Sasuke berusaha membantu Naruto untuk naik ke tempat tidur. Makin hari bocah itu makin berat saja. Heh, tentu saja! Usia kandungannya semakin tua. Ia menatap mata Shapire yang selalu takut ketika menatapnya tersebut. Sampai kapan bocah itu takut kepada dirinya. Apa wajahnya begitu mengerikan. Cukup sudah author menistakan Uchiha. Sasuke itu tampan. Dan dambaan semua wanita walau ia lebih suka pria.
"Berhentilah menatapku seperti itu, Bocah!" seru Sasuke sembari tiduran di samping Naruto, "kau membuat junoir-ku tak nyaman"
Naruto mendelik, ia menggeser tubuhnya menjauhi Sasuke.
"Kau takut, heh!" ujar Sasuke tanpa melepas pandangannya dari langit langit-langit. Ia tertawa keci, "Bagaimana kalau kita 'bermain' sebentar." Ia menyeringai lalu menatap Naruto, "Aku tidak akan main kasar."
Dan bodohnya Sai sudah membiarkan Sasuke berduaan dengan Naruto.
.
Naruto Fanfiction
Present
Naruto Shippuden © Masashi Kishimoto
Tears © Ran Hime
M Rated
Drama, Hurt/comfort
Sasunaru, ItaDei Sligh SaiNaru, SasoDei
AU, OOC, Yaoi, M-Preg, Alur maju dan mundur
.
Chapter 9
.
Sungguh ini bukanlah sesuatu yang diinginkan dua Namikaze tersebut. Namun bagaimana lagi, semua sudah terlanjur dan mereka tidak mungkin mundur lagi. Kepala Uchiha itu terlanjur bahagia dengan hal ini. Mereka tidak mungkin melenyapkan senyum sang 'ayah'.
Tidak seharusnya pernikahan ini terjadi, seperti yang Pastur Jiraiya katakan. Naruto adalah laki-laki, dan tanpa Sasuke pun, ia pasti bisa membesarkan anaknya kelak. Namun apa daya, lonceng pernikahan telah terdengar dari Gereja di dekat kediaman Uchiha. Bahkan para tamu juga telah datang. Ia tidak mungkin mundur dan membuat 'ayah'nya bertambah malu.
Pintu terbuka, Naruto berjalan ke altar dengan didampingi Fugaku. Ia nampak tampan dalam balutan Hakama putih di tubuhnya. Andai saja perutnya tidaklah besar, mungkin ia juga terlihat gagah ketika berjalan. Namun sayangnya...
Rasanya Naruto ingin menangis ketika mendengar lagu pengiring. Ini acara pernikahan, bukan? Namun kenapa lagu seperti itu yang dinyanyikan. Ataukah orang-orang itu mengetahui jika ia tidak pernah bahagia akan hari ini? Entahlah! Mungkin sebaiknya ia tidak perlu memikirkan hal tersebut. Yang perlu ia pikirkan hanyalah bagaimana nasibnya setelah ini.
Naruto enggan menatap mata kelam Sasuke ketika mereka berhadapan di atas altar. Takut-takut jika ia akan berteriak histeris lagi atau bahkan lari dari altar.
"Anda, Uchiha Sasuke! Bersediakah Anda menerima saudara Namikaze Naruto sebagai pasangan Anda, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sehat maupun sakit. Dan tidak akan meninggalkannya sampai maut memisahkan."
"Saya bersedia!" ucap Sasuke dengan mantap.
"Dan Anda, Namikaze Naruto! Bersediakah Anda menerima saudara Uchiha Sasuke sebagai pasangan Anda, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, dalam sehat maupun sakit. Dan tidak akan meninggalkannya sampai maut memisahkan kalian."
Naruto tak langsung menjawab. Sejujurnya ia ingin berkata tidak, namun wajah tua di sampingnya membuat ia mengucapkan kalimat lain.
"Sa-saya bersedia!"
Dan suara tepukan tangan pun mengakhiri ikrar sehidup semati Uchiha-Namikaze.
"Silahkan mencium pasangan Anda!"
Sasuke berjalan selangkah, lalu menatap wajah pucat di depannnya -wajah lugu bocah 14 tahun yang kelihatan ketakutan ketika mendengar kata 'cium'. Sasuke tersenyum lalu mendaratkan bibirnya di kening Naruto. Pemuda Uchiha itu tidak akan lagi membuat Naruto seperti tiga hari yang lalu. Ya, tidak akan lagi.
Naruto merasa lega sekaligus bingung. Pemuda yang suka sekali menyentuhnya itu hanya mendaratkan kecupan di keningnya. Ia tidak salah lihat, kan? Dan tepukan dari para tamu menyadarkan dia dari lamunannya.
.
.
.
ooO~Ran Hime~Ooo
.
.
.
Sejujurnya Fugaku menginginkan pesta pernikahan yang meriah dan mewah untuk 'anak' kesayangannya. Namun waktu yang ada sebelum musim dingin datang, tidak memungkinkan. Apalagi Naruto juga meminta agar pesta pernikahan tersebut sederhana saja. Mau tak mau, Fugaku meminta Sai untuk mengundang keluarga besar dari Uchiha serta beberapa orang terdekat Uchiha.
Nampak para tamu begitu menikmati pesta tersebut. Sasuke dan teman-temannya juga terlihat berbincang-bincang tentang hal yang tidak pernah mereka duga. Seorang Uchiha Sasuke mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi bocah kesayangan dari senior yang amat ia benci di kampusnya. Sebenarnya apa yang ada di pikiran playboy di depan mereka ini, hingga memilih anak kecil. Dia bukan seorang pedo, kan?
"Ngomong-ngomong kenapa aku tidak melihat 'istri'mu?" seru Shikamaru setelah meneguk minumannya.
"Dia laki-laki!" ujar Sasuke datar.
"Tapi tetap saja dia di 'bawah'!"
Sasuke mendengus. Tapi ia memang belum melihat bocah blonde itu lagi, setelah selesai acara di Gereja. Entahlah! Sasuke tak mau ambil pusing. Mungkin saja bocah itu malu akan perut buncitnya. Sasuke mengalihkan pandangannya dan jatuh ke sosok Itachi yang sedang duduk sembari memperhatikan sepasang kekasih yang tengah tertawa bersama temannya. Ia juga melihat kemarahan di wajah Itachi.
.
.
.
ooO~Ran Hime~Ooo
.
.
.
"Senpai! Aniki!" seru Naruto ketika melihat dua orang di depannya. Sedikit terkejut dan tidak menyangka jika orang tersebut akan datang ke pesta ini. Tapi bagaimana mereka bisa menemukan dirinya? Padahal ia sudah menjauh dari pesta. Dengan sedikit kesusahan akhirnya ia berdiri dari sofa.
"Ka-karin Senpai!"
Naruto menunduk ingin menangis. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan orang yang disukainya dalam keadaan seperti ini.
"Kau pasti ingin menertawakan aku lagi. Ak-aku-"
"Naruto!" Karin memutus kalimat Naruto begitu saja.
Naruto mendongak, menatap wajah Karin dengan mata berair. Ia benci pandangan itu. Ia benci dikasihani.
"Pulanglah! 'Dia' merindukanmu!"
"Nawaki nii-san!"
Seketika itu juga, Naruto ingin menangis. Hidupnya sudah terlalu berat selama ini. Ia menyayangi Deidara. Ia tidak akan meninggalkan kakaknya. Naruto menggeleng, mencoba mengisyaratkan jika ia tidak mau ikut keluarga orang itu.
"Tapi kau seharusnya ikut dia, Naru. Dei-"
"Dei-nii menyayangi Naru! Dei-nii begitu mencintai Naru. Naru takkan meninggalkan Dei-nii."
"Naru!"
"Hiks ... Semua orang memang jahat kepada Dei-nii. Naru benci 'dia'!"
Nawaki menelan ludah. Bagaimana caranya agar Naruto mau ikut dengannya dan meninggalkan Deidara. Karena tak seharusnya Naruto bersama Deidara.
.
.
.
ooO~Ran Hime~Ooo
.
.
.
Deidara berjalan tergesa diikuti oleh Sasori. Penghilatannya tak mungkin salah. Laki-laki itu pastilah Nawaki Senju. Apalagi yang mereka inginkan. Bukankah semua telah mereka ambil darinya. Ia benar-benar muak sekarang.
Sasori yang ada di belakangnya nampak bingung dengan sikap Deidara. Pemuda blonde itu nampak kalut. Apakah terjadi sesuatu dengan Naruto? Ia menggeleng, tak mau berfikiran buruk tentang adik kekasihnya itu. Sasori berhenti ketika Deidara berhenti tiba-tiba di ambang pintu.
"Apa yang kalian lakukan terhadap adikku?"
Sasori hampir saja terkejut ketika mendengar nada bicara Deidara yang begitu dingin. Ia mendongak dan melihat dua orang yang sedang berada di samping Naruto.
"Kalian tidak berhak atas Naruto!" serunya sembari berjalan mendekat.
"Kau yang tidak berhak atas dia. Bahkan kau tidak bisa menjaganya dengan baik!" Nawaki tak mau kalah.
Deidara tersenyum sinis, "Lalu apa 'dia' bisa menjaga Naruto, heh! Bahkan 'dia' juga rela jadi penghianat demi harta."
"DEI-NII!" seru karin tidak suka dengan ucapan Deidara.
"Ayo, Naru! Kau harus istirahat!"
"Naru akan ikut dengan kami."
Nawaki mencoba menghentikan langkah Naruto.
Rahang Deidara mengeras. Naruto adalah harta satu-satunya, peninggalan orang tuanya. Mereka tidak berhak atas Naruto. Deidara menyiapkan kepalan tangannya, namun langkah Deidara terhenti ketika melihat tubuh Naruto merosot dan jatuh pingsan.
Oh, Tuhan! Tidak bisakah Naruto bahagia sekali saja. Mengapa ia harus terluka, bahkan tepat di hari pernikahannya.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Maaf, saya baru update. Maaf juga pendek dan mengecewakan. Saya masih mencoba berusaha bangkit dari wb. Terima kasih kepada reader semuanya yang telah mendukung saya selama ini. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
