruto adalah bocah laki-laki yang kini mungkin berusia 14 tahun kalau ia tidaklah salah. Dan seorang laki-laki tidak mungkin bisa mengandung. Jiraiya tersenyum getir mencoba meyakini jika Fugaku hanya sedang mencari alasan agar bisa menikahkan putra bungsunya dengan keponakannya tersebut. Namun nyatanya…

Mereka bertiga mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang sedang diketuk seseorang tersebut. Dua pemuda berambut kuning masuk dengan langkah pelan setelah Fugaku menyuruh mereka untuk segera masuk. Mata Jiraiya membulat sempurna ketika melihat bagaimana keadaan Naruto saat ini. Tubuh kurus dengan perut buncit yang disembunyikan dari balik hakama berwarna orange. Jiraiya melelan ludah dan tanpa sadar ia mundur beberapa langkah dari tempatnya berpijak. Itu pasti bohong.

"Mendekatlah ke Ayah, Nar!" seru Fugaku meminta agar 'anak'nya bisa berada di sampingnya.

Dengan bantuan Deidara, Naruto berjalan ke arah ranjang Fugaku. Ia duduk di tepi ranjang. Sedangkan Deidara berdiri di samping Sai, memperhatikan raut muka Jiraiya yang nampak belumlah usai dari keterkejutannya.

"Ini semua demi Naruto dan anaknya, Pastur!" ulang Fugaku sembari menatap wajah Jiraiya, sedangkan tangan kanannya mengelus perut Naruto yang semakin besar.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Pemuda berambut merah itu menekan bel rumah yang nampak mewah tersebut. Ia tersenyum kepada seorang laki-laki yang tengah membukakan pintu untuknya. Laki-laki tersebut mempersilahkan masuk tamu yang nampak kelelahan tersebut, lalu mengarahkannya menuju ruang keluarga.

"Silahkan duduk, Sasori-san!" seru lelaki yang menjabat sebagai kepala pembantu kediaman Uchiha tersebut.

"Terima kasih!" seru Sasori sembari tersenyum.

Setelah kepergian lelaki yang cukup berumur tersebut, Sasori mulai mendudukkan pantatnya di sofa yang empuk tersebut. Pandangannya memperlihatkan sekeliling. Ternyata rumah orang tua Sai tidaklah pernah berubah dari terakhir kali ia berkunjung sekitar 7 tahun yang lalu. Bahkan semua tatanan hiasan juga masih seperti dulu, mungkin hanya saja bertambah beberapa pajangan foto di dinding.

"Kau …berani sekali datang ke sini!"

Sontak pandangan Sasori meninggalkan sebuah foto keluaga Uchiha dan beralih ke sosok berambut Raven panjang tersebut. Sasori tersenyum lalu bangkit dari duduknya. Sasori tidak habis pikir kenapa putra kedua Fugaku tersebut menatap dirinya sinis. Ia tidaklah pernah lagi berhubungan dengan Itachi semenjak ia lulus kuliah dan mengelola panti neneknya beserta sekolah seni yang ia dirikan bersama Sai. Namun semenjak pertemuannya kembali di YPA beberapa hari yang lalu, Itachi mulai menatapnya dingin dan seolah ingin menerkamnya hidup-hidup.

"Aku ada urusan dengan Sai," ujar Saori mencoba mengungkapkan maksud kedatangganya ke kediaman Uchiha.

Itachi mengerutkan keningnya. Ingin rasanya ia tertawa, menetawakan keturunan satu-satunya kelurga Akasuna tersebut. Menemui kakaknya! Bahkan selama ini Sasori selalu membahas bisnis dengan kakaknya di kantor, bukan di rumah. Itachi menyeringai ketika ia ingat ada hubungan apa Sasori dengan Deidara, orang yang amat dicintainya.

Itachi mengisyaratkan pemuda Akasuna tersebut untuk duduk dan pemuda itu menurutinya. Itachi mulai menyamankan tubuhnya di sofa yang berseberangan dengan Sasori. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Sasori dengan pandangan menusuk.

"Kau jauhilah Deidara!" seru Itachi masih memasang wajah dinginnya, "Aku tidak suka kau dekat dengan milikku."

Sasori mengernyit tidak mengerti akan ucapan adik pertama Sai tersebut. Ia memaksa tersenyum walau terasa kaku. Milikku! Apa maksud dari ucapan tersebut? Deidara bukanlah barang yang bisa diakui seenaknya kepemilikannya. Deidara adalah manusia. Sasori berusaha bersikap tenang menghadapi pandangan menusuk itu.

"Apa maksudmu?" seru Sasori seolah tidak paham akan perkataan Itachi.

"Heh, jangan pura-pura tidak mengerti!"

"Kami akan menikah sebulan lagi!" seru Sasori tersenyum seolah menang.

Itachi menurunkan tangannya. Tanpa sadar rahangnya mengeras mendengar ucapan Sasori. Uchiha tidaklah pernah kalah. Ia tidak pernah kehilangan apa yang menjadi incarannya. Ia tidak akan membiarkan apa yang menjadi miliknya akan menjadi milik orang lain.

Itachi bangkit dari sofa. Matanya semakin tajam menusuk Sasori. Tak akan ada yang bisa memiliki Deidara kecuali dirinya. ia berjalan menerjang Sasori.

"Aku lebih memilih menghabisimu dari pada membiarkan Deidara jadi milikmu!"

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Jiraiya menelan ludahnya untuk kesekian kalinya. Mengapa semua begitu amat rumit. Pernikahan itu tidaklah boleh terjadi, namun ia juga tak ingin nasib bocah tak berdosa yang masih belum menatap dunia itu tak jelas. Ia menghela nafas berat.

"Pernikan itu bisa dilaksanakan sampai akhir bulan," seru Jiraiya dengan berat.

Sai nampak berfikir. Sampai akhir bulan! Bukankah itu terlalu mendadak. Batas itu adalah tiga hari lagi. Ia tidak yakin persiapan itu akan terlaksana hanya dalam tiga hari. Karena ia yakin, ayahnya akan menginginkan pesta pernikahan yang meriah untuk 'anak' kesayangannya.

"Tapi, Pastur?" seru Sai namun Jiraiya memotong kalimat putra sulung Fugaku tersebut.

"Itu waktu yang tepat sebelum musim dingin tiba atau kalian harus menunggu ketika musim semi tiba.

Musim semi, itu terlalu lama bahkan jika menunggu musim itu tiba, bayi Naruto keburu lahir duluan. Dan tanpa bisa mencari hari lain, Sai dan Fugaku menyetujui hari yang telah ditentukan oleh Jiraiya tersebut. Walau dengan berat hati Deidara tidaklah pernah menyetujui pernikahan adiknya tersebut.

Deidara menatap ke arah adiknya yang nampak menunduk. Bagaiman nasib Naruto setelah pernikahan itu terjadi. Ia tidak akan memaafkan sasuke, jika pemuda brengsek itu berani menyentuh adiknya. Ia berharap semoga Sai mau menepati janjinya. Ya… hanya Sai yang bisa ia harapkan untuk bisa mengawasi adiknya.

Seseorang mengetuk pintu, lalu tak lama setelahnya masuk kepala keluaga yang bernama Iruka tersebut. Ia membungkuk memberi hormat kepada semua yang ada di kamar Fugaku.

"Ada Sasori-san yang ingin menemui anda, Sai-sama!" seru Iruka setelah menegakkan tubuhnya.

"Iya! Mintalah ia untuk menunggu sebentar lagi."

Setelah itu Iruka beranjak pergi dari kamar Fugaku.

Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Jiraiya undur diri. Ia tidaklah bisa lama-lama meninggalkan Gereja apa lagi sebentar lagi malam mulai datang.

"Semoga anda cepat sembuh, Fugaku-san!" seru Jiraiya sembari terrsenyum.

"Terima kasih, Pastur! Maaf saya tidak bisa mengantar anda!" seru Fugaku dengan sedikit tidak enak hati karena lagi-lagi merepotkan Jiraiya.

Jiraiya mengangguk lalu mulai berjalan bersama dengan yang lain, keluar dari kamar Fugaku tanpa terkecuali juga Naruto.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

"Lepaskan, Aniki!" seru Sasuke sembari mencoba menjauhkan tubuh kakaknya dari pemuda Akasuna yang kini nampak babak belur.

Awalnya Sasuke hanya ingin keluar rumah. Namun suara jeritan di ruang keluarga menarik langkahnya untuk melihat kejadian yang membuat salah satu pembantunya berteriak. Ia menyusuri jalan menuju ruang keluarga dan menemukan kakaknya tengah duduk di atas perut pemuda berambut merah tersebut. Tangan kanannya memukul wajah Sasori yang telah babak belur, sedangkan tangan kirinya mencengkeram baju depan Sasori.

"Aniki! Kau bodoh!" seru Sasuke hampir frustasi. Kekuatan kakaknya memang tak bisa ditebak, layaknya Deidara. Bahkan ia selama ini selalu kalah ketika aduh jotos dengan Itachi.

"Kau membuat masalah makin rumit!" raut muka Sasuke kian mengeras ketika Itachi tidaklah mau melepaskan Sasori. "Deidara akan semakin membencimu, Bodoh!"

Sontak kalimat terakhir Sasuke mampu menghentikann aksi Itachi. Itachi melepaskan kerah baju Sasori. Ia menunduk menatap wajah Sasori yang penuh memar. Kenapa? Kenapa pemuda di bawahnya lebih bisa mengambil hati Deidara. Apa yang ada di diri Sasori yang tidak dimiliki oleh dirinya. Seorang Itachi Uchiha itu sempurna. Pemuda kaya, tampan, bahkan digilai banyak orang. Tapi kenapa Deidara lebih memilih Sasori yang bahkan hanya hidup dari harta neneknya yang tidak sekaya kelurganya.

Perlahan mata Sasori terbuka. Ia mengerang merasakan tubuhnya terasa nyeri. Ia menatap wajah Itachi yang menunduk dan tertutup poni panjangnya. Dan matanya nampak terkejut ketika ia melihat setetes air jatuh dari wajah Itachi.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

"Maaf, Pastur! Saya tidak bisa mengantar Anda." Seru Sai mencoba meminta maaf karena ia sekali lagi merepotkan Jiraiya.

"Aku bisa mengerti!" ucap Jiraiya lalu tersenyum. Ia menatap Naruto kemudian berjalan mendekat. Ia mengusap helaian pirang milik naruto sembari berucap, "Semoga Tuhan melindungimu, Nak!"

Jiraiya berbalik dan meninggalkan kediaman Uchiha.

Sai dan yang lainnya kembali masuk. Sesuai apa yang disampaikan Iruka, mereka menuju ruang keluarga untuk menemui Sasori. Bagi Sai, Sasori itu sudah seperti saudaranya, maka dari itu ketika pemuda dari Suna itu berkunjung, ia akan dipersilahakan menuju ruang keluarga. Namun belum sampai ia mencapai ruang keluarga, Iruka datang dengan tergesa ke arah mereka.

"Sai-sama … Itachi-sama…" Iruka mengatur nafasnya yang terengah-engah, "Itachi-sama menghajar Saasori-san."

Sontak mereka terkejut dan mulai mempercepat langkahnya menuju ruang keluarga.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Sasori masih menatap Itachi yang menunduk. Apa yang ia lihat pastilah salah. Itachi kuat. Itachi sombomg. Dan Itachi angkuh seperti yang kebanyakan Uchiha. Tidak mungkin dia …

"Apa yang kau lakukan, Itachi!"

Sasori menatap ke arah pintu. Di sana, Sai nampak murka melihat adik ke sayangannya mengajar sahabat baiknya. Sedangkan Deidara nampak mencoba menekan kemarahannya. Dan Naruto… bocah itu mengeratkan pelukan di pinggang kakaknya ketika menatap mata onik milik Sasuke.

"Kau sama mengecewakan dengan adikmu." Kali ini suara Sai makin penuh amarah.

"Temui kakak di ruang kerja sekarang juga."

Itachi tetap bergeming. Dalam diam ia tertawa. Lihatlah semua orang membela pemuda Akasuna tersebut. Tidak ada yang membelanya satupun. Ia mengepalkan kedua tangannya. Pemuda Akasuna itu harus mati bagaimana pun caranya. Dan ia bersumpah akan mendapatkan Deidara kembali.

Itachi bangkit lalu berbalik. Ia berjalan menuju kakaknya sembari menunduk. Dalam hati ia terus saja mengumpat bahkan Deidara bukanlah untuk Sasori.

"Dei, bantulah Sasori untuk mengobati lukanya. Dan kau Sasuke, bawa Naruto ke kamarnya. Ia harus isrirahat." Ucap Sai lalu berjalan menuju ruang kerjanya.

Naruto menatap Saske takut ketika bungsu Uchiha tersebut mengulurkan tangannya. Ia semakin mengeratkan pelukan terhadap kakaknya, tak ingin bersama Sasuke. Namun tatapan Deidara membuat Naruto ikut Sasuke ke kamarnya.

Setelah ruang keluarga sepi, Deidara beranjak mendekat ke arah Sasori yang mulai duduk. Ia segera memeluk pemuda itu dan mengeratkan tangannya dalam pelukannya.

"Kau tidak apa-apa kan, Danna!" seru Deidara dengan suara yang bahkan terdengar bercampur aduk.

"Hey.. aku kuat, Dei!" jawab Sasori membalas kalimat Deidara.

"Tapi kau tak pernah berkelahi!" Ucap Deidara sembari melepas pelukannya. Ia menatap wajah Sasori yang lebam. Ia mengulurkan tangan ke arah sudut bibir sasori yang mengeluarkan darah. Ia mengusap darah itu hingga membuat Sasori mengerang.

"Apa sakit?" tanyanya cemas.

"Tidak, jika kau berikan ciuman!" ujar Sasori menggoda pujaan hatinya tersebut.

Pipi Deidara merona mendengarnya. Dan ia mendaratkan kecupan singkat di kening Sasori sebelum ia mengajak Sasori ke kamarnya untuk mengobati luka di wajahnya dan juga tubuhnya.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Lagi-lagi Itachi harus merasakan kemarahan kakaknya. Memangnya apa salahnya memukul orang yang telah mengambil Deidara dari sisinya. Tanpa ia sadari jika Deidara bukanlah siapa-siapanya. Ia menunduk. Untuk kesekian kalian ia harus pasrah dinistakan dalam Tears. Ia mengepalkan tangannya. Mengapa sangat sulit hanya untuk bisa hidup bersama Deidara.

"Kau tidak seharusnya memukul Sasori!" ucap Sai tegas, "Apa salahnya dia datang ke sini."

"Salah… dia salah karena mengambil Deidara." Untuk pertama kalinya ia berani menjawab kalimat kakaknya.

Sai mengehala nafas. Bukankah semua salah Itachi. Kalau saja Itachi tidak meniduri Deidara waktu itu, pasti semuanya tidak lah seperti ini. Mereka tetap bisa bersahabat, dan Sasori juga tidak akan hadir di tengah-tengah mereka. Namun sayangnya semua sudah terlanjur.

"Tapi bukan seperti itu caranya. Kau hanya akan membuat Deidara semakin membencimu."

"Bulan depan mereka akan menikah, Sai-nii! Dan mendengar itu rasanya aku ingin memukul Sasori."

Sai berjalan mendekati adiknya. Ia duduk di samping Itachi lalu menatap mata adiknya dalam-dalam.

"Masih ada waktu, Chi! Kau bisa membuat Deidara mencintaimu lagi dengan cara yang lebih tulus. Jadilah adik kakak yang dulu. Jangan selalu terpengaruh adikmu." Ucap Sai panjang lebar.

Mata itachi membulat. Ia memang sudah banyak dipengaruhi Sasuke akhir-akhir ini. Bukankah dulu ialah yang sering mempengaruhi adiknya tersebut. Tapi kenapa akhir-akhir ini ia yang terlihat lemah. Masih ada waktu sebelum mereka menikah.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Sasuke berusaha membantu Naruto untuk naik ke tempat tidur. Makin hari bocah itu makin berat saja. Heh, tentu saja! Usia kandungannya semakin tua. Ia menatap mata shapire yang selalu takut ketika menatapnya tersebut. Sampai kapan bocah itu takut kepada dirinya. Apa wajahnya begitu mengerikan. Cukup sudah author menistakan Uchiha. Sasuke itu tampan. Dan dambaan semua wanita walau ia lebih suka pria.

"Berhentilah menatapku seperti itu, Bocah!" seru Sasuke sembari tiduran di samping Naruto, "kau membuat juniorku tak nyaman."

Naruto mendelik, ia menggeser tubuhnya menjauhi Sasuke.

"Kau takut, Heh!" ujar Sasuke tanpa melepas pandangannya dari langit-lagit. Ia tertawa kecil, "Bagaimana kalau kita 'bermain' sebentar." Ia menyeringai lalu menatap Naruto, "Aku tidak akan main kasar."

Dan bodohnya Sai sudah membiarkan Sasuke berduaan dengan Naruto.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Dengan pelan dan hati-hati Deidara membantu mengompres wajah Sasori yang mulai sedikit terlihat warna biru. Ia ikut mengernyit ketika melihat Sasori yang nampak kesakitan. Sebisa mungkin ia berusaha agar Sasori tidak kesakitan.

"Maaf, Danna!" seru Deidara membuang tatapannya dari Sasori, "Aku selalu membuatmu seperti ini."

"Kau bicara apa, Dei!" Sasori meraih tangannya Deidara dan meletakkan telapak tangan Deidara ke pipinya, "Sentuhammu ini lebih dari cukup mengobati lukaku." Ia tersenyum lalu mencium kening Deidara.

Semoga semuanya tetap seperti ini sampai ia selesai menyiapkan segalanya untuk melamar Deidara. Semoga semuanya tetap indah dan ia bisa hidup bersama dengan Deidara. Dan semoga saja, Author mau mengganti jalan cerita yang sudah ia pikirkan. Ya… semoga saja.

.

.

.

To be Continue…