Rahang Deidara mengeras. Naruto adalah harta satu-satunya, peninggalan orang tuanya. Mereka tidak berhak atas Naruto. Deidara menyiapkan kepalan tangannya, namun langkah Deidara terhenti ketika melihat tubuh Naruto merosot dan jatuh pingsan.

Oh, Tuhan! Tidak bisakah Naruto bahagia sekali saja. Mengapa ia harus terluka, bahkan tepat di hari pernikahannya.

.

Naruto Fanfiction

Present

Naruto Shippuden © Masashi Kishimoto

Tears © Ran Hime

M Rated

Drama, Hurt/comfort

Sasunaru, ItaDei Sligh SaiNaru, SasoDei

AU, OOC, Yaoi, M-Preg, Alur maju dan mundur

.

Chapter 10

.

Naruto mengerjap perlahan membuka mata. Hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah cemas sang kakak. Ia mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya. Namun Deidara mencegah sang adik. Kabuto bilang, kondisi Naruto sedikit memburuk. Akibat kejadian itu, perasaannya terguncang syok.

"Kau harus banyak istirahat!" seru Deidara sembari menggenggam kedua tangan dingin Naruto.

"Aku tidak mau ikut 'dia', Dei-nii!" Naruto menggeleng cemas, "katakan pada Nawaki-nii agar tidak memaksa Naru!"

Deidara mencoba menenangkan Naruto. "Mereka tidak akan membawa Naru. Aniki janji!"

"Kau tidak akan meninggalkan Naru, kan?"

"Tentu saja!" Deidara mencium kening Naruto, "istirahatlah! kakak akan menemanimu!"

Tepat setelah Naruto menutup mata, lagi-lagi air mata Deidara mengalir. Ia sudah mencoba tegar menghadapi semua. Namun apa daya, ia tetaplah manusia yang bisa rapuh kapanpun.

Hari ini mungkin ia masih bisa mempertahankan Naruto. Tapi besok? Ia bahkan tak yakin bisa menahan Naruto lebih lama. Nawaki pasti akan datang lagi untuk membawa Naruto. Mungkin tidak sekarang. Tapi masihkah dia bisa mempertahankan adiknya setelah melahirkan? Memikirkan hal itu, satu isakan lolos dari bibir sulung Namikaze tersebut.

.

ooO~Ran Hime~Ooo

.

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya kondisi Naruto mulai membaik. Ia mulai menjalankan aktivitasnya di kediaman Uchiha. Mulai dari menemani Fugaku jalan-jalan di taman depan rumah, sampai mengajak Fugaku bercanda agar Fugaku tidak bosan berbaring di kamar terus-terusan.

Sai menghentikan gerakan tangannya, ketika melihat wajah gelisah Naruto. Ia mengikuti pandangan Naruto yang mengarah kepada Sasuke, yang kini tengah meminum jus kesukaannya.

"Ada apa denganmu, Naruto?" tanyanya dan sukses membuat Naruto terkejut. Membuat semua yang ada di meja makan menghentikan acara makannya dan beralih menatap Naruto.

Naruto menggeleng, mencoba menyembunyikan raut wajah kecewanya. Mengabaikan tatapan khawatir Deidara yang ada di sampingnya.

"Ada yang sakit, Naruto?"

Namun lagi-lagi Naruto menggeleng, menunduk dan mengelus perutnya lalu kembali menatap Sasuke. Hal itu semakin membuat Deidara bingung.

"Kau mau ini, Bocah?"

Mata Naruto melebar, mendengar suara barithon itu. Ia mendongak dan menemukan senyum di wajah Sasuke yang tengah mengulurkan gelas di tangannya.

Naruto ingin, tapi ia takut untuk mengambil gelas tersebut. Ia menatap Sasuke lagi senyuman di wajah Sasuke dan perlahan meraih gelas berisi setengah jus tomat yang tadi diminum Sasuke.

Sai tersenyum ketika Naruto menghabiskan isi gelas tersebut. Bisa-bisanya Naruto masih punya rasa ngidam di saat perutnya menanti detik-detik kelahiran.

"Kau bisa bilang, kalau ingin sesuatu. Jangan membuat orang lain khawatir," ucap Sasuke lalu bangkit dari kursi dan meninggalkan meja makan.

Naruto menunduk, menyembunyikan rona malu di pipinya. Akhir-akhir ini, ia memang menginginkan sesuatu yang dimakan Sasuke.

.

ooO~Ran Hime~Ooo

.

Sasori kembali ke kediaman Uchiha, setelah mengantar Deidara ke Suna. Namikaze sulung itu mulai kembali mengajar, selah hampir seminggu absen. Sasori membuka kamar Fugaku lalu melangkah masuk. Ia tersenyum lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang Fugaku.

"Paman, ada yang ingin aku sampaikan."

Fugaku mengangguk, mengisyaratkan kepada Sasori untuk mengatakan maksud kedatangannya.

"Aku ingin meminta ijin kepada paman, agar mau merestuiku dengan Deidara."

"Kau?"

"Iya, Paman!" seru Sasori mengangguk, "aku berniat melamar Deidara setelah mendapat ijin dari Paman."

Fugaku tersenyum lalu meraih tangan Sasori, "Jangan pernah membuat anak paman menangis!"

"Pa-paman!" Sasori nampak tidak percaya jika Fugaku menerima ia sebagai pendamping Deidara.

.

ooO~Ran Hime~Ooo

.

Itachi berjalan menyusuri koridor AAS. Hari ini juga ia harus mendapatkan kepastian tentang ucapan Sasori beberapa hari yang lalu. Itachi tidaklah bodoh. Bisa saja Sasori hanya membohongi dirinya agar ia marah dan membuat Deidara semakin membenci dirinya.

Itachi berhenti di depan pintu dengan sebuah papan bertuliskan Namikaze Deidara di pintu tersebut. Ia mengetuk pintu dan menunggu seseorang mempersilahkan dirinya untuk masuk. Tiba-tiba ia merasa gelisah. Apakah Deidara mau menemui dirinya? Jangankan di tempat lain, di satu atap saja, pemuda blonde itu menolak kehadirannya.

Perlahan Itachi membuka pintu di hadapannya dengan gugup. Ia melangkah ke arah Deidara berada. Sibuk dengan lembaran di atas meja kerjanya. Itachi memperhatikan Deidara yang nampak serius dengan lembaran-lembaran itu.

"Dei!" seru Itachi membuat gerak Deidara terhenti. Ia bisa melihat tubuh Deidara menegang ketika mendengar suara barithon-nya.

Deidara mendongak dan menemukan onix yang tengah menatapnya dingin. Ia sedikit mengumpat ketika Itachi menemui dirinya. Tidak bisakah sedetik saja hidupnya tanpa Itachi? Ia muak dengan wajah itu.

"Apa maumu?" serunya dingin. Ia meletakkan pena lalu berdiri dari kursi.

"Batalkan pernikahan kalian!"

Deidara mengernyit tidak mengerti. Seorang Itachi tiba-tiba mendatanginya dan mengatakan hal konyol. Pernikahan? Siapa pula yang akan menikah?

"Bagaimana jika aku tidak mau?" tantang Deidara. Ia menatap sengit Itachi.

Itachi maju selangkah dan menggebrak meja, membuat Deidara terkejut. Pandangan itu...

"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka Sasori juga tidak akan bisa."

Itachi berbalik lalu melangkah meninggalkan Deidara yang nampak syok dengan kelakuan Itachi.

Deidara terjatuh duduk di kursinya. Ia mengatur nafasnya sambil memegang dadanya. Ia takut, takut jika Itachi akan nekat dan mencelakai Sasori. Jujur saja, ia bahkan tidak pernah melihat Itachi semarah itu sebelumnya.

Deidara menggeleng, membuang pikiran buruk itu. Semua akan baik-baik saja.

.

ooO~Ran Hime~Ooo

.

Sasuke melangkah memasuki kamarnya. Hari ini benar-benar melelahkan. Rasanya ia ingin tertawa. Sejak kapan Uchiha Sasuke pergi ke kampus untuk kuliah? Ah, tentu saja sejak ia mengucap ikrar pernikahan bersama bocah ingusan macam Namikaze bungsu.

Sasuke mengernyit melihat Naruto yang tengah gelisah dalam tidurnya. Semenjak hari pernikahan itu, Sasuke memutuskan untuk tidur sekamar dengan Naruto. Walau awalnya Deidara menentang keras, namun pada akhirnya kakak iparnya itu terpaksa mengiyakan setelah dibujuk oleh Sai.

Sasuke berhenti di samping ranjangnya. Diperhatikannya tubuh suaminya yang nampak kedinginan dan menggigil. Sasuke mengambil remote penghangat ruangan dan menaikkan suhu ruangan. Sudah tahu musim dingin, tapi bocah itu malah membiarkan suhu ruangan rendah.

Sasuke menyelimuti tubuh Naruto. Dan perlahan tubuh kurus itu berhenti menggeliat. Sasuke mengambil kursi dan duduk tempatnya tadi. Ia mengulurkan tangannya lalu membelai perut buncit Naruto dengan lembut. Ia tersenyum merasakan gerakan dari dalam seolah menendang jemarinya. Ia berfikir jika anaknya enggan untuk ia sentuh.

"Jangan nakal, ne!" ucapnya pelan, "Papa tahu, Papa salah. Tapi jangan buat Ayahmu kesakitan," ia menghela nafas, "lihat tubuhnya makin kurus. Cepat lahir dan Papa akan semakin mencintaimu," lanjutnya lalu meletakkan kepalanya di pinggir ranjang dengan tangan yang masih mengelus perut Naruto.

.

.

.

To be Continue

.

.

Balasan review:

0706: Ini sudah lanjut

Jie: Hehe, maaf kalo pendek, soalnya masih belajar merangkai kata lagi.

Mori M: Maaf, ya! Saya sudah lama tidak menulis, jadi agak kesulitan buat merangkai kata lagi.

.

Yang log in, saya balas lewat PM.

Maaf ini pendek lagi dan mungkin mengecewakan. Tapi saya tetap berterima kasih kepada reader dan reviewer semuanya, yang selalu berkenan menunggu fic ini update. Terima kasih juga untuk Follow dan Favoritnya.

Oh, ya! Ada yang suka drama korea Full House Take 2, tidak? Kalau ada, mampir di fic saya yang Sad Touch, ya! Take One. Saya tunggu.